Anda di halaman 1dari 17

Filosifi Internal Audit

Disusun Oleh :
Merie Satya A
Isnaini Anniswati R
Faih Ramadhan

KONSEP DASAR
AUDITING

Auditing perlu memiliki konsep untuk


memperoleh pengakuan sebagai disiplin dan
mandiri yang akan memberikan kerangka
pemikiran dasar bagi pengembangan norma,
standart, prosedur, teknik, dan praktek audit.
Sehubungan dengan itu, beberapa
konsep dasar auditing meliputu 5 aspek :
1. Konsep Pembuktian (Evidential Matter)
2. Konsep kelayakan Asersi (Fair Presentation)
3. Konsep Kecermaatan Profesi (Due
Profesional Care)
4. Konsep Independensi
5. Konsep Etika (Ethical Conduct)

KONSEP PEMBUKTIAN
Pembuktian dalam audit menjadi salah satu
kosep untuk memperoleh bukti berupa
data/informasi yang mendukung kesimpulan
audit, untuk menentuka apakah asersi sudah
sesuai atau tidak dengan kenyataan.
Karakteristik Bukti (Evidence)
1.Bukti Alamiah (Natural Evidence)
2.Bukti Ciptaan (Created Evidence)
3.Bukti Rasional (Rational Argumentation)

Aspek kriteria bukti


Cukup, Kecukupan bukti didasarkan pada
3 faktor:
1. Tingkat materialitas dan resiko
2. Faktor ekonomi
3. Besar dan karakteristik populasi

Kompetensi, Aspek yang terkait dengan


kompeten:
1. Relevan
2. Sumber
3. Ketepatan waktu
4. objektivitas

KONSEP KEWAJARAN
ASERSI
Auditing berhubungan dengan kepercayaan
dalam laporan /informasi yang akan
digunakan dalam pengambilan keputusan,
penyajian laporan keuangan harus wajar dan
layak.
Dalam lingkungan audit untuk menguji
kewajaran laporan keuangan:
1. Realibility
2. Konsep nyata (relevance)
Konsep penyajian informasi yang layak ketika
dioperasionalkan oleh profesi auditing
dibidang keuangan lebih sempit menjadi
realibility dan Relevance

Di Amerika Serikat penyajian yang layak dari


laporan keuangan mengacu pada the house
of GAAP)

Ketersediaan standart, setiap auditor harus


berhati-hati karena setiap dtandart memiliki
ketebatasan, yang apabila diterapkan secara
paksa akan terjadi penyimpangan dari tujuannya.
Yang menjadi alasan untuk tidak dijadikan sebagai
ukuran mutlak yaitu :
1. Standart merefleksi pentyederhanaan dari
berbagai kenyataan yang kompleks
2. Standrt dirumuskan sesuai dengan kondisi add
hoc pada saa dibuat
3. Standart dibuat dengan menggunakan
beberapa asumsi
4. Stadart sering dibuat oleh otoritas yang ada an
jarang datang dari hasil kesepakatan bersama.

Jadi, standar nanti dikembangkan untuk


dijadikan acuan dalam fungsi auditing
haruslah diposisikan sebagai standar,
dan bukan sesuatu ukuran kebenaran
mutlak.
Standar adalah tetap standar, ia bukan
merupakan tujuan.
setiap auditor yang menggunakan standar
dalam pekerjaannya janganlah sampai
mengorbankan tujuan auditing hanya karena
demi tegaknya standar.

KONSEP KECERMATAN
PROFESIONAL
Kecermatan profesional, dalam auditing dalam
merencanakan, mengarahkan, dn mengendlikn kegitan
pembuktian, serta pengambilan keputusan, sehingga
kewajiban yang dibebaankan kepadanya dapat
dipertanggung jwabkan secara profesional.
Lingkup Tanggung jawab Auditor
profesi auditor harus berani dengan jelas menerima
kewajibannya dengan sepenuhnya yang menjadi
tanggung jawab.
Menurut mautz dan Sharraf bahwa seandainya profei
auditing mampu memastikan wilayah tanggung
jawabnya, laporan akhir suatu audit yang dengan yakin
tidak menemukan penyimpangan atau keklruan dalam
informasi atau laporan terkait tidak perlu berbelit-belit.

Tindakan Profesional
auditor perlu memulainya dengan sikap awal yang dikenal
sebagai professional scepticism dalam menghadapi asersi
atau laporan yang hendak diauditnya. Bahwa auditor
bersikap kritis untuk mempertanyakan kebenaran informasi
atau laporan yang diauditnya sampai memperoleh buktibukti kuat yang mendukung Kebenaran.
Dalam pengetahuan tentang objek informasi yang
diauditnya, auditor perlu mengenali berbagai sumber
pengetahuan, (Montague dalam The Ways of
Knowing (MacMilan, 1953)), yakni:
1. Authoritarianism
2. Mysticism
3. Rationalism
4. Empiricism
5. Pragmatism

konsep kehati-hatian (prudentiality) dalam auditing:


1. Selalu merencanakan dengan baik langkah-langkah yang
hendak dilakukannya dan mengendalikan dengan baik
pelaksanaannya.
2. Menggunakan sepenuhnya kemampuan pengetahuan
yang dituntut untuk dimilikinya dalam audit terkait.
3. Memiliki dan mampu menjalankan keahlian yang dituntut
dalam melakukan kegiatan auditing.
4. Selalu waspada terhadap setiap kemungkinan
penyimpangan dan senantiasa berupaya maksimal untuk
mengeliminasi keraguan dengan mendapatkan bukti
yang meyakinkan.
5. Memiliki sikap yang seksama dalam melakukan tugas
dan mengambil putusan dengan mempertimbangkan
segala kemungkinan risiko.
6. Berusaha mengevaluasi tindakan dan putusannya
dengan hakikat tujuan yang ingin dicapainya.

KONSEP INDEPENDENSI
Independensi secara umum berarti wujud sikap objektif
dan tidak bias dalam pengambilan putusan.
Independensi bagi para auditor adalah kemauan dan
kemampuan para auditor untuk mempertahankan sikap
yang bebas atau tidak terikat oleh kepentingan manapun
dan tekanan dari pihak siapapun, termasuk
kepentingannya sendiri, dalam menentukan putusan yang
tepat pada tahap perencanaan, pelaksanaan, dan
pelaporan hasil audit.
independensi dikenal dalam tiga jenis yang harus
dipraktikkan pada tiga tahap auditing :
1. Independensi Program
2. Independensi investigasi
3. Independensi Pelaporan

Independensi Auditor, independensi dapat


ditinjau dan dievaluasi dari dua sisi:
1. Independensi Praktisi
2. Independensi profesi
Menurut pendapat David Flint, terdapat lima
hal pokok yang berkaitan dengan
independensi auditor, yakni:
1. Kualitas persional
2. Kebebasan yang diperoleh
3. Hubungan personal
4. Kepentingan keuangan
5. Solidaritas profesi

Permasalahan independensi auditor


1. Hubungan bisnis antara auditor dengan klien
Auditor tetap diperkenankan untuk menawarkan jasa
manajemen, namun hal itu tidak boleh berlangsung bersamaan
dengan diterimanya penugasan audit. Penugasan audit hanya
dibenarkan pada calon klien yang tidak pernah atau telah cukup
lama tidak menjadi kliennya di bidang jasa manajemen.
2. Pengaruh Keorganisasian Profesi
.Organisasi profesi auditing (bidang keuangan) diselenggarakan
dalam bentuk usaha persekutuan atau perorangan
.Ukuran kantor akuntan publik yang aktif melakukan audit
keuangan ada yang kecil dan banyak pula yang besar
.Aturan disiplin dalam pergantian auditor masih relatif longgar
.Salah satu kemungkinan untuk mendorong mutu audit
.Organisasi profesi auditing yang kuat dapat mendorong
terciptanya kondisi yang positif untuk saling mengawasi di
antara anggota.

KONSEP ETIKA
konsep etika dalam auditing hendaknya diarahkan untuk
mendapatkan solusi optimal terhadap akibat tindakan dan
simpulan yang dibuat oleh auditor yang berbenturan atau
meiliki potensi konflik dengan pentingan pihak lain, termasuk
kepentingan masyarakat umum.
Pentingnya konsep etika profesi :
1. Profesi menyelenggarakan kegiatan pemberian jasa bagi
kepentingan publik (public service engagement).
2. Adanya pengakuan keahlian khusus yang dimiliki dan harus
dijalankan atas dasar otoritas profesi.
3. Adanya ketentuan untuk membatasi orang-orang yang
berhak menyandang kewenangan profesi (barriers to entry).
4. Diberikannya kewenangan bagi profesi untuk mengatur
dirinya sendiri (self regulation).
5. Adanya tuntutan objektivitas dan imparsial dalam
menjalankan fungsi profesi.

Etika Dalam Bisnis, tiga tingkatan masalah etika di


bidang bisnis muncul, seperti disarankan oleh Manuel
Velasquez, seorang pakar di bidang etika.
1. Paling umum dan sistemik dari masalah etika dalam
bisnis, yang dinamakan label makro dari etika bisnis.
2. kedua , etika di lingkungan bisnis dapat dikaitkan
secara spesifik dengan organisasi perusahaan sebagai
unit bisnis.
3. ketiga, aspek etika terkait dengan level individu dalam
organisasi bisnis.
Model Etika
1. The Utilitarian Model
2. The Golden-Rule Model
3. The Kantian Model
4. The Enlightened Self-Interest Model

FILOSOFI INTERNAL
AUDITING
filosofi internal auditing
sebagai fondasi dalam pelaksanaan
tugas-tugas pengawasan selaku auditor internal pemerintah.
perkembangan konsep audit internal:
1. tradisional,
2. modern, dan
3. neo-modern.
Lima filosofi audit internal yang masih sangat relevan dengan
situasi dan kondisi saat ini.
1. Internal Auditor Harus Bisa Memberikan Nilai Tambah
2. Fungsi Audit Internal Harus Didasarkan pada
Mandat/Kewenangan yang Kuat dan Jelas
3. Pahami dengan Baik Tujuan Stakeholders
4. Fungsi Audit Internal Harus Memperoleh dan Menyajikan
Informasi Secara Akurat
5. Fungsi Audit Internal Harus Mencermati Budaya dan Situasi
Politis yang Sedang Berlangsung