Anda di halaman 1dari 43

Sebuah Pendekatan Positif

Mendorong Perilaku Organisasi yang Baik

Bangunlah jiwanya

Bangunlah badannya
Untuk Indonesia Raya
Darmaku kubaktikan
Baktiku kudarmakan
Agar Jaya Indonesia
Integritas sejati adalah mengerjakan segala
sesuatunya dengan benar, walaupun orang
lain memperhatikan Anda atau tidak (Oprah
Winfrey, Ratu Talk Show Dunia)

Pendahuluan
Isu Etika
Konsep Etika
Faktor-faktor yang Mempengaruhi
Perilaku Etikal
Penutup

Pendahuluan (1)
Persoalannya bukanlah negeri versus swasta,
melainkan kompetisi versus monopoli (John
Moffitt, Sekretaris Kepala Gubernur
Massachusetts William Weld:
Pemerintahan yang Kompetitif Menyuntikkan
Persaingan ke dalam Pemberian Pelayanan,
1978)
Pada hakekatnya dalam penyelenggaraan
negara dan pembangunan oleh Pemerintah
(selanjutnya disebut pengarah) ada ramburambu internal dan eksternal Program dan
aktivitas pemerintahan tidak terisolasi dari
pihak-pihak terkait dan tidak juga monopoli

Pendahuluan (1)
Demikian pula pada penyelenggaraan bisnis
oleh Dewan Direksi dan Komisaris
(selanjutnya disebut pengurus) ada juga
rambu-rambu internal dan eksternal Kegiatan bisnis tidak terisolasi dari pihakpihak terkait dan tidak juga monopoli
Penyelenggaraan ini bisa menganut :
Immoral

Management Moral Management


Unfair Management Fair Management
Bad Management Good Management
Unethical Management Ethical Management

Pendahuluan (2)
Konsekuensinya, berbagai pihak-pihak yang
terkait perlu diidentifikasi dan ditemukan
kepentingannya oleh pengarah pemerintahan
maupun pengurus perusahaan
Implikasinya, pendekatan Konstituen Strategik
perlu dilakukan pengarah pemerintahan
maupun pengurus perusahaan dalam rangka
memimpin dan mengelola proses
penyelenggaraan pemerintahan dan bisnis
yang layak - Minimal memperhatikan dan
memenuhi unsur Etika

Pendahuluan (3)
Memilih menggunakan istilah pendekatan
(approach) dan bukan menggunakan istilah
pandangan (view), atau sudut
pandang/perspektif (perspective), atau
aliran (stream), atau lainnya yang lebih
bermakna ke arah mengamati atau hasil
pengamatan Pendekatan selain
bermuatan makna pengamatan juga
mengandung makna cara-cara atau jalan
Implikasinya, pendekatan yang dipilih
mengandung dasar-dasar pandangan,
pemikiran, dan aksi yang relevan sebagai
respons perilaku organisasi yang positif

Mengapa Kita perlu


Berkiprah secara Etikal? (1)
Masyarakat bukan hanya makin kritis terhadap
pelayanan pemerintah maupun produk dan
jasa yang dihasilkan perusahaan, tetapi juga
perilaku penyelenggaranya
Transaksi pelayanan publik dan bisnis yang
didasari rasa saling percaya biasanya lebih
efisien, efektif, dan murah

Mengapa Kita perlu


Berkiprah secara Etikal? (2)
Jejaring kerjasama makin tinggi utilitasnya, bila
kredibilitas penyelenggara pelayanan publik
maupun bisnis makin tinggi
Hanya pemerintah dan perusahaan yang etikal
mendapatkan dukungan masyarakat, menarik
investasi sumber daya dan dana, serta menarik
orang-orang terbaik untuk bekerja padanya

Mengapa Kita perlu


Berkiprah secara Etikal? (3)
Survei beberapa lembaga internasional maupun
nasional menyatakan bahwa salah satu
penyebab krisis di Indonesia adalah
amburadulnya pengelolaan dunia bisnis dan
moral hazard :
- Standard akuntansi, pengungkapan, dan transparansi

dinilai terburuk di Asia


- Pemimpin dan pengelola perusahaan dinilai tidak
memiliki kemauan untuk menciptakan kehidupan bisnis
yang sehat dan bertanggung jawab, bahkan
memanfaatkan loopholes kelemahan regulasi yang
ada yang berdampak pada menurunkan kredibilitas
perusahaan (G.Suprayitno dkk, 2004; Suprayitno 2005)

Isu Etika (1)


Isu Etika mencakup isu-isu yang sangat
kompleks, beberapa lembaga dan pakar
menyebut dengan berbagai istilah, namun
tujuannya tetap bermaksud menyempurnakan
dampak yang baik atau positif bagi semua
pihak :
- Reinventing Government (Osborne & Gaebler, 1992)
- Banishing Bureaucracy (Osborne & Plastrik, 1997)
- The Responsibilies of the Board (OECD, 2004)
- Economic Responsibility (McGee, 1998)
- Public Responsibility (Preston & Post, 1975)
- Social Responsibility (Drucker, 1964; David &
Blomstorm, 1975)

Isu Etika (2)


Isu-isu etika dalam penyelenggaraan pelayanan
publik terkait dengan :
- Administrasi (Henry, 1995)
- Birokrasi (Rohr, 1989)
- Kebajikan (Rawls, 1971)
- Perorangan dan Organisasi (Vasu, Stewart, dan
Garson, 1990)

Masing-masing pihak yang terkait dengan


pelayanan publik dipengaruhi oleh
penyelenggaraan pemerintahan dan sebaliknya
masing-masing pihak yang terkait juga
mempengaruhi penyelenggaraan pemerintahan

Isu Etika (2)


Isu-isu etika dalam penyelenggaraan bisnis
terkait dengan :
- Pemegang Saham (Owners)
- Anggota perusahaan (Employees)
- Pelanggan (Customers)
- Pemasok ( Suppliers)
- Masyarakat (Community at large)

(Thomson dan Strickland: Ethical duty, 2001)


Masing-masing pihak yang terkait dengan
bisnis dipengaruhi oleh organisasi dan
sebaliknya masing-masing pihak juga
mempengaruhi organisasi

Konsep Etika (1)


Dunia Etika adalah dunia Filsafat, Nilai, dan
Moral
Moralitas adalah Sistem Nilai tentang
bagaimana Kita harus hidup secara baik
sebagai Manusia
Sistem Nilai terkandung dalam ajaran
berbentuk petuah, nasehat, peraturan,
perintah dan semacamnya yang diwariskan
secara turun temurun melalui kebudayaan
atau agama tertentu tentang bagaimana
manusia harus hidup secara baik agar ia
benar-benar menjadi manusia yang baik

Konsep Etika (2)


Moralitas adalah tradisi kepercayaan, dalam
agama atau kebudayaan, tentang perilaku
yang baik dan buruk
Moralitas memberi manusia aturan atau
petunjuk konkrit tentang bagaimana
manusia harus hidup, bagaimana manusia
harus bertindak dalam hidup ini sebagai
manusia yang baik, dan bagaimana
menghindari perilaku-perilaku yang tidak
baik

Konsep Etika (3)


Etika merupakan satu set standard moral
individu dan masyarakat yang diaplikasikan
dalam kehidupan Sebagai prinsip tingkah laku
yang mengatur individu dan kelompok (Francis,
2000)
Etika sebagai praksis : Nilai-nilai dan normanorma moral yang dipraktekkan
Etika sebagai refleksi : Apa yang harus dan tidak
boleh dilakukan
Jadi, etika berpusat pada manusia
Menyangkut masalah manusia dan kemanusian,
sehingga menjadi bidang studi ilmu filsafat dan
sosial Administrasi Negara dan Niaga

Konsep Etika (4)


Etika Deskriptif berusaha meneropong secara
kritis dan rasional sikap dan pola perilaku manusia
dan apa yang dikejar oleh manusia dalam hidup
ini sebagai sesuatu yang bernilai Memberi fakta
sebagai dasar untuk mengambil keputusan
tentang sikap atau perilaku yang mau diambil
Etika Normatif berusaha menetapkan berbagai
sikap dan pola perilaku ideal yang seharusnya
dimiliki oleh manusia, dan apa tindakan atau apa
yang seharusnya diambil untuk mencapai apa
yang bernilai dalam hidup ini Memberi penilaian
sekaligus memberi norma sebagai dasar dan
kerangka tindakan yang akan diputuskan

Konsep Etika (5)


Dunia administrasi adalah dunia keputusan
dan tindakan yang konkrit dan harus
mewujudkan apa yang diinginkan
Cooper (1990) justru menyatakan bahwa nilainilai adalah jiwa dari administrasi negara
Frederickson (1994) menyatakan bahwa nilainilai menempati setiap sudut administrasi
Jauh sebelumnya, Waldo (1948) menyatakan
siapa yang mempraktikkan administrasi berarti
mempraktikkan alokasi nilai-nilai Wujud
Etika Administrasi menjadi jelas

Konsep Etika (6)


Riggs (1966) melakukan internalisasi nilai-nilai
yang membentuk manusia birokrat dalam
rangka meningkatkan kinerja birokrasi
Terutama memperbaiki sikap birokrasi dalam
hubungan dengan masyarakatnya:
- Membangun partisipasi rakyat
- Tidak berorientasi pada yang kuat, tetapi lebih
kepada yang lemah dan kurang berdaya
- Menggeser peran dari mengendalikan menjadi
mengarahkan, dan dari memberi menjadi
memberdayakan
- Mengembangkan keterbukaan dan akuntabilitas

Konsep Etika (7)


Etika kebajikan (Ethics of virtue) berkembang dan
menjadi sentral karena terkait dengan karakter
yang dikehendaki dari seorang administrator
(Hart, 1994) Sebagai koreksi atas etika sebagai
aturan (Ethics as rules) yang tercermin dari
struktur organisasi, pembagian fungsi dan
prosedur, termasuk insentif dan disinsentif serta
sanksi-sanksi berdasarkan aturan
Immanuel Kant (1724-1809) berpandangan
bahwa moral adalah imperatif dan katagoris, yang
tidak membenarkan pelanggaran atasnya untuk
tujuan apapun, meskipun karena itu masyarakat
dirugikan atau jatuh korban

Konsep Etika (8)


Etika Perorangan (Personal ethics) terkait dengan
baik atau buruk perilaku individual seseorang
dalam hubungannya dengan orang lain dalam
organisasi
Etika Organisasi menetapkan parameter dan
merinci kewajiban-kewajiban (obligations)
organisasi, serta menggariskan konteks tempat
keputusan-keputusan etika perorangan itu
dibentuk (Vasu, Stewart, dan Garson, 1990)
Etika profesional pada profesi tertentu
dilembagakan dalam kode etik Kode etik ada
yang diperkuat oleh sistem hukum atau mengikat
secara sosial dan kultural, sehingga mengikat
secara moral

Konsep Etika (9)


Bisnis merupakan aktivitas usaha untuk
memenuhi kebutuhan masyarakat akan
barang dan jasa - Bisnis berlangsung
apabila ada kebutuhan masyarakat
Tujuan bisnis untuk memperoleh
keuntungan dan menjaga kelangsungan
hidup perusahaan secara
berkesinambungan
Dengan demikian, Etika Bisnis merupakan
standard moral (benar dan salah) yang
diterapkan dalam strategi dan kebijakan
serta perilaku bisnis perusahaan

Konsep Etika (10)


Implikasinya, setiap perusahaan perlu memiliki
duty to owners seperti memenuhi tugas etikal
pengurus perusahaan berkaitan dengan :

- pemenuhan dan pencapaian pendapatan atas


investasi penanam saham
- perbedaan keinginan para penanam saham yang
berkaitan dengan keuntungan saat ini dan yang
akan datang
- toleransi yang lebih besar atas manajemen resiko,
termasuk antusias mereka terhadap tanggung
jawab sosial
- jabatan rangkap pengurus (UU No.5/1999 pasal 26)

Konsep Etika (11)


Implikasinya, setiap perusahaan perlu
memiliki duty to employees yang merupakan
tugas etikal manajemen perusahaan
berkaitan dengan :
- respek untuk saling menghargai dan menghormati
anggota perusahaan baik secara individual
maupun secara kelompok
- saling berkomunikasi untuk isu-isu fluktuasi
keadaan ekonomi negara, kinerja dan keuntungan
perusahaan
- membangun komitmen pada pengelolaan anggota
perusahaan

Konsep Etika (12)


Implikasinya, setiap perusahaan perlu
memiliki duty to customers yang merupakan
tugas etikal pengurus perusahaan berkaitan
dengan :
- pemenuhan terhadap kebutuhan, keinginan dan
harapan pelanggan
- strategi perusahaan yang paling tepat, tidak
sekedar mampu mengalahkan para pesaing,
namun lebih mampu merebut hati para calon
pelanggan dan mempertahankan pelanggan lama
- upaya menghindari praktek monopoli (UU
No.5/1999 pasal 17) dan persaingan usaha tidak
sehat (UU No.5/1999 pasal 19)

Konsep Etika (13)


Implikasinya, setiap perusahaan perlu
memiliki duty to suppliers yang merupakan
tugas etikal pengurus perusahaan berkaitan
dengan :
- relasi kebutuhan, keinginan dan harapan pasar
- persyaratan kualitas akan barang dan jasa yang
dijadikan masukan proses bisnis perusahaan
- persyaratan etika terhadap para pemasok
- persekongkolan untuk memenangkan tender (UU
No.5/1999 pasal 22)

Konsep Etika (14)


Implikasinya, setiap perusahaan perlu
memiliki duty to the community at large yang
merupakan tugas etikal pengurus
perusahaan berkaitan dengan :
- kesadaran bahwa perusahaan sebagai bagian dari
komunitas dari suatu masyarakat
- kewajiban sebagai warga negara yang baik (good
citizens)
- kewajiban turut bertanggung jawab atas dampak
yang ditimbulkan dari setiap aksi dan aktivitas
bisnis perusahaan

Faktor-faktor yang
Mempengaruhi Perilaku Etikal (1)

Karakteristik Individual
Karakteristik Kepemimpinan
Karakteristik Budaya Kerja
Karakteristik Strategi dan Kinerja

Faktor-faktor yang
Mempengaruhi Perilaku Etikal (2)
Karakteristik Individual :
- Pengarah, pengurus dan pelaksana pelayanan

publik dan bisnis yang profesional perlu memenuhi


minimal tiga hal, yaitu pengetahuan, keahlian, dan
karakter. Karakter menunjukkan kepribadian
(personality) yang diantaranya diwujudkan dalam
sikap dan perilaku etis dalam mengemban
profesinya
- Sikap dan perilaku etis profesi tertentu dalam
pemerintahan dan perusahaan akan sangat
menentukan posisinya di masyarakat pemakai jasa
profesionalnya

Faktor-faktor yang
Mempengaruhi Perilaku Etikal (3)
Karakteristik Individual :
- Richmond (2003) menemukan bukti bahwa

kepribadian individu mempengaruhi perilaku etis


dalam menghadapi dilema-dilema etika (pilihan
perilaku etis)
- Semakin tinggi sifat Machiavellian seseorang
semakin mungkin untuk berperilaku tidak etis
- Semakin tinggi tingkat pertimbangan etis
seseorang, maka ia akan semakin berperilaku etis
(Niccolo Macheavelli birokrat di Itali abad ke-15)

Faktor-faktor yang
Mempengaruhi Perilaku Etikal (4)
Karakteristik Kepemimpinan
- Pengaruh kepemimpinan strategis menjamin

praktek etis di suatu institusi dan perusahaan


Salah satu cara untuk mengembangkan praktek etis
ialah menanamkan nilai-nilai etis melalui budaya dan
iklim organisasi (Sinclair, 1993; Suprayitno, 2005)
- Etika yang menuntun tindakan individu didasarkan
pada prinsip-prinsip tertentu oleh pengaruh jangka
panjang yang jangkauannya melampaui batas
organisasi. Hal ini dapat terlaksana melalui aturan,
penghargaan dan hukuman, serta nilai dan norma
yang memperlihatkan budaya dan iklim organisasi

Faktor-faktor yang
Mempengaruhi Perilaku Etikal (5)
Karakteristik Budaya
- Efektivitas proses penerapan suatu strategi
meningkat jika proses tersebut didasarkan pada
praktek-praktek yang etikal
- Dengan kata lain, jika praktek-praktek tidak etis
berkembang di dalam suatu perusahaan, mereka
menjadi seperti penyakit menular (Brass et.al.,
1998)

Faktor-faktor yang
Mempengaruhi Perilaku Etikal (6)
Karakteristik Strategi dan Kinerja :

- Penerapan strategi untuk bersaing secara


berkesinambungan dipengaruhi oleh kemampuan
manajemen melihat peluang dari ekonomi makro,
lingkungan industri, dan posisi organisasi dalam
persaingan

- Pengertian membangun keunggulan bersaing di atas


tidak didasarkan pada strategi diferensiasi, rendahnya
biaya ataupun fokus, karena ketiganya mengandung
resiko terhadap peniruan Namun, berdasarkan hasil
integrasi dari sumberdaya organisasi (tangible &
intangible), dan kemampuan manajemen untuk
mengetahui preferensi pihak-pihak terkait (Walker, 2003 )

Faktor-faktor yang
Mempengaruhi Perilaku Etikal (7)
- Konsep membangun keunggulan bersaing berbasis

sumberdaya tersebut mendasarkan pada teori


pertumbuhan yang mengasumsikan bahwa pasar dan
persaingan merupakan kondisi yang dinamis, sedangkan
karakteristik setiap organisasi dalam industri adalah
heterogen, sehingga kondisi organisasi dalam
persaingan tergantung pada kemampuan manajemen
untuk membangun keunggulan bersaing yang tidak
mudah ditiru oleh pesaing (Mills et.at., 2003)
- Adanya kompetensi pada manajemen organisasi tersebut
akan dapat menciptakan perbedaan dan mencapai
keunggulan yang lebih baik dalam persaingan, yang pada
akhirnya menciptakan kinerja pasar dan keuangan jangka
panjang (Srivastava et.at., 1998)

Beberapa Praktek Terbaik


Evaluasi kinerja Direksi dan Komisaris
melalui self assessment yang dilakukan
setiap tahun, dengan penekanan pada:
kinerja keuangan, implementasi GCG,
pencapaian visi dan misi perusahaan, serta
penerapan risk management. Hasil self
assessment Direksi dievaluasi untuk
mendapat persetujuan dari Komisaris. (BFI
Finance)
Tidak memberikan kredit pada perusahaan
yang jelas-jelas merusak lingkungan atau
merugikan negara. (Bank Niaga)

Penutup
o Uraian ini sekedar menggugah kesadaran
bahwa keberhasilan pelayanan publik dan
bisnis tidak hanya ditentukan oleh
keberhasilan material berupa administrasi
dan kalkulasi keuntungan dan perluasan
lingkup kegiatan Berperan menyentuh
aspek-aspek manusiawi dan etis
o Menetapkan arah strategis, memanfaatkan
dan mempertahankan kompetensi,
memajukan modal manusia,
mengembangkan budaya dan iklim yang
efektif dengan menekankan praktek etis
semuanya dipengaruhi oleh kepemimpinan
puncak organisasi yang strategis

Daftar Pustaka (1)


Brass, D.J., Butterfield, K.D., and Skaggs, B.C (1998). Relationships and Unethical
Behavior: A Social Network Perspective. Academy of Management Review. Vol. 23
Cooper, Terry L. (1990). The Responsible Administrator: An Approach to Ethics for the
Administrative Role. 3rd ed.Jossey-Bass, San Fransisco
Francis, R.D (2000). Ethics and Corporate Governance: An Australian Handbook.
University of New South Wales Press Ltd, Sydney
Frederickson, George H. (1994). Research and Knowledge in Administrative Ethics.
Marcel Dekker Inc, New York
G. Suprayitno, Khomsiyah G.I., Sedarnawati Yasni, Dadi Krismatono, Lola Rita, dan
Rika Gelar Rahayu (2004). Komitmen Menegakkan Good Corporate Governance:
Praktek Terbaik Penerapan Good Corporate Governance Perusahaan di Indonesia.
IICG, Jakarta
Hart, David K. (1994). Administration and The Ethics of Virtue: In All Things, Choose
First for Good Character and Then for Technical Expertise. Marcel Dekker Inc, New
York
Henry, Nicholas (1995). Public Administration and Public Affairs. Prentice-Hall Inc,
Englewood Cliffs, NJ
Mills, J., Platts, K., and Bourne, M (2003). Applying Resource-based Theory: Methods,
Outcomes and Utility for Managers. International Journal of Operations &
Production Management. Vol. 23 No. 2
Osborne, David dan Ted Gaebler (1992). Reinventing Government. A Plume Book
Osborne, David dan Peter Plastrik (1997). Banishing Bureaucracy. Addison-Wesley
Publishing Company, Inc, Reading

Daftar Pustaka (2)


Rawls, J. (1971). A Theory of Justice. Harvard University Press, Cambridge, Mass
Richmond, Kelly A. (2003). Machiavellianism and Accounting: An Analysis of Ethical
Behavior of US Undergraduate Accounting Student and Accountants. Symposium
on Ethics Research in Accounting. American Accounting Association
Riggs, Fred W. (1966). Administration Development : An Exclusive Concept. McGrawHill Book Company, New York
Rohr, John A. (1983). Professional Ethics. Marcel Dekker Inc, New York
Sinclair, A (1993). Approaches to Organizational Culture and Ethics. Journal of
Business Ethics. Vol 12
Srivastava, R.K., Tasadducq, A.S., and Fahey, L (1998). Market-based Assets and
Shareholder Value: A Framework for Analysis. Journal of Marketing. Vol. 62
Suprayitno, G (2005). Pengaruh Perilaku Kepemimpinan dan Iklim Kerja
Transformasional terhadap Keberhasilan Perusahaan Publik dalam Situasi Krisis di
Indonesia. ITB, Bandung
Thompson Jr., A.A., and Strickland III, A.J (2001). Strategic Management: Concepts
and Cases. Twelfth edition. McGraw Hill, Irwin
Vasu, Michael L., D.W. Stewart dan G.D. Gorson (1990). Organizational Behavior and
Public Management. 2nd ed. Marcel Dekker Inc, New York
Waldo, Dwight (1948). Administrative State. Ronald Press, New York
Walker, G (2003). Modern Competitive Advantage. McGraw Hill, Boston, MA.