Anda di halaman 1dari 41

Pile Driver

1. Drop Hammer, adalah sebuah palu berat yang


diletakkan pada ketinggian yang telah ditentukan di
atas tiang pancang. pada kepala tiang pancang
dipasang cap (shock absorber) untuk menghindari
tiang rusak akibat tumbukan palu, biasanya terbuat
dari kayu. Kemudian, palu tersebut dijatuhkan ke tiang
pancang yang sudah dipasang cap.

Pile Driver

Pile Driver
2. Diesel Hammer, memiliki satu silinder dengan dua mesin diesel,
piston/ram, tangki bahan bakar, tangki pelumas, pompa bahan bakar,
injector, dan mesin pelumas. Dalam pengoperasiannya, energi alat
bersumber dari berat ram yang menekan udara di dalam silinder.
Pemberat piston/ram diangkat menggunakan kabel dari crane sehingga
udara masuk ke silinder. Bahan bakar diesel dimasukkan ke dalam
silinder tersebut. Lalu, pemberat dijatuhkan sehingga meningkatkan
tekanan campuran udara dan diesel di dalam silinder. Hal ini
menyebabkan diesel mencapai titik bakar dan menyatu dengan udara.
Campuran tersebut mengalirkan energi dari jatuhan pemberat ke kepala
tiang pancang. Lalu, pemberat diangkat kembali yang mengakibatkan
udara bebas masuk ke silinder lagi. Proses ini berlanjut hingga diesel
habis atau diberhentikan oleh petugas tiang pancang.

Pile Driver

Pile Driver
3. Hydraulic Hammer, merupakan jenis palu pemancang
modern yang biasa digunakan untuk memancang
tiang pancang jenis pipa besi, beton pre-cast, dan
kayu. Hydraulic Hammer lebih ramah dan efisien
lingkungan daripada tipe palu pemancang lama,
karena Hydraulic Hammer menghasilkan suara dan
polusi yang lebih sedikit. Namun, suara yang
dihasilkan akibat tumbukan antara palu dan kepala
tiang pancang atau komponen lainnya hampir sama
dengan Diesel Hammer. Sistem kerja Hydraulic
Hammer ini menggunakan Sistem Hidrolik seperti

Pile Driver

Pile Driver
4. Hydraulic Press-In, merupakan peralatan khusus yang
menanam tiang pancang menggunakan hydraulic
rams untuk menekan tiang pancang ke tanah. Sistem
ini dianjurkan digunakan saat getaran yang dihasilkan
oleh pile driver harus lebih kecil dari biasanya. Pada
sistem tersebut, ada alat tekan tambahan yang dapat
diterapkan pada bor pile driver konvensional untuk
menekan dua pasang sheet piles bersamaan. Alat
tekan tambahan ini diletakkan di atas sheet piles dan
mencengkram tiang pancang yang sudah tertanam.
Sistem ini memungkinkan penerapan press-in dan

Pile Driver

Pile Driver
5. Vibratory Pile Driver/Extractor, merupakan alat
pemancang yang memancang tiang pancang dengan
memanfaatkan getaran yang dihasilkan alat tersebut.
Alat ini memiliki beberapa batang horizontal dengan
beban eksentris. Pada saat pemancangan, batang
pada alat tersebut berputar dengan arah yang
berlawanan, berat yang disebabkan oleh beban
eksentris menghasilkan getaran pada alat. Getaran
yang dihasilkan menyebabkan material di sekitar
pondasi, yang terikat pada alat, akan ikut bergetar.
Alat ini disarankan digunakan pada tanah yang

Pile Driver

Metode Pemancangan Tiang


Pancang

Strauss Pile
Strauss Pile adalah pondasi tiang berbentuk bulat yang
tanah pada pekerjaan pondasinya di bor secara manual
(penggerak mata bornya adalah tenaga manusia)
hingga kedalaman tertentu, lalu dimasukkan besi
tulangan yang telah dirakit, kemudian dilakukan
pengecoran in-situ hingga penuh.

Metode Pelaksanaan (Strauss Pile)


Persiapan Alat
1. Mempersiapkan mata bor (x-design), besi parsial
penyambung mata bor banyak yang dibutuhkan
hingga pemcapai kedalaman yang telah direncanakan,
setang, pipa paralon (diameter 4), dan alat
pendukung lainnya yang dibutuhkan.
2. Mempersiapkan besi D8 mm untuk cincin spiral dan
D13 mm untuk tulangan pokok (ukuran yang biasanya
digunakan).
3. Mempersiapkan adukan beton sesuai rencana pondasi.

Metode Pelaksanaan (Strauss Pile)

Metode Pelaksanaan (Strauss Pile)


Proses Pengeboran Strauss Pile
1. Untuk setiap 1 set alat Strauss Pile
dikerjakan oleh 2 orang.
2. Mata bor diletakkan secara vertikal
terhadap tanah, lalu diputar dengan
memberi tekanan ke arah tanah hingga
bagian ujung mata bor dipenuhi oleh
tanah.
3. Angkat mata bor ke permukaan tanah,
lalu buang tanah yang memenuhi
bagian ujung mata bor.

Metode Pelaksanaan (Strauss Pile)


Pembesian Tulangan
Menggulung besi D8 pada pipa berdiameter 25 cm (ukuran yang biasa
digunakan) sebagai besi spiral pondasi.
Tarik besi yang sudah berbentuk seperti per hingga berjarak 15-20 cm
dan mencapai panjang total seperti pada kedalaman rencana pondasi
Besi pokok (D13 mm) yang telah disesuaikan panjangnya dengan
kedalaman rencana pondasi + pile cap dimasukkan ke dalam besi spiral
sebanyak yang telah direncanakan (biasanya sebanyak 6 batang).
Ikat besi pokok ke besi spiral dengan jarak yang sama.
Buat tulangan sebanyak yang telah direncanakan.
Masukkan tulangan ke setiap lubang pondasi yang telah selesai dibuat.

Metode Pelaksanaan (Strauss Pile)

Metode Pelaksanaan (Strauss Pile)


Proses Pengecoran
1. Pengecoran in-situ dilakukan secara manual.
2. Memasukkan pipa paralon ke dalam lubang pondasi di
tengah tulangan.
3. Masukkan adukan beton ke dalam lubang pondasi
melalui pipa paralon.
4. Seiring dengan memasukkan adukan beton, pipa
paralon ditarik pelan-pelan hingga pengecoran selesai.

Metode Pelaksanaan (Strauss Pile)

Kelebihan Strauss Pile


1. Biaya yang dikeluarkan lebih murah dibanding pondasi lainnya.
2. Waktu pemasangan pondasi lebih cepat, yaitu mencapai 4-5 titik dalam
kurum waktu 1 hari.
3. Pembuatannya tidak menghasilkan getaran dan suara yang
mengganggu.
4. Dapat dilakukan di lokasi yang sempit.
.Kekurangan Strauss Pile
1. Diameter yang dapat dikerjakan terbatas hanya sebesar 20-30 cm,
karena tenaga penggerak mata bornya hanya tenaga manual.
2. Kedalaman lubang pondasi yang dapat dikerjakan kurang dari 9 m,
tergantung kondisi tanah pada lokasi (bukan cadas, tanah uruk
campuran puing, dan bukan bebatuan) dan harus tanah lunak.
3. Hanya dapat digunapak pada bangunan bertingkat hingga 2 lantai.

Diaphragm Wall
Diaphragm Wall (dinding
sekat) adalah konstruksi
dinding penahan tanah
(retaining wall). Biasanya,
tipe dinding ini digunakan
untuk dinding laintai
basement pada struktur
bangunan yang memiliki
lantai bawah tanah. Tipe
dinding ini juga dapat
digunakan pada kondisi
pembangunan pada lahan
yang sempit agar

Metoda Pelaksanaan Diaphragm


Wall
Persiapan
1. Melakukan marking area pekerjaan diaphragm wall.
2. Jika pada proses marking sudah benar dan mendapat
persetujuan pihak yang terkait pada proyek tersebut,
dilanjutkan dengan membuat guide-line, yaitu mengali
pada marking area dengan kedalam sekitar 100 cm dan
memberikan perkuatan dengan beton mutu rendah
( K125) dengan tebal 20 30 cm. Guide-line ini
diperlukan agar alat pengali (yaitu mesin Grab) dapat
mudah mengikuti alur galian yang ditentukan.

Metoda Pelaksanaan Diaphragm


Wall

Metoda Pelaksanaan Diaphragm


Wall
3. Menentukan tempat pembuatan tulangan besi (reinforcement) jika diaphragm wall
dilakukan metode cor in-situ, atau menentukan tempat perletakan untuk pemakaian
pre-cast system.
4. Menentukan tempat pencampuran antara air dan bentonite. Campuran ini akan
dialirkan pada galian diaphragm wall untuk menghindari terjadinya keruntuhan
galian.
5. Karena pekerjaan diaframa wall ini biasanya diikuti dengan pondasi yang memakai
bor pile, harus ditentukan juga urutan kerja antara pekerjaan diaphragm wall dan
bor pile agar selalu silmultan.
6. Peralatan terkait harus sudah tersedia di lapangan, seperti : Mobil Crane minimal 2
buah (1 untuk pengalian diaphragm wall dan 1 untuk bor pile), Mesin Grab, Mesin
Bor, Casing bor pile, pompa air untuk sirkulasi campuran bentonite , ultra sonic
sounding, dan peralatan lain yang terkait pekerjaan tulangan besi (reinforcement).

Metoda Pelaksanaan Diaphragm


Wall

Metoda Pelaksanaan Diaphragm


Wall

Metoda Pelaksanaan Diaphragm


Wall

Metoda Pelaksanaan Diaphragm


Wall

Metoda Pelaksanaan Diaphragm


Wall
Pelaksanaan
Seperti halnya pekerjaan dinding penahan pada umumnya maka step pertama
adalah melakukan penggalian. Penggalian dengan mengunakan mesin grab. Lebar
galian adalah setebal dinding diaphragm antara 30 50 cm, sedangkan panjang
galian adalah sekitar 5 meter. Kedalaman galian disesuaikan dengan kebutuhan
kedalaman basement. Misalnya, untuk 2 basement, kedalaman minimal adalah 10
meter. Bersamaan dengan melakukan pengalian ini harus juga dialirkan campuran
air + bentonite secara continue agar tidak terjadi keruntuhan. Sebelum rangkaian
tulangan besi (reinforcement) dimasukkan (untuk cor in-situ) atau panel pre-cast
masuk, harus dicek dulu dengan ultra sonic sounding untuk diketahui adanya
keruntuhan atau tidak. Sistem pengalian dilakukan secara selang-seling. (misalnya
galian diberi nomor 1,2, 3, dst., maka pengalian pertama adalah nomor 1, pengalian
kedua adalah nomor 3 dst). Hal ini dilakukan untuk meminimalkan terjadinya
keruntuhan pada dinding galian.

Metoda Pelaksanaan Diaphragm


Wall

Metoda Pelaksanaan Diaphragm


Wall

Metoda Pelaksanaan Diaphragm


Wall
Pekerjaan rangkaian pembesian (reinforcement) harus
disiapkan secara simultan dengan penggalian, sehingga
saat galian sudah siap, rangkaian pembesian juga
sudah siap. (Karena galian hanya boleh dibiarkan
maximal 2 x 24). Model rangkaian tulangan adalah
double-reinforced (tulangan rangkap) yang berfungsi
menahan gaya geser dan momen lentur pada
diaphragm wall. Rangkaian pembesian ini pada sisi-sisi
tebalnya diberi end-plate yang berfungsi untuk
penyambung antar diaphragm wall.

Metoda Pelaksanaan Diaphragm


Wall

Metoda Pelaksanaan Diaphragm


Wall
Setelah pengecekan dengan ultra-sonic dilakukan dan
menunjukan tidak ada keruntuhan pada dinding galian maka
melangkah pada tahap berikutnya yaitu:
Untuk Cor In-Situ.
Memasukkan rangkaian tulangan besi (reinforcement). Rangkaian
tulangan besi (reinforcement) pada sisi yang nantinya menjadi
dinding dalam basement dipasang juga terpal supaya tampilan
diaphragm wall-nya bisa bagus/rata.
Melakukan pengecoran dengan concrete pump sampai selesai.

Untuk pemakaian dengan sistem pre-cast maka setelah galian


siap langsung memasukan panel Pre-cast diafgrama wall.

Metoda Pelaksanaan Diaphragm


Wall

Metoda Pelaksanaan Diaphragm


Wall

Metoda Pelaksanaan Diaphragm


Wall

Metoda Pelaksanaan Diaphragm


Wall
Keuntungan Diaphragm Wall untuk tembok penahan
tanah:
1. Penggalian tanah bisa lebih dalam dibanding dengan
dinding penahan tanah sistem konvensional.
2. Pengerjaan lebih cepat dibanding sistem konvensional.
3. Dapat digunakan sebagai sarana untuk melaksanakan
struktur sistem Top Down Method, yaitu struktur atas
bisa dilaksanakan tanpa harus menunggu struktur
bawah selesai.
4. Alatnya tidak bising dan tidak menimbulkan getaran

Metoda Pelaksanaan Diaphragm


Wall
Kekurangan Diaphragm Wall:
1. Biayanya lebih mahal dibanding sistem konvensional, namun
kelemahan tersebut bisa ditutupi oleh efisiensi pekerjaan lainnya
akibat pelaksanaan yang lebih cepat.
2. Berpeluang terjadi ketidak-rataan pada dinding sisi dalam, sehingga
memerlukan tambahan pekerjaan finishing.
3. Pada sambunga rawan terjadi kebocoran, sehingga perlu dilakukan
Grouting Injection.
4. Diperlukan manajemen pelaksanaan yang lebih bail agar tidak
berbentiran dengan pelaksanaan pekerjaan lainnya seperti bore
pile.