Anda di halaman 1dari 24

JURNAL

Disusun Oleh :
Thyrister Nina Asarya Sembiring, S.Ked
FAB 115 005

Pembimbing :
dr. Abd Samad Amin, Sp.An

KEPANITERAAN KLINIK ANESTESIOLOGI DAN TERAPI INTENSIF


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS PALANGKA RAYA
RSUD dr. DORIS SYLVANUS
PALANGKA RAYA
2016

Open Journal of Anesthesiology, 2013, 3, 275-277


http://dx.doi.org/10.4236/ojanes.2013.35060 Published Online July
2013 (http://www.scirp.org/journal/ojanes)

Unusual Complication Following


Spinal Anesthesia for Caesarean
Section

A. Antwi-Kusi*,
W. Sam Awortwi,
A. Serwaa Hemeng

Oleh : Thyrister Nina Asarya Sembiring, S.Ked (FAB 115


005)

Review Journal

Abstrak

Anestesi spinal melibatkan anestesi lokal ke dalam


ruang subarachnoid untuk mengurangi sensasi
nyeri.
Komplikasi yang biasanya terjadi setelah anestesi
spinal hipotensi yang menyebabkan mual dan
muntah, kegagalan tusukan tulang belakang dan
post dural punctur.
Pada penelitian ini pasien merasakan hentakan tak
terkontrol dari anggota tubuh bagian bawah,
hipertensi, aritmia dan henti jantung refrakter
Kata kunci : intratekal; Asam traneksamat; konvulsi;
aritmia

Pendahuluan

Anestesi spinal anestesi regional yang relatif aman


dengan beberapa komplikasi yang biasanya dapat diatasi.

Menggunakan anestesi lokal, misalnya 0,5% bupivacaine


ke dalam ruang subarachnoid. Obat-obatan lain seperti
opioid
dan
klonidin
dapat
ditambahkan
untuk
meningkatkan kualitas bloking

Walaupun prosedur ini relatif aman namun terdapat


beberapa laporan mengenai komplikasi mayor akibat
human error kurangnya kewaspadaan, pelabelan yang
salah atau presentasi suntikan dan ampul,
atau
mengesampingkan konsep double-checking

Pendahuluan

Pada center ini, 4000 operasi caesar


dilakukan dalam setahun dengan 85% dengan
anestesi spinal.
Ini adalah laporan pertama dari sentakan tak
terkontrol tungkai bawah diikuti hipertensi
dan aritmia setelah pemberian anestesi
spinal.

Studi Kasus

Pasien usia 27 tahun dengan Gravida 2 Para 1


dijadwalkan SC elektif pukul 07.00.

Pasien dibawa ke klinik obstetrik dan siap


untuk dioperasi. Masuk keruang anestesi dan
telah dibersihkan untuk operasi. Pasien
kategori ASA 1.

Anestesi spinal dilakukan dengan posisi pasien


duduk, diantara L4-L5, menggunakan ukuran
jarum No.25.

Perawat anestesi yang bertugas memberikan


sebuah ampul berisi 4 mL 0,5% bupivacaine
hiperbarik kepada mahasiswa anestesi yang akan
melakukan prosedur tersebut.

Setelah injeksi bupivacaine itu, tekanan darah


pasien stabil. Namun, pasien masih dapat
mengangkat sebagian dari kakinya menit setelah
spinal.

Pada saat itu tidak ada keluhan lain dan perawat


anestesi berpikir bahwa operasi siap dan blok akan
bekerja.

Saat operator mengecek spinal blok, pasien


merasa nyeri. Pasien mulai mengalami kejang
mioklonik terbatas pada anggota tubuh
bagian bawah dan perut.
Tekanan darah pasien 175/95 mmHg dan oleh
karena itu perawat anestesi memutuskan
untuk mengkonversi anestesi spinal menjadi
anestesi umum. Dia tidak dapat menjelaskan
mengapa kejang mioklonik dan hipertensi bisa
terjadi.

Anestesi umum diinduksi dengan thiopental


450 mg diikuti dengan suxamethorium 100
mg setelah pasien berhasil diintubasi.
Bayi lahir sekitar 5 menit setelah insisi.
APGAR Score pada menit 1 adalah 8/10.
Diberikan Syntocinon 10 IU kontraksi otot
dilanjutkan pemberian Fentanyl 100 g untuk
analgesia. Pasien juga mendapat Augmentin
1,2 g

Setelah bayi dilahirkan, operator mengobservasi


kejang namun operator beranggapan hal tersebut
merupakan pergerakan pasien dikarenakan anestesi
yang terlalu ringan/sedikit.
Perawat anestesi menilai bahwa anestesi yang
diberikan sudah memadai dan karena itu meyakinkan
ahli bedah untuk melanjutkan operasi.
Pada akhir operasi yang berlangsung sekitar 30 menit
dan agen inhalasi dihentikan, kejang mioklonik
semakin memburuk, pasien bisa membuka mata tapi
gelisah dan tidak bisa diekstubasi. Oleh karena itu ia
dikirim ke ICU untuk pengelolaan selanjutnya.

Pasien diterima di ICU dengan GCS 3, pupil


isokor kiri kanan, dan refleks cahaya baik.
Tidak ada tanda-tanda lateralisasi namun
pasien mengalami multiple tonik seizure yang
melibatkan anggota lower limbs dan otot-otot
perut.
Diperiksa kadar GDS 7,4 mmol/l, suhu 38,4C.
Pasien diberi thiopental untuk mengontrol
kejang dan memasang ventilator untuk
ventilasi support.

Dokter anestesi di ICU menduga pasien


eklampsia dan kemungkinan terjadi kesalahan
dalam injeksi ke dalam ruang subarachnoid.
Hasil CT scan kepala dan daerah lumbosakral
normal.
Semua pemeriksaan laboratoriumnya KFT
(fungsi ginjal) , LFT (fungsi hati), TFT (fungsi
tiroid) dan FBC (tes hitung darah lengkap)
normal.

Dilakukan pengecekan setelah operasi selesai,


ditemukan sebuah ampul yang terbuka berlebelkan
Asam Traneksamat (TXA) di trolly obat anestesi.
Bentuk ampul tampak serupa dengan ampul
bupivacaine. Siswa perawat anestesi yang melakukan
spinal mengkonfirmasi bahwa As.Traneksamat
tersebut diberikan oleh perawat anestesi kepadanya.
Kondisi pasien memburuk dengan beberapa kali
kejang yang tidak teratasi dengan manajemen
antikonvulsan.

Pasien juga mengalami takiaritmia dan


mengalami serangan jantung 24 jam setelah
masuk ICU sehingga dilakukan resusitasi.
12 jam kemudian pasien mengalami
ventrikular takikardia dan akhirnya fibrilasi
ventrikel yang tidak dapat diatasi dengan
resusitasi.
Pasien dinyatakan meninggal dunia kurang
dari 48 jam setelah masuk ke ICU. Disarankan
pemeriksaan mayat namun keluarga menolak.

Diskusi

Kesalahan yang tidak disengaja dari


pemberian injeksi intratekal As.Traneksamat
tidak jarang terjadi.

Firouzeh et al melaporkan dari kasus pasien


obstetri yang tidak sengaja diberi asam
traneksamat secara intratekal, 3 menit
setelah injeksi, mulai kejang dan mengeluh
nyeri tajam pada perut bagian bawah. Pasien
merasa kurang nyaman dan mengeluh pusing.

Anestesi umum dilakukan dan bayi dapat


dilahirkan.
Setelah operasi, pasien mengalami
takiaritmia dan ia juga merasa memiliki
gerakan menyentak didaerah ekstremitas
bawah yang konsisten seperti kejang. Pasien
mengalami serangan jantung yang refrakter
terhadap resusitasi.

De Leede-Van der Maarl et al. melaporkan


kasus seorang pria 68 tahun yang tidak
disengaja menerima injeksi 50 mg
As.Traneksamat intratekal. Segera setelah
pemberian obat, pasien mengalami Status
epileptikus.
Gejala yang ditimbulkan sangat rumit, dengan
paresis hipotonik pada keempat ekstremitas,
yang dapat diatasi namun menimbulkan
residual bilateral peroneal palsy.

Dalam kasus yang dilaporkan oleh Yeh et al.


kejang umum dan refractory ventrikular
fibrilasi setelah injeksi 500 mg
As.Traneksamat intratekal memberikan hasil
yang fatal.

Pada 2 laporan kasus lainnya, injeksi 150 mg


As.Traneksamat secara intratekal dapat
menimbulkan masalah akibat reractory
ventricular fibrilasi.

Mekanisme yang terjadi saat As.Traneksamat


menginduksi terjadinya kejang atau
ventricular aritmia masih belum diketahui.
Walaupun begitu dosis tinggi dari
As.Traneksamat dapat menyebabkan massive
sympathetic discharge yang memicu
terjadinya hipertensi dan subseuent
ventricular aritmia seperti dalam kasus ini.

Furtmuller et al. juga melaporkan reaksi


antagonis dari As.Traneksamat pada reseptor
gamma-aminobutyric acid (GABA)
menjelaskan menurunnya ambang kejang
oleh As.Traneksamat
Pasien pada kasus ini menerima suntikan
intratekal dari 200 mg As.Traneksamat
menyebabkan kejang klonik, takikardia dan
kematian dalam waktu kurang dari 48 jam.

Setelah kejadian insiden tersebut, dilakukan


penelitian pada As.Traneksamat untuk
pengelolaan Perdarahan Post partum oleh
Departemen O&G di RS ini bernama WOMEN
TRIAL".

Ini menjelaskan mengapa obat tersebut


ditemukan pada trolly obat anestesi. Sejak
saat itu diberlakukan kebijaksanaan untuk
tidak menyimpan obat non-anestetik di trolly
obat anestetik.

Kesimpulan

Dalam literatur, kasus yang telah dilaporkan


mengenai
ketidaksengajaan penyuntikan
As.Traneksamat intratekal terjadi akibat ampul
As.Traneksamat dan 0,5% bupivacaine ini
memiliki kemiripan penampilan.
Disarankan obat penting seperti obat yang
digunakan untuk anestesi spinal memiliki
penampilan dan bungkus yang unik untuk
mencegah kesalahan dalam pengambilan obat.
Pada saat yang sama dokter anestesi harus
memeriksa label ampul secara tepat dan tetap
berpegang pada konsep double checking

Akhirnya, proses hukum harus diikuti terlepas


dari status pasien. Dalam hal ini, pasien
adalah seorang staf, yang datang untuk
operasi SC elektif.
Kami percaya perawat anestesi yang
merupakan staf junior terburu-buru
melakukan hal ini. Dia telah bekerja selama
11 jam dan mungkin sangat kelelahan.

Situs :
http://file.scirp.org/pdf/OJAnes_2013071914185983.pdf

TERIMA KASIH