Anda di halaman 1dari 20

PENDIDIKAN PANCASILA

dan UUD1945
Oleh :
DRS. EDEN K. SOEARDI, M.Si.

Landasan Pendidikan Pancasila


1.
Landasan Historis Pendidikan Pancasila

Proses
sejarah
pembentukan
bangsa
Indonesia (Prasejarah, Kerajaan Kuno,
Kerajaan Islam, penjajahan, perjuangan
kemerdekaan, kemerdekaan dstnya)

Sejarah Perumusan Pancasila sebagai dasar


negara (sejak sidang BPUPKI I hingga
sekarang)
2.
Landasan Kultural

Fakta budaya dan falsafah hidup bangsa


Indonesia
yang
merupakan
suatu
pandangan hidup, tujuan hidup bersama
dalam suatu negara, yang setiap bangsa
memiliki ciri khas tersendiri.

3.

Landasan Filosofis
Pancasila sebagai dasar filsafat negara dan
pandangan filosofis bangsa Indonesia, merupakan
suatu keharusan moral untuk secara konsisten
merealisasikannya dalam setiap aspek kehidupan
bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

4.

Landasan juridis
Pembukaan UUD 1945 alinea II (Cita-cita bangsa
Indonesia) dan alinea IV ( tujuan dan aspirasi
kemerdekaan)
UU no. 2 tahun 1989 tentang Sisdiknas jo UU No.
20 tahun 2003
PP No. 60 tahun 1999 tentang Dikti pasal 13 ayat
(2)
SK
Ditjen
Dikti
No.
265/DIKTI/kep/2000
(Penyempurnaan Kurikulum)
SK Ditjen Dikti No. 38/DIKTI/Kep/2002 tentang
Rambu-rambu
Pelaksanaan
Matakuliah
Pengembangan Kepribadian

Tujuan Pendidikan Pancasila


1.

2.

Tujuan Nasional bangsa Indonesia


Melindungi segenap bangsa Indonesia dan
seluruh tumpah darah Indonesia
Memajukan kesejahteraan umum
Mencerdaskan kehidupan banga
Ikut melaksanakan ketertiban dunia (Pembukaan
UUD 1945 alinea keempat)
Tujuan Pendidikan Nasional
Berkembangnya potensi peserta didik agar
menjadi manusia yang:
Beriman dan Bertaqwa kepada Tuhan YME
Berakhlak Mulia
Sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri
Menjadi Warga Negara yg bertanggungjawab

Tujuan Pendidikan Pancasila

Mengarahkan perhatian pada moral yang


diharapkan terwujud dalam kehidupan seharihari, yaitu perilaku yang memancarkan iman
dan taqwa terhadap Tuhan YME dalam
masyarakat yang terdiri atas berbagai
golongan agama kebudayaan dan beraneka
ragam
kepentingan
,
perilaku
yang
mendukung kerakyatan yang mengutamakan
kepentingan bersama di atas kepentingan
perorangan dan golongan sehingga perbedaan
pemikiran, diarahkan pada perilaku yang
mendukung upaya mewujudkan keadilan
sosial bagi seluruh rakyat Indonesia(SK Ditjen
Dikti No. 265/DIKTI/Kep./200)

Pendidikan Pancasila bertujuan menghasilkan


peserta didik bersikap dan berperilaku :
1. Beriman Dan Bertaqwa kepada Tuhan YME
2. Berperikemanusian yang Adil dan Beradab
3. Mendukung Persatuan Bangsa
4. Mendukung kerakyatan yang mengutamakan
kepentingan bersama di atas kepentingan
individu maupun golongan
5. Mendukung upaya untuk mewujudkan suatu
keadilan sosial dalam masyarakat


a.
b.
c.
d.
e.

f.
g.
h.

Kompetensi pendidikan Pancasaila bertujuan


untuk menguasai
kemampuan berpikir
bersikap rasional
Dinamis
berpandangan
luas
sebagai
manusia
intelektual
mengantarkan
mahasiswa
memiliki
kemampuan untuk
mengambil sikap
bertanggungjawab sesuai hati nuraninya
mengenali masalah hidup dan kesejahteraan
serta cara-cara pemecahannya
mengenali perubahan - perubahan dan
perkembangan ipteks
memaknai peristiwa sejarah dan nilai-nilai
budaya bangsa guna menggalang persatuan
Indonesia

BAB II
PANCASILA DALAM KONTEKS SEJARAH
PERJUANGAN BANGSA INDONESIA

Tujuan Pembelajaran Umum


Mahasiswa diharapkan dapat mengerti dan
memahami Pancasila dalam Konteks Sejarah
Perjuangan Bangsa Indonesia

Tujuan Pembelajaran Khusus


Mahasiswa diharapkan dapat melakukan telaah
kritis
tentang
sejarah
perjuangan
bangsa
Indonesia,
kronologis
sejarah
perumusan
Pancasila dasar filsafat negara, Pembukaan UUD
dan Pasal-pasal UUD 1945
Menjelaskan dinamika pelaksanaan UUD 1945

A.
1.
2.
3.
4.
5.

Kronologis Sejarah Perjuangan Bangsa Indonesia


Kejayaan
zaman
Sriwijaya,
Majapahit
dan
kerajaan-kerajaan Islam
Perjuangan bangsa sebelum abad XX
Perjuangan nasional
Kronologis Proklamasi Kemerdekaan Indonesia
Perjuangan
mempertahankan
dan
mengisi
Kemerdekaan
Periode 1945-1949 -> Revolusi Fisik (UUD 1945)
Periode 1949-1950 -> RIS (Konstitusi RIS 1949)
Periode 1950-1959 -> Demokrasi Liberal (UUDS
1950)
Periode 1959-1966 -> Demkrs Terpimpin, Orla
(UUD 1945)
Periode 1966-1998 -> Orde Baru (UUD1945)
Periode 1998- sekarang -> Reformasi (UUD 45
amandemen)

Proses
perumusan
dan
Pengesahan
Pancasila dasar negara
Kronologis perumusan Pancasila
Sidang Badan Penyelidik Usaha-usaha
Persiapan Kemerdekaan Indonesia
(BPUPKI) Pertama ( 29 Mei 1 Juni 1945)
Tampil 3 orang menyampaikan usul dasar
negara :
a) Muh. Yamin (29 Mei 1945)
Dalam Pidatonya ia mengusulkan :
(1) Peri Kebangsaan
(2) Peri Kemanusiaan
(3) Peri Ketuhanan
(4) Peri Kerakyatan (A.Permusyawaratan, B.
Perwakilan, C. Kebijaksanaan)
(5) Kesejahteraan Rakyat (Keadilan Sosial)
6.

Pada akhir pidatonya ia menyerahkan


naskah :
Ketuhanan Yang Maha Esa
Kebangsaan, Persatuan Indonesia
Rasa kemanusiaan yang adil dan
beradab
Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat
kebijaksanaan dalam permusyawaratan
perwakilan
Mewujudkan
keadilan
sosial
bagi
seluruh rakyat Inonesia

b)

(1)

(2)

(3)

Prof Dr. Soepomo (31 Mei 1945)


Ia mengemukakan teori-teori negara
:
Teori
Negara
Perorangan
(Individualis)/Hobbes, Rousseau, H.
Spencer, Laski
Paham
Negara
Kelas
(Class
theory)/Marx Engels, Lenin
Paham Negara Integralistik/Spinoza,
Adam Muller, Hegel

Ir. Soekarno (1 Juni 1945)


Ia mengusulkan dasar negara :
Nasionalisme (Kebangsaan Indonesia)
Internasionalisme (Peri kemanusiaan)
Mufakat (Demokrasi)
Kesejahteraan sosial
Ketuhanan Yang Maha Esa (Ketuhanan Yang
berkebudayaan)
c)

Lima prinsip tersebut agar diberi nama Pancasila.


Lima sila tersebut dapat diperas menjadi Trisila
yang meliputi : a. Sosio nasionalisme, 2) Sosio
Demokrasi, dan 3) Ketuhanan.
Ia juga mengusulkan Tri Sila dapat diperas
menjadi Eka Sila yang intinya gotong royong

Sidang BPUPKI Kedua (10-16 Juli 1945)


Ada penambahan 6 anggota baru BPUPKI,
Panitia Kecil telah menghasilkan Rancangan
Dasar Negara (Piagam Jakarta) :
I.
Ketuhanan dengan Kewajiban menjalankan
Syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya
II.
Kemanusiaan yang Adil dan Beradab
III.
Persatuan Indonesia
IV.
Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat
kebijaksanaan dalam permusyawaratan /
perwakilan
V.
Keadilan
sosial
bagi
seluruh
rakyat
Indonesia

3.

4.

Proklamasi kemerdekaan
17 Agustus
1945
Sidang Panitia Persiapan Kemerdekaan
Indonesia Pertama (18 Agustus 1945)
Mengesahkan UUD 1945 yang meliputi
Pembukaan UUD 1945 (dari Piagam
Jakarta ada perubahan pada sila
pertama)
Menetapkan rancangan hukum dasar,
yang kemudian menjadi UUD
Memilih Presiden dan Wapres pertama
Menetapkan berdirinya KNIP sbg badan
musyawarah darurat

PANCASILA SEBAGAI SISTEM FILSAFAT


Pengertian Filsafat

Pengertian Filsafat sebenarnya sangat sederhana dan mudah dipahami. Filsafat


adalah satu bidang ilmu yang senantiasa ada dan menyertai kehidupan manusia.
Selama manusia hidup, tidak dapat mengelak dari filsafat atau dalam kehidupan
manusia senantiasa berfilsafat.
Nasution (1973), mengemukakan bahwa secara etimologi istilah Filsafat
berasal dari bahasa Yunani, yaitu Philein yang berarti Cinta dan Sophos
yang berarti Hikmah atau Kebijaksanaan, dan secara harfiah filsafat diartikan
dengan Cinta akan kebijaksanaan .
Manusia dalam kehidupannya pasti memilih apa pandangan dalam hidup yang
dianggap paling benar, paling baik dan membawa kesejahteraan, dan pilihan
manusia sebagai suatu pandangan dalam hidupnya itulah yang disebut filsafat.
Pilihan manusia baik secara individu maupun kelompok bahkan pada tataran
suatu bangsa dalam menentukan tujuan hidupnya ini lebih diarahkan untuk
tercapainya kebahagiaan dalam kehidupannya.
Ditinjau dari lingkup pembahasannya, filsafat meliputi banyak bidang bahasan
antara lain tentang manusia, masyarakat, alam, pengetahuan, etika, logika,
agama, estetika dan bidang lainnya.
Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan maka muncul dan berkembang
juga ilmu filsafat yang berkaitan dengan bidang ilmu tertentu, seperti : filsafat
sosial, filsafat hukum, filsafat politik, filsafat agama dan lain-lain.

PENGERTIAN FILSAFAT

a.

b.

a.

b.

Filsafat sebagai Produk


Pengertian Filsafat yang mencakup arti-arti filsafat sebagai jenis
pengetahuan, ilmu, konsep dari para Filsuf pada zaman dahulu,
teori, sistem atau pandangan tertentu yang merupakannhasil dari
proses berfilsafat dan yang mempunyai ciri-ciri tertentu.
Filsafat sebagai suatu jenis problema yang dihadapi oleh manusia
sebagai hasil dari aktifitas berfilsafat. Filsafat dalam pengertian
jenis ini mempunyai ciri khas tertentu sebagai suatu hasil kegiatan
berfilsafat dan pada umumnua proses pemecahan persoalan filsafat
ini diselesaikan dengan kegiatan berfilsafat ( dalam pengertian
filsafat sebagai proses yang dinamis).
Filsafat sebagai suatu Proses
Filsafat diartikan sebagai bentuk aktivitas berfilsafat, dalam proses
pemecahan suatu permasalahan dengan menggunakan suatu cara
dan metode tertentu yang sesuai dengan objek permasalahannya.
Dalam pengertian ini Filsafat merupakan suatu sistem pengetahuan
yang bersifat dinamis. Filsafat dalam pengertian ini tidak lagi
hanya merupakan sekumpulan dogma yang hanya di yakini,
ditekuni dan dipahami sebagai suatu sistem nilai tertentu, tetapi
lebih merupakan suatu aktivitas berfilsafat, suatu proses yang
dinamis dengan menggunakan suatu cara dan metode tersendiri.

1.

1.
2.
3.
4.

5.

PENGERTIAN PANCASILA SEBAGAI SISTEM FILSAFAT


Pancasila yang terdiri atas lima sila pada hakekatnya merupakan sistem
filsafat, karena sila-sila dalam Pancasila merupakan suatu kesatuan yang
bagian-bagiannya saling berhubungan, saling bekerjasama untuk satu tujuan
tertentu dan secara keseluruhan merupakan suatu kesatuan yang utuh,
lazimnya suatu sistem Pancasila memiliki ciri-ciri
Suatu kesatuan bagian-bagian
Bagian-bagian tersebut mempunyai fungsi sendiri-sendiri
Saling berhubungan dan saling ketergantungan
Kesemuanya dimaksudkan untuk mencapai suatu tujuan bersama (tujuan
sistem)
Terjadi dalam suatu lingkungan yang kompleks. ( Shore and Voich, 1972).
Pancasila yang terdiri atas bagian-bagian yaitu Sila-sila Pancasila, setiap Sila
pada hakekatnya merupakan suatu asas sendiri, fungsi sendiri dan tujuan
tertentu, yaitu masyarakat yang adil dan makmur berdasarkan Pancasila.
Sila-sila Pancasila merupakan sistem filsafat yang pada hakekatnya
merupakan suatu kesatuan organis. Antara Sila-sila Pancasila itu saling
berkaitan, berhubungan bahkan saling mengkualifikasi. Sila yang satu
senantiasa dikualifikasi oleh sila-sila yang lainnya.
Kenyataan Pancasila yang sedemikian itu disebut sebagai Kenyataan
objektif, yaitu kenyataan itu ada pada Pancasila sendiri terlepas dari sesuatu
yang lain, atau terlepas dari pengetahuan orang. Kenyataan obyektif yang
adan dan terlekat pada Pancasila sehingga Pancasila sebagai suatu sistem
filsafat bersifat khas dan berbeda dengan sistem filsafat lainnya misalnya :
liberalisme, materialisme, komunis dan aliran filsafat lainnya .

Kesatuan Sila-Sila Pancasila


Susunan Pancasila bersifat Hierarkis dan berbentuk Piramidal.
Hal ini menggambarkan hubungan hirarkies Sila-sila Pancasila dalam uruturutan luas (kuantitas) dan dalam sifat-sifatnya (kualitas). secara
ontologis kesatuan sila sila Pancasila sebagai suatu sistem bersifat
Hirarkies dan piramidal, filosofinya adalah : bahwa hakekat adanya
Tuhan adalah karena dirinya sendiri, Tuhan sebagai Causa Prima, oleh
karena itu segala sesuatu yang ada di alam semesta ini termasuk
manusia ada karena diciptakan Tuhan atau manusia ada sebagai akibat
adanya Tuhan (Sila 1), manusia sebagai subjek pendukung pokok
negara, karena negara adalah lembaga kemanusiaan, negara adalah
persekutuan hidup bersama dari anggotanya, yaitu manusia (Sila 2),
adanya negara sebagai akibat adanya manuisa yang bersatu (sila 3),
rakyat sebagai unsur negara di samping unsur wilayah dan
pemerintahan. Rakyat adalah sebagai totalitas individu-individu dalam
negara yang bersatu (Sila 4), keadilan pada hakekatnya merupakan
tujuan dalam hidup bersama (Sila 5)
2.
Kesatuan sila-sila Pancasila yang saling mengisi dan saling
mengkualifikasi.
Sila-sila Pancasila sebagai suatu kesatuan dapat dirumuskan pula dalam
hubungannya saling mengisi atau mengkualifikasi dalam rangka
hubungan hirarkies Piramidal di atas. Tiap-tiap sila mengandung
empat sila lainnya, di kualifikasi empat sila lainnya.
1.

KESATUAN SILA-SILA PANCASILA SEBAGAI SISTEM FILSAFAT


Kesatuan sila-sila Pancasila bukan hanya merupakan kesatuan yang bersifat formal
logis saja namun juga meliputi kesatuan dasar ontologis, dasar epistemologis dan
dasar aksiologis. Sehingga Pancasila memliki dasar ontologis, dasar epistemologis
dan dasar aksiologis sendiri yang berbeda dengan sistem filsafat yang lainnya .
Dasar ontologis sila-sila Pancasil a.
Pancasila sebagai sistem filsafat tidak hanya menyangkut kesatuan dari sila-silanya saja
melainkan menyangkut dasar ontologis. Dasar ontologis Pancasila didasarkan pada
manusia yang memiliki hakikat mutlak monopluralis, disebut juga dasar antropologis.
Sebagai pendukung Sila-sila Pancasila secara ontologis memiliki hal-hal yang mutlak,
yaitu terdiri dari susunan kodrat, raga dan jiwa, jasmani dan rohani. Kedudukan kodrat
manusia sebagai makhluk pribadi berdiri sendiri dan sebagai makhluk Tuhan, maka secara
hirarki sila Pertama Ketuhanan Yang Maha Esa dan menjiwa ke 4 sila-sila lainnya
2.
Dasar Epistemologis sila-sila Pancasila
Pancasila sebagai sistem filsafat merupakan sistem pengetahuan. Pancasila merupakan
pedoman atau dasar bagi bangsa Indonesia dalam memandang realitas alam semesta,
manusia, masyarakat, bangsa dan negara tentang makna hidup serta sebagai dasar bagi
manusia dalam menyelesaikan masalah hidup dan kehidupan. Pancasila sudah jadi sistem
cita-cita dan keyakinan (bilief system) yang menyangkut praktis, dan landasan bagi cara
hidup manusia dan masyarakat dalam berbagai bidang kehidupan. 3 unsur Pancasila
menarik loyalitas rakyatnya, yaitu : 1) Logos, yaitu rasionalitas atau penalarannya , 2)
Pathos, yaitu penghayatannya dan 3) Ethos, yaitu Kesusilaan.
3.
Dasar Aksiologis sila-sila Pancasila

Pancasila sebagai sistem filsafat juga memiliki satu kesatuan dasar aksiologisnya, yaitu
nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila pada hakikatnya merupakan suatu kesatuan.
Terdapat berbagai macam teori tentang nilai dan hal ini sangat tergantung pada sudut
pandangnya masing-masing dalam menentukan pengertian nilai dan h irarkinya.

Nilai-nilai Pancasila termasuk nilai kerohanian, tetapi nilai-nilai kerohanian yang mengakui
nilai material dan nilai vital. Oleh karena itu Pancasila yang tergolong nilai kerohanian itu
juga mengandung nilai-nilai lain secara lengkap dan harmonis, yaitu nilai material, nilai
vital, nilai kebenaran, nilai keindahan atau estetis nilai moral
1.