Anda di halaman 1dari 24

IDENTITAS NASIONAL

KELOMPOK 2
Shofy Rahma Dewi 24020113120018
Berlian Abadianti
24020113120019
Vivi Suryaningsih 24020113120020
Adzar Rofiqoh 24020113120024
Indah Riasih Umami24020113120025
Anggi Widyaningsih24020113120026
Fathika Fitrania 24020113120027
Agustina Trihapsari 24020113120029
Ananda Anggie P. 24020113120032
Raden Faradhiva P. 24020113120035

IDENTITAS ???
IDENTITAS NASIONAL ???

Pengertian Identitas Nasional

Identitas > Identity, artinya: ciri-ciri, tanda-tanda, atau jati diri yang
melekat pada seseorang atau sesuatu yang membedakannya dengan
yang lain.
Nasional menunjuk pada sifat khas kelompok yang memiliki ciri-ciri
kesamaan, baik fisik seperti, budaya, agama, bahasa, maupun non-fisik
seperti, keinginan, cita-cita, dan tujuan.
Identitas Nasional adalah identitas suatu kelompok masyarakat yang
memiliki ciri dan melahirkan tindakan secara kolektif yang diberi
sebutan nasional.

Identitas Nasional pada hakikatnya merupakan


manifestasi nilai-nilai budaya yang tumbuh dan
berkembang dalam aspek kehidupan suatu nation
(bangsa) dengan ciri khas, dan dengan ciri yang khas
tadi suatu bangsa berbeda dengan bangsa lain dalam
hidup dan kehidupannya (Siswomihardjo, 2005).

FAKTOR PENDUKUNG
IDENTITAS NASIONAL

FAKTOR
OBJEKTIF

FAKTOR
SUBJEKTIF

Geografis -Ekologis

Sejarah

Demografis

Politik
Sosial
Kebudayaan

Parameter Identitas Nasional


Parameter Identitas Nasional adalah suatu ukuran atau patokan
yang dapat digunakan untuk menyatakan sesuatu adalah menjadi
ciri khas suatu bangsa, meliputi :
1. Pola Perilaku
2. Lambang-lambang
3. Alat Perlengkapan
4. Tujuan yang ingin dicapai

UNSUR-UNSUR
PEMBENTUK
IDENTITAS NASIONAL

SEJARAH

SUKU BANGSA

KEBUDAYAAN

AGAMA

BUDAYA UNGGUL

BAHASA

Dari unsur identitas nasional tersebut, dapat


dirumuskan menjadi dua bagian
Identitas
fundamental

Pancasila Falsafat
Bangsa
Pancasila Dasar
Negara
Pancasila Ideologi
Bangsa

Identitas
instrumental

UUD I945 dan Tata


Perundang-undangan
Bahasa
Indonesia,
Lambang
Negara,
Bendera Negara, Lagu
Kebangsaan
Indonesia Raya

Keterkaitan Globalisasi dengan Identitas Nasional.


Adanya globalisasi, intensitas hubungan masyarakat antara satu Negara dengan
Negara yang lain menjadi semakin tinggi. Sehingga cenderungan memunculkan
kejahatan yang bersifat transnasional menjadi semakin sering terjadi.
Kejahatan-kejahatan tersebut antara lain terkait dengan masalah narkotika, pencucian
uang (money laundering), peredaran dokumen keimigrasian palsu dan terorisme.

Masalah-masalah tersebut berpengaruh terhadap nilai-nilai budaya bangsa yang


selama ini dijunjung tinggi mulai memudar. Hal ini ditunjukkan dengan semakin
merajalelanya peredaran narkotika dan psikotropika sehingga sangat merusak
kepribadian dan moral bangsa khususnya bagi generasi penerus bangsa. Jika hal
tersebut tidak dapat dibendung maka akan mengganggu terhadap ketahanan nasional
di segala aspek kehidupan bahkan akan menyebabkan lunturnya nilai-nilai identitas
nasional.

Masalah Identitas nasional


Keragaman budaya yang dimiliki oleh negara Indonesia sering
kali mengundang perhatian dan memunculkan rasa ingin tahu dari
negara-negara lain. Indonesia terkenal sebagai bangsa yang luhur
dan memiliki keragaman budaya yang tersebar di pelosok-pelosok
nusantara, seperti kesenian, adat-istiadat hingga makanan, melekat
mewarnai keragaman bangsa. Begitu banyaknya budaya yang kita
miliki, membuat kita tidak mengetahui apa saja budaya yang ada
Indonesia. Sangat ironis rasanya, orang Indonesia tetapi tidak
mengenal ciri khas bangsanya sendiri.

Masalah Identitas nasional


Ketertarikan budaya yang semakin meluntur juga sangat nampak pada diri
generasi muda saat ini. Lantas apa saja yang menyebabkan terjadinya
pengklaiman budaya oleh negara negara lain? Adapun faktor faktor
penyebabnya adalah sebagai berikut :

Pengklaiman budaya kita oleh Malaysia


1.Karena adanya kesamaan antara suku dan ras masyarakat Indonesia dengan
malaysia
2.Faktor bisnis (terutama pengenalan visit Malaysia kepada masyarakat
dunia).
3.Faktor perkembangan masyarakat yang notabene pembentuk ras melayu
(Jawa, Minang, Bugis, Mandailing) yang awalnya berasal dari Indonesia
lalu berimigrasi ke Malaysia yang sebelumnya membawa kebudayaan asli
Indonesia lalu mengenalkannya ke khalayak di seluruh kawasan negara
Malaysia.

4.Faktor pameran kesenian Indonesia di Malaysia yang secara tidak sengaja


juga ikut mengajarkan kebudayaan Indonesia secara terperinci kepada
masyarakat Malaysia yang tertarik kepada kebudayaan negara Indonesia.
5.Keminiman budaya asli negara Malaysia.
6.Kesamaan ciri khas kebudayaan Indonesia dengan Malaysia dari faktor
kesamaan alat musik nada sebuah lagu, serta adat budaya tersebut.
7.Kebudayaan tradisional yang notabene telah berabad-abad ada dan tidak
adanya saksi hidup pencipta kebudayaan tersebut
(ex : lagu daerah memang tanpa pencipta).
8.Budayawan kita yang kurang mengerti akan kebudayaan sendiri , namun
budayawan Malaysia mengerti dan paham akan seluk beluk kebudayaan
negara Indonesia (khususnya melayu).

9.Penyampaian budaya sendiri (minimal: khusus daerah Jawa


Tengah mengerti akan budaya Jawa Tengah) yang kurang tetapi
penyampaian info di kancah Internasional lebih luas dan
terperinci.
10.Kesamaan ras yang mungkin mengakibatkan adanya ideologi
bahwa Indonesia dan Malaysia itu satu di mata orang-orang
Malaysia jadi kepemilikan budaya pun bisa di samakan.
11.Faktor awal lahirnya negara Indonesia dengan Malaysia,
Malaysia beranggapan bahwa antara Malaysia dengan
Indonesia itu lebih tua Malaysia.

Studi Kasus Identitas Nasional - Pengklaiman


Batik Indonesia oleh Malaysia

Batik secara historis berasal dari zaman nenek moyang yang dikenal sejak
abad XVII yang ditulis dan dilukis pada daun lontar. Saat itu motif atau pola
batik masih didominasi dengan bentuk binatang dan tanaman.
Namun dalam sejarah perkembangannya batik mengalami perkembangan,
yaitu dari corak-corak lukisan binatang dan tanaman lambat laun beralih pada
motif abstrak yang menyerupai awan, relief candi, wayang beber dan
sebagainya. Selanjutnya melalui penggabungan corak lukisan dengan seni
dekorasi pakaian, muncul seni batik tulis seperti yang kita kenal sekarang.

Batik Indonesia sebenarnya sudah dikenal bangsa lain sejak zaman


Kerajaan Jenggala, Airlangga, dan Majapahit, namun saat itu bahan
utamanya didatangkan dari China. Penyebabnya, kain sebagai bahan
dasar membatik sulit diperoleh di Indonesia. Untuk itu, batik memang
harus diklaim sebagai warisan bangsa Indonesia dan bukan negara lain
yang mengaku-aku. Kita sebagai bangsa Indonesia seharusnya merasa
bangga, karena batik yang merupakan warisan nenek moyang bangsa
Indonesia bisa memperoleh pengakuan internasional.

Kepemilikan batik sebagai warisan budaya tak berbenda,


menggelinding

setelah

Malaysia

mengklaim

sebagai

warisan nenek moyangnya. Untuk mengakhiri polemik,


Pemerintah Indonesia akhirnya mendaftarkan batik ke
UNESCO untuk mendapatkan pengakuan.

3 September 2008 sebagai titik awal proses Nominasi Batik Indonesia ke


UNESCO. Namun baru diterima secara resmi oleh UNESCO pada 9
Januari 2009.

Pengakuan UNESCO terhadap budaya batik, merupakan proses panjang


yang melalui pengujian dan sidang tertutup.

UNESCO kemudian melakukan sidang tertutup dan pengujian pada


tanggal 11-14 Mei 2009 dihadapan enam negara di Paris. Hasilnya, 2
Oktober 2009, UNESCO mengukuhkan batik sebagai warisan budaya
Indonesia. Malaysia tak berhak lagi mengkalaimnya.

Pelestarian

budaya

sebagai

upaya

untuk

mengembangkan Identitas Nasional kita telah


ditegaskan

sebagai

komitmen

konstitusional

sebagaimana dirumuskan oleh para pendiri negara


kita dalam Pembukaan, khususnya dalam Pasal 32
UUD 1945 beserta penjelasannya, yaitu :

Pemerintah memajukan Kebudayan Nasional Indonesia yang


diberi penjelasan :
Kebudayan bangsa ialah kebudayaan yang timbul sebagai buah usaha
budaya rakyat Indonesia seluruhnya. Kebudayaan lama dan asli terdapat
ebagi puncak-puncak kebudayaan di daerah-daerah seluruh Indonesia,
terhitung sebagai kebudayaan bangsa. Usaha kebudayaan harus menuju ke
arah kemajuan adab, budaya dan persatuan dengan tidak menolak bahanbahan baru dari kebudayaan asing yang dapat memperkembangkan atau
memperkaya kebudayaan bangsa sendiri serta mempertinggi derajat
kemanusiaan bangsa Indonesia

Dalam UUD 1945 yang diamandemen dalam satu


naskah disebutkan dalam Pasal 32
1. Negara memajukan kebudayan Nasional Indonesia di
tengah peradaban dunia dengan menjamin kebebasan
masyarakat dalam memeliharra dan mengembangkan nilainilai budaya.
2. Negara menghormati dan memelihara bahasa daerah
sebagai kekayaan budaya nasional.

Solusi atas Pengklaiman Batik Indonesia oleh


Malaysia
Masyarakat dan pemerintah Indonesia harus menjaga dan melestarikan kebudayaan yang
ada di Indonesia. Untuk mempertahankan budaya

kita, bangsa Indonesia telah

mengaturnya dalam UUD 1945 amandemen ke empat, pasal 32 yg terdiri dari 2 ayat.
Pemerintah Indonesia tidak boleh lagi menutup matanya dan diam saja melihat
kebudayaannya diakui oleh Negara lain.
Pemerintah Indonesia perlu mengintenskan hubungan diplomatik sebagai komunikasi
politik dengan Malaysia untuk membahas masalah kebudayaan ini agar tidak ada lagi
kesalahpahaman dan konflik antara Indonesia dan Malaysia yang berada dalam satu
regional Asia Tenggara dan ASEAN ini.

Daftar Pustaka
Siswomihardjo, Koento Wibisono. 2005. Identitas Nasional
Aktualisasi Pengembangnnya Melalui Revitalisasi Pancasila.
Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi.