Anda di halaman 1dari 47

SIROSIS HEPATIS

Nama : Natalia
NIM : 406148134
Pembimbing
dr. Erik Rohmando Purba Sp.PD

ANATOMI HEPAR

vaskularisasi

Anatomi

FISIOLOGI HEPAR
Fungsi vaskular menyimpan dan
menyaring darah
Fungsi metabolik karbohidrat, protein,
lemak, vitamin
Fungsi ekskretorik bilirubin, kolesterol,
asam empedu.
Fungsi sintesis faktor pembekuan,
heparin, estrogen, angiotensin, plasma
protein, protein untuk sistem imun

Definisi
Perubahan arsitektur jaringan hati
yang ditandai dengan regenerasi
nodular yang bersifat difus dan
dikelilingi oleh septa-septa fibrosis
yang dapat mengakibatkan
peningkatan aliran darah portal,
disfungsi sintesis hepatosit, serta
meningkatkan risiko karsinoma
hepatoseluler.

EPIDEMIOLOGI
Penyakit kematian ke-14 tersering pada
orang dewasa di dunia, dengan angka
kematian 1,04 juta jiwa pertahun
Sirosis menjadi indikasi utama untuk
500 kasus transpantasi hepar per tahun
di negara maju
Sirosis hepatis menyebabkan 35000
kematian pertahun di United States.

ETIOLOGI
Seluruh penyakit hati yang bersifat
kronis dapat menyebabkan sirosis
Penyebab tersering sirosis di negara
maju adalah konsumsi alkohol
sedangkan di Indonesia disebabkan
oleh hepatits B dan C kronis

ETIOLOGI

Klasifikasi sirosis
Berdasarkan morfologi:
- Mikronodular <3 mm
-Makronodular,>3mm
-Campuran (mikro dan
makronodular)

Berdasarkan penyebabnya :
- Sirosis Alkoholik
- Sirosis Biliaris
- Sirosis pasca nekrotik
-Cardiac Cirrhosis
- Sirosis post hepatic

Sirosis fungsional:
- Sirosis hati
kompensata
-Sirosis hati
dekompensata

STAGING

Patofisiologi 1
Aktiva
si RAA
Vasodilatasi
splanknikus
dan sistemik
Komplika
si
jantung,
paru,
ginjal

Portal
hypertensi
on

Patofisiologi 2

Hemokromatosis penyakitsebuah penyakit di


mana besi tidak dimetabolisme dan menumpuk
di jaringan di seluruh tubuh, terutama di hati.
Penyakit Wilson penimbunan tembaga dalam
jaringan hati
nonalkoholik steatohepatis
Kholestasis berkepanjangan
Gangguan autoimun,
Toksin dan obat-obatan,
Kriptogenik

Sirosis hepatis

Hipertensi porta
hati

Gangguan faal

Klasifikasi Sirosis
Hepatis
Berdasarkan morfologi, Sherlock
membagi sirosis hepatis atas 3 jenis,
yaitu :
Mikronodular nodul-nodul berukuran < 3
mm.
Makronodular nodul-nodul berukuran >
3 mm.
Campuran Yaitu gabungan dari
mikronodular dan makronodular.

Secara fungsional, sirosis hepatis


terbagi atas :
1. Sirosis Hepatis Kompensata.
2. Sirosis Hepatis Dekompensata

MANIFESTASI KLINIS
Sirosis kompensata
- Asimtomatis
-

Kelelahan non-spesifik
Penurunan libido
Gangguan tidur
40% kasus telah mengalami varises esofagus,
namun belum ada tanda perdarahan

MANIFESTASI KLINIS
Sirosis dekompensata
- 1 dari manifestasi berikut :
- ikterik
- asites dan edema perifer
80%
- hematemesis, melena
- jaundice
- ensefalopati

MANIFESTASI KLINIS
Sirosis dekompensata
- Stigma sirosis lain:
- Tanda gangguan endokrin
- Spider angioma
- Eritema palmaris
- Atrofi testis
- Ginekomastia
- Alopesia dada dan aksila
- Hiperpigmentasi kulit
- Kuku Muchrche
- Kontraktur Dupuytren
- Fetor hepatikum
- Atrofi otot
- Ptekie dan ekimosis
- Splenomegali

MANIFESTASI KLINIS

Pemeriksaan fisik

Pemeriksaan penunjang
1. Pemeriksaan laboratorium
- Parameter hematologi : Hemoglobin, Leukosit,
trombosit, waktu trombosit ( INR )
- Biokimia serum : Bilirubin, Transaminase ( ALT dan AST
), alkali fosfatase, y glutamyl transpeptidase, albumin
dan globulin, imunoglobulin, feritin serum dan saturasi
transferin
- Asites + : kadar elektrolit ( Na, K , bikarbonat, klorida,
ureum kreatinin ) serta urinanalisis
- Deteksi etiologi: serologi hepatitis B dan C, profil lipid
dan glukosa, penanda autoimun
2. Biopsi hati dan pemeriksaan histopatologis Golden
standard
3. Pemeriksaan radiologi
- USG hati, CT scan/MRI: deteksi nodul hati atau tanda
hipertensi porta
- Transien elastografi (Fibroscan), MR elastografi: menilai
derajat fibrosis
4. Pemeriksaan esofago-gastroduodeneskopi deteksi varises
esofagus
5. Prediktor sirosis

Pemeriksaan penunjang
Rumus APRI = AST (IU/L)/ Hitung trombosit (10 9/L)
x 100
Rumus FIB4= Usia (tahun) x AST (IU/L)/ Hitung
trombosit x (ALT (IU/L)
NAFLD/NASH:

Hepatitis C:

Skor FIB4 <1,30 = sirosis METAVIR


FO-F1

Skor FIB4 <1,45 = sirosis METAVIR


FO-F1

Skor FIB4 >2,67 = sirosis METAVIR


F3-f4

Skor FIB4 >3,21 = sirosis METAVIR


F3-f4

Skor fibrosis

Skor aktivitas

F0= fibrosis -

A0= aktivitas -

F1=fibrosis porta tanpa


septa

A1= aktivitas ringan

F2=fibrosis porta dgn


septa

A2= sedang

F3=banyak septa,

A3= berat

Diagnosis
Anamnesis, PF, PP
Harus disertai:
- Etiologi penyakit
- Grading/ staging histopatologi (METAVIR)

Tatalaksana
Sirosis kompensata
- Medikamentosa
- Sesuai etiologi: hepatitis B kronis, hepatitis C, NASH,
sirosis alkoholik, autoimun, dsb.
- Terapi def. Besi: Zn Sulfat 2x200 mg p.o.
memperbaiki nafsu makan & keram otot
- Antipruritus : kolestiramin, antihistamin, agen topikal
- Suplemen vit. D: pasien risiko tinggi osteoporosis
- Non- medikamentosa
- Diet seimbang 35-40 kkal/kgBB , protein 1,2 -1,5
g/kgbb/hari
- Aktivitas fisik atrofi otot <<
- Stop konsumsi alkohol dan merokok
- Pembatasan obat hepatotoksik dan nefrotoksik (NSAID,
OAT, asam valproat, amoksisilin, gol. Aminoglikosida,
dsb)
- Surveilans komplikasi sirosis
- Monitor kadar albumin, bilirubin, INR, penilaian fungsi
kardiovaskular, dan ginjal
- Deteksi varises dgn esofago-gastroduodenoskopi
- Deteksi retensi cairan dan pemantauan fungsi ginjal
- Deteksi ensefalopati: tes psikometri dan
neuropsikologis pada atensi dan psikomotor setiap 6
bulan
- Deteksi karsinoma hepatoseluler; alpha-fetoprotein
dan USG hati setiap 6 bulan

Tatalaksana
Sirosis dekompensata
- Spesifik sesuai komplikasi
- Hipertensi porta dan varises esofagus
- Somatostatin
- Terapi endoskopik
- Pemasangan TIPS / prosedur bedah
- Asites
- Restriksi garam, spironolakton dan furosemid, parasentesis bila
vol.
- Sindroma hepatorenal
- Agen vasopresor dan albumin, gg.elektrolit, dan asam basa,
hepatoprotektor
- Peritonitis bakterial spontan
- Kultur dan antibiotik spektrum luas
- Ensefalopati hepatikum
- Laktulosa dgn atau tanpa rifaksimin, suplemen asam amino
rantai bercabang, diet rendah asam amino lisin, metionin, dan
triptofan
- Koagulopati dan gg.hematologi
- Transfusi darah pada gawat darurat
- Berdasarkan faktor pencetus
- Sepsis
- Hipotensi
- Penggunaan obat tertentu

TATALAKSANA
Hepatitis B
Kombinasi IFN 180 mikrogram/ minggu s.c +
lamivudin 100 mg/hari p.o selama 12 bulan.

Hepatitis C
Kombinasi IFN 180 mikrogram/ minggu s.c
+ ribavirin 1000 mg/hari p.o (BB <=75 kg)
atau 1200 mg/hari (BB>75 kg) selama 24-48
minggu.

Tatalaksana
Kontraindikasi transplantasi hati:
1.Aktif menggunakan obat-obatan
terlarang (metadon)
2.AIDS. Infeksi HIV saja bukan
kontraindikasi
3.Keganasan ekstrahepatik
4.Sepsis tidak terkendali
5.Gagal organ ekstrahepatik (jantung,
paru)
6.Trombosis splanikum yang meluar ke
vena mesentrika superior

Indikasi:
1.Sirosis dekompensata
2.Karsinoma hepatoseluler
pada sirosis hati

Tatalaksana

KOMPLIKASI
Karsinoma hepatoseluler
Peritonitis bacterial spontan
Sindrom hepatorenal
Varises esophagus mengakibatkan pendarahan.
Ensefalopati hepatic,
Sindrom hepatopulmonal

Acites
1. Terapi konservatif
Diet rendah garam
Retriksi cairan
Diuretik Spinorolakton 100mg
200mg/hari

2. Albumin
3. Pungsi

Enchephalopati hepatikum
Stadiu
m
0

Manifestasi Klinis
Kesadaran

normal,

hanya

sedikit

ada

penurunan daya ingat, konsentrasi, fungsi


1

intelektual, dan koordinasi.


Gangguan pola tidur

Letargi

Somnolen, disorientasi waktu dan tempat,

amnesia
Koma, dengan atau tanpa respon terhadap
rangsang nyeri.

Pasang sonde
Sterilisasi usus lavement
neomicyn
Laktulosa
Stop makanan yang mengandung nitrogen
Ex daging sapi,teri,sardin,kerang
Stop diuretik evaluasi SE
Comafusin
AARC
tangkap gugus OH
Antibiotik profilaksis

Peritonitis Bakterial Spontan (PBS)


Peradangan peritoneum akibat
infeksi cairan acites.
Diagnose SBP
berdasarkan pemeriksaan pada cairan
asites, dimana ditemukan sel
polimorfonuklear lebih dari 250 sel /
mm3 dengan kultur cairan asites yang
positif.

Sindrom Hepatorenal
Hipertensi porta
Vasodilatasi splanik
Perfusi ginjal
SHR
rennin angiotension
system saraf simpatis
retensi natrium

vasokonstriksi renal

Kriteria diagnostik SHR berdasarkan


International Axcites Club
1. Penyakit hati akut atau kronik dengan gagal hati lanjut
dan hipertensi portal.
2. GFR rendah, keratin serum >1,5 mg/dl atau kreatinin
klirens 24 jam < 40ml/mnt.
3. Tidak ada syok,infeksi bakteri sedang berlangsung,
kehilangan cairan dan mendapat obat nefrotoksik.
4. Tidak ada perbaikan fungsi ginjal dengan pemberian
diuretic (penurunan kreatinin serum menjadi < 1,5 mg/dl
atau peningkatan kreatinin klirens menjadi > 40 ml/mnt)
5. Proteinuria < 0,5 g/hari dan tidak dijumpai bstruktif
uropati atau penyakit parenkim ginjal secara
ultrasonografi.

Kriteria tambahan :
1. Volume urin < 500 ml / hari
2. Natrium urin < 10 meg/liter
3. Osmolalitas urin > osmolalitas plasma
4. Eritrosit urin < 50 /lpb
5. Natrium serum <130 meg / liter
Semua kriteria mayor harus dijumpai dalam
menegakkan diagnosa SHR, sedangkan criteria
tambahan merupakan pendukung untuk diagnosa
SHR

Prognosis

Prognosis

TERIMA KASIH