Anda di halaman 1dari 43

CASE BASED DISCUSSION

SEORANG WANITA DENGAN HEMORRHOID


INTERNA GRADE 3
DISUSUN OLEH:
RICKY ZAFIRIANTO
012116505

PEMBIMBING :
DR. MOCHAMAD ARIFIN, SP.BKBD

LAPORAN KASUS
IDENTITAS
Nama

: Ny. M
Umur
: 30 tahun 5 bulan 9 hari
Jenis Kelamin : Perempuan
Alamat
: Tanjungsari 1/5
Tlogowungu, Pati,
Jawa
Tengah
Agama
: Islam
Tgl masuk RS : 22-8-2016
Bangsal
: Edelweis
No.CM
: 127003

ANAMNESIS
Keluhan Utama :
Buang air besar berdarah segar, menetes
Riwayat Penyakit Sekarang :
Lokasi
Kronologis

: Anus
:
Sejak tanggal 22 Agustus 2016 pasien masuk rumah sakit via poli dengan
keluhan BAB sulit, bila BAB nyeri, berdarah segar, darah menetes pada celana
dalam, terdapat daging keluar pada anus dulu dapat masuk sendiri namun
sekarang harus dimasukan sendiri. Pasien mengeluhkan lemas. Pada perut
tidak mengalami nyeri. Berat badan dirasa tidak berkurang. Mual, muntah,
demam disangkal. Pasien mengakui jarang mengkonsumsi sayur dan buah
buahan, minum sekitar 2 botol minum per hari.
Keluhan lain : tidak ada

Riwayat Penyakit Dahulu :


Riwayat keluhan serupa
: disangkal
Riwayat Hipertensi
: disangkal
Riwayat Alergi Obat dan Makanan : disangkal
Riwayat DM
: disangkal
Riwayat Penyakit Keluarga :
Riwayat keluhan serupa
: disangkal
Riwayat Hipertensi
: disangkal
Riwayat DM
: disangkal

Riwayat Pribadi, Sosial dan Ekonomi

Pasien bekerja sebagai buruh pabrik. Pasien


berobat menggunakan BPJS non PBI.

PEMERIKSAAN FISIK

Keadaan umum
Kesadaran
Status gizi
Tanda vital
T
N
R
t

:
:
:
:

: Baik
: Composmentis
: Normoweight

120/80 mmHg
76 x/menit (regular, isi dan tegangan cukup)
19 x/menit (reguler)
36,7 C (per axiller)

STATUS GENERALIS

Kulit

: sawo matang, turgor kulit (N)


Kepala : bentuk mesocephal,luka (-)
Mata
: konjungtiva palpebra anemis (-/-), sklera ikterik (-/-), pupil
isokor (diameter 3mm/3mm), reflek cahaya (+/+)
Telinga
: Discharge (-/-)
Hidung
: septum deviasi (-), discharge (-/-)
Mulut
: Normal, sianosis (-)
Leher
: simetris, deviasi trachea (-), pembesaran kelenjar getah
bening(-), pembesaran kelenjar tiroid (-).
Thoraks
: normochest, simetris, pembesaran kelenjar getah bening
aksilla (-)

Paru-Paru
Inspeksi
Palpasi
Perkusi
Auskultasi

:
:
:
:

dada simetris, retraksi parasternal (-)


fokal fremitus kanan=kiri
sonor
suara dasar vesikuler, ronki (-), wheezing (-)

Jantung
Inspeksi

: iktus kordis tidak terlihat


Palpasi
: iktus kordis tidak teraba, pembesaran (-)
KESAN:
Perkusi
: batas jantung
Pinggang
DBN
: ICS III garis parasternal sinistra
Atas
: ICS II garis sternal sinistra
Kanan
: ICS IV garis parasternal dextra
Kiri
: ICS V 2 jari ke medial garis midclavikula sinistra
Auskultasi : regular, murmur (-), gallop (-)

Punggung : kifosis (-), lordosis (-), nyeri ketok sudut

costovertebra (-/-)

Abdomen
Inspeksi

: Tampak datar, defans


muskuler (-), distensi (-), sikatrik
(-),striae(-),warna kulit sama dengan
warna sekitar, gambaran usus
(-),gerakan usus(-), massa (-)
Auskultasi : bising usus (+) normal
Perkusi : timpani di semua lapang
abdomen.
Palpasi : Tidak ada nyeri tekan ,
ballotemen ginjal kanan (-) kiri (-),
hepar dan lien tak teraba

KESAN:
DBN

EKSTREMITAS

Akral

Superior Inferior
(-/-)
(-/-)

dingin

(-/-)

(-/-)

Edema

<2

<2

Capilary

(-/-)

(-/-)

refill

KESAN:
DBN

STATUS LOKALIS
1.Regio : Abdomen
Inspeksi : Tampak datar, defens muskuler (-), distensi (-),

sikatrik (-),striae (-), warna kulit sama dengan warna


sekitar, gambaran usus (-), gerakan usus(-), massa (-)
Auskultasi : bising usus (+) normal
KESAN:
Perkusi :
DBN
Timpani pada semua lapang abdomen
Palpasi :
Nyeri tekan pada abdomen kuadran kanan bawah (Mc
Burney)(-) ballotemen ginjal kanan (-) kiri (-), hepar dan lien
tak teraba

2.Rectal toucher

Inspeksi : terdapat benjolan pada seluruh lubang anus

pada semua jam, tidak terdapat fistel, keluar darah dari


anus, tidak terdapat benjolan di sekitar anus,tidak
teredapat tumor, tidak terdapat pus, tidak terdapat abses,
tidak terdapat fissura
Sfingter ani kuat ,mukosa rekti berbenjol, ampula rekti tidak kolaps,
KESAN:
nyeri tekan (+), Massa (+)
Sarung tangan : lendir (-), darah (+), feses HEMMORROI
(-).

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan

Laboratorium
Hematologi
Gol. darah : O

WBC
: 10,86

RBC
: 3,91

HGB
: 11,5
HCT (L) : 35,6
MCV
: 91,0

MCH
MCHC
PLT
RDW-CV
RDW-SD
PDW
MPV
P-LCR

: 29,4
: 32,3
: 246
: 13,9
: 44,8
: 11,6
: 9,9
24,3

KESAN:
DBN

KIMIA KLINIK
Neutrofil : 8,84
Limfosit
:

1,31
Monosit
:
0,44
Eosinofil
:
0,24
Basofil
:
0,03

Glukosa

: 94 mg/dl

(75-160)

Ureum (H)

: 16,0 mg/dl (10-50)

Creatinin (H): 0,79 mg/dl (0,6-1,2)

SGOT

: 18,2 (0-35)

SGPT

: 16,5 (0-45)

NATRIUM

: 144,0 (135-155)

KALIUM

: 3,88 (3,6-5,5)

CHLORIDA: 111,7

(95-108)

HBSAG NON REAKTIF

KESAN:
DBN

ASSESMENT

Dx Klinis

Hemmorroid interna grade 3

TINDAKAN

Pasien dilakukan operasi heoroidektomi dengan teknik

white head

H+1 pasien
belum BAB,
tidak bisa tidur
akibat luka
bekas operasi,
mual (-)
demam (-)

H+3 BAB (+)

H+2 tampon
diambil, nyeri
luka bekas
operasi
berkurang

H+4 pasien
diperbolehkan
pulang

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Definisi
Plexus hemoroid merupakan pembuluh darah

normal yang terletak pada mukosa rektum bagian


distal dan anoderm. Gangguan pada hemoroid
terjadi ketika plexus vaskular ini membesar.
Sehingga kita dapatkan pengertiannya dari
hemoroid adalah dilatasi varikosus vena dari
plexus hemorrhoidal inferior dan superior
(Dorland, 2002).

ANATOMI
Kanalis analis merupakan bagian terbawah

dari usus besar yang berfungsi untuk


mengeluarkan feses. Secara anatomi,
kanalis analis memiliki panjang kurang lebih
1,5 inci atau sekitar 4 cm, yang berjalan ke
bawah dan belakang dari ampulla rekti
sampai anus. Selain saat defekasi, dinding
kanalis analis dipertahankan oleh musculus
levator ani dan musculus sphincter ani
supaya saling berdekatan. Mekanisme
sphincter ani memiliki tiga unsur pembentuk
yakni musculus sphincter ani externus,
musculus sphincter ani internus, dan
musculus puborectalis.

Vaskularisasi kanalis analis

Musculus sphincter ani

internus dibentuk oleh


penebalan otot polos
stratum circulare pada ujung
atas kanalis analis sehingga
bekerja secara involuntar.
Sedangkan musculus
sphincter ani externus
dilapisi oleh otot lurik sehingga
bekerja secara voluntar.

sebagian besar diperoleh dari


arteri hemorrhoidalis
superior, arteri
hemorrhoidalis medialis,
dan arteri hemorrhoidalis
inferior. Arteri hemorrhoidalis
superior merupakan
kelanjutan langsung dari arteri
mesenterika inferior. Arteri
hemorrhoidalis medialis
merupakan percabangan
anterior arteri hipogastrica,
dan arteri hemorrhoidalis
inferior merupakan cabang

Sistem vena pada kanalis analis

berasal dari vena hemorrhoidalis


superior dan vena hemorrhoidalis
inferior. Vena hemorrhoidalis
superior berasal dari plexus
hemorrhoidalis internus dan
berjalan ke arah kranial ke dalam
vena mesenterika inferior dan
seterusnya melalui vena lienalis ke
vena porta. Vena hemorrhoidalis
inferior mengalirkan darah ke dalam
vena pudenda interna dan ke
dalam vena iliaka interna dan sistem
kava.

Sistem simpatik dan sistem

parasimpatik memegang
peranan penting dalam
persarafan rektum. Serabut
simpatik berasal dari plexus
mesenterikus inferior dan
sistem parasakral yang terbentuk
dari ganglion-ganglion simpatis
lumbal ruas kedua, ketiga,
dan keempat. Sedangkan
persarafan parasimpatik berasal
dari saraf sakral II,III, dan IV.

DEFINISI
Hemoroid adalah bantalan vaskular yang
terdapat di anal canal yang biasanya
ditemukan ditiga daerah utama yaitu jam 3
(lateral kiri), jam 7 (posterior kanan),
dan jam 11 (anterior kanan. Hemoroid
berada dibawah lapisan epitel anal canal
dan terdiri dari plexus arteriovenosus
terutama antara cabang terminal arteri
rektal superior dan arteri hemoroid
superior. Selain itu hemoroid juga
menghubungkan antara arteri hemoroid
dengan jaringan sekitar

. Bantalan hemoroid adalah jaringan normal


dalam saluran anus dan rectum distal
sebagai fungsi kontinens yaitu menahan
pasase abnormal gas, feses cair dan
feses padat dan memberikan informasi
sensoris penting yang memungkinkan anus
untuk dapat memberikan presepsi berbeda
antara zat padat, cair, dan gas.
Hemoroid interna dan eksterna saling
berhubungan, terpisah linea dentate.
Jaringan hemorrhoid mengandung struktur
arterio-venous fistula yang dindingnya tidak
mengandung otot, jadi pembuluh darah
tersebut adalah sinusoid, bukan vena.

ETIOLOGI
A. Penuaan

terjadi proses degenerasi dari jaringan tubuh, otot


sfingter menjadi tipis dan atonis.karena sfingternya
mengalami kelemahan, maka dapat timbul prolaps.
B. Kehamilan
Kehamilan dapat menyebabkan stasis vena pada
daerah pelvis, meskipun etiologinya masih belum
diketahui secara pasti. Ada juga yang mengatakan
bahwa ini berhubungan dengan hormonal.
C. Konstipasi atau diare kronik
Konstipasi adalah suatu keadaan dimana
seseorang mengalami kesulitan BAB sehingga
terkadan harus mengejan dikarenakan feses yang
mengeras, berbau lebih busuk dan berwarna lebih
gelap dari biasanya. Pada kontipasi dibutuhkan
waktu mengejan yang lama.

D. Penggunaan toilet yang

berlama-lama
Hal ini akan meningkatkan tekanan
vena yang akhirnya akan
mengakibatan pelebaran vena.
E. Posisi tubuh, misal duduk
dalam waktu yang lama
F. Obesitas.

PATOFISIOLOGI
Efek degenerasi akibat penuaan dapat
memperlemah jaringan penyokong dan
bersamaan dengan usaha pengeluaran
feses yang keras secara berulang serta
mengedan akan meningkatkan tekanan
terhadap bantalan tersebut yang akan
mengakibatkan prolapsus. Bantalan yang
mengalami prolapsus akan menganggu
aliran balik venanya. Bantalan menjadi
semakin membesar dikarenakan
mengedan, konsumsi serat yang tidak
adekuat, berlama-lama ketika buang air
besar, serta kondisi seperti kehamilan
yang meningkatkan tekanan intra
abdominal. Perdarahan yang timbul dari
pembesaran hemoroid disebabkan oleh
trauma mukosa lokal atau inflamasi yang
merusak pembuluh darah di bawahnya.

Anal canal memiliki lumen triradiate

yang dilapisi bantalan (cushion) atau


alas dari jaringan mukosa. Bantalan
ini tergantung di anal canal oleh
jaringan ikat yang berasal dari
sfingter anal internal dan otot
longitudinal. Di dalam tiap bantalan
terdapat plexus vena yang
diperdarahi oleh arteriovenosus.
Struktur vaskular tersebut membuat
tiap bantalan membesar untuk
mencegah terjadinya inkontinensia.

Hemoroid interna
Hemoroid interna berasal dari bagian proksimal dentate
line dan dilapisi mukosa.
Menurut Person (2007), hemoroid internal
diklasifikasikan menjadi beberapa tingkatan yakni:
Derajat I, hemoroid mencapai lumen anal canal.
Derajat II, hemoroid mencapai sfingter eksternal dan
tampak pada saat pemeriksaan tetapi dapat masuk
kembali secara spontan.
Derajat III, hemoroid telah keluar dari anal canal dan
hanya dapat masuk kembali secara manual oleh
pasien.
Derajat IV, hemoroid selalu keluar dan tidak dapat
masuk ke anal canal meski dimasukkan secara
manual. Benjolan dapat terjepit diluar, dapat mengalami
iritasi, inflamasi, edema dan ulserasi, sehingga
menyebabkan rasa nyeri.

Hemoroid eksterna
Hemoroid eksterna berasal dari dari
bagian distal dentate line dan dilapisi
oleh epitel skuamos yang telah
termodifikasi dan tertutup oleh kulit.
Hemoroid interna- eksterna
Hemoroid interna-eksterna dilapisi oleh
mukosa di bagian superior dan kulit pada
bagian inferior serta memiliki serabut
saraf nyeri

MANIFESTASI KLINIS
Hemoroid interna

1.

Prolaps dan keluarnya mukus.

Benjolan/prolap terjadi pada grade 2-4. Benjolan akan


nampak tapi bila diraba akan menghilang. Hal ini
dikarenakan pada saat perabaan, jari akan menekan vasa
sehingga darah dalam vasa akan mengalir. Akibatnya,
benjolan menjadi kempis. Benjolan hanya akan teraba
apabila telah terjadi trombus. Disini, benjolan teraba
keras.
2. Perdarahan.

Perdarahan bisa terjadi pada grade 1-4,. Darah yang


keluar adalah darah segar yang tidak bercampur dengan
feses (hematoshezia). Perdarahan kadang menetes tapi
dapat juga mengalir deras. Sebab utama perdarahan
adalah trauma feses yang keras. Perdarahan yang
berulang- ulang dapat menimbulkan anemia

3. Rasa tak nyaman.

4. Gatal.

HEMOROID EKSTERNA

1. Rasa terbakar.

2. Nyeri ( jika mengalami trombosis).

Nyeri hebat hanya terjadi pada hemoroid eksterna dengan trombosis nyeri tidak
berhubungan dengan hemoroid interna, tetapi bila pada hemoroid interna terjadi nyeri, ini
merupakan tanda adanya radang.

3. Gatal

Anamnesis
Pada anamnesis biasanya didapati bahwa pasien menemukan adanya darah segar pada saat
buang air besar. Selain itu pasien juga akan mengeluhkan adanya gatal-gatal pada daerah
anus. Bila terdapat masa pada anus dan hal ini membuatnya tak nyaman. Pasien akan
mengeluhkan nyeri pada hemoroid derajat IV yang telah mengalami trombosis (Canan, 2002).
Perdarahan yang disertai dengan nyeri dapat mengindikasikan adanya trombosis hemoroid
eksternal, dengan ulserasi thrombus pada kulit. Hemoroid internal biasanya timbul gejala
hanya ketika mengalami prolapsus sehingga terjadi ulserasi, perdarahan, atau trombosis.
Hemoroid eksternal bisa jadi tanpa gejala atau dapat ditandai dengan rasa tak nyaman, nyeri
akut, atau perdarahan akibat ulserasi dan trombosis ( Wexner, Person, dan Kaidar-person, 2006).

PEMERIKSAAN FISIK
Pada pemeriksaan fisik dapat ditemukan adanya
pembengkakan vena yang mengindikasikan
hemoroid eksternal atau hemoroid internal yang
mengalami prolaps. Hemoroid internal derajat I
dan II biasanya tidak dapat terlihat dari luar dan
cukup sulit membedakannya dengan lipatan
mukosa melalui pemeriksaan rektal kecuali
hemoroid tersebut telah mengalami trombosis
(Canan, 2002).
Daerah perianal juga diinspeksi untuk melihat
ada atau tidaknya fisura, fistula, polip, atau
tumor. Selain itu ukuran, perdarahan, dan
tingkat keparahan inflamasi juga harus dinilai
(Nisar dan Scholefield, 2003).

RECTAL TOUCHER

Hemoroid interna stadium awal biasanya tidak

teraba dan tidak nyeri, hemoroid ini dapat teraba


bila sudah ada thrombus atau fibrosis. Apabila
hemoroid sering prolaps, selaput lendir akan
menebal. Trombosis dan fibrosis pada perabaan
terasa padat dengan dasar yang lebar. Rectal
toucher (RT) diperlukan untuk menyingkirkan
kemungkinan adanya karsinoma recti.

hemoroid derajat I dapat

ditatalaksana dengan pengobatan


konservatif. Tatalaksana tersebut
antara lain koreksi konstipasi jika ada,
meningkatkan konsumsi serat,
laksatif, dan menghindari obat-obatan
yang dapat menyebabkan kostipasi
seperti kodein (Daniel, 2010).
meningkatkan konsumsi cairan
menghindari konstipasi dan
mengurangi mengejan saat buang air
Diet berserat, buah-buahan dan
sayuran, dan intake air ditingkatkan.

Diet serat yang dimaksud adalah diet

dengan kandungan selulosa yang


tinggi. Selulosa tidak mampu dicerna
oleh tubuh tetapi selulosa bersifat
menyerap air sehingga feses menjadi
lunak. Makanan-makanan tersebut
menyebabkan gumpalan isi usus
menjadi besar namun lunak sehingga
mempermudah defekasi dan
mengurangi keharusan mengejan
secara berlebihan.

Medikamentosa
Stool Softener, untuk mencegah

konstipasi sehingga mengurangi


kebiasaan mengejan, misalnya Docusate Analgesik, untuk mengatasi rasa nyeri,
misalnya Acetaminophen yang merupakan
Sodium.
obat anti nyeri pilihan bagi pasien yang
Anestetik topikal, untuk mengurangi
memiliki hiperensitifitas terhadap aspirin
rasa nyeri, misalnya Lidocaine ointmenti
atau NSAID, atau pasien dengan penyakit
5% (Lidoderm, Dermaflex). Yang penting
saluran pencernaan bagian atas atau
untuk diperhatikan adalah penggunaan
pasien yang sedang mengkonsumsi
obat-obatan topikal per rectal dapat
antikoagulan oral.
menimbulkan efek samping sistematik.
Mild astringent, untuk mengurangi

rasa gatal pada daerah perianal

Sklerotrapi
Vasa darah yang mengalami varises disuntik Phenol 5 %
dalam minyak nabati sehingga terjadi nekrosis lalu
fibrosis. Akibatnya, vasa darah yang menggelembung akan
berkontraksi / mengecil. Untuk itu injeksi dilakukan ke dalam
submukosa pada jaringan ikat longgar di atas hemoroid
interna agar terjadi inflamasi dan berakhir dengan fibrosis.
Untuk menghindari nyeri yang hebat, suntikan harus di atas
mucocutaneus juction (1-2 ml bahan diinjeksikan kekuadran
simptomatik dengan alat hemoroid panjang dengan bantuan
anoskopi). Komplikasi : infeksi, prostitis akut dan reaksi
hipersensitifitas terhadap bahan yang disuntikan.
Skleroterapi dan diet serat merupakan terapi baik untuk
derajat 1.

Ligasi dengan cincin karet (Rubber band Ligation) Teknik


Teknik ini diperkenalkan oleh Baron pada tahun 1963 dan
biasa dilakukan untuk hemoroid yang besar atau yang
mengalami prolaps. Tonjolan ditarik dan pangkalnya
(mukosa pleksus hemoroidalis) diikat dengan cincin
karet. Akibatnya timbul iskemik yang menjadi
nekrosis dan akhirnya terlepas. Pada bekasnya akan
mengalami fibrosis dalam beberapa hari. Pada satu kali
terapi hanya diikat satu kompleks hemoroid sedangkan
ligasi selanjutnya dilakukan dalam jangka waktu dua
sampai empat minggu. Komplikasi yang mungkin timbul
adalah nyeri yang hebat terutama pada ligasi
mucocutaneus junction yang kaya reseptor sensorik dan
terjadi perdarahan saat polip lepas atau nekrosis (7
sampai 10 hari) setelah ligasi.

Bedah Beku (Cryosurgery)


Tonjolan hemoroid dibekukan dengan
CO2 atau NO2 sehingga terjadi
nekrosis dan akhirnya fibrosis. Terapi
ini jarang dipakai karena mukosa yang
akan dibekukan (dibuat nekrosis)
sukar untuk ditentukan luasnya. Cara
ini cocok untuk terapi paliatif pada
karsinoma recti inoperabel.

IRC (Infra Red Cauter)


Tonjolan
hemoroid
dicauter
/
dilelehkan dengan infra merah.
Sehingga terjadilah nekrosis dan
akhirnya fibrosis. Terapi ini diulang tiap
seminggu sekali.

Indikasi operasi

METODE OPERASI

a) Gejala kronik derajat 3 atau 4.

Metode Langenbeck

Untuk tonjolan yang soliter (hanya satu). Caranya dengan menjepit radiair hemoroid
internus, mengadakan jahitan jelujur di bawah klem dengan catgut chromic No. 2/0 dan
melakukan eksisi Diatas klem. Sesudah itu klem dilepas dan jahitan di bawah klem diikat
diikuti kontinuitas mukosa.

b) Perdarahan kronik yang tidak berhasil

dengan terapi sederhana.


c) Hemoroid derajat 4 dengan nyeri akut

dan trombosis serta gangren.


Prinsip hemoroidektomi :
a) Eksisi hanya pada jaringan yang benar-

benar berlebih.
b) Eksisi sehemat mungkin dilakukan

sehingga anoedema dan kulit normal


tidak terganggu Spinchter ani.

Metode Miligan Morgan

Untuk tonjolan pada tiga tempat utama (jam 3, 7, 11). Caranya dengan mengangkat vena
yang varises kemudian dijahit walaupun sebenarnya metode miligan morgan originalnya
tanpa jahitan. Sesuai prosedur aslinya, benjolan hemoroid dijepit kemudian dilakukan
diseksi. Pedikel vaskuler diligasi dan luka dibiarkan terbuka agar terjadi granulasi. Metode
ini sangat sering digunakan di Inggris.

Metode Whitehead
Untuk hermoroid sirkuler / berat.

Metode Ferguson
Yaitu benjolan hemoroid

Caranya dengan melakukan incisi


secara sirkular, mengupas seluruh
v. hemoriodalis dengan
membebaskan mukosa dari
submukosa, bagian yang prolaps
dipotong, kemudian dijahit
kembali. Ini merupakan operasi
hemoroid yang radikal.

ditampakkan melalui anoskopi


kemudian dilakukan eksisi dan
ligasi pada posisi anatomic
hemoroid tersebut. Metode ini
digunakan di Amerika Serikat
Metode hemoroidektomi yang
sering dilakukan adalah metode
langenbeck karena mudah untuk
dilakukan dan tidak mengandung
resiko pembentukan jaringan
parut sirkuler yang dapat

Pencegahan
Konsumsi serat 25-30 gram sehari. Makanan

tinggi serat seperti buah-buahan, sayur-mayur,


dan kacang-kacangan menyebabkan feses
menyerap air di kolon. Hal ini membuat feses
lebih lembek dan besar, sehingga mengurangi
proses mengedan dan tekanan pada vena anus.
Minum air sebanyak 6-8 gelas sehari
. Segera ke kamar mandi saat merasa akan
buang air besar, jangan ditahan karena akan
memperkeras feses. Usahakan BAB sehari
sekali.
Olah raga yang teratur seperti senam, berjalan,
berenang
Hindari mengangkat beban yang berat.

PROGNOSIS

Prognosis hemoroid

terutama pada derajat 1


sangat baik bila ditangani
dengan tepat
Pada pasien pasca operasi
mengeluhkan nyeri hebat
Resiko operasi adalah
striktur pada canalis analis,
yang dapat mengakibatkan

TERIMA KASIH