Anda di halaman 1dari 17

OSTEOPOROSI

PEMBIMBING:

dr. CHAIRIANDI SIREGAR, Sp. OT (K)


OLEH:
MOHD. AMIRUL ASHRAF 110100437
ALEGRA RIFANI M
110100361
DEPARTEMEN ORTHOPAEDI DAN TRAUMATOLOGI
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
KEPANITERAAN KLINIK SENIOR RSUP HAJI ADAM MALIK
MEDAN
2016

Latar Belakang
Osteoporosis adalah penyakit degeneratif berupa
rendahnya massa tulang dan memburuknya
struktur pembentuk tulang yang mengakibatkan
kerapuhan hingga fraktur
Sekitar 80% penderita osteoporosis adalah wanita
dikarenakan proses menopause
Angka kejadian osteoporosis akan meningkat
seiring bertambahnya usia. Di Indonesia, jumlah
penduduk usia lanjut diperkirakan naik sebanyak
414% dalam kurun waktu 1990 2025

Definisi
Osteoporosis adalah suatu keadaan penyakit yang
ditandai dengan rendahnya massa tulang dan
memburuknya mikrostruktural jaringan tulang
Hal ini menyebabkan kerapuhan tulang sehingga
meningkatkan risiko fraktur
Frekuensi fraktur yang paling sering terjadi adalah
di daerah leher femur - persentase berkisar 20%
pada penderita osteoporosis

Etiologi
Penyebab PRIMER:
1. Defisiensi estrogen dan penuaan usia
. Penyebab SEKUNDER:
1. Riwayat keluarga
2. Gangguan endokrin
3. Gangguan nutrisi dan gastrointestinal
4. Penyakit ginjal
5. Penyakit rematik

6. Gangguan hematologi
7. Gangguan genetik
8. Gangguan lain seperti porfiria, sarcoid, immobilisasi,
kehamilan dan laktasi, PPOK, nutrisi parenteral,
HIV/AIDS
9. Obat obatan seperti:
Kortikosteroid (prednisone 5 mg/hari 3 bulan)
Antikonvulsan (phenytoin, barbiturate, carbamazepine yang
berhubungan dengan defisiensi vitamin D)
Heparin jangka panjang
Kemoterapi maupun obat obatan transplantasi (siklosporin,
tacrolimus, platinum compounds, siklofosfamida, ifosfamide,
metotreksat)
Terapi endokrin atau hormonal (GnRH agonist, KHRH analogs,
depomedroxyprogesterone, suplemen tiroid)
Lithium
Aromatase inhibitors (exemestane, anastrozole)

Faktor Risiko
1.
2.
3.
4.

Umur
Jenis kelamin
Riwayat penyakit dan pengobatan
Kurangnya aktivitas fisik

Patofisiologi

Gejala Klinis
Nyeri
Kekakuan
Berkurangnya kemampuan untuk berfungsi

Diagnosis
Diagnosis osteoporosis, sama seperti penyakit pada umumnya,
ditegakkan melalui anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan
penunjang. Selain menelaah keluhan, nilai juga faktor risiko pada
pasien seperti:
Usia
Jenis kelamin
Ras
Riwayat keluarga
Faktor reproduksi seperti menopause
Faktor gaya hidup
Asupan kalsium dan vitamin D
Riwayat penyakit seperti fraktur
Riwayat penggunaan obat
Kelemahan ekstremitas

Pemeriksaan fisik meliputi:


Indeks massa tubuh rendah
Tanda perubahan kurvatura tulang belakang
Tanda predisposisi penyebab atau etiologi
osteoporosis
Tanda penuaan
Jika telah terjadi fraktur dilakukan look untuk
melihat deformitas, tanda-tanda fraktur
Feel: meraba daerah defromitas, apakah dijumpai
nyeri tekan
Move: memeriksa range of motion, krepitasi

Pada pemeriksaan penunjang dapat dilakukan:


Pemeriksaan darah rutin
Pemeriksaan kimia darah
Pemeriksaan hormone tiroid
Pemeriksaan 25.hidroksivitamin D
Urinalisis untuk memeriksa adanya hiperkalsiuria
Testosteron
Biopsi tulang
Radiodiagnostik seperti x-ray khususnya dual
energy x-ray absorptiometry/DXA yang secara
bertahap menggantikan teknik ionisasi
menggunakan radiasi sinar gamma. Teknik ini
memiliki akurasi tinggi dan presisi baik sehingga
ditetapkan sebagai gold standard.

Diagnosis Banding

Hiperparatiroidism
Multiple myeloma
Osteomalasia dan renal osteodystrophy
Paget disease

Penatalaksanaan
Osteoporosis difokuskan pada usaha memperlambat
dan menghentikan kehilangan mineral, meningkatkan
kepadatan tulang dan mengontrol nyeri. 40% wanita
mengalami fraktur akibat osteoporosis, untuk itu
diperlukan intervensi non farmakologis sebagai
berikut:
Diet cukup kalsium (1000 mg/hari) dengan
mengonsumsi susu dan salmon.
Berolahraga cukup seperti jalan kaki, bersepeda,
atau aerobik untuk menjaga berat badan.
Berobat ke ahli orthopaedi jika didapati tanda
tanda fraktur pada tulang belakang.

Secara farmakologis penderita dapat disarankan untuk


mengonsumsi obat obatan berikut, diantaranya:
Estrogen pada wanita yang telah menopause.
Suplemen kalsium (1200 1500 mg) dan vitamin D
(600 800 mg) per hari.
Bifosfonat untuk memperlambat kehilangan jaringan
tulang (alendronate, risedonate, dan etidronate)
kemudian memantau DXA dan fungsi ginjal setiap 1
2 tahun.
Kalsitonin.
Teriparatide.
Intervensi bedah dilakukan dengan cara immobilisasi
ketat dan pengembalian fungsi serta aktivitas tulang.

Komplikasi
Fraktur

Prognosis
Pada osteoporosis prognosis sangat ditentukan
oleh individu serta faktor risiko. Bila penderita
sudah melakukan pencegahan dini dengan
konsumsi suplemen kalsium dan vitamin D maka
kemungkinan besar prognosis akan menjadi baik,
begitu pula sebaiknya.

Kesimpulan
Osteoporosis adalah penyakit degeneratif berupa rendahnya massa tulang
dan memburuknya struktur pembentuk tulang yang mengakibatkan
kerapuhan hingga fraktur. Penyakit ini tersebar merata di seluruh dunia
dan sampai sekarang masih menjadi masalah terutama di negara
berkembang
Faktor risiko dari osteoporosis secara primer ialah usia dan jenis kelamin
meski kejadian pada kaum pria meski progresifitasnya lebih lambat. Selain
itu adanya fraktur sebelum usia 50 tahun, penggunaan obat obatan yang
menghambat absorbsi kalsium serta vitamin D, dan kurangnya aktivitas
fisik menjadi faktor sekunder yang menyebabkan osteoporosis
Dual energy x-ray absorptiometry/DXA memiliki akurasi tinggi dan presisi
baik sehingga ditetapkan sebagai gold standard
Tatalaksana pada osteoporosis bertujuan untuk meminimalisasi komplikasi
dan mencegah gangguan aktivitas fisik dari penderita. Pencegahan seperti
konsumsi suplemen kalsium yang cukup agar prognosis pada golongan
risiko tinggi menjadi lebih baik