Anda di halaman 1dari 5

ASPEK MEDIKOLEGAL

KEGAWATDARURATAN
Pelayanan pada gawat darurat
memiliki karakteristiknya khusus
butuh pengaturan hukum yang
khusus

Hubungan dokter-pasien dalam keadaan gawat darurat:


- Dalam keadaan biasa:
Hubungan didasarkan kesepakatan dua belah pihak
(azas voluntarisme)
Tidak terlaksana dalam keadaan darurat
- Apabila seseorang bersedia menolong orang lain
dalam keadaan darurat, orang tersebut harus
melakukan sampai tuntas (sampai ada pihak lain
yang melanjutkan pertolongan atau sampai korban
tidak memerlukan pertolongan lagi)
Tidak dilakukan
Penolong dapat digugat karena dianggap
mencampuri atau menghalangi kesempatan korban
untuk memperoleh pertolongan orang lain (loss of

Pasal 50 UU no. 23 tahun 1992


tentang kesehatan
Tenaga kesehatan bertugas
menyelenggarakan/melakukan kegiatan kesehatan
sesuai bidang keahlian dan/atau kewenangan
tenaga kesehatan ybs
Dalam keadaan gawat darurat
Pada dasarnya setiap dokter punya kewenangan
untuk melakukan berbagai tindakan medik
termasuk tindakan spesifik dalam keadaan gawat
darurat

Hukum dalam dalam pelayanan


gawat darurat
UU no. 23/1992 tentang kesehatan dalam pasal
53 ayat 2 dan permenkes no. 585/1989 tentang
persetujuan tindakan medis:
Setiap tindakan medis harus mendapat
persetujuan dari pasien (informed consent).
Pasal 11 permenkes no. 585/1989:
Dalam keadaan gawat darurat dimana harus
segera dilakukan tindakan medis pada pasien
yang tidak sadar dan tidak memiliki pendamping
tidak memerlukan persetujuan dari siapapun
Persetujuan yang diperoleh dalam bentuk
tertulis disimpan dalam berkas rekam medik

Kematian pada IGD


Pasien yang meninggal saat dibawa
ke IGD (death on arrival) dilaporkan
ke pejabat kepolisian setempat untuk
diputuskan akan dilakukan
autopsi/tidak
Dokter yang bertugas di IGD hanya
boleh menerbitkan surat kematian
pada kematian yang caranya
alamiah dan tidak terdapat tandatanda kekerasan