Anda di halaman 1dari 12
AKUNTANSI KEPERILAKUAN, PENGUKURAN LABA & INCOME SMOOTHING Kelompok 3 : Ajudia Achmad Rani Dwi Anggraeni (0113U083)
AKUNTANSI KEPERILAKUAN, PENGUKURAN
LABA & INCOME SMOOTHING
Kelompok 3 :
Ajudia Achmad
Rani Dwi Anggraeni
(0113U083)
(0113U168)

Akuntansi Keperilakuan

Akuntansi keperilakuan merupakan cabang ilmu akuntansi yang mempelajari hubungan antara perilaku manusia dengan sistem informasi akuntansi. Istilah sistem informasi akuntansi yang dimaksud di sini dalam arti luas meliputi seluruh desain alat pengendalian manajemen yang meliputi sistem pengendalian, sistem penganggaran, desain akuntansi pertanggungjawaban, desain organisasi seperti desentralisasi atau sentralisasi, desain kolektibilitas biaya, penilaian kinerja, serta laporan keuangan.

Akuntansi keperilakuan menyediakan suatu kerangka yang disusun berdasarkan teknik berikut ini :

1.

Untuk memahami dan mengukur dampak proses bisnis terhadap orang-orang dan kinerja perusahaan

  • 2. Untuk mengukur dan melaporkan perilaku serta pendapat yang relevan terhadap perencanaan strategis

  • 3. Untuk mempengaruhi pendapat dan perilaku guna memastikan keberhasilan implementasi kebijakan perusahaan.

Akuntansi Keperilakuan

Binberg dan Shields (1989) mengklasifikasikan riset akuntansi keperilakuan dalam lima aliran (school) , yaitu :

  • 1. Pengendalian manajemen (management control)

  • 2. Pemrosesan informasi akuntansi (accounting information processing)

  • 3. Desain sistem informasi (information system design)

  • 4. Riset audit (audit research)

  • 5. Sosiologi organisasional (organizational sociology)

Pengaruh Akuntansi Keperilakuan Terhadap Pelaporan Keuangan

Perkembangan organisasi bisnis saat ini penuh dengan persyaratan untuk melaporkan informasi kepada pihak lain tentang siapa atau apa, bagaimana menjalankan organisasi, dan untuk siapa harus bertanggungjawab.

Persyaratan pelaporan dapat mempengaruhi perilaku dalam beberapa cara, diantaranya adalah:

  • 1. Antisipasi penggunaan informasi.

  • 2. Prediksi

pengirim

penggunaan informasi

  • 3. Insentif/sanksi.

  • 4. Penentuan waktu.

mengenai

Persyaratan

pelaporan dapat

mempengaruhi perilaku disemua bidang akuntansi:

Akuntansi keuangan Akuntansi perpajakan Akuntansi manajerial Akuntansi sosial.

Konsep Laba

Laba adalah kenaikan asset dalam satu periode akibat kegiatan produktif yg dapat dibagi atau di didistribusi kepada kreditor, pemerintah, pemegang saham (dalam bentuk bunga, pajak, dan deviden) tanpa mempengaruhi keutuhan ekuitas pemegang saham semula.

Laba merupakan hal yang penting dan mendasar dari laporan keuangan dan memiliki banyak kegunaan di berbagai konteks.

Hubungan Akuntansi Keperilakuan dengan Pengukuran Laba

Aspek keperilakuan dalam laporan keuangan meliputi perilaku pengukuran laba. Dimana pengukuran laba merupakan proses penetapan jumlah uang untuk mengukur dan memasukkan setiap unsur laporan keuangan dalam neraca dan laporan laba rugi. Namun yang menjadi masalah ialah tidak adanya definisi yang tepat mengenai laba itu sendiri sehingga perlu dibuatnya keputusan-keputusan yang disertai berbagai hal dalam usaha untuk mencapai pengukuran tersebut.

Kiesso (2002:153) mengungkapkan tiga pendekatan dalam pengukuran laba, ialah :

  • a) Pedekatan Tansaksi (Transaction Apporach)

  • b) Pendekatan pemeliharaan Modal (Capital maintenanceAppoach)

  • c) Pendekatan kinerja operasi berjalan (current operating performance Appoach)

Income Smoothing

Perataan laba (income smoothing) merupakan salah satu pola manajemen laba yang dilakukan manajemen perusahaan untuk memperkecil fluktuasi laba pada tingkat yang dianggap normal bagi perusahaan selama beberapa periode. Merujuk pada pengertian tersebut maka fluktuasi yang terjadi bukan saja terbatas pada peningkatan laba tahunan, tetapi juga pengurangan dalam pelaporkan laba perusahaan. Alasan manajemen melakukan tindakan perataan laba adalah untuk mencapai keuntungan pajak, memberikan kesan baik terhadap kinerja manajemen kepada pemilik dan kreditur, mengurangi risiko sehingga harga sekuritas yang tingggi akan menarik perhatian pasar, untuk menghasilkan laba yang stabil, serta untuk menjaga posisi manajemen dalam perusahaan (Juniarti dan Carrolina, 2005).

Income Smoothing

Perataan laba menyebabkan pengungkapan informasi mengenai laba menjadi menyesatkan dan mengakibatkan terjadinya kesalahan dalam pengambilan keputusan oleh pihak-pihak yang berkepentingan terutama investor yang akan memperoleh informasi yang tidak akurat mengenai laba. Tindakan perataan laba dalam laporan keuangan merupakan hal biasa dan dianggap masuk akal, namun tindakan ini sebenarnya tidak akan terjadi apabila laba yang diharapkan oleh manajemen perusahaan tidak berbeda jauh dengan laba yang sebenarnya (Prasetio, 2002).

Terdapat dua jenis perataan laba menurut Eckel dalam Rachmawati (2012) :

  • 1. Perataan alami (Natural Smoothing)

  • 2. Perataan yang Disengaja (Intentianlly Smoothing)

Hubungan Akuntansi Keprilakuan dengan Income Smoothing

Aspek keperilakuan dalam pelaporan keuangan meliputi perilaku perataan laba dan keandalan informasi akuntani dan relevansi informasi akuntansi bagi investor. Perataan laba adalah bagian dari manajemen laba yang disebabkan oleh pihak manajemen mempunyai informasi privat untuk kepentingan dirinya. Manajemen laba intinya adalah masalah keperilakuan, yaitu perilaku manajemen yang mementingkan dirinya sendiri dalam suatu pola keagenan. Ruang lingkup manajemen laba termasuk didalamnya adalah pemilihan metode akuntansi, estimasi, klarifikasi, dan format yang digunakan dalam pengungkapan bersifat wajib. Yang perlu diperhatikan di sini adalah antara format/bentuk sama pentingnya dengan isi yang disajikan/yang dilaporkan. Orang bisa terpengaruh dengan perbedaan format, padahal memiliki isi yang sama.

Motivasi Dilakukannya Perataan Laba

Beberapa alasan seorang manajer melakukan praktik perataan laba Syahriana (2006) dalam Rahmawati (2012) adalah sebagai berikut :

  • 1. Aliran laba yang merata dapat meningkatkan keyakinan para investor karena laba yang stabil akan mendukung kebijaksanaan dividen yang stabil pula sebagaimana yang diinginkan para investor.

  • 2. Penyusunan pos pendapatan dan biaya secara bijaksana yang melalui periode beberapa metode tertentu, manajemen dapat mengurangi kewajiban perusahaan secara keseluruhan.

  • 3. Perataan laba dapat meningkatkan hubungan antara manajer dan pekerja karena kenaikan yang tajam dalam laba yang dilaporkan dapat menimbulkan permintaan upah yang lebih tinggi bagi para karyawan.

  • 4. Aliran laba yang merata dapat memiliki pengaruh psikologis pada ekonomi dalam hal kenaikan atau penurunan dapat dihindarkan serta rasa pesimis dan optimis dapat dikurangi.

Teknik yang Dilakukan dalam Perataan Laba

Terdapat berbagai teknik yang dilakukan oleh manajemen dalam praktik perataan laba, diantaranya adalah menurut Sugiarto (2003) dalam Arya (2012):

  • 1. Perataan melalui waktu terjadinya transaksi atau pengakuan transaksi

  • 2. Perataan melalui alokasi untuk beberapa periode tertentu.

  • 3. Perataan melalui klasifikasi

Tujuan Perataan Laba

Foster (1986) menyatakan bahwa tujuan dari perataan laba antara lain adalah sebagai berikut:

  • 1. Memperbaiki citra perusahaan di mata pihak luar bahwa perusahaan tersebut memiliki risiko keuangan yang rendah.

  • 2. Memberikan informasi yang relevan dalam melakukan prediksi terhadap laba di masa yang akan datang.

  • 3. Dapat meningkatkan kepuasan relasi bisnis.

  • 4. Meningkatkan persepsi pihak eksternal terhadap kemampuan manajemen.

  • 5. Dapat meningkatkan kompensasi bagi pihak manajemen perusahaan.