Anda di halaman 1dari 15

REPRODUKSI SOSIAL

KOMUNITAS PEDESAAN DALAM


KEMISKINAN
DI DESA TOSALE KECAMATAN BANAWA
SELATAN
KABUPATEN DONGGALA

Oleh:

RAMDI BAEBAE
Nomor Stambuk : C 202 14 048

SELAYANG PANDANG

KEMISKINAN

KEMISKINAN INDONESIA
Garis Kemiskinan, Jumlah, dan Presentase
Penduduk Miskin
2010-2013
Garis Kemiskinan
(Rp)
Kota
Desa

Penduduk Miskin
(Jt)
Kota
Desa

% Penduduk
Miskin
Kota
Desa

2010
2011

232,989
253,016

192,354
213,395

11,10
11,05

19,93
18,97

9,87
9,23

16,56
15,72

2012

267,408

229,226

10,65

18,97

8,78

15,12

2013

289,042

253,273

10,33

17,74

8,39

14,32

Tahun

umber: Statistik Indonesia, BPS 2013 (Katalog BPS: 3101015).

KEMISKINAN SULAWESI
TENGAH
Komposisi Penduduk Miskin Menurut Perkotaan dan Pedesaan
Provinsi Sulawesi Tengah 2012

Sumber: Publikasi BPS

KEMISKINAN KAB.DONGGALA
PROSENTASE PENDUDUK MISKIN
BERDASARKAN KECAMATAN
88.26%

33.09% 34.21%

27.36%
23.00%
20.37% 19.35% 19.56% 17.20%
14.39%
12.14%
8.16%
6.30% 4.59%
6.18%
3.26% 0.66%

Bappeda dan PM Kab. Donggala

LATAR BELAKANG
Tingkat kemiskinan yang tinggi di daerah pedesaan membuat peneliti tertarik
untuk melakukan penelitian terkait reproduksi sosial komunitas pedesaan dalam
kemiskinan di Desa Tosale Kecamatan Banawa Selatan Kabupaten Donggala.
Donggala yang merupakan satu dari 11 (sebelas) kabupaten di Provinsi
Sulawesi Tengah merupakan kabupaten kedua yang memiliki jumlah penduduk
miskin terbanyak yakni 127,958 ribu jiwa, setelah Parigi Moutong yang jumlah
penduduk miskinnya mencapai 185,626 ribu jiwa. Berdasarkan posisi kedua
tersebut peneliti coba terus mengaitkannya dengan menetapkan Desa Tosale
Kecamatan Banawa Selatan sebagai lokasi penelitian, karena Desa Tosale
merupakan desa kedua yang memiliki jumlah penduduk miskin terbanyak setelah
Desa Tolongano dengan penduduk miskin sebanyak 273 Kepala Keluarga (KK) di
Kecamatan Banawa Selatan yang juga merupakan kecamatan kedua termiskin
setelah Kecamatan Pinembani di Kabupaten Donggala dengan penduduk miskin
sebanyak 34,21 %. (Data TNP2K, Bappeda dan PM Kabupaten Donggala, 2012).

Selain itu ketertarikan peneliti karena berdasarkan data Badan Pusat


Statistik (BPS) tahun 2012, Provinsi Sulawesi Tengah yang pada tahun 2010
tingkat kemiskinan di wilayah pedesaan tercatat sebanyak 420,77 ribu jiwa
atau 20,26 % mengalami perkembangan yang signifikan karena dapat
mengurangi tingkat kemiskinan yang ada diwilayah pedesaan selama dua
tahun berturut-turut dimana pada tahun 2011 berkurang sebanyak 59,03 ribu
jiwa atau 2,37 % dan tahun 2012 berkurang lagi sebanyak 4,27 ribu jiwa
atau 0,5 % dari jumlah penduduk miskin pada tahun 2010. Hal tersebut
menandakan bahwa ada upaya reproduksi sosial yang dilakukan
masyarakat pedesaan untuk keluar dari masalah kemiskinan.
Reproduksi sosial dalam hal ini merujuk pada aktivitas dan sikap,
perilaku dan emosi, tanggung jawab dan hubungan sosial secara langsung
dalam pemeliharaan kehidupan setiap harinya untuk bertahan hidup.

Dalam prosesnya reproduksi sosial menggunakan struktur sosial dan hubungan


sosial seluruh masyarakat dari waktu ke waktu yang menjadi ciri dari masyarakat
sebagai alat untuk melakukan perubahan, salah satu contohnya yakni tradisi
gotong-royong yang masih dipegang erat oleh masyarakat pedesaan.
Reproduksi sosial memiliki pola yang sama seperti pemberdayaan, keduanya
melibatkan masyarakat (partisipatif) dalam pelaksanaannya. Hal ini dimaksudkan
agar masyarakat dengan segala potensi dan insiatif yang dimiliki mampu mengkaji
masalah/kebutuhannya sendiri, untuk kemudian mencari solusi keluar dari masalah
yang mereka hadapi. Keinginan masyarakat ini, kadang sukar untuk dilakukan
tanpa ada yang memfasilitasinya. Maka dengan adanya kegiatan reproduksi sosial
diharapkan dapat mewujudkan keinginan masyarakat tersebut dalam mengambil
keputusan, merespon berbagai permasalahan serta mampu memenuhi kebutuhan
hidupnya secara mandiri dan berkelanjutan sesuai dengan bidang penanganannya
yakni dalam bidang pendidikan, kesehatan, gender dan ekonomi, itu lebih
terhormat dibanding terus mengharapkan bantuan dari pemerintah.

RUMUSAN MASALAH
1)
2)
3)

Bagaimana gambaran karakteristik informan dan


komunitas pedesaan di Desa Tosale ?
Bagaimana reproduksi sosial dalam kemiskinan di
Desa Tosale ?
Bagaimana keadaan masyarakat sebelum & setelah
melakukan upaya penanggulangan kemiskinan melalui
reproduksi sosial ?

TUJUAN PENELITIAN
1) Mengetahui tentang karakteristik informan dan komunitas
pedesaan di Desa Tosale.
2) Mengetahui tentang reproduksi sosial dalam kemiskinan
dilihat dari aspek pendidikan, kesehatan, gender, dan
ekonomi di Desa Tosale.
3) Mengetahui keadaan masyarakat sebelum & sesudah
melakukan upaya penanggulangan kemiskinan melalui
reproduksi sosial.

KAJIAN PUSTAKA

Tinjauan tentang reproduksi sosial


Tinjauan tentang modal sosial
Tinjauan tentang desa
Tinjauan tentang kemiskinan
Relevansi reproduksi sosial dalam kemiskinan
komunitas pedesaan dikaitkan dengan modal
sosial

KERANGKA PIKIR
Masyarakat Miskin
Di Desa Tosale Kec. Banawa Selatan
Kab. Donggala

Keadaan
Sebelum

Program-Program Penanggulangan
Kemiskinan, melalui:
Pendidikan
Kesehatan
Ekonomi
Gender

Modal Sosial

REPRODUKSI SOSIAL

KELUAR DARI KEMISKINAN

Keadaan
Sesudah

METODE PENELITIAN
Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis upaya Reproduksi Sosial
Komunitas Pedesaan dalam Kemiskinan di Desa Tosale Kec. Banawa
Selatan Kab. Donggala
Responden dalam penelitian ini adalah Rumah Tangga Miskin di Desa
Tosale Kec. Banawa Selatan Kab. Donggala. Ditambahkan dengan
responden dari Institusi Pemerintahan yang terlibat aktif keseharian
masyarakat.
Metode dan cara pengumpulan data berdasarkan observasi lapangan,
dokumenter, wawancara, dan kuesioner. Data ordinal dari hasil kuesioner
yang diperoleh, terlebih dahulu ditransformasi menjadi data interval untuk
memenuhi syarat analisis parametrik dengan menggunakan metode Analisis
Teori Praktik dengan FDG. Selanjutnya dapat dianalisis secara kuantitatif
dengan menggunakan rumus-rumus statistik, dengan bantuan Microsoft
Exel (Lebih Jelas dapat dilihat pada BAB III: METODE PENELITIAN)