Anda di halaman 1dari 264

PROGRAM DOKTOR

PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA

Silabi
I

II

Penjelasan kontrak kuliah, tugas,


dan penilaian perkuliahan
Hakekat pengetahuan dan
penelitian ilmiah
Proses dan langkah-langkah
penelitian ilmiah
Klasifikasi penelitian menurut:
Paradigma penelitian kualitatif
dan kuantitatif
Fungsi dan tuju

Silabi
III

IV

Topik dan Permasalahan


penelitian
Variabel dan hubungan
antar variabel
Pendalaman Kerangka
teoretik dan hipotesis
penelitian
Penelitian kualitatif

Silabi
V

penelitian evaluatif

VI

Pengembangan model

Silabi
VII

VIII

penelitian difusi inovasi

Semester (UTS)

Silabi
IX

action research

Mix method

Silabi
IX

pengembangan instrumen
konsep dan pengembangan instrumen
Jenis-jenis instrumen penelitian
Pengukuran dan skala
Langkah-langkah pembuatan instrumen
Pengujian validitas instrumen (proses
validasi teoretik dan empiris)
Reliabilitas instrumen

Penelitian korelsional dan kausal


Desain penelitian korelasional dan kausal
(analisis jalur)
mendesain
penelitian
Penugasan
korelasional dan kausal

Silabi
XI

XII

Pendalaman penelitian ex-post facto dan


survai
Desain penelitian ex-post facto dan
survai
Penugasan mendesain penelitian ex-post
facto dan survai
Penelitian eksperimental dan penelitian
tindakan
Desain penelitian eksperimental dan
penelitian tindakan
mendesain
penelitian
Penugasan
eksperimental dan penel. tindakaan

Silabi
XIII

XIV

Pendalaman teknik pengumpulan dan


pengolahan data
Penugasan mengumpulkan dan
mengolah data
Pendalaman untuk berbagai
rancangan dan teknik analisis data
Penugasan menentukan teknik
analisis data

Silabi
XV

XVI

Ujian Akhir Semester (UAS)

Penilaian Tugas
(30%)
Kajian jurnal
Kajian buku
Tugas berkelompok
Proposal
(40%)
UAS
(30%)

PERTEMUAN
1

Metode
Prosedur atau cara yang memiliki langkahlangkah yang sistematis
Metode Ilmiah
Prosedur untuk memperoleh pengetahuan
ilmiah dalam langkah-langkah yang sistematis
Metodologi Ilmiah
Pengetahuan tentang metode atau kajian
yang mempelajari peraturan-peraturan yang
terdapat pada metode ilmiah

Penelitian
Kegiatan untuk mendapatkan
pengetahuan
Eksistensi penelitian hanyalah alat,
yaitu suatu perangkat metodologi yang
digunakan untuk membuktian segala
macam dorongan yang ingin tahu.

Contoh
Jembatan Suramadu
isu penculikan anak
Sang gadis menyukai
pemuda
Seorang sarjana
ekonomi
Selalu gagal dalam
usaha bisnisnya

Mendorong rasa ingin tahu


yaitu mengetahui misteri
yang sedang dihadapi
Membentuk perilaku yang
berbeda
Prilaku pembuktian dapat
sederhana maupun amat
kompleks

Semua orang melakukan


penelitian

Cara menjawab
dorongan ingin
tahu terhadap
didunia
Non ilmiah
Ilmiah
Mempertimbangka
n cara untuk
memperoleh
kebenaran ilmiah

Non ilmiah
(unscientific)

Secara kebetulan
Contoh
Orang Indian: Penemuan
obat kina

Secara trial and error


Contoh
Robert kock :Miskroskop
Seorang perajin batu
permata di kecamatan Raba
Bima

Melalui otoritas
seseorang
Contoh
Penentuan hari pernikahan
Penghentian persidangan
pak Harto

Dua macam cara yang dapat diguanakan mendapat


kebenaran atau pengetahuan
Berpikir kritis rasional
Penelitian ilmiah
Cara: Berpikir analitis dan sintesis
Berpikir Analitis: Deduktif

Proses berpikir kritis rasional


Menghubungkan satu hal
dengan hal lainnya
Membuat tesa
Mengkajinya dengan anti
tesa
Menghasilkan tesis

Contoh: teorema, corolary, dengan


kontrapositif dan silogisme
Berpikir Sintesis: induktif
Berangkat dari fakta-fakta, data-data,
kasus-kasus individual, pengetahuan
bersifat khusus sehingga diperoleh
konklusi umum

Berpikir Analitis
Pengetahuan
Umum

Dianalisis,
berteori

Kesimpulan
Berpikir Sintesis
Pengetahuan
khusus
Pengetahuan Umum

Dianalisis,
teori
Kesimpula
n

Adanya suatu kebutuhan

Adanya ketidaksesuaian kondisi


nyata (das sein) dengan kondisi
seharusnya (das sollen)

Menetapkan masalah

Bagaimana bentuknya
Bagaimana pemecahannya

John Dewey: Berpikir


reflektif

Menyusun hipotesis

Jawaban sementara terhadap


pemecahan masalah

Cara induktif dan


Deduktif

Berteori dan berhipotesis


Jembatan antara dunia rasional
yang merupakan sumber
pengetahuan teoritis dan dunia
empiris adalah hipotesis

Merekam data untuk


pembuktian
Membuat kesimpulan yang
diyakini kebenarannya
Memformulasikan
kesimpulan secara umum

MASALAH

Proses Teoretik
Hipotesis

Proses Empiris
Uji Hipotesis

Kesimpulan
(Inferensi)

Data

TAHAPAN PENELITIAN
KUANTITATIF
1. Masalah
- Latar Belakang
- Identifikasi
- Pembatasan
- Perumusan
2. Pengkajian Teori
- Deskripsi Teoretik
- Kerangka Berpikir
- Hipotesis
3. Metode Penelitian
- Tempat dan Waktu Penelitian
- Variabel & Desain Penelitian
- Instrumen Penelitian
- Teknik Pengambilan Sampel
- Teknik Pengumpulan Data
4. Analisis Data
- Penyajian Data secara Deskriptif
- Pengujian Hipotesis
5. Penarikan Kesimpulan/ Inferensi

TAHAPAN PENELITIAN KUALITATIF


1.
2.

2.
3.
4.
5.

5.

Tema Penelitian
Rasional Penelitian
Fokus Penelitian
Penelitian terdahulu
Pengambilan data dan Reduksi data
Analisis data dan Pembasan
Penarikan kesimpulan sesuai konteks
penelitian

dedukti
f
matema
tik
koheren
si
rasional

pragmatis
induktif
statistik
koresponden
si
faktual

BAGAN METODE ILMIAH

Sikap
Objektif, faktual
Terbuka, jujur, mempertanggungjawabkan semua
pekerjaannya secara ilmiah
Sikap inging tahu
Memiliki daya cipta, kreatif dan senag terhapa inovasi
Kemampuan

Memiliki wawasan, kritis, berpikir sistematis


Kemmapuan mencipta
Berkomunikasi dan mempengaruhi pihak lain dengan komunikasi
merumuskan masalah dengan jelas
Melihat masalah dalam konteks yang luas

Peneliti dituntut untuk menguasai cabang ilmu


pengetahuan yang ada hubungannya dengan
permasalahan yang diteliti

Penelitian Ilmiah
Penelitian Ilmiah adalah upaya
mencari kebenaran dengan
menggunakan metode ilmiah
Upaya dalam penelitian ilmiah
adalah meneliti
Pengertian mencari adalah mencari
kebenaran, yang dapat diartikan
menemukan atau menguji

PERTEMUAN
2

Memecahkan suatu permasalahan


Penelitian Lanjutan
Peningkatan hasil penelitian

KLASIFIKASI PENELITIAN
MENURUT
FUNGSI

DASAR
PENERAPAN
EVALUATIF
PENGEMBANGAN
MENDESAK (PTK)

KLASIFIKA
SI
PENELITIA
N

SEJARAH
DESKRIPTIF

MENURUT
METODA

KORELASIONAL
KAUSAL KOMPARATIF
EKSPERIMEN
KUASI EKSPERIMEN

Penelitian deskriptif

Penelitian yang menggunakan


observasi, wawancara atau
angket mengenai keadaan
sekarang mengenai subyek
yang akan diteliti

Penelitian Korelasional
Penelitian yang bertujuan
apakah antara dua variabel
atau lebih terdapat hubungan
atau tidak

Penelitian Terapan
Penelitian yang bermaksud
untuk menerapkan teori
atau menguji dalam
kaiatannya dengan
pemanfaatan bidang
tertentu dalam kehidupan
sehari-hari
Penelitian eksperimen
Menciptakan perlakuan
kemudian mengamati akibat

Action Research
Penelitian yang bermaksud untuk mengembangkan
ketrampilan/kemampuan dan pendekatan baru dalam
memecahkan persoalan-persoalan yang ada melalui
penggunaan metode ilmiah

Penelitian Dasar

Penelitian yang bertujuan untuk


mengembangkan atau
memperbaiki suatu teori tanpa
memperhatikan kegunaan bidang
tertentu dalam aplikasi sehari-hari

Tidak melakukan manipulasi


terhadap satu atau sejumlah
variabel
Tidak manipulsi kondisi karena
kondisi tersebut sudah terjadi
sebelumpenelitian dilaksanakan
Menguji apa yang sudah terjadi
pada subjek

Penelitian
Pengembangan

Penelitian yang bertujuan untuk


mengembangkan hal-hal yang baru
dalam suatu bidang tertentu, tanpa
maksud menguji teori tertentu

Kausal-komparatif (Ex-post
facto)

Penelitian eksperimen
Menciptakan perlakuan
kemudian mengamati akibat

Penelitian Kuasi Eksperimen

Paradigma fenomenologi
Peneletian berdasarkan pada
natural setting (metode
naturalistik)
Penelitian kualitatif untuk
mengungkap dan memahami
suatu fenomena yang sedikit
pun belum diketahui

Unsur Utama Penelitian


Kualitatif
Data (wawancara, observasi)
Prosedur analisis dan
interpretasi (coding, hubungan
konseptual, catatan lapangan,
diagram/tabel)
Laporan tertulis dan lisan

Teorisasi dalam penelitian kualitatif


Model deduksi
Model Indukasi

Model Deduksi

Didominasi oleh teori yang


dipilih pada awal penelitian,
dan ia dipengaruhi oleh teori
itu ketika melakukan uji dan
pembahasan terhadap
teorinya.

Diterima
Mendukung

Teori

Menerima teori
Hasil penelitian mendukung teori
sehingga hasil penelitian dapat
memperkuat teori yang ada
Meragukan teori
dalam posisi dapat dikritik karena
telah mengalami perubahan
disebabkan waktu, lingkungan
berbeda atau fenomena berubah
Membantah teori
Berdasarkan temuan semua
aspek teori tidak dapat
dipertahankan karena waktu,
lingkungan berbeda atau
fenomena berubah

Memperkuat
Membantah

Meragukan
Mengkritik
Merevisi

Teori

Menolak

Teori

Pertama
Peneliti harus fokus
perhatiannya denga data di
lapangan sehingga segala
sesuatu yang berhubungan
dengan teori tidak penting
Data sangat penting sehingga
teori akan dibangun
berdasarkan temuan dilapangan
Sebuah sintesis terhadap
pengumpulan data, teorisasi,
membangun hipotesis,
mengumpulkan data, menguji
dst

Kedua
Pemahaman terhadap teori
bukan sesuatu yang haram,
namun data tetap menjadi
fokus peneliti di lapangan
Teori menjadi tidak penting,
namun pemahaman objek
penelitian secara teoritis juga
membantu peneliti di lapangan
saat mengumpulkan data

Teori

Peneliti

Data

Model deduksi
Teori
Triangulasi

Observasi
Model Induksi
Teori
Peneliti
Data

Teorisasi Deduksi
Induksi
Analisis
Pembentukkan
konsep,
pembentukan
proposisi, dan
penyusunan
proposisiGeneralisasi

Triangulasi

Teori

Deduksi logis

Dunia Rasional logis


Dunia Empiris

Pengamatan

Hipotesis

Hipotesis tak pernah uji dengan


teknik analisis statistik,
hipotesis digunakan saat
pengumpulan data di lapangan.

Hipotesis berguna menuntun


peneliti saat pengumpulan data
Ketika menguji teori peneliti
dituntun oleh teori yang
digunakan

Menerima teori
Hasil penelitian mendukung teori
sehingga hasil penelitian dapat
memperkuat teori yang ada
Meragukan teori
dalam posisi dapat dikritik karena
telah mengalami perubahan
disebakan waktu, lingkungan
berbeda atau fenomena berubah
Membantah teori
Berdasarkan temuan semua
aspek teori tidak dapat
dipertahankan karena waktu,
lingkungan berbeda atau
fenomena berubah

Diterima
Meragukam
Membantah
Membangun

Teori

Teorisasi Induksi

Data

Membangun teori,
mendukung teori,
merevisi teori,
membantah dan
menolak teori

Generalisasi
Empiris
Triangulasi

Dunia Empiris
Dunia Rasional logis

Teorisasi Data

Kategorisasi
Data

Hipotesis

Induksi Analisi

Bersifat inferensial (populasi & sampel)


Menggunakan data kuantitatif yg diperoleh
melalui pengukuran
Mempunyai proses yg baku
Fokus pada variabel
Sasaran kajian adalah unit
penelitian/analisais
Menggunakan teknik statistika

Latar belakang masalah


Identifikasi dan pembatasan maslah
Penetapan topik penelitian
Penetapan variabel penelitian
Konstelasi penelitian (analisis korelasi dan
analisis kausal)
Perumusan masalah
Kajian teoretik (proses teoretik)
Hipotesis penelitian
Proses empiris (pengumpulan data)
Pengujian hipotesis
Kesimpulan

Penelitian
Kuantitatif
Inferensial
Variabel
Eksplanatif
Mengukur
Instrumen baku
Analisis data
Tema Umum

Penelitian Kualitatif
Kasus
Fokus Masalah
Eksploratif
Mengungkap
Peneliti sebagai
instrumen
Kategorisasi Data
Tema khas

PERTEMUAN
3

Masalah
Kasus

yg menjadi fokus penelitian


Variabel yg mjd tema pokok penelitian

Suatu variabel menjadi permasalahan


penelitian. Jika terjadi kesenjangan antara
kenyataan dan yang seharusnya dari variabel
tsb.

Topik yg dipilih sangat menarik


Pemecahan masalah mempunyai
kontribusi dalam lapangan pekerjaan
atau bidang tertentu
Merupakan hal baru
Mengundangan rancangan yg kompleks
Dapat diselesaikan dlm waktu yg
diinginkan
Tidak bertentangan dengan moral

Membaca sebanyak-banyak literatur


sesuai dengan bidang yang akan diteliti
Menghadiri ceramah-ceramah profesional
Menghadiri seminar-seminar
Mengadakan penelitian kecil
Mencari jurnal yang berhubungan dengan
bidang yang akan diteliti
Mengumpulkan bahan-bahan yang
berkaitan dengan bidang yang akan diteliti

Membaca sebanyak-banyak literatur


sesuai dengan bidang yang akan diteliti
Menghadiri ceramah-ceramah profesional
Menghadiri seminar-seminar
Mengadakan penelitian kecil
Mencari jurnal yang berhubungan dengan
bidang yang akan diteliti
Mengumpulkan bahan-bahan yang
berkaitan dengan bidang yang akan diteliti

Dalam bentuk kalimat bertanya


Menanyakan ada tidaknya perbedaan atau
hubungan antara dua variabel atau lebih
Belum mengacu pada teori
Sebaiknya sama banyak dengan hipotesis
penelitian

Permasalahan Deskriptif
Suatu permasalahan yang berkenaan dengan
variabel mandiri yaitu tanpa membuat
perbandingan dan menghubungkan.

1.

Bagaimankah sikap masyarakat tertahap KB Mandiri?


Berapa persen motivasi kerja pegawai negeri, bila
didasarkan atas kriteria ideal yang ditetapkan?

1.

Permasalahan komparatif
Suatu permasalahan penelitian yang
bersifat membandingkan keberadaan
suatu variabel pada dua sampel atau lebih
Adakah perbedaan disiplin kerja antara
pegawai negeri, BUMN, dan swasta?
Adakah perbedaan produktivitas kerja
antara pegawai negeri, BUMN dan
swasta?
Adakah perbedaan interaksi kerja antara
karyawan diperusahaan A, B, C dan D?

Contoh
Pengaruh status kepegawaian
terhadap disiplin kerja pegawai
Rumusan masalah
Adakah perbedaan disiplin kerja antara
pegawai negeri dan swasta?
Adakah perbedaan disiplin kerja antara BUMN
dan swasta?
Adakah perbedaan disiplin kerja antara
pegawai negeri, dan BUMN?

Contoh
Pengaruh Sikap Pimpinan Terhadap Prestasi Kerja
Pegawai Ditinjau dari Gaya bekerja
Rumusan Masalah
Adakah perbedaan prestasi kerja pegawai
antara yang pimpinannya bersikap demokratik
dengan yang bersikap otoriter?
Adakah perbedaan prestasi kerja pegawai
antara yang gaya bekerjanya mandiri dengan
yang gaya bekerjanya terpimpin?
Adakah interaksi antara sikap pimpinan
dengan gaya bekerja pegawai terhadap
prestasi kerja pegawai?

Contoh
Pengaruh Sikap Pimpinan Terhadap Prestasi Kerja
Pegawai Ditinjau dari Gaya bekerja
Rumusan Masalah
Adakah perbedaan prestasi kerja pegawai
antara yang pimpinannya bersikap demokratik
dengan yang bersikap otoriter?
Adakah perbedaan prestasi kerja pegawai
antara yang gaya bekerjanya mandiri dengan
yang gaya bekerjanya terpimpin?
Adakah interaksi antara sikap pimpinan
dengan gaya bekerja pegawai terhadap
prestasi kerja pegawai?

Contoh
Pengaruh Sikap Pimpinan Terhadap Prestasi Kerja
Pegawai Ditinjau dari Gaya bekerja
Rumusan Masalah
Pada kelompok sikap pimpinan otoriter,
Adakah perbedaan prestasi kerja pegawai
antara yang gaya bekerjanya mandiri dengan
yang gaya bekerjanya terpimpin?
Pada kelompok sikap pimpinan demokratik,
Adakah perbedaan prestasi kerja pegawai
antara yang gaya bekerjanya mandiri dengan
yang gaya bekerjanya terpimpin?

Contoh
Pengaruh Sikap Pimpinan Terhadap Prestasi Kerja
Pegawai Ditinjau dari Gaya bekerja
Rumusan Masalah

Pada kelompok gaya bekerja mandiri,


Adakah perbedaan prestasi kerja
pegawai antara sikap pimpinan otoriter
dengan demokratik?
Pada kelompok gaya bekerja terpimpin,
Adakah perbedaan prestasi kerja
pegawai antara sikap pimpinan otoriter
dengan demokratik?

Contoh
Pengaruh Motivasi Terhadap Prestasi Kerja
Pegawai Ditinjau dari Gaya bekerja
Rumusan Masalah
Adakah perbedaan prestasi kerja pegawai
antara yang pimpinannya bersikap demokratik
dengan yang bersikap otoriter?
Adakah interaksi antara sikap pimpinan
dengan gaya bekerja pegawai terhadap
prestasi kerja pegawai?

Interaksi
Kerjasama dua variabel bebas atau lebih dalam
mempengaruhi variabel terikat (Kerlinger)
Pengaruh suatu variabel bebas terhadap
variabel terikat, tergantung tingkat (taraf)
varaiabel bebas lainnya
Interaksi terjadi apabila variabel bebas memiliki
pengaruh yang berbeda terhadap suatu variabel
terikat pada berbagai tingkat dari suatu variabel
bebas lain

Contoh
A signifikan, B
tidak signifikan,
Interaksi tidak
signifikan

B1
B2

A1
30
30

A2
20
20

Interaksi signifikan
(Disordinal)

B1
B2

A1
30
20

A2
20
30

A tidak signifikan,
B signifikan,
Interaksi tidak
signifikan

B1
B2

A1
30
20

A2
30
20

Interaksi signifikan
(ordinal)

B1
B2

A1
30
20

A2
20
20

A signifikan, B
signifikan,
Interaksi tidak
signifikan

B1
B2

A1
30
40

A2
20
30

Interaksi signifikan
(ordinal)

B1
B2

A1
20
30

A2
20
20

Contoh
Interaksi tidak
signifikan

Interaksi signifikan
(disordinal)

Interaksi tidak
signifikan

Interaksi signifikan
(ordinal)

Catatan
Interaksi sejati, varian yang ditimbulkan oleh
interaksi yang sungguh-sungguh terjadi antara
dua variabel secara bersama-sama
mempengaruhi varaibel ketiga
Interaksi muncul karena kebetulan semata
Interaksi terjadi karena adanya pengaruh yang
bekerja pada satu tingkat eksperimen tetapi
tidak muncul pada satu tingkat ekperimen
yang lain

Perlu diwaspadai apabila kita menerapkan anava


tidak pada eksperimen yaitu kita melakukan
anavaterhadap data yang terkumpul setelah variabel
bebas bekerja
Interaksi harus ditangani dengan kecermatan yang
sama dengan hasil penelitian

2. Permasalahan Asosiatif
Suatu permasalahan penelitian yang
menghubungkan dua variabel atau
lebih.
Ada 2 macam
permasalahan asosiatif
Hubungan asosiatif
Hubungan Kausal

Hubungan asosiatif
Suatu hubungan antara dua variabel
atau lebih yang bersifat kebersamaan

Adakah hubungan antara banyaknya


semut di pohon dengan tingkat manisnya
buah?
Adakah hubungan antara tingkat
kecemasan, kemampuan numerik, dan
kemampuan bahasa terhadap hasil
belajar?

Contoh
Hubungan antara tingkat kecemasan, kemampuan
numerik dan kemampuan bahasa terhadap hasil belajar
matematika
Rumusan Masalah
Adakah hubungan antara tingkat kecemasan dengan
hasil belajar matematika?
Adakah hubungan antara kemampuan numerik dengan
hasil belajar matematika?
Adakah hubungan antara kemampuan bahasa dengan
hasil belajar matematika?
Adakah hubungan antara tingkat kecemasan,
kemampuan numerik dan kemampuan bahasa secara
bersama-sama dengan hasil belajar matematika?

Pengaruh Konsep Diri, Suasana Kerja, dan


Kompetensi dengan Kinerja Karyawan

Rumusan Masalah:
Adakah hubungan konsep diri dengan kinerja
karyawan?
Apakah hubungan suasana kerja dengan kinerja
karyawan?
Apakah hubungan kompetensi dengan kinerja
karyawan?
Apakah konsep diri, suasana kerja, dan
kompetensi secara bersama-sama mempunyai
hubungan terhadap kinerja karyawan?

Hubungan Kausal
Suatu hubungan yang bersifat
sebab akibat
Contoh
Pengaruh intensif terhadap disiplin kerja
karyawan di departemen X
Pengaruh gaya kepemimpinan dan tata
ruang kantor terhadap efisiensi kerja di
PT Samudra

Pengaruh Insentif, Suasana Kerja, dan Motivasi Kerja


Terhadap Kinerja Karyawan
Rumusan Masalah:
Apakah insentif mempunyai pengaruh langsung thd
kinerja karyawan?
Apakah suasana kerja mempunyai pengaruh langsung
thd kinerja karyawan?
Apakah motivasi kerja mempunyai pengaruh langsung
thd kinerja karyawan?
Apakah insentif mempunyai pengaruh langsung thd
motivasi kerja karyawan?
Apakah suasana kerja mempunyai pengaruh langsung
thd motivasi kerja karyawan?
Apakah insentif mempunyai pengaruh langsung thd
suasana kerja karyawan?

Model Evaluasi Implementasi Kurikulum


Tingkat Satuan Pendidikan Sekolah
Menengah

Gabungan model evaluasi (logic model)


dengan model implementasi kurikulum
(educational change model)
Apakah faktor kemampuan guru secara teoretis
(memahami KTSP, mengelola kelas, mengelola
pembelajaran dan melaksanakan penilaian)
mempengaruhi implementasi KTSP?
Apakah faktor kemampuan kepala sekolah secara
teoretis (memahami MBS dan administrasi
pendukung KTSP) mempengaruhi implementasi KTSP?
Apakah faktor kemampuan siswa secara teoretis
(memahami belajar individual dan belajar kelompok)
mempengaruhi implementasi KTSP?

Apakah faktor partisipasi orang tua dan masyarakat sebagai


pengurus komite sekolah mempengaruhi implementasi KTSP?
Apakah faktor sekolah (fisik sekolah, perilaku warga sekolah
dan keyakinan serta nilai warga yang ada pada warga
sekolah) mempengaruhi implementasi KTSP?
Apakah faktor implementasi KTSP mempengaruhi hasil
belajar mata pelajaran UN siswa?

Analisis data menggunakan program LISREL


versi 8.5

An Iterative Procedure for Linking Metrics and


Assensing Item Bias in Item Response Theory
Metode Tegar Rerata dan Sigma
Metode Kurva karateristik

Variabel yang dimanipulasi


ukuran sampel,
panjang tes
persentase banyaknya butir yang mengandung DIF.

Effect of Linking Methods on Detectoin of


DIF
metode kurva karakteristik,
metode tegar rerata dan sigma
metode minimum khi-kuadrat (MKK)

Variabel yang dimanipulasi


ukuran sampel,
persentase banyaknya butir yang mengandung DIF,
ukuran sampel

Perbandingan Berbagai Metode untuk


Mendeteksi Bias Butir

Metode
Metode
Metode
Metode

kurva karakteristik butir


Luasan Menurut Raju
Khi-Kuadrat dari Lord
Likelihood Ratio Test

Kesensitifan Metode DIF


Diukur : banyak butir terdeteksi DIF

Equiating Tests Under the Generalized Partial


Credit
Pada test Uraian
Metode Rerata dan Sigma
Metode Tegar Rerata dan Sigma
Metode Kurva karateristik

Variabel yang dimanipulasi


Panjang tes
Anchor tes,
Ukuran sampel

Effects of Amount of DIF, Test Length, and


Purification Type on Robustness and Power
of Mantel-Haenszel
Diukur besarnya galat

Effects of Anchor Item Methods on Differential


Item Functioning Detection With the
Likelihood Ratoi Test
Two-stage, didasarkan banyaknya butir anchor
Diukur: banyaknya butir jangkar

Two-Stage Equating in Diferenstial Item


Functioning Detection Under The Graded
Response Model With The Raju Area and
The Lord Statistic

Pengaruh Metode Linking Terhadap


Banyaknya Butir False Positive Dalam
Pendeteksian DIF Berdasarkan Teori
Responsi Butir
Metode rerata dan sigma
Metode tegar rerata dan sigma
Metode kurva karaktestik

Melihat keakurasian metode lingking dalam metode KhiKuadrat Lord, melalui metode likelihood ratio test
Diukur banyaknya butir False Positive

Pengaruh Metode Penyetaraan Skor dan Ukuran


Sampel Peserta tes Terhadap banyaknya butir HIT
dalam Pendeteksian DIF dengan menggunakan
Metode CHI-Square
Metode rerata dan Sigma
Metode Kurva Karakteristik

Pengaruh Banyaknya Butir Jangkar Pada


Metode Likelihood Ratio Test Berdasarkan
Teori Responsi Butir
Two-stage
Banyaknya butir DIF

Detection of Diferential Item Functioning


Item In Large-Scale State Assesments: A
Study Evaluating Two-Stage Approach

Multi-item Scales for Measuring Global SelfRated Health Investigation of Construct


Validity Using Structural Equations Models

Gender and Language Differences on The


Test of Workplace Essential Skills: Using
Overall Mean Scores and Item-Level
Differential Item Funtioning Analyses

Optimal Item Discrimination and Maximum


Information for Logistic IRT Models

A Comparative Study of Test Data


Dimensionality Assessment Procedures
Under Nonparametric IRT Models

Alexandra A. H. van Abswoude, L. Andries van der Ark, and


Klaas Sijtsma
Tilburg University, The Netherlands

Comparison of Bookmark Difficulty


Locations Under Different Item
Response Models

S. Natasha Beretvas, University of Texas at


Austin

A Comparison of Linking and


Concurrent Calibration Under the
Graded Response Model
Seock-Ho Kim, University of Georgia
Allan S. Cohen, University of Wisconsin
Madison

Standard Errors of Item Response Theory


Equating/Linking by Response Function
Methods

Haruhiko Ogasawara, Otaru University of Commerce

An Evaluation of the Accuracy of


Multidimensional IRT Linking

Yuan H. Li, Prince Georges County Public Schools,


Maryland
Robert W. Lissitz, University of Maryland at College
Park

ASSESSING DIFFERENTIAL PREDICTION BIAS IN THE


DEVELOPING COGNITIVE ABILITIES TEST ACROSS GENDER,
RACE/ETHNICITY, AND SOCIOECONOMIC GROUPS

GARY L. CANIVEZ, Eastern Illinois University


TIMOTHY R. KONOLD, University of Virginia
Evaluating the Robustness of Graded Response
Model and Classical Test Theory Parameter
Estimates to Deviant Items

Evan F. Sinar and Michael J. Zickar, Bowling Green


State University

Perbandingan Fungsi Informasi Butir Model


Logistik Dua Parameter Ditinjau dari Model
Pensekoran Tes Pilihan Ganda pada Siswa
SMAN DKI Jakarta

Maruf Akbar

Komparasi Informasi Butir Tes antara Tipe


Interpretive Exercise dengan Pilihan Ganda
dalam Mengukur Ketrampilan Pemecahan
Masalah pada Siswa di Sekolah Lanjutan
Tingkat Pertama (SLTP) di Jakarta

Akurasi Relatif Penyetaraan Skor Tes Untuk


Sampel Berukuran 300 Ditinjau dari Metode
Penyetaraan dan Teknik Penghalusan

Jumaliyah

Perbedaan Variasi Metode Estimasi


Maximum Likelihood dengan Metode
Expected a Posteriori Ditinjau dari Banyak
Butir Tes bakat Berpikir Numerikal

Ratu Ilma Indra Putri


Pengaruh Pendekatan Pembelajaran dan
Bentuk Tes Formatif Terhadap Hasil Belajar
Matematika dengan Mengontrol Intelegensi
Siswa SD di Palembang
BENTUK TES

MODEL PEMBELAJARAN
RME

URAIAN
PPLIHAN
GANDA

EKSPOSITORI

Pengembangan tes kompetensi guru sekolah


menengah kejuruan bidang keahlian teknik
bangunan di medan
Bagaimana cara mengembangkan tes kompetensi
guru SMK bidang keahlian teknik bangunan?
Faktor apasaja yang mendasari tes kompetensi guru
SMK bidang keahlian teknik bangunan?
Bagaimanakah validitas konstruk dan validitas isi dari
tes kompetensi guru SMK bidang keahlian teknik
bangunan?

Bagaimanakah reliabilitas tes kompetensi guru


SMK bidang keahlian teknik bangunan?
Bagaimanakah kompetensi guru SMK bidang
keahlian teknik bangunan se kota Medan?

PERTEMUAN
4

Tiap variabel dirumuskan sintesis yang mengacu


konsep/konstruk dari variabel tersebut
Jika variabel penelitian berupa variabel kontruk
maka untuk menjaring data variabel pada penelitian
kuantitatif perlu jelas konsep yang melandasi
Disusun kerangka berpikir dan hipotesis penelitian

Konsep dirumuskan indikator-indikator untuk


menyusun butir

Pengkajian teori-teori ilmiah yang akan dipergunakan


dalam analisis, membandingkan antara teori dan sintesis
Pembahasan hasil penelitian-penelitian lain yang relevan
Penyusunan kerangka berpikir dlm pengajuan hipotesis
dengan menggunakan premis-premis pada (1) dan (2)
dgn menyatakan secara tersurat postulat, asumsi,
prinsip yang dipergunakan

Perumusan hipotesis

Dirumuskan dalam bentuk kalimat pernyataan


Sekurang-kurang terdiri atas 3 paragraf
Biasanya dimulai dengan kata diduga
Tidak memuat teori lagi
Mengarah kepada rumusan hipotesis
Sebaiknya sama banyak dengan rumusan
hipotesis penelitian

Hipotesis adalah hasil kajian pustaka atau proses rasional


dari penelitian yang telah mempunyai kebenaran secara
teoretik. Kebenaran hipotesis masih harus diuji
kebenarannya secara empirik, dengan demikian hipotesis
dapat dianggap sebagai jawaban sementara terhadap
masalah yang telah dirumuskan dalam suatu penelitian dan
masih perlu diuji kebenarannya dengan menggunakan data
empirik (Djaali, 2003)

Hipotesis diartikan sebagai kesimpulan bersifat sementara


atau proposisi tentatif tentang hubungan antara dua
variabel atau lebih. (Kerlinger, 2002)

Hasil dari proses teoretik dan komparasi fakta


yang handal, yang secara teoretik dapat
dipertanggungjawabkan kebenarannya.
Hipotesis menyatakan hubungan antara variabel
Hipotesis harus dapat diuji
Hipotesis harus spesifik dan sederhana
Menyatakan pernyataan tentang karakteristik
populasi

Contoh
Pengaruh Sikap Pimpinan Terhadap Prestasi Kerja
Pegawai Ditinjau dari Gaya Bekerja
Hipotesis Penelitian
Prestasi kerja pegawai yang pimpinannya
bersikap demokratik lebih tinggi dengan prestasi
kerja pegawai yang pimpinannya yang bersikap
otoriter
Prestasi kerja pegawai yang gaya bekerjanya
mandiri lebih tinggi dengan prestasi kerja
pegawai yang pimpinannya yang gaya
bekerjanya terpimpin
Ada interaksi antara sikap pimpinan dengan gaya
bekerja pegawai terhadap prestasi keja pegawai

Contoh
Hubungan antara tingkat kecemasan, kemampuan
numerik dan kemampuan bahasa terhadap hasil belajar
matematika
Hipotesis Penelitian
Ada hubungan negatif antara tingkat kecemasan dengan
hasil belajar matematika
Ada hubungan positif antara kemampuan numerik
dengan hasil belajar matematika
Ada hubungan positif antara kemampuan bahasa dengan
hasil belajar matematika
Ada hubungan antara tingkat kecemasan, kemampuan
numerik dan kemampuan bahasa secara bersama-sama
dengan hasil belajar matematika

Pengaruh Insentif, Suasana Kerja, dan Motivasi Kerja Terhadap


Kinerja Karyawan

Hipotesis Penelitian
Insentif mempunyai pengaruh langsung thd kinerja
karyawan?
Suasana kerja mempunyai pengaruh langsung thd kinerja
karyawan
Motivasi kerja mempunyai pengaruh langsung thd kinerja
karyawan
Insentif mempunyai pengaruh langsung thd motivasi kerja
karyawan
Suasana kerja mempunyai pengaruh langsung thd motivasi
kerja karyawan
Insentif mempunyai pengaruh langsung thd suasana kerja
karyawan

PERTEMUAN
5

Variabel kategorikal (dikhotomi dan


politomi)
Variabel bersambungan (diskrit dan kontinu)
Menurut skala (variabel nominal, ordinal,
interval, dan rasio)

Angka pada skala nominal sebagai nama penggolongan


Angka tidak mengukur besaran, hanya sebagai lambang
Pengkodean
Pria = 1

Wanita =2

Jakarta Pusat
Jakarta Barat
Jakarta Selatan
Jakarta Timur
Jakarta Utara

=1
=2
=3
= 4
=5

Angka 1 tidak lebih besar dari 0, angka 0 tidak lebih besar dari
1
Angka ini hanya membedakan laki-laki dan perempuan

Angka hanya sebagai nama penggolongan


Pada skala ini ada yang dianggap tingkat
terendah atau tertinggi
Jarak antara dua angka tidak perlu sama
Skala sikap
Sangat Tidak Setuju
=1
Tidak Setuju
=2
Ragu-ragu
=3
Setuju
=4
Sangat Setuju
=5

Jarak di antara 1 ke 2 serta 2 ke 3 tidak harus


sama (bisa sama dan juga bisa tidak sama)

Angka-angka yang disajikan menunjukkan


tingkatan
Angka 1 lebih kecil dari angka 2
Dua angka memiliki jarak yang sama tetapi tidak
bisa dibandingkan
Pengukuran suhu
200C
100C

800C
900C

Jarak 200C dan 100C = jarak 900C dan 800C


Benda yang memilki suhu 800C tidak berarti
panasnya 2 kali benda yang memilki suhu 400C

Angka antara 2 nilai mempunyai jarak yang sama


Nilai angka pada skala rasio dapat dibandingkan
Hasil Ujian : 80

dan

Nilai 80 = 2 x nilai 40

40

Variabel kontrol : adalah variabel yang ikut


mempengaruhi variabel terikat dan pengaruhnya
dikontrol atau dinetralisir.
Misalnya,
jika hasil analisis menunjukkan adanya
hubungan positif antara motivasi dan prestasi,
kita dapat mengambil kesimpulan bahwa
motivasi berpengaruh terhadap prestasi,
padahal disadari bahwa variabel IQ juga
berpengaruh terhadap prestasi. Oleh karena
itu IQ hendaknya dikontrol, dalam hal ini IQ
adalah varibel kontrol.

Variabel moderator: adalah variabel lain


yang dianggap berpengaruh terhadap
variabel terikat tetapi tidak mempunyai
pengaruh utama.
Misalnya

ketika kita menguji hubungan antara


motivasi dengan prestasi, maka jenis
kelamin
ikut
diperhitungkan
dalam
hubungan tersebut.
Dalam hal ini jenis kelamin adalah variabel
moderator.

Variabel intervening:
variabel intervening adalah variabel yang
dipengaruhi oleh variabel bebas kemudian dia
mempengaruhi variabel terikat. Jika variabel
antara diselidiki, hubungan statistik yang semula
nampak antara variabel bebas dengan varaibel
terikat menjadi lemah atau bahkan lenyap.
X (bebas)
Sikap

Z (antara)
Aktivitas

Y (terikat)
Prestasi

Variabel penekan:
jika hasil analisis awal menunjukkan tidak
ada hubungan antara dua variabel tetapi
variabel
ketiga
dimasukkan
sebagai
variabel
kontrol,
hubungan
menjadi
nampak dalam hal ini variabel yang
dikontrol tersebut adalah varibel penekan
Penelitian :

Hubungan jarak rumah ke puskesmas terhadap banyak pasien d


Sidomulyo
Ternyata tidak ada hubungan
Setelah dikaji , ternyata jumlah pasien yang jarak rumah ke pusk
lebih banyak dari jumlah pasien yang jaraj rumah ke puskesma d
Latar belakang pendidikan pasien yang jarak rumah ke puskesm
lebih tinggi

Variabel anteseden:
variabel anteseden mempunyai kesamaan
dengan variabel intervening (antara).
Perbedaannya variabel antara menyusup
di antara variabel bebas dan terikat,
sedangkan varibel anteseden mendahului
variabel bebas.

PERTEMUAN
6

Populasi adalah keseluruhan unit yg akan


diselidiki karakteristiknya
Populasi dapat dibagi atas populasi terget dan
populasi terjangkau
Populasi terjangkau terdiri dari keseluruhan
unit yg benar-benar mendapat kesempatan
untuk dipilih sbg sampel
Populasi target adalah populasi yg menjadi
daerah generalisasi hasil penelitian

Sampel adalah sebagian dari unit-unit yg ada


di populasi yg benar-benar dipelajari atau
diselidiki dalam suatu penelitian
Alasan menggunakan sampel karena:

Keterbatasan tenaga, waktu & biaya


Perubahan parameter menurut waktu
Ada statistika inferensial yg dapat digunakan untuk
membuat kesimpulan ttg populasi berdasarkan data
sampel

Salah satu faktor penentu kualitas hasil


penelitian adalah ukuran sampel
Ada empat pertimbangan yg digunakan
dalam menentukan ukuran sampel

Heterogenitas karakteristik populasi


Tingkat presisi yg dikehendaki
Persyaratan teknik statistik yg digunakan dalam
analisis data
Ketersediaan sumber (tenaga, waktu & biaya)

1.
2.
3.
4.
5.

Simple Random Sampling


Systematic Random Sampling
Stratified Random Sampling
Cluster Random Sampling
Multistage Random Sampling

Ada dua rancangan:


Pengamabilan sampel tanpa pengembalian
Pengambilan sampel dengan pengembalian

Penelitian untuk
mengetahui gaya penutur
bahasa di wilayah X
Misal :
Terdapat 3 gaya penutur
Ditetapkan ukuran
masing-masing
subpopulasi (secara
proposional atau tidak)
Pengambilan setiap
populasi silakukan secara
acak

Penelitian untuk
mengetahui penggunaan
internet di wilayah
Belimbing kota Malang
Misal :
Wilayah belimbing ada 8
RW
Dari 8 RW diambil 25%
melalui penarikan acak
diperoleh 2 RW
Masing-masing RW
memiliki 12, 14 RT
Masing-masing RT terdiri
26 dan 29 KK
Ternyata dari 55 KK hanya
30 KK yang menggunakan

Dipilih 2 kabupaten secara


acak dari 8 kabupaten
Masing-masing kabupaten
dipilih secara acak 15
kecamatan
Masing-masing kecamatan
dipilih 2 desa secara acak
sehingga diperoleh 30 desa
sampel
Semua warga
masayarakat yang berada
pada 30 desa menjadi
sampel penelitian

PERTEMUAN
7

Alat yang memenuhi persyaratan


akademis sehingga dapat
digunakan untuk mengumpulkan
data

Sutu instrumen atau prosedur sistematis untuk


mengukur suatu sampel (Gronlund &linn, 1990)

Alat ukur yang mempunyai standar obyektif


sehingga dapat digunakan untuk mengukur dan
membandingkan keadaan psikis atau tingkah
laku individu (Anastasi&Turabian, 1997)

Alat atau prosedur yang digunakan dalam


pengukuran dan penilaian (Sudijono, 1996)

Ada 2 macam instrumen


Tes
Non Tes

TES: alat ukur berbentuk satu set pertanyaan


untuk mengukur sampel tingkah laku, dan
jawabannya dapat dikategorikan benar dan
salah

NONTES: alat ukur untuk mengukur sampel


tingkah laku, tetapi jawabannya tidak dapat
dikategorikan benar dan salah (misalnya
positif dan negatif, setuju dan tidak setuju,
suka dan tidak suka)

Proses untuk memperoleh suatu deskripsi


numerik tentang tingkat di mana individu
memiliki karakteristik tertentu (Grounlund &Linn,
1990)

Proses pengumpulan data melalui pengamatan


empiris (Cangelosi, 1991)

Penilaian numerik terhadap obyek atau kejadian


menurut kriteria tertentu (Wiersma & Jurs, 1990)

PENILAIAN :
Prosedur yang digunakan untuk mendapatkan
informasi tentang prestasi atau kinerja
seseorang yang hasilnya akan digunakan untuk
evaluasi (Djemari M)

EVALUASI:
Proses menilai sesuatu berdasarkan kriteria
atau tujuan yang telah ditetapkan, kemudian
diikuti dengan pengambilan keputusan atas
obyek yang dievaluasi
Pengertian penilaian dan evaluasi hampir sama,
bedanya dalam evaluasi berakhir dengan
pengambilan keputusan sedangkan penilaian
hanya sebatas memberikan nilai saja (Djaali)

Memiliki validitas yang tinggi


Memiliki reliabilitas yang tinggi
Mempunyai obyektifitas (adil bagi
yang diukur)
Mampu membedakan antara satu
dengan lainnya
Mudah dan murah untuk
dilaksanakan

TES
Tes kemampuan umum
Speed Test
Power Test

Tes hasil belajar (Achievement Test)

NON TES
Angket
Pedoman Observasi
Pedoman Wawancara

1.

Skala Likert
Sikap,
Persepsi seseorang,
Sekelompok orang tentang suatu gejala atau
fenomena pendidikan
Bentuk pertanyaan dalam skala nilai adalah
positif dan negatif.
Pertanyaan positif mengharapkan siswa setuju
Pertanyaan negatif mengharapkan siswa tidak
setuju.
Butir pertanyaan dalam alat ukur terdapat
pertanyaan positif dan negatif.

Pilihan Jawaban Dari Skala Likert

Sangat setuju (SS)


Setuju (S)
Ragu-ragu (R)
Tidak setuju (TS)
Sangat tidak setuju (STS)

Sempurna
Di atas rata-rata
Rata-rata
Di bawah rata-rata
Tidak memuaskan

2. Skala Guttman

Hanya 2 interval:

Setuju
Baik
Tinggi
Ya
-

Tidak Setuju
Buruk
Rendah
Tidak

Pertanyaan pilihan ganda


checklist

3. Semantik Deferensial

Bentuk pertanyaan tersusun dalan satu


garis kontinum,jawaban positif dibagian
kanan dan jawaban negatif bagian kiri
atau sebaliknya

Skala ini digunakan untuk mengukur


sikap atau karakteristik tertentu yang
dimiliki seseorang

Contoh:

Demokrasi 7 6 5 4 3 2 1 Otoriter

Skala Thurstone

Berskala interval
Bentangan skala 1 11
Nilai 1 sangat tidak relevan
Nilai 11 sangat relevan

Mengkaji konsep
Konstruk
- definisi konsep
- definisi operasional
Mengembangkan dimensi & indikator
Membuat kisi-kisi
Menetapkan rentang parameter
Identifikasi ciri kutup
Menulis butir instrumen

Contoh

Mengacu pada indikator pencapaian.


Misalnya
untuk menilai akhlak peserta didik dilakukan melalui

indokator antara lain:


(a) Kedisiplinan
(b) kejujuran
(c) tanggungjawab
(d) hubungan sosial
Untuk menilai kepribadian dapat dilakukan melalui

indikator antara lain:


(a) percaya diri
(b) harga diri
(c) motivasi diri
(d) saling menghargai
(e) Kompetisi
Menyediakan pernyataan yang tidak merujuk pada hal-hal
yang benar atau salah
menentukan jenis skala yang dipilih dan pedoman
penskorannya.

Proses validasi konsep


- telaah/jastifikasi pakar
- panel
Perbaikan/revisi
Proses validasi empiris
- uji coba instrumen
- analisis data hasil uji-coba (uji validitas)
Seleksi butir valid
Perakitan instrumen

Menetapkan tujuan tes


Analisis Kurikulum (SK dan KD)
Analisis buku dan sumber belajar lainnya
Membuat Kisi-kisi
Menentukan indikator
Menulis Soal
Telaah Soal (Validasi konsep)
Revisi atau Perbaikan Soal
Reproduksi Tes Terbatas
Uji-Coba Tes (untuk validasi empiris)
Analisis hasil uji-coba (Uji Validitas)
Merakit soal menjadi tes

PERTEMUAN
8
UNJIAN TENGAH SEMESTER

PERTEMUAN
9

Validitas suatu alat


ukur
mempermasalahkan
apakah alat ukur
tersebut benar-benar
mengukur apa yang
hendak diukur.

Kesesuaian antara
alat ukur atau hasil
ukur dengan sasaran
ukur

VALIDITAS ISI

VALIDITAS WAJAH
VALIDITAS KONTRUK
VALIDITAS EMPIRIS (KRITERIA)
o VALIDITAS INTERNAL
o VALIDITAS EKSTERNAL
VALIDITAS PREDIKTIF
VALIDITAS KONGKUREN

Seberapa jauh suatu


alat ukur mengukur
tingkat penguasaan
terhadap materi yang
seharusnya dikuasai
sesuai dengan standar
kompetensi yang telah
ditetapkan.

Butir-butir tes
mencerminkan
keseluruhan materi
yang seharusnya
dikuasai secara
proposional.

TUJUAN :
o Validasi isi digunakan
untuk memperbaiki alat
ukur
o Butir yang tidak
memenuhi syarat
dibuang, diperbaiki atau
diganti
CARA :
o Cara yang paling banyak
digunakan orang adalah
validasi para pakar
(materi, pengukuran,
bahasa/ keterbacaan)
o Butir yang ditolak dan
butir yang meragukan
validasinya dibuang,
diperbaiki atau diganti

No
Butir

MODEL
DIKOTOMI

Cocok

Tidak
Cocok

MODEL
KIRAAN
(RATIN)

No
Validitas
Buti Rendah
r
Tinggi
1

1
2
3
4

Pakar

No Butir
1

..

JML

24

23

25

20

22

Cocok
Tdk
Cocok

4
1

3
2

4
1

3
2

3
2

4
1

Rumus Lawshe
M
MP
2M P
2
CVR

1
M
M
2

MP = banyaknya pakar yang menyatakan penting


M = banyaknya pakar yang memvalidasi
1 CVR + 1
MP < M
CVR < 0
MP = M
CVR = 0
MP > M
CVR > 0

Pada contoh 1 butir 1,

Mp = 4
M=5

CVR = (2Mp / M) 1

= (8 / 5) 1

= 0,6

Aiken menyusun indeks validitas yang dinamakan


indeks V. Rumus Aiken ini digunakan untuk model
rating
Skala penilaian : dari r sampai t
R= skala nilai terendah, t=skala nilai tertinggi
i = dari r + 1 sampai r + t 1
ni = banyaknya nilai pada i
N = ni
Indeks V
n |ir |

V
i

N (t 1)

Nilai V terletak di antara 0 dan 1

Pada skala dari 1 sampai 5, suatu butir


dinilai oleh 5 pakar.
Hasil peniliaian mereka adalah :
3
3
4
4
5
Pada indeks V dari Aiken

r=1
t=5
i = 2, 3, 4, 5

n2 = 0 n3 = 2 n4 = 2 n5 = 1

N=5

0 | 2 1 | 2 | 3 1 | 2 | 4 1 | 1 | 5 1 |
V
5(5 1)
14

20
0,70

Sejauh mana hasil pengukuran dengan alat yang


dipersoalkan (predictor) itu sama atau mirip
dengan pengukuran lain yang dijadikan kriteria.

Ada dua sasaran ukur


sasaran ukur prediktor (menghasilkan sekor prediktor)
sasaran ukur kriteria (menghasilkan sekor kriteria).

Misal:
Sasaran ukur prediktor adalah ujian penerimaan karyawan
baru atau mahasiswa baru
Sasaran ukur kriteria adalah keberhasilan mereka sebagai
karyawan atau sebagai mahasiswa

Validitas serentak (concurrent validity)


yakni kriteria terdapat pada saat yang sama
dengan prediktor.

Contoh:
TOEFL melalui komputer untuk
menggantikan atau mendampingi TOEFL
melalui pinsil dan kertas.

Contoh 4
Validitas Serentak

Respon
den

Sekor
Ax

Sekor
AY

8
10
5
3
8
10
9
6
7
10

6
10
5
5
9
8
10
8
8
10

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

AX = prediktor
AY = kriteria

val = AX-AxY = 0,80


Jika korelasi tinggi berarti ada kecocokan antara predictor dengan
criteria.

Kriteria terjadi kemudian setelah prediktor.


Validitas prediksi merupakan korelasi suatu
hasil pengukuran (prediktor) dengan kriteria di
luar yang diukur pada waktu yang tidak
bersamaan.

Contoh
Sebagai prediktor : Ujian penerimaan
karyawan untuk menseleksi calon karyawan
atau Ujian penerimaan mahasiswa untuk
menseleksi calon mahasiswa.
Kriteria terjadi kemudian, misalnya
keberhasilan karyawan atau keberhasilan
mahasiswa.
Biasanya tidak mudah untuk ditentukan secara
tepat. Sukar menentukan kriteria karyawan
yang baik atau mahasiswa yang berhasil

val=0.815
Karena korelasi
tinggi berarti tes
masuk dapat
memprediksi
keberhasilan
mahasiswa dalam
bentuk indek
pretasi.

Resp.

Tes Masuk

IP

470

2.61

480

2.47

485

2.63

520

2.72

530

2.64

535

2.78

545

2.85

547

2.65

560

2.95

10

564

3.02

Dikemukakan oleh L. J. Cronbach dan P.


E. Meehl pada tahun 1955

Seberapa jauh jauh butir-butir tes


mampu mengukur apa yang benar
hendak diukur sesuai dengan konsep
atau definisi konseptual yang telah
ditetapkan

Mengukur sikap, motivasi, minat,


motivasi berprestasi, kecemasan, bakat

Perumusan konstruk
Penentuan Dimensi
dan indikator
Penulisan butir-butir
instrumen
Penelahan para
pakar
PERUMUSAN KONTRUK
BERDASARKAN TEORI-TEORI
MENGENAI KONSEP
VARIABEL
ANALISIS FAKTOR

Analisis Faktor Komfirmatori


(Comfirmatory Factor Analysis).

Tujuan :

untuk menjustifikasi ketepatan butir-butir yang


mengukur dimensi variabel yang telah disusun
berdasarkan konstruk teoretis.
Dengan Analisis Faktor Komfirmatori terdapat
koresponsdensi antara konstruk teori dan fakta
empiris, atau antara kebenaran a priori dengan
kebenaran a posteriori.

1.

Memeriksa instrumen mulai dari konstruk


sampai penyusunan butir

2.

Dimensi : jabaran yang tepat dari konstruk


Indikator : jabaran yang tepat dari dimensi yang
telah dirumuskan
Butir-butir instrumen yang dibuat sesuai untuk
mengukur indikator

Menilai Butir

Metode Thurstone

1.

2.
3.

Membentuk panel yang terdiri dari


sejumlah ahli (20-40 orang) untuk mengilai
relevansi pernyataan yang telah dibuat
Tentukan skala penilaian 1- 11
Misalnya : satu pertanyaan dinilai oleh 20
orang ahli

skala 1

10 11

10 4
Me 6,5
6,9
7

VALIDITAS

DITENTUKAN BERDASARKAN KRITERIA

INTERNAL
KRITERIA

INTERNAL ADALAH TES ATAU


INSTRUMEN ITU SENDIRI VALIDITAS INTERNAL

1. VALIDITAS INTERNAL (VALIDITAS BUTIR)


o Validasi internal mempermasalahkan validasi butir dengan
menggunakan hasil ukur sebagai satu kesatuan sebagai
kriteria, sehingga validasi internal dinamakan validasi butir
o Seberapa jauh hasil ukur butir tersebut konsisten dengan
hasil ukur suatu alat ukur secara keseluruhan
o Koefisien korelasi antara sekor butir dengan sekor total alat
ukur
Sekor butir kontinum
Koefisien korelasi product moment (r)

Sekor butir dikotomi


Koefisien Point Biserial

r pbis

M p MT
ST

p
q

rpbis = koefisien biserial point biserial


Mp
MT
ST
p
pada
q

= mean sekor pada tes yang memiliki jawaban


benar pada butir soal
= mean sekot total
= simpangan baku sekor total
= proporsi peserta tes yang jawabannya benar
butir soal
=1-p

CONTOH MENGHITUNG DP DENGAN KORELASI POINT BISERIAL


(rpbis)
DAFTAR SKOR SISWA SOAL NOMOR 1
Siswa
yang
Menjawa
b benar

Jumlah
skor
keseluru
han

Siswa
yang
menjawa
b salah

Jumlah
skor
keseluru
han

A
B
C
D
E
F
G
H
I
J
K
L
M

19
18
18
16
16
16
15
13
13
13
12
12
11

N
O
P
Q
R
S
T
U
V
W
X
Y
Z
AA
AB
AC
AD

17
16
15
14
14
12
12
12
12
12
11
11
10
9
8
8
7

Jumlah =
200

192

Nb=13, Ns=17, N=30, Stdv= 3,0954

Rpbis

Meanb - Means
= ------------------- pq
Stdv skor total

Keterangan:
b=skor siswa yang menjawab
benar
s=skor siswa yang menjawab salah
p=proporsi jawaban benar thd
semua
jawaban siswa
q= 1-p
Meanb = 192:13=14,7692
Means = 200:17= 11,7647
Rpbis

14,7692 11,7647
= ----------------------- (13:30) (17:30)
3,0954
= (0,9706338) (0,4955355)
= 0,4809835 = 0,48
KRITERIA
Artinya DAYA
butirPEMBEDA:
soal nomor 1 DITERMA
0,40

1,00
=
soal
baik
atau BAIK.
0,30 0,39 = terima & perbaiki
0,20 0,29 = soal diperbaiki
0,19 0,00 = soal ditolak

SEJAUH MANA HASIL SUATU


PENGUKURAN DAPAT DIPERCAYA
TINGKAT KECOCOKAN ANTARA
HASIL UKUR DENGAN KEADAAN
SESUNGGUHNYA PADA RESPONDEN
DIHITUNG PADA HASIL UJI COBA
DAN PADA HASIL UJI
SESUNGGUHNYA
Menurut Mehrens & Lehmann
(1973: 104) untuk instrumen yang
digunakan untuk membuat
keputusan harus memiliki
koefisien reliabilitas minimal
sebesar 0,85.

Kecocokan dengan sekor sesungguhnya

Makin cocok dengan sekor sesungguhnya


makin tinggi reliabilitasnya

1.

RELIABILITAS KOSISTENSI TANGGAPAN


o
o

Mempersoalkan apakah jawaban responden


terhadap alat ukur sudah baik atau konsisten
3 cara untuk memriksa reliabilitas tanggapan
responden

Teknik test-retes
Teknik belas dua
Bentuk ekivalen

Teknik test-retest
Pengetesan dua kali dengan menggunakan
suatu tes yang sama pada waktu yang
berbeda

Teknik belas dua (Spearman-Brown)


Pengukuran dilakukan dengan dua kelompok
butir yang setara pada saat yang sama

Bentuk ekivalen
Pengukuran dilakukan dengan menggunakan
dua tes yang dibuat setara kemudian
diberikan kepada responden dalam waktu
bersamaan

Teknik test-retest
untuk melihat kestabilan jawaban responden
Pelaksanaan
Responden menempuh dua kali pengukuran pada alat
ukur yang sama diselingi suatu selang waktu
Ukur
X

Selang waktu
-----------------

Ukur ulang
X

Selang waktu tidak terlalu singkat karena responden


masih mengingatnya dan tidak terlalu lama sehingga
responden sempat berubah
sekitar selang 3 minggu

Pada reliabilitas ini, dilihat apakah hasil ukur ulang masih


mirip dengan hasil ukur, apakah jawaban responden
stabil sehingga dinamakan reliabilitas stabilitas

Koefisien Reliabilitas

Koefisien reliabilitas adalah koefisien korelasi linier di antara


sekor ukur dengan sekor ukur ulang

= ukur ukur ulang


Contoh 6
Resp uji uji ulang
1
60
65
2
70
75
3
65
70
4
80
60
5
70
70
6
85
90
7
65
60
8
75
80
9
60
60
10
80
75
11
75
75
12
90
80

AA = 0,67

Teknik belas dua (Spearman-Brown)


Pelaksanaan
Butir dibuat setara secara pasangan yakni
sepasang demi sepasang
Biasanya, nomor urut ganjil berpasangan
dengan nomor urut genap (nomor urut 1
dengan nomor 2, nomor 3 dengan nomor
4, dan seterusnya)
1
2

...
...

Terdapat dua subsekor responden yakni


Subsekor nomor urut ganjil
Subsekor nomor urut genap

Persyaratan
Pasangan butir harus betul-betul setara
Perhitungan Pertama
Koefisien korelasi subsekor (nomor urut ganjil dan nomor
urut genap) menghasilkan Koefisien korelasi paruh-paruh
pp
Koefisien reliabilitas pilah paruh atau koefisien reliabilitas
Spearman-Brown, SB

SB

2 pp

1 pp

2.

Pilah Paruh (Rulon)

Rulon menggunakan selisih di antara subsekor ganjil dan


subsekor genap sebagai sumber kekeliruan
Variansi dari selisih subsekor merupakan bagian keliru dari
variansi seluruh sekor
Jika selisih setiap subsekor adalah D, maka koefisien reliabilitas
Rulon adalah
Rulon

2
D
1
2
A

Koefisien reliabilitas ini lebih mudah digunakan jika


dibandingkan dengan koefisien reliabilitas Spearman-Brown

Sekor pilah paruh nomor urut ganjil dan genap


Responden
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20

Butir
Agj
1 3 5 7 9 11
1 0 1 0 1 0 3
1 1 1 1 0 1 5
1 0 0 0 0 1 2
0 0 0 1 1 1 3
0 0 0 0 1 1 2
1 1 1 1 1 1 6
0 1 1 0 1 1 4
1 1 1 1 0 0 4
1 1 1 0 0 1 4
1 1 1 1 0 1 5
1 0 0 0 1 1 3
1 1 1 0 1 1 5
1 1 1 0 1 1 5
1 1 1 1 1 0 5
1 0 1 0 0 1 3
1 1 0 0 1 1 4
1 1 1 1 0 1 5
1 1 1 1 0 0 4
1 0 1 1 0 0 3
1 1 1 1 0 1 5

Butir
Agn
2 4 6 8 10 12
1 1 1 1 0 0 4
1 1 1 1 1 1 6
1 1 0 0 1 1 4
1 0 0 1 0 1 3
1 0 0 0 1 1 3
0 1 1 1 1 1 5
1 0 1 1 0 1 4
1 1 1 1 0 1 5
1 0 1 0 0 1 3
1 1 0 1 1 0 4
0 1 0 1 1 1 4
1 0 0 1 1 1 4
1 1 1 1 1 1 6
1 1 1 1 1 1 6
1 1 1 0 0 1 4
1 1 1 1 1 0 5
0 1 1 1 1 1 5
1 1 0 1 1 1 5
1 1 1 0 0 1 4
1 1 1 1 1 1 6

Responden

Agj

Agn A

2
3
4

5
2
3

6
3
3

11
5
6

1
1
0

pp = 0,72

SB

6
7
8
9

6
4
4
4

5
4
5
3

11
8
9
7

1
0
1
1

10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20

5
3
5
5
5
3
4
5
4
3
5

4
4
4
6
6
4
5
5
5
4
6

9
7
9
11
11
7
9
10
9
7
11

1
1
1
1
1
1
1
0
1
1
1

(2)(0,72)
= --------------1 + 0,72
= 0,83

2D = 0,65
2A = 3,85
Rulon

0,65
= 1 -----3,85
= 1 0,17
= 0,83

Bentuk ekivalen
Untuk melihat ekivalensi dari kedua
pengukuran itu
Pelaksanaan
Responden menempuh dua pengukuran setara tanpa
atau dengan selang waktu
Ukur
X

tanpa atau
dengan
selang waktu
-----------------

ukur setara
X

Masalahnya adalah bagaimana menentukan


kesetaraan pengukuran atau ujian
Pada reliabilitas ini, dilihat apakah hasil ukur setara
masih mirip dengan hasil ukur, apakah jawaban
responden ekivalen sehingga dinamakan reliabilitas
ekivalen

Koefisien reliabilitas

Koefisien reliabilitas adalah koefisien korelasi linier di antara


sekor ukur dengan sekor ukur setara
AA = ukur-ukur setara
Contoh
Resp uji uji setara
1 58
60
2 64
59
3 70
74
4 72
68
AA = 0,81
5 57
59
6 67
60
7 54
56
8 61
63
9 71
70
10 65
67

2.

RELIABILITAS KONSISTENSI GABUNGAN


ITEM
o
o
o

Berkaitan dengan konsistensi antara butirbutir suatu alat ukur.


Jika butir soal dikotomi
KR-20 dan KR-21
Jika butir soal kontinum
Koefisien Alpha atau Alpha Cronbach

KR-20
Responden
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

Butir
1
1
1
0
0
0
1
0
1
1
1

2
1
1
1
1
0
1
0
1
0
1

3
0
1
1
1
0
1
0
1
1
1

4
1
0
1
0
0
0
0
1
0
0

Variansi responden 2A
Butir
Variansi Butir
1
0,24
6
2
0,21
7
3
0,21
8
4
0,21
9
5
0,24
10
piqi = 2,18

5
1
1
1
1
0
1
0
1
0
0

6
1
0
1
1
1
1
0
1
0
1

Ag
7
0
1
1
0
1
1
1
1
0
1

= 6,56
Variansi
0,21
0,21
0,25
0,24
0,16

8
1
1
0
1
0
1
0
1
0
0

9
1
0
1
0
0
1
1
1
0
1

10
1
1
0
1
1
1
1
1
0
1

KR 20

8
7
7
6
3
9
3
10
2
7

2
N A pi q i

N 1
A2

10 6,56 2,18
10 1
6,56
0,74

KR-21

Karena KR-21 < KR-20 maka diadakan koreksi


dengan
memperkecil rerata variansi butir
A = 6,20

N = 10

2A = 6,56

N A(N A )
KR 21
1

N 1
N A2

10 (6,2)(10 6,2)
1

10 1
(10)(6,56)

0,71
(KR-20 = 0,74

KR-21 = 0,71

KR-21k = 0,79)

Alpha Cronbach
Responden g
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

1
8
3
9
4
8
9
4
7
4
6

2
5
6
10
5
8
4
6
4
3
3

Variansi butir
Butir Variansi
1
4,76
2
4,44
3
3,61
4
4,85
5
2,64
2i = 20,30

Butir
3
9
4
8
3
5
8
6
7
5
8

Ag
4
3
5
7
6
9
4
7
6
1
7

5
6
3
8
4
7
5
6
7
3
5

31
21
42
22
37
30
29
31
16
29

Variansi
sekor
responden
2A = 52,36

Koefisien reliabilitas

2
2
N A i

N 1
A2

5 52,36 20,30
5 1
52,36
0,77

PENULI
SAN
SOAL

ANALISIS &
TELAAH
REVISI SOAL
DAN
REVISI
SOAL

PERA
KITA
N
TES
SOAL
JELEK

BANK
SOAL

KALIBRAS
I SOAL
@direktorat psma_2008

UJI
COBA
TES

ANALISIS:
ANALISIS:
.-MANUAL
MANUAL
.KOMPUTER
-KOMPUTER

SELEKS
I SOAL

SOAL
BAIK
187

BA BB
Daya Beda
1
N
2

BA: Jml jwb benar KA


BB: Jml jwb benar KB
N : Jml Peserta tes

Siswa Jawab benar

Ting. kesukaran
N

CONTOH ANALISIS KUANTITATIF BUTIR SOAL

NO SISWA
1
2
3

A
B
C

...
33
34
35

1 2 3 .... 50
B B C
B A D
A C B

...
P
Q
R
KUNCI

D
C
B

...

SKOR
45
43
41

27%
KA

...

A A B
C D E
D E E

A
E
E

B B D

@direktorat psma_2008

27
26
25

27%
KB

189

ANALISIS SOAL PG
SOAL

KEL

OMIT

KA
KB

0
1

10
7

0
1

0
1

0
0

0
0

KA
KB

0
2

5
3

5
3

0
1

0
1

0
0

KA
KB

0
0

1
2

9
3

0
3

0
2

50

KA
KB

1
1

2
2

3
3

3
2

1
2

TK1=(BA+BB): N
= (10+7) : 20
= 0,85
DP1= (BA-BB):N
= (10-7) : x 20
= 0,30

KRITERIA TK:
0,00 0,30 = sukar
0,31 - 0,70 = sedang
0,71 1,00 = mudah

KEY

TK

DP

0,85

0,30

0,40

0,20

0
0

0,15

-0,30

0
0

0,25

0,10

KRITERIA DAYA PEMBEDA:


0,40 1,00 = soal baik
0,30 0,39 = terima & perbaiki
0,20 0,29 = soal diperbaiki
0,19 0,00 = soal ditolak

CONTOH MENGHITUNG DP DENGAN KORELASI POINT BISERIAL


(rpbis)
DAFTAR SKOR SISWA SOAL NOMOR 1
Siswa
yang
Menjawa
b benar

Jumlah
skor
keseluru
han

Siswa
yang
menjawa
b salah

Jumlah
skor
keseluru
han

A
B
C
D
E
F
G
H
I
J
K
L
M

19
18
18
16
16
16
15
13
13
13
12
12
11

N
O
P
Q
R
S
T
U
V
W
X
Y
Z
AA
AB
AC
AD

17
16
15
14
14
12
12
12
12
12
11
11
10
9
8
8
7

Jumlah =
200

192

Nb=13, Ns=17, N=30, Stdv= 3,0954

Rpbis

Meanb - Means
= ------------------- pq
Stdv skor total

Keterangan:
b=skor siswa yang menjawab
benar
s=skor siswa yang menjawab salah
p=proporsi jawaban benar thd
semua
jawaban siswa
q= 1-p
Meanb = 192:13=14,7692
Means = 200:17= 11,7647
Rpbis

14,7692 11,7647
= ----------------------- (13:30) (17:30)
3,0954
= (0,9706338) (0,4955355)
= 0,4809835 = 0,48
KRITERIA
Artinya DAYA
butirPEMBEDA:
soal nomor 1 DITERMA
0,40

1,00
=
soal
baik
atau BAIK.
0,30 0,39 = terima & perbaiki
0,20 0,29 = soal diperbaiki
0,19 0,00 = soal ditolak

ANALISIS SOAL URAIAN


DAN TES PRAKTIK
NO.

SISWA

Soal 1
(Skor maks
6)

1
2
3
4
5

A
B
C
D
E

6
5
3
3
2

5
4
2
2
1

Jumlah
Rata-rata
TK
DP

19
3,80
0,63
0,47

14
2,80
0,56
0,56

TK1 = Rata-rata : skor maks


= 3,8 : 6 = 0,63
TK2 = 2,8 : 5 = 0,56

Soal 2
(Skor maks 5)

DP1= (Rata-rata KA Rata-rata KB) : skor maks.


= [(11:2) (8:3) ] : 6 = (5,5-2,7):6 = 0,47
DP2= [ (9:2) (5:3) ] : 5 = (4,5-1,7) : 5 = 0,56

PERTEMUAN
10

Apakah antara dua variabel atau lebih ada


hubungan atau tidak, mengukur kekuatan
hubungannya, membuat ramalan yang
didasarkan kepada kuat lemahnya hubungan
tsb.
Tujuan umum dari penelitian ini adalah
menjelajahi variabel-variabel yang mempunyai
hubungan yang diindentifikasikan.
Pengujian hipotesis untuk penelitian dapat
menggunakan teknik regresi dan korelasi.

Dilakukan penelitian untuk mengetahui hubungan


yang positif antara IQ dengan prestasi kerja.

Hasil survey :
Wanita yang hobi membaca majalah ilmiah =47
orang
Wanita yang hobi membaca majalah hiburan =62
orang
Pria yang hobi membaca majalah ilmiah = 58 orang
Pria yang hobi membaca majalah hiburan = 39 orang
Apakah hubungan antara jenis kelamin dan hobi

Misal akan diteliti hubungan antara agama yang


dianut dengan daerah geografis.
Dua kelompok dipilih secara acak, satu dari
pantai timur dan satu lagi dari pantai barat
Amerika Serikat.
Tiap orang digolongkan atas Protestan, Katolik
dan Yahudi

Misalkan akan diteliti hubungan antara


pendapatan orang tua dan tingkat pendidikan
anak pertama.

Contoh:
Memperkirakan hasil belajar siswa akhir tahun
berdasarkan hasil tes masuk.
Memperkirakan pengeluaran untuk keperluan
pokok keluarga berdasarkan pendapatan
keluarga
Memperkirakan hasil tanaman kacang tanh
berdasarkan banyak pupuk yang digunakan
tiap hektar
Memperkirakan kekuatan otot seorang atlit
angkat besi jika frekuensi latihan ditingkatkan

Para ilmuwan, ekonom, psikolog, dan


sosiolog selalu berkepentingan dengan
masalah Peramalan

Persamaan matematika yang


memungkinkan meramalkan nilai
variabel tak bebas dari nilai satu atau
lebih variabel bebas disebut persamaan
regresi

Regresi linear sederhana adalah persamaan regresi


yang menggambarkan hubungan antara satu
variabel bebas (X) dan satu variabel tak bebas (Y).
Hubungan keduanya dapat digambarkan sebagai
satu garis lurus

Hubungan antara dua variabel dapat dibentuk


dalam persamaan regresi
:

Y X
Contoh :

Y 0 1 X 1 2 X 2

Mencari bentuk hubungan hasil belajar matematika


dengan kemampuan numerik dan bahasa

Korelasi Adalah hubungan timbal balik (keterkaitan) antar 2


variabel atau lebih

Koefisien Korelasi = derajat keterkaitan antara


dua variabel
r = 0 tidak ada hubungan linear antara
kedua variabel
r = 1 ada korelasi positif sempurna antara
kedua variabel
r = -1 ada korelasi negatif sempurna antara
kedua variabel

PERTEMUAN
11

Kausal-komparatif (Ex-post facto)

Tidak melakukan manipulasi terhadap satu


atau
sejumlah variabel
Tidak manipulsi kondisi karena kondisi
tersebut sudah
terjadi sebelumpenelitian dilaksanakan
Menguji apa yang sudah terjadi pada subjek

(Glass & Hopkin)


Menyelidiki kausal yang mungkin untuk suatu pola
perilaku yang dilakukan dengan membandingkan
subyek dimana pola tersebut ada dengan subyek yang
serupa dimana pola tersebut berbeda
Contoh:
Pengaruh broken home terhadap kenakalan remaja
hubungan antara pendapatan orang tua dan tingkat
pendidikan anak
pertama.

Tujuan:
Untuk menyelidiki hubungan sebab-akibat
yang mungkin terjadi dengan cara mengamati
akibat yang ada (nampak) dan mencari
kembali faktor-faktor yang mungkin menjadi
penyebabnya (melalui data tertentu)
Contoh: Penelitian untuk menentukan ciri-ciri
pengawas yang efektif dengan
mempergunakan data berupa catatan
mengenai sejarah pekerjaan selengkap
mungkin

Bersifat ex post facto, artinya data dikumpulan


setelah semua kejadian yang dipersoalkan
berlangsung (lewat)
Peneliti mengambil satu atau lebih akibat
(dependent variable) dan menguji data tsb dengan
menelusuri kembali ke masa lampau faktor sebab
yang saling berhubungan dan maknanya

Metode kausal-komparatif menjadi lebih


kuat jika metode eksperimental tak
mungkin dilakukan, terutama dalam hal:

(1) tdk mungkin memanipulasikan faktor sebabakibat secara langsung,


(2) kontrol thd variabel bebas tdk realistik utk
dilakukan,

Menghasilkan informasi yg sgt berguna


mengenai sifat-sifat gejala yg
dipermasalahkan

Tidak adanya kontrol kondisional/manipulasi


terhadap variabel bebas
Sukar memperoleh kepastian bhw faktorfaktor penyebab benar-benar relevan
dengan faktor yg diselidiki
Dapat terjadi faktor penyebab bukan faktor
tunggal tp interaksi atau kombinasi dengan
faktor lain

Apabila saling hubungan antara variabel


telah ditemukan, sukar menetukan mana
sebab dan mana yang akibat
Dua atau lebih faktor saling berhubungan
tdklah mesti adanya hubungan sebabakibat
Tidak ada pemilihan subjek secara
terkontrol

PERTEMUAN
11

Penyelidikan ilmiah dimana peneliti


memanipulasi satu variabel atau lebih,
mengontrol variabel dan mengamati efek
atau manipulasi tersebut (susilo, 2009)
Penelitian yang dilkukan dalam suatu kondisi
yang dimanipulasi, sementara kondisi lain
dianggap konstan dan kemudian
berpengaruh perbedaan kondisi atau
variabel yang diukur (Sevilla, et . Al., 1993)

Melibatkan 2 kelompok
Kelompok ekperimen Kelompok kontrol
Tujuan :
Untuk melihat perlakuan baru l
Lebih efektif dari perlakuan baiasa
Langkah penelitian eksperimen
a.Memilih dan merumuskan masalah
b.Memilih subyek dan instrumen pengukuran
c.Memilih disain penelitian
d.Melaksanakan prosedur
e.Menganalisa data
f.Merumuskan kesimpulan

Faktor yang perlu dikontrol


a.Latar belakang siswa
b.Ruang kelas
c.Waktu mengajar
d.Cara mengajar
e.Pelaksana tindakan
f.Faktor lain yang berpengaruh terhadap pemberian tindakan

Variabel Penelitian eksperimen


a. Variabel bebas dan terikat
b. Variabel Atribut/variabel moderator: kondisi yang tidak dapat d
c. Atau dieksperimenkan
d. Variabel kontrol

Disain Penelitian
a. Suatu masalah penelitian hanya dapat dijawab
apabila disain penelitian
yang digunakan merupakan disain yang tepat
b. Disain penelitian menentukan teknik analisis yang
tepat untuk
melakukan pengujian hipotesiis penelitian
Variabel Penelitian eksperimen
a. Variabel bebas dan terikat
b. Variabel Atribut/variabel moderator: kondisi yang
tidak dapat diubah
c. Atau dieksperimenkan
d. Variabel kontrol

Bentuk penelitian
eksperimen
a. Pre eksperimental
b. True eksperimental
c. Faktorial eksperimen
d. Quasi eksperimen
Ciri:
a. Perbandingan antar dua kelompok atau
lebih
b. Manipulasi perlakuan
c. Pengamatan
d. Pengukuran untuk masing-masing variabel
bebas
e. Penggunaan statistik Inferensia
f. Adanya disain yang dapat secara ketat

PRE-EKSPERIMEN
-One Shot Case Study
G
T O
-One Group Pre-tes Post-test Design
G
O T O

-The Statis Group Comparison


E
T
O
K
O
QUASI EKSPERIMEN

Randomized Control Group Design


R
E
T1 O1
R
K
T2 O2

Randomized Pre and Post Test Control


Group Design
R
E
O1 T1 O2
R
K
O3 T2 O4
R
R

O1
O3

E
K

T1
T2

O2
O4

Salomon Four Groups Design


R
E
O1 T1
R
K
O3 T2
R
E
.
T1
R
K
.
T2

O2
O4
O5
O6

Treatment by level design


Treatment by subject
design
Factorial design

Treatment by Level
Design
A
B
A1
A2

B1
B2

A = Perlakuan, mis:
metode
pembelajaran
A1 = Met. Eksperimen
A2 = Met. Pembanding
B = Variebel
Moderator,
mis: Minat
B1 = Minat tinggi
B2 = Minat rendah

Treatment by Subyek
Design
A
B
A1
A2

B1
B2

A = Perlakuan,
mis:
metode
pembelajaran
A1 = Met. Eksperimen
A2 = Met. Pembanding
B = Variebel Bebas
mis: penilaian
B1 = unjuk kerja
B2 = porto folio

Group Within Treatment


Design
G!

G2

G1

G2

Y11

Y21

Y31.

Y41

Y12

Y22

Y32

Y42

Y13

Y23

Y33

Y43

Y1n

Y2n

Y3n

Y4n

Dr. Wardani Rahayu, M.


Si

Menyelesaikan masalah
pembelajaran secara
profesional dan kolaboratif

Kemampuan menyelesaikan
masalah pembelajaran akan
semakin meningkat

Kualitas
isi,
Proses
Hasil

Penelitian yang
dilakukan oleh guru di
dalam kelasnya sendiri
melalui refleksi, tujuan
memperbaiki kinerja
guru sehingga hasil
belajar siswa
meningkat

Mengapa guru harus


dibebani PTK ?
Pekerjaan guru sudah cukup banyak,
mengapa bukan para peneliti
pendidikan saja yang melakukan PTK?
Penelitian di lakukan di kelas
Guru menjadi objek kajian tidak
terlibat dalam pembentukan
pengetahuan

Hasil Penelitian baik ini,


tetapi bagaimana
mungkin saya dapat
mempraktekannya

Hasil penelitian
pendidikan dapat
dimanfaatkan oleh Guru
?

Mengapa PTK Dilakukan


Guru
Guru?
adalah
orang
paling
tahu
tentang
segala
sesuatu
yang
terjadi di
kelas

Keterlibata
n guru
dalam
berbagai
kegiatan
pengemban
gan di
sekolahnya

Guru
mereviu
kinerjan
ya

Hopkins (1993)
PTK dilakukan guru dipandang
sebagai satu unjuk kerja
seorang guru yang profesional
karena studi sistematik yang
dilakukan terhadap diri sendiri
sebagai tanda dari pekerjaan
guru profesinal

Pengertian PTK
Kemmis ( 1983)
Penelitian untuk menguji cobakan ide-ide ke
dalam praktek untuk memperbaiki/ mengubah
sesuatu agar memperoleh dampak nyata dari
situasi.
Taggart (1988)
Bentuk penelitian reflektif diri yang secara kolektif
dilakukan oleh peneliti dalam situasi social untuk
meningkatkan penalaran dan keadilan praktik
pendidikan dan social serta pemahaman
mengenai praktik dan situasi tempat
dilakukannya.

(Proyek PGSM Diknas, 1999)

Bentuk kajian yang bersifat reflektif


oleh pelaku tindakan, dilakukan
untuk meningkatkan kemantapan
rasional dari tindakan-tindakan
mereka dalam melakasanakan
tugas, memperdalam pemahaman
terhadap tindakan yang dilakukan,
serta memperbaiki kondisi praktik
pembelajaran yang dilakukan.

IDENTIFIKASI MASALAH
NO

PERTANYAAN

1.

Apakah kompetensi awal siswa yang


mengikuti pelajaran cukup memadai?

2.

Apakah proses pembelajaran yang


dilakukan cukup efektif?

3.

Apakah sarana pembelajaran cukup


memadai?

4.

Apakah yang terjadi di kelas saya?

5.

Apakah dalam menjelaskan materi, cukup


jelas?

MASALAH
NO

1
2
3
4
5
6

Masalah yang Hadapi Guru


Bagaimakah mengajak siswa agar siswa
aktif belajar di kelas?
Bagaimanakah meningkatkan motivasi
dan minat siswa untuk belajar?
Bagaimanakah menerapkan pembelajaran
kooperatif?
Bagaimakah frekuensi pemberian tugas
yang dapat memotivasi siswa?
Jenis media apa yang dapat
meningkatkan motivasi siswa?
Bagaimanakah bentu LKS yang dapat
memotivasi siswa?

Masalah yang Hadapi Guru


Rendahnya disiplin siswa

Rendahnya minat baca


Interaksi belajar yang tidak efektif
Metode pembelajaran yang
membosankan
Kelas selalu gaduh
Rendahnya intensitas bertanya
Adanya siswa yang mendominasi

MENENTUKAN FOKUS PENELITIAN

Siswa kurang
aktif dikelas
Cenderung tidak
mengajukan
pertanyaan
Guru sering
memberikan
kesemptan kepada
siswa untuk
bertanya tetapi
hampir tidak ada
siswa yang
bertanya

Bagaimanakah
Meningkatkan
Partisipasi
Siswa dalam
Kelas?

Masalah
apa yang
terjadi di
kelas?
Bagaimana
upaya
mengatasin
ya?
Di kelas
berapa?

FOKUS PENELITIAN
Apakah

ada
peningkatan
hasil belajar
kelas VII-2 di
SMP Negeri 97
Jakarta Timur
dengan
menerapkan
model
pembelajaran
kooperatif ?

FOKUS PENELITIAN
Apakah

dengan
penyampaian materi
dengan model
pembelajaran STAD dan
penggunaan LKS,
partisipasi siswa kelas X
SMA 7 dalam kegiatan
belajar mengajar dapat
meningkat?

CONTOH PERMASALAHAN
NO

Tema-tema PTK

Pengkatan partisipasi siswa

Penggunaan strategi pembelajaran yang


bervariasi
Peningkatan keinginan siswa untuk
bertanggung jawab dalam belajar

Peningkatan pemanfaatan alat peraga


Peningkatan pemanfaatan lingkungan
sebagai sumber belajar

Replannig
Planning
Action
Observation
Reflection

Rumuskan alternatif tindakan berdasarkan


hasil kajian
Setiap alternatif tindakan perlu dikaji ulang
dan dievaluasi dari segi relevansinya
dengan tujuan, kelaikan teknis serta
keterlaksanaannya.
Pilih alternatif tindakan serta prosedur
implementasi yang paling memberi
peluang untuk mewujudkan hasil yang
optimal

Membuat RPP
Mempersiapkan fasilitas dan sarana
pendukung yang diperlukan
Mempersiapkan instrumen penelitian
Melakukan simulasi pelaksanaan tindakan

Planning
Identifikasi
Identifikasimasalah
masalah
Rumuskan
Rumuskanmasalah
masalah
Rencanakan
Rencanakantindakan
tindakan
Persiapkan
Persiapkantindakan
tindakan

Action
Implementasi
Implementasirencana
rencana
tindakan
tindakandalam
dalamkelas
kelasriil
riil

Oleh
Olehsalah
salahseorang
seorang
guru
gurupeneliti
peneliti

Observation

Observasi
Observasioleh
olehanggota
anggota
peneliti
penelitilain
lain
Menggunakan
Menggunakan
Lembar
LembarObservasi
Observasi

Lembar

Pengamatan

Catatan lapangan, daftar cek,


Pedoman

wawancara

Untuk memperoleh informasi lebih rinci


Untuk melengkapi data hasil obersvasi
Dilakuakan situasi informal,
Peneliti berperan sebagai mitra

Angket
Indikator dari angket dikembangkan dari
permasalahan yang ingin digali

Pedoman Pengkajian data dokumen


Daftar hadir, silabus, hasil karya siswa, lembar
kerja

Tes
Hasil belajar
Pengetahuan awal

Catatan

tentang aktivitas belajar


siswa dalam pembelajaran

Refleksi

Analisis
Analisishasil
hasil
penelitian
penelitian
Pemaknaan
Pemaknaan
Penjelasan
Penjelasan
Penyimpulkan
Penyimpulkan
Rencana
Rencana
tindak
tindaklanjut
lanjut

Triangulasi

Data atau informasi yang diperoleh


divalidasi dengan melakukan cek,
recek dan cek silang dengan pihak
lain untuk memperoleh kesimpulan
yang objektif

SIKLUS

Siklus 1

Siklus 2

Siklus 3

PERTEMUAN
11

Kausal-komparatif (Ex-post facto)

Tidak melakukan manipulasi terhadap satu


atau
sejumlah variabel
Tidak manipulsi kondisi karena kondisi
tersebut sudah
terjadi sebelumpenelitian dilaksanakan
Menguji apa yang sudah terjadi pada subjek

(Glass & Hopkin)


Menyelidiki kausa yang mungkin untuk suatu pola
perilaku yang dilakukan dengan membandingkan
subyek dimana pola tersebut ada dengan subyek yang
serupa dimana pola tersebut berbeda
Contoh:
Pengaruh broken home terhadap kenakalan remaja

Tujuan:
Untuk menyelidiki hubungan sebab-akibat
yang mungkin terjadi dengan cara
mengamati akibat yang ada (nampak) dan
mencari kembali faktor-faktor yang mungkin
menjadi penyebabnya (melalui data
tertentu)
Contoh: Penelitian untuk menentukan ciri-ciri
guru yang efektif dengan mempergunakan
data berupa catatan mengenai sejarah
pekerjaan selengkap mungkin

Bersifat ex post facto, artinya data


dikumpulan setelah semua kejadian yang
dipersoalkan berlangsung (lewat). Peneliti
mengambil satu atau lebih akibat (dependent
variable) dan menguji data tsb dengan
menelusuri kembali ke masa lampau faktor
sebab yang saling berhubungan dan
maknanya

Metode kausal-komparatif mjd lebih kuat


jika metode eksperimental tak mungkin
dilakukan, terutama dalam hal: (1) tdk
mungkin memanipulasikan faktor sebabakibat secara langsung, (2) kontrol thd
variabel bebas tdk realistik utk dilakukan,
(3) apabila kontrol tdk praktis, mahal, dan
diragukan dari etika (laboratorium)
Menghasilkan informasi yg sgt berguna
mengenai sifat-sifat gejala yg
dipermasalahkan
Perbaikan dlm hal: teknik, metode
statistik, rancangan dgn kontrol parsial.

Tidak adanya kontrol kondisional/manipulasi


terhadap variabel bebas
Sukar memperoleh kepastian bhw faktorfaktor penyebab benar-benar relevan
dengan faktor yg diselidiki
Dapat terjadi faktor penyebab bukan faktor
tunggal tp interaksi atau kombinasi dengan
faktor lain
Suatu gejala (akibat) tdk hanya dari sebabsebab ganda tetapi oleh suatu sebab pada
kejadian tertentu dan sebab lain pada
kejadian lain.

Apabila saling hubungan antara variabel


telah ditemukan, sukar menetukan mana
sebab dan mana yang akibat
Dua atau lebih faktor saling berhubungan
tdklah mesti adanya hubungan sebabakibat
Tidak ada pemilihan subjek secara
terkontrol

Definisikan masalah
Lakukan penelaahan kepustakaan
Rumuskan hipotesis
Rumuskan asumsi-asumsi
Rancang cara pendekatannya (pilih atau
tetapkan subjek, teknik, kategori)
Validasikan teknik pengumpulan data dan
interpretasikan hasilnya dengan jelas &
cermat,
Kumpulkan dan analisis data
Susun laporan

Tes Kemampuan (TPA, Tes IQ & Bakat)

Tes

Instrumen

Tes Hasil Belajar (Kognitif)

Angket (Data faktual)

Skala (Data aspek Psikologi/Konsep)


Non Tes
Pedoman Wawancara (Data tentang
Uraian/penjelasan sesuatu)

Pedoman Observasi (Mencatat data kualitatif


objek fisik)

DOKUMEN

SINTESIS ADALAH PROSES UNTUK


MEMBANGUN KONTRUK DALAM PIKIRAN
PENELITI
KONTRUK DITULISKAN DALAM DEFINISI
KONSEPTUAL
DEFINISI KONSEPTUAL DITURUNKAN
MENJADI DEFINISI OPERASIONAL
DEFINISI OPERASIONAL ADALAH PENELITI
MELAKUKAN PENILAIAN/PERSEPSI
TERHADAP VARIABEL

PENGARUH MOTIVASI TERHADAP HASIL


BELAJAR
HASIL BELAJAR MENINGKAT DIAKIBATKAN
DENGAN MOTIVASI YANG MENINGKAT,
DENGAN MENGONTROL IQ.
KATA KUNCINYA DENGAN VARIABEL
KONTROL
IQ DIKONTROL SECARA STATISTIK,
DIKONDISIKAN SEBELUM PERLAKUAN

HOMOGEN BERKAITAN DENGAN


PERLAKUAN, ATAU INSTRUMEN YANG
DIBERIKAN SAMA.
VARAIBEL MODERATOR DINAMAKAN
VARIABEL PENGENDALI.
MISALNYA SMA KELAS 1, SMA KELAS 2
IQ TINGGI, IQ RENDAH
MOTIVASI TINGGI, MOTIVASI RENDAH

Mengkaji konsep
Konstruk

Definisi konsep
Definisi operasional
Mengembangkan dimensidan indikator
Membuat kisi-kisi
Menetapkan rentang parameter
Identifikasi ciri kutub
Menulis butir instrumen

Validitas konsep