Anda di halaman 1dari 17

BUDIDAYA IKAN KARPER

(CYPRINUS CARPIO)
DI BBI KARANGANYAR

Disusun Oleh :

Bayu Ardiansyah
Jasri

Ghufron

Nur Aisah
KELOMPOK 5

Indonesia merupakan salah satu negara yang


wilayah utamanya terdiri atas kelautan, begitu
banyak hewan laut yang dapat kita manfaatkan
guna menunjang gizi bagi negara kita, salah
satunya yaitu ikan.
Ikan karper menurut sejarahnya berasal dari
daratan Cina dan Rusia. Ikan karper atau ikan
mas(Cyprinus carpio) adalah ikan air tawar yang
bernilai ekonomis penting dan sudah tersebar
luas di Indonesia. Di Indonesia, ikan karper
memiliki beberapa nama sebutan yakni kancra,
tikeu, tombro, raja, rayo, ameh atau nama lain
sesuai dengan daerah penyebarannya.

KELOMPOK 5

KLASIFIKASI IKAN KARPER


Klasifikasi Ikan Karper

Klasifikasi ikan karper dalam Santoso (1993)


sebagai berikut :
Fillum
: Chordata
Sub Fillum : Vertebrata
Super Class : Pisces
Class
: Osteichtyes
Ordo
: Cipriniformes
Sub Ordo
: Cyprinidae
Sub Family : Cyprininae
Genus
: Cyprinus
Spesies
: Cyprinus carpio.

KELOMPOK 5

KELOMPOK 5

MORFOLOGI

bentuk badan sedikit memanjang pipih


kesamping (Compressed), mulut terminal dapat
disembulkan dan lunak (elastis) serta memiliki
dua pasang kumis (barbel), kadang mempunyai
sungut (rudementir), sedangkan jari-jari sirip
punggung yang kedua mengeras seperti gergaji
dan letaknya bersebrangan. Sirip dada terletak
di belakang tutup insang (operculum).

TEKNIK PEMIJAHAN
Persiapan kolam
penetasan

Seleksi induk

Persiapan bak
pemijahan

Pemijahan

Pengesatan kolam
penetasan,
pengeringan
Panen

Pengesatan kolam
induk

Pengeringan bak
pemijahan, persiapan
kakaban, persiapan
alat pemijahan
Pemindahan
kakaban

Pencegahan hama
dan penyakit

Penetasan
telur

Pemeliharaan
larva

KELOMPOK 5

FASILITAS PEMBENIHAN
a. Kolam Pembenihan
Kolam Induk
Kolam Penetasan
Kolam Pemijahan
Kolam pendederan
b. Peralatan Pembenihan
Alat-alat yang biasa digunakan :
jaring, hapa, tali, ember, baskom berbagai ukuran,
timbangan, termometer , dll.
Sedangkan peralatan lain yang digunakan untuk
pemanenan :
waring yang halus, keramba, kakaban, hapa dan
alat pengangkutan benih.
KELOMPOK 5

Kolam induk

Kolam pendederan

Kolam pemijahan

Kolam penetasan

KELOMPOK 5

c. Persiapan Media

Pengeringan kolam
bertujuan untuk membunuh bakteri
dan jamur penyebab gangguan atau
penyakit
pemupukan
bertujuan menumbuhkan Pakan
alami
pengapuran
bertujuan untuk menetralkan PH

KELOMPOK 5

A. SELEKSI INDUK
Ciri induk yang baik:
Ikan dalam keadaan sehat, tidak cacat, tidak luka atau
tidak menderita penyakit
Sisik tersebar teratur dan berukuran agak besar
Sirip tidak luka dan tidak cacat
Bentuk dan ukuran tubuh seimbang, tidak terlalu kurus
atau terlalu gemuk
Tubuh tidak keras dan tidak lembek
Perut lebar dan datar
Tubuh relatif tinggi
Pangkal ekor relatif lebar dan normal
Kepala relatif kecil dan moncong lancip
Jarak antara lubang dubur relatif dekat ke pangkal ekor
Ukuran yang digunakan antara 1,5-4 kg dan maksimal
melakukan enam kali pemijahan selama pemeliharaan.
Umur ikan berkisar antara 2-3 tahun
KELOMPOK 5

KELOMPOK 5

ciri-ciri untuk membedakan antara induk jantan dan betina


adalah sebagai berikut :
1) Jantan
Badan tampak langsing
Gerakan lincah dan gesit
Jika perut distriping mengeluarkan cairan sperma berwarna
putih
2) Betina
Badan bagian perut besar
Gerakan lambat, pada malam hari biasanya loncat-loncat
Jika perut distriping mengeluarkan cairan berwarna kuning.
B. PERAWATAN INDUK

Hal yang perlu dilakukan pada induk adalah pemberokan


dilakukan selama 1-2 hari pada bak penampungan, dan
tentunya selama pemberokan induk tidak diberi makan

C. PERSIAPAN KOLAM PEMIJAHAN


kolam pemijahan sebelum digunakan dibersihkan
terlebih dahulu
Pemasangan kakaban

Sumber Air
Sumber air yang digunakan oleh Balai Benih Ikan
(BBI) Karanganyar berasal dari saluran Sungai
disekitar kolam BBI Karanganyar.
KELOMPOK 5

KELOMPOK 5

D. PEMIJAHAN
1. Pemijahan Secara Tradisional
Pemijahan secara tradisional dilakukan dengan cara
memasukkan ikan-ikan yang sudah matang gonad ke dalam
kolam pemijahan, dan sebelumnya telah dipasang substrat
dan kondisi lingkungan yang menyerupai keadaan lingkungan
ikan karper di alam agar ikan dapat memijah lebih cepat.
2. Pemijahan Secara Hypofisasi
Pemijahan dengan cara ini dilakukan dengan cara mengambil
kelenjar hypofisa pada ikan yang mengandung hormon
pertumbuhan dan disuntikkan pada induk betina maupun
induk jantan.
E. PEMINDAHAN KAKABAN
Setelah pemijahan selesai, kakaban diangkat dan dipindah ke
kolam penetasan. Penetasan dilakukan dalam jaring hapa
berukuran 2,5 x 3 m2 dan ukuran mata jaring (mesh size) 10
mikron yang sudah terpasang sebelum dilakukan pengisian air
di kolam penetasan.

F. PENETASAN TELUR
1) Penetasan di kolam penetasan
2) Penetasan Dalam Inkubator
G. PERAWATAN LARVA
Setelah telur menetas semua dalam waktu 2-3 hari
maka kegiatan selanjutnya adalah sebagai berikut :
1) Ngerpik
Ngerpik yaitu mengangkut kakaban satu persatu dengan
hati-hati agar kualitas air tetap terjamin dengan baik.
2) Pemberian Pakan
Larva yang baru menetas belum perlu diberi pakan
karena masih ada cadangan makanan berupa kuning
telur. Setelah kuning telur habis, kira-kira lima hari
setelah telur menetas maka benih dapat diberi makan
berupa rotifera dan kuning telur dengan cara meremas
kuning telur yang telah direbus dalam air sebanyak 250
cc lalu dimasukkan dalam alat penyemprot.

KELOMPOK 5

H. PENDEDERAN

Tahap I
Umur benih yang disebar sekitar 5-7 hari ukuran 1-1,5, jumlah
benih yang disebar 100-200 ekor/m 2 dengan lama pemeliharaan
selama 1 bulan hingga ukuran benih mencapai 2-3 cm.
Tahap II
Umur benih setelah tahap I selesai, jumlah benih yang ditebar
50-75 ekor/m2, lama pemeliharaan selama 1 bulan hingga ukuran
benih mencapai ukuran 3-5 cm.
Tahap III
Umur benih setelah tahap II selesai, jumlah benih yang disebar
25-50 ekor/m2, lama pemeliharaan selama 1 bulan hingga ukuran
benih mencapai ukuran 5-8 cm, perlu penambahan makanan
berupa dedak halus dosis 3-5% dari biomass benih.
Tahap IV
Umur benih setelah tahap III selesai, jumlah benih yang disebar 35 ekor/m2, lama pemeliharaan selama 1 bulan hingga ukuran
benih mencapai ukuran 8-12 cm, perlu penambahan makanan
berupa dedak halus dosis 3-5% dari biomass benih (BAPPENAS,
2008)
KELOMPOK 5

KOLAM PENDEDERAN

KELOMPOK 5

I. PANEN
Cara Panen
dilakukan dengan dua cara yaitu :
Pemanenan secara selektif
pemanenan secara total
Penanganan Benih

Penanganan Benih
a. Seleksi
dilakukan jika ukuran benih tidak seragam untuk memudahkan
penggolongan harga
b. Penghitungan
. - Penghitungan Langsung
. - Penghitungan Volumetrik
. - Penghitungan Gravimetrik
c. Pengobatan
d. Pemberokan
e. Pengemasan
f. Pengangkutan

KELOMPOK 5

TERIMA KASIH.......