Anda di halaman 1dari 22

Perhitungan ketersediaan

bibit

Ternak bibit pengganti adalah ternak yang dipilih untuk


menggantikan tetuanya yang biasanya diambil dari
keturunannya sendiri
Dalam suatu perencanaan seleksi dapat dilakukan
perhitungan jumlah ternak bibit dari suatu peternakan

Perhitungan ini digunakan untuk


memperkirakan produksi
(ketersediaan) bibit yang
dihasilkan maupun kebutuhan akan
bibit sebagai calon pengganti induk
(replacement stock) dari suatu
wilayah
Apabila ketersediaan dan
kebutuhan akan bibit sudah dapat
diperkirakan maka sisanya
merupakan supply (jumlah ternak
yang dapat dikeluarkan dari

Contoh 1
Ranch sapi Hereford t.a 100 jantan dan
4000 induk. Panen pedet 80%/tahun
dengan rasio : adalah 49 : 51 persen
tanpa ada kematian. Lama penggunaan ternak
jantan maupun betina sama 5 tahun. Umur ternak
jantan maupun betina mempunyai anak pertama
sama-sama 3 tahun. Hitung ternak yang dapat
dikeluarkan dari populasi menurut umur dan jenis
kelamin

Komposisi ternak menurut umur dan


jenis kelamin
Jenis
kelamin

Jumlah ternak /kelompok umur

Jumlah

Induk

800

800

800

800

800

4000

Pejanta
n

20

20

20

20

20

100

Jadi jumlah ternak terpilih


untuk menggantikan induk =
jumlah ternak afkir yaitu 800
ekor/tahun, demikian pula
untuk pejantan jumlah afkir
dan pengganti sama yaitu 20
ekor

Panen pedet/tahun : 80% x 4000 = 3200


ekor
pedet jantan : 49% x 3200 = 1568 ekor
pedet betina : 51% x 3200 = 1632 ekor
Ternak afkir :
ternak jantan:
muda (3 thn) : 1568 20 = 1548 ekor
tua (7 thn): 20 ekor
ternak betina :
muda (3 thn) : 1632 800 = 832 ekor
tua (7thn) : 800 ekor

Misalnya :
Ada kematian sapi dewasa/tahun 2%
dan kemajiran induk 3%
Jenis
kelamin

Jumlah ternak /kelompok umur


3

Jumlah
7

Induk

4000

Pejanta
n

100

Kematian dewasa : 2%
Kemajiran induk : 3%
Jadi jumlah ternak yang tidak dapat
berproduksi jantan 2% dan betina 5%
sehingga dalam komposisi ternak
maka kelompok umur muda harus
yang terbanyak kemudian menurun
sebanyak % kematian dan kemajiran
dan akhirnya terrendah pada
kelompok umur tertua

Cara membuat dugaan


1. Cari rataan jumlah ternak setiap
kelompok umur dan jumlah ini diletakkan
pada kelompok umur tengah
Jenis
kelamin

Jumlah ternak /kelompok umur


3

Jumlah
7

Induk

800

4000

Pejanta
n

20

100

2. Tambah sebesar angka kematian dan


atau kemajiran pada setiap kelompok
yang lebih muda sebaliknya kurangi
pada kelompok umur yang lebih tua
Untuk induk 5%
4 tahun = 800 + (5% x 800) =
840
3 tahun = 840 + (5% x 840) =
882
6 tahun = 800 (5% x 800) =
760
7 tahun = 760 (5% x 760) =

3. Menghitung kembali pengurangan


jumlah ternak sebanyak sebesar angka
kematian dan kemajiran pada pada
setiap kelompok umur yang lebih tua
Untuk induk 5%
3 tahun = 882
4 tahun = 882 (5% x 882) =
838
5 tahun = 838 ( 5% x 838) =
796
6 tahun = 796 (5% x 796) =
756

4. Menjumlahkan hasil tahap (3). Hasilnya


harus sama dengan total ternak yang
ada, apabila lebih dilakukan
pengurangan secara proporsional pada
pada setiap kelompok umur, demikian
sebaliknya bila kurang dilakukan
penambahan secara proporsional
disetiap kelompok umur
Hasil penjumlahan = 3990, jadi ada
kekurangan sebanyak 10 ekor, secara
proporsionak kekurangan ini
ditambahkan pada setiap kelompok
umur 2 ekor

Jenis
kelamin

Jumlah ternak /kelompok umur

Jumlah

Induk

884

840

798

758

720

4000

Pejanta
n

22

21

20

19

18

100

Panen pedet/tahun : 80% x 4000 = 3200


ekor
pedet jantan : 49% x 3200 = 1568 ekor
pedet betina : 51% x 3200 = 1632 ekor
Ternak afkir :
ternak jantan:
muda (3 thn) : 1568 22 = 1546 ekor
tua (7 thn): 18 ekor
ternak betina :
muda (3 thn) : 1632 884 = 748 ekor
tua (7thn) : 720 ekor

Bagaimana menentukan jumlah


ternak pengganti pada suatu wilayah
yang struktur populasinya tidak
direncanakan
sebelumnya???

Informasi yang harus diketahui:


a. Lama penggunaan dalam
pembiakan
b. jumlah induk
c. Angka kematian dan kemajiran
d. Natural increase
e. Populasi ternak
f. Rasio kelahiran
g. Umur beranak pertama
h. Sistem perkawinan
i. Perencanaan pengembangan
ternak
j. Syarat-syarat eksterior ternak bibit

Hasil survey Dania dkk (1995) di NTB


Jumlah betina dewasa : 42,34%, jantan
14,725
Natural increase dari populasi = 17,42%
Rataan kematian = 2,8%
Kemajiran betina 0,23%, jantan kebiri
=0,75%
Rasio kelahiran 44,15 : 55,85
Perkawinan secara alami
Penggunaan dalam pembiakan: betina =
6 tahun dan jantan =3 tahun
Umur beranak pertama jantan maupun
betina 3-4 tahun

Betina dewasa: 42,34%, digunakan selama 6


tahun = 7,05 %
% kematian dan kemajiran = 3,03
5-6 tahun = 7,05% + (1/2 x 3,05% x
7,05%) = 7.16%
4-5 tahun = 7,16% + ( 3,05% x 7,16%)
=7,37%
3-4 tahun = 7,37% + (3,05% x 7,37%) =
7,59%
6-7 tahun = 7,16% - ( 3,05% x 7,16%) =
6,94%
7-8 tahun = 6,94% - ( 3,05% x 6,94%) =
6,73%

Jenis
kelami
n

% ternak menurut klmpk umur (tahun)

Jumlah
(%)

3-4

4-5

5-6

6-7

7-8

8-9

Betina

7,60

7,37

7,16

6,94

6,73

6,54

Jantan

5,08

4,91

4,73

42,34
14, 72

Dari dugaan di atas maka


kebutuhan ternak pengganti
untuk induk sebanyak 7,60 %
untuk pejantan sebanyak 5,05%
Dugaan ketersediaan ternak
betina = 17,42 x 55,85% =
9,73%
jantan = 17,42 x 44,15% =
7,69%
Kelebihan ternak
betina = (9,73 7,60)% =
2,13%
jantan = (7,69 5,08)% =
2,61%

Pada tahun 1994/1995 populasi kerbau di


NTB 190263 unit ternak sehingga ada
kelebihan
calon induk 2,13% x 190263UT= 4052,60UT
calon pejantan 2,61% x 190263UT=
4965,86UT