Anda di halaman 1dari 14

HUBUNGAN STRUKTUR,

ASPEK STEREOKIMIA DAN


AKTIFITAS BIOLOGIS OBAT
PUGUHSANTOSO
10113047

S1-FARMASI/B

STEREOKIMIA
Stereokimia merupakan salah satu faktor
penting dalam aktifitas biologis obat, Untuk
berinteraksi dengan reseptor, molekul obat harus
mencapai sisi reseptor dan sesuai dengan
permukaan reseptor. faktor sterik yang
ditentukan oleh stereokimia molekul obat dan
permukaan sisi reseptor, memegang peran
penting dalam menetukan efisiensi interaksi
obat-reseptor. oleh karena itu agar berinteraksi
dengan resptor dan menimbulkan respon
biologis, molekul obat harus mempunyai struktur
dengan derajat kespesifikan tinggi.

Pada interaksi obat-reseptor ada dua nilai yang sangat


penting yang distribusi muatan elektronik dalam obat
dan reseptor, serta bentuk konformasi obat dan
reseptor. oleh karena itu aktivitas obat tergantung
pada tiga faktor struktur yaPng penting, yaitu :
a. streokimia molekul obat
b. jarak antara atom atau gugus
c. distribusi elektronik dan konfigurasi molekul

Perbedaan aktivitas farmakologis dari beberapa


stereoisomer oleh tiga faktor yaitu:
a. perbedaan dalam distribusi isomer dalam
tubuh
b. perbedaan dalam sifat-sifat interaksi obatreseptor
c. perbedaan dalam adsorpsi isomer-isomer
pada permukaan reseptor yang sesuai.
Isomer
adalah molekul- molekul dengan rumus kimia
yang sama namun memiliki susunan atom yang
berbeda

MODIFIKASI ISOSTERISME
Untuk memperoleh obat dengan aktivitas yang lebih tinggi, dengan
efek samping atau toksisitas yang lebih rendah dan bekerja lebih
selektif, perlu dilakukan modifikasi struktur molekul obat.
Istilah isosterisme digunakan secara luas untuk menggambarkan
seleksi dari bagian struktur yang karena kerekteristik sterik,
elektronik dan sifat kelarutannya, memungkinkan untuk saling
dipergantikan pada modifikasi struktur molekul obat.
Arti isosteris secara umum adalah kelompok atom-atom dalam
molekul, yang mempunyai sifat kimia atau fisika mirip, karena
mempunyai persamaan ukuran, keelektronegatifan atau
stereokimia.
Contoh pasangan isosterik yang mempunyai sifat sterik dan
konfigurasi elektronik sama adalah :
a. ion karboksilat (-COO-)dan ion sulfonamido (-SO2NR)
b. gugus keton (-CO-) dan gugus sulfon (-SO2-)
c. gugus klorida (-Cl)dan gugus trifluorometil (-CF3)

Secara umum prinsip isosterisme ini digunakan untuk :


a.mengubah struktur senyawa sehingga didapatkan senyawa dengan
aktivitas biologis yang dikehendaki.
b. mengembangkan analog dengan efek biologis yang lebih selektif.
c. mengubah struktur senyawa sehingga bersifat antagonis terhadap normal
metabolit (antimetabolit).
Friedman (1951) memperkenalkan istilah bioisosterisme, yang kemudian
berkembang menjadi salah satu konsep dasar sebagai hipotesis. Idealnya,
bioisosterisme melibatkan pergantikan gugus fungsi dalam struktur molekul
yang spesifik aktif dengan gugus lain dan pergantian tersebut akan
menghasilkan senyawa baru dengan aktivitas biologis yang lebih baik.
Burger (1970) mengklasifikasikan bioisosterisme sebagai berikut :
1. Bioisosterisme klasik
2. Bioisosterisme non klasik
Hansch mengklasifikasikan bioisosterisme berdasarkan persamaan kualitatif
(aktivitas biologis) dan
kuantitatif melalui parameter sifat kimia fisika seperti , , dan Es sebagai
berikut :
1. isometrik bioisosterisme (bioisosterisme sebenarnya).
2. nonisometrik bioisosterik (bioisosterik parsial).

Pada modifikasi isosterisme tidak ada hukum yang secara umum


dapat memperkirakan apakah akan terjadi peningkatan atau
penurunan aktifitas biologis.Meskipun demikian isosterisme
masih layak dipertimbangkan sebagai dasar rancangan obat
dan modifikasi molekul dalam rangka menemukan obat baru.
contoh modifikasi isosterisme :

1. Pergantian gugus sulfida(-S-) pada sistem cincin fenotiazin dan


cincin tioxanten, dengan gugus
etilen (-CH2CH2-), menghasilkan sistem cincin
dihidrodibenzazepin dan dibenzosiklo-heptadien

berkhasiat berlawanan.
2. Turunan dialkiletilamin
R-X-CH2-CH2-N-(R')2
X= O, NH, CH2, S : senyawa antihistamin
X= COO, CONH, COS : senyawa pemblok adrenergik

ISOMER DAN AKTIVITAS BIOLOGIS


OBAT
Sebagian besar obat yang termasuk golongan
farmakologis sama, pada umumnya mempunyai
gambaran struktur tertentu. Gambaran struktur
ini disebabkan oleh orientasi gugus-gugus
fungsional dalam ruang dan pola yang sama.
Dari gambaran sterik dikenal beberapa macam
struktur isometri, antara lain adalah isomer
geometri, isomer konformasi, diastereoisomer,
dan isomer optik. Bentuk-bentuk isomer tersebut
dapat mempengaruhi aktivitas biologis obat.

Isomer Geometrik dan Aktivitas Biologis


Isomer geometri atau isomer cis-trans adalah
isomer yang disebabkan adanya atom-atom
atau gugus-gugus yang terikat secara langsung
pada suatu ikatan rangkap atau dalam suatu
sistem alisiklik tersebut membatasi gerakan
atom dalam mencapai kedudukan yang stabil
sehingga terbentuk isomer cis-trans.
1.

ISOMER GEOMETRIK

CIS (SERASI)

A
C C

TRANS (TDK SERASI)

C
C C

A
X

A'
B'

A'

A'

C'
RESEPTOR

B'

A'

X
C'

RESEPTOR

2. Isomer Konformasi dan Aktivitas Biologis


Isomer konformasi adalah isomer yang terjadi karena ada
perbedaan pengaturan ruang dari atom-atom atau gugusgugus dalam struktur molekul obat. Isomer konformasi
lebih stabil pada struktur senyawa non aromatik.
3. Diastereoisomer dan Aktifitas Biologis
Diastereoisomer adalah isomer yang disebabkan oleh
senyawa yang mempunyai dua atau lebih pusat atom
asimetrik, mempunyai gugus fungsional sama dan
memberikan tipe reaksi yang sama pula. Kedudukan
gugus-gugus substitusi terletak pada ruang yang relatif
berbeda sehingga diastereoisomer mempunyai sifat fisik,
kecepatan reaksi dan sifat biologis yang berbeda pula.
Perbedaan sifat-sifat di atas berpengaruh terhadap distribusi,
metabolisme, dan interaksi isomer dengan reseptor.

4. Isomer Optik dan Aktivitas Biologis


Isomer optik (Enantiomorph, Optical antipode) adalah
isomer yang disebabkan oleh senyawa yang mempunyai
atom C asimetrik. Isomer optik mempunyai sifat kimia
fisika sama dan hanya berbeda pada kemampuan dalam
memutar bidang cahaya terpolaritas atau berbeda rotasi
optiknya. Masing-masing isomer hanya dapat memutar
bidang cahaya terpolarisasi ke kiri atau ke kanan saja
dengan sudut pemutaran sama.
Isomer optik kadang-kadang mempunyai aktivitas
biologis yang berbeda karena ada perbedaan dalam
interaksi isomer-isomer dengan reseptor biologis.

JARAK ANTAR ATOM DAN AKTIVITAS BIOLOGIS


Hubungan antara struktur kimia dengan aktivitas
biologis sering ditunjang oleh konsep kelenturan reseptor.
Pada beberapa tipe kerja biologis, jarak antar gugusgugus fungsional molekul dapat berpengaruh terhadap
aktivitas biologis obat. Hal ini dapat diperkirakan dari
"jarak identitas" atau jarak antar ikatan-ikatan peptida
struktur protein yang memanjang.
Contoh :
1. Obat parasimpatomimetik
2. Obat kurare( utk mengendurkan otot rangka)
3. Hormon estrogen non steroid

TERIMA KASEH