Anda di halaman 1dari 18

Diagnosis dan

Rencana Asuhan
Keperawatan Keluarga
Bab 4

Diagnosis
Keperawatan
Pada tahap ini ada beberapa
kegiatan yang perlu dilakukan
perawat sebagai berikut :

Pengelompokan Data
Perawat mengelompokkan data
hasil pengkajian dalam data subjektif
dan objektif setiap kelompok
diagnosis keperawatan

Perumusan Diagnosis
Keperawatan
Perumusan diagnosis keperawatan dapat
diarahkan kepada sasaran individu atau keluarga.
Perumusan diagnosis keperawatan keluarga
menggunakan aturan yang telah disepakati,
terdiri dari :
1.Masalah (problem, P) adalah suatu

pernyataan tidak terpenuhinya kebutuhan dasar


manusia yang dialami oleh keluarga atau

2. Penyebab (etiologi, E) adalah suatu


pernyataan yang dapat menyebabkan masalah
dengan mengacu kepada lima tugas keluarga,
yaitu mengenal masalah, mengambil
keputusan yang tepat, merawat anggota
keluarga, memelihara lingkungan, atau
memanfaatkan fasilitas pelayanan
kesehatan
3. Tanda (sign, S) adalah sekumpulan data
subjektif dan objektif yang diperoleh perawat
dari keluarga secara langsung atau tidak yang
mendukung masalah dan penyebab.

Tipologi diagnosis keperawatan


keluarga dibedakan menjadi tiga
kelompok, yaitu :
1. Diagnosis aktual adalah masalah keperawatan

yang sedang dialami oleh keluarga dan


memerlukan bantuan dari perawat dengan
cepat.
2. Diagnosis risiko/risiko tinggi adalah masalah

keperawatan yang belum terjadi, tetapi tanda


untuk menjadi masalah keperawatan aktual
dapat terjadi dengan cepat apabila tidak segera
mendapat bantuan perawat

3. Diagnosis potensial adalah suatu keadaan


sejahtera dari keluarga ketika keluarga telah
mampu memenuhi kebutuhan kesehatannya
dan mempunyai sumber penunjang
kesehatan yang memungkinkan dapat
ditingkatkan.

Penilaian (skoring)
Diagnosis Keperawatan
Skoring dilakukan bila perawat merumuskan
diagnosis keperawatan lebih dari satu.

Proses skoring menggunakan skala yang


relah dirumuskan oleh Bailon dan Maglaya
(1978).

Daftar masalah keperawatan


(NANDA) yang dapat digunakan,
sebagai berikut :
Gangguan proses keluarga
Gangguan pemeliharaan kesehatan
Perubahan kebutuhan nutrisi: kurang atau lebih dari kebutuhan tubuh
Gangguan peran menjadi orang tua
Gangguan pola eliminasi
Kondisi sanitasi yang tidak memenuhi syarat kesehatan
Gangguan penampilan peran
Gangguan pola seksual
Ketidakmampuan antisipasi duka berkepanjangan
Konflik pengambilan keputusan
Adaptasi kedukaan yang tidak fungsional
Potensial berkembangnya koping keluarga
Koping keluarga tidak efektif
Gangguan manajemen pemeliharaan rumah
Hambatan interaksi sosial
Defisit pengetahuan tentang . . .
Tidak diizinkannya . . .
Konflik peran keluarga
Risiko perubahan peran orang tua
Risiko terjadi trauma
Risiko tinggi perilaku kekerasan
Ketidakberdayaan
Terjadinya isolasi sosial
Dan masih banyak lagi

Skoring diagnosis keperawatan


menurut Bailon dan Maglaya 1978
N0

Kriteria

Sifat masalah
skala

Skor

Bobot
1

tidak/kurang
sht

Ancaman kshtn

Keadaan sjhtra

NoKriteria
Skor
bobot
2. Kemungkinan mslh dpt diatasi.
Mudah
2
2
sebagian
1
tidak dapat
0
3. Potensial mslh untk dicegah
tinggi
3
1
cukup
2
rendah
1
4. Menonjolnya masalah
1
mslh berat,hrs sgra ditangani
2
ada mslh,ttapi tdk perlu ditangani 1
masalah tidak dirasakan
0

Proses skoringnya dilakukan untuk setiap


diagnosis keperawatan :
Tentukan skornya sesuai dengan kriteria yang
dibuat perawat.
Selanjutnya skor dibagi dengan skor tertinggi
dan dikalikan dengan bobot.

Jumlahkan skor untuk semua kriteria (skor


maksimum sama dengan jumlah bobot, yaitu 5)

Perencanaan Keperawatan Keluarga


Rencana tindakan keperawatan terhadap
keluarga, meliputi kegiatan yang bertujuan :
1.Menstimulasi kesadaran atau penerimaan
keluarga mengenai masalah dan kebutuhan
kesehatan dengan cara:
Memberikan informasi yang tepat
Mengidentifikasi kebutuhan dan harapan

keluarga tentang kesehatan


Mendorong sikap emosi yang mendukung
upaya kesehatan

2. Menstimulasi keluarga untuk memutuskan cara


perawatan yang tepat ,dengan cara:
Mengidentifikasi konsekuensinya bila tidak
melakukan tindakan.
Mengidentifikasi sumber-sumber yang dimiliki
dan ada di sekitar keluarga.
Mendikusikan tentang konsekuensi tipe
tindakan.

3. Memberikan kepercayaan diri selama merawat


anggota keluarga yang sakit, dengan cara;
Mendemonstrasikan cara perawatan
Menggunakan alat dan fasilitas yang ada dirumah.
Mengawasi keluarga melakukan perawatan.

4. Membantu keluarga untuk memelihara


(memodifikasi) lingkungan yang dapat meningkatkan
kesehatan keluarga, dengan cara:
Menemukan sumber-sumber yang dapat

digunakan keluarga.
Melakukan perubahan lingkungan bersama

keluarga seoptimal mungkin.

5. Memotivasi keluarga untuk memanfaatkan


fasilitas kesehatan yang ada di sekitarnya,
dengan cara:
Menggunakan fasilitas kesehatan yang ada

di sekitar lingkungan keluarga.


Membantu keluarga menggunakan fasilitas

kesehatan yang ada.

Hal penting dalam


penyusunan rencana asuhan
keperawatan :
1. Tujuan hendaknya logis, sesuai masalah, dna

mempunyai jangka waktu yang sesuai dengan


kondisi klien.
2. Kriteria hasil hendaknya dapat diukur dengan
alat ukur dan di observasi dengan pancaindra
perawat yang objektif.
3. Rencan tindakan disesuaikan dengan sumber
daya dan dana yang dimiliki oleh keluarga dan
mengarah ke kemandirian klien sehingga
tingkat ketergantungan dapat diminimalisasi.

Rencanakan tindakan diarahkan untuk mengubah


pengetahuan, sikap, dan tindakan keluarga (Calgary,
1994) sehingga pada akhirnya keluarga mampu
memenuhi kebutuhan kesehatan anggota keluarganya
dengan bantuan minimal dari perawat.

Efektivitas yang akan diperoleh perawat, yaitu ada efek


positif terhadap interaksi dengan keluarga, keluarga
tidak menentang karena telah dilibatkan sebelumnya,
dan keluarga cenderung bertanggung jawab.