Anda di halaman 1dari 44

KHIYAR, BERAKHIRNYA

AKAD DAN PENYELESAIAN


SENGKETA
Materi Perkuliahan Hukum Dagang Islam
Fakultas Hukum, Universitas YARSI

Oleh : Irfan Islami, Lc. MH.


1

PENGERTIAN KHIYAR
Etimologi:

Khiyar
Memilih, menyisihkan dan menyaring
Khiyar
menentukan yg terbaik dari dua hal (lebih) utk
dijadikan orientasi.
Terminologi:
Khiyar adalah hak pilih bagi salah satu atau kedua pihak yang
melaksanakan transaksi (perjanjian usaha) untuk memilih antara
dua hal yang disukainya, melangsungkan transaksi atau
membatalkannya, sesuai dengan kondisi masing-masing pihak
yang melakukan transaksi.
Pasal 20 butir 8 KHES:
Khiyar adalah hak pilih bagi penjual dan pembeli untuk
melanjutkan atau membatalkan akad jual-beli yang dilakukannya.

Mengapa perlu khiyar?


Untuk membuktikan dan mempertegas

adanya kerelaan dari pihak-pihak yang


terikat dalam perjanjian.
Supaya pihak penjual dan pembeli
merasa puas dalam urusan jual beli.
Untuk menghindarkan terjadinya
penipuan dalam urusan jual beli
Untuk menjamin kesempurnaan dan
kejujuran bagi pihak penjual dan
pembeli.
3

Macam-macam Khiyar (Bab IX


Pasal 227-250 KHES)
Majli
s
Tadli
s

Syar
at
Khiy
ar

Ghab
n
4

Aib

1. KHIYAR MAJLIS
(Hak pilih di lokasi
perjanjian)

Adalah hak pilih kedua pihak yang berakad


untuk melanjutkan akad atau
membatalkannya, selama keduanya masih
berada dalam satu majelis akad dan belum
berpisah badan.
Khiyar ini hanya berlaku pada akad
pertukaran (al-muawwadhah al
maliyah), seperti jual beli dan sewa
menyewa (ijarah)
Khiyar ini dipegang oleh mazhab Syafii dan
Hanbali yang berdasar pada HR Bukhari dan
Muslim Masing-masing dari penjual dan
pembeli memiliki hak pilih (khiyar) selama
keduanya belum berpisah

Berakhirnya khiyar majlis:


1. Berpisah badan atau ada tanda

yang menunjukkan perpisahan dari


majlis transaksi.
2. Saling menawarkan pilihan dalam
majlis transaksi antara melanjutkan
atau membatalkan.
3. Salah seorang dari pelaku transaksi
membatalkan atau membiarkan
transaksi tersebut hingga berpisah.
6

2. Khiyar Syart
(Hak pilih berdasarkan
syarat)

Adalah hak pilih yang ditetapkan bagi


salah satu pihak yang berakad atau
keduanya atau bagi orang lain untuk
mengadakan kesepakatan menentukan
syarat, selama masih dalam tenggang
waktu yang ditentukan, untuk
menghindari adanya penipuan.
Khiyar ini hanya berlaku pada akad
lazim (pasti) seperti jual beli, ijarah,
mudharabah, kafalah, hawalah
7

Ketentuan Khiyar Syarth pada


KHES
Pasal 227
(1) Penjual dan atau pembeli dapat bersepakat
untuk mempertimbangkan secara matang dalam
rangka melanjutkan atau membatalkan akad jualbeli yang dilakukannya.
(2) Waktu yang diperlukan dalam ayat (1) adalah
tiga hari, kecuali disepakati lain dalam akad.
Pasal 228
Apabila masa khiyar telah lewat, sedangkan para
pihak yang mempunyai hak khiyar tidak
menyatakan membatalkan atau melanjutkan akad
jual-beli, akad jual-beli berlaku secara sempurna.
8

Contd
Pasal 229
(1) Hak khiyar al-syarth tidak dapat diwariskan.
(2) Pembeli menjadi pemilik penuh atas benda yang
dijual setelah kematian penjual pada masa khiyar.
(3) Kepemilikan benda yang berada dalam rentang
waktu khiyar berpindah kepada ahli waris pembeli
jika pembeli meninggal dalam masa khiyar.
Pasal 230
Pembeli wajib membayar penuh terhadap benda
yang dibelinya jika benda itu rusak ketika sudah
berada di tangannya sesuai dengan harga
sebelum rusak.
9

Berakhirnya Khiyar
Syarth:
1. Keputusan melanjutkan transaksi

atau membatalkannya.
2. Masa tenggang telah habis tanpa
ada keputusan untuk
membatalkan transaksi
3. Barang yang ditransaksikan
hilang atau rusak.

10

3. KHIYAR AIB
(Hak pilih karena cacat
barang)
Adalah hak untuk membatalkan atau

melangsungkan jual beli bagi kedua belah pihak


yang berakad, apabila terdapat suatu cacat pada
objek yang diperjualbelikan, dan cacat itu tidak
diketahui pemiliknya ketika akad berlangsung.
HR Ibnu Majah Seorang muslim adalah saudara
bagi muslim lainnya, maka tidak halal seorang
muslim menjual kepada saudaranya sesuatu yang
mengandung cacat kecuali ia harus menjelaskan
kepadanya.
Berlaku pada akad yg lazim, seperti jual beli atau
ijarah
Cacat tidaknya barang berkaitan erat dengan unsur
kerelaan dalam jual beli.

1
1

Tahu
sebelum
akad

Tidak ada
khiyar

Tahu
sesudah
akad

Opsi:
Lanjut,
Ganti rugi
atau batal

Aib

12

Syarat Berlakunya Khiyar


al-Aib
Cacat pada benda terjadi sebelum

adanya akad, dan diketahui sebelum


atau sesudah akad dan belum terjadi
serah terima antara barang dan harga
Pembeli tidak mengetahui adanya cacat
pada benda tersebut
Penjual tidak mensyaratkan apabila ada
cacat tidak boleh dikembalikan
Cacat tidak hilang sampai dibatalkannya
akad
1
3

hal yang menghalangi


pembatalan akad dan
1. Ridha setelah mengetahui adanya cacat, baik
pengembalian
barang:
secara jelas diucapkan atau
adanya petunjuk.
2. Menggugurkan Khiyar, baik secara jelas atau

adanya petunjuk. Seperti ucapan seorang pembeli,


Aku telah menggugurkan khiyar (hak pilih)ku, dan
ucapan yang serupa.
3. Barang rusak karena perbuatan pembeli atau
berubah dari bentuk aslinya.
4. Adanya tambahan pada barang yang bersatu
dengan barang tersebut dan bukan berasal dari
aslinya atau tambahan yang terpisah dari barang
tetapi berasal dari aslinya, seperti munculnya buah
atau lahirnya anak.
14

Ketentuan Khiyar Al Aib pada


KHES

1
5

Pasal 235
Benda yang diperjualbelikan harus terbebas dari aib,
kecuali telah dijelaskan sebelumnya.
Pasal 236
Pembeli berhak meneruskan atau membatalkan akad jualbeli yang obyeknya aib tanpa penjelasan sebelumnya dari
pihak penjual.
Pasal 237
(1) aib benda yang menimbulkan perselisihan antara pihak
penjual dan pihak pembeli diselesaikan oleh Pengadilan.
(2) aib benda diperiksa dan ditetapkan oleh ahli dan atau
lembaga yang berwenang.
(3) Penjual wajib mengembalikan uang pembelian kepada
pembeli apabila obyek dagangan aib karena kelalaian
penjual.
(4) Pengadilan berhak menolak tuntutan pembatalan jual-beli
dari pembeli apabila aib benda terjadi karena kelalaian
pembeli.

Contd
Pasal 238
Pengadilan berhak menetapkan status kepemilikan
benda tambahan dari benda yang aib yang
disengketakan.
Pasal 239
(1) Pembeli bisa menolak seluruh benda yang dibeli
secara borongan jika terbukti beberapa diantaranya
sudah aib sebelum serah terima.
(2) Pembeli dibolehkan hanya membeli benda-benda yang
tidak aib.
Pasal 240
Obyek jual-beli yang telah digunakan atau dimanfaatkan
secara sempurna tidak dapat dikembalikan.
1
6

Contd
Pasal 241
(1) Penjualan benda yang aibnya tidak merusak kualitas
benda yang diperjualbelikan yang diketahui sebelum serah
terima, adalah sah.
(2) Pembeli dalam penjualan benda yang aib yang dapat
merusak kualitasnya, berhak untuk mengembalikan benda
itu kepada penjual dan berhak memperoleh seluruh
uangnya kembali.
Pasal 242
(1) Penjualan benda yang tidak dapat dimanfaatkan lagi,
tidak sah.
(2) Pembeli berhak untuk mengembalikan barang
sebagaimana dalam ayat (1) kepada penjual, dan berhak
menerima kembali seluruh uangnya.
1
7

4. KHIYAR GHABN
(Hak pilih karena penipuan
harga barang)
Adalah hak pilih bagi pembeli dalam

menentukan barang yang berbeda kualitas


dalam jual beli
Khiyar ini hanya berlaku pada akad almuawwadhah al maliyah yang
mengakibatkan perpindahan hak milik seperti
jual beli.
Pasal 243 KHES: Pembeli berhak untuk
meneruskan atau membatalkan akad karena
penjual memberi keterangan palsu mengenai
kualitas benda yg dijualnya.
1
8

KHIYAR GHABN dan TAGHRIB


(pada KHES)

1
9

Pasal 243
Pembeli berhak untuk meneruskan atau membatalkan
akad karena penjual memberi keterangan yang salah
mengenai kualitas benda yang dijualnya.
Pasal 244
(1) Pembeli dapat menuntut pihak penjual untuk
menyediakan barang yang sesuai dengan
keterangannya.
(2) Pembeli dapat mengajukan ke pengadilan untuk
menetapkan agar pemberi keterangan palsu untuk
menyediakan barang yang sesuai dengan
keterangannya atau didenda.
Pasal 245
(1) Hak pilih karena salah memberi keterangan sebagai
ditetapkan pada ayat (1) dapat diwariskan.
(2) Pembeli kehilangan hak pilihnya sebagaimana
ditetapkan pada ayat (1) dan (2), jika ia telah
memanfaatkan benda yang dibelinya secara sempurna.

Contd
Pasal 246
Penjualan benda yang didasarkan keterangan yang
salah yang dilakukan dengan sengaja oleh penjual
atau wakilnya, adalah batal.
Pasal 247
(1) Pembelian benda yang haram diperjualbelikan,
tidak sah.
(2) Pembeli benda yang disertai keterangan yang
salah yang dilakukan tidak sengaja, adalah sah.
(3) Pembeli dalam akad yang diatur pada ayat (2) di
atas, berhak untuk membatalkan atau meneruskan
akad tersebut.
2
0

Contd

2
1

Pasal 248
(1) Pihak yang merasa tertipu dalam akad jual-beli dapat
membatalkan penjualan tersebut.
(2) Persengketaan antara korban penipuan dengan pelaku
penipuan dapat diselesaikan dengan damai/al-shulh dan
atau ke pengadilan.
Pasal 249
Pembeli yang menjadi korban penipuan, kehilangan hak
untuk membatalkan akad jual-beli jika benda yang
dijadikan obyek akad telah dimanfaatkan secara
sempurna.
Pasal 250
(1) Hak untuk melakukan pembatalan akad jual-beli yang
disertai dengan penipuan, tidak dapat diwariskan.
(2) Hak untuk melakukan pembatalan akad jual-beli yang
disertai dengan penipuan, berakhir apabila pihak yang
tertipu telah mengubah dan atau memodifikasi benda
yang dijadikan obyek jual-beli.

5. KHIYAR RUYAH
(Hak pilih untuk melihat
barang)

Adalah hak pilih bagi pembeli untuk

menyatakan berlaku atau batal jual beli


yang ia lakukan terhadap suatu objek
yang belum ia lihat ketika akad
berlangsung.
Contoh: membeli dengan cara memesan,
kecuali akad salam.

2
2

Syarat Berlakunya Khiyar arRuyah


a.
b.
c.

2
3

Pembeli tidak melihat bendanya pada


saat akad berlangsung
Benda tersebut bersifat berwujud
Bentuk akad yang digunakan mempunyai
alternatif untuk dibatalkan

Ketentuan Khiyar Ruyah


pada KHES

Pasal 232
(1) Pembeli berhak memeriksa contoh benda
yang akan dibelinya.
(2) Pembeli berhak untuk meneruskan atau
membatalkan akad jual-beli benda yang telah
diperiksanya.
(3) Pembeli berhak untuk meneruskan atau
membatalkan akad jual-beli jika benda yang
dibelinya tidak sesuai dengan contoh.
(4) Hak untuk memeriksa benda yang akan
dibeli, dapat diwakilkan kepada pihak lain.
2
4

Contd
Pasal 233
(1) Pembeli benda yang termasuk benda tetap, dapat
memeriksa seluruhnya atau sebagiannya saja.
(2) Pembeli benda bergerak yang ragam jenisnya,
harus memeriksa seluruh jenis benda-benda
tersebut.
Pasal 234
(1) Pembeli yang buta boleh melakukan jual-beli
dengan hak ruyah melalui media.
(2) Pemeriksaan benda yang akan dibeli oleh pembeli
yang buta dapat dilakukan secara langsung atau
oleh wakilnya.
(3) Pembeli yang buta kehilangan hak pilihnya jika
benda yang dibeli sudah dijelaskan sifat-sifatnya,
dan telah diraba, dicium, atau dicicipi olehnya.
2
5

BERAKHIRNYA AKAD

2
6

SEBAB-SEBAB BERAKHIRNYA
AKAD
1. Tujuan telah tercapai
2. Pembatalan (Fasakh)
3. Waktu telah berakhir

(kadaluwarsa)

2
7

Sebab-sebab terjadi
Pembatalan (Fasakh)
Dibatalkan karena terdapat hal-hal yang

tidak dibenarkan oleh syara


Adanya khiyar
Iqalah: membatalkan transaksi karena
menyesal atas akad yang baru dilakukan
Kewajiban tidak dilaksanakan
Tidak mendapat izin dari pihak yang
berwenang
Kematian, tergantung dari bentuk akad.
2
8

PENYELESAIAN SENGKETA

2
9

OBJEK PERSELISIHAN
1. Harga
2. Pertanggungjawaban

risiko
3. Ingkar Janji
3
0

1. Perselisihan Harga
Perselisihan harga diselesaikan dengan

menunjukkan bukti berupa tulisan atau saksisaksi.


Apabila tidak ada kedua bukti tersebut maka
digunakan ucapan penjual disertai sumpah.
Apabila pembeli tidak menerimanya, maka
pembeli bersumpah, sehingga ia bebas dari
kewajiban membelinya.
HR Ahmad, Abu Dawud, dan Nasai dari Ibnu
Masud

3
1

Apabila berselisih kedua belah pihak (penjual dan


pembeli) dan tidak ada bukti-bukti di antara
keduanya, maka perkataan (yang diterima) ialah
yang dikemukakan oleh pemilik barang atau saling
mengembalikan (sumpah)

2. Perselisihan
Pertanggungjawaban Risiko
Pertanggungjawaban risiko dilihat

dari terjadinya rusak atau


musnahnya suatu barang, terjadi
sebelum atau setelah serah terima
barang

3
2

Sebelum Serah Terima


Barang rusak sebagian atau seluruhnya

3
3

oleh pembeli pembeli wajib membayar


seluruh harga
Barang rusak sebagian atau seluruhnya
oleh orang lain pembeli memilih tetap
membeli atau tidak
Barang rusak seluruhnya oleh penjual
perjanjian batal
Barang rusak sebagian oleh penjual
pembeli membatalkan perjanjian atau
membayar sebagian harga
Barang rusak karena overmacht pembeli
membatalkan perjanjian atau membayar
sebagian harga

Setelah Serah Terima


Barang rusak di tangan pembeli

pembeli bertanggung jawab untuk


membayar penuh
Rusaknya barang karena perselisihan
antara penjual dan pembeli ucapan
penjual dengan sumpah dan dapat
dibantah dengan ucapan pembeli
dengan sumpah pertanggungan
jawaban diputuskan oleh hakim

3
4

Risiko dalam KHES


Pasal 42
Kewajiban memikul kerugian yang tidak disebabkan
kesalahan salah satu pihak dinyatakan sebagai risiko.
Pasal 43
(1) Kewajiban beban kerugian yang disebabkan oleh kejadian
di luar kesalahan salah satu pihak dalam akad, dalam
perjanjian sepihak dipikul oleh pihak peminjam;
(2) Kewajiban beban kerugian yang disebabkan oleh kejadian
di luar kesalahan salah satu pihak dalam perjanjian
timbal balik, dipikul oleh pihak yang meminjamkan.
Apa yang dimaksud dengan perjanjian sepihak?
Mengapa dalam perjanjian sepihak, pihaknya disebut pihak
peminjam?
Apa yang dimaksud dengan perjanjian timbal balik?
Mengapa dalam perjanjian timbal balik, pihaknya disebut
dengan pihak yang meminjamkan?
3
5

3. Ingkar Janji (Wanprestasi)


Ingkar Janji (Ps 36 KHES):
Pihak dapat dianggap melakukan ingkar
janji, apabila karena kesalahannya:
a. Tidak melakukan apa yang dijanjikan untuk

melakukannya
b. Melaksanakan apa yang dijanjikannya,
tetapi tidak sebagaimana dijanjikan
c. Melaksanakan apa yang dijanjikannya,
tetapi terlambat, atau
d. Melaksanakan sesuatu yang menurut
perjanjian tidak boleh dilakukan
3
6

Sanksi atas Ingkar Janji (Ps 38


KHES)
1. Membayar ganti rugi
2. Pembatalan akad
3. Peralihan risiko
4. Denda
5. Membayar biaya perkara

3
7

Pembayaran Ganti Rugi


Sanksi pembayaran ganti rugi dikenakan

apabila (Ps 39 KHES):


Pihak yang melakukan ingkar janji tetap

melakukan ingkar janji meskipun telah


dinyatakan ingkar janji
Sesuatu yang harus dilakukannya hanya
dapat dilakukan dalam tenggang waktu yang
telah dilampaui
Pihak yang melakukan ingkar janji tidak
dapat membuktikan bahwa perbuatan ingkar
janji tsb tidak di bawah paksaan
3
8

PENYELESAIAN SENGKETA

1.Shulhu (Mediasi)
2.Tahkim

3
9

(Arbitrasi)
3.Al-Qadha
(Litigasi)

1. SHULHU (Mediasi)
Perdamaian
Suatu akad untuk mengakhiri perlawanan antara dua

orang yang saling berlawanan atau mengakhiri sengketa


Dasar Hukum

Al Hujurat ayat 9: Dan jika ada dua golongan dari orang-orang

mumin berperang maka damaikanlah antara keduanya. Jika


salah satu dari kedua golongan itu berbuat aniaya terhadap
golongan yang lain maka perangilah golongan yang berbuat
aniaya itu sehingga golongan itu kembali, kepada pereintah Allah,
jika golongan itu telah kembali (kepada perintah Allah), maka
damaikanlah antara keduanya dengan adil dan berlaku adillah.
Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil
Ijma Umar ra: Tolaklah permusuhan hingga mereka berdamai,
karena pemutusan perkara melalui pengadilan akan
mengembangkan kedengkian di antara mereka

Cara penyelesaian:
Ibra membebaskan debitor dari sebagian kewajibannya
Mufadhah penggantian dengan yang lain dengan cara
menghibahkan (shulhu hibah), menjual (shulhu bai), atau
menyewakan (shulhu ijarah) sebagian barang yang dituntut oleh
penggugat
4
0

2. TAHKIM (Arbitrase)
Pengangkatan seorang atau lebih sebagai juru damai

(hakam) antara pihak-pihak yang bersengketa untuk


menyelesaikan perkara yang mereka perselisihkan
secara damai

Dasar hukum:
An Nisa ayat 35: Dan jika kamu khawatirkan ada persengketaan
antara keduanya, maka kirimlah seorang hakam dari keluarga
laki-laki dan seorang hakam dari keluarga perempuan
HR Tarmizi Kaum Muslimin sangat terikat dengan perjanjiannya,
kecuali persyaratan (perjanjian) yang mengharamkan yang halal
atau menghalalkan yang haram (terdapat klausul arbitrasi
dalam perjanjiannya)

Tempat penyelesaian sengketa ekonomi syariah di

luar pengadilan adalah Badan Arbitrase Syariah


Nasional (BASYARNAS) (UU 30/1999)

4
1

3. AL QADHA (Litigasi)
Menetapkan hukum syara pada suatu peristiwa atau

4
2

sengketa untuk menyelesaikannya secara adil dan


mengikat
Peradilan Agama (UU 3/2006 Pasal 49)
Pengadilan agama bertugas dan berwenang
memeriksa, memutus, dan menyelesaikan perkara
di tingkat pertama antara orang-orang yang
beragama Islam di bidang:
a. perkawinan;
b. waris;
c. wasiat;
d. hibah;
e. wakaf;
f. zakat;
g. infaq;
h. shadaqah; dan
i. ekonomi syari'ah.

Contd
Yang dimaksud dengan ekonomi syariah

adalah perbuatan atau kegiatan usaha yang


dilaksanakan menurut prinsip syariah, antara lain
meliputi:
bank syariah;
lembaga keuangan mikro syariah.
asuransi syariah;
reasuransi syariah;
reksa dana syariah;
obligasi syariah dan surat berharga berjangka
menengah syariah;
g. sekuritas syariah;
h. pembiayaan syariah;
i. pegadaian syariah;
j. dana pensiun lembaga keuangan syariah; dan
k. bisnis syariah.
a.
b.
c.
d.
e.
f.

43

SELESAI!

44