Anda di halaman 1dari 46

EPISTAKSIS

Putri Ramadhani

Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

BAB I
Latar Belakang
Kegawatdaruratan yang umum ditemukan di
bagian telinga hidung dan tenggorokan.
diperkirakan terjadi pada 7 14% populasi
umum tiap tahun
Terbanyak pada usia 2-10 tahun dan 50-80 tahun
Di Amerika Serikat 1 dari 7 penduduk.
Epistaksis anterior anak dan dewasa muda,
epistaksis posterior orang tua dengan riwayat
penyakit hipertensi atau arteriosklerosis

Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

BAB I

Latar Belakang

Epistaksis dapat terjadi secara spontan tanpa


diketahui penyebabnya atau terjadi karena
trauma
Kelainan lokal dapat berupa trauma, kelainan
anatomi, kelainan pembuluh darah, infeksi
lokal, benda asing, tumor, atau karena
pengaruh udara lingkungan.
Kelainan sistemik dapat berupa penyakit
kardiovaskuler, kelainan darah, infeksi sistemik,
perubahan
tekanan
atmosfir,
kelainan
hormonal dan kelainan kongenital
Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

BAB
BAB II
Tujuan Penulisan

Penulisan referat ini bertujuan untuk


menambah pengetahuan mengenai
epistaksis.

Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

BAB
BAB II
Manfaat Penulisan

Adapun manfaat dari referat ini yaitu


dapat
digunakan
sebagai
rujukan/literatur
mengenai
epistaksis.

Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

BAB
BAB II
Metode Penulisan
Referat ini ditulis dengan menggunakan
rujukan dari beberapa literatur mengenai
epistaksis.

Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

BAB II

Anatomi Hidung

Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

BAB II

Anatomi Hidung

Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

BAB II

Epistaksis

Epistaksis adalah perdarahan yang


keluar dari lubang hidung, rongga
hidung dan nasofaring.

Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Etiologi

1. Trauma
mengorek
hidung
terus-menerus
dapat
menyebabkan ulserasi dan pendarahan septum
anterior.
Benda asing di rongga hidung (nasogastric tube
dan nasotracheal tube) dapat juga menyebabkan
epistaksis walaupun jarang.
Trauma ringan : benturan ringan, bersin, atau
mengeluarkan ingus terlalu keras
Trauma akut fasial dan nasal yang berat
Benda asing yang tajam atau trauma pembedahan
Spina septum yang tajam
Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Etiologi

2. Udara Kering
Kelembapan udara yang rendah
dapat menyebabkan iritasi mukosa,
oleh karena itu epistaksis lebih lazim
pada iklim kering dan saat cuaca
dingin dimana sistem pemanas
rumah
akan
menyebabkan
dehumidifikasi mukosa nasal
Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Etiologi

3. Obat-obatan
Obat-obatan nasal topikal seperti
anti-histamin
dan
kortikosteroid
dapat menyebabkan iritasi mukosa,
terutama ketika digunakan langsung
ke septum nasal daripada dinding
lateral sehingga dapat menyebabkan
epistaksis.
Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Etiologi

4. Kelainan Septum
Deviasi dan taji septum nasi dapat
mengganggu aliran udara nasal
sehingga menyebabkan kekeringan
dan epistaksis.

Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Etiologi

5. Inflamasi / Infeksi Lokal


Rinosinusitis bakteri, virus, dan
alergi dapat menyebabkan inflamasi
mukosa sehingga terjadi epistaksis.
Pendarahan pada kasus ini biasanya
ringan dan sering muncul sebagai
bercak darah pada sekret nasal.
Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Etiologi

6. Tumor
Tumor jinak dan ganas dapat
bermanifestasi
epistaksis.
Pasien
yang terkena dapat juga mengalami
tanda dan gejala sumbatan nasal dan
rhinosinusitis, seringnya unilateral.
Epistaksis berat dapat timbul pada
hemangioma,
karsinoma,
dan
angiofibroma.
Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Etiologi

7. Kelainan darah
Koagulopati
kongenital
harus
dicurigai
pada
individu
dengan
riwayat keluarga positif, mudah
lebam, atau pendarahan yang lama
dari trauma ringan atau pembedahan.
Contoh
kelainan
pendarahan
kongenital adalah hemofilia.
Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Etiologi
8. Kelainan pembuluh darah
Pembuluh darah yang arteriosklerotik
dipertimbangkan
sebagai
penyebab
prevalensi epistaksis yang tinggi pada
orang usia lanjut.
Kelainan pembuluh darah lainnya yang
memiliki faktor resiko epistaksis adalah
neoplasma pembuluh darah, aneurisma,
nefritis kronis, sirosis hepatis, diabetes
mellitus, dan endometriosis
Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Etiologi
9. Hipertensi
Epistaksis lebih sering pada pasien hipertensi,
yang mungkin dikarenakan kerapuhan vaskular
karena penyakitnya yang kronis.
Hipertensi walaupun demikian, jarang menjadi
penyebab
langsung
epistaksis.
Umumnya,
epistaksis disertai kegelisahan menyebabkan
peningkatan akut tekanan darah. Penanganannya,
oleh
karena
itu,
harus
difokuskan
pada
pengendalian
pendarahan
dan
mengurangi
kegelisahan yang ditujukan untuk menurunkan
tekanan darah.
Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Etiologi
10. Gangguan hormonal
Epistaksis dapat terjadi pada wanita hamil
atau menopause karena pengaruh perubahan
hormonal
11. Idiopatik
Penyebab epistaksis tidak selalu langsung
dapat dikenali. Sekitar 10% pasien epistaksis
tidak dapat diketahui penyebabnya walaupun
setelah dilakukan evaluasi lengkap.
Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Patofisiologi

Bergantung kepada Etiologi


Berhubungan dengan kelainan
pembekuan darah
Iskemia / trauma -> perubahan
jaringan pembuluh darah yang
progresif -> tunika media menjadi
kolagen -> gagal konstriksi/dilatasi
-> penipisan area pembuluh darah
Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Patofisiologi

Epistaksis Anterior
Paling sering dijumpai
Bersumber dari Pleksus Keisselbach

Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Patofisiologi

Epistaksis Posterior
Bersumber dari SPA, Arteri Edmoid
Posterior
Perdarahan hebat dan sukar berhenti
Post Nasal Drip

Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Diagnosis

Anamnesis
Onset
Durasi
Jumlah
Riwayat penyakit lain
Faktor-faktor resiko

Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Diagnosis

Pemeriksaan Fisik
Keadaan Umum
Tanda Vital
Rinoskopi anterior
Rinoskopi posterior

Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Diagnosis

Pemeriksaan Penunjang
Darah Lengkap
Endoskopi Hidung
CT-Scan

Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Dignosis Banding

Trauma
Nasal Foreign Bodies
Tumor
DIC
Hemofilia

Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Tatalaksana

1. Perbaiki keadaan umum


penderita, penderita
diperiksa dalam posisi duduk
kecuali bila penderita sangat
lemah atau keadaaan syok

Tatalaksana
2. Pada anak yang
sering mengalami
epistaksis ringan,
perdarahan dapat
dihentikan dengan
cara duduk dengan
kepala ditegakkan,
kemudian cuping
hidung ditekan ke
arah septum
selama 3-5 menit
(metode Trotter)

Tatalaksana

3. Bila perdarahan berhenti,


dengan
spekulum
hidung
dibuka
dan
dengan
alat
pengisap (suction) dibersihkan
semua kotoran dalam hidung
baik cairan, sekret maupun
darah yang sudah membeku.

Tatalaksana
Bila tidak berhenti
4. Kapas dimasukkan ke dalam
hidung yang dibasahi dengan
larutan anestesi lokal yaitu 2
cc larutan pantokain 2% atau 2
cc larutan lidokain 2% yang
ditetesi 0,2 cc larutan
adrenalin 1/1000. Sesudah 10
sampai 15 menit kapas dalam
hidung dikeluarkan dan
dilakukan evaluasi.
Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Tatalaksana
5. Pada epistaksis anterior, jika
sumber
perdarahan
dapat
dilihat dengan jelas, dilakukan
kaustik dengan lidi kapas yang
dibasahi larutan nitrasargenti
20
30%
atau
asam
trikloroasetat
10%.
Sesudahnya
area
tersebut
diberi salep untuk mukosa
dengan antibiotik.

Tatalaksana
Bila tidak berhenti

6.
Bila
dengan
kaustik
perdarahan anterior masih
terus berlangsung, diperlukan
pemasangan tampon anterior
dengan kapas atau kain kasa
yang diberi vaselin yang
dicampur betadin atau zat
antibiotika.

Tatalaksana
Dapat juga dipakai tampon rol yang dibuat
dari kasa sehingga menyerupai pita dengan
lebar kurang cm, diletakkan berlapis-lapis
mulai dari dasar sampai ke puncak rongga
hidung.

Tampon yang dipasang harus menekan tempat asal


perdarahan dan dapat dipertahankan selama 2 x 24 jam.
Selama 2 hari dilakukan pemeriksaan penunjang untuk
mencari faktor penyebab epistaksis. Selama pemakaian
Kedokteran
Universitas
Andalas
tampon,Fakultas
diberikan
antibiotik
sistemik
dan analgetik.

Tatalaksana
Untuk perdarahan posterior dilakukan
pemasangan tampon posterior, yang
disebut tampon Bellocq
Tampon ini terbuat dari kasa padat
berbentuk bulat atau kubus berdiameter
kira-kira 3 cm. Pada tampon ini terdapat
3 buah benang, yaitu 2 buah pada satu
sisi dan sebuah pada sisi lainnya. Tampon
harus dapat menutupi koana (nares
posterior).
Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Tatalaksana

1. Masukkan kateter
karet melalui kedua
nares anterior sampai
tampak di orofaring,
lalu tarik keluar melalui
mulut.

Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Tatalaksana

2. Kaitkan kedua ujung


kateter masing-masing
pada 2 buah benang
tampon Bellocq, kemudian
tarik kembali kateter itu
melalui hidung.

Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Tatalaksana
3. Tarik kedua ujung benang
yang sudah keluar melalui
nares anterior dengan bantuan
jari telunjuk, dorong tampon ke
nasofaring. Jika dianggap
perlu, jika masih tampak
perdarahan keluar dari rongga
hidung, maka dapat pula
dimasukkan tampon anterior
ke dalam cavum nasi.

Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Tatalaksana

4. Ikat kedua benang yang


keluar dari nares anterior
pada sebuah gulungan
kain kasa di depan lubang
hidung, supaya tampon
yang terletak di nasofaring
tidak bergerak.

Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Tatalaksana

5. Lekatkan benang yang terdapat di


rongga mulut dan terikat pada sisi lain
dari tampon Bellocq pada pipi pasien.
Gunanya adalah untuk menarik tampon
keluar melalui mulut setelah 2-3 hari.

Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Tatalaksana

6. Berikan juga obat hemostatik


selain dari tindakan penghentian
perdarahan itu.

Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Prognosis

90% Kasus berhenti sendiri


Pada pasien hipertensi, biasanya
kambuh dan prognosis buruk

Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Komplikasi

Sebagai akibat atau hasil dari terapi


Pemasangan tampon anterior
Rinosinusitis
Otitis Media
Septikemia
TSS

Pemasangan tampon posterior


Laserasi palatum mole
Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Komplikasi

Komplikasi yang dapat ditimbulkan


oleh epistaksis 12:
Kematian (0,6%) kasus
Syok hemoragik
Septikemia
Trombosis Arteri Koroner

Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Konseling dan Edukasi


Memberitahu individu dan keluarga untuk:
Mengidentifikasi penyebab epistaksis, karena hal ini
adalah gejala suatu penyakit sehingga dapat mencegah
timbulnya kembali epistaksis.
Mengontrol tekanan darah pada penderita dengan
hipertensi.
Menghindari membuang lendir melalui hidung terlalu
keras.
Menghindari memasukkan benda keras ke dalam hidung,
termasuk jari sehingga dibutuhkan pengawasan yang
lebih ketat pada pasien anak.
Membatasi penggunaan obat-obatan yang dapat
meningkatkan perdarahan seperti aspirin atau ibuprofen.
Hindari cuaca yang panas dan kering
Hindari makanan yang pedas dan panas
Fakultas
Kedokteran
Universitas
Andalas
Bernafas
dengan
mulut
terbuka

BAB III
Kesimpulan
Epistaksis merupakan kasus kegawatdarutan THT
yang paling sering dijumpai dengan insiden 60%.
Epistaksis dibagi dalam dua bagian yakni
epistaksis anterior dan epistaksis posterior.
Epistaksis anterior bersumber dari pleksus
keisselbach (little area) di bagian septum
anterior, dengan managemen tatalaksananya
adalah kompresi hidung menggunakan tangan,
kompres dingin, kauterisasi dan tamponade
anterior.
Epistaksis posterior bersumber dari SPA dan arteri
etmoid
posterior,
dan
managemen
tatalaksananya
adalah menggunakan tamponade
Fakultas Kedokteran Universitas Andalas
posterior dan ligasi arteri.

Clinical Science Session

TERIMA
KASIH
Fakultas Kedokteran Universitas Andalas