Anda di halaman 1dari 32

PENYUSUNAN

Detail Engineering Design


TAMAN KOTA SIBAROK
TAPANULI SELATAN
Di susun oleh:
Andi sumarni
(2013.28.0012)
Gadis Ayu Lestari
(2013.28.0010)
Anggi Dwi Sapitri
(2015.28.0004)
Nita Bella
(2015.28.0003)
Wita Seftiyani

(2015.28.0012)

BAB I

PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG
Pengembangan
Kota
Hijau
di
Indonesia memerlukan gerak bersama seluruh
unsur pemangku kepentingan kota. Pada
tahun 2011, Direktorat Jenderal Penataan
Ruang
Kementerian
Pekerjaan
Umum
memprakarsai Program Pengembangan Kota
Hijau
(P2KH.
P2KH
diawali
dengan
penggalangan
prakarsa
dan
komitmen
kabupaten kabupaten/kota untuk mewujudkan
Kota Hijau melalui perumusan local action plan
atau rencana aksi kota hijau (RAKH).
Salah satu atribut yang menjadi fokus di
dalam RAKH adalah terkait Green Open
Space yakni berupa peningkatan kualitas dan
kuantitas Ruang Terbuka Hijau (RTH) sesuai
dengan karakteristik Kabupaten/kota. Hal ini
tentunya sejalan dengan tujuan dari P2KH
yaitu meningkatkan kualitas ruang kota
khususnya melalui perwujudan RTH 30%
se k a l i g u s i m p l e m e n t a s i R T R W
Kota/Kabupaten.
Untuk menindaklanjuti rencana aksi
yang t e l a h d i s e p a k a t i o l e h p e m
e r i n t a h Kabupaten/Kota tersebut, maka di
tahun 2012 ini pemerintah melaksanakan
kegiatan penyusunan DED (Detail Engineering
Design) RTH Perkotaan. Kegiatan ini merupakan
turunan dari masterplan RTH Perkotaan dan
ditujukan untuk memberikan panduan dalam
perencanaan RTH perkotaan.

02

I.2 MAKSUD DAN TUJUAN


A. MAKSUD
Kegiatan Penyusunan DED dimaksudkan sebagai
salah satu upaya mendorong terwujudnya kota
hijau melalui peningkatan kualitas dan kuantitas
Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang sesuai dengan
karakteristik Kota dalam rangka implementasi
RTRW Kota/Kabupaten amanat UU No. 26/ 2007
B. TUJUAN
tentang Penataan Ruang pasal 29 ayat (2).
Tujuan kegiatan ini adalah menyusun Detail
Engineering Design (DED) RTH sebagai acuan
bagi pelaksana konstruksi dalam melaksanakan
pekerjaan konstruksi serta mengawal proses
terkait penyelenggaraan konstruksi implementasi
pengembangan RTH.

I.3 RUANG LINGKUP


1) Kegiatan Pekerjaan Pra Rancangan
a. Gambar pra-rancangan arsitektur lanskap yang
meliputi : siteplan, tampak, potongan,
jaringanM/E.
b. Garis besar persyaratan teknis (outline
specification)
c. Perkiraan biaya pembangunan (preliminary cost
2)estimate)
Kegiatan Pekerjaan Pengembangan Rancangan.

d. Uraian penggunaan landscape item (spesifikasi


secara
garis besar).
e. P e n y u s u n a n g a m b a r p e l a k s a n a a n
termasuk
rancangan detail untuk dokumen pelelangan.
3) Kegiatan Pekerjaan Dokumen Lelang :
a. Gambar Rancangan lansekap dan elemen
a. Petunjuk Pelelangan.
pendukungnya yang meliputi : siteplan, denah,
b. Persyaratan teknis.
tampak, potongan, gambar detail dan jaringan
c. Gambar rancangan detail arsitektur
landscape.
utilitas.
.
d. Rencana Kerja dan Syarat.
b. Gambar Rancangan M/E beserta konsep dan
e. Rincian Volume pekerjaan dan rencana anggaran
perhitungannya.
. biaya pekerjaan konstruksi (Engineering Estimate)
c. Menyusun perhitungan biaya pembangunan
lengkap
dengan Bill of Quantity dan harga satuan pekerjaan.

BAB II

SYARAT
DAN
KETENTUAN

SYARAT PENENTUAN
LOKASI DAN
PERENCANAAN RTH
Sebelum pelaksanaan perancangan konstruksi,
setiap Kota/Kabupaten harus menentukan lokasi
strategis dan signifikan dalam rangka peningkatan
kuantitas RTH kawasan perkotaan. Kawasan
Perkotaan yang termasuk dalam cakupan kegiatan
P2KH adalah ibukota kota/kabupaten sehingga akan
memberikan dampak optimal terhadap perwujudan
Kota Hijau secara keseluruhan.
Syarat Penentuan Lokasi Penambahan RTH :
- Status lahan milik PEMDA
- Kemudahan aksesibilitas
- Kedekatan dengan pusat kegiatan
masyarakat
kota, serta bisa digunakan untuk publik
Syarat Perencanaan RTH :
- 1 (satu) lokasi dengan luasan minimal
5000m2
atau bisa pada (maksimal) 2 (dua) lokasi
yang
dihubungkan dengan koridor penghubung 'hijau'
misalkan: 2 lokasi, dengan luas
2000m2/lokasi
dengan koridor penghubung 1000m2 berupa
jalur
pejalan kaki, jalur sepeda, jalur vegetasi,
atau
bentuk lain)
- Komposisi Ruang Hijau (Softcape) : Perkerasan
(Hardscape) = Softcape min. 70% : Hardcape
max.30% berupa material ramah lingkungan (bisa
dimungkinkan untuk menyerap air)

KETENTUAN RTH
Penyusunan DED RTH Perkotaan diarahkan berbentuk Taman Ramah Lingkungan
(Ecopark).
Atribut yang harus tercakup dalam perencanaan Taman Ramah
Lingkungan :
1. Green Waste : Sistem Pengolahan dan Penggunaan Material Bekas (Sampah), dalam bentuk :
- pemilahan sampah dengan penggunaan tempat sampah organik-anorganik
- pengolahan sampah organik menjadi kompos dengan komposter. Kompos digunakan untuk
pemeliharaan taman itu sendiri.
- penggunaan furniture hijau (terbuat dari bahan daur ulang) di dalam taman, seperti untuk bangku
taman, patung, dll.
2. Green Water : Sistem Pengolahan dan Penggunaan Ulang (Daur Ulang) Air, dalam bentuk :
- pembuatan sumur resapan air
- pembuatan kolam penampung air (jika memungkinkan)
- pengolahan atau penggunaan kembali air bekas, misalnya dari air dari toilet untuk penyiraman
tanaman.
3. Green Energy : Sistem Penyedia Sumber Listrik dari Matahari, dengan pemakaian :
- Lampu Surya
- Pohon Surya (penyedia instalasi stop kontak & wi-fi dengan solar panel)
4. Green Building : Naungan sederhana, sebagai sarana pendukung utama taman, dari material ramah
lingkungan dengan penghawaan alami
- Shelter atau Halte Bus
- Gazebo
- Pergola
- Toilet
5. Green Transportation : Sistem Kemudahan & Kenyamanan Aksesibiltas, dalam bentuk :
- Trotoar Tepi Jalan-Taman dan Jalur Pejalan Kaki dalam Taman
- Jalur & Parkir Sepeda
- Halte Bus
6. Green Open Space : Pemilihan Jenis Vegetasi dengan tinggi minimal 3 meter, diameter minimal 5cm,
berupa
- Vegetasi Lokal (Endemik)
- Vegetasi Peneduh (Penyerap Polutan atau Pereduksi Emisi Karbon)
- Vegetasi Pembentuk Iklim Mikro
- Vegetasi Produsen Oksigen
- Vegetasi Penarik Satwa Liar
7. Green Community : Sistem Penggunaan Taman, untuk kegiatan komunitas masyarakat setempat
sehingga taman berfungsi optimal sebagai wadah interaksi sosial

RUANG TERBUKA HIJAU TEMA KHUSUS


Jenis RTH lain yang menjadi alternatif utama dalam penyusunan DED RTH adalah Hutan Kota, atau
yang
berfungsi sebagai arboretum (museum hidup untuk flora)
3.3.2 RTH dengan Tema
Khusus
1.Tema Mitigasi Bencana
RTH yang termasuk dalam kategori ini antara lain Hutan Mangrove sebagai penahan abrasi pantai dan
gelombang, RTH penahan longsor, dan RTH penyaring polutan
2. Tema Perubahan Iklim
RTH yang difokuskan pada tanaman-tanaman penyerap emisi karbon sehingga dapat mengurangi
kandungan Co2 di atmosfir
3.Tema Konservasi
RTH yang difokuskan untuk mendukung ciri natural heritage dari Kota/Kabupaten misalnya melalui
penanaman flora yang menjadi identitas kota/kabupaten
4.Tema Keanekaragaman Hayati
Perencanaan RTH yang ditujukan untuk mempertahankan keanekaragaman hayati. Sebagai contoh,
Hutan konservasi bekantan di Tarakan-Kaltim atau RTH yang menjadi persinggahan atau tujuan migrasi
burung

BAB III

PROSES DAN
TAHAPAN
KEGIATAN

PENGUMPULAN DATA
A. Data Primer
ADVIS
PLANNING

SURVEY DAN
PENGUMPULAN DATA

ASISTENSI KE
OWNER

TIDAK
DISETUJUI

SCHEMATIC DESIGN

ASISTENSI KE
OWNER

TIDAK
DISETUJUI

LAP ORA N PENDAHULUAN

ANALISIS DAN
KONSEPSI DESAIN

BASIC DESIGN

DESIGN DEVELOPMENT
/ GAMBAR KERJA

CONSTRUCTION
DOCUMENT /
DOKUMEN
KONSTRUKSI

TIDAK
DISETUJUI

LAP.
KONSEP
FINAL

ASISTENSI KE
OWNER

L
AP.
AKHIR

FINAL DESIGN

LAP. ANTARA

TIDAK
DISETUJUI

BIDDING PROCESS

CONSTRUCTION

PENGAWASAN
BERKALA

SELESAI

LAP.
PENGAW A SAN

BLO K
PLAN

ASISTENSI KE
OWNER

TPAK , T POB, dan T PKB

Data Visual
Kegiatan ini berupa pendokumentasian/foto yang
menunjukkan visualisasi lokasi perencanaan. Data
visual ini dimaksudkan untuk memperoleh gambaran
nyata kondisi eksisting di lapangan terutama
mengenai potensi dan masalah yang ada.
Data Pengukuran
Pengukuran dilakukan pada lokasi perencanaan
untuk mendapatkan data ukur sebagai dasar
penyusunan DED.
B. Data Sekunder
Pengumpulan
data
sekunder
berupa:
a. Peraturan pemda setempat, yang
meliputi:
1) Peraturan yang terkait dengan Penataan
Ruang;
Peruntukan lahan.
KDB (Koefisien dasar bangunan).
KDH (Koefisien dasar hijau).
KLB (Koefisien lantai bangunan).
KB (Ketinggian bangunan).
Tipe bangunan.
GSB (garis sepadan bangunan).
2) Peraturan mengenai persyaratan bangunan
berupa persyaratan:
Disain.
Struktur.
Instalasi mekanikal/ elektrikal.
Kebakaran.
Aksesibilitas bagi penyandang cacat.
3) Peraturan dan standar perencanaan lainnya yang
secara langsung ataupun tidak langsung terkait
dengan kegiatan perencanaan bangunan tersebut.
a. Gambar peta eksisiting dan LRK
(Lembar
Rencana Kota).
b. Studi literatur

START

ANALISIS
Kegiatan analisis yang dilakukan dimaksudkan untuk
mendapatkan bentuk-bentuk penanganan yang bisa
dilakukan berdasarkan potensi dan masalah yang telah
diidentifikasi sebelumnya, seperti tanah, slope, vegetasi,
klimatologi, dan lainnya.
Adapun elemen analisis perancangan lansekap ini
adalah:
1. Zonasi tapak
Pembagian zonasi tapak dari taman yang akan
direncanakan sebagai RTH publik.
2. Sirkulasi kendaraan
Perencanaan pola sirkulasi kendaraan yang berada
didalam tapak dikontekskan dengan sirkulasi
sekitar.
3. Sirkulasi pedestrian
Perencanaan pola sirkulasi pejalan kaki yang berada
di
dalam tapak.

4. Tata Hijau
Pemilihan jenis tanaman yang sesuai
dengan fungsi dan zonasi tapak.
5. Site Furniture
Perencanaan berbagai site fu
rniture
yang dapat mendukung aktifitas sosial
di RTH.
6. Parkir
Ta t a l e t a k d a n j u m l a h p a r k i r
yang
dapat menampung kendaraan
pengguna RTH.
7. Sosial
b u d aBudaya
ya ya berad di lingkung
n
g
I d e n t i f i k a s i a a s p e k n ao n f i s i k
s o s i aRTH.
l
sekitar

Ilustrasi : www.livingcolourlandscapes.com.au

PERENCANAAN
Setelah dilakukan analisis dan berdasarkan hasil
pengamatan di lapangan, selanjutnya disusun bentukbentuk penanganan dalam kegiatan pembangunan atau
penataan RTH.
Selanjutnya dilakukan pengembangan potensi dan
pemecahan masalah dengan cara merumuskan konsep
pembamgunan atau penataan RTH yang dituangkan
dalam bentuk perencanaan teknis.

Adapun keluaran atau produk penyusunan DED


adalah:
1. Gambar Rencana Teknis
(Gambar Rancangan, Detail Rancangan dan
Gambar Konstruksi)
2. Rencana Kerja dan Syarat-syarat Teknis
(Spesifikasi Teknis)
3. Estimate Enginer (EE) atau Rencana
Anggaran Biaya (RAB).
Semua produk hasil perencanaan tersebut
selanjutnya dijadikan acuan pi
hak yang
berkepentingan dalam pelaksanaan pekerjaan
fisik (Pemerintah Pusat /Ditjen Penataan Ruang,
Pemerintah kota dan Kabupaten, Kontraktor, dan
juga masyarakat secara umum).

Ilustrasi : www.livingcolourlandscapes.com.au

PENYUSUNAN DOKUMEN KONSTRUKSI DAN


PELELANGAN
A. Dokumen Konstruksi
Tahap ini meliputi pembuatan gambar-gambar detail,
BQ, RKS dan RAB dan menyusun dokumen
perancangan berupa laporan perancanan Arsitektur
Lansekap, lengkap dengan perhitungannya.
Adapun rincian kegiatan pada tahap ini adalah sebagai
berikut:
1. Pembuatan gambar-gambar detil yang
2. penting.
3. Pembuatan gambar kerja.
Pembuatan gambar-gambar:
a. Rencana tapak (Site plan).
b. Rencana
Hijau (Planting Plan).
c.
Gambar Tata
Arsitektur.
b. Gambar Struktur.
c. Gambar M/E.
f. Gambar Detail (skala 1:50, 1:20, 1:10,
1:5,
sesuai
kebutuhan).
g.
Pembuatan
visualisasi 3D (tiga
dimensi)
Gambar-gambar dibuat mengikuti kaidah-kaidah
paling tidak
gambar bangunan
kerja.
dari 2 (dua) sudut
pandang.
B.Dokumen Pelelangan
Tahap ini adalah tahap persiapan pelelangan untuk
pekerjaan pelaksanaan RTH
1. Pembuatan dokumen tender:
a. Pembuatan spesifikasi teknis pekerjaan
lansekap, struktur, dan M/E.

b. Pembuatan spesifikasi khusus pekerjaan


lansekap, struktur, dan M/E.
c. Pembuatan rencana kerja dan syarat (RKS)
pekerjaan lansekap, struktur, dan M/E.
d. Pembuatan rencana volume (BQ) pekerjaan
lansekap, struktur, dan M/E.
e. Pembuatan rencana anggaran dan biaya
pekerjaan lansekap, struktur, dan M/E.
f. P e m b u a t a n d o k u m e n p e r s y a r
atan
g. administrasi.
Pembuatan dokumen persyaratan umum.
2. Persiapan Pelelangan
Meliputi : membantu pemberi tugas dalam
menyusun dokumen untuk pelelangan, membantu
panitia pelelangan dalam menyusun program dan
pelaksanaan pelelangan:
a.
Pembuatan jadwal dan program
lelang
b. P e m b u a t a n d o k u m e n p e r s y a r
atan
administrasi.
c. Pembuatan dokumen persyaratan umum.
d.
Koordinasi dengan
semua pihak yang terkait.
3. Pendampingan
Pelelangan
Meliputi : membantu panitia
pelelangan pada waktu
penjelasan
pekerjaan
termasuk menyusun berita
acara
penjelasan
pekerjaannya,
membantu
panitaia
pelelangan
dalam
melaksanakan
evaluasi
penawaran,
menyusun
kembali

KOMPONEN RENCANA ANGGARAN


Dalam perhitungan biaya terdapat beberapa komponen biaya
yang harus diperhatikan sebagai kebutuhan utama RTH.
adapun komponen tersebut antara lain:
a. Pekerjaan Persiapan Lahan
1. Pembersihan lahan
2. Persiapan direksi kit (bedeng
kerja)
3. Pengukuran lahan
4. Grading lahan
5. Air tanah dan listrik proyek
b. 6.Sumur resapan
Pekerjaan Hardscape
1.Jalur Pedestrian & Jogging track
2. Kanstien / pembatas
3. Sirkulasi kendaraan
4. Parkir
5. Saluran Drainase
6. Bollard

c.

Pekerjaan Softscape
Penanaman:
1. Pohon
2. Perdu
3. Rumput
4.Ground Cover
d. Pekerjaan Mekanikal
1. Pemipaan
2. Sprinkler air Bersih
3. Kran air bersih
4. Hydrant
e. Pekerjaan Elektrikal
1. Lampu taman
2. Lampu jalan
3. Panel Listrik dan utilitas
f. Pekerjaan Bangunan / Site
Furniture
1. Gazebo

BAB IV

PELAKSANA
KEGIATAN

TENAGA AHLI
Dalam pelaksanaan kegiatan ini diperlukan Tenaga Ahli
sebanyak 3 (tiga) orang sesuai dengan bidang
keahliannya.
Adapun kualifikasi tenaga ahli tersebut adalah sebagai
berikut:
1.
Ketua Tim (Arsitek
Lanskap):
Disyaratkan
memiliki
spesialisasi dan bersertifikat
Tenaga
Ahli
Arsitektur
Lanskap, denganpendidikan s
ekurang-kurangnya j
e n j a n g S 1 b id a n g
2. Ahli Sipil:
ArsitekturLansekap,
yang
Disyaratkan
dibuktikandengan ijasah S1, dan
dengan
memiliki pengalaman profesional
pendidikan
di
bidang
Arsitektur
sekurangLansekapsekurang-kurangnya 3
kurangnya
(tiga) tahun.
jenjang
S1
bidang
Selain Tenaga Ahli dan Asisten Tenaga Ahli tersebut,
Teknik Sipil
dibutuhkan pula Tenaga Pendukung, yaitu:
yangdibuktik
1. Quantity Surveyor sejumlah 1 orang
an
dengan
ijasah2. Juru
S1,Gambar sejumlah 1 orang
3.
Tenaga
dan memiliki Administrasi sejumlah 1
orang
pengalaman
profesional di
bidang
ManajemenK
onstruksi
sekurangkurangnya 3
(tiga) tahun

MEKANISME KERJA
4.2.1
Jawab

Tanggung

A. Tanggung Jawab Tim Tenaga


Ahli
Tim Tenaga Ahli harus melaksanakan
fungsi teknis konstruksi, manajemen,
pengaturan, dan administrasi yang
diperlukan
untuk
melaksanakan
Pekerjaan RTH berdasarkan kebutuhan
yang dijelaskan dalam Dokumen
Pengadaan. Tim Tenaga Ahli paling
sedikit harus melaksanakan tugas-tugas
berikut:
1. Memberikan hasil kerja menyeluruh dan cukup terperinci dengan telah memperhatikan baik fase-fase
Perancangan lansekap, konstruksi dan commisioning maupun operasi dan pemeliharaan pekerjaan.
2. Menggabungkan informasi atau masukan yang diterima dari Pemerintah Daerah
(Kota/Kabupaten),
Masyarakat, dan informasi lainnya.
3. Menyerahkan hasil kerjanya ke Pemerintah Daerah (Kota/Kabupaten) sesuai Jadwal
Pekerjaan.
B.
Tanggung
Jawab
Pemerintah
Daerah
(Kota/Kabupaten)
4. Mengatur hubungan teknis antara Pemerintah Daerah, Masyarakat, dan pelaksana konstruksi, sebagaimana
Pemerintah
Daerah
akan masukan
menyediakan
Tim TeknisDED
dan
diperlukan untuk
mendapatkan
atas Perancangan
RTH.
administrasi
untuk
memeriksa
pekerjaan
Konsultan
dan
5. Menyiapkan informasi teknis kepada Pemerintah Daerah dan Masyarakat sehingga dapat berhubungan
berpartisipasi
dalam
proses
Pembangunan
RTH,
Tim
Tenaga Ahli
1.
Memberikan
persetujuan
untuk
semua
keputusan
manajemen
proyek dan teknis
dengan
kelompok
pihak
ketiga,
namun
tidak
terbatas
pada:
tersebut
akan
melakukan
tugas-tugas
sebagai
2. - Lembaga-lembaga
Menyediakan staf teknis
yangdan
memiliki
wewenang
sertaindependen
tenaga ahli
untuk mengawasi dan menyetujui
Keuangan
para penasehat
teknis
mereka.
berikut:
pekerjaan
Tenaga
Ahli.
- Instansi Pemerintah sektoral
3. - Dan
Mengatur
hubungan komersil dengan semua pihak seperti Pelaksana Konstruksi, dan pemasok.
sebagainya.
4. Memberitahukan Tenaga Ahli terhadap perubahan mengenai lingkup pekerjaan, persyaratan dan
5. jadwal.
6. Mengatur hubungan antara Tenaga Ahli dan Mitra Strategis, jika ada, sesuai keperluan.
Menyediakan data yang diperlukan konsultan untuk kelancaran pekerjaan merujuk pada
Dokumen
Pengadaan.

IV.2.2 Koordinasi Kegiatan


A. Rapat Kemajuan Pekerjaan
Tim Tenaga Ahli harus melaksanakan rapat kemajuan perkerjaan penyusunan DED setiap Bulan
disyaratkan dan disetujui oleh Tim Teknis Pemerintah Daerah. Rapat tersebut merupakan waktu kerja
dengan Tim Teknis untuk meninjau kemajuan dan jadwal, permasalahan-permasalahan yang
berhubungan
dengan pekerjaan dan peluang penyelesaiannya, mengindentifikasi tindakan yang diperlukan dan
menindak lanjuti yang telah disetujui untuk dilaksanakan, serta mengatur pelaksanaan pekerjaan
tersebut.
Laporan
kemajuan
pekerjaan
dan akan
informasi
tentang
jadwal
harus disiapkan
untuk rapat tersebut.
Dari
waktu
ke waktu,
Tim Teknis
selalu
meminta
Konsultan
untuk melaksanakan
pertemuan untuk
melaporkan status Pekerjaan Penyusunan DED RTH dan kemajuan pekerjaan kepada Tim Teknis
Pemerintah Daerah, perwakilan masyarakat dan yang lainnya.

B. Laporan Bulanan
Setiap bulan, Konsultan harus menyajikan laporan singkat yang akurat dan tidak bias mengenai status
pekerjaan yang dilaksanakan dan dikelola. Laporan tersebut harus tersedia dalam kurun waktu 2 (dua)
hari
kerja setelah tenggat waktu setiap bulannya. Tenggat waktu adalah tanggal 25 pada setiap bulan. Laporan
tersebut akan digunakan Tim Teknis Pemerintah Daerah sebagai dasar untuk melaporkan status proyek
kepada masyarakat. Konsultan harus mendapatkan persetujuan Tim Teknis untuk format pelaporan awal
dan
revisi-revisi berikutnya sebelum persiapan pembuatan laporan. Laporan pada dasarnya akan termasuk
informasi
yang berikut ini:
Jadwal pencapaian
Ringkasan Jadwal Pekerjaan
Laporan Pencapaian
Kualitas
Daftar Kendali Perubahan
Laporan pendukung yang terperinci akan dikeluarkan secara terpisah sesuai permintaan Tim Teknis
Pemerintah Daerah untuk melengkapi penerbitan Laporan Kemajuan Kerja Bulanan

IV.24

04

BAB V LAMPIRAN
CONTOH DED
(TAMAN KOTA
SIPIROK
TAPANULI
SELATAN)
KABUPATEN

DAFTAR GAMBAR

TEKNIS DED

SITE PLAN/LANDSPACE

PLAN

Sumber :
Taman Kota Sipirok Kabupaten Tapanuli
Selatan

GAMBAR

TAMPAK

POTONGAN

GAMBAR

DETAIL TEKNIS

Sumber: Taman Kota Sipirok Kabupaten Tapanuli Selatan

GAMBAR

DETAIL KONSTRUKSI

Sumber : Taman Kota Sipirok Kabupaten Tapanuli Selatan

GAMBAR

DETAIL PENANAMAN

Sumber : Taman Kota Sipirok Kabupaten Tapanuli Selatan

GAMBAR

3D RTH

Sumber : Taman Kota Sipirok Kabupaten Tapanuli Selatan