Anda di halaman 1dari 38

DIAGNOSIS DAN

TATALAKSANA PADA ASMA


Pembimbing :
dr. Leopold Simanjuntak, SpA

Disusun Oleh : Kharisma Pertiwi


(1061060168)
KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN ANAK
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS KRISTEN
INDONESIA
2015

PENDAHULUAN

(2007)

Menurut WHO
terdapat 300 juta
(4,28%) penduduk dunia yang menderita Asma

Diperkirakan

secara global, terdapat 334 juta orang


penderita asma di dunia. Angka ini didapatkan dari
analisis komprehensif Global Burden of Disease (GBD)
yang dilakukan tahun

2008-2010.

Berdasarkan

laporan hasil Riset Kesehatan Dasar tahun


2013 prevalensi Asma di Indonesia adalah 4,5%,
meningkat sebesar 1% dari laporan hasil Riset
Kesehatan Dasar tahun 2007.

(2013).

Global Asthma Network. The Global Asthma Report 2014. Auckland, New Zealand: Global Asthma Network. 2014. Hal
16

Definisi asma
WHO

1975

GINA

2015

Asma adalah keadaan kronik


yang ditandai oleh bronkospasme rekuren akibat
penyempitan lumen saluran napas sebagai respons
terhadap suatu stimuli yang tidak menyebabkan
penyempitan serupa pada kebanyakan orang
Asma adalah penyakit
heterogen yang ditandai oleh inflamasi kronis
saluran napas.

PNAA

2015

asma merupakan penyakit


respiratori kronik yang heterogen dengan dasar
inflamasi kronik yang bervariasi luas dalam
manifestasi klinis, mekanisme inflamasi,
patogenesis, dan perjalanan alamiah dengan banyak
sekali faktor yang berperan.

Klasifikasi asma (PNAA


2015)
UMUR
FENOTIP

Asma bayi baduta (bawah dua tahun),


Asma balita (bawah lima tahun), Asma
usia sekolah (5-11 tahun), Asma remaja
(12-17
tahun)
Asma tercetus infeksi virus, Asma tercetus
aktivitas (exercise induced asthma), Asma
tercetus alergen, Asma terkait obesitas, Asma
dengan banyak pencetus (multiple triggered
asthma)

KEKERAPAN
GEJALA

Asma intermiten, Asma persisten


ringan, Asma persisten sedang, Asma
persisten berat

DERAJAT
SERANGAN

Asma serangan ringan sedang, Asma


serangan berat, Serangan asma dengan
ancaman henti napas

DERAJAT
KENDALI
KEADAAN
SAAT INI

Asma terkendali penuh (well controlled)


Tanpa obat pengendali : pada asma intermitten
Dengan obat pengendali : pada asma persisten
(ringan / sedang / berat)
Asma terkendali sebagian (partly controlled)
Asma tidak terkendali (uncontrolled)

Tanpa gejala, Ada gejala, Serangan


ringan sedang, Serangan berat,
Ancaman gagal napas

Kriteria penilaian derajat asma (PNAA 2015)


Derajat

Uraian kekerapan gejala asma

asma
Intermitten

Episode gejala asma <6x/tahun atau jarak antar


gejala 6 minggu

Persisten

Episode gejala asma >1x/bulan, <1x/minggu

ringan
Persisten

Episode gejala asma >1x/minggu, namun tidak

sedang

setiap hari

Persisten

Episode gejala asma terjadi hampir tiap hari

berat
PNAA 2004

PNAA 2015

Episodik Jarang

Intermitten

Episodik Sering

Persisten Ringan

Persisten

Persisten Sedang
Persisten Berat

TAHAPAN DIAGNOSA ASMA


Diagnosis

kerja : Asma

Dibuat

sesuai alur diagnosis asma anak, kemudian


diberi tata laksana umum yaitu penghindaran
pencetus, pereda, dan tata laksana penyakit penyulit.

Diagnosis

klasifikasi kekerapan

Dibuat

dalam waktu 6 minggu, dapat kurang dari 6


minggu bila informasi klinis sudah kuat.

Diagnosis
Dibuat

derajat kendali

setelah 6 minggu menjalani tata laksana


jangka panjang awal sesuai klasifikasi kekerapan

Diagnosis asma (PNAA


2015)
Gejala
Wheezing,
napas,

batuk,

dada

sesak -

tertekan,

produksi sputum

Karakteristik
Gejala lebih dari

gejala

respiratori
-

Gejala

berfluktuasi

intensitasnya seiring waktu


-

Gejala memberat pada malam


atau dini hari

Gejala

timbul

bila

pencetus
Konfirmasi adanya limitasi aliran udara ekspirasi
Gambaran
obstruksi
FEV1 rendah (<80%
saluran respiratori

prediksi)

Uji

FEV1 / FVC 90%


Peningkatan FEV1 > 12%

reversibilitas

(pasca

ada

nilai

bronkodilator)
Variabilitas

Perbedaan

Uji provokasi

13%
Penurunan FEV1 >20% atau

PEFR

harian

>

Retraksi pernapasan pada


asma anak

Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan

fungsi paru
(spirometri, PEFR, pulse
oxymetry, muscle strength
testing, kapasitas difus)

Uji

provokasi bronkus
(histamin, metakolin,
olahraga, udara kering
dingin, cairan salin
hipertonik)

Eosinofil

sputum

Therapeutic
Penilaian

trial

status alergi

Tatalaksana
asma
Serangan
asma

Tatalaksa
na asma

1. Tatalaksana di rumah
2. Tatalaksana di fasilitas
pelayanan kesehatan
a. tatalaksana di IGD
b. Tatalaksana di RRS
c. Tatalaksana di Rawat Inap
d. Tatalaksana di ICU

Non
Medikamentosa

Hindari faktor
pencetus, KIE, KAA,
RAA
Obat pereda
(reliever)
- SABA

Tatalaksana
asma jangka
panjang
Medikamentosa

Obat pengendali
(controller)
-steroid anti inflamasi
-anti leukotrien
-kombinasi steroid + LABA
-teofilin lepas lambat
-anti IgE

Tatalaksana asma jangka


panjang (non MM)
Hindari

faktor pencetus, KIE, KAA, RAA

Tatalaksana asma jangka


panjang (MM)
inhalasi perbaiki fungsi paru
dan menurunkan angka kekambuhan
asma

Steroid

LABA

kombinasi steroid inhalasi

Antileukotrien

alternatif steroid inhalasi

lepas lambat kemampuan


absorbsi dan bioavailabilitas baik

Teofilin

immunoglobulin E injeksi subkutan


/ 2-4 minggu, hati-hati anafilaksis

Anti

Derajat

Uraian kekerapan gejala asma

asma
Intermitten

Episode gejala asma <6x/tahun atau jarak antar

Persisten

gejala 6 minggu
Episode gejala asma >1x/bulan, <1x/minggu

ringan
Persisten

Episode gejala asma >1x/minggu, namun tidak

sedang
Persisten

setiap hari
Episode gejala asma terjadi hampir tiap hari

Kekerapan gejala

berat

Derajat kendali

Terapi anak tangga asma


jangka panjang menurut
PNAA 2015

Time chart tatalaksana


asma jangka panjang (PNAA
2015)
STEP UP

Pasien
(Penilaian
kekerapan
gejala)

6-8
minggu
6
minggu
8-12
minggu
STEP DOWN

Penilaian derajat
kendali asma

Asma pada balita (usia < 5


tahun)

Tatalaksana asma balita


jangka panjang (PNAA
2015)

Terapi anak tangga asma jangka


panjang menurut GINA 2015 (balita)

Dosis ICS dan alat inhalasi anak usia dibawah


5 tahun (GINA 2015)

Medikamentosa tatalaksana
serangan asma
relaksasi otot polos jalan napas, peningkatan
klirens mukosilier dengan stimulasi reseptor B2.

SABA

Ipratropium

bromida anti kolinergik

intravena yg tidak merespons dengan


dosis tinggi SABA + steroid sistemik

Aminofilin
Steroid

sistemik perbaikan klinis = 4 jam

Adrenalin

anafilaksis dan angioedema

sulfat utk yg tdk respon steroid sistemik


dan nebulisasi berulang SABA+aminofilin di ICU

Magnesium
Steroid

inhalasi

Mukolitik,

antibiotik, obat sedasi, anti histamin

Pasien risiko tinggi asma

Tatalaksana serangan asma


Nebulizer
di rumah
1. Bila gejala menghilang
Pasien
seranga
n asma
Risiko
tinggi
Langsung
di bawa
ke rumah
sakit
terdekat

Non risiko
tinggi
SABA

cukup 1 x saja
2. Bila gejala belum membaik
selama 30 menit ulangi 1 x
kembali
3. Bila 2 x pemberian belum
membaik bawa fasilitas
pelayanan kesehatan
MDI + spacer
- Dosis 2-4 semprot (1 semprot
obat ke spacer lalu 6-8 tarikan
napas)
1. Bila membaik dengan x< 4
semprot, hentikan
2. Bila tidak membaik x> 4
semprot, bawa ke fasilitas
pelayanan kesehatan

Tatalaksana serangan asma


di fasilitas pelayanan
kesehatan
Anamnesis
1. Waktu
mulai dan
pemicu
serangan
2. Gejala
klinis untuk
menilai
keparahan
3. Ada faktor
risiko
tinggi?
4. Obat yang
sudah
diberikan
sebelumny

Pemeriksaan fisik :
1. TTV (suhu, nadi,
RR, TD)
2. Retraksi, wheezing
(derajat serangan)
3. Tanda komplikasi
(anafilaksis,
pneumotoraks,
pneumonia)
4. Tanda penyebab
distres pernapasan
(inhalasi benda
asing, gagal
jantung, obstruksi
saluran resp atas)

Pemeriksaan
penunjang
1. Saturasi O2
SpO2 > 95%,
normal. x< 92%,
rawat inap. X<
90%, butuh terapi
agresif
2. Spirometri tidak
rutin
3. AGD cek tanda
gagal napas
4. Rontgen toraks
bila curiga
komplikasi
(pneumotoraks,

Tatalaksana rawat inap


Oksigen
Bila

diteruskan

ada dehidrasi dan asidosis, koreksi

Steroid

IV bolus (6-8 jam, 0,5-1 mg/kgBB/hari)

Nebulisasi

SABA + ipatropium bromide +


oksigen selama 1-2 jam, bila ada perbaikan
klinis, terapi dengan rentang 4-6 jam

Aminofilin

(kadar dipertahankan 10-20

mcg/ml)
Bila

pasien stabil 24 jam, dapat dipulangkan


dengan dibekali SABA yang digunakan 4-6 jam
selama 24-48 jam, bila steroid oral diberikan,
teruskan hingga 3-5 hari lalu kontrol

Kriteria rawat ICU


Tidak

respon dengan tatalaksana IGD

Tidak

ada perbaikan klinis dengan tatalaksana rawat

inap
ancaman henti napas ditandai dengan
hipoksemia (PaO2 < 60 mmHg, PaCO2 > 45 mmHg)

Ada

Tatalaksana serangan asma


balita

kesimpulan
Asma

adalah penyakit heterogen yang


ditandai oleh inflamasi kronis saluran napas.

Diagnosis

asma ditegakkan berdasarkan


anamnesis, pemeriksaan fisik, dan
penunjang.

Tatalaksana

asma disesuaikan dengan


derajat serangan asma dan kekerapan gejala
asma disertai derajat kendali untuk
tatalaksana jangka panjang menurut
klasifikasi GINA 2015 atau PNAA 2015.

Daftar pustaka
Papadopoulos

NG, Arawaka H, Carlsen KH et al. International Consensus on (ICON)


Pediatric Asthma. European Journal of Allergy and Clinical Immunology. 2012. Hal 976-997

Global

Asthma Network. The Global Asthma Report 2014. Auckland, New Zealand: Global
Asthma Network. 2014. Hal 16, 95

Melyana,

Hiswani, Jemadi. Karakteristik Penderita Asma Bronkial Rawat Inap di Rumah


Sakit Umum Daerah Arifin Achmad Pekanbaru Tahun 2011-2013. FKM USU. 2015. Hal 1-8

Rahajoe

NN, Supriyatno B, Setyanto DB. Respirologi Anak. Ikatan Dokter Anak Indonesia.
2010. Hal 71-158

GINA.

Global Strategy for Asthma Management and Prevention. 2015. Hal 2

Rahajoe

N, Kartasasmita CB, Supriyatno B, Setyanto DB. Pedoman Nasional Asma Anak.


UKK Respirologi IDAI. 2015. Hal 25-111

BPPK

Kemenkes. Riset Kesehatan Dasar 2013. Menkes RI. 2014. Hal 86

Ramdhani

R, Soeroso NN. Faktor Risiko Asma pada Murid Sekolah Dasar di Medan. FKUSU J
Respir Indo Vol.35. 2015. Hal 118-123

Chang

TS, Lemanske RF, Guilbert TW et al. Evaluation of the Modified Asthma Predictive
Index in High-Risk Preschool Children. J Allergy Clin Immunol. Vol.1 : hal. 152-156