Anda di halaman 1dari 24

Urbanisasi

Solusi Agar Terlepas dari Belenggu Subsidi

Irwan Margono
0817794889
irwanmargono71@gmail.com

Latar Belakang
Subsidi dalam RAPBN 2016 Rp182,6 T.
Rp 102,1 T subsidi energi.
Rp 80,5 T subsidi non energi.

Subsidi tahun 2005 Rp120,8 T, tahun 2014 Rp392,0 T.


Subsidi tahun 2016 turun tajam karena turunnya harga
minyak dunia.

Subsidi pangan dan pupuk nilainya terus meningkat :


Tahun 2005 Rp10,9 T (Rp8,4 T + Rp2,5 T).
Tahun 2016 Rp51,1 T (Rp21,0 T + Rp30,1 T).

Perlu terobosan agar dapat lepas dari belenggu


subsidi.
Sumber: Informasi APBN 2016

Mengapa Urbanisasi?
Efisiensi.
Pertumbuhan
ekonomi dan
industri.
Pertanian.

Efisiensi

Pembangunan Infrastruktur

Jalan raya:
Jauh lebih murah membangun beberapa ribu kilometer jalan
raya besar dibanding dengan ratusan ribu kilometer jalan
pedesaan yang menyebar diseluruh wilayah Indonesia.

Jaringan listrik dan telekomunikasi:


Tidak perlu membangun jaringan listrik dan jaringan
telekomunikasi ke pelosok-pelosok desa terpencil.

Distribusi gas rumah-tangga dapat disalurkan melalui


pipa-pipa. Jauh lebih efisien dan ekonomis dibanding
dengan pengangkutan tabung gas.
Infrastruktur ramah lingkungan seperti air minum dan
air sanitasi melalui jaringan pipa serta manajemen
limbah akan jauh lebih mudah dan murah dibangun,
dirawat dan dioperasikan di perkotaan dibanding di
pedesaan yang menyebar di wilayah yang luas.

Efisiensi

Distribusi Barang dan Jasa

Tidak perlu membangun sekolahan dan


layanan kesehatan ke desa-desa terpencil.
Distribusi bahan pangan lebih murah dan
lebih cepat. Bahan pangan yang perlu
segar bisa lebih cepat sampai ke
konsumen.
Distribusi barang dan jasa lain akan jauh
lebih efisien bila penduduk terkonsentrasi
dikota-kota besar.

Pertumbuhan Ekonomi dan Industri


Kota merupakan mesin pertumbuhan ekonomi.
Kota akan menjadi pusat berkembangnya
inovasi.
Kota memudahkan penularan ilmu seseorang ke
orang lain.
Kota berpotensi tumbuhnya entrepreneur.
Tumbuhnya entrepreneur memicu tumbuhnya
supply-chain (satu industri memasok kebutuhan
komponen industri lain).
Terkonsentrasinya penduduk akan menarik
investor untuk mendirikan usaha/industri.
No countries in the industrial age has ever achieved
significant economic growth without urbanization
Jude Clemente, Forbes Contributor, 22/07/14.

Contoh Sukses:

Kota Marikina di Filipina


Disudut Metro Manila

1990
Tingkat pengangguran tinggi.
Banyak terjadi pencurian,
pembunuhan dan pemerkosaan.
Area sungai 220 ha penuh
dengan tumpukan sampah.

Dengan visi jadi little


Singapore.
Penataan kota.
Target dua pekerja per
keluarga.
Dirikan pusat pelatihan
keterampilan.

2010
Masyarakat serba disiplin dan
patuh aturan.
Kota paling kompetitif di
Filipina.
Kepadatan penduduk sangat
tinggi (20.000 orang/km2).
Wilayah terpadat di Jakarta
14.464 orang/km2.
Tingkat layak huni paling tinggi
di Metro Manila.
Menjadi Shoe Capital of the
Philipines. Hampir 70%
produksi sepatu di Filipina
dihasilkan di kota Marikina.
15.000 unit usaha baru.
Cities Alliance, 12 July 2010,
Cities Seen as Engines of Growth, Incubators Innovation

Desa dan Masalah Pertanian


Rata-rata lahan garapan petani terlalu kecil
(dibawah satu hektar).
Skala ekonomi tidak tercapai.

Desa-desa kecil tersebar di wilayah yang potensial


untuk pertanian (ilustrasi di halaman berikut).
Lahan pertanian tidak dapat dikelola secara skala luas
sehingga sulit menerapkan mekanisasi.

Tersebarnya desa-desa kecil mengakibatkan


ekonomi biaya tinggi:
Pembangunan dan perawatan jalan desa.
Pembangunan jaringan listrik.
Distribusi barang dan jasa:
Gas dalam tabung.
Air minum galon.
Pengiriman barang.

Sekolahan dengan murid sedikit.


Layanan kesehatan.
Toko retail.

Permasalahan Lahan Pertanian

Desa-desa kecil tersebar diwilayah yang potensial untuk pertanian.

Pergeseran Industri Pertanian Dunia


Pertanian Tradisional:

Pertanian Modern:

Skala kecil dan menengah


Padat karya, biaya SDM mahal.
Boros air dan pupuk.
Produktivitas rendah.
Dampak lingkungan sulit
dikendalikan (deposit pupuk,
residu pestisida, herbisida,
dsb).

Skala luas.
Mekanisasi.
Intensifikasi.
Penerapan teknologi.
Perlu modal besar.
Hemat air dan pupuk.
Produktivitas tinggi.
Dampak lingkungan lebih
terkendali.
Produktivitas tebu petani rakyat rata-rata menghasilkan 65 ton tebu
siap giling
per hektar.
Dengan penerapan teknologi, kebun tebu di Sumba Barat Daya
menghasilkan 90-95 ton per hektar.
Percobaan teknologi fertigasi di India mampu menghasilkan 180
A
modernized
ton
per hektar.agriculture is the foundation of and pre-condition
for successful industrialization.
Meiji Modernization (1868
1912)

Modernisasi Pertanian
di Amerika
Amerika

Indonesia

Produktivitas:

Produktivitas:

Gabah kering: 8,49 ton/ha.


Jagung: 10,73 ton/ha.
Kacang tanah: 4,4 ton/ha.
Kedele: 3,2 ton/ha.

Gabah kering: 4,73 ton/ha.


Jagung: 2,9 ton/ha.
Kacang tanah: 1,83 ton/ha.
Kedele: 1,47 ton/ha.

Perbandingan lain:
Gabah kering: China 6,81 ton/ha, Vietnam 5,76 ton/ha.
Jagung:
China 5,81 ton/ha, Vietnam 4,48 ton/ha.
Kacang tanah: China 3,58 ton/ha, Vietnam 2,26 ton/ha.
Sumber:
United States Department of Agriculture,
Circular Series, WAP 7-16, July 2016

Solusi:

Urbanisasi

Contoh kota Blora

Bangun kota baru yang lebih layak huni dan biaya hidup lebih rendah.
Penduduk desa secara bertahap didorong pindah ke kota baru.

Urbanisasi dan Pertanian


Dengan urbanisasi,
lahan pertanian akan
terbebas dari
permukiman
penduduk pedesaan.
Lahan pertanian yang
semakin luas dapat
dikelola oleh
perusahaan besar
atau BUMN.
Pengelolaan lahan
pertanian yang luas

Potensi Indonesia
menjadi mandiri
pangan.
Produk pertanian
akan mampu
bersaing di dunia
internasional.
Potensi ekspor hasil
pertanian dapat
ditingkatkan.

Urbanisasi dan Dampak


Lingkungan
Daerah aliran sungai (DAS) akan terbebas
dari permukiman penduduk. Air sungai akan
terbebas dari limbah rumah tangga sehingga
dapat diolah menjadi air minum.
Hutan lindung dan hutan industri akan
terbebas dari masalah perambahan oleh
penduduk.
..protection of rural ecosystems requires that
population be concentrated.
Jude Clemente, Forbes Contributor, 22/07/14.

Kota Layak Huni


Gas, air minum dan
listrik sudah tersedia di
setiap rumah.
Sarana transportasi
umum.
Tata kota yang
memudahkan
pergerakan orang dan
barang.
Area perumahan yang
terpisah dari area usaha
dan industri.

Biaya hidup lebih rendah


dan hidup lebih nyaman.
Standar hidup lebih
baik:

Kualitas pangan.
Pendidikan.
Perumahan.
Layanan kesehatan.
Sanitasi.

Permasalahan Klasik Perkotaan

Frontage: Jalan raya jadi pusat perdagangan.


Persimpangan dan akses jalan raya tidak
dirancang dengan baik.
Pasar tumpah.
Orang menyeberang jalan dimana-mana.

Contoh Tata Kota


Milton
Keynes

Kawasan Perumahan
Kawasan Industri
Terpisah dan bersebelahan

Grid System

Through traffics, no
frontage.
Rat runner is discouraged.

Redwa
y
System

Jalur khusus
sepeda.
Dapat
diadopsi
untuk jalur
motor.

Redwa
y
System

Milton Keynes: Kota tanpa traffic light

Kebijakan Pendukung Urbanisasi


Penerapan pajak bumi dan bangunan (PBB)
sesuai dengan lokasi bangunan.

PBB di wilayah pendesaan lebih tinggi dibanding


di perkotaan:

Biaya membangun infrastruktur pedesaan lebih mahal.


Potensi untuk lahan pertanian berkurang.

PBB bangunan frontage (menghadap dan ada


akses langsung ke jalan raya) lebih mahal:

Jalan raya penting untuk kelancaran lalu-lintas


(through traffic).
Akses langsung ke jalan raya berpotensi kemacetan
lalu-lintas. Biaya distribusi barang jadi mahal.

Dampak Jangka Panjang


Urbanisasi
Anggaran desa dan anggaran
pembangunan infrastruktur desa
dapat dialihkan untuk pendidikan
sebagai fondasi pembangunan
industri dimasa mendatang.
Kota kabupaten akan berpotensi
menjadi pusat industri sehingga
menjadi kota mandiri.
Indonesia akan terbebas dari
belenggu subsidi.

Dengan program
urbanisasi, Indonesia
akan cepat menjadi
negara industri maju.