Anda di halaman 1dari 14

Stabilisasi

Kemampuan tubuh untuk memelihara


pusat masa tubuh dengan batasan
stabilitas yang di tentukan

Stabilitas sendi

Kemampuan sendi untuk menahan terjadinya


gesekan/
perubahan
posisi
sendi
( subluksasi/luksasi/dislokasi)
Kemampuan sendi untuk menahan pergeseran
salah satu tulang terhadap tulang lainnya,
sambil mencegah injury pada ligament, otot,
tendon disekitarnya

Fungsi stabilitas sendi


Mempertahankan kestabilan suatu sendi
agar tidak terjadi dislokasi dan berperan
sebagai stabilisator adalah ligament, otot
dan tendon

Macam-macam stabilisasi
Stabilisasi Aktif
Stabilisasi yang dibentuk oleh struktur kontraktil
yaitu tendon dan otot.

Stabilisasi Pasif
Stabilisasi sendi yang dibentuk struktur innerve
tulang, kapsul dan ligament dalam mempertahankan
ROM yang normal

Tipe-tipe stabilitas
1. Stabilisasi statik
kemampuan tubuh untuk menjaga pada
posisi tetap

2. Stabilisasi dinamik
kemampuan untuk mempertahankan posisi
dalam melakukan gerakan dan dalam keadaan
bergerak dan posisi tubuh stabil dan tidak
mudah jatuh.

Faktor-Faktor Stabilisasi

Bentuk permukaan tulang pembentuk sendi


Susunan ligament dan otot
Jaringan konektif lainnya

Tes stabilitas sendi


Tujuannya untuk mengetahui kestabilan sendi
dalam keadaan pasif maupun aktif, apakah
sendi itu dalam keadaan hypermobile,
stabil(normal) atau hypomobile

Tes stabilitas

Dengan gerak pasif : traksi, translasi, dan


gapping test posisi sendi pada LPP, jika tidak
stabil maka disebut pasif instabil
Dengan gerak aktif : posisi sendi LPP , pasien
melakukan gerakan isometrik , pasien
melawan tahanan dari segala arah . Jika
tidak stabil disebut aktif instabil

ROM (Range Of Motion)

ROM (Range Of Motion) yaitu derajat untuk


mengukur kemampuan suatu tulang, otot dan
sendi dalam melakukan pergerakan.
ROM adalah latihan gerakan sendi yang
memungkinkan
terjadinya
kontraksi
dan
pergerakan otot, dimana klien menggerakan
masing masing persendiannya sesuai gerakan
normal baik secara aktif ataupun pasif (Potter
and Perry, 2006)

Tujuan ROM
1.
2.
3.
4.
5.

Mencegah kelainan bentuk, kekakuan dan


kontraktur.
Meningkatkan
atau
mempertahankan
fleksibiltas dan kekuatan otot
Mempertahankan fungsi jantung dan pernapasan
Mencegah kekakuan pada sendi
Merangsang sirkulasi darah

Manfaat ROM
1. Menentukan nilai kemampuan sendi tulang dan otot
dalam melakukan pergerakan
2. Mengkaji tulang, sendi, dan otot
3. Mencegah terjadinya kekakuan sendi
4. Memperlancar sirkulasi darah
5. Memperbaiki tonus otot
6. Meningkatkan mobilisasi sendi
7. Memperbaiki toleransi otot untuk latihan

Prinsip Latihan ROM


1. ROM harus diulang sekitar 8 kali dan dikerjakan minimal 2 kali
sehari
2. ROM di lakukan berlahan dan hati-hati sehingga tidak
melelahkan pasien.
3. Dalam merencanakan program latihan ROM, perhatikan umur
pasien, diagnosa, tanda-tanda vital dan lamanya tirah baring.
4. Bagian-bagian tubuh yang dapat di lakukan latihan ROM adalah
leher, jari, lengan, siku, bahu, tumit, kaki, dan pergelangan kaki.
5. ROM dapat di lakukan pada semua persendian atau hanya pada
bagian-bagian yang di curigai mengalami proses penyakit.
6. Melakukan ROM harus sesuai waktunya. Misalnya setelah mandi
atau perawatan rutin telah di lakukan.

Bentuk Latihan ROM


1. ROM Aktif
ROM Aktif yaitu Gerakan pada suatu segmen yg dihasilkan melalui
kontraksi otot secara aktif.
2. ROM Pasif
ROM Pasif yaitu Gerakan pd suatu segmen yg dihasilkan melalui
external force, tanpa ada kontraksi otot secara volunter.
3.Active-Assistive ROM (AAROMEX)
Active ROM dengan bantuan gaya dari luar baik secara
manual/mekanik, karena otot-otot penggerak utama (prime mover)
membutuhkan bantuan untuk melengkapi gerakan