Anda di halaman 1dari 14

PERIODONTITIS

Periodontitis

merupakan kelainan
jaringan pendukung gigi yang telah
melibatkan kerusakan pada ligamen
periodontal
(Attachment
loss)
maupun resorbsi dari tulang alveolar
(Bone loss)

Patogenesis Periodontitis Terkait


dengan Plak

Sebagian besar periodontits inflamatif disebabkan oleh infeksi


bakteri.

Walaupun faktor-faktor lain dapat mempengaruhi jaringan


periodontal, penyebab utama periodontitis adalah mikroorganisme
yang berkolonisasi di permukaan gigi (plak bakteri dan produk-produk
yang dihasilkan) (Fedi dkk., 2000).

Plak terdiri atas mikroorganisme padat dan menumpuk serta


berkolonisasi dan tumbuh dan melekat di permukaan gigi.

Mikroorganisme pada plak mampu mensintesis produk yang


menyebabkan rusaknya sel-sel epithelium dan jaringan ikat di
dekatnya.

Klasifikasi periodontitis berdasarkan manifestasi


klinisnya
Klasifikasi periodonitas menurut Goldman, Schluger, dan Fox (1956) :
1. Inflamasi
a.

Gingivitis (dengan/tanpa pembesaran gingival akut/kronik)

2. Distropi
b.

Difus

c.

Traumatik oklusi

c.

1)

Malfungsi oklusi

2)

Restorasi yang salah

3)

Periodontitis marginal

4)

Periodontitis.

Penyakit degeneratif-periodontosis.

Klasifikasi periodontitis menurut Genco,


Goldman, dan Cohen (1990) :
1.

Klasifikasi AAP I, II, III, IV.

2.

Epidemiologik: moderately dan rapidly progressing


periodontitis.

3.

Klinik berdasarkan terapi: refractory dan recurrent.

4.

Klinik berdasarkan etiologi: recurrent acute necrotizing


ulcerativeperiodontitis dan post localized juvenile
periodontitis (Prayitno dan Herman, 1996).

4. Early-onset periodontitis
a. Localized

early-onset periodontitis

b. Neutrophil
c.

abnormality

Generalized early-onset
periodontitis

d. Immunodeficient
e. Early-onset

periodontitis related
to systemic disease

f.

Leukocyte adhesion deficiency

g.

Hypophosphatasia

h. Papillon-Lefevre

syndrome

i. Neutropenias
j. Leukemias
k. Chediak-Higashi syndrome
l. AIDS
m. Diabetes mellitus type I
Trisomy 21
n. Histiocytosis X
o. Ehlers-Danlos syndrome (Type
VIII)
p. Early-onset periodontitis,
systemic determinants unknown

Klasifikasi periodontitis menurut


konggres AAP (America Academy of
Periodontology)
1.

Periodontitis Kronis

2.

Periodontitis Agresif

3.

Periodontitis sebagai Manifestasi Penyakit


Sistemik

FAKTOR RESIKO
Faktor yang dapat meningkatkan resiko periodontitis antara lain:

Gingivitis

Keturunan

Rendah kebersihan gigi

Penggunaan tembakau

Diabetes

Berusia lanjut

Rendahnya imunitas tubuh, seperti pada mereka dengan leukemia atau HIV/AIDS

Kurang gizi

Obat tertentu

Perubahan hormon, seperti yang berkaitan dengan kehamilan

Penyalahgunaan zat

CRP
(C-Reactive Protein)

C-Reactive Protein (CRP) adalah salah satu protein fase akut


yang terdapat dalam serum normal walaupun dalam
konsentrasi yang amat kecil. Dalam keadaan tertentu dengan
reaksi inflamasi atau kerusakan jaringan baik yang
disebabkan oleh penyakit infeksi maupun yang bukan infeksi,
konsentrasi CRP dapat meningkat sampai 100 kali. Sehingga
diperlukan suatu pemeriksaan yang dapat mengukur kadar
CRP.

High sensitivity C-Reactive Protein (hs-CRP) adalah


pengukuran konsentrasi CRP secara kuantitatif dimana dapat
mengukur kadar sampai < 0,2 0,3 mg/L.

CRP adalahproteinfase akutyang dikeluarkan dalam sirkulasi


sebagai respon terhadap peradangan dan kerusakan jaringan.
CRP disintesis oleh hepatosit di bawah kontrol transkripsi sitokin
inflamasi, khususnya interleukin 6 (IL-6). Gen CRP manusia
terletakpadakromosom1.

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa Protein C-Reaktif (CRP)


memainkan peran penting dalam perkembangan penyakit
kardiovaskular atersklerotik. CRP mungkin tidak hanya menjadi
biomarker peradangan seperti yang telah ditemukan pada plak
aterosklerotik dan terbukti dapat menyebabkan disfungsi
selendotel, stress oksidatif dan intima hipertrofi dalam model
eksperimental. Gen CRP dalam hepatosit dikontrol oleh IL-6 dan
pada tingkat lebih rendah dikontrol oleh interleukin 1b (IL-1b)
dan Tumor Necrosis Factor (TNF) (Nakou et al., 2010)

CRP merupakan protein abnormal yang muncul dalam darah


pada stadium akut berbagai kelainan inflamasi. CRP termasuk
protein fase akut yang dihasilkan oleh hati ketika
konsenterasinya meningkat di dalam darah setelah terjadi
infeksi, peradangan atau kerusakan jaringan dalam waktu 6 jam.
Konsenterasi di dalam plasma dapat meningkat 2x lipat setiap 8
jam dan mencapai puncak setalah 50 jam.

CRP terdapat dalam serum pada orang sehat dengan kadar yang
rendah, yaitu antara 0.03-4,94 mg/L. Diantara beberapa jenis
protein fase akut, CRP merupakan jenis yang paling sensitif dan
bermanfaat dalam klinik karena dapat menunjukkan adanya
demam ataupun infeksi (Suryanto, 2002)