Anda di halaman 1dari 46

Laporan Kasus

INVERTED PAPILLOMA
Oleh:
Romi Mauliza Fauzi, S.Ked
Pembimbing:
dr. Indra Zachreini, Sp.THT-KL

IDENTITAS PENDERITA

Nama : Ny. AP
Umur : 61 th
Jenis kelamin : Perempuan
Suku : Aceh
Agama : Islam
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Alamat : Ds. Cot Girek, Kec. Muara
Dua, Kota Lhokseumawe
Tanggal Pemeriksaan : 15 April 2014
No. MR : 35 72 16

ANAMNESIS
Keluhan Utama : Benjolan pada hidung kiri sejak
3 bulan yang lalu
Keluhan Tambahan : Hidung kiri tersumbat
Riwayat Penyakit Sekarang :
Pasien merasakan keluhan terdapat benjolan
pada hidung kanan yang dirasakan sudah sejak
3 bulan yang lalu. Benjolan awalnya kecil dan
kelamaan semakin membesar serta menyumbat
hidung pasien. Keluhan dirasakan terus
menerus dan makin lama makin memberat.

Hidung tersumbat dirasakan hanya sebelah kiri


yang tidak dipengaruhi oleh perubahan cuaca
atau debu. Benjolan tersebut tidak dirasakan
nyeri maupun gatal. Penciuman pasien
dirasakan sedikit berkurang. Keluarga pasien
menyangkal bersin-bersin, hidung berdarah,
hidung meler maupun mencium bau-bauan
yang busuk. Tidak ada keluhan rasa menelan
ingus. Nyeri pada daerah muka tidak dirasakan.
Pasien menyangkal terdapat keluhan pada
telinga berupa pendengaran berkurang,
mendengar bunyi-bunyian, sakit pada telinga
maupun keluar cairan pada telinga.

Riwayat Penyakit Dahulu :


Pasien pernah mengalami keluhan yang sama
pada hidung kirinya dan telah dilakukan
operasi pada tahun 2008 di RSU Zainoel
Abidin Banda Aceh .
Pasien memiliki riwayat darah tinggi
Pasien menyangkal memiliki riwayat kencing
manis
Pasien menyangkal memiliki benjolan di
tempat lain.
Riwayat Penyakit Keluarga :
Tidak ada keluarga yang mengalami hal serupa.

STATUS GENERALIS

Keadaan umum: Baik


Keadaan Penyakit: Baik
Kesadaran : Compos mentis
Tekanan darah : 150/90 mmHg

STATUS LOKALIS
1.AURIKULA
1)PINNA
Kanan
Kiri
) Kelainan Kongenital : Tidak dijumpai
Tidak dijumpai
) Othematoma
: Tidak dijumpai
Tidak
dijumpai
) Perikondritis
: Tidak dijumpai
Tidak
dijumpai
) Fistel Retroaurukular : Tidak dijumpai
Tidak dijumpai
) Lain-lain
: Tidak dijumpai
Tidak
dijumpai

KANALIS AURIKULARIS
Kanan
Kiri
Hiperemis
: Tidak dijumpai Tidak dijumpai
Edema
: Tidak dijumpai Tidak dijumpai
Furunkel
: Tidak dijumpai Tidak dijumpai
Tragus Sign
: Tidak dijumpai Tidak dijumpai
Serumen
:
Tenang
Tenang
Sekret
: Tidak dijumpai Tidak dijumpai
Corpus Alienum : Tidak dijumpai Tidak
dijumpai
Lain-lain
: Tidak dijumpai Tidak dijumpai

MEMBRAN TIMPANI
Kanan
Kiri
Bentuk :
Intak
Intak
Warna :
Putih
Putih
Reflek Cahaya :
Ada
Ada
Bulging : Tidak dijumpai Tidak dijumpai
Retraksi : Tidak dijumpai Tidak dijumpai
Ruptur : Tidak dijumpai Tidak dijumpai
Perforasi : Tidak dijumpai Tidak dijumpai

2) NASAL
)NASAL EKSTERNUS
)Deformitas: Tidak dijumpai
)Fraktur
: Tidak dijumpai
)Tumor : Tidak dijumpai

KAVUM NASI
Rhinoskopi Anterior
Kanan Kiri
Mukosa :
Livide
Merah pudar
dan lembab
Krusta : Tidak ada
Tidak ada
Sekret : Tidak ada
Tidak ada
Massa :
Tidak dijumpai
Dijumpai
Konka Inferior :
Hipertrofi (-)
Hipertrofi (-)
Septum : Deviasi (-)
Deviasi (-)
Pasase Udara : Normal
Normal
Lain-lain :
Tidak dijumpai
Tidak dijumpai

Rhinoskopi Posterior
Mukosa Nasofaring : Normal
Massa
: Tidak Dijumpai
Post Nasal Drip : Tidak Dijumpai
Lain-lain
: Tidak Dijumpai

3)CAVUM ORIS
1.Bibir : Normal
2.Lidah : Normal
3.Gigi : Normal
4.Orofaring : Normal
Tonsil Palatina
Kanan Kiri
. Besar Tonsil :
T1 T1
. Kripta :
Tidak Dijumpai
Tidak Dijumpai
. Detritus :
Tidak Dijumpai
Tidak Dijumpai
. Perlengketan :
Tidak Dijumpai
Tidak
Dijumpai
. Lain-lain :
Tidak Dijumpai
Tidak Dijumpai

Faring
Mukosa : Hiperemis (-)
Granul: Tidak Dijumpai
Bulging : Tidak Dijumpai
Reflek Muntah : Positif
5. Palatum : Normal
6. Uvula : Normal
7. Laring : Normal
Laringoskopi Indirect
. Epiglotis : Normal
. Valekula : Normal

4)MAKSILOFASIAL
) Simetris
: Simetris
) Massa
: Tidak Dijumpai
) Parese N. Cranialis : Tidak
Dijumpai
) Hematoma
: Tidak Dijumpai

5)COLLI
1.Pembesaran KGB
.Upper Juguler : Tidak Dijumpai
.Mid Juguler : Tidak Dijumpai
.Lower Juguler : Tidak Dijumpai
.Submental : Tidak Dijumpai
.Submandibular : Tidak Dijumpai
.Colli Anterior : Tidak Dijumpai
.Supra Clavikula : Tidak Dijumpai
2.Kaku Kuduk : Tidak Dijumpai
3.Retraksi Suprasternal : Tidak Dijumpai
4.Kelainan Lain: Tidak Dijumpai

RESUME
Ny. AP, 61 tahun datangdengan keluhan
terdapat benjolan pada hidung kiri yang
dirasakan sudah sejak 3 bulan yang lalu.
Benjolan awalnya kecil dan kelamaan semakin
membesar serta menyumbat hidung pasien.
Keluhan dirasakan terus menerus dan makin
lama makin memberat. Hidung tersumbat
dirasakan hanya sebelah kanan yang tidak
dipengaruhi oleh perubahan cuaca atau debu.
Benjolan tersebut tidak dirasakan nyeri maupun
gatal. Penciuman pasien dirasakan sedikit
berkurang.

Keluarga pasien menyangkal bersin-bersin,


hidung berdarah, hidung meler maupun
mencium bau-bauan yang busuk. Tidak ada
keluhan rasa menelan ingus. Nyeri pada
daerah muka tidak dirasakan. Pasien
menyangkal terdapat keluhan pada telinga
berupa pendengaran berkurang, mendengar
bunyi-bunyian, sakit pada telinga maupun
keluar cairan pada telinga. Sebelumnya,
pasien pernah mengalami keluhan yang sama
pada hidung kirinya dan telah dilakukan
operasi pada tahun 2008 di RSU Zainoel
Abidin Banda Aceh.

Pemeriksaan Fisik:
Status Generalis : Dalam Batas
Normal
Status Lokalis
1. Aurikula
. Pinna
: Dalam Batas Normal
. Kanalis Aurikularis : Dalam Batas
Normal
. Membran Timpani : Dalam Batas
Normal

2. Nasal
. Nasal Eksternus : Dalam Batas Normal
. Cavum Nasi : Pada cavum nasi sinistra
ditemukan massa lunak,
bergranul, permukaan
tidak rata, berwarna
kuning pucat, hampir
menutupi seluruh kavum
nasi sinistra
3. Cavum Oris : Dalam Batas Normal
4. Maksilofasial : Dalam Batas Normal
5. Colli : Tidak teraba pembesaran KGB

PEMERIKSAAN
PENUNJANG
Biopsi
Pemeriksaan Histopatologi
Pemeriksaan CT Scan

DIAGNOSIS BANDING

Polip nasi
Papilloma skuamosa
Angiofibroma
Keganasan

DIAGNOSIS KERJA
Inverted Papilloma Cavum Nasi Sinistra

PENATALAKSANAAN
1. Medikamentosa
.Amoxicillin 3 x 500 mg
.Asam mefenamat 3 x 500 mg
.CTM 3 x 2 mg
.Vitamin C
2. Operatif

PROGNOSIS
Ad vitam
: ad bonam
Ad functionam : ad bonam
Ad sanationam : ad bonam

ANALISIS KASUS
Papiloma inverted merupakan tumor jinak yang
sering ditemukan pada usia tua terutama pada
dekade kelima dan ketujuh. Insidensi ini sesuai
dengan umur pada kasus ini dimana pasiennya
seorang perempuan berumur 61 tahun.
Keluhan yang disebabkan oleh adanya massa
tumor pada hidung adalah sumbatan hidung
yang biasanya unilateral. Sesuai dengan pasien
ini, gejala yang ditemukan hanya sumbatan
hidung kiri sejak 3 bulan yang lalu, yang
dirasakan makin lama makin memberat.

Pada banyak kasus (64-78%) bisa ditemukan


hanya sumbatan hidung saja, bahkan ada yang
tanpa gejala. Sedangkan gejala-gejala yang lain
seperti riwayat bersin-bersin, hidung terasa
berbau, keluhan ingus rasa tertelan, telinga
berdenging, penglihatan ganda tidak
ditemukan.
Pada pemeriksaan rhinoskopi anterior terlihat
massa yang menyerupai polip pada kavum nasi
sinistra. Permukaannya yang tidak rata dan
mudah berdarah, secara makroskopik dapat
dibedakan dengan polip hidung. Asal dari tumor
belum bisa diidentifikasi karena hampir
menutupi seluruh kavum nasi.

Untuk mendapatkan diagnosis secara pasti


dilakukan biopsi. Biopsi dapat dilakukan dengan 2
cara yaitu biopsi lokal yang dilanjutkan dengan
reseksi komplit setelah didapatkan diagnosis
patologinya atau langsung melakukan reseksi
komplit dengan anestesi umum dan massa
tumornya dibawa ke laboratorium untuk
pemeriksaan histologis.
Pada pasien ini tidak dilakukan biopsi terlebih
dahulu, tetapi langsung dilakukan reseksi komplit
dengan anastesi umum dan massa tumornya
dibawa ke laboratorium untuk pemeriksaan
histologis. Berdasarkan keterangan pasien, hasil
pemeriksaan histopatologi tidak menunjukkan
kegasanasan.

Pemeriksaan CT Scan dilakukan untuk


mendapatkan pemetaan agar tumor dapat
direseksi secara komplit. Pada pasien ini
belum dilakukan pemeriksaan CT Scan.
Menurut Siller dan Lee ada kemungkinan
hubungan gambaran koinsiden fokal
hyperostosis pada CT Scan dengan asal
papiloma inverted.
Lee mendapatkan pada tahun 2006
bahwa asal papiloma inverted yang
terbanyak adalah dari dinding lateral
hidung, sinus maksila dan etmoid anterior.

Berdasarkan keterangan pasien, sebelumnya


pasien tersebut sudah pernah dioperasi dan
pada saat operasi pasien ini dilakukan
ekstirpasi dan eksplorasi saja. Komplikasi
yang timbul saat operasi bervariasi seperti
perdarahan, liquor serebrospinal leakage,
orbital hematom dan lain-lain.
Berdasarkan keterangan pasien, pada kasus
ini tidak ada komplikasi yang ditemukan. Dan
pasca operasi pasien tidak mengeluhkan apaapa. Stankiewicz dan Busquet melaporkan
bahwa pendekatan endoskopik pada papiloma
inverted memang lebih aman dan efektif.

Evaluasi pasca operasi menunjukkan tidak


tampak adanya pertumbuhan massa tumor,
krusta minimal. Follow up pasca operasi
sangat diperlukan. Selain untuk mengatasi
komplikasi yang timbul juga dapat
mengetahui rekurensi secara cepat
sehingga bisa langsung direseksi.
Busquets dan Hwang menyatakan bahwa
mayoritas kekambuhan terjadi pada 2 tahun
pertama dan evaluasi dengan endoskopi
dapat membantu dalam mendeteksi
kambuhnya papiloma inverted secara lebih
cepat.

TINJAUAN PUSTAKA

DEFINISI
Invertedpapiloma di hidung dan sinus
paranasal dikenal sebagai tumor jinak, tetapi
terdapat hiperplasi epitel yang tumbuh dan
masuk ke dalam jaringan stroma di bawahnya
untuk kemudian membentuk kripte, dengan
membrana basalis yang tetap utuh.
Ciri khas dari Inverted papiloma yaitu
mempunyai kemampuan untuk merusak
jaringan sekitarnya, cenderung kambuh lagi
dan dapat bila ganas menjadi karsinoma
epidermoid.

EPIDEMIOLOGI
Papiloma inverted jarang ditemukan,
diperkirakan timbul hanya sekitar 10% didaerah
sinonasal. Variasi usia penderita antara 35-60
tahun.
Rasio laki-laki dan perempuan adalah 2:1 sampai
3:1. Sedangkan rasio antara timbulnya papiloma
tipe inverted, everted dan silindrik adalah 3:5:1.
Literatur yang berkesinambungan yang
dilakukan oleh Bielamowicz dkk menjelaskan
bahwa angka rata-rata penderita berumur 53
tahun dengan rasio umur 6 sampai 91 tahun.

ETIOLOGI
Penyebab pasti papiloma inverted belum
diketahui. Beberapa teori telah diajukan,
meliputi alergi, inflamasi kronik dan
karsinogen berhubungan dengan pajanan
serta infeksi virus papiloma.
Beberapa virus telah lama dicurigai
sebagai penyebab lesi-lesi neoplastik ini,
HPV 11, HPV 6, HPV 16, dan HPV 18 telah
dapat diidentifikasi pada papiloma
inverted.

DIAGNOSIS DAN
EVALUASI
Gejala yang paling sering adalah sumbatan
hidung unilateral (64-78%), diikuti oleh sakit
kepala, epistaksis, nyeri wajah, bengkak
periorbita, rinore purulent, sinusitis kronik, alergi,
hiposmia, gangguan penglihatan dan meningitis.
Beberapa pasien dapat tanpa gejala. Gejalagejala ini menyulitkan para klinisi untuk
membedakannya dengan proses inflamasi.
Pemeriksaan endoskopik dan CT Scan hidung dan
sinus paranasal merupakan gold standar untuk
evaluasi papiloma inverted.

Pada pemeriksaan fisik biasanya ditemukan


massa polipoid unilateral yang mengisi
kavum nasi dan menyebabkan obstruksi.
Secara makroskopis papiloma inverted
terlihat ireguler dan rapuh, jika disentuh
mudah berdarah. Warna papiloma merah
keabu-abuan dan mengisi kavum nasi,
meluas ke vestibulum juga ke nasofaring.
Septum sering terdesak kearah sisi
kontralateral. Proptosis dan pembengkakan
muka kadang timbul sekunder akibat
ekspansi lesi tumor.

HISTOPATOLOGI
Papiloma terbagi atas 3 subtipe histologi,
yaitu : tipe inverted, tipe fungiform
(everted) dan tipe silindrikal.
Secara histologis gambaran tumor adalah
inversi dari epitelial dari epitel neoplastik
kedalam stroma dibawahnya, melebihi
proliferasinya kearah luar. Epitel neoplastik
dapat berupa tipe respirator, transisional
dan skuamosa dengan maturasi dan mitosis
minimal dan adanya atipia secara umum.

RADIOLOGI
Tomografi komputer potongan aksial dan
koronal merupakan pilihan untuk lesi intranasal.
Dengan mengevaluasi karakteristik fokal
hiperostosis pada CT Scan pasien papiloma
inverted memungkinkan untuk mendeteksi
perkiraan asal tumor.
Gambaran pencitraan yang khas untuk
papiloma inverted berdasarkan tempat asal
tumor, perubahan struktur dinding lateral
hidung dan terutama bentuk permukaan yang
berlobus dan pada MRI berbentuk pola bergaris.

PENATALAKSANAAN
Medikmentosa
Radioterapi
Terapi Pembedahan

Terapi pembedahan
Pendekatan endonasal nonendoskopik
Pendekatan eksternal terbatas (contohnya
Caldwell Luc)
Pendekatan eksternal radikal (contohnya
maksilektomi medial via rinotomi lateral
atau pendekatan midfasial degloving)
pendekatan endoskopik endonasal.

Radioterapi
Radioterapi masih dapat digunakan
pada pengobatan lanjutan dan
adanya agresifitas biologikal
papiloma inverted pada traktus
sinonasal atau pada pasien pasca
operasi radikal dengan tingkat
morbiditas yang berat.
Tetapi terapi ini umumnya tidak
diindikasikan untuk pengobatan pada
lesi papiloma yang jinak.

KOMPLIKASI
Komplikasi setelah pembedahan dengan
pendekatan eksternal meliputi :
1. Perdarahan pasca operasi
2. Edema periorbita
3. Epifora
4. Diplopia
5. Infeksi
6. Bocornya liquor cerebrospinalis (LCS)
segera setelah operasi

Komplikasi Pendekatan
Endoskopik
Komplikasi Mayor
Komplikasi Minor

TERIMA KASIH