Anda di halaman 1dari 32

ANAK

 ANAK BUKANLAH ORANG D E WA S A DALAM UKURAN


KECIL.
 ANAK ADALAH CIKAL BAKAL INDIVIDU D E WA S A
( B E R TA N G G U N G J AWA B SECARA K O G N I T I F, EMOSI,
MAUPUN SOSIAL) YA N G JUGA M E R U PA K A N GENERASI
MUDA BANGSA YA N G TENGAH DALAM PROSES
PERTUMBUHAN FISIK DAN M E N TA L DALAM S U AT U
SISTEM SOSIAL YA N G M E L I N G K U P I N YA (KELUARGA,
T E T A N G G A , S E K O L A H D A N M A S YA R A K A T S E K I T A R )
HAK ANAK
 Hak – hak anak harus dilindungi dan diperjuangkan

 Berdasarkan Konvensi Hak Anak Internasional, ada 4 kelompok hak anak yang sangat mendasar :

a. Hak kelangsungan hidup


b. Hak untuk tumbuh dan berkembang

c. Hak untuk memperoleh perlindungan

d. Hak untuk berpartisipasi dalam berbagai keputusan yang sangat mempengaruhi hidup dan
nasibnya
 Anak juga butuh kesejahteraan psikologis, berupa :

a. Kebutuhan akan rasa aman

b. Kebutuhan atas perlindungan

c. Kebutuhan akan merasa disayangi

d. Kebutuhan untuk mengembangkan diri


PEMENUHAN/TANGGUNG JAWAB ATAS
HAK ANAK
Pemenuhan/Tanggung jawab atas hak anak, terletak pada :
 Peran orang tua (ibu dan ayah) yang memiliki kesadaran untuk
memenuhi/bertanggung jawab atas hak-hak anak, yang meliputi aspek :
a. Kondisi ekonomi
b. Kondisi pendidikan
c. Kondisi lingkungan sosial, dsb
 Peran masyarakat atau lingkungan yang lebih luas dalam membangun
dan membina lingkungan sosial yang kondusif bagi pertumbuhan dan
perkembangan anak
 Peran pemerintah (pusat/daerah) dalam menghasilkan regulasi-regulasi
yang melindungi hak-hak anak dan meminimalisir permintaan atas
pelacur anak, serta menindak pelaku-pelaku yang merampas hak-hak
anak atau sindikat yang mengeksploitasi anak sebagai pekerja seks
FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB ANAK-ANAK/REMAJA
DILACURKAN/TERPAKSA MELACURKAN DIRI

Dari pengamatan Yayasan Kakak Solo (1998) melalui klinik medis


dan psikologis, faktor-faktor penyebab anak-anak/remaja
dilacurkan/terpaksa melacurkan diri adalah :
 Kemiskinan, dimana anak-anak atau remaja yang
dilacurkan/terpaksa melacurkan diri berasal dari keluarga miskin
 Disharmonis. Disharmonisnya sebuah keluarga juga menjadi salah
satu penyebab yang mendorong anak-anak/remaja
dilacurkan/terpaksa melacurkan diri
 Perilaku konsumtif dari si anak/remaja itu sendiri
 Pengalaman seksual dini yang terjadi melalui tindakan kekerasan
atau penipuan juga mendorong anak-anak/remaja (putri) terjun
kedunia prostitusi, karena anggapan kepalang basah sudah tidak
perawan
FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB LESTARINYA/MENINGKATNYA
PRAKTIK PROSTITUSI ANAK

 Faktor Penawaran
a. Jaringan kerja prostitusi, yaitu : mucikari, pencari calon PSK perempuan
(WPS), penghubung konsumen dengan WPS
b. Pihak yang memanfaatkan prostitusi sebagai arena bisnis yang
menguntungkan, semisal birokrat, politisi, pengusaha dan preman
c. Keluarga. Tak jarang sebagian keluarga WPS yang berasal dari tingkat
ekonomi menengah kebawah, menawarkan anak-anak gadisnya kepada
mucikari, pencari calon WPS dan penghubung konsumen dengan WPS
 Faktor Permintaan
a. Kepercayaan terkait bahwasannya berhubungan seks dengan anak-anak
bisa membuat orang awet muda
b. Meningkatnya jumlah petualang seks yang selalu mencari obyek
petualangan seks baru dan sensasi berhungan seks baru yang mereka kira
lebih aman dari resiko terinfeksi penyakit menular seksual (termasuk HIV), dll
ASPEK-ASPEK SISTEM KEPRIBADIAN PENENTU
DALAM PERILAKU PROSTITUSI

Berdasarkan penelitian dari Nitimiharjo (2000) terhadap


PSK usia 18-22 tahun, aspek-aspek kepribadian yang
berperan dan penentu dalam perilaku prostitusi adalah :
 Sikap toleransi terhadap hubungan seks diluar nikah
 Nilai afeksi
 Locus of Control Eksternal, seperti terenggutnya
keperawanan mereka oleh pengkhianatan oleh pacar
dan pemerkosaan yang mereka
 Kesenangan
 Dorongan untuk berteman luas
ASPEK-ASPEK SISTEM LINGKUNGAN BERPERAN
DAN PENENTU DALAM PERILAKU PROSTITUSI

Berdasarkan penelitian dari Nitimiharjo (2000) terhadap PSK


usia 18-22 tahun, aspek-aspek lingkungan yang berperan
dan penentu dalam perilaku prostitusi adalah :
 Kontrol orang tua terhadap hubungan seksual anak diluar
nikah
 Kontrol teman terhadap hubungan seksual diluar nikah
 Dukungan orang tua terhadap hubungan seksual diluar
nikah
 Norma susila yang ada disekitar tempat tinggal anak
 Kesenangan
 Dorongan untuk berteman luas
KEBERAGAMAN BENTUK EKSPLOITASI SEKSUAL KOMERSIAL
ANAK

Hasil pengamatan Yayasan Kakak (1999), bentuk-bentuk


eksploitasi seksual komersial yang dialami anak
berupa :
 Pelacuran Anak
 Anak “Simpanan”
 “Pelajar Plus-Plus”
 Anak Jalanan
 Korban Pemerkosaan
Yayasan Kakak dalam programnya menyebut anak-anak
diatas tadi sebagai ANAK YANG DILACURKAN (AYLA)
DEFINISI PSK ANAK

 Menurut Farid (1999), PSK Anak atau Anak Yang Dilacurkan merupakan
terjemahan dari prostituted children, pengganti dari istilah pelacur anak (child
prostitutes). Istilah “anak yang dilacurkan” merujuk pada subyek, yakni anak-
anak yang terlibat dalam prostitusi, dimana mereka tidak punya kemampuan
untuk memilih atau menolak prostitusi sebagai profesi
 Konvensi Hak-hak Anak, menggunakan istilah eksploitasi seksual (kekerasan
seksual), yaitu penggunaan seksualitas anak secara tidak sah
 Menurut Kevin Ireland, eksploitasi seksual terhadap anak, adalah penggunaan
seksualitas anak secara tidak sah yang melibatkan pelaku dan korban dengan
rentang/jarak umur yang terpaut jauh
 Prostitusi Anak menurut buku : Anak-anak yang dilacurkan MASA DEPAN
YANG TERCAMPAKKAN, adalah : Tindakan mendapatkan atau menawarkan
jasa sekssual dari seorang anak oleh seseorang atau kepada orang lainnya
dengan mendapatkan imbalan uang atau imbalan lainnya
PERBEDAAN PERILAKU TAK BERMORAL DENGAN PERILAKU
AMORAL

 Menurut Hurlock (1990), perilaku tak bermoral


ialah perilaku yang tidak sesuai dengan harapan
sosial. Perilaku tak bermoral disebabkan
a. Ketidaksetujuan dengan standar sosial
b. Kurangnya perasaan wajib menyesuaikan diri
dengan standar sosial yang ada
 Perilaku amoral/non moral, disebabkan oleh
ketidakacuhan terhadap harapan kelompok sosial
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERKEMBANGAN MORALITAS ANAK
SEHINGGA MENJADI BERMORAL, TAK BERMORAL ATAU AMORAL

Prihartanti (1998) merangkum berbagai faktor yang berpengaruh


terhadap perkembangan moralitas anak, sehingga menjadi
bermoral, tak bermoral atau amoral, yaitu :
1. Kebiasaan (habitual moral reaction). Pengertian habitual
moral reaction mengacu pada teori Bandura tentang
modelling, maksudnya orang tua, guru, tokoh-tokoh
masyarakat atau public figure, dituntut menjadi model yang
pantas ditiru bagi anak yang sedang tumbuh dan berkembang
2. Pengaruh Kelompok. Menurut Power&Reimer, berubahnya
nilai suatu kelompok, maka tahap perilaku moral juga akan
berubah. Artinya ada korelasi yang tinggi antara perilaku moral
anak dengan orangtua atau saudaranya
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERKEMBANGAN MORALITAS
ANAK SEHINGGA MENJADI BERMORAL, TAK BERMORAL ATAU AMORAL

Dalam menghadapi kelompok teman sebaya terdapat


perbedaan ketaatan antara budaya yang berbeda dan
tahap penilaian yang berbeda. Kohlberg membuktikan,
anak dengan tahap perkembangan moral tinggi lebih
tidak dipengaruhi oleh tekanan kelompok dibanding
anak dengan tahap perkembangan moral rendah.
Menurut Bowers (1979), anak usia 3 s.d 6 thn, tidak
akan terpengaruh oleh teman sebaya terhadap
ketaatan kelompok. Sedangkan usia 7 s.d 10 th,
seorang anak akan sangat taat terhadap konsensus
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERKEMBANGAN MORALITAS
ANAK SEHINGGA MENJADI BERMORAL, TAK BERMORAL ATAU AMORAL

3. Motivasi. Perlin (Hetherinton&Parkers, ibid), menemukan


tekanan/tuntutan orangtua untuk sukses dan ketakutan gagal,
menimbulkan motivasi untuk berperilaku menipu. Tuntutan/tekanan iklan-
iklan, juga memotivasi anak untuk berperilaku konsumtif, sedang pada
satu sisi kondisi keuangannya (anak) dan keluarga jauh dari
memungkinkan untuk memuaskan keinginan anak. Tuntutan-tuntutan
tadilah yang akhirnya mendorong anak terjebak dalam dunia prostitusi
4. Emosi. Menurut Hurlock, emosi seperti marah, menyebabkan seseorang
melanggar peraturan sebagai bentuk pengalihan rasa marah mereka,
semisal anak yang tertekan oleh sikap orangtua yang keras dapat
menyebabkan anak menjadi marah dan pergi meninggalkan rumah tanpa
pertimbangan masak. Setelah jauh dari rumah, anak-anak tersebut
kesulitan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Hal ini sering
memicu anak untuk berperilaku tak bermoral, sebagaimana yang
ditunjukkan anak-anak yang terlibat dunia prostitusi
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERKEMBANGAN MORALITAS
ANAK SEHINGGA MENJADI BERMORAL, TAK BERMORAL ATAU AMORAL

5. Kebingungan. Menurut Hurlock, seseorang yang mengalami


kebingungan akan peraturan yang harus diikuti, dapat melanggar
peraturan tersebut. Kebingungan dapat berupa :
a. Keharusan menerapkan konsep moral yang abstrak pada
situasi baru
b. Kesenjangan antara perkataan orangtua dengan perilaku
orang dewasa
c. Kesenjangan antara perilaku tentang konsep baik dan buruk
yang dilukiskan media massa dengan yang diajarkan kepada
mereka
d. Konsep moral yang saling bertentangan, seperti konsep
kejujuran dengan konsep loyalitas, akan memunculkan dilema
antara membantu teman sebaya atau tidak
FAKTOR-FAKTOR RESIKO YANG MENYEBABKAN/BERPOTENSI
MENJERUMUSKAN ANAK DALAM DUNIA PELACURAN

Menurut Farid (1999), faktor-faktor resiko yang


menyebabkan/berpotensi menjerumuskan anak ke
dalam dunia pelacuran, meliputi :
1. Dimensi Sosiokultural. Semisal kepercayaan bahwa
berhubungan seks dengan anak-anak bisa membuat
orang menjadi awet muda, menciptakan permintaan
(demand) akan pelacuran anak. Faktor-faktor lain
pola-pola pematangan seksual yang telah
melembaga secara sosiokultural dari generasi ke
generasi dalam masyarakat tertentu juga menjadi
faktor penyuplai bagi pelacuran usia dini (anak)
FAKTOR-FAKTOR RESIKO YANG MENYEBABKAN/BERPOTENSI
MENJERUMUSKAN ANAK DALAM DUNIA PELACURAN

2. Dimensi Ekonomi. Dimensi ini meliputi :


a. Faktor-faktor kemiskinan
b. Migrasi desa ke kota
c. Konsumtivisme
3. Lemahnya Legislasi. Legislasi yang lemah dan diiringi dengan implementasi yang
tak sepadan, merupakan faktor yang memberi andil bagi perkembangan prostitusi
anak
4. Disintegrasi keluarga&Penelantaran Anak. Ketidakharmonisan keluarga membuat
anak-anak cenderung lari dari rumah dan mencari suasana lain diluar rumah yang
memperbesar resiko terjerumus ke dalam dunia prostitusi. Penelantaran dan
pengabaian, juga mengakibatkan lemahnya perlindungan keluarga terhadap anak
dan memperbesar anak terjerumus dalam dunia prostitusi
5. Kesempatan Pendidikan, Latihan Kejuruan dan Kerja Yang Tidak Memadai.
Ketidakmampuan melanjutkan sekolah membuat anak-anak kehilangan kegiatan
positif dan bisa menggiring anak menghabiskan waktu dalam lingkungan
pergaulan yang beresiko menjerumuskan anak dalam dunia prostitusi
FAKTOR-FAKTOR RESIKO YANG MENYEBABKAN/BERPOTENSI
MENJERUMUSKAN ANAK DALAM DUNIA PELACURAN

6. Kekerasan Seksual dan Pengalaman Seks Usia Dini. Suatu studi WHO,
menemukan bahwa sekitar 60 persen dari pekerja seks jalanan (umur tak
dilaporkan) menyatakan pernah mengalami kekerasan seksual pada
waktu kecil
7. Meningkatnya Permintaan Akan Pelacuran Anak. Meningkatnya
permintaan ini, dipacu juga oleh ketakutan terhadap HIV/AIDS dari para
petualang seks. Sehingga mereka mencari obyek petualangan seksual
baru, yang menurut mereka lebih aman, yaitu anak-anak. Permintaan ini
juga dipacu oleh jaringan kriminal pemasok pelacuran anak yang
beroperasi hingga ke berbagai pelosok desa dan juga permintaan dari
kaum pedofil internasional akan pelacuran anak yang mulai bergeser ke
Indonesia, dikarenakan lemahnya sistem hukum dan ketiadaan
masyarakat sipil yang kuat di Indonesia dalam memberikan tekanan
kepada pemerintah untuk mengambil tindakan tegas terhadap pelaku
kejahatan seksual anak dan jaringannya
SKEMA DINAMIKA ANAK YANG DILACURKAN

Keluarga : Individu : Kondisi sosial :


• Kurang perhatian • Lari dari rumah • Kuatnya
dan kasih sayang •Terlibat narkoba pengaruh teman
•Peran orangtua •Konsumtif • Banyak model
tidak berfungsi •Kekerasan tidak tepat
• Ekonomi seksual • Norma tidak
•Kekerasan kuat

Anak Yang
Dilacurkan
(AYLA)
Pribadi :
• Perasaan Permasalahan
tidak berharga
• Bingung
masa depan Lingkungan
• Khawatir Keluarga
• Kesulitan
“cap” jelek • Masalah melepaskan
• Khawatir ekonomi diri dari ayah
kena AIDS • Perilaku asuh/germo
• Germo orangtua • Razia aparat
(neglect)
PENGETAHUAN PSK ANAK TENTANG KESEHATAN
REPRODUKSI

 Pengetahuan PSK Anak terkait dengan pengetahuan mengenai kesehatan reproduksi, tidak
menjamin mereka akan benar-benar menerapkan pengetahuan tersebut
 Sebagian anak yang dilacurkan memang selalu menggunakan kondom saat melakukan hubungan
seksual
 Sebagian anak yang dilacurkan tau kondom dapat mencegah kehamilan dan penularan infeksi
menular seksual
 Sebagian anak yang dilacurkan lainnya, tidak menggunakan kondom saat melakukan hubungan
seksual dan memilih cara-cara tradisional/cara-cara yang berbahaya agar tak hamil, seperti
jongkok sehabis melakukan hubungan seksual, agar sperma yang masuk keluar lagi, minum-
minuman bersoda setelah melakukan hubungan seksual, meminum obat-obatan/jamu untuk
peluruh (dugunakan untuk memperlancar haids) sehabis melakuakan hubungan seksual, atau
menyiramkan ramuan pembersih/pembunuh kuman sehabis hubungan seksual, dengan harapan
sperma yang masuk bisa mati
 Sebagian anak yang dilacurkan dan tidak menggunakan kondom saat berhubungan seksual,
ketika mengetahui mereka hamil, akhirnya memilih menggugurkan kandungan mereka dengan
cara-cara yang membahayakan kesehatan (keselamatan jiwa)/tradisional
 Sebagian anak yang dilacurkan dan tidak menggunakan kondom saat berhubungan seksual,
ketika mengalami infeksi menular seksual, biasanya mereka menyadarinya saat kondisi penyakit
mereka sudah kronis (parah)
MENGETAHUI PANDANGAN MASYARAKAT TERHADAP
PELACUR/PELACURAN ANAK

Untuk mengetahui pandangan/persepsi masyarakat pelacur/pelacuran


anak, Yayasan Kakak melakukan survei dengan menggunakan alat
pengumpul data, berupa :
 Survei tertutup dengan skala persepsi masyarakat terhadap
keberadaan anak-anak yang dilacurkan. Skala ini mengungkapkan 4
(empat) hal, yaitu :
1. Akibat salah gaul, terlanjur tidak gadis/perawan lagi dan ekonomi
lemah
2. Untuk kelangsungan biaya sekolah
3. Untuk mencukupi kebutuhan keluarga
4. Eksploitasi seksual komersial terhadap anak-anak
Skala penilaian yang digunakan terhadap keberadaan anak-anak
yang dilacurkan adalah : merugikan, buruk, tidak pantas dan terlarang
MENGETAHUI PANDANGAN MASYARAKAT TERHADAP
PELACUR/PELACURAN ANAK

 Survei juga dilakukan dengan menyebarkan angket


terbuka, kepada :
1. Kelompok pendidik, terdiri atas para ulama dan
guru
2. Kelompok pemerintahan, terdiri atas aparat
penegak hukum dan kepolisian
3. Kelompok legislatif, yaitu para anggota DPRD
4. Kelompok lingkungan terdekat, seperti tetangga,
konsumen, petugas hotel, penjaga kafe/warung
tempat PSK anak nongkrong
PANDANGAN MASYARAKAT TERHADAP
PELACUR/PELACURAN ANAK

Dari hasil penelitian Yayasan Kakak kepada masyarakat Solo (2000)


terhadap anak yang dilacurkan, adalah sebagai berikut :
1. Kelompok Ulama
a. Pembinaan mental dan spiritual
b. Pendidikan seks dan ekses-ekses yang ditimbulkannya
c. Orangtua wajib memberi contoh perilaku yang positif
d. Pemerintah memberantas peredaran film porno, VCD&DVD porno dan
narkoba
e. Pondok pesantren perlu dilibatkan
f. Meningkatkan profesionalisme
g. Institusi keagamaan lebih gencar mengadakan pembinaan mental dan
moral
h. Pendekatan manusiawi, tegas dan sungguh-sungguh memerangi
penyakit sosial
PANDANGAN MASYARAKAT TERHADAP
PELACUR/PELACURAN ANAK

2. Kelompok Guru
a. Pelajaran budi pekerti perlu dimasukkan dalam kurikulum
b. Larangan beredarnya gambar/film blue, bacaan porno dan lain sebagainya
c. Komunikasi yang harmonis dalam keluarga dan kontrol orangtua terhadap anak
(bukan dengan cara-cara kekerasan)
d. Sebagai tindakan preventif, pendidikan seks atau yang sekarang lebih dikenal dengan
pendidikan kesehatan reproduksi, harus terintegrasi dalam sekolah
e. Pendidikan moral terus-menerus di sekolah (mulai SD dan seterusnya)
f. Pembentukan undang-undang tentang seks dibawah umur dan peraturan-peraturan
pelaksana lainnya di tingkat pemerintahan daerah
g. Dibentuknya organisasi yang mengatasi kesulitan biaya sekolah, seperti GNOTA
h. Bimbingan dan konseling
i. Orangtua harus bisa menjadi model yang baik bagi anak
j. Kerjasama dengan institusi kepolisian untuk menangani masalah anak bolos sekolah
k. Penyuluhan terhadap ibu-ibu yang memiliki anak (18 tahun kebawah), tentang
bahayanya pergaulan bebas, seks bebas dan pentingnya pendidikan hak kesehatan
seksual atau reproduksi sejak dini
PANDANGAN MASYARAKAT TERHADAP
PELACUR/PELACURAN ANAK

3. Kelompok Aparat
a. Menanamkan pengertian dan pengetahuan seks
sejak dini
b. Pendidikan moral dalam keluarga dan sekolah
c. Menciptakan dan mensosialisasikan UU
Perlindungan Anak
d. Mengadakan program pendampingan
e. Mengajak semua pihak ikut menanggulangi
masalah pendidikan anak, mulai dari kurikulum, biaya
pendidikan bagi anak dari keluarga tak mampu, dll
PANDANGAN MASYARAKAT TERHADAP
PELACUR/PELACURAN ANAK

4. Kelompok Polisi
a. Menghilangkan tempat-tempat yang dimungkinkan untuk prostitusi
b. Mengusulkan adanya UU yang menjerat pelaku
c. Pembinaan terhadap PSK (WPS dan PSK Laki-laki) oleh pemerintah,
LSM, tokoh agama, dan masyarakat umum
d. Mengekspose setiap kasus di media massa (cetak maupun
elektronik)
e. Penegakkan hukum, norma-norma agama dan kesusilaan
f. Sebagai tindakan preventif, perlu ada pembinaan pelajar disekolah-
sekolah
g. Mengadakan razia
h. Pemberian pendidikan seks dan moral
i. Dimasukkan dalam wadah/lembaga yang mengurusi masalah tersebut
PANDANGAN MASYARAKAT TERHADAP
PELACUR/PELACURAN ANAK

5. Kelompok DPRD
a. Penanganan komprehensif, lewat
pengembangan program
b. Peningkatan pendidikan agama
c. Memperjuangkan hak anak
d. Pembinaan norma oleh dinas terkait
e. Mengagendakan pembahasan di dewan
f. Pemberian kegiatan/keterampilan
g. Membentuk wadah/forum untuk pembinaan
PANDANGAN MASYARAKAT TERHADAP
PELACUR/PELACURAN ANAK

6. Kelompok Tetangga
a. Ada pendidikan
b. Pendidikan seks sebelum menginjak dewasa
c. Pendirian pusat pemulihan
d. Adanya produk perundangan dengan sanksi yang tegas
7. Kelompok Konsumen dan lain-lain
a. Bersedia menyalurkan ke pekerjaan yang lebih layak
b. Buatkan tempat penampungan
c. Memberi apa yang bisa dibantu
d. Membantu memberi informasi
e. Memberi pelatihan dan semacamnya
f. Sekolah ke kejuruan agar cepat kerja
g. Kalau bisa dientaskan
KEGIATAN-KEGIATAN PEMULIHAN ANAK YANG
DILACURKAN DAN KELUARGANYA

Yayasan Kakak sepanjang Mei 1999 s.d Mei 2001, melakukan


kegiatan-kegiatan dengan tujuan memulihkan anak yang
dilacurkan dan keluarga mereka, berupa :
1. Kilini Medis dan Psikologis. Tujuannya menyediakan pelayanan
pengobatan medis dan konsultasi bagi anak-anak yang
beresiko tinggi menjadi anak yang dilacurkan beserta
keluarganya. Yayasan Kakak juga bekerjasama dengan rumah
sakit-rumah sakit, guna mengantisipasi keringan biaya bagi
anak yang perlu pemeriksaan ke dokter spesialis/rawat inap.
Selain itu Yayasan Kakak juga bekerjasama dengan Surat
Kabar/Harian Lokal dalam menyediakan sarana konsultasi
medis dan psikologis dengan segmen remaja, lewat surat, e-
mail dan telepon
KEGIATAN-KEGIATAN PEMULIHAN ANAK YANG
DILACURKAN DAN KELUARGANYA

2. Pelatihan Kesehatan Reproduksi dan Konsumerisme.


Materi yang diberikan :
a. Perilaku konsumtif
b. Hak dan Tanggung Jawab Konsumen
c. Iklan
d. Perbedaan Laki-laki dengan Perempuan
e. Resiko Dalam Kesehatan Reproduksi dan Cara
Menolak Ajakan Hubungan Seks Dini (Bebas)
f. Pelatihan Media Seni, sebagai media untuk
mengkampanyekan masalah konsumen dan kesehatan
reproduksi
KEGIATAN-KEGIATAN PEMULIHAN ANAK YANG
DILACURKAN DAN KELUARGANYA

3. Pemberdayaan Keluarga dengan Program Beasiswa dan Income Generating,


berupa :
a. Program Beasiswa. Menyediakan beasiswa bagi anak yang dilacurkan, adik
perempuan yang dilacurkan, anak-anak korban pemerkosaan/pencabulan dan
adik perempuannya. Harapannya bisa mencegah mereka terjerumus dalam
dunia protitusi. Hasilnya, banyak anak yang dilacurkan ketika mengikuti program
ini akhirnya drop out lagi dari sekolah, karena tidak bisa menyesuaikan diri
dengan lingkungan dimana tempat mereka disekolahkan lagi
b. Harm Reduction. Harm reduction yang dilakukan Yayasan Kakak adalah
dengan memisahkan anak dengan sumber eksploitasi, lewat menyewakan
kamar kost. Selain itu melakukan upaya pengurangan resiko anak dari
eksploitasi seksual komersial dengan meminimalkan peluang mereka untuk
berkencan, lewat kegiatan belajar dan “bekerja” di Yayasan Kakak. Hasilnya ada
saja yang membuat anaka-anak tersebut kembali pada kegiatan awal, seperti :
pengaruh pacar, keinginan mendapatkan uang dalam jumlah besar dan cepat
dan ingin keluar malam
KEGIATAN-KEGIATAN PEMULIHAN ANAK YANG
DILACURKAN DAN KELUARGANYA

C. Income Generating. Kegiatan ini memfasilitasi anak yang dilacurkan atau


keluarganya guna meningkatkan pendapatan, seperti :
1. Menyediakan segala keperluan anak yang dilacurkan untuk membuka
warung makan. Warang ini selain menyediakan makanan, juga sebagai pojok
informasi kesehatan reproduksi, dengan meletakkan media-media pendidikan
dan informasi kesehatan reproduksi
2. Memfasilitasi anak-anak yang ingin belajar menjahit dengan menyediakan
mesin jahit berikut bahan-bahannya, serta staf pengajar
3. Kegiatan membuat dan memanfaatkan kertas daur ulang, menjadi
beberapa barang hiasan, cenderamata dan kartu ucapan
4. Bantuan modal usaha bagi anak yang dilacurkan dan keluarganya untuk
usaha warung, menjual makanan, sandal, dll
Hasilnya : Rasa bosan anak dan perilaku tidak sabar anak, menyebabkan
kegiatan-kegiatan yang dilakukan hanya berjalan sebentar. Ditambah
mobilitas mereka yang tinggi, sehingga susah untuk mengumpulkan mereka
KESIMPULAN

Hasil dari program pencegahan dan pendampingan yang dilakukan


selama 2 tahun oleh Yayasan Kakak, kesimpulannya adalah :
1. Perlunya kerjasama dengan pihak-pihak terkait untuk mengatasi anak
korban kekerasan seksual, baik itu korban pemerkosaan ataupun
eksploitasi seksual komersial
2. Perlunya metode yang cocok dalam pendampingan terhadap anak
yang dilacurkan
3. Kegiatan yang sifatnya seni menarik anak untuk bergabung dalam
kelompok-kelompok sadar kesehatan reproduksi dan konsumen muda
4. Teater merupakan media kampanye yang efektif untuk menyampaikan
pesan kepada masyarakat tanpa kesan menggurui
5. Perlunya pendampingan terhadap anak korban kekerasan seksual
baik dari segi medis, psikologis maupun hukum

Anda mungkin juga menyukai