Anda di halaman 1dari 31

Laporan Kasus RSUD Talang Ubi

dr. Silvia Lyra Ramadati

Pendamping:
dr. Nunik Yuniati
Pembimbing:
dr. Henry Aziz, SpA

Nama
Usia
Jenis Kelamin
Berat Badan
Suku Bangsa
Agama
Alamat
MRS

:
:
:
:
:
:
:
:

An. S
4,5 Tahun
Perempuan
15 kg
Sumatera Selatan
Islam
Jirak
15 juli 2016

ANAMNESIS
Keluhan utama:

Bengkak di wajah, sekitar mata dan seluruh tubuh yang dirasakan


sejak
2 hari SMRS.
Berobat ke
IGD RSUD
Talang Ubi
1 minggu SMRS
Os demam yang tidak
terlalu tinggi, batuk,
pilek, Nyeri kepala dan
nyeri pada waktu
menelan serta keluar
bercak-bercak merah
bentol seluruh tubuh.
berobat ke puskesmas
diberikan syrup
(dexamethason + ctm)
dan mengalami
perbaikan.

2 hari SMRS
bengkak di wajah, sekitar
mata dan seluruh tubuh.
Bengkak dirasakan berat
saat pagi hari saat
bangun tidur dan tampak
agak berkurang saat
siang hari. buang air kecil
terlihat seperti cucian
daging (+), berwarna
merah. Jumlah BAK
sedikit 2-3 kali sehari,

1 hari SMRS
air kecing
sudah tidak
merah lagi, dan
berwarna
kuning keruh.
os tidak
merasakan
adanya sakit di
sekitar
pinggang atau

Riwayat Penyakit Dahulu


Pasien tidak pernah mengalami penyakit serupa sebelumnya. Tidak

pernah bengkak dan kencing merah.

Riwayat Penyakit Dalam Keluarga


Riwayat penyakit dalam keluarga serupa (-), dalam keluarga tidak
ada anggota keluarga yang menderita penyakit ginjal.

Riwayat Alergi, Operasi dan


Pengobatan
Pasien tidak memiliki riwayat alergi obat, atau alergi makanan.
Pasien tidak pernah menjalani operasi.

Riwayat Kelahiran (Birth


History)
Pasien lahir dengan persalinan normal, ditolong oleh bidan. Berat badan lahir 3000 gram, ibu pasien

lupa panjang badan pasien ketika lahir. Ketika lahir langsung menangis, ibu mengaku tidak ada
kelainan saat setelah bersalin

Riwayat kehamilan
Kontrol rutin sebulan sekali ke bidan dekat rumah. Riwayat
ibu demam (-), hipertensi (-), diabetes melitus (-), anemia (-).

Riwayat imunisasi
Pasien mendapat imunisasi dasar lengkap sesuai dengan
jadwal. Imunisasi dilakukan di puskesmas dekat rumah.

(15 juli 2016)


Status Generalikus

KU
Kesadaran
Berat badan
Nadi
Pernapasan
Suhu

: Tampak sakit sedang


: compos mentis
: 15 kg
: 92 x/menit
: 22 x/menit
: 36,8oC

Keadaan Spesifik

Mata

: Pupil bulat isokor, refleks cahaya (+/+), konjungtiva anemis (-),


sklera ikterik (-), edema periorbita (+/+)

Edema
Periorbita

Leher : KGB tidak teraba membesar, kaku kuduk (-)


Thorax : Bentuk gerak simetris kiri-kanan, retraksi intercostal (-), bunyi
pernapasan vesikuler, rhonki (-/-), wheezing (-/-), bunyi jantung
I dan II normal, murmur (-), gallop (-)
Abd
: Datar, lemas, bising usus (+) normal, nyeri tekan (-), hepar dan
lien tidak teraba, shifting dullness (-)
Eks
: Akral hangat , CRT < 2 detik, oedem palmaris(-/-) pretibia (+/+)

Lab Darah Tanggal 15 juli 2016


Parameter
HB

Hasil
13,0 g/dL

Nilai Normal
12-14 g/dL

Interpretasi
Normal

38 %

37-47 %

Normal

Leukosit

16.700 /mm3

4000-10000/mm3

Meningkat

Trombosit

358.000 /mm2

150.000-400.000/mm2

Normal

Diff count

1/0/0/78/20/1

1-3/0-1/2-6/50-70/20-40/2-8

normal

HT

KIMIA KLINIK
Prot. Total

7,10 g/dL

6,3-7,8 g/dL

Normal

Albumin

4,4 g/dL

3,8-5,1 g/dL

Normal

Globulin

2,7 d/gL

2,5-4,0 g/dL

Normal

Lab Urine Lengkap Tanggal 15 juli 2016


Parameter
Warna

Hasil
Kuning

Nilai Normal
Kuning

Interpretasi
Normal

Agak keruh

Jernih

Abnormal

6.0

5-8

Normal

1030

1000-1020

Meningkat

Protein

Positif

Negatif

Abnormal

Glukosa

Negatif

Negatif

Normal

Keton

Negatif

Negatif

Normal

Urobilinogen

Negatif

Negatif

Normal

Bilirubin

Negatif

Negatif

Normal

Eritrosit

Negatif

Negatif

Normal

Leukosit

Negatif

Negatif

Normal

Nitrit

Negatif

Negatif

Normal

Kejernihan
pH
Berat Jenis

MIKROSKOPIS
Eritrosit

14-15/LPB

<2

Abnormal

Leukosit

2-3/ LPB

<5

Normal

Silinder

Negatif

Negatif

Normal

Gepeng +

Gepeng +

Normal

Epitel

Diagnosis Kerja
Glomerulonefritis akut pasca streptococus

Penatalaksanaan

Os menolak MRS
Captopril 12,5 mg 3 x 1/2 tab
Cefixime syr 2 x 1 cth
Furosemide 2 x 20 mg

Glomerulonefritis akut paska-streptokokus (GNAPS)

adalah suatu bentuk peradangan glomerulus yang secara


histopatologi menunjukkan proliferasi & Inflamasi
glomeruli yang didahului oleh infeksi group A hemolytic streptococci (GABHS) dan ditandai dengan
gejala nefritik seperti hematuria, edema, hipertensi,
oliguria yang terjadi secara akut

Sindrom nefritik akut (SNA): suatu kumpulan gejala

klinik berupa proteinuria, hematuria, azotemia, red blood


cast, oliguria & hipertensi (PHAROH) yang terjadi secara
akut

tersering pada golongan umur 6 - 15 tahun


laki laki:perempuan = 2:1

Penelitian
multisenter
di
Indonesia
menunjukkan bahwa infeksi melalui ISPA
terdapat pada 45,8% kasus sedangkan
melalui kulit sebesar 31,6%.

Streptokokus beta hemolitikus grup A tipe M

1, 3, 4, 12, 25, 49 ISPA (75%)


M 2, 49, 55, 57 dan 60 infeksi kulit (1015%)

GEJALA KLINIK
PERIODE LATEN
EDEMA
HEMATURIA
HIPERTENSI
OLIGURIA
EDEMA PARU
GEJALA-GEJALA LAIN

PATOGENESIS
Nephritis associated plasmin receptor (NAPr)

NAPr dapat diisolasi dari streptokokus grup A yang


terikat dengan plasmin. Antigen nefritogenik ini dapat
ditemukan pada jaringan hasil biopsi ginjal pada fase
dini penderita GNAPS. Ikatan dengan plasmin ini dapat
meningkatkan proses inflamasi yang pada gilirannya
dapat merusak membran basalis glomerulus.
Streptococcal pyrogenic exotoxin B (SPEB).

SPEB merupakan antigen nefritogenik yang dijumpai


bersama sama dengan IgG komplemen (C3) sebagai
electron dense deposit subepithelial yang dikenal
sebagai HUMPS

PATOGENESIS
Proses Imunologik yang terjadi dapat melalui :
Soluble Antigen-Antibody Complex
Kompleks imun terjadi dalam sirkulasi NAPr sebagai
antigen dan antibodi anti NAPr larut dalam darah dan
mengendap pada glomerulus.
Insitu Formation :

Kompleks imun terjadi di glomerulus (insitu formation),


karena antigen nefritogenik tersebut bersifat sebagai
planted antigen. Teori insitu formation lebih berarti
secara klinik oleh karena makin banyak HUMPS yang
terjadi makin lebih sering terjadi proteinuria masif
dengan prognosis buruk

DAERAH INFEKSI: SALURAN NAFAS ATAS,


TERMASUK TELINGA TENGAH, ATAU KULIT
PEMBENTUKAN KOMPLEKS IMUN
BERSIKULASI
DAN PEMBENTUKAN KOMPLEKS IMUN IN SITU
GLOMERULONEFRITIS

urin (dengan urinalisis)

a.

Makroskopik

Jumlah urin berkurang


Berat jenis meninggi
Hematuria makroskopik
Proteinuria (+1 sampai +4)
Eritrosit
Leukosit

b. Mikroskopik

Kelainan sediment urin dengan

dismorfik

Eritrosit

Silinder eritrosit
Granuler

Darah
reaksi serologis:
antistreptolisin O (ASO),
antihialuronidase (AH ase),

antideoksiribonuklease (AD Nase-B)


Aktivitas komplemen : kadar C3
LED : meningkat pd fase akut dan menurun

setelah gejala klinik menghilang

DIAGNOSIS
Secara

klinik diagnosis GNAPS dapat ditegakkan bila


dijumpai full blown case dengan gejala-gejala hematuria,
hipertensi, edema, oliguria yang merupakan gejala-gejala
khas GNAPS.

Untuk menunjang diagnosis klinik, dilakukan pemeriksaan

laboratorium berupa ASTO (meningkat) & C3(menurun) dan


pemeriksaan lain berupa adanya torak eritrosit, hematuria &
proteinuria.
Diagnosis

pasti ditegakkan bila


streptokokus hemolitikus grup A.

Pada

biakan

positif

untuk

GNAPS asimtomatik, diagnosis berdasarkan atas


kelainan sedimen urin (hematuria mikroskopik), proteinuria
dan adanya epidemi/kontak dengan penderita GNAPS.

DIAGNOSIS BANDING
penyakit sistemik (purpura henoch-

schoenlein, eritematosus, endokarditis


bakterial subakut)
Penyakit ginjal
glomerulonefritis kronik eksaserbasi akut
penyakit ginjal dengan manifestasi hematuria

(Nefritis herediter/ sindrom alport, IgA-IgG


nefropati/ maladie de berger, dan benign
recurrent haematuria)
rapidly progressive glomerulonefritis (RPGN)

KOMPLIKASI
Ensefalopati hipertensi (EH).

EH adalah hipertensi berat (hipertensi emergensi) yang


pada anak > 6 tahun dapat melewati tekanan darah
180/120 mmHg. EH dapat diatasi dengan memberikan
nifedipin (0,25 0,5 mg/kgbb/dosis) secara oral atau
sublingual pada anak dengan kesadaran menurun. Bila
tekanan darah belum turun dapat diulangi tiap 15 menit
hingga 3 kali. Penurunan tekanan darah harus dilakukan
secara bertahap. Bila tekanan darah telah turun sampai
25%, seterusnya ditambahkan kaptopril (0,3 2
mg/kgbb/hari) dan dipantau hingga normal.

Gangguan ginjal akut (Acute kidney injury/AKI)

Pengobatan konservatif :
Dilakukan pengaturan diet untuk mencegah

katabolisme dengan memberikan kalori

secukupnya, yaitu 120 kkal/kgbb/hari


Mengatur elektrolit :
Bila terjadi hiponatremia diberi NaCl hipertonik 3%.
Bila terjadi hipokalemia diberikan :
Calcium Gluconas 10% 0,5 ml/kgbb/hari
NaHCO3 7,5% 3 ml/kgbb/hari
K+ exchange resin 1 g/kgbb/hari
Insulin 0,1 unit/kg & 0,5 1 g glukosa 0,5 g/kgbb

Edema paru

Anak biasanya terlihat sesak dan terdengar


ronki nyaring, sehingga sering disangka
sebagai bronkopneumoni.
Posterior leukoencephalopathy syndrome

Merupakan komplikasi yang jarang dan sering


dikacaukan dengan ensefalopati hipertensi,
karena menunjukkan gejala-gejala yang sama
seperti sakit kepala, kejang, halusinasi visual,
tetapi tekanan darah masih normal

1. Istirahat mutlak selama 10-14 hari


2. diet jumlah garam
3. antibiotik ( penisilin atau eritromisin) selama 10

hari diperlukan untuk eradikasi streptokokus.


4. Pada hipertensi ringan dengan istirahat cukup
dan pembatasan cairan yang baik. Pada
hipertensi sedang atau berat tanpa tanda-tanda
serebral
dapat
diberi
kaptopril
(0,3-2
mg/kgbb/hari) atau furosemid (diuretik) atau
kombinasi keduanya.
5. Bila anuria berlangsung lama (5-7 hari), maka
ureum harus dikeluarkan dari dalam darah

INDIKASI RUJUKAN
Gejala-gejala tidak khas untuk GNAPS :

Periode laten pendek


Adanya penyakit ginjal dalam keluarga
Pernah mendapat penyakit ginjal sebelumnya
Usia di bawah 2 tahun atau di atas 12 tahun

Adanya kelainan-kelainan laboratorik yang tidak khas

untuk GNAPS :
- Hematuria makroskopik > 3 bulan
- Hematuria mikroskopik > 12 bulan
- Proteinuria > 6 bulan
- Kadar komplemen C3 tetap rendah > 3 bulan
- Laju Filtrasi Glomerulus < 50% menetap > 4 bulan
- Kadar komplemen C4 rendah, ANCA (+), ANA (+),
anti ds DNA (+) atau anti GBM (+)

Pada anak 85-95% kasus GNAPS sembuh sempurna,


pada orang dewasa 50-75% GNAPS dapat berlangsung

kronis,
baik secara klinik maupun secara histologik atau
laboratorik,

sedangkan

pada

anak

5-10%

kasus

menjadi glomerulonefritis kronik


Walaupun prognosis GNAPS baik, kematian bisa terjadi

terutama dalam fase akut akibat gangguan ginjal akut


(Acute

kidney

injury),

ensefalopati hipertensi

edema

paru

akut

atau