Anda di halaman 1dari 72

KELOMPOK 2

FARMASI ILMU PENYAKIT


DALAM
1.

Emmeninta Florensia Surbakti

1161050026

2.

Cristal Audrey

3.

Suci Nurika Haviza

4.

Tamba Grace Hotria

1161050053

5.

Siska Amelia Salamor

1161050187

6.

Muhammad Arethusa Ananta

7.

Albertus Layo

8.

Caecillia Linda

9.

Dwi Wahyu Apriani

10.

Amelia

11.

Siska Tamara Gading

1261050208

12.

Rashellya Rasyida Rahma

1261050293

1161050027
1161050052

1161050073

1161050140
1261050097
1261050119
1261050170

Identitas pasien

Nama
: Ny.M
Usia
: 61 tahun
Tanggal lahir
: 5/11/1955
Jenis kelamin
: Perempuan

Terapi yang diberikan


1.
2.
3.
4.
5.
6.

RANITIDINE
DOMPERIDONE
SUCRALFAT
FLUCANAZOLE
CEFIXIME
CEFTIZOXIME

TUJUAN TERAPI

Ranitidine
Tujuan terapi :
Menangani gejala dan penyakit akibat
kelebihan produksi asam lambung

Domperidon

Meredakan rasa mual, muntah,


gangguan perut serta refluks asam
lambung

Sucralfat

Menangani tukak duodenum dari asam


lambung dengan cara membentuk
lapisan pelindung pada dinding
duodenum

Fluconazole

Mengatasi berbagai jenis infeksi yang


disebabkan oleh jamur candida

Cefixime

Mengobati infeksi yang disebabkan oleh


bakteri dengan cara mengganggu
pembentukan dinding sel bakteri

Ceftizoxime

Mengobati infeksi bakteri seperti


pneumonia, sepsis, meningitis, infeksi
kulit & gonore

FARMAKODINAMIK

RANITIDIN

Ranitidin menghambat reseptor H2 secara selektif dan


reversibel.
Perangsangan reseptor H2 akan merangsang sekresi
asam lambung pemberian ranitidin sekresi asam
lambung dihambat.
Ranitidin juga mengganggu volume dan kadar pepsin
cairan lambung.

DOMPERIDONE

Domperidone memperlambat kontraksi antroduodenal, mempercepat pengosongan lambung


dan meningkatkan tekanan springter esophagus
bagian bawah.
Domperidone tidak memberikan efek pada sekresi
lambung.

SUCRALFAT

Sukralfat adalah suatu kompleks yang dibentuk dari sukrosa


oktasulfat dan polialumunium hidroksida.

Aktifitas sukralfat sebagai anti ulkus merupakan hasil dari


pembentukan komplek sukralfat dengan protein yang membentuk
lapisan pelindung menutupi ulkus serta melindungi dari serangan
asam lambung, pepsin dan garam empedu.

Sukralfat mempercepat penyembuhan dengan melekat pada


permukaan tukak.

Awitan kerja timbul dalam waktu 30 menit, dan lama kerjanya


pendek.
Sukralfat menurunkan absorpsi tetrasiklin, fenitoin, vitamin yang
larut dalam lemak, dan agen antibakteri siprofloksasin dan
norfloksasin. Antasid mengurangi efek sukralfat.

FLUCONAZOLE

Flukonazol merupakan inhibitor cytochrome P-450


sterol
C-14
alpha-demethylation
(biosintesis
ergosterol) jamur yang sangat selektif.
Pengurangan ergosterol, yang merupakan sterol utama
yang terdapat di dalam membran sel-sel jamur, dan
akumulasi sterol-sterol yang mengalami metilase
menyebabkan terjadinya perubahan sejumlah fungsi sel
yang berhubungan dengan membran (gangguan pada
membran sel jamur).
Secara in vitro flukonazol memperlihatkan aktivitas
fungistatik terhadap Cryptococcus neoformans dan
Candida spp.

CEFIXIME

Cefixime adalah antibiotik sefalosporin semisintetik untuk


pemberian oral dan memiliki spektrum aktivitas luas menghambat
mikroorganisme Gram positif & Gram negatif dan sangat stabil
terhadap organisme penghasil enzim -laktamase.

Daya kerjanya bersifat bakterisidal melalui penghambatan


sintesis dinding sel.

Menghambat sintesis dinding sel bakteri dengan berikatan dengan


satu atau lebih ikatan protein - penisilin (penicillin-binding
proteins-PBPs) yang selanjutnya akan menghambat tahap
transpeptidasi sintesis peptidoglikan dinding sel bakteri
menghambat biosintesis dinding sel Bakteri akan mengalami
lisis karena aktivitas enzim autolitik (autolisin dan murein
hidrolase) saat dinding sel bakteri terhambat.

CEFTIZOXIME

Ceftizoxime membunuh bakteri dengan cara menganggu


sintesis dinding sel bakteri.
Ceftizoxime berikatan dengan penicillin-binding protein
pada dinding sel bakteri dengan afinitas yang tinggi
mengganggu sintesis peptidoglikan.
Peptidoglikan merupakan struktur heteropolimerik yang
memberikan stabilitas mekanik pada dinding sel.
Tahap akhir sintetis peptidoglikan meliputi penyelesaian
cross-linking dan dihubungkannya residu glisin ujung dari
jembatan pentaglisin dengan residu keempat pentapeptida
(D-alanin).
Enzim transpeptidase yang berperan pada tahap ini dihambat
oleh sefalosporin dan penisilin.

FARMAKOKINETIK

Farmakokinetik Ranitidin

Absorbsi :
bioavabilitas ranitidin yang diberikan secara
oral sekitar 50% dan meningkat pada pasien
penyakit hati.
Masa paruhnya kira-kira 1,7-3 jam (meningkat
pada pasien penyakit hati dan gagal ginjal).
Kadar puncak di plasma dicapai dalam 1-3
jam setelah penggunaan.

Distribusi :
o

15% yang terikat protein plasma.

Farmakokinetik Ranitidin

Metabolisme :
Metabolisme ranitidin lintas pertama terjadi
di hati.

Ekskresi :
o

Ranitidin diekskresi sebagian besar di


ginjal dan sisanya melalui tinja.

Farmakokinetik
Donperidone

Absorbsi :
o
o

Per oral bioavailabilitas 13-17%.


Domperidon tablet diberikan 90 menit
sebelum makan konsentrasi puncak dicapai
dalam waktu 30-110 menit.
Waktu untukmencapai konsentrasi puncak
lebih lama jika obat diminum sesudah makan.

Distribusi :
o

91-93% terikat pada protein plasma. Volume


distribusi : 5,71 L/kg

Farmakokinetik
Donperidone

Metabolisme :
Terutama di hati (metabolisme lintas
pertama)

Ekskresi :
o

Sekitar 30% dari dosis oral diekskresi


lewaturine dalam waktu 24 jam. Hampir
seluruhnya diekskresi sebagai metabolit.
Sisanya diekskresi dalam feses dalam
beberapa hari, sekitar 10% sebagai
bentukyang tidak berubah

Farmakokinetik Sucralfat

Absorbsi :
o

Setelah pemberian oral, sukralfat diabsorpsi


dalam jumlah kecil dari saluran cerna.
Bioavabilitas komponen disakarida 5%,
aluminium < 0.02%.

Distribusi :
Metabolisme :
Ekskresi :
o

diekskresi dalam bentuk tidak berubah melalui


urin dalam waktu 48 jam

Farmakokinetik Fluconazole

Absorbsi :
Obat ini diserap sempurna melalui saluran cerna tanpa
dipengaruhi adanya makanan ataupun keasaman
lambung.

Distribusi :
o

Metabolisme :
o

Sekitar 15% terikat pada protein plasma


Tidak dapat dimetabolisme secara ekstensif dalam
tubuh

Ekskresi :
o

Lebih dari 90% dari dosis yang diberikan tereliminasi


ke dalam urine (80% dalam bentuk obat-obatan asli)

Farmakokinetik Cefixime

Absorbsi :
Absorbsi terjadi di saluran cerna
Cefixime mudah rusak pada suasana asam (pH=
2)
Waktu paruh 1 jam

o
o

Distribusi :

o
o

50% obat ini terikat pada protein plasma


Penetrasi ke dalam sputum, tonsil, jaringan
maxillary sinus mucosal, otorrhea, cairan
empedu dan jaringan kandung empedu adalah
baik.

Farmakokinetik Cefixime

Metabolisme :
o

Tidak ditemukan adanya metabolit yang


aktif sebagai antibakteri di dalam serum
atau urin.

Ekskresi :
o

Cefixime terutama diekskresikanmelalui


ginjal.

INTERAKSI OBAT

Ranitidine

Konsumsi bersama makanan atau antasida


dengan ranitidin dapat menyebabkan
penurunan absorpsi ranitidin hingga 33% dan
konsentrasi puncak dalam serum menurun
hingga 613-432 ng/mL.
Propantelin bromida menghambat penyerapan
dan meningkatkan konsentrasi puncak serum
ranitidin, melalui mekanisme penghambatan
pengosongan lambung dan perpanjangan waktu
transit. Bioavalabilitas ranitidin meningkat 23%
jika digunakan bersama propantelin bromida.

Ranitidin berinteraksi dengan sistem enzim


sitokrom P450 dihati. Ranitidin hanya sedikit
menghambat metabolisme hepatik beberapa
obat seperti kumarin, antikoagulan, teofilin,
diazepam dan propranolol. Ranitidin
membentuk ligand-kompleks dengan enzim
sitokrom P450 sehingga menghambat
aktivitas enzim tersebut. Penggunaan
bersama ranitidin dan warfarin dapat
menurunkan atau meningkatkan waktu
protrombin (PT).

Penggunaan bersama alkohol dan


ranitidin menyebabkan peningkatan
konsentrasi alkohol serum.
Penggunaan ranitidin bersama nifedipin
dapat menyebabkan peningkatan AUC
nifedipin hingga 30%.

Domperidone

Domperidone mengurangi efek


hipoprolaktinemia dari bromokriptin.
Pemberian obat anti kolinergik muskarinik
dan analgetik opioid secara bersamaan
dapat mengantagonisir efek domperidone.
Pemberian antasida secara bersamaan dapat
menurunkan bioavailabilitas domperidone.
Efek bioavailabilitas dapat bertambah dari
13% menjadi 23% bila diminum 1 jam
setelah makan.

Sucralfate

Beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa


sucralfate mengurangi penyerapan obat-obat
seperti : cimetidine, lansoprazole, digoxin,
antibiotik fluorokuinolon (ciprofloxacin,
levofloxacin, ofloxacin dan lain-lain),
ketoconazole, l-tiroksin, fenitoin,
quinidine, ranitidine, tetrasiklin,
antikoagulan kumarin, sulpirid, dan
teofilin. Disarankan pemberian obat diberikan
jarak yang cukup jika kedua obat sama-sama
dibutuhkan. Minimal 2 jam.

Flukonazol sebagian besar diuraikan oleh ginjal.


Jadi obat ini tidak begitu berinteraksi dengan
obat yang diuraikan oleh hati, termasuk
sebagian besar ARV yang dipakai untuk
menyerang HIV. Namun, flukonazol berinteraksi
dengan indinavir, ritonavir, dan AZT. Flukonazol
juga berinteraksi dengan beberapa jenis obat
lain, termasuk beberapa obat pengencer darah,
obat antisawan (antikonvulsi), diuretik, obat
untuk menurunkan gula dalam darah, dan obat
antibiotik.

Fluconazole

Penggunaan bersamaan dengan obat-obat


seperti cisapride, astemizol, erythromycin,
pimozide, dan quinidine berpotensi
meningkatkan cardiotoxicity (interval QT
yang berkepanjangan,torsade de pointes)
dan kematian jantung mendadak
Penggunaan dengan antikoagulan warfarin
atau kumarin bisa meningkatkan
protrombin time sehingga meningkatkan
potensi terjadinya perdarahan

Cefixime

Obat-obat yang bersifat nefrotoksik dapat


meningkatkan toksisitas sefalosporin
terhadap ginjal.
Probenesid menghambat sekresi sefalosporin
sehingga memperpanjang dan meningkatkan
konsentrasi obat dalam tubuh.
Alkohol dapat mengakibatkan Disulfiram-like
reactions, jika diberikan 48 72 jam setelah
pemberian sefalosporin.

Ceftriaxone

Menigkatkan efek antikoagulan dari


derivat kumarin(Dikumarol dan Warfarin)
Agen urikosurik (Probenesid,
Sulfinpirazon) dapat menurunkan
ekskresi sefalosporin, monitor efek
toksik

INDIKASI OBAT

Ranitidine
Indikasi:
Pengobatan jangka pendek untuk tukak
usus 12 jari aktif, tukak lambung aktif,
refluks esofagitis, keadaan hipersekresi
patologis (sindrom Zolinger-Elisson)

Domperidone
Indikasi:
Dispepsia fungsional, mual akut dan
muntah-muntah

Sucralfat

Tukak duodenum,tukak lambung, Gastro


Esophageal Reflux Disease

Cefixime

Infeksi Saluran Kemih tanpa komplikasi


oleh E.coli dan proteus mirabilis, otitis
media, faringitis dan bronchitis akut

Fluconazole

Orofaringeal, Saluran Kemih, peritonitis,


pneumonia, syptococcal meningitis

Ceftriaxone

Infeksi Sluran Nafas, Infeksi Saluran


Kemih, Infeksi Tulang, sendi dan kulit,
infeksi intra abdominal, infeksi
gonnorhea, septik, infeksi
pembedahan,meningitis

KONTRAINDIKASI

KONTRAINDIKASI RANITIDIN

Ibu yang sePada beberapa kondisi berikut


ranitidin sebaiknya tidak diberikan, yakni:
Riwayat alergi terhadap ranitidin.
Wanita sedang menyusui.
Pemberian ranitidin juga perlu diawasi
pada kondisi gagal ginjal.

KONTRAINDIKASI
SUCRALFAT

Pada beberapa kondisi berikut sucralfat


sebaiknya tidak diberikan, yakni:
Pemberian ranitidin juga perlu diawasi
pada kondisi gagal ginjal.
Riwayat alergi terhadap sucralfat.
Anak
Ibu hamil dan menyusui

KONTRAINDIKASI
DOMPERIDONE

Pada beberapa kondisi berikut


domperidone sebaiknya tidak diberikan,
yakni:

Hipersensitivitas
Tumor hipofisis prolaktinoma
Anak
Perdarahan
Obstruksi mekanik atau perforasi GI

KONTRAINDIKASI
FLUCONAZOLE

Pada beberapa kondisi berikut


fluconazole sebaiknya tidak diberikan,
yakni:

Hipersensitivitas komponen azole


Gangguan fungsi hati dan ginjal
Ibu hamil dan menyusui
Anak <16 th

KONTRAINDIKASI CEFIXIME

Pada beberapa kondisi berikut cefixime


sebaiknya tidak diberikan, yakni:

Hipersensitivitas
Riwayat syok
Anak <6 bulan

KONTRAINDIKASI
CEFTRIAXONE

Pada beberapa kondisi berikut


ceftriaxone sebaiknya tidak diberikan,
yakni:

Hipersensitiv terhadap sefalosporin


Ikterus pada neonatus
Hipoalbuminemia
Asidosis
Ibu hamil dan menyusui

EFEK SAMPING OBAT

Efek samping obat


Ceftriaxone

Reaksi hipersensitivitas
Nefrotoksisitas
Leukopenia
Anemia hemolitik
Kejang (terutama pada pasien
gangguan fungsi ginjal

Efek samping obat


Ranitidine

Sakit kepala
Diare
Nyeri otot
Gg. Kardiovaskular (takikardia,
bradikardi, hipotensi)
Gg. Hematologi (diskrasia darah
termasuk agranulositosis, leukopenia,
pansitopenia, trombositopenia)

Efek samping obat


Domperidone

Peningkatan prolaktin serum


galatorrhea
Mulut kering
Sakit kepala
Diare
Rash kulit
Rasa haus
Cemas

Efek samping obat Sucralfat

Efek samping yang paling umum adalah


sembelit. Efek samping lain pada saluran
pencernaan yang bisa terjadi
diantaranya diare, mual, gangguan
pencernaan, dan gangguan lambung .
Pasien dengan disfungsi ginjal memiliki
resiko mengalami efek samping yang
lebih serius seperti hypophosphatemia
dan keracunan aluminium.

Efek samping obat Cefixime

Reaksi hipersensitivitas
Sakit kepala
Gangguan pencernaan (mual, muntah, dan
diare)
Kelainan hematologi anemia aplastik dan
anemia hemolitik
Peningkatan hasil tes fungsi hati seperti
hepatitis dan kenaikan sementara SGPT,
SGOT, dan alkali fosfatase. Dikaitkan dengan
terjadinya disfungsi hati termasuk kolestasis

Efek samping obat


Fluconazole

Ruam
Sakit kepala
Gg. Saluran cerna (mual, muntah sakit
perut, diare)
Peningkatan kinerja enzim hati

MEKANISME KERJA

Ranitidin

Ranitidin HCl merupakan antagonis


kompetitif histamin yang khas pada
reseptor H2
Reseptor H2 akan merangsang sekresi
cairan lambung sehingga pada
pemberian ranitidine secara efektif
dapat menghambat sekresi asam
lambung, menekan kadar asam dan
volume sekresi lambung

Domperidone

Efek antiemetik dapat disebabkan oleh


kombinasi efek periferal
(gastroprokinetik) dengan antagonis
terhadap reseptor dopamin di
kemoreseptor trigger zone
Domperidone memblokade reseptor
dopamine sehingga adanya perintangan
neurotransmisi dari CTZ (Chemoreceptor
Trigger Zone) kepusat muntah yang
terdapat di medulla oblongata

Sukralfat

Bekerja pada lingkungan asam, bereaksi dengan asam


klorida dalam lambung membentuk kompleks kental
seperti lem sebagai penyangga asam selama 6 sampai 8
jam
Merangsang produksi bikarbonat dan bertindak seperti
buffer asam dengan sifat sitoprotektif
Menempel pada protein di permukaan ulkus, seperti
albumin dan fibrinogen membentuk kompleks larut
stabil
Kompleks tsb penghalang dan pelindung permukaan
ulkus, mencegah kerusakan lebih lanjut yang disebabkan
karena asam, pepsin, dan empedu

Fluconazole

Menghambat enzim cytochrome P450


merintanqi sintesa ergosterol
Merupakan inhibitor cytochrome P-450
sterol C-14 alpha-demethylation
(biosintesis ergosterol) jamur yang
sangat selektif
Pengurangan ergosterol perubahan
sejumlah fungsi sel yang berhubungan
dengan membran

Cefixime

Bersifat bakterisid dan mempunyai spektrum


luas terhadap bakteri gram positif dan gram
negatif
Merupakan antibiotik beta laktam, termasuk
bakteriocidal yang bekerja dengan cara
menghambat sintesis lapisan peptidoglikan
dinding sel bakteri
Cefixime memiliki afinitas tinggi terhadap
penicillin-binding-protein (PBP) 1 (1a, 1b, dan
1c) dan 3, dengan tempat aktivitas yang
bervariasi tergantung jenis organismenya

Ceftizoxime

Ceftizoxime berikatan dengan penicillinbinding protein pada dinding sel bakteri


dengan afinitas yang tinggi
mengganggu sintesis peptidoglikan
Peptidoglikan struktur heteropolimerik
yang memberikan stabilitas mekanik pada
dinding sel.
Sefalosporin dan penisilin menghambat
enzim transpeptidase yang berperan pada
tahap akhir sintetis peptidoglikan.

DOSIS

Ranitidine

Bantuan gejala jangka pendek dispepsia


75 mg, sampai 4 dosis / hari jika
diperlukan. Max: 2 minggu penggunaan
terus menerus pada satu waktu

Sucralfat

1 g 4 kali / hari untuk 4-8 minggu,


sampai 12 minggu jika diperlukan.
Pemeliharaan: 1 g dua kali sehari untuk
mencegah terulangnya ulkus duodenum.
Max: 8 g / hari. Profilaksis perdarahan GI
dari stres ulkus 1 g 6 kali / hari. Sampai
dengan 8 g / hari.

Domperidone

Dewasa: Mual dan muntah 10-20 mg 3-4


kali sehari. Max: 80 mg / hari. gangguan
motilitas GI 10 mg 3-4 kali sehari. Max:
20 mg 3-4 kali sehari. dosis terakhir yang
akan diambil pada waktu tidur.

Ceftriaxone

Dewasa: Infeksi Rentan 1 g sekali sehari,


meningkat menjadi 2-4 g / hari sebagai
dosis tunggal pada infeksi berat.
Profilaksis infeksi bedah 1 g sebagai
dosis tunggal 0,5-2 jam pre-op.

Fluconazole

Dewasa: Superficial mukosa kandidiasis 50 mg - 100 mg / hari. Durasi


pengobatan: 7-30 hari tergantung pada kondisi.
Balanitis candida; Vag kandidiasis 150 mg sebagai dosis tunggal.
Kandidiasis kulit; dermatofitosis; Pityriasis versicolor 50 mg sekali sehari
selama 6 minggu.
Infeksi kriptokokus; Sistemik kandidiasis awal: 400 mg, kemudian 200400 mg sekali sehari.
Pencegahan kambuh setelah pengobatan pertama untuk meningitis
kriptokokus akut pada pasien AIDS 100-200 mg / hari. Profilaksis infeksi
jamur pada pasien immunocompromised 50-400 mg / hari.
Infeksi IV kriptokokus; Sistemik kandidiasis awal: 400 mg, kemudian 200400 mg sekali sehari. Pencegahan kambuh setelah pengobatan utama
untuk meningitis kriptokokus akut pada pasien AIDS 100-200 mg / hari.
Profilaksis infeksi jamur pada pasien immunocompromised 50-400 mg /
hari.

TERIMAKASIH