Anda di halaman 1dari 41

Prof.Dr.H.S.

Brodjo Soedjono

SH.,MS.

Prof.Dr.H.S. Brodjo
Soedjono SH.,MS.

SOSIOLOGI
HUKUM
Prof. DR. H. S. Brodjo Sudjono, SH., MS

TUJUAN
Memahami hubungan antara hukum

dengan sistem sosial (budaya, sosial,


politik, dan ekonomi) berikut implikasi atau
akibatnya
Mempelajari masalah-masalah yang

berkaitan dengan hukum-negaramasyarakat

CAKUPAN
1. Hukum sebagai PRODUK

(aturan, organisasi, dan asas-asasnya)


2. Hukum sebagai PROSES
(proses legislasi, proses yudikasi, dan
proses eksekusi)
3. Hukum sebagai SISTEM
(substansi, struktur dan budaya hukum)
4. Hukum dalam SISTEM HUBUNGAN
(keterkaitan hukum dengan sub sistem
budaya, sosial, politik, dan ekonomi)

PENGANTAR
Arti Penting Hukum

Manusia sebagai makhluk aneh (human


stranger)
=> Memerlukan sistem hubungan yang
terstruktur
Posisi sebagai:
1. Makhluk Sosial (Homo Sociologus)
2. Makhluk yang ingin menang (Homo
Hominilopus)
3. Makhluk bernalar (Homo Sapien)
Menawarkan hubungan antar manusia yang

FUNGSI HUKUM
1. Social Engineering (Rekayasa Sosial)
=> membuat manusia menjadi kelompokkelompok yang terkendali
2. Social Control (Pengawas Sosial)
=> menjadikan manusia untuk bertingkah
laku seperti yang dikehendaki hukum
3. Sosial Integration (Kesatuan Sosial)
=> menggalang tercapainya kesatuan
tujuan yang berasal dari kesepakatan
bersama dalam suatu lingkungan
masyarakat

Mengapa Kita
Butuh
Sosiologi Hukum?

Sejak proses pembentukannya hingga

pelaksanaannya di lapangan, hukum sarat


dengan pergulatan sosial kemanusiaan
(sosiologis)
Pada taraf pembuatannya, terjadi
pertarungan ide, nilai, sistem situasi,
kepentingan, dan persaingan kekuatan para
perancang dan pembuatnya
Pada taraf pelaksanaannya, hukum harus
dilaksanakan oleh aparat penegak hukum
(kepolisian, kejaksaan, ataupun pengadilan).
Masing-masing lembaga menghadapi masalah
organisasi seperti dana, sarana, prasarana,
kebijakan, manajemen, dll sehingga

(lanjutan)
Bagi masyarakat, hukum tidak lebih dari sebuah

instrumen (alat yang dipilih/tidak dipilih) dan atau


teknologi (ditentukan oleh selera penerima)
Sebagai instrumen: Hukum hanya alat bagi
manusia.
Oleh karena itu hukum melibatkan aspek-aspek
manusiawi berupa: pemaknaan, sikap, komitmen,
pemahaman, keterampilan, kemampuan, sumber
daya, tujuan, dan sistem situas
Sebagai teknologi: hukum tunduk pada sistem
komunikasi inovasi, komunikasi nilai, komunikasi
manfaat, komunikasi sosial, dan komunikasi
konsep. Semua ini berada di luar bingkai
prespektif dan doktrinal hukum

Itulah sebabnya, hukum sebenarnya paling sedikit

berkutub dua. Kutub yang pertama, sesuai dengan


namanya hukum tentu saja ialah pranata dan lembaga
hukum. Hukum, tidak kurang dari upaya manusia dalam
hidup bersama untuk menata, menertibkan, dan
menjaga kehidupan bersama itu secara tertib.
Dalam konteks ini, hukum tidak lagi hanya sekedar
aturan normatif yang abstrak, tetapi sebagai sesuatu
yang konkret. Ia menghadapi orang-orang yang
konkret, pada suatu waktu tertentu, dan latar belakang
tertentu pula.
Pendeknya, hukum dalam keidealan atau desideratanya
yang serba umum, menghadapi masyarakat yang
konkret dalam ruang waktu tertentu

Di sinilah problem sentral yang melekat pada

hukum sebagai alat tertib sosial. Di satu


pihak, hukum harus berfungsi sebagai orde
hukum yang secara spesifik mengatur
kehidupan manusia. Pada pihak yang lain,
hukum dituntut mengaktualisasikan apa yang
ideal dan bersifat umum itu kepada
pergumulan nyata masyarakat yang selalu
berbeda dari komunitas ke komunitas, dari
lokalitas ke lokalitas.
Kita tidak berhadapan hukum sebagai idea
tetapi hukum as it ishukum sebagaimana
adanya dalam kenyataan.
Singkatnya, hukum hanyalah (salah satu)

Inilah kutub yang kedua. Hukum berbicara

tentang manusia. Oleh karena itu, hukum


sebenarnya dalam arti tertentu adalah sosioantropologi
APA ARTINYA?
Artinya bahwa ketika manusia menyatakan

dirinya lewat hukum, maka yang terjadi ialah


bukan saja bahwa ia hendak menyatakan
tentang siapa dirinya, tetapi juga hendak
menyatakan apa kehendak mereka dalam
mengatur ketertiban lewat hukumdimana
suatu kelompok manusia hendak mengikatkan
diri dalam aturan hukum tersebut

Tujuan mempelajari Sosiologi Hukum


Fenomena umum dalam hukum modern

menyangkut persaingan antara hukum dan


kekuasaan, ditandai oleh dua kecenderungan
yaitu:
1. Ketertutupan sistem hukum terhadap
kekuasaan
2. Serba dominasi kekuasaan atas hukum
. Hasil akhir dari dua kondisi tersebut,

berujung pada ketidakmampuan hukum


sebagai sarana mengarahkan perubahan
dan pencapaian terhadap suatu perubahan

Teori Hukum Nonet dan Selznick


Nonet dan Selznick memberi model hubungan antara

hukum, negara (kekuasaan), dan masyarakat.


Tiga teori yang menjelaskan hubungan sistemik

dalam hukum dan konfigurasi khusus dimana


hubungan tersebut terjadi yaitu:
1. Hukum Respresif
2. Hukum Otonom
3. Hukum Responsif
Penjelasan masing-masing teori dibahas di slide
berikutnya

1. Hukum Represif
Hukum sebagai alat kekuasaan represif. Tipe

hukum ini bertujuan untuk mempertahankan


status quo penguasa yang sering diterpakan
dengan dalih menjamin ketertiban.
Ciri utama hukum represif:
1. Ketertiban menjadi tujuan utama hukum
2. Legitimasi atau dasar kekuatan mengikat adalah
kekuasaan negara
3. Peraturan-peraturannya yang terumus secara
rinci bersifat keras (represif) mengikat rakyat,
tetapi lunak terhadap penguasa

4. Alasan pembuatannya bersifat ad-hoc sesuai


keinginan arbiter penguasa
5. Kesempatan bertindak sesuai situasi dan
kondisi
6. Pemaksaan serba mencukupi tanpa batas
yang jelas
7. Moralitas yang dituntut dari masyarakat
adalah pengendalian diri
8. Kekuasaan menempati posisi di atas hukum
9. Kepatuhan masyarakat harus tanpa syarat
dan ketidakpatuhan dihukum sebagai
kejahatan
10. Partisipasi masyarakat diijinkan lewat

2. Hukum Otonom
Hukum sebagai suatu pranata yang setia menjaga

kemandirian hukum itu sendiri.


Bersifat mandiri sehingga pemisahaan antara
kekuasaan dan hukum sangat tegas
Legitimasi hukum ini terletak pada keutamaan
prosedural hukum yang bebas dari pengaruh politik
melalui pembatasan prosedur yang sudah mapan
Hukum otonom tidak akomodatif terhadap
perkembangan sosial di luarnya, sehingga sering
dirasakan tidak memberi keadilan substensif yang
dibutuhkan masyarakat

Ciri-ciri hukum otonom:


1. Keabsahan berdasarkan prosedur yang benar
2. Peraturan dibuat dengan teliti dan ikatan

penuh, baik terhadap obyek hukum maupun


terhadap pembuat aturan itu sendiri
3. Diskresi (kebebasan bertindak) dibatasi aturan
4. Penyerahan wewenang bersifat sempit yang
berakibat pemaksaan dapat dilakukan dengan
pembatas-pembatas hukum
5. Integrasi hukum yuridis merupakan asas moral
institusional yang menjadikan hukum otonom
tidak dibawa kekuasaan politik

3. Hukum Responsif
Hukum sebagai sarana respons terhadap

ketentuan-ketentuan sosial dan aspirasi publik.


Bersifat terbuka sehingga mengutamakan
akomodasi untuk menerima perubahan sosial demi
tercapainya keadilan dan emansipasi publik
Ciri utama hukum responsif:
1. Peraturan di bawah asas-asas hukum
2. Kebijakan sesuai dengan kompetensi
(kewenangan) untuk mewujudkan keadilan yang
substantif
3. Diskresi (kebijakan bertindak) diperluaskan tetapi
dipertanggungjawabkan sesuai dengan tujuan

KEKUASAAN HUKUM
Contoh: Model Max Weber
Pengorganisasian Masyarakat (Tipe Dasar
Kekuasaan) dan Perkembangan Penyelenggaraan
Hukum

KEKUASAAN HUKUM

(penjelasan)

Kecenderungan umu dalam perkembangan / penyelenggaraan


hukum dari tradisional ke modern adalah:
1. Pengadaan hukum melalui pewahyuan (revelation) secara

kharismatik. Dalam istilah Weber, pengadaan hukum yang


demikian terjdi melalui Law Prophets. Pengadaan hukum ini
merupakan penciptaan dari nol berdasarkan inspirasi.
2. Penemuan hukum secara empiris oleh legal honorationres, yaitu

penciptaan hukum oleh kepentingan. Dalam pembuatan hukum


ini sudah mengandung keterampilan tertentu dalam membuat
hukum, tidak hanya berdasarkan inspirasi seperti tahap
pertama, serta telah terikat pada preseden.
3. Pembebanan dari atas oleh kekuatan-kekuatan sekuler atau

teokratis, dimana hukum merupakan perintah penguasa


4. Tahap terkahir merupakan penggarapan hukum secara

sistematis yang dijalankan oleh para profesional, yaitu mereka


yang mendapat pendidikan khusus dalam bidang hukum.

TIPE KEKUASAAN

Matrix Hubungan Kekuasaan,


Administrasi Hukum, dan Keadilan

PRAKTIK SOLIDARITAS HUKUM


(model Emile Durkeim: Solidaritas dan Hukum)

POSISI HUKUM DALAM PROSES TRANSISIONAL

Ada 2 (dua) paham yang melandasi, yaitu:


1. F.C. Von Savigny. Menurutnya, hukum
hanyalah mengikuti perubahan-perubahan
yang terjadi dalam masyarakat, dan sedapat
mungkin mengesahkan perubahanperubahan tersebut. Kedudukan yang
demikian disebut sebagai sosial kontrol.
2. Roscoe Pound. Menurutnya, hukum memiliki
kedudukan penting norma-norma baru untuk
memajukan masyarakat. Kedudukan yang
demikian disebut sebagai social engineering.

Beberapa hambatan bagi hukum sebagai sarana perubahan


sosial
1. Bagian terbesar masyarakat tidak akan mengerti akan kegunaan
konkrit dari hukum yang baru itu.
2. Nilai-nilai baru yang dibawa oleh hukum, bertentangan dengan
nilai-nilai lama yang telah menjiwai bagian terbesar warga
masyarakat.
3. Warga masyarakat dengan sekalian kepentingannya merasa
terancam oleh aturan hukum. Kadangkala mereka merasa cukup kuat
menolak perubahan yang ditawarkan.
4. Resiko minoritas nilai-nilai baru yang dibawa oleh hukum lebih
serius daripada mempertahankan ketentraman sosial berdasarkan
nilai-nilai lama.
5. Masyarakat tidak mengakui wewenang dan kewibawaan para
pelopor perubahan yang diperkenalkan lewat hukum.
6. Saluran komunikasi nilai-nilai baru dalam hukum tidak tepat
sehingga terjadi salah perngertian.
7. Itulah sebabnya, bagi agen perubahan berlaku prinsip: How slow
must we go? How fast can we go?

PENEGAKAN HUKUM
Hukum dapat berlaku efektif apabila terdapat 4 unsur yang
saling berkaitan dan mendukung satu dengan yang lain:
1. Hukum atau peraturan perundang-undangan
=> harus mampu menjawab kebutuhan secara sistematis dan
relevan.
2. Peranan penegak hukum
=> petugas harus merasa terikat terhadap peraturan/hukum
dengan
tingkat kapabilitas integritas dan koomitmen yang
memadai.
3. Fasilitas pendukung pelaksanaan hukum
=> tersedianya sarana prasarana serta dana yang memadai.
4. Kesadaran hukum masyarakat
=> apakah masyarakat tertrik menggunakan hukum?

Teori Solidaritas Hukum

Teori Dikhotomis
Tingkah analisis dan
tokohnya
Budaya:
A. Comte
Sorolim
Osburn
H.Maine
Struktur:
Karl Marx
Emile Durkheim
F. Tonnies
T. Parsons

Individu:
Max Weber
G. Simmel
Cooley
G.H. Mead
Goffman

Teori

Teologis-metafisik vs positif
Mentalitas ideasional vs indrawi
Kebudayaan materi vs non materi
status vs kontrak

infrastruktur vs suprastruktur
solidaritas mekanik vs organik
gemeinschaft vs gesselschaft
variabel-variabel pola:
afektifitas vs netralitas afektif
orientasi diri vs kolektif
partikularisme vs universalisme
askripsi vs prestasi
spesifitas vs kekaburan

irrasional vs rasional
kreativitas individu ps pola umum
hub primer vs hub sekunder
volunteristik vs struktur
aktor vs audiens

Sumbangan pada Hukum

Model H.C. Bredemeier


Proses Pengintegrasian Lewat Pengadilan

Masukan dari

Keluarannya

Ekonomi (adaptasi)
Politik (pencapaian
tujuan)
Budaya
(pertahankanpola)
Sosial (menata
kehidupan)

Penataan kembali sektor


produktif dalam masyarakat
Legalisasi dan konkretisasi
tujuan yang diinginkan
Keadilan

PENGADILAN

Aliran Sosiologi
Hukum
Ajaran Sosiologi Hukum mengenal 2 jenis aliran yang terdiri dari:
I. Sociology of Law
Yaitu ilmu yang mempelajari aspek-aspek sosial dari hukum.
Kajian terutama pada kondisi elemen sosial seperti politik,
ekonomi, sosial, dan budaya. Kondisi masyarakat merupakan
titik tolak dalam membentuk nilai yang menentukan variabel
independen, sedangkan hukum menjadi variabel dependen atau
yang dipengaruhi.
II. Sociological Jurisprudence
Titik berat kajian aliran ini adalah hukum yang sosiologis, yaitu
mencari bentuk hukum yang sesuai dengan kebutuhan
masyarakat. Keberatan hukum menjadi penentu sedangkan
masyarakat adalah perkara yang membutuhkan hukum.

PROSES SOSIAL
INTERAKSI SOSIAL

NORMA SOSIAL

STRUKTUR SOSIAL

FUNGSI INTEGRATIF DARI HUKUM

STRUKTURAL FUNGSIONAL- T.PARSON

SUBYEK FORMAL&VARIABEL

SUBYEK
HAKIM
POLISI
ADVOKAT
JAKSA

KORELASI VARIABEL
1. LABEL SOSIAL
2. PENDIDIKAN
3. EKONOMI
4. AGAMA/
AGAMA/ KEPERCAYAAN
KEPERCAYAAN
5.
5. POLITIK
POLITIK

6. KELUARGA
7. LINGKUNGAN

SOSIOLOGI PERKARA

TIPE HUKUM
1. Hukum sebagai sesuatu bentuk yang mempunyai sosial kontrol,

hukum memberi kontribusi pada penyelesaian konflik,


pemelihara tata tertib, perlindungan masyarakat dari kejahatan.
2. Hukum dengan tipe sebagai rekayasa sosial. Prinsip tipe hukum

ini adalah hukum dimanfaatkan untuk perubahan sosial baik


dalam tata kemasyarakatan maupun tata pemerintahan.
3. Hukum dengan tipe sebagai wahana emansipasi sosial. Pokok

kajiannya adalah studi tentang isu etnik, ras, diskriminasi


hukum/peradilan.
4. Hukum bertipe mandiri/otonom, dimana hukum terbebas dari

pengaruh faktor lain. Dengan prinsip doktrin dan nilai, hukum


justru mempengaruhi kondisi dan situasi masyarakat.

Pendekatan Hukum
1. Pendekatan Ideologis, yaitu pendekaan pemberlakuan hukum

dengan mengadopsi nilai, norma, keyakinan yang berkembang di


masyarakat maupun norma peraturan hukum yang berasal dari
negara.
2. Pendekatan Deskriptif, yaitu proses aktualisasi-real tentang tingkah

laku dan berbagai solusi tentang hubungan antar perorangan dan


memecahkan berbagai masalah dengan logika hukum.
3. Pendekatan Historis, yaitu menganalisa pemecahan masalah

berdasarkan pada sejarah munculnya kasus dan mengurai proses


sengketa secara komprehensif secara mendasar harus diketahui
awal kasus, alasannya, pihak mana saja, dan media penyelesaian
yang dipilih.

Analisis Sosiologi
Hukum
Di dalam menganalisa permasalahan yang timbul akibat hubungan
hukum dengan masyarakat dikenal ada 3 aras (ukuran) yaitu:
1. Aras Makro: mengkaji permasalahan hukum dan masyarakat

dalam lingkungan sosial dengan penekanan pada aspek kelompok


seperti desa, keluarga, organisasi masyarakat, dsb.
2. Aras Meso: mengkaji permasalahan dengan penekanan pihak-

pihak yang berwajib seperti polisi, jaksa, hakim, dan lembaga


pemasyarakatan, dan imigrasi. Dlam hubungan ini keterkaitan
urusan menjadi prioritas.
3. Aras Mikro: mengkaji permasalahan dengan dasar persepsi dan

pemaknaan individual. Dalam hal yang demikian akan timbul


banyak variabel yang berkembang.

Kesimpulan
Konsep Sosiologi Hukum
Secara umum, sosiologi hukum mempelajari
kenyataan sosial hukum, yaitu kenyataan
kemasyarakatan berkenaan dengan aturan hukum
Artinya, di satu pihak mengungkapkan proses
kemasyarakatan yang mempengaruhi sistem
hukum serta mengungkapkan realitas/proses
sosial yang mendukung atau pun melemahkan
keberlakuan hukum. Sementara di lain pihak,
mempelajari semua keadaan yang ditimbulkan
oeh regulasi hukum dalam masyarakat.

TERIMA KASIH