Anda di halaman 1dari 30

Struktur Etika Institut

Akuntan Indonesia
Octavianus Digdo Hartomo

Pendahuluan
Tujuan profesi akuntansi adalah untuk memenuhi
tanggung jawabnya dgn standar profesionalisme
tertinggi, mencapai tingkat kinerja tertinggi, dgn
orientasi pada kepentingan publik
Faktor kunci citra profesi akuntan (keberadaan
dan perkembangan profesi akuntan itu sendiri)
ditentukan oleh tingkat kepercayaan masyarakat
pemakai jasa akuntan,
Sedangkan tingkat kepercayaan masyarakat
ditentukan oleh tingkat kualitas jasa
(pengetahuan dan keterampilan teknis di bidang
akuntansi serta disiplin ilmu terkait) dan tingkat
ketaatan serta kesadaran para akuntan dalam
mematuhi kode etik profesi

Pendahuluan
Struktur Kode Etik IAI terdiri dari empat bagian
yang disusun berdasarkan struktur/jenjang
(hirarchi):
(1) Prinsip Etika,
(2) Aturan Etika,
(3) Interpretasi Aturan Etika,
(4) Tanya Jawab Etika

Prinsip Etika disusun oleh IAI dan disahkan dalam


rapat anggota IAI.
Prinsip Etika memberikan kerangka dasar bagi
penyusunan Aturan Etika semua
kompartemen/institut profesi sejenis. Prinsip Etika
berlaku bagi semua anggota IAI

Pendahuluan
Aturan Etika merupakan pedoman perilaku bagi
semua anggota kompartemen/institut sejenis
Aturan Etika ini disusun oleh masing-masing
kompartemen/insititut profesi sejenis dan
disahkan dalam rapat anggota
kompartemen/institut yang bersangkutan
Interpretasi Aturan Etika merupakan penafsiran,
penjelasan, atau elaborasi lebih lanjut atas halhal, isu-isu, pasal-pasal, yang diatur dalam
Aturan Etika yang dianggap memerlukan
penjelasan agar tidak terjadi perbedaan
pemahaman atas aturan etika dimaksud

Prinsip Etika IAI


Saat ini kode etik IAI yang disahkan pada kongres
IAI ke VIII tahun 1998 terdiri dari 8 prinsip, yaitu:

Tanggung Jawab Profesi.


Kepentingan Publik
Integritas
Objektivitas
Kompetensi dan Kehati-hatian Profesional
Kerahasiaan
Perilaku Profesional
Standar Teknis

Proses Penalaran Prinsip Etika

Hasil kerja profesi akuntan


untuk kepentingan
publik-Pr. 2

Oleh karena itu setiap anggota


dituntut untuk mengembangkan
rasa tanggung jawab -Pr. 1

Kompetensi mencakup tiga ranah:


pengetahuan (knowledge)- Pr.5
keterampilan teknis(skill)-Pr.8
sikap-perilaku etis (attitude):
Pr.3 - integritas
Pr.4 - objektivitas
Pr.6 - Kerahasiaan
Pr.7 Perilaku Profesional

Tanggung jawab diwujudkan


dalam bentuk upaya
peningkatan kompetensi secara
berkelanjutan -Pr. 5

Proses penalaran prinsip etika


Kepentingan Publik (Prinsip ke 2)
Setiap anggota berkewajiban untuk senantiasa
bertindak dalam kerangka pelayanan kepada publik,
menghormati kepercayaan publik, dan menunjukkan
komitmen atas profesionalisme.

Tanggung Jawab Profesi (Prinsip ke-1)


Dalam menjalankan tanggung- jawabnyanya sebagai
profesional, setiap anggota harus senantiasa
menggunakan pertimbangan moral dan profesional
dalam semua kegiatan yang dilakukannya

Proses penalaran prinsip etika


Prinsip ke 2: Kepentingan Publik ini menyiratkan
hal-hal sebagai berikut:
Masyarakat/publik membutuhkan dan mengandalkan
informasi (laporan keuangan, laporan audit) yang
dihasilkan oleh profesi akuntan untuk mengambil
berbagai jenis keputusan bisnis, ekonomis dan politis,
Efektivitas keputusan publik ini bergantung kepada
kualitas informasi yang disampaikan profesi akuntan,
Profesi akuntan akan tetap berada pada posisi penting
bila setiap akuntan selalu dapat dan mampu
memelihara kepercayaan publik
Penghormatan kepada kepercayaan publik ini hanya
dapat dilakukan bila setiap akuntan dapat
menunjukkan komitmen dan dedikasi mereka untuk
mencapai profesionalisme yang tinggi

Proses penalaran prinsip etika


Tanggung-Jawab Profesi ini menyiratkan arti bahwa:
Publik menuntut tanggung jawab profesi akuntan untuk
selalu menjaga kualitas informasi yang disampaikan,
Dalam menjalankan profesinya setiap akuntan akan sering
dihadapkan pada berbagai bentuk benturan kepentingan
(conflict of interest), misalnya:
kepentingan pribadi versus kepentingan publik,
kepentingan atasan (untuk akuntan
manajemen/akuntan pemerintah) versus kepentingan
publik,
kepentingan klien pemberi tugas (untuk akuntan
pemeriksa/auditor independen) dengan kepentingan
publik,

Proses penalaran prinsip etika


maka akuntan harus selalu lebih
mengedepankan kepentingan yang
lebih besar (kepentingan publik),
Mengedepankan kepentingan publik
hanya dapat dilakukan bila akuntan selalu
menggunakan pertimbangan moral dan
profesional dalam semua kegiatan yang
dilakukan.

Proses Penalaran Prinsip Etika


Kompetensi (Prinsip ke-3 s/d ke-8)
Setiap anggota harus melaksanakan jasa
profesionalnya dengan kehati-hatian,
kompetensi dan ketekunan, serta mempunyai
kewajiban untuk mempertahankan pengetahuan
dan keterampilan profesional pada tingkat yang
diperlukan untuk memastikan bahwa klien atau
pemberi kerja memperoleh manfaat dari jasa
profesional yang kompeten berdasarkan
perkembangan praktik, legislasi dan teknik yang
paling mutakhir

Proses Penalaran Prinsip Etika


Dengan demikian kompetensi dapat diartikan
sebagai penguasaan dan kemampuan yang
dimiliki dalam menjalankan profesinya sehingga
menumbuhkan kepercayaan publik dan oleh
karena itu publik memberi mandat dan wewenang
dalam menjalankan profesinya
Para akuntan harus selalu memelihara
kepercayaan publik dan menumbuhkan rasa
tanggung jawab yang tinggi untuk menjaga
kepercayaan publik. Rasa tanggung jawab yang
tinggi hanya dapat diwujudkan melalui
pengembangan dan pemeliharaan kompetensi
pada tingkat yang tinggi

Proses Penalaran Prinsip Etika


IAI telah menetapkan enam (6) prinsip etika
yang berhubungan dengan keharusan memiliki
kompetensi tinggi ini, yaitu:
Kompetensi pada ranah kognitif: Prinsip Kelima :
Kompetensi dan Kehati-hatian Profesional,
Kompetensi pada ranah afeksi:

Prinsip Ketiga - Integritas


Prinsip Keempat Objektivitas
Prinsip Keenam Kerahasiaan
Prinsip Ketujuh Perilaku Profesional

Kompetensi pada ranah psiko-motorik: Prinsip


Kedelapan Standar Teknis

Aturan Etika IAPI


100 Independensi, Integritas dan Objektivitas
101 Independensi
Dalam menjalankan tugasnya anggota KAP harus selalu
mempertahankan sikap mental independen di dalam
memberikan jasa profesional sebagaimana diatur dalam
Standar Profesional Akuntan Publik yang ditetapkan oleh
IAI. Sikap mental independen tersebut harus meliputi
independen dalam fakta (in facts) maupun dalam
penampilan (in appearance).
102 Integritas dan Objektivitas
Dalam menjalankan tugasnya anggota KAP harus
mempertahankan integritas dan objektivitas, harus bebas
dari benturan kepentingan (conflict of interest) dan tidak
boleh membiarkan faktor salah saji material (material
misstatement) yang diketahuinya atau mengalihkan
(mensubordinasikan) pertimbangannya kepada pihak lain

Aturan Etika IAPI


200 Standar Umum dan Prinsip Akuntansi
201 Standar Umum
Kompetensi Profesional. Anggota KAP hanya boleh
melakukan pemberian jasa profesional yang secara
layak (reasonable) diharapkan dapat diselesaikan
dengan kompetensi profesional.
Kecermatan dan Keseksamaan Profesional. Anggota
KAP wajib melakukan pemberian jasa profesional
dengan kecermatan dan keseksamaan profesional.
Perencanaan dan Supervisi. Anggota KAP wajib
merencanakan dan mensupervisi secara memadai
setiap pelaksanaan pemberian jasa profesional.
Data Relevan yang Memadai. Anggota KAP wajib
memperoleh data relevan yang memadai untuk menjadi
dasar yang layak bagi kesimpulan atau rekomendasi
sehubungan dengan pelaksanaan jasa profesionalnya

Aturan etika IAPI


202 Kepatuhan terhadap Standar
Anggota KAP yang melaksanakan penugasan jasa
auditing, atestasi, review, kompilasi, konsultansi
manajemen, perpajakan atau jasa profesional lainnya,
wajib mematuhi standar yang dikeluarkan oleh badan
pengatur standar

203 Prinsip-prinsip Akuntansi


Anggota KAP tidak diperkenankan:
(1) menyatakan pendapat atau memberikan penegasan bahwa
laporan keuangan atau data keuangan lain suatu entitas
disajikan sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum
atau
(2) menyatakan bahwa ia tidak menemukan perlunya modifikasi
material yang harus dilakukan terhadap laporan atau data
tersebut agar sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku,

Aturan Etika IAPI


300 Tanggung Jawab kepada Klien
301 Informasi Klien yang Rahasia
Anggota KAP tidak diperkenankan mengungkapkan
informasi klien yang rahasia, tanpa persetujuan dari
klien

302 Fee Profesional


Anggota KAP tidak diperkenankan mendapatkan klien
dengan menawarkan fee yang dapat merusak citra
profesi
Anggota KAP tidak diperkenankan untuk menetapkan
fee kontinjen apabila penetapan tersebut dapat
mengurangi indepedensi

Aturan Etika IAPI


400 Tanggung-Jawab kepada Rekan Seprofesi
401 Tanggung jawab kepada Rekan Seprofesi
Anggota wajib memelihara citra profesi, dengan tidak
melakukan perkataan dan perbuatan yang dapat
merusak reputasi rekan seprofesi.

402 Komunikasi antar Rekan Seprofesi


Anggota wajib berkomunikasi tertulis dengan akuntan
publik pendahulu bila menerima penugasan audit
menggantikan akuntan publik pendahulu

403 Perikatan Atestasi


Akuntan publik tidak diperkenankan menerima
penugasan atestasi yang jenis atestasi dan
periodenya sama dengan penugasan akuntan yang
lebih dahulu ditunjuk klien

Aturan Etika IAPI


500 Tanggung-jawab dan Praktek Lainnya
501 Perbuatan/ Perkataan yg Mendiskreditkan
Anggota tidak diperkenankan melakukan tindakan
dan/atau mengucapkan perkataan yang mencemarkan
profesi

502 Iklan, Promosi, dan Kegiatan Pemasaran


Lainnya
Anggota dalam menjalankan praktik akuntan publik
diperkenankan mencari klien melalui pemasangan
iklan, melakukan promosi pemasaran dan kegiatan
pemasaran lainnya sepanjang tidak merendahkan citra
profesi

503 Komisi dan Fee Referal


504 Bentuk Organisasi dan KAP

Kode etik akuntan yg baru


Dewan Standar Profesional Akuntan Publik-Institut Akuntan
Publik Indonesia (DSPAP-IAPI) berhasil menyelesaikan
Eksposure Draft Kode Etik Profesi Akuntan Publik Indonesia
yang baru
Draf Kode Etik ini direncanakan akan menggantikan Kode
Etik yang saat ini berlaku, yaitu yang merupakan gabungan
dari Aturan Etika yang ada dalam Standar Profesional
Akuntan Publik (SPAP) serta Prinsip Etika yang diterbitkan
oleh Ikatan Akuntan Indonesia (IAI).
Kode Etik yang baru bersumber dari Code of Ethics for
Professional Accountants yang diterbitkan oleh the
International Ethics Standards Board for Accountants
( IESBA-IFAC)

Kode etik akuntan yg baru


Kode Etik yang lama bersumber dari Kode Etik
AICPA, Edisi Juni 1998. Sedangkan Kode etik
yang baru bersumber dari IFAC
Keterterapan Kode Etik yang baru lebih luas dari
pada Kode Etik yang saat ini berlaku
Kode Etik yang baru akan diberlakukan kepada
setiap individu dalam KAP atau Jaringan KAP,
baik yang anggota IAPI maupun yang bukan
anggota IAPI yang memberikan jasa assurance
dan jasa non-assurance

Perbedaan kode etik lama dan


baru
Kode Etik yang baru tediri dari 266 paragraf (Par),
sedang Kode Etik lama hanya 44 Paragraf.
Isi draf Kode Etik yang baru memuat banyak hal
yang bersifat principle base, Kode Etik lama
berlaku banyak bersifat rule base.
Sifat principle base ini selalu menjadi ciri dari
pernyataan (pronoucements) standar yang
diterbitkan oleh IFAC.
Sifat yang sama juga dijumpai pada teks IFRS,
maupun ISA.

Perbedaan kode etik lama dan


baru

Kode Etik mengharuskan Praktisi selalu


menerapkan Kerangka Konseptual untuk
mengidentifikasi ancaman (threat) terhadap
kepatuhan pada prinsip dasar serta menerapkan
pencegahan (safeguards)
Aturan etika mengenai independensi disajikan
dengan sangat rinci. Seksi 290 mengenai
Independensi memuat 162 Paragraf, padahal
Kode Etik yang saat ini berlaku hanya 1
paragraf, yaitu pada Aturan Etika seksi 100,

Isi kode etik baru


Kode Etik terdiri dari 2 bagian yaitu,
Bagian A memuat Prinsip Dasar Etika Profesi dan
memberikan Kerangka Konseptual untuk penerapan
prinsip,
Bagian B memuat Aturan Etika Profesi yang
memberikan ilustrasi mengenai penerapan kerangka
konseptual pada situasi tertentu

Prinsip Dasar yang disajikan dalam Bagian A


terdiri dari 5 prinsip, yaitu Integritas, Objektivitas,
Kompetensi dan Kehati-hatian Profesional,
Kerahasiaan, dan Perilaku Profesional

Isi kode etik baru


Ancaman terhadap prinsip dasar diklasifikasikan menjadi 5
jenis ancaman, terdiri dari:

Ancaman Kepentingan Pribadi


Ancamaan Telaah Pribadi
Ancaman Advokasi
Ancaman Kedekatan
Ancaman Intimidasi

Sedangkan pencegahan yang dapat menghilangkan


ancaman tersebut, atau menguranginya ke tingkat yang
dapat diterima diklasifikasikan menjadi dua, yaitu:
1)Pencegahan yang dibuat oleh profesi, perundangundangan, atau peraturan, dan 2) Pencegahan dalam
lingkungan kerja.

Isi kode etik baru


Dalam bagian B Kode Etik, pencegahan yang
dibahas adalah pencegahan dalam lingkungan
kerja
Bagian B Kode Etik memuat Aturan Etika Profesi
yang terdiri dari 10 seksi yang tersebar dalam
224 paragraf. Bagian B memberikan ilustrasi
tentang penerapan kerangka konseptual dan
contoh-contoh pencegahan yang diperlukan
untuk mengatasi ancaman terhadap kepatuhan
pada prinsip dasar

Perbandingan kode etik lama


dan baru

DRAFT KODE ETIK


Bagian A: Prinsip Dasar
110 Integritas
120 Objektivitas
130 Kompetensi serta
Sikap Kecermatan dan
Kehati-hatian Profesional
140 Kerahasiaan
150 Perilaku Profesional

KODE ETIK LAMA


Bagian I: Prinsip Dasar
Integritas
Obyektivitas
Kompetensi dan Kehatihatian Profesional
Kerahasiaan
Perilaku Profesional
Tanggung Jawab Profesi
Kepentingan Publik
Standar Profesi

Perbandingan kode etik lama


dan baru
Bagian B: Aturan Etika
Ancaman dan Pencegahan
Penunjukkan Praktisi, KAP,
atau Jaringan KAP
Benturan Kepentingan
Pendapat Kedua
Imbalan Jasa Profesional
dan Bentuk Remunerasi
Lainnya
Pemasaran Jasa
Profesional

Bagian II: Aturan Etika


Independensi, Integritas,
dan Objektivitas
Standar Umum dan
Prinsip Akuntansi
Tanggung Jawab kepada
Klien
Tanggung Jawab kepada
Rekan Seprofesi
Tanggung Jawab dan
Praktik Lain

Perbandingan kode etik


Bagian B : Aturan Etika
( lanjutan)
Penerimaan Hadiah atau
Bentuk Keramahtamahan Lainnya
Penyimpanan Aset Milik
Klien
Objektivitas- Semua Jasa
Profesional
Independensi dalam
Perikatan Assurance

Kode etik akuntan publik


Kode Etik ini dapat memberikan gambaran bahwa
betapa banyaknya rambu-rambu yang harus dipatuhi
Praktisi agar ia dapat melaksanakan tugasnya dengan
baik.
Sebuah gambaran betapa besarnya tanggung jawab
Profesi Akuntan Publik dalam menjalankan profesinya.
Dengan banyaknya isi Kode Etik yang bersifat principle
base, Praktisi tidak hanya dituntut untuk membaca apa
yang tertulis dalam teks Kode Etik, namun juga harus
mampu menafsirkan makna yang tersirat di dalamnya .