Anda di halaman 1dari 9

PROGRAM PETERNAKAN BERBASIS WILAYAH

Oleh :

Agus Siswoyo(I111 14 316)


Abdul Qayyum (I111 14 314)
Asriadil (I111 14 340)
Khusnul Khatimah Aksar (I111 14 072)
Muh. Affan N. M (I111 14 054)
Muhammad Iqbal (I111 14 052)
Serdam Supratman (I111 14 320)
Arung Bandong (I111 14 032)
Achmad Fauzy ( I111 13 362 )
Saldy Setiawan ( I111 13 324 )

PENDAHULUAN

Suatu daerah memiliki potensi yang berbeda-beda karena


adanya perbedaan karakteristik sumber daya di masing-masing
daerah.
Pembangunan daerah tersebut sepenuhnya menjadi hak dan
tanggung jawab pemerintah Kabupaten dan Kota sesuai
dengan potensi, kondisi, masalah, kebutuhan dan karakteristik
masing-masing daerah.
Pembangunan ekonomi daerah adalah suatu proses dimana
pemerintah daerah dan masyarakatnya mengelola sumber
daya yang ada dan membentuk suatu pola kemitraan antara
pemerintah daerah dengan sektor swasta untuk menciptakan
suatu lapangan kerja baru dan merangsang perkembangan
pertumbuhan ekonomi dalam wilayah tersebut.

PEMBERDAYAANN PETERNAKAN

Pendekatan
pemberdayaan
masyarakat
dalam
pembangunan
mengandung
arti
bahwa
manusia
ditempatkan pada posisi pelaku dan penerima manfaat
dari proses mencari solusi dan meraih hasil pembangunan
Upaya-upaya pemberdayaan masyarakat seharusnya
mampu berperan meningkatkan kualitas sumberdaya
manusia (SDM) terutama dalam membentuk dan merubah
perilaku masyarakat untuk mencapai taraf hidup yang
lebih berkualitas.
Pemberdayaan bertujuan untuk : a) meningkatkan
kemampuan kelompok kelompok masyarakat dalam
berprakarsa untuk menangkap berbagai peluang ekonomi,
b) mendorong tumbuhnya masyarakat swadaya yang siap
berkembang sendiri dalam mengatasi berbagai kendala/
kelemahan yang dimilikinya, c) memperkuat dan
mengoptimalkan lembaga-lembaga formal dan informal di
tingkat
perdesaan
serta
meningkatkan
peran
serta/pertisipasi masyarakat.

PROGRAM PETERNAKAN BERBASIS WILAYAH


Pengembangan kawasan agrobisnis berbasis peternakan adalah
alternatif program yang diharapkan menjawab tuntutan
kecukupan (swasembada) daging 2005 dan mempertahankan
swasembada telur yang telah dicapai, meningkatkan produksi
susu dalam negeri, sekaligus meningkatkan pendapatan dan
kesejahteraan peternak.
Pengembangan kawasan agrobisnis peternakan harus
memperhatikan optimalisasi sumber daya lokal dan strategi
kebijaksanaan pembangunan daerah. Pemerintah daerahlah
yang memetakan pembangunan peternakan ke dalam
kawasan-kawasan yang sudah ada.

Konsep pengembangan agropolitan


merupakan pendekatan pengembangan
suatu kawasan pertanian perdesaan
yang mampu memberikan berbagai
pelayanan untuk memenuhi kebutuhan
masyarakat di kawasan produksi
pertanian dan sekitarnya, baik untuk
pelayanan yang berhubungan dengan
sarana produksi, jasa distribusi,
maupun pelayanan sosial ekonomi
lainnya. Sehingga masyarakat yang
bersangkutan tidak perlu lagi pergi ke
kota

BEBERAPA CONTOH PENERAPAN


PROGRAM BERBASIS WILAYAH di
Indonesia

Pemberdayaan masyarakat berbasis peternakan di daerah pertanian lahan kering Desa


Kemejing Kecamatan Semin Kabupaten Gunungkidul.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi usaha peternakan
rakyat, kondisi modal sosial, modal manusia, modal fisik, tingkat
keterlibatan dan keberdayaan peternak dalam proses pemberdayaan,
dan merumuskan model pemberdayaan masyarakat desa Kemejing,
Yogyakarta.
Berdasarkan hasil penelitian dan analisis yang telah dilakukan,
diperoleh, model pemberdayaan masyarakat berbasis peternakan di
daerah pertanian lahan kering Desa Kemejing adalah integrasi antara
pertanian dan peternakan dimana siklus selalu berputar sehingga usaha
peternakan rakyat yang baik diupayakan untuk dijalankan usahanya
adalah usaha peternakan sapi potong yang dilihat dari modal-modal
yang ada pada pelaku pemberdayaan.

Pengembangan peternakan sapi potong di Kecamatan Eris Kabupaten Minahasa

Desa-desa di wilayah kecamatan Eris yang menjadi basis


untuk pengembangan ternak sapi potong juga belum
diketahui. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi
berbagai sumberdaya penunjang pengembangan
peternakan sapi potong dan menentukan pilihan desa
basis pengembangan peternakan sapi potong di
Kecamatan Eris Kabupaten Minahasa. Kecamatan Eris
memiliki potensi sumberdaya manusia yang masih
tergolong produktif, dengan usia rata-rata 44 tahun,
meskipun tingkat pendidikan peternak masih rendah yaitu
hanya menyelesaikan pendidikan sampai Sekolah Dasar
(SD). Berdasarkan hasil penelitian disimpulna Kecamatan
Eris kabupaten Minahasa memiliki potensi untuk
pengembangan ternak sapi potong karena didukung oleh
faktor ketersediaan sumberdaya alam, sumberdaya tenaga
kerja (peternak) serta sumberdaya pertanian dan
perkebunan.

Pengembangan peternakan sapi potong di Kecamatan Tanjung Sari Kabupaten Lampung Selatan

Pendekatan kawasan ini dirancang untuk meningkatkan efektivitas kegiatan, efisiensi


anggaran dan mendorong keberlanjutan kawasan komoditas unggulan. Penelitian ini
bertujuan untuk mengevaluasi kinerja pengembangan peternakan berbasis kawasan
di Kecamatan Tanjung Sari, Kabupaten Lampung Selatan serta mengidentifikasi
permasalahan yang mempengaruhinya. Dengan telah ditetapkannya Kecamatan
Tanjung sari sebagai kawasan peternakan, menjadi penting untuk menilai kinerja
pengembangan peternakan yang berbasis kawasan yang sudah diterapkan di lokasi
tersebut. Untuk mengetahui kinerja tersebut, dilakukan penilaian terhadap
pemenuhan indikator kinerja pengembangan peternakan yang berbasis kawasan.
Dengan mengetahui serta memahami pemenuhan poin-poin indikator, terdapat
beberapa hal yang dapat direkomendasikan agar kinerja pengembangan peternakan
yang berbasis kawasan di Kecamatan Tanjung sari dapat lebih baik lagi. Rekomendasi
tersebut adalah sebagai berikut: Peningkatan kerjasama lintas sektoral pemerintah,
Realisasi pembuatan master plan pengembangan peternakan yang berbasis
kawasan, Peningkatan kualitas infrastruktur penunjang, Pengoperasian Terminal
agribisnis dan Rumah Potong Hewan (RPH), dan Peningkatan fasilitasi akes ke sumber
pembiayaan.