Anda di halaman 1dari 27

Oleh :

dr. Pramika Putri Yulanti

Penyebab
Hipertensi

95% bersifat idiopatik


Hipertensi sekunder
(gangg ginjal, endokrin,
kardiovaskuler)

Faktor Risiko
Hipertensi

Diet dan asupan garam,


Usia,
Stres,
Obesitas,
Merokok,
Genetis

BETA BLOCKER
(cont : propanolol,
atenolol)

DIURETIK

CALSIUM CHANNEL
BLOCKER

(co : HCT,furosemid)

(cont:nifedipin,
amlodipin)

REKOMENDASI OBAT

WHO-JNC VII

ANGIOTENSIN II
RESEPTOR
BLOCKER
(cont : valsartan, losartan)

ACE INHIBITOR
(cont : captopril)

TEKANAN DARAH TARGET

Tekanan darah sistolik


(SBP) optimal

Tekanan darah diastolik


(DBP) optimal

peny kardiovaskular aterosklerosis ,


diabetes atau
gagal ginjal kronik

< 140 mmHg


< 85 mmHg
target SBP menjadi 130 mmHg dan
DBP <80 mmHg.

Penatalaksanaan
Non Farmakologis
a. Modifikasi pola makan
Diet rendah sodium
Bukan hanya membatasi konsumsi garam dapur
tetapi mengkonsumsi makanan rendah sodium
atau natrium (Na)
Sumber sodium : soda kue, baking powder,
pengawet makanan atau natrium benzoat,
makanan yang dibuat dari mentega serta obat
yang mengandung natrium

Asupan rendah kolesterol


profilaksis untuk pasien dengan penyakit
jantung koroner.
Diet tinggi serat
serat kasar mampu mengikat kolesterol maupun
asam empedu
Diet rendah kalori
Asupan kalori dikurangi sekitar 25% dari
kebutuhan energi atau 500 kalori untuk
penurunan 500 gram atau 0.5 kg berat badan
per minggu.
Menu makanan harus seimbang dan memenuhi
kebutuhan zat gizi.
Perlu dilakukan aktifitas olah raga ringan.

Konsumsi alkohol
merangsang adrenalin & hormon-hormon lain yang membuat
pembuluh darah menyempit atau menyebabkan penumpukan
natrium dan air.

Merokok
Memicu hormon adrenalin yang menyebabkan tekanan
darah meningkat
Vasokonstriksi
Obat yang dikonsumsi tidak akan bekerja secara optimal dan
dengan berhenti merokok efektifitas obat akan meningkat

b.

Aerobic exercise secara teratur

30 menit sehari, 3-4 kali seminggu

olah raga isotonik seperti jalan kaki, jogging, berenang dan


bersepeda

olah raga Isometrik seperti angkat beban, karena justru


dapat menaikkan tekanan darah
c.
Pengurangan berat badan
Penurunan berat badan secara bertahap (1 kg/minggu) sangat
dianjurkan
d.
Pengendalian Stress
Stres tidak menyebabkan hipertensi yang menetap, tetapi
stress berat dapat menyebabkan kenaikan tekanan darah yang
bersifat sementara yang sangat tinggi
e.
Istirahat
untuk mengembalikan stamina tubuh dan mengembalikan
keseimbangan hormon dan dalam tubuh

KRISIS
HIPERTENSI

DEFINISI

Krisis hipertensi
Suatu keadaan peningkatan tekanan
darah yang mendadak (sistole 180
mmHg dan/atau diastole 120
mmHg), pd penderita hipertensi, yg
membutuhkan
penanggulangan
segera.

KLASIFIKASI KRISIS HIPERTENSI

1.

Hipertensi emergensi
Kenaikan TD mendadak yg disertai kerusakan organ
target yang progresif. Di perlukan tindakan penurunan
TD yg segera dalam kurun waktu menit/jam.

2.

Hipertensi urgensi
Kenaikan TD mendadak yg tidak disertai kerusakan
organ target. Penurunan TD harus dilaksanakan dalam
kurun waktu 24-48 jam.

TATALAKSANA HIPERTENSI EMERGENSI

Pengobatan parenteral diberikan secara bolus atau infus sesegera


mungkin
TD harus diturunkan dalam hitungan menit sampai jam dengan
langkah sbb:
a. 5 menit s/d 120 menit pertama TD rata-rata
(mean arterial blood pressure) diturunkan 2025%.
b. 2 s/d 6 jam kemudian TD diturunkan sampai 160/100 mmHg.
c. 6-24 jam berikutnya diturunkan sampai <140/90 mmHg bila tidak
ada gejala iskemia organ.

OBAT-OBATAN YANG DIGUNAKAN PADA HIPERTENSI EMERGENSI

Clonidin (catapres) IV (150 mcg/ampul)


a. Ckonidin 900 mcg dimasukkan dalam cairan
infus glucosa 5% 500cc dan diberikan
dengan mikrodrip 12 tetes/ menit, setiap 15
menit dapat dinaikkan 4 tetes sampai TD yg
diharapkan tercapai.
b. Bila TD target tercapai pasien diobservasi
selama 4 jam kemudian diganti dg tablet
clonidin oral sesuai kebutuhan.

c. Clonidin tidak boleh dihentikan mendadak, tetapi


diturunkan perlahan-lahan oleh karena bahaya rebound
phenomen, dimana TD naik secara cepat bila obat
dihentikan.