Anda di halaman 1dari 160

1

PENDAHULUAN

Presented By :
Willy Tambunan

Ruang Lingkup:
Himpunan, Hubungan, Fungsi, Kalkulus,
dan Matriks.
Sasaran:
Mahasiswa Program Studi Teknik yang
pada Fakultas Teknik Universitas
Mulawarman
Tujuan :
Mahasiswa diharapkan mampu memahami
konsep-kosep Kalkulus dalam penerapannya pada persoalan keteknikan.
3

Kompetensi:
Mampu menyelesaikan persoalan
keteknikan dengan alat analisis kalkulus.
Literatur
Purcell, 1985. Kalkulus dan geometri
analisis. Edisi ketiga, Erlangga, jakarta

Pendahuluan
1. Rene descartes ( 1596-1650 ) dan Pierre
de Fermat ( 1601-1655 ) , Geometri
analitis
2. Isaac Newton ( 1642-1727 )
mengembangkan kalkulus dalam bidang
fisika dan astronomi
3. Gottfried Wilhelm Leibnez ( 1642-1727 )
lepas dari newton

HIMPUNAN = GUGUS
Silabus:
Definisi, pencatatan dan himpunan khas
Himpunan Bagian
Pengolahan (operasi) himpunan
Hubungan

1. Definisi, pencatatan dan himpunan khas


Himpunan adalah kumpulan dari obyekobyek yg memiliki sifat tertentu. Sifat ini
menjadi penciri yg membuat obyek/unsur
itu termasuk dalam himpunan yang sedang
dibicarakan.
Himpunan dilambangkan : A, B, X, , Z
(kapital)
Obyek atau unsur atau elemen dilambangkan a,b,c, atau 1, 2, 3,
Perhatikan ( tiga titik) dibaca dan seterusnya.
7

Dua cara pencatatan suatu himpunan


a. Cara pendaftaran: P = { 2, 3, 4 }
P = nama himpunan/gugus
tanda kurawal buka dan kurawal tutup
dan menyatakan himpunan
2, 3, 4 = obyek/unsur/elemen
Artinya, himpunan P beranggotakan
bilangan bulat positip: 2, 3, dan 4.
b. Pendefinisian sifat: X = { x / x bil. genap}
X = nama himpunan
x = obyek/unsur/elemen
tanda / dibaca dengan syarat
x bil genap = sifat atau ciri
8

Cara pendefinisian sifat yang lain:


J={x/2 <x<5}
x merupakan unsur
Sifat: bilangan nyata 2 < x < 5, baca himpunan
semua bilangan nyata lebih besar dari 2 dan lebih
kecil dari 5

Himpunan khas:
a. Himpunan Semesta (S) atau Universum (U)
Merupakan himpunan keseluruhan obyek yang
sedang dibicarakan
S = { x / x bilangan ganjil }, berarti semua bil ganjil
b. Himpunan kosong (emty set)
E = { } himpunan kosong atau dicatat dengan

Perhatikan: P = { 2, 3, 4 }
Untuk menyetakan keanggotaan dicatat dengan
Jadi: 2 P
3P
4 P.
Tanda baca unsur atau elemen atau didalam
Sebaliknya, 5, 6 tidak termasuk unsur P
dicatat
5P
6P
Tanda dibaca bukan unsur atau bukan elemen
atau diluar.

10

2. Himpunan bagian
Suatu himpunan A merupakan himpunan bagian
dari himpunan B, jika dan hanya jika setiap
unsur A juga merupakan unsur himpunan B.
A = { 2, 4, 6 };
B = {1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8 }
Dicatat : A B,
baca A himp. bagian B atau A anak gugus dari B
Sebaliknya dicatat: B
A, baca
B mencakup A Tanda
dibaca bukan
himpunan bagian dan tanda
dibaca
tidak/bukan mencakup
Perhatikan: himp. bagian terjadi apabila dari
suatu himp dibentuk himp lain dengan memilih
unsur himp itu sebagai unsurnya.
11

Contoh:

X = { 1, 2, 3, 4 }

Himpunan bagiannya:
a.Memilih semua unsur:

X4 = { 1, 2, 3, 4 }

b.Memilih tiga unsur

X31 = { 1, 2, 3 }
X32 = { 1, 2, 4 }
X33 = { 1, 3, 4 }
X34 = { 2, 3, 4 }

c. Memilih dua unsur


3}

X21 = { 1, 2 }; X22 = { 1,
X23 = { 1, 4 }; X24 = { 2, 3 }
X25 = { 2, 4 }; X26 = { 3, 4 }

12

d. Memilih 1 unsur:
e. Tanpa memilih

X11 = { 1 }; X12 = { 2 }
X13 = { 3 }; X14 = { 4 }
X0 = {

Jumlah himpunan bagian dari 1 himp. = 2 n


1 elemen:
1
2 himp bag
2 elemen:
1 2 1
4 himp bag
3 elemen:
1
3 3 1
8 himp
bag 4 elemen: 1
4
6 4
1 16
himp bag 5 elemen: 1 5
10 10 5 1 32
himp bag
Disebut segitiga Pascal = bilangan Binom Newton

13

3. Pengolahan (operasi) Himpunan


Operasi matematis: penjumlahan, penggandaan,
pembagian. Operasi himpunan: gabungan
(union), potongan (irisan) dan komplemen.
Operasi Gabungan ( U )
A U B = { x / x A atau x B }
A U B baca: A union B; A gabung B; A atau B.
Jika A = { 3, 5, 7 );

B = { 2, 3, 4, 8 }

A U B = { 3, 5, 7, 2, 4, 8 } atau { 2, 3, 4, 5, 7, 8 }

14

Dalam diagram Venn, A U B adalah daerah diarsir


S
A

Sifat-sifat gabungan
a. A U B = B U A Hukum komutasi
b. A

(A U B) dan B

(A U B)
15

Operasi potongan (irisan) =


A B = { x / x A dan x B }
A B, baca A irisan B; atau A dan B
Misal: A = { 0, 5, 10, 15 } dan B = { 1, 5, 8, 15, 17 }
A B = { 5, 15 }
Dalam diagram Venn, A B adalah daerah diarsir:

s
A

16

Sifat : a. A B = B A
b. (A B)

(hukum komutasi)

A dan (A B)

Operasi selisih
Selisih himpunan A dan B, dicatat dengan A B
A B = { x / x A, tetapi x B }
Diagram Venn A B sebagai berikut:

S
A

17

Misal: A = { a, b, c, d };

B = { f, b d, g }

A B = { a, c } serta B A = { f, g }
A B sering dibaca A bukan B.
Sifat: a (A B)

A; (B A)

b (A B); dan (B A) adalah saling asing


atau terputus

18

Komplemen
A = { x / x S, tetapi x A }
baca komplemen A atau bukan A

Misal: S = {1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, } himp.bil bulat


positip
A = { 1, 3, 5, 7, 9, . . . } bil. bulat positip ganjil
A = { 2, 4, 6, 8, 10. . . } bil. bulat positip genap
Diagram Venn untuk komplemen sbb: (diarsir)
S
A

A
19

Sifat: a. A U A = S
b. A A =
c. (A) = A
Latihan 1
Gambarkan sebuah diagram venn untuk
menunjukkan himpunan universal S dan himpunanhimpunan bagian A serta B jika:
S = {1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8 }
A = {2, 3, 5, 7 }
B = {1, 3, 4, 7, 8 }
Kemudian selesaikan :
a). A B
b). B A
d). A U B
e) A B
g). (A U B) h) (A B)

c) A B
f) B A

20

Latihan 2
Isilah cell dibawah ini dengan tanda keanggotaan
himpunan: atau

AB AUB (AB) (AUB)

21

Hubungan
Himpunan Hasil kali Cartesius
Apabila ada dua himpunan X dan Y masing-masing
x X dan y Y, maka dari dua himpunan terserbut
dapat disusun himpunan yang beranggotakan
pasangan urut atau pasangan tersusun (x, y).
Contoh sederhana, misalkan nilai ujian mate-matika
diberi dari angka 1 hingga 4, sedang-kan pekerjaan
rumah diberi angka 1 hingga 3.
Jadi : X = {1, 2, 3, 4} sedangkan
Y = {1, 2, 3}
Himpunan hasil kali Cartesius adalah:
X x Y = {(x, y)/ x X, y Y}
22

Cara mendapatkan himpunan X x Y tsb:


X
1
2
3
4

Y
2

(1, 1)
(2, 1)
(3, 1)
(4, 1)

(1, 2)
(2, 2)
(3, 2)
(4, 2)

(1, 3)
(2, 3)
(3, 3)
(4, 3)

X x Y = {(1,1), (1,2), (1,3), (2,1), (2,2), (2,3), (3,1),


(3,2), (3,3), (4,1), (4,2), (4,3)}

23

Himpunan hasil kali Cartesius dapat digambarkan


dalam sistem koordinat cartesius berikut:

PR = {1, 2} malas
PR = {3, 4} rajin

H1

H4

H2

H3

U = {1, 2} kurang mengerti


U = {3} pintar

Terdapat 4 himp bag

Gbr: Hubungan nilai ujian


dan nilai pekerjaan rumah

H1 = {malas ttp pintar}


H2 = {malas dan krg
mengerti}
H3 = {rajin ttp krg
ngerti}
H4 = {rajin dan pintar}
24

Daerah dan Wilayah (Range) hubungan


Perhatikan kembali Himpunan hasil kali
Cartesius:
H = {(1,1), (1,2), (1,3), (2,1), (2,2), (2,3),
(3,1), (3,2), (3,3), (4,1), (4,2), (4,3)}
Himpunan unsur-unsur pertama pasangan
urut, disebut dengan Daerah hubungan
Dh = {1, 2, 3, 4}
Himpunan unsur-unsur kedua pasangan
urut, disebut dengan Wilayah hubungan:
Wh = {1, 2, 3}

25

Kesimpulan:
Himpunan hasil kali Cartesius adalah
himpunan pasangan urut atau tersusun
dari (x, y) dimana setiap unsur x X
dipasangkan dengan setiap unsur y Y.
X x Y = { (x, y) / x X, y Y }
Daerah hubungan
Dh = { x / x X}
Daerah hubungan:
Wh = { y / y Y}

26

SISTEM BILANGAN
1. Pembagian bilangan
Bilangan
2; -2;
1,1; -1,1

Nyata
+ dan -

Khayal
Akar negatip

Rasional
Hasil bagi dua bil
bulat, pecahan
desimal atau
desimal berulang
0,1492525

Bulat

Irrasional

(-4) = 2

Hasil bagi dua bil bulat,


pecahan desimal tak
berulang
0,14925253993999 ,
1; 4; 8;
termasuk
0

Pecahan

; 2/7 dsb
27

2. Tanda pertidaksamaan
Tanda < melambangkan lebih kecil dari
Tanda > melambangkan lebih besar dari
Tanda lebih kecil dari atau sama dengan
Tanda lebih besar dari atau sama dengan
3. Sifat
Jika a b, maka a -b
Jika a b dan x 0, maka x.a x.b
Jika a b dan x 0, maka x.a x.b
Jika a b dan c d, maka a + c b+ d
28

Fungsi
Silabus:
a. Pengertian
b. Macam-macam fungsi
c. Fungsi Linear
d. Fungsi non Linear

29

Pengertian
Himpunan hasil kali Cartesius ini dikenal dgn
hubungan. Tetapi ada hubungan dimana satu unsur
X dihubungkan dengan satu unsur Y. (tidak setiap
unsur X dihubungkan dengan setiap unsut Y)
Dengan denah Venn sbb:
X

Hubungan 1 - 1

Hubungan dengan kasus diatas, bahwa untuk setiap


nilai x dihubungkan (hanya terdapat satu) nilai y
yang sesuai, disebut dengan bentuk hubungan atau
fungsi. Jelasnya fungsi LINEAR
30

Perhatikan juga contoh berikut:


Y
y = f(x)
x1

y1

x2
xn

x1

x2

y1

yn

X
X

Gambar di atas, nilai x1 dan x2 dalam X, dihubungkan dengan nilai y1 dalam Y, dengan bentuk y = f(x)
Fungsi disebut juga TRANSFORMASI, jadi x di
transformasikan di dalam himpunan y.

31

Transformasi mengandung pengertian yang luas:


a. x menentukan besarnya nilai y
b. x mempengaruhi nilai y
c. Dll.
Pernyataan y = f(x)
dibaca: y merupakan fungsi dari x
atau
dicatat : f : x y
aturan

ditransformasi

simbol f diartikan sebagai aturan transformasi


unsur himp. X kedalam himpunan Y
Lebih spesifik: Fungsi: suatu bentuk hubungan
matematis yang menyatakan hubungan ketergantungan (hub fungsional antara satu variabel
dengan variabel lain
32

Perhatikan: y = f(x)
x merupakan sebab (variabel bebas)
y akibat dari fungsi (variabel terikat)
Himpunan semua nilai-nilai x, disebut sebagai
Domain atau Daerah fungsi (Df) dan nilai y disebut
dengan Range atau Wilayah fungsi (Rf = Wf).
Df = { x / x X }
Wf = { y / y Y }
Misal: Biaya total C dari suatu perusahaan setiap hari
merupakan fungsi dari output Q tiap hari:
C = 150 + 7Q. Perusahaan memiliki kapasitas
limit sebesar 100 unit per hari.Berapa Daerah
dan Range dari fungsi biaya?
Jawaban:
Df = { Q / 0 Q 100 }
Rf = { C / 150 C 850 } Dapat Anda jelaskan ?33

Macam-macam fungsi
a. Fungsi
Polinomial

Bentuk umumnya :
y = a + bx + cx2 + . . . + pxn

Slope = a1

a0

case c < 0
x

a0

Konstan, jika n = 0

Linear, jika n = 1

Kuadratik, jika n = 2

y=a

y = a + bx

Y = c + bx + ax2

34

Titik maksimum

Titik belok

Fungsi kubik
y = d + cx + bx2 + ax3
x

y
Titik
maksimum

Fungsi polinom derajad 4


y = e + dx + cx2 + bx3 + ax4
Titik minimum

35

b. Fungsi Rasional
Fungsi ini, dengan y dinyatakan sebagai rasio dua
polinomial dengan variabel x atau juga berupa fungsi
hiperbola.
y

Hiperbola:
y = (a/x), a > 0

c. Fungsi eksponensial dan logaritma


y

Eksponensial
y = bx , b>1

Logaritma
y = logbx

36
x

Fungsi linear
Fungsi linear merupakan bentuk yang paling
dasar dan sering digunakan dalam analisa
ekonomi
Fungsi linear merupakan hubungan sebabakibat dalam analisa ekonomi misalnya:
- antara permintaan dan harga
- invests dan tingkat bunga
- konsumsi dan pendapatan nasional, dll
Fungsi linear adalah fungsi polinom, tetapi n = 1
atau fungsi polinom derajad-1.

37

Bentuk umum
Diturunkan dari fungsi polinom:
y = a0 + a1x + a2x2 + . . . + anxn
Disebut fungsi linear jika n = 1 yaitu

y = a + bx bentuk umum
Contoh:
y = 4 + 2x a = 4
b=2
Pengertian: a = 4 = penggal garis pada
sumbu vertikal y
b = 2, adalah koefisien arah atau
lereng atau slope garis.

38

y
y=

x
+b

a
a

a
a
y = a
x

a0 = penggal garis
y = ax + b,
pada sumbu y
yaitu nilai y
saat x = 0

a = lereng garis atau y/x


pada x = 0, y/x = a; pada x = 1, y/x = a
39

Perhatikan bahwa lereng fungsi linear selalu


konstan.
Latihan-1
y = 4 + 2x
Penggan garis pada sumbu y =
Lereng garis :
x
0
1

y/x = a
-

Mendapatkan
penggal garis
pada sumbu y
ketika x = 0

2
3
4
40

Lengkapi tabel berikut dari garis: y = 4 + 2x

y/x = a

-3
-2
-1
0

Mendapatkan
penggal garis
pada sumbu x
ketika y = 0

1
2
3
4
41

Kurva (grafik) fungsi


Fungsi Linear, kurvanya garis lurus karena
lerengnya sama.
Misalkan y = 36 4x
maka
a = -4 (y/x)
b = 36
Menggambarkan kurvanya cukup mencari titik
potong (penggal) dengan:
sumbu x dan penggal dengan sumbu y
Hubungkan kedua titik penggal tersebut
Titik penggal pada sb x, y = .., x = atau titik
(, )
Titik penggal pada sb y, x = .., y = atau titik
(, )
42

Grafik:
y

36

(0,36)

y = 36 4x

18

(9,0)
0

Grafik dengan lereng negatip

43

Gambarkan grafik fungsi:


y = 2 + 4x
Titik penggal dg sb x y = 0, x = -1/2, (-1/2, 0)
Titik penggal dg sb y x = 0, y = 2, (0,2)
Gambarkan :
y
y = 2 + 4x

x
Grafik dengan lereng positip
44

Fungsi non linear (kuadratik)


Fungsi non linear juga merupakan bentuk yang
sering digunakan dalam analisa
Sebagaimana fungsi linear, fungsi non linear
juga merupakan hubungan sebab-akibat
Fungsi linear adalah fungsi polinom, tetapi n = 2
atau fungsi polinom derajad-2.

Bentuk umum
Diturunkan dari fungsi polinom:
y = a0 + a1x + a2x2 + . . . + anxn
Disebut fungsi kuadratik jika n = 2 dan a 2
0, yaitu
y = a0 + a1x + a2x2
atau sering ditulis: y = ax2 + bx + c
45

Contoh - 1:
y = 8 2x x2
= -1 (a < 0)
b = -2
c=8

Contoh - 2:
y = 2x2 + 4x + 6 a
= 2 a > 0)
b=4
c=6

Menggambar kurva non linear kuadratik


a. Cari titik penggal dengan sb x, pada nilai y = 0
0 = 8 2x x2 atau 8 2x x2 = 0
Menyelesaikan persamaan ini dapat melalui dua
cara:
1.
Faktorisasi
Maksudnya, menguraikan ruas utama fungsi
tersebut menjadi bentuk perkalian ruasruasnya atau disebut bentuk perkalian dua
fungsi yang lebih kecil

46

Faktorisasi persamaan di atas menghasilkan:


(2 - x)(4 + x) f(x) = g(x).h(x)
(2 - x)(4 + x) = 0
(2 - x) = 0, berarti x = 2, di titik (2, 0)
(4 + x)= 0, berarti x = -4, dititik (-4, 0)
2. Memakai rumus kuadrat (bujur sangkar)
-b b2 4ac
x = -------------------2a

- (-2) (-2)2 4(-1)(8)


x = ------------------------------2(-1)
47

2 4 + 32
26
x = ---------------- = ---------2
-2
x1 = (2 + 6)/(-2) = -4, titik (-4, 0)
x2 = (2 6)/(-2) = 2, titik (2, 0)
Hasilnya sama dengan cara faktorisasi.
b. Cari titik penggal dengan sb y, pada nilai x = 0

y = 8 2x x2, untuk x = 0, y = 8, titik (0,8)


c. Karena ciri fungsi kuadrat memiliki titik maksim atau minimum (lihat gambar terdahulu) maka
titik ini harus dicari.

48

Mencari titik maks atau min


Sifat fungsi kuadratik
a. Memiliki titik maks
atau min yang disebut titik ekstrim.
Titik maks jika a < 0 dan min jika a > 0
b. Titik maks atau min pada titik (x, y) dengan:
-b
b2 4ac
x=
----,
dan y = ----------2a
-4a
c. Kurvanya simetri pada titik xmaks/min

y = 8 2x x2, a < 0 berarti maks


xmaks = -(-2)/(2)(-1) = -1
ymaks = [(-2)2 4(-1)(8)]/(-4)(-1) = 36/4
= 9. titik maks (-1, 9).
49

Gambarkan kurvanya:
y

x
50

Latihan:
Dengan cara yang sama selesaikan Contoh - 2:
y = 2x2 + 4x + 6

51

Lanjutan:

52

Hubungan dua garis


Dua buah garis dengan fungsi linier dapat:
a. berimpit
b1
+
x
a
1
b2
=
+
x
y1
a
2
y2 =

Berimpit: Jika dan hanya jika


a1 = a2
b1= b2

b. Sejajar
b1
+
x

a1
=
y1
y2

x
a
2
=

+ b2

Sejajar: Jika dan hanya jika


a1 = a2
b1 b2
53

c. Berpotongan
y

Ttk pot
y2

Berpotongan: jika dan


hanya jika

b1
+
x

a1
=
y1

=a

x+

a1 a2
b1 b2

Dua garis fungsi linear dan fungsi non linear hanya


dapat berpotongan.
y
a<0

Ttk pot b 1
+
x
a
1
y1 =
y2 = ax2 + bx + c

Ttk pot
a>0

x
54

Mencari titik potong dua


garis/persamaan
Pada saat dua fungsi berpotongan, maka nilai x
dan y sama pada perpotongan tersebut
Caranya:
(1) Bentuk fungsi harus y = f(x)
(2) samakan kedua fungsi untuk mendapat titik
potong
Cari titik potong fungsi x = 15 2y dan 3y = x +3
x = 15 2y y = -(1/2)x + 15/2
3y = x +3
y = (1/3)x + 1
-(1/2)x + 15/2 = (1/3)x + 1
-(1/2)x (1/3)x = 1 15/2
x = 78/10

55

Untuk mendapatkan y, substitusi x = 78/10 pada


salah satu fungsi:
y = (1/3)x + 1,
untuk x = 78/10; y = (1/3)(78/10) + 1
y = 26/10
Titik potong fungsi (x, y) = (78/10, 26/10)

56

Mencari titik potong dua garis/persamaan


(1) 2x + 3y = 21 dan (2) x + 4y = 23
Pada saat dua fungsi berpotongan, maka nilai x
dan y sama pada saat perpotongan tersebut.
Ubah persamaan di atas menjadi bentuk y = f(x)
(1) 2x + 3y = 21 3y = 21 2x
atau y = 7 (2/3)x
(2) x + 4y = 23 4y = 23 x
atau y = (23/4) (1/4)x
Titik potong kedua garis:
7 (2/3)x = (23/4) (1/4)x
7 (23/4) = (2/3)x (1/4)x
5 = (5/12)x
x = 12. y = 11/4 (12, 11/4)
57

Latihan

58

Penggunaan Fungsi dalam ekonomi


Analisa keseimbangan pasar
Keseimbangan pasar Model linear
Asumsi-1: Keseimbangan pasar terjadi jika ekses
demand = 0 atau (Qd Qs = 0)
Asumsi-2: Qd = jumlah permintaan adalah fungsi
linear P (harga). Jika harga naik, maka Qd
turun.
Asumsi-3: Qs = jumlah penawaran adalah fungsi
linear P. Jika harga naik, maka Qs juga
naik, dengan syarat tidak ada jlh yang
ditawarkan sebelum harga lebih tinggi
dari nol.
Persoalan,bagaimana menentukan nilai

Dalam pernyataan matematis, keseimbangan terjadi


pada saat:
Qd = Qs
Qd = a - bP,

slope (-)

(1)

Qs = -c + dP,

slope (+)

(2)

Gambarnya sbb:
Qd, Q s
a

Qd = a -bP

Qs = -c + dP

keseimbangan

Q0

0
P1

P0

-c
60

Kasus lain, keseimbangan dapat dilihat sbb:


Qs = 4 p2 dan Qd = 4P 1
Jika tidak ada pembatasan misalnya, berlaku dalam
ekonomi, maka titik potong pada (1, 3), dan (-5, -21)
tetapi karena batasan hanya pada kuadran I (daerah
positip) maka keseimbangan pada (1, 3)}
4

QS = 4p - 1
1,3

keseimbangan

QD = 4 - p2
0
-1

Matematika Ekonomi

61

Latihan
Temukan keseimbangan dari Qd dan Qs
tersebut

Matematika Ekonomi

62

Matematika Ekonomi

63

Matematika Ekonomi

64

Keseimbangan pasar (lanjutan)


Pada nilai Q dan p berapa terjadi keseimbang-an
permintaan dan penawaran dari suatu komoditi
tertentu jika:
Qd = 16 P2 , (Permintaan)
QS = 2p2 4p

(penawaran)

Gambarkan grafiknya
Apa yang terjadi jika p = 3.5 dan p = 2.5

Matematika Ekonomi

65

Penjelasan
Pada saat keseimbangan maka Qd = Qs
16 p2 = 2p2 4p
3p2 4p 16 = 0
Ingat fungsi polinom derajad 2 atau n = 2
dengan bentuk umum: ax2 + bx + c
Koefisien a = 3, b = -4, dan c = -16
p = (-b) (b2 4ac)1/2 = 4 (16 + 192)1/2 = 3.1 (+)
6
2a
Qd = 16 p2 = 16 - (3.1)2 = 6.4
Jadi keseimbangan tercapai pada Jlh komoditas
6.4 dan harga 3.1. Atau (Q, p) = (6.4 , 3.1)
Matematika Ekonomi

66

Grafik:
Fungsi Permintaan: Qd = 16 p2
a. Titik potong dengan sb Q p = 0; Q = 16, (16,0)
b. Titik potong dengan sb p Q = 0; 16 p2 = 0
(p 4)(p + 4). p 4 = 0, p = 4,

ttk (0, 4)

p + 4 = 0, p = -4, ttk (0, -4)


c.Titik maks/min: (Q,p)
Q = (-b/2a) = 0/-2 = 0
p = (b2 4ac)/(-4a) = 0 4(-1)(16)/(-4)(-1)) = 16
atau pada titik (0, 16)

Matematika Ekonomi

67

Grafik:
Fungsi penawaran
Qs = 2p2 4p
a. Titik potong dengan sb Q p = 0; Q = 0, (0,0)
b. Titik potong dengan sb p Q = 0; 2p2 4p = 0
Atau 2p(p 2) = 0; 2p = 0; p = 0; ttk pot (0, 0)
(p 2) = 0; p = 2; ttk pot ( 0, 2)
c. Titik maks/min: (Q,p)
Q = (-b/2a) = 4/4 = 1
p = (b2 4ac)/(-4a) = (-4)2 4(2)(0)/(-4)(2) = 2
atau pada titik (1, 2)

Matematika Ekonomi

68

Grafik:

Qs

4
3.1

Qd

6.4

16

Apa yang terjadi jika p = 3.5 dan p = 2.5


Untuk p = 3.5, terjadi ekses supply dan p = 2.5,
terjadi ekses demandMatematika Ekonomi

69

Penjelasan ekses suplai dan ekses demand

Qs

Qd

Ekses demand mendorong harga naik, dan ekses


supply mendorong harga turun.
Matematika Ekonomi

70

DERIFATIF
1.1. Pengantar Kalkulus
Kalkulus khususnya bahasan matematika tentang
a. Fungsi
b. Derivatif atau fungsi turunan
c. Derivatif parsial dan
d. Integral
sangat luas penggunaannya dalam ilmu
ekonomi.Khusus tentang derivatif (kalkulus diferensial) dapat diinventarisir aplikasinya dalam ilmu
ekonomi diantaranya:
1). Elastisitas, khususnya elastisitas permintaan

Matematika Ekonomi

71

2) Elastisitas produksi
3) Biaya total, rata-rata dan marginal
4) Revenue dan marginal revenue
5) Maksimisasi penerimaan dan profit.
6) dll.
Pendekatan matematis yang sangat pesat
dewasa ini membuat seorang ahli ekonomi
termasuk Agric. Economist, atau
agribussines manager perlu mendalami
pengetahuan kalkulus diferensial dan integral.
Untuk kesempatan ini, kalkulus
diferensial dan aplikasinya dalam ekonomi
lebih diutamakan.
Matematika Ekonomi

72

1.2. Limit fungsi


Pandanglah fungsi h yang diberikan dengan
persamaan:
2x2 + x - 3
h(x) = ------------x-1
Persamaan ini harus disederhanakan sedemikian
rupa, supaya jika disubstitusikan nilai x = 1, (perhatikan pembagi/penyebut) maka nilainya 0/0
(bentuk tak tentu)

73

Untuk tujuan ini, fungsi tersebut diuraikan atas faktornya, sehingga:

2x2 + x - 3
h(x) = ------------- =
x-1

(x-1)(2x +3)
------------= 2x + 3
x-1

x2 - 4
Demikian juga jika g(x) = ---------, nilainya akan tak
x-2
tentu, untuk x = 2
Karena itu g(x) disederhanakan menjadi:
(x 2)(x + 2)
g(x) = ------------------- = x + 2.
x-2
74

Fungsi h dengan persamaan diatas grafik sebagai


berikut:
Fungsi h tdk terdefinisi di titik x = 1. Untuk x 1, maka h(x)
= 2x + 3. Sehingga
untuk x mendekati
1, h(x) akan mendekati 5. Dikatakan
limit fungsi h dititik x
= 1 adalah 5.

y
5

y = h(x)

3
2
1
0

x
75

Keadaan di atas, dicatat sebagai:


2x2 + x - 3

lim h(x) = lim ------------- = 5


x1

x1

x-1

Baca: limit fungsi h(x) untuk x menuju 1

Demikian juga dengan g(x) di atas


x2 - 4
lim g(x) = lim --------- = 4.
x-2
x2
x2

76

1.3. Pengertian Derivatif


Suatu fungsi dengan persamaan y = f(x)
mempunyai nilai (terdefinisi) pada x = x0 dan
y = f(x) kontinu di titik tersebut, maka:
lim f(x) = f(x0)
x -> x0

Y = f(x) diskontinu
pada x = x0

Y = f(x)

Y=f(x)
y0

y1
y0

Y = f(x) kontinu
pada x = x0

x0

x0

0
Sehingga f(x) f(x0) -------------------- =
x x0
0
Maka lim f(x) f(x0) disebut dengan derivatif
------------x->x0 x x0 fungsi f dititik x = x0.

Dengan mensubstitusi x = x x0, atau x =


x0 + x, untuk x-> x0 berarti x ->0 atau:

lim
x-> 0

f(x0 + x) f(x0)
------------------x

merupakan derivatif
atau turunan fungsi.
78

Simbol derivatif fungsi dilambangkan dg:


f(x) atau dy/dx atau
y atau Dxy.
Atau dengan penjelasan lain:
Ump. y = f(x) dengan kurva sbb:
y
y1
y

Y = f(x)
x

= f(x)

y + y = f(x + x)

y
x1

Besarnya pertambahan adalah:


y = f(x + x) f(x).
Dibagi dg x:
y/x = f(x + x) f(x)
------------------------------x
Matematika Ekonomi

79

lim y/x = f(x + x) f(x)


x->0

-----------------------------

x
adalah turunan fungsi tsb yaitu: y = f(x) = dy/dx
Contoh. Cari turunan y = f(x); y = x2 + 1,
dititik x = 5.
Jika x ditambah sebesar x, maka y akan
bertambah sebesar y.
y + y = (x + x)2 + 1
y
= x2
+ 1 (-)

80

Dengan pengurangan:
y = (x + x)2 + 1 x2 1
= x2 + 2xx + (x)2 + 1 x2 1
= 2xx + (x)2
y/x = 2x x + (x)2
x
= 2x + x
lim y/x = lim 2x + lim x
x ->0

x ->0

x ->0

dy/dx = 2x + 0 = 2x dititik x = 5,
berarti dy/dx untuk x = 5 adalah 10.
81

1.4 Rules of differentiation


Rule 1: Derivative of a power function.
Fungsi pangkat (power function) y = xn
y + y = (x + x)n
y = (x + x)n y
y = (x + x)n xn
Ingat kembali bil. Binom Newton
(a + b)2 = a2 + 2ab + b2
(a + b)4 = a4 + 4a3b + 6a2b2 + 4ab3 + b4
= C(0, 4)a4 + C(1, 4)a3b +
C(2, 4)a2b2 + C(3, 4)ab3+C(4,4)b3

82

C(i, n) baca kombinasi tingkat i dari n


unsur.
C(i, n) adalah teori kombinasi yang
menyatakan memilih sebanyak i unsur dari
suatu himpunan untuk menjadi anggota
himpunan bagiannya.
C(0, 4) berarti kombinasi tingkat 0 dari 4
unsur.
n!
C(i, n) = -----------i ! (n i)!

83

n! = n(n-1)(n-2)(n-3)
4! = 4. 3. 2. 1 = 24
0! = 1
Sekarang: y = (x + x)n xn
= C(0, n)xn + C(1, n)xn-1x +
C(2, n)xn-2x2 +
C(3, n)xn-3x3 +
C(4, n)xn-4x4 +

+
C(n-1, n)xxn-1 - xn

84

n!
n.n-1.n-2.n-3.
C(0, n) = --------- = ---------------------- = 1
0!(n-0)! 1.n.n-1.n-2.n-3

n!
n.n-1.n-2.n-3.
C(1, n) = ---------- = ---------------------- = n
1!(n-1)! 1.n-1.n-2.n-3.
n.n-1.n-2.n-3.
n.n-1
n!
C(2, n) = ---------- = ---------------------- = ----2!(n-2)! 2.1.n-2.n-3.
2

85

y = (x + x)n xn
= xn + nxn-1x + n(n-1)xn-2x2 +
C(3, n)xn-3x3 +
2
C(4, n)xn-4x4 +

+
C(n-1, n)xxn-1 - xn
= nxn-1x + n(n-1)xn-2x2 +
C(3, n)xn-3x3 +
C(4, n)xn-4x4 +

+
C(n-1, n)xxn-1

86

y = nxn-1+ n(n-1)xn-2x +
2
x
C(3, n)xn-3x2 +
C(4, n)xn-4x3 +

+
C(n-1, n)xxn-2
y
Lim ---- = lim nxn-1 atau
x->0 x
x->0

dy/dx = nxn-1

Contoh: y = x5
dy/dx = 5x4.
Mis C = total cost, q = output C = q3
derivatif C thdp q = 3q2.
87

Rule 2: Multiplication by a constant.


y = f(x)= cx2, c adalah konstanta, dy/dx?
y + y = c(x + x)2
y = cx2 + c2xx + c(x)2 cx2
= c2xx + c(x)2
y
---x = c2x + c(x)
y

lim ---- = lim c2x , Jadi dy/dx = c2x

x->0 x

x->0

88

Contoh: y =f(x) = 5x2


f(x) = 5(2)x2-1 = 10x
Rule 3: Derivative of a sum
f(x) = g(x) + h(x)
Dengan pembuktian yang sama spt
rule (1) dan (2) diperoleh:
f(x) = g(x) + h(x)
Demikian juga untuk:
f(x) = g(x) + h(x) + k(x)
f(x) = g(x) + h(x) + k(x)
89

Derivatif penjumlahan dua fungsi atau lebih


sama dengan pengurangan atau selisih.
f(x) = g(x) h(x);
f(x) = g(x) h(x).
Contoh:
Cari derivatif f(x) = 7x4 + 2x3 3x + 37
g(x) = 7x4; g(x) = 28x3
h(x) = 2x3; h(x) = 6x2
k(x) = -3x; k(x) = -3
l(x) = 37; l(x) = 0
jadi f(x) = 28x3 + 6x2 3.
90

Rule 4: derivative of a product


Fungsi hasil kali berbentuk
y = f(x) = g(x).h(x)
f(x) = g(x).h(x) + h(x).g(x)
Contoh: y = f(x) = (2x + 3)(3x2)
g(x) = (2x + 3); g(x) = 2
h(x) = 3x2;
h(x) = 6x
Jadi:
f(x) = (2x + 3)(6x) + (3x2)(2)
= 12x2 + 18x + 6x2
= 18x2 + 18x.
91

Rule 5: derivatif of a quotient


Bentuk umum hasil bagi dua fungsi:
y = f(x) = g(x)/h(x).
f(x) = g(x)h(x) g(x)h(x)
[h(x)]2

92

Contoh: f(x) = (2x 3)/(X + 1).


g(x) = 2x 3; g(x) = 2
h(x) = x + 1; h(x) = 1
f(x) = (2)(x + 1) (1)(2x 3)
(x + 1)2
= 2x + 2 2x + 3 =
5
2
2
(x
+
1)
(x + 1)

93

Rule 6: Chain rule


Fungsi berantai bentuknya sbb:
y = f(u)
u = g(x)
Dicari derivatif y terhadap x atau dy/dx.
Dari u = g(x) didpt
du/dx.
Dari y = f(u) didpt
dy/du, Maka
dy
= dy . du
dx
du dx

y = f(z)
z = g(u)
u = h(x)
Dengan cara yang sama
dy du dz
dy
= du
dz dx
dx

94

Contoh: Misalkan x adalah lahan, yang dapat


menghasilkan y unit gandum dan z adalah roti yg
terbuat dari gandum. Umpamakan setiap unit
lahan (x) dihasilkan 2 unit gandum (y) sehingga:
y = 2x
Untuk setiap unit gandum (y) dapat diproduksi 15
unit roti (z), yang digambarkan sebagai:
z = 15y
Apabila ada perubahan sejumlah kecil lahan (x),
maka berapa besar perubahan roti (z) akan terjadi
dari perubahan tersebut? Hal ini merupakan masalah hukum berantai dari turunan fungsi (derivatif).

95

dy/dx merupakan perubahan y apabila sejumlah


kecil perubahan x yaitu
dy/dx = 2
Perubahan z apabila ada perubahan y
dz/dy = 15
Oleh karena itu perubahan z apabila ada perubahan x menjadi:
dz/dx = dz/dy. dy/dx = 15(2) = 30 unit.

96

Contoh: Jika y = uv, dimana u = s3 dan s = 1 x.


v = t2 dan t = 1 + x2
u = s3, du/ds = 3s2
s = 1 x ds/dx = -1

v = t2, dv/dt = 2t
t = 1 + x2 dt/dx = 2x

y = uv, adalah bentuk hasil kali berarti


dy/dx = u.dv/dx + v.du/dx
= u(dv/dt)(dt/dx) + v(du/ds)(ds/dx)
= s3(2t)(2x) + t2(3s2)(-1)
= 4s3tx -3t2s2 = s2t(4sx 3t)
Substitusi, dy/dx = (1-x)2(1+x2)[4(1-x)(x) 3(1+x2)]
97

Contoh: Jika y = (1 + x2)3, dapatkan dy/dx.


Dengan memakai derivatif fungsi berantai:
Mis u = 1 + x2, dan oleh karena itu y = u3
dy/dx = (dy/du)(du/dx) = (3u2)(2x) = 6x(1 + x2)2.

98

1.5. Derivatif of higher order


Jika y = f(x), maka derivatif pertama dicatat
sebagai dy/dx atau f(x). Derivatif kedua
dilambangkan dengan:
d2y/dx2 atau f(x) atau y
Demikian seterusnya untuk derivatif yang
lebih tinggi. Semua hukum-hukum yang
sudah dibahas, berlaku untuk mencari
derivatif orde yang lebih tinggi.
Contoh: Hitung derivatif y = f(x) = x3 3x2 + 4,
dan hitung nilainya untuk x = 2.

99

f(x) = x3 3x2 + 4,
f(x) = 3x2 6x,
f(x) = 6x 6
f(x) = 6

f(2) = 8 12 + 4 = 0
f(2) = 12 12 = 0
f(2) = 6
f(2) = 6.

100

1.5 Derivatif parsial


Teknik ini digunakan untuk suatu fungsi lebih dari
satu variabel. z = f(x, y) atau z = f( u, v, x) dst
Banyak kejadian terdiri dari beberapa variabel.
Contoh: Qd = f(h, hkl, sK, i,)
dimana h = harga komoditi itu sendiri
hkl = harga komoditi lain
sK = selera konsumen
i = income
Umpamakan kita berhadapan dengan fungsi:
z = f(x , y), bila y dianggap tetap,
maka z hanya merupakan fungsi x dan derivatif z
ke x dapat dihitung.

101

Derivatifnya disebut derivatif parsial atau turunan


parsial dari z ke x dan dilambangkan dengan:
z/x atau f/x atau fx
Demikian juga jika x dianggap tetap, maka derivatif
parsial ke y dapat dihitung, dan dilambangkan dg:
z/y atau f/y atau fy
Derivatif parsial z ke x didefinisikan sebagai:
z/x = lim z/x = lim f(x + x, y) f(x, y)
x->0
x->0
x
Derivatif parsial z ke y didefinisikan sebagai:
z/y = lim z/y = lim f(x,y + y) f(x, y)
y->0
y->0
y
102

Contoh: Jika z = 3x2 + 2xy 5y2 ,maka:


z/x = 6x + 2y
z/y = 2x 10y
Derivatif parsial kedua juga dapat dicari sbb:
Contoh: z = (x2 + y2)3
z/x = fX = 3(x2 + y2)2(2x) = 6x(x2 + y2)2
z/y = fy = 3(x2 + y2)2(2y) = 6y(x2 + y2)2
2z/x2 = fXX = 12x(x2 + y2)(2x) = 24x2(x2 + y2)
2z/y2 = fyy = 12y(x2 + y2)(2y) = 24y2(x2 + y2)
2z/ yx = fyx = 12x(x2 + y2)(2y) = derivatif
z/x
thd y
24xy(x2 + y2).
2z/xy = fxy = 12y(x2 + y2)(2x) = 24xy(x2 + y2)
103

Simbol derivatif parsial z/x


juga dilambangkan f/x atau fx.
Fungsi turunan kedua dilambangkan:
2z/x2 atau 2f atau fxx
Fungsi turunan fx terhadap y dilambangkan fyx
Fungsi turunan fy terhadap x dilambangkan fxy
fyx = fxy

104

Maksimum dan minimum


y = f(x)
akan maksimum pada saat:
dy/dx = 0
dan
d2y/dx2 < 0
akan minimum pada saat:
dy/dx = 0
dan
d2y/dx2 > 0
akan mempunyai titik belok (inflection point) pada:
dy/dx = 0
dan
d2y/dx2 = 0

105

Apabila fungsinya lebih dari dua variabel:


z = f(x, y) atau f(x1, x2),
Maksimum jika
fx = 0, fy = 0

Minimum jika
fx = 0, fy = 0

fxx < 0, fyy < 0

fxx > 0, fyy > 0

fxxfyy (fxy)2 > 0

fxxfyy (fxy)2 > 0

106

Contoh: Periksa apakah fungsi berikut ini mempunyai titik maksimum, minimum atau titik belok
dan hitung nilai f(x) pada titik tersebut.
y = f(x) = -x2 + 4x + 7
dy/dx = -2x + 4 = 0; nilai x = 2
d2y/dx2 = -2 < 0; berarti mempunyai titik maks.
pada x = 2.
nilai ymaks atau f(x)maks = -(2)2 + 4(2) + 7 = 11

107

Contoh: Tentukan nilai ekstrim (maks/min) dari:


z = x2 + xy + y2 3x + 2
Langkah-langkah:
a. Derivatif pertama: fx = 2x + y 3
fy = x + 2y
b. fx = 0 dan fy = 0
2x + y 3 = 0
x + 2y = 0
Dari 2x + y 3, didapat y = 3 2x.
Substitusi y = 3 2x ke persamaan x + 2y = 0
didapat x + 2(3 2x) = 0; x + 6 4x = 0
atau 3x = 6 x = 2.

108

Untuk x = 2, y = 3 2(2) = -1.


Artinya titik (2, -1) merupakan titik maks atau min
c. Uji dengan derivatif kedua:
fxx = 2;
fyy = 2;
fxy = fyx = 1
fxxfyy (fxy)2 = 2.2 12 = 3 > 0
artinya fungsi z mempunyai titik minimum pada
titik (2, -1).
d. Nilai zmin = (2)2 + (2)(-1) + (-1)2 3(2) + 2
= 4 2 + 1 6 + 2 = -1.

109

1.5 Aplikasi dalam ekonomi


1) Elastisitas permintaan
Elastisitas permintaan adalah persentase
per-ubahan jumlah komoditi diminta
apabila terdapat perubahan harga.
Jika q = komoditi yg diminta,
q = perubahannya
p = harga komoditi;
p = perubahannya

110

q/q
q/q
q p
dq p
Ed = ------ = lim ------- = lim ---- -- = ---- -dp q
p/p p->0 p/p p->0 p q
Contoh: Umpamakan fungsi permintaan q = 18 -2p 2
hitung elastisitas permintaan jika harga berkurang 5% (bukan mendekati nol) dari p = 2, q =
10. Bandingkan hasil kedua pendekatan: definisi dan derivatif.
Pendekatan definisi: p = 2; p = 0.05 berarti
p1 = 2 2(0.05) = 1.9
Untuk p1 = 1.9,
untuk p = 2,
berarti

q = 18-2p2 = 18 2(1.9)2 = 10.78


q = 18-2p2 = 18 2(2)2 = 10.
q = 10.78 10 = 0.78
Matematika Ekonomi

111

Jadi menurut pendekatan definisi


Ed = 7.8%/-0.05% = - 1.56
Dengan pendekatan derivatif:
Ed = (dq/dp)(p/q) = (-4p)(p/q) = - 4p2/q
pada harga p = 2, dan q = 10
Ed = -4(2)2/10 = - 1.60.
Perhatikan dengan derivatif, p mendekati nol,
sementara menurut definisi, p = 0.05%, jadi
hasilnya sedikit berbeda.

Matematika Ekonomi

112

2) Total Cost, Average cost and marginal cost


TC = f(q),
merupakan fungsi biaya dimana TC = total cost,
dan q = produk yang dihasilkan.
TC/q = f(q)/q
merupakan fungsi biaya rata-rata.
MC = dTC/dq
merupakan derivatif dari TC, sebagai biaya marginal. Biaya marginal adalah tambahan biaya yg
dibutuhkan per satuan tambahan produk.

Matematika Ekonomi

113

Hubungan TC, AC dan MC, seperti kurva dibawah


ini.
TC
Rp
MC

AC

VC

q
Matematika Ekonomi

114

Contoh dengan data diskrit


q

FC

VC

TC

AC

MC

100

10

110

110.00 -

100

16

116

58.00

6.0

100

21

121

40.33

5.0

100

26

126

31.50

5.0

100

30

130

26.00

4.0

100

36

136

22.67

6.0

100

45.5

145.5 20.78

9.5

100

56

156

19.50

10.5

100

72

172

19.10

16

Matematika Ekonomi

115

Contoh dengan fungsi biaya:


TC = q3 4q2 + 10q + 75.
FC = Fixed Cost = 75
VC = Variable cost = q3 4q2 + 10q
MC = dTC/dq = 3q2 8q + 10
AC = TC/q = q2 4q + 10 + 75/q
3) Revenue and Marginal revenue
Apabila fungsi permintaan diketahui, maka Total
Revenue (TR) adalah jumlah produk yang
diminta dikali harga.

Matematika Ekonomi

116

Jadi jika q = kuantitas diminta dan p = harga


dengan q = f(p) maka:
TR = qp = f(p).p
Marginal Revenue (MR) = dTR/dq.
Contoh:

MR = dTR/dq

Fungsi Permintaan;
3q + 2p = 9;

= 9/2 3q
TR, MR, p

2p = 9 3q atau
p = 9/2 (3/2)q

MR

TR = p.q atau

TR = (9/2)q (3/2)q2
Matematika Ekonomi

117

4). Fungsi produksi


Seorang produsen dalam teori ekonomi paling
tidak harus mengambil dua keputusan apabila
dilandasi oleh suatu asumsi produsen berusa-ha
memperoleh profit maksimum, adalah:
a.
Jumlah produk yang yang akan diproduksi
b.
Menentukan kombinasi input-input yang
digunakan dan jumlah tiap input tsb.
Landasan teknis dari produsen dalam teori
ekonomi disebut dengan FUNGSI PRODUKSI.
Fungsi produksi = persamaan yang menunjukkan
hubungan antara tingkat penggunaan input-input
dengan tingkat output.
Matematika Ekonomi

118

Fungsi produksi, secara umum dicatat:


Q = f(x1, x2, x3, , xn)
Q = output
xi = input-input yang digunakan, i = 1, 2, 3, , n
Apabila dalam proses produksi:
Q = f(x1/x2, x3, , xn)
input xI ditambah terus menerus, sedangkan input
lain tetap, maka fungsi produksi itu tunduk pada
hukum : The law of diminishing returns
bila satu macam input, terus ditambah
penggunaannya sedang penggunaan input lain
tidak berubah, maka tam-bahan output yg
dihasilkan dari setiap tambahan input, mulai-mula
meningkat, kemudian menurun, dan akhirnya
negatip.
Matematika Ekonomi

119

Tambahan output yg didapat karena adanya tambahan satu unit input dinamakan Produk Fisik
Marginal (Produk Marginal = PM).
PM = Q/xi, i = 1, 2, 3, , n
Selain produk marginal, fungsi lain yang dapat diturunkan dari fungsi produksi adalah fungsi
Produk Rata-rata (PR).
PR = Q/x = f(x)/x
Jadi ada hubungan antara Q atau produk total
(PT) dengan PM dan PR.Hubungan tersebut ditunjukkan oleh kurva berikut ini.

Matematika Ekonomi

120

X1 Q

Q = PT

PM

PR

10

10

24

14 12

39

15 13

52

13 13

61

12.2

x6

66

11

66

9.4

64

-2

PM

PR
Matematika Ekonomi

121

Ciri-ciri grafik fungsi produksi dicatat sbb:


a. Pada saat PT maks, maka PM = 0
b. Pada saat PR maks, maka PM = PR
c. PR maks pada saat grs lurus dari titik nol
(origin) menyinggung kurva PT.
Kurva produksi yang dijelaskan di atas, hanya
jika input variabel terdiri atas satu input. Untuk
Q = f(x1, x2)/x3, , xN)
atau dua input variabel, maka kurvanya dalam
ruang spt berikut:

Matematika Ekonomi

122

x1
x2

Matematika Ekonomi

123

MATRIKS
Matriks artinya sesuatu yang membungkus, yang
dibungkus adalah data kuantitatif yang disusun
dalam bentuk baris dan lajur.
Contoh: Harga gula pasir di 3 kota selama 3 bulan
(rata-rata)
Kota
A
B
C
Bulan
J

4000

4500

4200

4200

4600

4500

4200

4700

4500

Dengan catatan matriks ditulis:


A = 4000 4500 4200

B= 1 0 1 4

4200 4600 4500

3 2 6 7

4200 4700 450

9 8 4 1

Bentuk umum sbb:

Notasi matriks

A = a11 a12 a1n

mxn

a21 a22 a2n


:

am1 am2 amn

Untuk menyederhanakan
dicatat:
A = (aij)mxn

mxn

m = jlh baris; n = jlh lajur


Matematika Ekonomi

125

Vektor.
Kumpulan data/angka yang terdiri atas satu baris
disebut: VEKTOR BARIS, jika satu lajur disebur
dengan VEKTOR LAJUR. Dengan demikian, dpt
disebut bahwa matriks terdiri atas beberapa vektor
baris dan beberapa vektor lajur.

Vektor baris:

Vektor lajur

a = (4, 1, 3, 2)

b= 1

u = u1

u2

x = (x1, x2, xn)

un
Matematika Ekonomi

126

Beberapa macam bentuk matriks


a. Matriks segi: A = (aij)m.n dengan m = n
A= 2 0 2 4
4x4

4 1 7 7
1 2 3 4
5 1 4 1

b. Matriks setangkup: B = (bij)n.n, bij = bji


B=1 0 7 7

4X4

0 5 4 3
7 4 2 5
7 3 5 1
Matematika Ekonomi

127

c. Matriks diagonal
D = (dij)n.n, dij = 0 utk ij

e. Matriks segitiga atas,


jika semua unsur
di-bawah diagonal
uta-ma bernilai nol.

D= 3

G= 9 9 3

0 1 3
0 0 2

d. Matriks identitas
I4 = 1 0 0 0

I2 = 1 0

0 1 0 0

0 1

0 0 1 0
0 0 0 1

Diagonal utama

Jika semua unsur diatas diagonal utama


bernilai 0 = matriks
segitiga bawah.

Matematika Ekonomi

128

Penggandaan matriks
Matriks A = (aij)m.n dapat digandakan dgn B = (bij)p.q
jika dan hanya jika lajur matriks A = baris matriks B
atau n = p
Cara penggandaan adalah vektor baris x vektor lajur
dimana setiap baris A digandakan dengan setiap
lajur B seperti contoh berikut ini.
1 1 0

8 -1

2 4 5

1 1

6 7 8

1 2

Matematika Ekonomi

129

1 1 0

8 -1 = (1 1 0) 8 , (1 1 0) -1

2 4 5

1 1

6 7 8

1 2

(2 4 5) 8 , ( 2 4 5) -1
1

(6 7 8) 8 , (6 7 8)

-1

Matematika Ekonomi

130

(1)(8) + (1)(1) + (0)(1), (1)(-1) + (1)(1) + (0)(2)


(2)(8) + (4)(1) + (5)(1), (2)(-1) + (4)(1) + (5)(2)
(6)(8) + (7)(1) + (8)(1), (6)(-1) + (7)(1) + (8)(2)

Contoh-2: 3 6 0

25

12

4 2 -7

63

17

z
3x + 6y
4x + 2y 7z

Matematika Ekonomi

131

Putaran matriks
Matriks A = (aij)m.n, putarannya adalah A = (aij)n.m,
sedangkan (aij) = (aji).
Contoh: A = 3 8 -9

A = 3 1

1 0 4

8 0
-9 4

D= 1 0 4

D = 1 0 4

0 3 7

0 3 7

4 7 2

4 7 2

Matematika Ekonomi

132

Matematika Ekonomi

133

Determinan matriks segi


Determinan suatu matriks segi adalah hasil perkalian unsur-unsur yang tidak sebaris dan tidak
selajur, dengan tanda tertentu. Determinan
matriks A dicatat det (A) atau |A|

Contoh: Hitung determinan matiks A =

2 7
4 9

det A = (2)(9) (4)(7) = - 10.

Matematika Ekonomi

134

Contoh: Cari determinan matriks


C= 1 4 7
8 2 5
6 9 3

Cara Sarrus, yaitu dengan


menambahkan lajur 1 sebagai
lajur 4 dan lajur 2 sebagai
lajur 5 kemudian menggandakan angka yang tidak sebaris
dan tidak selajur.
-

det C = 1 4 7 1 4
8 2 5 8 2
6 9 3 6 9

= (1)(2)(3) + (4)(5)(6) + (7)(8)(9)


-(7)(2)(6) - (1)(5)(9) (4)(8)(3) = 405
Matematika Ekonomi

135

Untuk matriks dengan dimensi/ukuran 4 x 4, cara


Sarrus tidak dapat digunakan melainkan dicari perkalian unsur yang tidak sebaris dan tidak selajur.

Pangkat suatu matriks


Suatu matriks segi dengan determinan 0, maka
matriks itu disebut berpangkat penuh atau matriks tak
singular. Sebaliknya, disebut matriks berpangkat tak
penuh atau dinamakan matriks singular.
Jika suatu matriks B berukuran nxn, maka pangkat
matriks itu dicatat p(B) = n, jika matriknya berpangkat
penuh.

Matematika Ekonomi

136

Tetapi jika determinannya = 0, maka pangkat matriks


B, lebih kecil dari n, yaitu dimensi salah satu anak
matriksnya yang memiliki det 0.
Contoh A = 1 1 0 , karena det A = 0, maka
3x3

2 -1 1

p(A) 3, dan kemungkinan

4 1 1

p(A) = 2.

Untuk memeriksa, ambil salah satu anak matiksnya:


A11 = 1 1 , det A11 = - 3 0. Berarti p(A) = 2
2 -1

Matematika Ekonomi

137

Dalam sistem persamaan linear, yang mencari nilainilai x dari sistem persamaan tersebut, maka matriks
penyusun persamaan linear dimaksud harus 0 atau
tak singular atau berpangkat penuh.
Misal: 7x1 - 3x2 3x3 = 7
2x1 + 4x2 + x3 = 0
- 2x2 - x3 = 2

Setelah diubah dg
perkalian matiks
diperoleh

7 -3

-3

x1 =

8 4

x2

0 -2

-1

x3

Matematika Ekonomi

138

Det. Matriks: 7 -3 -3 = -8 0, berarti nilai-nilai x


2

dari persamaan li-

-2 -1

near itu dpt dicari.

Matematika Ekonomi

139

Persamaan linear dan jawabannya.


Persamaan linear adalah himpunan dari persamaan
linear dengan beberapa nilai yang hendak dicari.
Contoh: 5x1 + 3x2 = 30
6x1 2x2 = 8

7x1 x2 x3 = 0
10x1 2x2 + x3 = 8
6x1 + 3x2 2x3 = 7

Dari persamaan tersebut akan dihitung x1 dan x2

Matematika Ekonomi

140

Dengan aturan Cramer, menggunakan cara determinan, sistem persamaan linear di atas dapat
diselesai-kan dg cara sbb:
a. Buat persamaan linear menjadi dalam bentuk
perkalian matriks.
5

x1 = 30

-2

x2

8
d

b. Cari nilai det (A);

det A = -28

c. Dapatkan matiks A1 yaitu matriks A dengan


mengganti lajur ke-1 dengan vektor d.

Matematika Ekonomi

141

A1 = 30 3
8 -2
d. Dapatkan matriks A2 yaitu matriks A dengan
mengganti lajur ke-2 dengan vektor d.
A2 = 5 30
6

e. Cari det A1 dan det A2; det A1 = -84; det A2 = -140


f. Nilai x1 = det A1/det A, dan x2 = det A2/A.
x1 = -84/-28 = 3;

x2 = -140/-28 = 5.

Matematika Ekonomi

142

Contoh 2

7 -1 -1

x1

= 0

10 -2 1

x2

6 3 -2

x3

a. Det A = -61
b. Det A1 = 0 -1 -1

= -61; det A2 = 7 0 -1 = -183

8 -2 1

10 8 1

7 3 -2

7 -2

det A3 = 7 -1 0 = -244
10 -2 8
6 3 7
Matematika Ekonomi

143

MATRIKS KEBALIKAN
Jika A = (aij)n.n maka matriks kebalikannya dicatat
sebagai A-1.
Cara mencari matriks kebalikan:
a. Dengan matriks adjoint
b. Dengan transformasi penyapuan
c. Dengan metode Doolittle

Matematika Ekonomi

144

Mencari matriks kebalikan dengan matiks adjoint


Umpamakan dibicarakan matiks A = a11 a12 a13
a21 a22 a23
a31 a32 a33
Untuk mencari matriks kebalikannya ditempuh langkah-langkah sbb:
a. Mencari minor setiap unsur apq atau Mpq, dimana
p=q = 1, 2, 3. (baris = p, lajur = q = 1, 2, 3)
Definisi: Minor unsur apq adalah determinan anak
matriks dengan menghapus baris p dan
lajur q.
Jadi M11 dihitung dengan cara berikiut:
Matematika Ekonomi

145

a11 a12 a13


a21 a22 a23
a31 a32 a33
Minor unsur a11 = M11 = a22 a23 = a22a33 a23a32
a32 a33
Minor unsur a12 = M12 = a21 a23 = a21a33 a23a31
a31 a33
Minor unsur a13 = M13 = a21 a22
a31 a32 = a21a32 a22a31

Matematika Ekonomi

146

Minor unsur a21 = M21 = a12 a13 = a12a33 a13a32


a32 a33
Minor unsur a22 = M22 = a11 a13 = a11a33 a13a31
a31 a33
Minor unsur a23 = M23 = a11 a12
a31 a32 = a11a32 a12a31

Matematika Ekonomi

147

Minor unsur a31 = M31 = a12 a13 = a12a23 a13a22


a21 a23
Minor unsur a32 = M32 = a11 a13 = a11a23 a13a21
a21 a23
Minor unsur a33 = M33 = a11 a12
a21 a22 = a11a22 a12a21

Matematika Ekonomi

148

b. Kofaktor.
Kofaktor unsur apq ialah pq = (-1)p+qMpq.
Kofaktor unsur a11 = 11 = (-1)1+1M11
Kofaktor unsur a12 = 12 = (-1)1+2M12
Kofaktor unsur a13 = 13 = (-1)1+3M13
Kofaktor unsur a21 = 21 = (-1)2+1M21
Kofaktor unsur a22 = 22 = (-1)2+2M22
Kofaktor unsur a23 = 23 = (-1)2+3M23
Kofaktor unsur a31 = 31 = (-1)3+1M31
Kofaktor unsur a32 = 32 = (-1)3+2M32
Kofaktor unsur a33 = 33 = (-1)3+3M33
Matematika Ekonomi

149

Setelah dapat kofaktor dari setiap unsur, susunlah


matriks kofaktor K:
K = 11 12 13
21 22 23
31 32 33

Matriks kebalikan dari A = A-1 = (1/det A)(K)


Perhatikan, kofaktor unsur sebenarnya hanya soal
tanda dari minor saut unsur. Jika indeksnya genap,
tandanya + dan jika indeksnya ganjil, tandanya
negatip.

Matematika Ekonomi

150

Contoh: Cari matriks kebalikan dari B = 4 1 -1


0 3 2
3 0 7
Matriks kofaktor K= 3 2

0 2

0 3

= 21 6 -9

0 7

3 7

3 0

-7 31 3

1 -1

4 -1

4 1

5 -8 12

0 7

3 7

1 -1

4 -1

4 1

0 2

0 3

3 2

Matematika Ekonomi

3 0

151

Matriks putaran K = K =

21 -7

6 31 -8
-9

3 12

Matriks kebalikan = B-1


adalah: (1/det B)K.
det (B) = (4)(3)(7) +
(1)(2)(3) +
(0)(0)(-1)
-(-1)(3)(3)
-(2)(0)(4)
-(1)(0)(7) = 99

B-1 = (1/99) 21 -7 5

Matematika Ekonomi

6 31 -8
-9 3 12

152

Untuk menguji, maka: BB-1 = I


4 1 -1

21/99 -7/99 5/99

= 1 0 0

0 3 2

6/99 31/99 -8/99

0 1 0

3 0 7

-9/99 3/99 12/99

0 0 1

B-1

Matematika Ekonomi

153

PENGGUNAAN MATRIKS KEBALIKAN DALAM


EKONOMI (INPUT OUTPUT Analysis)
Dalam analisis ekonomi dikenal keterkaitan antar industri (atau sektor industri). Artinya output suatu
sektor dipakai untuk memenuhi sektor lain, dan memenuhi permintaan akhir rumah tangga, pemerintah,
pembentukan modal maupun ekspor. Sementara
Input suatu sektor dibeli dari sektor lain.

Matematika Ekonomi

154

Dalam analisis ekonomi, sering hubungan antar satu


sektor dgn sektor lain dinyatakan dengan himpunan
persamaan linear. Contoh analisis input-output
Leontief.
Dengan notasi matriks model I-O sbb:
AX + F = X atau
X - AX = F atau
(I A)X

= F

pers matriks Leontief

X = F/(I - A) = (I A)-1. F.
Matriks kebalikan
Leontief

Matematika Ekonomi

155

0.2

0.3

0.2 ,

x1 ,

10

0.4

0.1

0.2

x2

0.1

0.3

0.2

x3

Mis. Sektor
perekonomian
terdiri dari 3
sekt. Pert, Ind,
dan Jasa.

1 0 0 - 0.2

0.3

0.2

= 0.8 -0.3 -0.2

0 1 0

0.4

0.1

0.2

-0.4 0.9 -0.2

0 0 1

0.1

0.3

0.2

-0.1 -0.3

0.8

0.8 -0.3 -0.2

x1 = 10

-0.4 0.9 -0.2

x2

-0.1 -0.3

x3

6
F

I-A

0.8

x Ekonomi
Matematika

156

Matriks Kofaktor dari (I A) adalah


M11 -M12 M13 = 0.66 0.34 0.21 , K = 0.66 0.30 0.24
-M21 M22 -M23

0.30 0.62 0.27

0.34 0.62 0.24

M31 -M32 M33

0.24 0.24 0.60

0.21 0.27 0.60

(I A)-1 = 1/(det (I-A)K

=0.384
1
0.66 0.30 0.24
0.34 0.62 0.24
0.21 0.27 0.60

= 1.72 0.78 0.63 = R


0.90 1.61 0.63
0.55 0.70 1.56
Matematika Ekonomi

157

Arti dari matriks kebalikan Leontief:


Mis r12 = 0.78, artinya untuk menopang setiap permintaan akhir akan produk Industri, harus
diproduksi sebanyak 0.78 satuan produk pertanian.
R23 = 0.68, artinya untuk menopang setiap permintaan akhir akan produk Jasa, maka harus diproduksi sebanyak 0.68 satuan produk Industri.

Matematika Ekonomi

158

Vektor x adalah vektor permintaan akhir yaitu:


(I A)-1F
X = x1 = 1/0.384 [0.66(10) + 0.30(5) + 0.24(6)] = 24.84
x2

1/0.384 [0.34(10) + 0.62(5) + 0.24(6)] = 20.68

x3

1/0.384 [0.21(10) + 0.27(5) + 0.60(6)] = 18.36

Artinya: Berdasarkan permintaan akhir yang ada, maka diramalkan output sektor pertanian, industri dan jasa masingmasing akan menjadi 24.84 satuan, 20.68 satuan dan 18.36
satuan.
Dengan analogi yang sama, jika permintaan akhir mau dinaikkan, maka ramalan output tiap sektor dapat diketahui.
Matematika Ekonomi

159

Penutup: TUHAN Maha Tahu


tetapi tidak pernah memberi tahu !
Mengapa ?
Manusia sudah diberi pikiran
dan manusia adalah makhluk
yang berpikir.
Matematika merupakan sarana berpikir

Matematika Ekonomi

160