Anda di halaman 1dari 36

CASE REPORT SESSION

BRONKIEKTASIS

By : Nyimas Gus Febriani, S.ked


Lecturer : dr. Ali Imran, Sp.Rad

PENDAHULUAN

Bronkiektasis adalah suatu penyakit yang


ditandai dengan adanya dilatasi (ektasi) dan
distorsi bronkus local yang bersifat patologis
dan berjalan kronis persisten atau ireversibel.
Kelainan bronkus tersebut disebabkan oleh
perubahan-perubahan dalam dinding bronkus
dapat berupa destruksi elemen elastic, otot
polos brobkus, tulang rawan, dan pembuluhpembuluh darah.


Bronkiektasis pertama kali dijelaskan oleh
Leannec pada tahun 1819 adalah suatu
keadaan dilatasi abnormal dari bronkus dan
bronkiolus yang berkaitan dengan infeksi dan
inflamasi saluran nafas yang berulang.

LAPORAN KASUS
IDENTITAS PASIEN

Nama
: Ny. Sariah
Usia : 72 tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Alamat : sarolangun
Agama : Islam
Pekerjaan : Ibu rumah tangga
Keluhan Utama : batuk berdahak
Keluhan Tambahan
sesak, nyeri perut, nafsu makan menurun

Riwayat penyakit sekarang


Dua bulan SMRS os mengeluh sering batukbatuk. Batuk tidak disertai menggigil dan
keringat di malam hari. Batuk disertai dahak
kental yang berwarna kekuningan hingga
kehijauan.
Setiap
kali
batuk,
jumlah
dahaknya sebanyak 2 gelas aqua. Batuk
yang dirasakan juga disertai dengan sesak.
Sesak
bertambah
berat
apabila
os
berbaring. Dua minggu SMRS batuk yang
dirasakan semakin memberat dan juga
disertai darah. Os semakin sulit untuk
melakukan aktivitas sehari-hari. Sebelum
berobat ke RS, Os sering mengkonsumsi
obat warung namun batuk yang dirasakan
tidak semakin membaik. Os juga kehilangan


Riwayat penyakit dahulu
Pasien belum pernah mengalami gejala
yang sama sebelumnya
Riwayat penyakit asma disangkal
Riwayat hipertensi disangkal
Riwayat penyakit keluarga
Tidak ada anggota keluarga lain yang
mengalami keluhan yang sama.


Pemeriksaan Fisik
Status Generalis

Keadaan Umum
: Tampak sakit sedang
Kesadaran
: Compos mentis
Tekanan Darah : 110/70 mmHg
Nadi
: 90x/menit
RR
: 34x/menit
T
: 37,50C

Pemeriksaan Kepala
Bentuk kepala
: Mesocephal, Simetris, tidak
terdapat deformitas

Mata
Konjungtiva anemis : pada mata kanan dan kiri
tidak terlihat anemis
Sklera
: pada mata kanan dan kiri tidak
terlihat ikterik
Pupil
: isokor kanan dan kiri, diameter
2mm, reflek cahaya (+/+)
Palpebra
: tidak tampak edema pada kanan
dan kiri

Hidung
Bentuk
: simetris kanan dan kiri, tidak terdapat
deformitas dan sekret
Nafas cuping hidung
: ada
Mulut
Telinga

: tidak ada kelainan


: tidak ada kelainan

Pemeriksaan Leher
JVP
: meningkat (5+3 cm H20)
Kelenjar Tiroid
: tidak membesar
Kelenjar Limfonodi : tidak membesar
Jantung
Inspeksi
: ictus cordis tidak tampak
Palpasi
: thrill (-)
Perkusi
: batas jantung dalam batas normal
Auskultasi : bunyi jantung normal, reguler, gallop (-)

Paru
Inspeksi : simetris kanan dan kiri, tidak ada retraksi
dinding dada, sikatrik (-)
Palpasi : taktil fremitus kanan dan kiri sama, tidak ada
gerakan dada yang tertinggal
Perkusi : redup di lobus superior paru
Auskultasi : ronkhi basah kasar lapangan paru kanan
Abdomen
Inspeksi : datar dan supel
Palpasi : peristaltik usus (+) normal
Perkusi : hepar dan lien tidak teraba
Auskultasi : timpani
Ekstremitas
Superior : edema (-/-), akral hangat
Inferior : edema (-/-), akral hangat

Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan darah rutin
Penigkatan WBC, Hb dan Ht dalam batas normal
Pemeriksaan radiologis

Kesan
Jantung : kardiomegali
Paru : bronkiektasis

Diagnosis
Bronkiektasis
Tatalaksana
Medikamentosa
Infus 20 tetes/menit
Aminofilin 3x1 amp drip
Salbutamol 3x2mg/hari
Ciprofloxaxin 2x200mg
Prognosis
Ad vitam
: dubia ad bonam
Ad fungsionam : dubia ad bonam

TINJAUAN PUSTAKA
Anatomi
Paru

Bronkiektasis

Definisi
Bronkiektasis merupakan suatu penyakit yang
ditandai dengan adanya dilatasi (ektasis) dan
distorsi bronkus lokal yang bersifat patologis
dan berjalan kronik, persisten atau ireversibel.
Kelainan bronkus tersebut disebabkan oleh
perubahan-perubahan dalam dinding bronkus
berupa destruksi elemen-elemen elastis, otototot polos bronkus, tulang rawan dan
pembuluh darah.

Insiden

Angka kejadian yang sebenarnya dari


bronkiektasis tidak diketahui pasti. Dinegaranegara barat, insidens bronkiektasis
diperkirakan sebanyak 1,3% diantara
populasi.
Akan tetapi perlu diingat bahwa insidens ini
juga dipengaruhi oelh kebiasaan merokok,
polusi udara dan kelainan kongenital.5,6

Epidemiologi

Bronkiektasis merupakan penyebab kematian


yang amat penting pada negara-negara
berkembang. Dinegara-negara maju seperti
Amerika Serikat, bronkiektasis mengalami
penurunan
seiring
dengan
kemajuan
pengobatan. Prevalensi bronkiektasis lebih
tinggi pada penduduk dengan golongan
sosioekonomi yang rendah.1,5

Etiologi

Etilogi bronkiektasis sampai sekarang masih belum


jelas. Namun di duga bronkiektasis dapat timbul secara
kongenital maupun didapat.6
kelainan kongenital
Bronkiektasis
yang
timbul
kongenital
biasanya
mengenai hampir seluruh cabang bronkus pada satu
atau kedua bronkus. Selain itu, bronkiektasis kongenital
biasanya menyertai penyakit-penyakit kongenital
seperti fibrosis kistik, sindrom kertengener, William
Campbell syndrom, Mounier-Kuhn syndrom, dll.1,2,3,5,6,7


kelainan didapat
bronkiektasis sering merupakan kelainan
didapat dan kebanyakan merupakan proses
berikut :
Infeksi
penyumbatan bronkus
cedera penghirupan
kelainan imunologik
kelainan lain : penyalahgunaan obat
(misalnya heroin)4

Patofisiologi

bronkiektasis menggambarkan suatu keadaan dimana


terjadi dilatasi bronkus yang ireversibel (>2 mm
dalam ukuran diameter) yang merupakan akibat dari
destruksi komponen muskular dan elastis pada
dinding bronkus.
Rusaknya kedua komponen tersebut adalah akibat
dari suatu proses infeksi, dan juga oleh pengaruh
sitokin inflamasi, nitrit okside dan netrofilik protease
yang dilepaskan oleh sistem imun tubuh sebagai
respon terhadap antigen.5


Silia tersebut bergerak berulang-ulang, memindahkan
cairan berupa mukus yang normal melapisi jalan nafas.
Partikel yang berbahaya dan bakteri yang terperangkap
pada lapisan mukus tersebut akan dipndahkan naik ke
tenggorokan dan kemudian dibatukkan keluar atau
tertelan.3
Bronkus yang mengalami inflamasi akan kehilangan ke
elastisannya, sehingga bronkus akan menjadi lebar dan
lembek serta membentuk kantung atau saccus yang
menyerupai balon yang kecil.

Inflamasi juga meningkatkan sekresi mukus,


karena sel yang bersilia mengalami
kerusakan, sekret yang dihasilkan akan
menumpuk dan memenuhi jalan nafas dan
menjadi tempat berkembangbiaknya bakteri
yang pada akhirnya bakteri-bakteri tersebut
akan merusak dinding bronkus, sehingga
menjadi lingkaran setan antara infeksi dan
kerusakan jalan nafas.3

Kalsifikasi
a. berdasarkan kelainan anatomisnya1,5,6
bentuk tabung (tubular, cylindrical, fusiform
bronchiectais),
Bentuk kantong (saccular bronchiectasis),
Varicose bronchiectasis,


b. berdasarkan derajat/tingkatan beratnya
penyakit9
Bronkiektasis ringan.
Bronkiektasis sedang.
Bronkiektasis berat.

Diagnosis

a. Gambaran klinis
Manifestasi klinis klasik dari bronkiektasis
adalah batuk dan prouksi sputum harian yang
mukopurulen yang sering berlangsung bulanan
sampai tahunan. Sputum yang bercampur darah
atau hemoptisis dapat menjadi akibat dari
kerusakan jalan nafas dengan infeksi akut.
Gejala spesifik yang jarang ditemukan antara
lain dyspnea, nyeri dada, pleuritik, wheezing,
demam, mudah lelah dan berat badan menurun.

b. Gambaran
radiologis

1. Foto thorax
Ring shadow

Tramline shadow

2. Bronkografi

3. CT-Scan thorax

Diagnosis Banding

Fibrosis Kistik
gambaran radiografi yang memperlihatkan
bronkiektasis kronis disertai fibrosis kistik
yang meliputi hiperinflasi, penebalan dan
dilatasi bronkus, peribronkial cuffing, mucoid
impaction, kistik radiolusen, peningkatan
tanda intertisial dan penyebaran nodulnodul.4,6

Pengobatan

Pengobatan konservatif 6
Pengobatan pembedahan

Prognosis

Kelangsungan hidup
Prognosis pasien bronkiektasis tergantung pada
berat-ringannya serta luasnya penyakit waktu
pasien berobat pertama kali. Pemilihan
pengobatan secara tepat (konservatif atau
pembedahan) dapat memperbaiki prognosis
penyakit. Pada kasus-kasus yang berat dan tidak
diobati, prognosisnya jelek, survivalnya tidak akan
lebih dari 5-15 tahun. Kematian pasien tersebut
biasanya karena pneumonia, empiema, payah
jantung kanan, hemoptisis dan lain-lain.


Kelangsungan Organ
Kelainan pada bronkiektasis biasanya
mengenai bronkus dengan ukuran sedang.
Adanya peradangan dapat menyebabkan
destruksi lapisan muskular dan elastis dari
bronkus serta dapat pula menyebabkan
kerusakan daerah peribronkial. Kerusakan ini
biasanya akan menyebabkan timbulnya
daerah fibrosis terutama pada daerah
peribronkial.6

DAFTAR PUSTAKA

1. Emmons EE. Bronchiectasis.www.emedicine.com last update Januari 2007


2. ORegan AW, Berman JS. Baums Textbook of Pulmonary Dissease 7 th Edition.
Editor James D. Crapo, MD. Lippincott Williams & Walkins. Phiadelphia. 2004. Hal
255-274
3. Benditt, JO. Lung and Airway Disorder: Bronchiectasis. www.merck.com last
update Januari 2008
4. Anonymous. Bronchiectasis. http://medicastore.com/med/detail_pyk.php,2004
5. Hassan I. Bronchiectasis. www.emedicine.com. Last update December, 8 2006
6. Rahmatullah P. Bronkiektasis, Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid II Edisi Ketiga.
Editor Slamet Suyono. Balai Penerbit FKUI. Jakarta. 2001. Hal 861-871
7. Alsagaff H, Mukty A. Bronkiektasis, Dasar-Dasar Ilmu Penyakit Paru, Airlangga
University Press. Surabaya. 2006. Hal 256-261
8. Barker AF. The New English Journal of Medicine : Bronchiectasis. 2002; 346:13831393
9. Wilson LM. Patofisiologi (proses-proses penyakit) Edisi Enam. Editor Hartanto
Huriawati, dkk. EGC. Jakarta 2006. Hal 737-740


10.Luhulima JW. Trachea dan Bronchus. Diktat Anatomi Systema Respiratorius.
Bagian Anatomi FKUH. Makassar. 2004. Hal 13-14
11.Meschan I. Obstrictive Pulmonary Dissease. Synopsys of Analysis of Roentgen
Signs in General Radiology. Phiadelphia. 1975. Hal 55-56
12.Kusumawidjaja K. Radiologi Diagnostik Edisi Kedua. Editor Iwan Ekayuda. Balai
Penerbit FKUI. Jakarta. 2006. Hal 108-115
13.Sutton D. Textbook of Radiology ang Imaging volume 1. Churchill Livingstone.
Tottenham. 2003 hal 45, 163, 164 & 168
14.Patel PR. Lecture Notes Radiology Edisi Kedua. Erlangga. Jakarta. 2005. Hal 40-41
15.Eng P, Cheah FK. Interpreting Chest X-rays. Cambridge University Press. New
York. 2005. Hal 67-68
16.Greif J. Medical Imaging in Patient with Cystic Fibrosis. www.eradimaging.com.
Last update Februari 2008
17.Ketai LH. Infectious Lung Dissease. Fundamental of Chest Radiology, 2nd Edition,
Loren H. Ketai Richard Lofgren, Andrew J. Meholic, Elseiver Inc. Hal 21
18.Wicaksono H. Anatomi Dasar Sistem Pernafasan. www. Ilmusehat.com

Terima Kasih