Anda di halaman 1dari 19

Mulki Hakam

13.122

Otopsi
Otopsi dalam terminologi ilmu kedoteran
ialah suatu penyelidikan atau pemeriksaan
tubuh mayat, termasuk alat-alat atau
organ tubuh dan susunannya pada bagian
dalam setelah dilakukan pembedahan atau
pelukaan, dengan tujuan menentukan
sebab-sebab kematian seseorang, baik
untuk kepentingan ilmu kedokteran
maupun kepentingan hukum sebagai
pengungkap misteri suatu tindak kriminal.

TUJUAN AUTOPSI
Otopsi Anatomik : untuk kepentingan
pendidikan, mempelajari susunan tubuh
manusia yang normal (PPNo.18 Th.1981)
tentang bedah jenazah.
Otopsi Klinik : terhadap jenazah yang dirawat
tetapi kemudian meninggal dunia di Rumah
Sakit.
Menegakkan diagnosis
Proses perjalanan penyakit
Kelainan-kelainan patologik yang timbul
Menilai efektifitas terapi
Perlu ijin keluarga atau terlantar selama
minimal 2 hari.
Otopsi Forensik : untuk kepentingan peradilan,
membantu penegak hukum mencari
kebenaran materiil.

KEGUNAAN OTOPSI FORENSIK


Membantu menentukan cara kematian
Wajar
Usia lanjut, Penyakit

Tidak wajar
Pembunuhan, Bunuh diri, Kecelakaan

Membantu mengungkap proses


terjadinya tindak pidana :

Kapan
Dimana
Senjata, benda, zat kimia yang digunakan
Cara melakukan
Sebab kematian

Membantu mengungkap identitas


jenazah
Membantu mengungkap identitas

KEGUNAAN AUTOPSI KLINIK


Menentukan sebab kematian yang pasti
Menentukan apakah diagnosis klinik yang
dibuat selama peraawatan sesuai dengan
diagnosis postmortem
Mengetahui kolerasi proses penyakit yang
ditemukan dengan diagnosis klinis dan
gejala gejala klinik
Menentukan efektifitas pengobatan
Mempelajari perjalanan lazim suatu proses
penyakit

Pemeriksaan dalam

Pengirisan Kulit
Pengirisan kulit merupakan hal
pertama yang dilakukan pada
pemeriksaan dalam. Ada beberapa
macam irisan kulit pada pemeriksaan
dalam, dimana masing-masing
dilakukan dengan memandang segi
kosmetik. Indikasi macam irisan
ditentukan oleh jenis kelamin dan
agama/ kepercayaan korban/jenazah.

Irisan Lurus (I)


Dilakukan pada jenazah pria pemeluk agama
Islam. Irisan dimulai setinggi kartilago tiroid
(jakun). Pisau ditekan hingga terasa mengenai
kartilago tiroid kemudian ditarik secara mantap
lurus ke bawah mengikuti linea mediana dan
ketika sampai dekat umbilikus (1 cm di atas
umbilikus) irisan dibelokkan ke kiri membentuk
setengah lingkaran mengelilingi umbilikus di
sebelah kiri (di sebelah kanan umbilikus melintas
ligamen- tum teres hepatis pars umbilikalis )
kemudian ke bawah lagi lurus mengikuti linea
mediana sampai simphisis pubis

Irisan Berbentuk Huruf


Y
Dilakukan pada jenazah pria pemeluk
agama non Islam. Irisan dimulai dari
pertengahan klavikula (baik kanan
maupun kiri) menuju ke prosesus
sifoideus (angulus sterni/uluhati)
kemudian dilanjutkan ke bawah
mengikuti linea mediana hingga
simphisis pubis seperti irisan I.

Irisan Berbentuk Huruf Y


Modifikasi
Dilakukan pada jenazah wanita. Irisan
dimulai dari setinggi akromion kanan
maupun kiri kearah bawah mengikuti
linea axillaris anterior Kemudian
membelok ke medial melingkari bagian
lateral bawah glandula mammae hingga
ke prosesus sifoideus. Kemudian
dilanjutkan lagi ke bawah mengikuti linea
mediana sampai ke simphisis pubis
seperti irisan I.

Pembukaan rongga tubuh


Pembukaan rongga abdomen
Pembukaan dinding dada

Pembukaan Dinding
Abdomen
Pada irisan kulit yang sudah ada, dibuat lubang
pada setinggi prosesus sifoideus selebar 2 jari
sampai ke peritoneum,
Jari telunjuk dan jari tengah tangan kiri dimasukkan
ke dalam lubang tersebut dan ditekuk hingga posisi
tengadah,
Pisau diiriskan diantara kedua jari mengikuti linea
mediana sesuai irisan kulit yang sudah ada ke arah
bawah dengan kedua jari tersebut mengiringi
hingga mencapai simphisis pubis Fungsi kedua jari
tersebut adalah agar viscera di belakang dinding
perut tidak teriris,

Pembukaan Dinding
Abdomen
Selanjutnya pada bagian dalam dinding perut (sedikit di
bawah umbilikus) muskulus rektus abdominis dipotong
horisontal tegak lurus dengan arah serabut otot
(pemotongan ini jangan sampai menembus/ mengiris kulit
perut),
Pemotongan ini bertujuan untuk memperluas medan
pandangan ke dalam rongga perut,
Perhatikan, jika di dalam rongga perut ada cairan harus
langsung diperiksa (diukur) tanpa membuka rongga dada
terlebih dahulu agar apabila di dalam rongga dada juga ada
cairan keduanya tidak tercampur sehingga pemeriksaan
tidak menjadi kacau. Adanya 400 ml cairan dalam rongga
perut dapat menyebabkan kematian. Perhatikan juga
kedudukan alat-alat rongga perut serta keadaan diafragma

Pembukaan Dinding
Dada
Pertama-tama dilakukan penyiangan kulit dan
otot dinding dada,
Dimulai dari arkus kostarum, dengan cara
tangan kiri memegang kulit dan tangan kanan
memegang pisau,
Kulit dipegang sedemikian rupa sehingga posisi
ibu jari di bagian dalam sedangkan 4 jari lainnya
di bagian luar kulit dada,
Kulit kemudian ditarik dan dipuntir dengan kuat
ke arah luar sehingga punggung tangan kiri
menyentuh kulit dada,

Pembukaan Dinding
Dada

Kemudian pisau diiriskan di sebelah dalam


puntiran kulit diantara otot dan tulang dengan
posisi miring 450 dari bidang datar dada
sedemikian rupa sehingga kulit dan otot beserta
origonya terpotong hingga bersih dari
perlekatannya dengan tulang iga dan tulang dada,
Penyiangan dilakukan ke arah kranial sampai
klavikula dan jakun, dan ke lateral sampai linea
aksilaris anterior,
Perhatikan, adakah hematom (catat ukuran dan
lokasinya), patah tulang (catat lokasinya) serta
kelainan lainnya ? Kemudian lepas tulang dada
(Sternum)

Pengeluaran dan Pemeriksaan Isi


Rongga Tubuh
Pengeluaran Isi Rongga Dada
Pengeluaran Isi Rongga Perut
Pengeluaran dan Pemeriksaan isi
Rongga Pelvis

Teknik Seksi Kepala dan Otak


kemudian Teknik Seksi TrakheaEsofagus
Pengirisan Kulit Kepala
Pemotongan Tulang Atap
Tengkorak
Pengangkatan dan Pemeriksaan
Otak
Pengangkatan Selaput Otak dari
Dasar Tengkorak