Anda di halaman 1dari 10

Meneladani sifat

Aisyah binti abubakar.ra

Aisah adalah seorang wanita yang suka


kebenaran, putri dari seorang laki-laki yang
suka kebenaran, yaitu Khalifah Abu Bakar dari
suku Quraisy At-Taimiyyah di Makkah, ibunda
kaum mukmin, istri pemimpin seluruh manusia
nabi muhammad s.a.w

1.Meneladani perilaku aisah


Sebagai istri Nabi
Muhammad.saw

Dalam kehidupan Ia adalah sebaik-baik istri dalam


bersikapberumah tangga, 'Aisyah merupakan guru bagi
setiap wanita.ia ramah kepada suami,senantiasa
menghibur hati Nabi Muhammad.
'Aseorang istri yang paling berjiwa mulia, dermawan, dan
sabar dalam mengarungi kehidupan bersama Rasulullah
Sholallahu alaihi wasallam yang serba kekurangan, hingga
pernah dalam jangka waktu yang lama di dapurnya tidak
terlihat adanya api untuk pemanggangan roti atau
keperluan masak lainnya. Selama itu mereka hanya makan
kurma dan minum air putihisyah adalah

Ketika Nabi Muhammad sakit 'Aisyah dengan setia


menjaga dan merawat beliau. Bahkan saking
cintanya, sakit yang diderita Nabi itu rela 'Aisyah
tebus dengan dirinya kalau memang hal itu
memungkinkan. 'Aisyah berkata: "Aku rela
menjadikan diriku, ayahku, dan ibuku sebagai
tebusanmu, wahai Rasulullah." Tak lama kemudian
Rasul pun wafat di atas pangkuan 'Aisyah.

Candaan rasullah dan aisah

Suatu hari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berlomba


lari dengan Aisyah dan Aisyah menang. Aisyah bercerita,
Nabi shallallahu alaihi wa sallam berlari dan
mendahuluiku (namun aku mengejarnya) hingga aku
mendahuluinya. Tetapi, tatkala badanku gemuk, Nabi
shallallahu alaihi wa sallam mengajak lomba lari lagi
namun beliau mendahului, kemudian beliau mengatakan,
Wahai Aisyah, ini adalah balasan atas kekalahanku yang
dahulu. (HR. Thabrani dalam Mujamul Kabir 23/47), lihat
Al-Misykah (2.238

))

Kisah cemburu aisyah


Pada kisah lain, suatu hari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pulang ke
rumah Aisyah radhiallahu anha seusai mengiringi jenazah ke kuburan Baqi.
Kala itu Aisyah sedang mengeluhkan rasa pening di kepalanya, sehingga
Aisyah berkata kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam: aduh,
peningnya kepalaku. Namun ternyata Rasulullah shallallahu alaihi wa
sallamjuga mengeluhkan hal yang sama dan bersabda: aku juga merasakan
pening di kepalaku.
Selanjutnya beliau seakan ingin mencairkan suasana, dan mencandai istrinya
dengan bersaba:

Apa salahnya bila engkau meninggal duluan sebelumku, maka aku sendirilah
yang akan memandikanmu, lalu mengkafanimu, selanjutkan menyolatimu,
dan aku pula yang akan menguburkanmu.
Mendengar candaan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam ini, Aisyah berkata:

Sungguh aku mengira, bila hal itu terjadi, maka aku sudah bisa bayangkan
bahwa sepulangmu ke rumahku dari menguburkanku niscaya engkau segera
bersenang senang dengan sebagian istrimu yang lainnya di rumahku ini

Ketika kaum muslim telah menguasai berbagai pelosok negeri


dan kekayaan datang melimpah, 'Aisyah pernah diberi uang
seratus ribu dirham. Uang itu langsung ia bagikan kepada orangorang hingga tak tersisa sekeping pun di tangannya, padahal
pada waktu itu di rumahnya tidak ada apa-apa dan saat itu ia
sedang berpuasa. Salah seorang pelayannya berkata: "Alangkah
baiknya kalau engkau membeli sekerat daging meskipun satu
dirham saja untuk berbuka puasa!" Ia menjawab: "Seandainya
engkau katakan hal itu dari tadi, niscaya aku melakukannya
Dia adalah wanita yang tidak disengsarakan oleh kemiskinan dan
tidak dilalaikan oleh kekayaan. Ia selalu menjaga kemuliaan
dirinya, sehingga dunia dalam pandangannya adalah rendah
nilainya. Datang dan perginya dunia tidaklah dihiraukannya

Dia adalah sebaik-baik istri yang amat memperhatikan dan memanfaatkan


pertemuan langsung dengan Rasulullah Sholallahu alaihi wasallam, sehingga
dia menguasai berbagai ilmu dan memiliki kefasihan berbicara yang
menjadikan dirinya sebagai guru para shahabat dan sebagai rujukan untuk
memahami Hadits, sunnah, dan fiqih. Az-Zuhri berkata: "Seandainya ilmu
semua wanita disatukan, lalu dibandingkan dengan ilmu 'Aisyah, tentulah
ilmu 'Aisyah lebih utama daripada ilmu mereka."1
Hisyam bin 'Urwah meriwayatkan dari ayahnya, ia berkata: "Sungguh aku
telah banyak belajar dari 'Aisyah. Belum pernah aku melihat seorang pun
yang lebih pandai daripada 'Aisyah tentang ayat-ayat Al-Qur'an yang sudah
diturunkan, hukum fardhu dan sunnah, syair, permasalahan yang ditanyakan
kepadanya, hari-hari yang digunakan di tanah Arab, nasab, hukum, serta
pengobatan. Aku bertanya kepadanya: 'Wahai bibi, dari manakah engkau
mengetahui ilmu pengobatan?' 'Aisyah menjawab: 'Aku sakit, lalu aku diobati
dengan sesuatu; ada orang lain sakit juga diobati dengan sesuatu; dan aku
juga mendengar orang banyak, sebagian mereka mengobati sebagian yang
lain, sehingga aku mengetahui dan menghafalnya. "'2

Pribadi yang Tegas dalam Menegakkan Hukum Allah


Aisyah juga dikenal sebagai pribadi yang tegas dalam mengambil sikap. Hal ini
terlihat dalam penegakan hukum Allah, Aisyah langsung menegur perempuanperempuan muslim yang melanggar hukum Allah. Suatu ketika dia mendengar
bahwa kaum wanita dari Hamash di Syam mandi di tempat pemandian umum.
Aisyah mendatangi mereka dan berkata, Aku mendengar Rasulullah Shallallahu
alaihi wassalam. bersabda, Perempuan yang menanggalkan pakaiannya di
rumah selain rumah suaminya maka dia telah membuka tabir penutup antara dia
dengan Tuhannya. (HR. Ahmad, Abu Daud, dan Ibnu Majah). Aisyah pun pernah
menyaksikan adanya perubahan pada pakaian yang dikenakan wanita-wanita
Islam setelah Rasulullah wafat. Aisyah menentang perubahan tersebut seraya
berkata, Seandainya Rasulullah melihat apa yang terjadi pada wanita (masa
kini), niscaya beliau akan melarang mereka memasuki masjid sebagaimana
wanita Israel dilarang memasuki tempat ibadah mereka.
Di dalam Thabaqat Ibnu Saad mengatakan bahwa Hafshah binti Abdirrahman
menemui Ummul-Mukminin Aisyah . Ketika itu Hafsyah mengenakan kerudung
tipis. Secepat kilat Aisyah menarik kerudung tersebut dan menggantinya dengan
kerudung yang teba