Anda di halaman 1dari 15

ARSITEKTUR TRADISIONAL NUSA TENGGARA BARAT

OLEH
Nama
: karya fauzi
Nim
: 1103110001
Pembimbing : muliadi ST,MT

PRODI ARSITEKTUR
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH ACEH

Arsitektur Nusa Tenggara Barat


Letak geografis
Kepulauan Nusa Tenggara atau Kepulauan sunda kecil (sekarang kadangkala digunakan dalam peta
-peta geografis dunia), adalah gugusan pulau-pulau di sebelah timur pulau jawa, dari pulau bali di sebelah
barat, hingga pulau timor di sebelah timur. Kepulauan barat daya dan kepulauan tanibar yang merupakan
bagian dari wilayah Provinsi maluku secara geologis juga termasuk dalam kepulauan Nusa Tenggara.
Batas wilayahnya di sebelah Barat berbatasan dengan Selat Lombok, Provinsi Bali, sebelah Timur d
engan Selat Sape, Provinsi Nusa Tenggara Timur, sebelah Utara dengan Laut Jawa dan laut Flores dan se
belah Selatan dengan Samudera Indonesia.

Sejarah dan Budaya Nusa Tenggara Barat


Adat-istiadat yang melekat pada masyarakat NTB diawali oleh Sejarah kehidupan nenek moyangnya yang pernah dijajah dan
dikuasai oleh orang-orang hindu. Kekalahan kerajaan hindu membuat islam kembali mendominasi di lingkungan masyarakat NTB.
Interaksi yang terjadi antar masyarakat membuat kebiasaan atau adat-istiadat yang ada saling mengisi dan berbaur dengan erat
antara yang satu dengan yang lainnya hinga tumbuh dan berkembang sampai sekarang, misalnya saja perpaduan antara budaya
hindu dan budaya islam seperti selametan laut yang dilakukan dengan menggelar zikir bersama yang disertai dengan perlengkapan
sesajian yang akan disantap bersama dan sejenisnya.
Kebudayaan dalam kehidupan masyarakat NTB yang sangat dominan adalah ketergantungan dan kepatuhan masyarakat
terhadap tokoh-tokoh pemuka agama atau tokoh adat sebagai panutan dalam kehidupan sehari-hari, karenanya pengaruh
kehidupan masyarakat yang dilandasi sistem patriakhis. Interprestasi ajaran agama yang belum tepat sering mempengaruhi sikap
dan pandangan masyarakat yang diimplementasikan pada sistem nilai sosial dan budaya sehingga mempengaruhi pandangan
masyarakat terhadap kedudukan perempuan dan laki-laki dalam kehidupan bermasyarakat.

Arsitektur Tradisional Nusa Tenggara Barat


Nusa Tenggara Barat memiliki rumah adat yaitu istana dalam loka dan Penduduk Nusa Tenggara Barat terdiri dari suku
Sasak, yaitu suku asli yang berasal dari Pulau Lombok, dan suku Bima serta suku Sumbawa yang berada di pulau Sumbawa.
Masing masing pulau memiliki rumah adatnya sendiri. Seperti pulau Sumbawa memiliki rumah adat bernama Dalam Loka S
amawa dan Pulau Lombok memiliki rumah adat suku Sasak yang biasa disebut Bale.

a. Istana Dalam Loka


Rumah istana Sumbawa atau Dalam Loka adalah rumah adat atau
istana yang didirikan dan dikembangkan oleh pemerintahan Sultan
Muhammad Jalaluddin Syah III di Pulau Sumbawa, tepatnya di kota
Sumbawa Besar. Terdapat pengertian dari Dalam Loka itu sendiri, yaitu kata
Dalam yang memiliki arti istana atau rumah yang ada di dalam istana dan
Loka yang memiliki arti dunia atau juga tempat. Sehingga dapat
disimpulkan pengertian Dalam Loka merupakan istana atau tempat hunian
raja. Namun, penggunaan rumah adat Dalam Loka saat ini difungsikan
untuk menyimpan benda atau artifak bersejarah milik Kabupaten Sumbawa.

Istana dalam loka dibangun mengarah ke selata


n yaitu ke Bukit Sampar dan alun-alun kota dan hanya
memiliki satu pintu masuk utama melalui tangga depa
n dan pintu samping melalui tangga kecil. Tangga dep
an yang dimiliki Dalam Loka tidak seperti tangga pada
umumnya, tangga ini berupa lantai kayu yang dimiring
kan hingga menyentuh tanah dan lantai kayu tersebut
ditempeli oleh potongan kayu sebagai penahan pijaka
n Bala Rea atau graha besar adalah dua bangunan id
entik yang terdapat di dalam rumah adat Dalam Loka y
ang setiap bangunannya memiliki fungsi

1. Konsep ruang
Pada bagian dalam bangunan bala rea atau graha besar
terdapat beberapa ruangan yaitu, Lunyuk Agung, Lunyuk Mas,
Ruang Dalam, dan Ruang Sidang
Lunyuk Agung berada pada bagian depan bangunan yang
difungsikan untuk ruang bermusyawarah, pernikahan,
pertemuan atau acara kerajaan.

Lunyuk Mas adalah ruangan utama untuk permaisuri, istri para


menteri dan staf penting kerajaan saat upacara adat.

Ruang Dalam sebelah barat disekat oleh kelambu


yang digunakan untuk tempat sholat, di sebelah
utara adalah kamar tidur permaisuri. Ruang Dalam
sebelah timur memiliki empat kamar khusus untuk
keturunan raja yang sudah menikah dan di sebelah
utara adalah kamar pengasuh rumah tangga istana

Dan yang terakhir adalah Bala Bulo berada di samping Lunyuk Mas,
terdiri atas dua lantai, lantai pertama berfungsi sebagai tempat
bermain putra/putri raja dan lantai kedua berfungsi sebagai tempat
permaisuri dan istri para bangsawan saat menyaksikan pertunjukan di
lapangan istana. Anak tangga menuju tingkat dua berjumlah 17 anak
tangga. Jumlah tersebut mewakili 17 rukun sholat. Di luar komplek ini
terdapat kebun istana (kaban alas), gapura atau tembok istana (bala
buko), rumah jam (bala jam) dan tempat untuk lonceng istana.
Lonceng pada istana ini ukurannya sangat besar dan berasal dari
Belanda. Pada masa itu, lonceng ini dibunyikan oleh seorang petugas
setiap waktu, sehingga seluruh penduduk dapat mengetahui waktu
saat itu.

2. Kolom
Dalam Loka disusun oleh bangunan kembar yang
disokong atau ditahan oleh 98 pilar kayu jati dan 1 pilar
pendek (pilar guru) yang dibuat dari pohon cabe. Jumlah dari
seluruh tiang penyokong adalah 99 tiang yang mewakili 99
sifat Allah dalam Al-Quran (Asmaul Husna).

Bentuk struktur kolom pada bangunan menggunakan 3


susunan balok yang membentang sepanjang lantai dari depan
sampai belakang bangunan dan satu balok yang membentang
ke samping bangunan sebagai penahan beban dari lantai
bangunan seperti pada gambar di bawah.

4. Ornamen
Pada bagian kepala bangunan terdapat beberapa
Ornamen-Ornamen diantaranya adalah Ornamen Kepala Rusa,
Ornamen Manusia Berbadan Singa Bersayap dan ornamen pada
bagian lisplank dan ujung lisplank dan centilever ( Konsol ).
Ornamen pada badan bangunan diantaranya adalah
Ornamen pada bagian dinding bangunan ( Pintu dan Ventilasi ),
serta Ornamen pada Tiang dan Balok bangunan.

Ornamen pada Bukaan Dinding ( Ventilasi )

Ornamen pada Balok

Ornamen pada Pintu


Ornamen pada Tiang Bangunan

Perumahan tradisional nusa tenggara barat


a. Bale tani
Letak rumahrumah di Dusun Sade berjajar membentuk
pola linier dengan sebagian besar berorientasi ke arah jalan
setapak, yaitu arah timur dan barat yang merupakan arah
matahari dan dipercaya sebagai pemberi berkah. Rumah
rumah di Dusun Sade berpantangan untuk menghadap utara
dan selatan. Pola linier tersebut juga berkaitan dengan adanya
pengelompokan keluarga yang disebabkan oleh adat menetap
masyarakat Sasak.
Bale tani merupakan rumah tinggal masyarakat yang berprofesi
sebagai petani. Di dalam suku Sasak khususnya dusun Sade ini
tidak mengenal sistem kasta. Hampir seluruhnya, masyarakat
berprofesi sebagai petani. Bentuk Bale Tani melambangkan
mikrokosmos atau dunia kecil. Mikrokosmos disini adalah
hubungan Tuhan dengan manusia serta manusia dengan
sesamanya. Bentuk yang meninggi di bagian belakang
melambangkan hubungan manusia dengan Tuhan, sedangkan
sosoran atap di bagian depan melambangkan hubungan manusia
dengan sesama.

Analisa pada bangunan rumah hunian atau bale tani


1. Arah rumah tidak boleh menghadap utara atau selatan.
Letak gunung dan laut berada di utara dan selatan pulau
Lombok, apabila rumah langsung menghadap ke arah utara
atau selatan, penghuni rumah tersebut dianggap menentang
dewa dan dapat mendatangkan kesialan kepada pemilik
rumah. Dan sebagai symbol Menghormati kuasa Tuhan Yang
Maha kuasa dan sesama.

2.

Bentuk atap bagian belakang lebih tinggi, kemudian


menurun dan rata bagian depan melambangkan Tuhan
yang menganggap semua manusia sama di hadapan Nya.

3. Pintu dan jendela hanya ada di bagian depan rumah dan


pintu dibuat lebih rendah agar orang masuk ke dalam rumah
menunduk seakan memberi salam sebagai lambang rendah
hati dan menghargai sesama.

4. Dalam bale yang bersifat privat di anggap lebih suci dan


lantainya lebih di tinggikan dari pada serambi atau luar bale.

5. Dalem Bale berada di atas Luar Bale sehingga untuk


mencapai Dalem Bale terdapat tiga anak tangga. Tiga anak
tangga ini memiliki arti Wetu Telu yaitu kepercayaan tiga
waktu oleh suku sasak yang terdiri dari lahir, tumbuh dan
mati. Saat Islam mulai memasuki Pulau Lombok, suku sasak
melakukan sholat sesuai adat Wetu Telu yaitu sholat tiga
waktu. Namun saat ini warga Sade telah menunaikan sholat
lima waktu atau Wetu Lima yang ditandai dengan tambahan
dua tangga pada bagian muka Bale Luar.

6. Pada bagian bale luar tidak di beri sekat sehingga bisa


berinteraksi tanpa halangan sebagai keterbukaan dan
hubungan dengan sesama.

7.

Kamar tidur anak perempuan yang sudah dewasa berada


di bale dalam dan lebih tersembunyi karena mereka sangat
menjaga anak perempuan yang sudah dewasa

kesimpulan
Arsitektur Bale Tani memuat ajaran untuk
menyeimbangkan hubungan antara manusia dengan
Tuhan Yang Maha Esa maupun dengan sesama
manusia. Bentuk pada Bale Tani juga menggambarkan
kesamarataan derajat semua manusia di hadapan
Tuhan Yang Maha Esa, dan ajaran untuk selalu
rendah hati atau saling menghargai sesama

b. Bale lumbung
Lumbung merupakan tempat penyimpanan padi dan juga simbol kemakmuran suku Sasak. Bentuknya yang menjulang ke atas
agar tikus dan hama tidak masuk ke dalamnya. Satu lumbung biasanya dimiliki oleh lima sampai dengan enam kepala keluarga,
dikarenakan dalam membangun lumbung memerlukan upacara yang memakan banyak biaya dan memiliki banyak
persyaratan. Pada mulanya, lumbung ditempatkan di sebelah kiri dari tempat tinggal. Tapi karena kebutuhan lahan untuk
membangun rumah, sekarang lumbung diletakkan di depan rumah berdampingan dengan berugaq (berugaq merupakan tempat
untuk bersosialisai)

Di bagian dalam Lumbung, tidak terdapat perabot apapun, hanya ada lantai kayu yang lapang dan dinding serta plafon dari jerami. Ini
dikarenakan fungsi utama Lumbung adalah untuk manyimpan padi. Cara untuk masuk ke dalam Lumbung adalah dengan
menggunakan tangga kayu, yang setelah selesai dipakai dapat dilepas kemudian disimpan di dekat lumbung.

Ajaran hidup yang ingin disampaikan melalui bentuk-bentuk dari Lumbung adalah untuk selalu mensyukuri berkah dari Tuhan Yang
Maha Esa dan menerapkan hidup sederhana. Bentuk dari Lumbung merupakan pengingat bagi Suku sasak untuk selalu mensyukuri
berkah dari Yang Maha Kuasa

Analisa pada bangunan bale lumbung


1. Bentuk yang lonjong ke atas dan memanjang ke
belakang sebagai bentuk rasa terimakasi kepada
Tuhan.

2. Tiang penyangga yang tidak bersentuhan langsug


dengan tanah agar padi yang disimpan tahan lebih lama
dan tidak mudah rusak yang disebabkan hama tikus dan
sebagainya.

3. Pintu masuk yang kecil sebagai perwujudan sifat


serakah mereka dan tidak boleh di masuki oleh wanita
yang belum menikah untuk menghindari kemandulan
pada wanita yang di sebabkan bulu padi dalam
lumbung.

Berdasarkan analisa pada bangunan Bale Tani dan Lumbung,


bisa disimpulkan bahwa hunian tradisional Suku Sasak adalah
perwujudan dari pedoman hidup masyarakat yang di wujudkan
ke dalam tempat tinggal mereka. Bentuk pada Bale Tani
menggambarkan kesamarataan derajat semua manusia di
hadapan Tuhan, ajaran untuk selalu rendah hati atau saling
menghargai, menghormati sesama dan mempertahankan sikap
kekeluargaan. Bentuk pada Lumbung mengajarkan untuk selalu
mensyukuri berkah dari Tuhan Yang Maha Esa dan menerapkan
hidup sederhana

SEKIA TERIMA KASIH

Anda mungkin juga menyukai