Anda di halaman 1dari 40

OBAT-OBAT SUSUNAN

SARAF OTONOM

Oleh :
Helena Wungubelen 10-087
Victor Jeremia Syaropi 11-057
Nadhira Ferasanti D. 11-223

Susunan saraf pusat (otak dan


medulla spinalis)
Susunan saraf motorik
(otot otot lurik)
Susunan saraf
simpatis

Susunan saraf perifer

(adrenergik)
Susunan saraf otonom
(otot-otot polos,
jantung dan kelenjar)

Susunan saraf
parasimpatis
(kolinergik)

Susunan saraf
otonom terdiri atas

saraf dan simpul


saraf / ganglia /
ganglion.

Susunan saraf
otonom (SSO)
bekerja menurut
aturannya sendiri
(otonom / tidak
kita sadari)

fungsi sso :

mengatur secara
otomatis
keseimbangan
fisiologis
organisme
misal : suhu badan,
tekanan &
peredaran darah,
pernafasan, dsb.

Susunan saraf
otonom tersebar luas
di seluruh tubuh
misalnya:
lambung,pembuluh
darah jantung, usus,
kelenjar keringat dsb

Saraf otonom dibagi menjadi 2 yaitu,


Saraf simpatis (adrenergik)
Saraf parasimpatis (kolinergik)

Pada umumnya kedua susunan saraf ini bekerja


antagonis, bila salah satu sistem menghambat
fungsi tertentu yang lain justru menstimulasi
contoh :
perangsangan saraf simpatis pada pembuluh darah
arteri akan menyebabkan vasokontriksi, sedangkan
perangsangan saraf parasimpatis akan menyebabkan
vasodilatasi arteri.

kedua susunan saraf ini bekerja antagonis, bila salah satu sistem menghambat
fungsi tertentu yang lain justru menstimulasi
Efek stimulasi
organ

Reseptor

S.simpatis
(adrenergik)

Mata (pupil)
Paru paru (bronchia)
Jantung

Arteriola

midriasis
bronkodilatasi
daya kontraksi diperkuat,
denyutan dipercepat
vasokonstriksi

Vena
Lambung, usus
(peristaltik & sekresi)
Kandung kemih

Venokontriksi
dikurangi relaksasi

Relaksasi (otot detrusor)


Kontriksi (sfingter)
Relaksasi
konstriksi

Uterus
Kulit, otot-otot

S. parasimpatis
(kolinergik)
miosis
bronkokontriksi
Diperlemah
Otot rangka + kel. Saliva
(dilatasi
Venodilatasi, diperlambat
Sekresi + peristaltik
meningkat
Kontriksi (otot detruksor)
Relaksasi (sfingter)
-

Penerusan impuls pada saraf otonom


Pada saraf otonom, impuls disalurkan ke organ tujuan (efektor, organ ujung)
secara tidak langsung.
saraf otonom dibeberapa tempat terkumpul di sel sel gaglion (kump.selsel saraf diluar SSP), dimana terdapat sinaps (celah diantara 2 neuron).
ganglia
Organ
ujung/efektor

SSP
preganglioner
postganglioner

Neuron/saraf preganglioner : saraf yg meneruskan impuls dari SSP ke


ganglia.
Neuron postganglioner : saraf antara ganglia & organ ujung/efektor.
Impuls dari SSP dalam sinaps diteruskan dari satu neuron ke neuron lain
secara kimiawi melalui neurotransmitter / neurohormon.

Saraf kolinergik/parasimpatis:
Bekerja dg melepas
neurotransmitter asetilkolin
(Ach)
Meliputi :
1. semua neuron preganglioner
(baik dari saraf simpatis
maupun saraf parasimpatis).
2. neuron postganglioner
parasimpatis/kolinergik.
Ach adlh neurotransmiter pd
ujung saraf motoris yg menuju
ke otot rangka/lurik.

Saraf adrenergik /
simpatis :
Bekerja dg melepas
neurotransmitter
adrenalin / noradrenalin
(NA) di ujung sarafnya.
Meliputi : neuron
postganglioner dari saraf
simpatis.
Adrenalin / NA juga
diproduksi oleh medulla
adrenalis / cortex.

Metabolisme neurotransmiter
Untuk menghindari akumulasi neurotransmiter dalam tubuh &
terangsangnya saraf secara kontinyu, maka neurotransmiter tersebut diinaktivasi.
Asetilkolin (Ach) diuraikan oleh enzim Asetilkolinesterase (AChE)
menjadi kolin & asetat (tidak berefek sbg neurotransmitter lagi).
Noradrenalin dan adrenalin mengalami demetilasi (dalam darah) oleh
enzim metiltransferase (COMT) dan deaminasi (dalam hati) oleh
monoamin-oksidase (MAO)
MAO juga bertanggung jawab pada penguraian (metabolisme)
neurotransmiter yang lain yg aktif dalam SSP, yaitu Catecholamin,
misal : serotonin dan dopamin.

Obat obat otonom


Obat obat otonom adalah obat obat yang dapat
mempengarui penerusan impuls dalam SSO dengan jalan
mengganggu sintesa, penimbunan, pembebasan, dan
penguraian neurotransmiter atau mempengaruhi kerja
neurotransmitter terhadap reseptor khusus.
Akibatnya adalah dipengaruhinya fungsi organ (otot polos,
jantung, dan kelenjar).

Penggolongan obat otonom menurut khasiat


1. Zat zat yang bekerja terhadap saraf simpatis

Simpatomimetika (adrenergika) bekerja merangsang


(meniru efek) organ yg dilayani saraf simpatis,misalnya :
noradrenalin, efedrin,isoprenalin, amfetamin

Simpatolitika (adrenolitika) bekerja menekan saraf


simpatis atau melawan efek adrenergika, contoh :
propranolol

2. Zat zat yang bekerja terhadp saraf

parasimpatis

Parasimpatomimetika (kolinergika) bekerja


merangsang organ yg dilayani saraf parasimpatis &
meniru efek perangsangan oleh asetilkolin. Contoh:
pilokarpin, fisostigmin.

Parasimpatolitika (antikolinergika) bekerja


melawan efek parasimpatomimetika,contoh :
alkaloid beladonna (hyoscyamin, atropin,
skopolamin).

3. Zat zat perintang ganglion


Zat yang merintangi penerusan impuls dalam sel sel
ganglion simpatik dan parasimpatik.
Efek ini dampaknya luas, a.l. vasodilatasi karena blokade
saraf simpatis (con : antihipertensive) tidak digunakan lagi
karena blokade parasimpatis (gangguan penglihatan,
berkurangnya sekresi berbagai kelenjar).
Contoh : senyawa amonium kwaterner.

Disamping itu dikenal pula sejumlah obat otonom perifer yang dapat
mempengaruhi SSP, misalnya :
- Adrenergika (efedrin dan amfetamin) berefek menstimulasi SSP
- Antikolinergika (atropin) berefek menekan SSP dengan efek
sedatif
- Fenotiazin memblokir reseptor noradrenalin di otak dengan efek
sedatif
- Reserpin, menghabiskan cadangan noradrenalin efek
sedatif.
- Zat-zat perintang MAO, merintangi metabolisme noradrenalin
efek stimulasi SSP (antidepresi).
- Klonidin, bekerja di SSP, berefek meredakan ketegangan &
menurunkan TD.
Semua obat yang dapat berefek pada SSP tersebut di atas karena
bersifat sangat lipofil & mudah melintasi membran otak.

Adrenergika (simpatomimetika)
fight, fright, flight
Adrenergika dibagi dua kelompok menurut titik kerjanya, yaitu reseptor
alfa ()dan reseptor beta(). perbedaan kedua reseptor didasarkan pada
kepekaan terhadap adrenalin, noradrenalin (NA) and isoprenalin /
isoproterenol.
Reseptor lebih peka terhadap NA (adrenalin NA > isoprenalin).
Reseptor lebih peka terhadap isoprenalin (isoprenalin > NA adrenalin)

Berdasarkan efek fisiologinya, reseptor & dibagi menjadi sub tipe :


alfa-1 & alfa-2 ; beta-1 & beta-2.

Stimulasi/aktivasi masing-masing reseptor menghasilkan efek, sbb :

alfa-1 : menimbulkan vasokontriksi otot polos (kecuali otot polos


usus : vasodilatasi) dan menstimulasi sel-sel kelenjar (meningkatkan
sekresi liur dan keringat).

Alfa-2 : menghambat pelepasan NA pada saraf saraf adrenergik


dengan turunnya tekanan darah, mungkin juga pelepasan Ach pada
saraf kolinergis pada usus terhambat sehingga turunnya periltastik

Beta-1 : memperkuat daya dan kontraksi otot jantung (efek inotrop


dan kronotrop)

Beta-2 : bronchodilatasi dan stimulasi metabolisme glikogen dan


lemak.

Lokasi reseptor ini umumnya adalah seagai


berikut :
Alfa-1 dan beta-1 pada postsinapsis, artinya lewat
sinaps di organ efektor
Alfa-2 dan beta-2 pada presinapsis dan
ekstrasinaps antara lain di kulit otak, rahim dan
pelat pelat darah (trombosit).

Efek stimulasi reseptor alfa & beta


Bila suatu organ terdapat kedua jenis reseptor tersebut maka
respon terhadap katecholamin (adrenalin, NA, dopamin, serotonin)
tergantung pada pembagian & jumlah reseptor alfa dan beta pada
jaringan tersebut.
Contoh pada bronci ,dimana terdapat banyak reseptor beta-2 ,disini
NA hanya berefek ringan sedangkan adrenalin dan isoprenalin
menimbulkan bronkodilatasi yang kuat.

Tabel : efek stimulasi reseptor alfa & beta


Stimulasi pada :

Efek alfa

Sirkulasi jantung

--------------

Sirkulasi perifer

Vasokonstriksi,
TD naik,
Sekresi kelenjarnaik

SSP :
1. Nafas
2.

Kewaspadaan

metabolisme

Efek beta-1
Inotrop/kronotrop
(+)
-----------

Vasokonstriksi
-----------mukosa mata &
hidung.
Aktv. Psikomotor
----------naik, pupil
melebar, nafsu
makan turun.
Glikogenolise naik -----------Pelepasan as.
Lemak naik

Efek beta-2
Vasodilatasi
koroner
-----------

Bronkhodilatasi

---------

Sekresi insulin &


renin naik.

Mekanisme kerja
adenylcyclase
ATP

fosfodieterase
cAMP

5-AMP
inaktif

adrenergika
Efek2
adrenergik

Katecholamin bekerja sebagai neurotransmiter dan akan mengikatkan diri


pada reseptor yang berada di luar membran sel yang akan mengaktifkan
enzim adenylcyclase yang akan mengubah ATP menjadi cAMP.
Peningkatan kadar cAMP dalam sel akan menyebabkan bermacam2 efek
adrenegik seperti diatas.

Pengolongan adrenergika
Adrenergika dapat dibagi menjadi dua kelompok yaitu :
Zat-zat yang bekerja langsung pada reseptor organ tujuan
(adrenalin, NA, isoprenalin), efedrin dan dopamin bekerja
langsung & tak langsung.
Zat-zat yang bekerja tidak langsung, yaitu dengan cara
merangsang pengeluaran NA dari tempat penyimpanannya
(di ujung saraf adrenergik/simpatik),contoh : efedrin,
amfetamin, guanetidin,dan reserpin.

Penggolongan dapat juga menurut jenis reseptor


yang khusus distimulasi oleh obat tersebut :
Adrenergika
Adrenalin
Noradrenalin
Fenilefrin
Efedrin
Norefedrin
Oksifedrin
Dopamin
Dobutamin
Serotonin
Isoprenalin dan turunannya
Salbutamol dan turunannya
Isoksuprin
Ritodin
Nafazolin dan turunannya
Amfetamin dan turunannya

X : efek utama; o : efek ringan; - : tidak berefek

Efek-alfa
x
x
x
x
x
o
x
o
x
o
o
o
o
x
x

Efek beta-1
x
x
o
x
x
x
x
x
x
x
o
x
o
o
o

Efek beta-2
x
o
o
x
x
o
x
o
x
x
x
x
o
o

Penggolongan secara kimiawi


1.

2.

Derifat feniletil amin

Zat dengan 2 gugus-OH pd cincin-aromatis : Katecholamin (adrenalin,


NA, isoprenalin)

Zat dengan 1 gugus-OH (posisi meta) : fenilefrin

Zat tanpa gugus-OH : efedrin, amfetamin dan turunannya (efek SSP


terkuat).
Derivat imidazolin : ksilometazolin, nafazolin dan turunannya yang
berdaya dekongestif pada mukosa hidung & efek sentral ringan.

Penggunaan adrenergika
Pada shock guna
memperkuat kerja jantung
(beta-1) dan melawan
hipotensi (alfa-1), contoh :
adrenalin dan
noradrenalin(NA)
Pada asma untuk
broncodilatasi (beta-2),
contoh : salbutamol dan
turunannya, adrenalin dan
efedrin
Pada hipertensi , menurunkan
ketahanan perifer & dinding
pembuluh dg memblok
pelepasan NA (alfa-2) & alfa-1.
contoh : propranolol

Sebagai vasodilator perifer


(beta-2) di betis, contoh :
buflomedil pd penyakit
claudicatio intermittens
Pada pilek guna menciutkan
mukosa yang bengkak (alfa),
contoh : turunan imidazol,
efedrin dan adrenalin
Sebagai midriatikum guna
melebarkan pupil (alfa), contoh
: fenilefrin dan nafazolin
Pada obesitas yaiu untuk
menekan nafsu makan, contoh
: fenfluramin dan mazindol
Pada nyeri haid &
menghambat kontraksi untuk
relaksasi otot rahim (beta-2),
contoh : ritodrin

Efek samping adrenergika


Pada dosis biasa, adrenergika menimbulkan efek samping pada
jantung dan SSP yaitu jantung berdebar,nyeri kepala, gelisah dsb.
Untuk itu perlu hati-hati jika diberikan pada penderita yang
mengindap infark jantung , hipertensi dan hipertirosis.
Tachyfylaxis, bila digunakan lama. Efek ini semacam resistensi
yang terjadi jika diberikan berulang pada waktu yang singkat.
Contoh : efedrin & adrenergik kerja tak langsung karena habisnya
cadangan NA.

Adrenolitika / simpatolitika

Dikelompokkan menjadi tiga :


1.
.

Alfa blockers
zat yang memblokir reseptor alfa yang banyak terdapat
pada otot polos pembuluh (khususnya pembuluh kulit &
mukosa).
Efek utamanya adalah vasodilatasi perifer.

Ada tiga jenis alfa blockers :


Alfa blockers tidak selektif
contoh : fentolamin untuk hipertensi & disfungsi
ereksi.
Alfa-1 blockers selektif
contoh : derv. Quinazolin (prazosin, terazozin,
tamsulosin) serta urapidil untuk hipertensi dan
hiperplasia prostat.
Alfa-2 blockers selektif
contoh : yohimbin (aprodisiaca).

2. Beta- blockers, banyak digunakan untuk antihipertensi, dibagi 2


kelompok :
Beta-1 blockers selektif
yaitu melawan efek stimulasi jantung oleh adrenalin & NA (reseptor
beta-1), contoh : atenolol dan metoprolol
Beta blockers tidak selektif
juga berefek pada reseptor beta-2 (menghambat bronchodilatasi),
contoh : propranolol, alprenolol, dsb.

3. Penghambat neuron adrenergis


tidak menghambat reseptor adrenergis tapi menghambat pelepasan
catecholamin pada postganglioner dari saraf adrenergis (s.simpatis),
contoh : guanetidin (untuk terapi glaukoma tertentu).

Kolinergika / parasimpatomimetika
Kolinergik adalah zat yang dapat menimbulkan efek yang
sama dengan stimulasi susunan saraf parasimpatis (SP),
karena melepaskan ACh di ujung sarafnya.
Tugas utama SP adalah mengumpulkan energi dan
mengambat penggunaannya, jika SP dirangsang akan
timbul efek yang menyerupai keadaan istirahat dan tidur.

Efek kolinergis yang penting adalah :


Stimulasi pencernaan dengan jalan memperkuat periltastik dan
sekresi kelenjar ludah dan getah lambung.
Memperlambat sirkulasi, a.l. dengan mengurangi kegiatan
jantung, vasodilatasi pembuluh darah & penurunan TD.
Memperlambat pernafasan dengan menciutkan bronci,
memperbesar sekresi dahak.
Kontraksi otot mata dengan efek penyempitan pupil / miosis dan
penurunan tekanan intraokuler akibat lancarnya pengeluaran air
mata.
Kontraksi kandung kemih dan ureter sehingga memperlancar
pengeluaran urin
Dilatasi pembuluh & kontraksi otot rangka.
menekan SSP setelah di awal distimulasi.

Reseptor kolinergik
Reseptor kolinergik terdapat pada semua ganglia, sinaps, dan
neuron post-ganglioner dari SP, di pelat ujung otot lurik, & di bagian
SSP (sistem ekstrapiramidal).
neurotransmiter dari neuron kolinergik adalah ACh.
Ada 2 jenis reseptor kolinergik :
1. Reseptor muskarinik (M), berada di neuron post- ganglioner ,
ada tiga subtipe :

reseptor

jaringan

Efek stimulasi

M1

Neuron-neuron
Ganglia simpatis

aktivasi
pelepasan NA naik

M2

Myocard
Jaringan nodus

kontraksi naik
bradycardia

M3

Kelenjar eksokrin
Ileum
pembuluh

Penyaluran atrioventrikuler berkurang


sekresi
Relaksasi langsung : kontraksi, via endotel :
relaksasi

2. Reseptor nikotinik (N)

terutama terdapat di pelat pelat ujung myoneural


dari otot kerangka dan di ganglia otonom (SS dan
SP).

Stimulasi reseptor N oleh kolinergika


(neostigmin dan piridostigmin) menimbulkan
efek seperti adrenergik, jadi sangat
berlawanan. Mis : vasokonstriksi dg kenaikan
TD, kegiatan jantung meningkat.

Efek nikotinik dari ACh juga terjadi pada perokok


karena sejumlah nikotin yang diserap ke dalam darah
melalui mukosa mulut.

klasifikasi kolinergika

Berdasarkan cara kerjanya, kolinergik dibedakan :


1. Bekerja langsung
bekerja langsung pada organ ujung dengan kerja utama
mirip efek muskarinik dari ACh, contoh : karbachol,
pilokarpin, muskarin, arekolin. Semua obat ini bersifat
hidrofil kecuali arekolin.
2. Bekerja tak langsung
yaitu merintangi penguraian ACh secara reversible /
sementara, contoh : fisostigmin, neostigmin &
piridostigmin (antikolinesterase).
. Ada juga zat-zat yang merintangi/mengikat kolinesterase
secara irreversible, contoh : organofosfat & parathion
(insektisida), malathion (obat kutu rambut).

Penggunaan kolinergika
Kolinergika khusus digunakan untuk penyakit :

Glaukoma, contoh : pilokarpin, karbachol, dan


neostigmin

myastenia gravis (kelemahan otot), contoh :


antikolinesterase (fisostigmin, neostigmin).

Demensia alzheimer, contoh : takrin, rivastigmin

Atonia (kelemahan otot polos), contoh : karbachol


dan neostigmin.

Efek samping kolinergik


Efek samping kolinegik mirip dengan efek samping stimulasi SP yg
berlebihan, antara lain : mual, mutah, diare, peningkatan sekresi
ludah, dahak, keringat, dan air mata, bradycardia, broncokontriksi,
depresi pernafasan.
Antidot untuk keracunan kolinergika adalah dengan pemberian
antikolinergika atropin dengan dosis tinggi (melawan efek
muskarinik).
Kehamilan dan laktasi boleh mengunakan obat-obat kolinergik (per
oral) karena bersifat amonium kwaterner tidak melewati plasenta
tetapi tidak diberikan secara parenteral karena memicu kontraksi
rahim.

Antikolinergika / parasimpatolitika
Adalah zat yg menghambat reseptor M (di SSP & organ perifer) sehingga
melawan efek ACh.
Hanya antikolinergik yg bersifat amonium kwaterner saja yg menghambat
reseptor N di pelat ujung myoneural & di ganglia otonom, contoh :
pankuronium (relaksansia otot) & ganglion blockers.
Kebanyakan obat antikolinergik tidak bekerja spesifik untuk subtipe
reseptor-M.

Klasifikasi antikolinergik
1. Alkaloid belladonna : atropin,
hyoscyamin, skopolamin, homatropin.
2. Zat amonium kwaterner : propantelin,
ipatropium, tiotropium.
3. Zat amin tersier : pirenzepin,
oksibutinin.

Efek antikolinergik
memperlebar pupil (mydriasis) & mengurangi
akomodasi.
Mengurangi pengeluaran kelenjar (ludah, dahak,
keringat)
Mengurangi tonus dan motilitas saluran
lambung- usus dan produksi HCl lambung
Bronkhodilatasi
Meningkatkan frekuensi jantung
relaksasi otot polos dari organ urogenital shg
mempercepat pengosongan kandung kemih &
meningkatkan kapasitasnya.
Merangsang & menekan SSP pd dosis tinggi
(kecuali zat amonium kwaterner).

Penggunaan antikolinergik
1.

Sebagai spasmolitik (pereda kejang otot) dari saluran lambung usus,


empedu, dan organ urogenital,contoh : hyoscyamin, propantelin.

2.

Tukak lambung-usus & gastritis guna mengurangi sekresi HCl , contoh :


pirenzepin
Sebagai midriatikum, untuk memperbesar pupil & mengurangi
akomodasi, contoh : atropin, homatropin.
Sebagai premedikasi pra-bedah, untuk mengurangi sekresi ludah &
bronkhi & sbg sedativ berdasarkan efek menekan SSP, contoh : atropin,
skopolamin yang digunakan bersama anestesika umum sebelum
pembedahan (premedikasi)
Sebagai anti mabuk jalan mencegah mual muntah, contoh :
skopolamin.
Untuk mengurangi kontraksi spontan & hasrat BAK pada
inkontinensi urin, karena instabilitas otot polos kandung kemih, contoh :
oksibutinin.
Sebagai antidot pd keracunan kolinergik (& antikolinesterase), contoh :
atropin.

3.
4.

5.
6.
7.

Efek samping antikolinergika


Efek samping umum (tergantung dosis) adalah berupa efek muskarinik,
yakni mulut kering, obstipasi, retensi urin, aritmia, gangguan akomodasi,
midriasis,dan berkeringat.
Pada dosis tinggi timbul efek sentral seperti gelisah, bingung, eksitasi,
halusinasi.
Zat-zat amonium kwaterner dalam dosis tinggi menghasilkan efek nikotinik
khususnya blokade ganglion misalnya hipotensi dan impotensi.
Kehamilan dan laktasi hanya atropin yang dapat digunakan, yang lain belum
cukup data mengenai keamanannya.

Terima kasih