Anda di halaman 1dari 76

Kista Endometriosis

Pembimbing : dr. FX Widiarso, SpOG


Jener Tanggu Dendo

11 2015 391

IDENTITAS PASIEN
Nama : Ny NT

Jenis kelamin:
Perempuan

Umur : 37 tahun

Suku bangsa: Jawa

Status perkawinan: Kawin


(PIA0)

Agama : Islam

Pekerjaan: Karyawan

Pendidikan: SMU

Alamat: Jl. Bhakti no 149 RT Masuk Rumah Sakit: 06


02, RW 07 Rendeng, kota
November 2016 pukul
Kudus
10.00 WIB

Nama suami : Tn J
Umur

: 46 tahun

Pekerjaan
Alamat

: Karyawan
: Jl. Bhakti no 149 RT 02, RW 07 Rendeng, kota Kudus

ANAMNESIS
Dilakukan autoanamnesis tanggal 06 September 2016 pukul
10.00 WIB

Keluhan utama :
Nyeri perut kiri bawah sejak 6 bulan yang lalu

Riwayat Penyakit Sekarang


Pasien datang ke poliklinik Kebidanan dan Kandungan
dengan keluhan nyeri di perut bawah bagian kiri.
perut sebelah perut bawah bagian kiri apabila ditekan
terasa sakit.
Pasien mengaku sering nyeri pada perut ketika haid
terutama sejak 6 bulan yang lalu. Nyeri yang dirasakan
pada haid hilang timbul.
Keluar darah dari jalan lahir 4 hari yang lalu, berwarna
merah dan kadang ada gumpalan merah kecoklatan.
Pasien juga merasakan adanya benjolan diperut dan
mengeluh adanya konstipasi
siklus haid selalu berubah atau tidak teratur

Riwayat Haid

Menarche : 13 tahun
Siklus
: tidak teratur
Lama
: 6 hari
Perkawinan
: 1 kali
Menikah usia
: 26 tahun
Lama menikah : 11 tahun
Riwayat KB
: pil KB berhenti
tahun 2011

Riwayat Kehamilan dan Kelahiran


Hamil
ke

Usia
kehamila
n

Jenis
perslinan

40
minggu

Partus
normal

Penyu Jenis
lit
kelamin

laki-laki

BB/T
B
lahir

3,2kg
/45
cm

Umur
penolong
sekaran
g

10
tahun

Dokter

Riwayat Penyakit dahulu

Penyakit jantung (-)


Darah tinggi (-)
DM
(-)
Asma
(-)
Alergi
(-)
Riwayat operasi (-)

Riwayat Penyakit Keluarga

Penyakit jantung (-)


Darah tinggi
(-)
DM
(-)
Asma
(-)
Alergi
(-)

Pemeriksaan Fisik

Keadaan umum
: Baik
Kesadaran
: Compos Mentis
Tekanan darah
: 130/90 mmHg
Nadi
: 88 x/ menit
Pernafasan
: 18 x / menit
Suhu
: 36,5
Mata
: Conjungtiva anemis-/ikterik -/-

Sklera

Jantung :

BJ I-II reguler murni, gallop(-), murmur(-)

Thoraks : Suara napas vesikuler


rhonki-/-, wheezing-/Abdomen
:
Inspeksi : terdapat adanya massa di sebelah kiri 2 jari

di bawah pusar

Palpasi : teraba massa di sebelah kiri 2 jari di bawah pusat , terdapat


nyeri tekan, massa sebesar telur
angsa, mobile, tidak ada defans
muskuler
Extremitas
: Edema-/-,
akral hangat+/+

Status Ginekologi
Pemeriksaan Luar
Inspeksi:
Wajah : Chloasma gravidarum
Payudara : pembesaran payudara(-), puting susu
menonjol
Abdomen : massa kistik di sebelah kiri 2 jari di
bawah pusar, mobile, defans
muskular -, nyeri tekan +
PPV
:Leukorea : -

Pemeriksaan Dalam
Vaginal Toucher
Fluxus (-), fluor (-)
V/U/V
: tidak ada kelainan
PO
: sebesar jempol tangan dan
lembut
OUE
: tertutup
CUT
: seperti telur ayam
Adnexa
: Teraba masa kistik di adneksa kiri
sebesar telur angsa, kenyal dan
sedikit mudah digerakan, nyeri tekan
(+).
CD
: tidak ada kelainan

Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan Laboratorium

Hemoglobin

13,7 g/dl

( N: 11,7-15,5)

Leukosit

6,80 ribu

(N: 3600-11000)

Hematokrit

39,90%

(N: 30-43)

Trombosit

305.000

(N: 150.000-440000)

GDS

106 g/dl

(N: 75-110)

Ureum

13

(N: 15-40)

kreatinin

0,63

(N: 0,6-1,1)

SGOT

14

(N:0-35)

SGPT

21

(N: 0-35)

Natrium

136,9

(N: 135-147)

Kalium

3,84

(N: 3,5-5)

Golongan darah / RH

B/+

Waktu
pendarahan/BT

1,30 menit

(N: 1-3)

Waktu
pembekuan/CT

4,00 menit

( N : 2-6)

Pemeriksaan penunjang
Foto thoraks
Cor
: Bentuk dan letak dalam batas normal
Pulmo
: Tak tampak kesuraman pada paru. Corakan
bronkovaskular normal. Tak tampak gambaran
lession pada kedua paru
Kesan :
Cor : Tidak membesar
Pulmo
: Aspek tenang

Suspek reaksi pleura kiri minimal

coin

Ringkasan
Pasien datang ke poliklinik Kebidanan dan Kandungan dengan
keluhan nyeri perut sebelah bawah bagian kiri. Nyeri di perut
sebelah perut bawah bagian kiri apabila ditekan terasa sakit.
Pasien mengaku sering nyeri pada perut ketika haid terutama
sejak 6 bulan yang lalu. Nyeri yang dirasakan pada haid hilang
timbul. Nyeri timbul terutama pada 2 hari awal haid dan
berkurang setelah akhir haid. Keluar darah dari jalan lahir 4 hari
yang lalu, berwarna merah dan kadang ada gumpalan merah
kecoklatan. Pasien juga merasakan adanya benjolan diperut.
Selain itu pasien Pasien juga mengeluh konstipasi. Pasien
mengatakan tanggal mulainya haid selalu berubah atau tidak
teratur. Pasien tidak memiliki riwayat penyakit kista sebelumnya.

Riwayat Haid
Menarche : 13 tahun
Siklus
: tidak teratur
Lama
: 6 hari
Perkawinan
: 1 kali
Menikah usia
: 26 tahun
Lama menikah : 11 tahun
Riwayat KB
: pil KB berhenti tahun 2011

Pemeriksaan Fisik

Keadaan umum : Baik


Kesadaran
: Compos Mentis
Tekanan darah
: 140/90 mmHg
Nadi
: 84 x/ menit
Pernafasan
: 20 x / menit
Suhu
: 36,5
Mata
: Conjungtiva anemis-/ikterik -/-

Sklera

Jantung
murmur(-)
Thoraks

: BJ I-II reguler murni,

gallop(-),

: Suara napas vesikuler


rhonki-/-, wheezing-/Abdomen
:
Inspeksi: tampak adanya massa di sebelah kiri bawah Palpasi :
teraba adanya massa sebesar telur angsa di sebelah
kiri
bawah, nyeri tekan +, mobile, defans muskular
Extremitas

: Edema-/-,
akral hangat+/+

Pemeriksaan Ginekologis
Inspeksi
Wajah : cholasma gravidarum (-)
Payudara: pembesaran payudara -, puting susu
menonjol
Abdomen :
Inspeksi : tampak adanya massa di sebelah kiri bawah
Palpasi : teraba adanya massa sebesar telur angsa di
sebelah kiri bawah, nyeri tekan +, mobile,
defans muskular
Extremitas: edema-/-, akral hangat +/+

Pemeriksaan dalam
VT:
Fluxus(-), Fluor(-)
V/U/V : tidak ada kelainan
PO
: sebesar jempol tangan dan lembut
OUE
: tertutup
Corpus uteri: seperti telur ayam
Adnexa : teraba adanya massa kistik di adneksa kiri sebesar
telur angsa, sedikit mudah digerakkan dan nyeri
tekan(+)
CD
: tidak ada kelainan

Pemeriksaan penunjang
Darah rutin
Hb : 13,7 g/dl
Leukosit : 6,8 ribu
Ht : 39,9 %
Trombosit : 305.000
Foto thorax:
Kesan :
Cor : Tidak membesar
Pulmo : Aspek tenang
Suspek reaksi pleura kiri minimal

Diagnosis kerja
PIA0 dengan kista ovarium sinistra

Rencana pengelolaan

Infus RL 20 tetes/menit
Bed Rest
Puasa 8 jam
Lavement
DC

Follow Up
Tanggal 06 September 2016, Jam 12.45
S : nyeri perut kiri bawah
O : KU : baik kesadaran: CM
TD : 130 / 90 mmHg RR : 18 x/menit
HR : 88 x/menit T : 36,5C
Mata : CA-/-. SI-/C/P: dalam batas normal
Abdomen: pada palpasi: teraba adanya massa pada
perut sebelah kiri bagian bawah sebesar telur angsa,
nyeri tekan(+), BU (+)
Extremitas: edema-/-. Akral hangat+/+

A : PIA0 dengan kista ovarium sinistra


P:

Infus RL 20 tetes per menit


Observasi KU + TTV
Bedrest

Follow Up
Tanggal 07 September 2016, Jam 07.00
S : nyeri di perut sebelah kiri bawah
O : KU : baik kesadaran: CM
TD : 110 / 80 mmHg RR : 20 x/menit
HR : 84 x/menit T : 36,5C
Mata : CA-/-. SI-/C/P: dalam batas normal
Abdomen: pada palpasi: teraba adanya massa pada
perut sebelah kiri bagian bawah sebesar telur angsa,
nyeri tekan(+), BU+
Extremitas: edema-/-. Akral hangat+/+

A:PIA0 dengan kista ovarium sinistra


P:

Infus RL 20 tetes per menit


Puasa persiapan operasi
Pasang DC
Lavement
Cukur bulu pubis

Operasi Kista Ovarii


Tanggal 07 September 2016 jam 15.10
insisi abdomen di linea mediana 12 cm
Eksplorasi : tampak massa tumor sebesar
telur angsa berasal dari kistoma ovari kiri. Isi
cairan coklat 200 cc melekat dengan
jaringan sekitarnya
Uterus besarnya dalam batas normal
Ovarium kanan membesar sebesar bola
pingpong yang berisi cairan jernih

Melakukan
tindakan
kistektomi
ovarium kiri dan drilling pada kista
ovarium kanan
Lakukan pemeriksaan PA
Rawat perdarahan selama op 400 cc
Jahit abdomen lapis demi lapis
Tindakan selesai

Instruksi post OP

Infus RL/D5% 30 tpm


Cefotaxime 2x1 gram IV
Tramadol 2x1 amp IV
Alinamin F 2x1 amp IV
Vitamin C 1x1 amp IV
Cek Hb post operasi setelah tranfusi darah
Puasa

Pemeriksaan Lab paska persalinan


Hb = 12,1 g/dl

Hasil Pemeriksaan PA
Makroskopis
Jaringan dengan ukuran 4 x 3 x 3 cm, ovarium berupa kista
sudah pecah, isi cairan coklat

Mikroskopis
Ovarium kiri menunjukkan kista dengan dinding perdarahan,
timbunan pigmen hemosiderin dan sebukan sel-sel radang
makrofag, limfosit dan histiosit.
Tak tampak tanda ganas

Kesimpulan
Kista endometriosis

Follow up post OP
07 September 2016 20.00 WIB
S : Nyeri di tempat jahitan bekas operasi dengan skala
nyeri 6, belum buang angin
O : TD 110/70 mmHg
N 84 x / menit
RR 18 x/ menit
S 36.4 o C
KU : sakit sedang, Kes : CM
Mata: CA -/-. SI -/C/P dalam batas normal
Abdomen: BU (-), nyeri tekan +
Ekstremitas: Edema (-), akral hangat (+)

A : PIA0 post Kistektomi sinistra atas indikasi kista


ovarium sinistra dan drilling pada ovarium dextra
P : Tirah baring
Infus RL 30 tpm
Observasi KU + TTV

Follow up post OP

08 September 2016 pukul 06.30


S : Nyeri di tempat jahitan bekas operasi dengan
skala nyeri 4, pasien sudah buang angin
O : TD 100/ 60 mmHg
N 86 x / menit
RR 20 x/ menit
S 36.5 o C
KU : sakit sedang, Kes : CM, Mobilisasi (+), PPV = 5 cc
Mata: CA -/-. SI -/C/P dalam batas normal
Abdomen: BU (+), nyeri tekan (+)
Ekstremitas: Edema (-), akral hangat (+)

A : PIA0 post Kistektomi sinistra atas


indikasi
kista ovarium sinistra dan
drilling pada ovarium
dextra
P : Tirah baring
Infus RL 30 tpm
Observasi KU + TTV
Minum dan makan bubur lunak diperbolehkan

Follow up post OP

Tanggal 09 September pukul 06.30 WIB


S : Nyeri di tempat jahitan bekas operasi dengan
nyeri skala 3
O : TD 110/70 mmHg
N 84 x / menit
RR 20 x/ menit
S 36.5 o C
KU : sakit sedang, Kes : CM, Mobilisasi (+), PPV = (-)
Mata: CA -/-. SI -/C/P dalam batas normal
Ekstremitas: Edema (-), akral hangat (+)

A : PIA0 post Kistektomi sinistra atas indikasi


kistoma ovarium sinistra dan drilling atas indikasi
ovarium dextra hari ke II
P : Observasi KU + TTV + Latihan duduk

kista

Follow up post OP

10 September 2016 jam 06.50


S : Nyeri di tempat jahitan bekas operasi dengan
nyeri skala 3
O : TD 130/ 80 mmHg
N 86 x / menit
RR 20 x/ menit
S 36.5 o C
KU : sakit ringan, Kes : CM, Mobilisasi (+), PPV =
(-)
Mata: CA -/-. SI -/C/P dalam batas normal
Ekstremitas: Edema (-), akral hangat (+)

A : PIA0 post Kistektomi sinistra atas indikasi kistoma


ovarium sinistra dan drilling atas indikasi kista
ovarium
dextra hari ke III
P : Mobilisasi, latihan jalan

Follow up post OP

10 September 2016 pukul 12.30


S : Nyeri di tempat jahitan bekas operasi dengan skala nyeri 2
O : TD 110/ 70 mmHg
N 84 x / menit
RR 20 x/ menit
S 36.5 o C
KU : baik, Kes : CM, luka operasi tidak ada tanda-tanda
infeksi
Mata: CA -/-. SI -/C/P dalam batas normal
Ekstremitas: Edema (-), akral hangat (+)

A : PIA0 post Kistektomi sinistra atas indikasi kistoma ovarium


sinistra dan drilling atas indikasi kista ovarium
dextra hari ke III
P : Mobilisasi
Infus lepas
Cefixime 2x1 tab
Ketoprofen 2x1 tab
Multivitamin+ Zinc 1x1 tab
Edukasi: - Istirahat yang cukup
- Gizi yang cukup
- Kontrol sesuai jadwal
- Minum obat sesuai aturan
- Pasien diperbolehkan pulang

Tinjauan Pustaka

Kista Endometriosis

Kista Endometriosis
Kista
endometriosis
atau
endometrioma adalah suatu
tumor jinak dengan permukaan
licin
yang
pada
dinding
dalamnya terdapat suatu lapisan
sel-sel endometrium dan yang
berisi cairan coklat yang terdiri
dari
sel-sel
endometriosis,
eritrosit, hemosiderin, serta selsel
makrofag
yang
berisi
hemosiderin sehingga sering
juga disebut kista coklat

Insiden
Sebanyak 60-80% penderita dismenorea
Sebanyak 30-50% penderita nyeri perut
Sebanyak 25-40% penderita dispareunia
Sebanyak 30-40% pasutri infertilitas
Sebanyak 10-20% pada penderita dengan siklus menstruasi
tidak teratur
Sebanyak 10-15% pada wanita yang dilakukan laparaskopi

Etiologi
Teori implantasi dan regurgitasi
Teori Sampson ini menyatakan bahwa darah haid dapat mengalir dari kavum uteri
melalui tuba fallopi ke rongga pelvis. Kelemahan teori tersebut adalah belum dapat
menerangkan mengenai terdapatnya endometriosis di luar rongga pelvis
Teori metaplasia soelomik
adanya metaplasia dari sel-sel soelom pada mesotelium peritoneum
Perubahan metaplasia dirangsang oleh iritasi maupun infeksi

Etiologi
Teori diseminasi hematogen limfatik
Teori yang dikemukakan Halban ini dapat menjelaskan adanya endometrium yang
ditemukan jauh dari rongga pelvis seperti paru, ginjal dan organ lainnya
Teori imunologi
Banyak ahli berpendapat bahwa endometriosis termasuk penyakit autoimun, karena
banyak memenuhi kriteria sebagai berikut :
Lebih banyak ditemukan pada wanita
Bersifat familier
Menunjukkan aktivitas B poliklonal
Melibatkan multi organ

Etiologi
Teori genetik
Teori ini menjelaskan bahwa kejadian endometriosis bersifat
familier dan menunjukkan suatu pola multifaktorial yang
diturunkan.
Teori faktor lingkungan
Teori ini menerangkan bahwa dioksin, suatu bahan polusi yang
banyak dijumpai pada makanan, mempengaruhi kerja organ
reproduksi dan reseptor beberapa hormon reproduksi seperti
estrogen, progesteron, epidermal growth factor dan prolaktin.

Faktor Resiko

Adanya keluarga terdekat yang mempunyai riwayat kista


Usia
Peningkatan jumlah lemak tubuh perifer
Gangguan haid (polimenore, menoragi)

Klasifikasi
Menurut American Fertility Society
(AFS)
ENDOMETRIOSIS
Peritoneum
Superficial
Dalam
Ovarium
Kanan :

< 1 cm

1 3 cm

> 3 cm

1
2

2
4

4
6

1
4
1/3

2
16
1/3 2/3

4
20
2/3

Tipis
Tebal
Tipis
Tebal

1
4
1
4

2
8
2
8

4
16
4
16

Tipis
Tebal
Tipis
Tebal

1
4
1
4
Sebagian

2
8
2
8

4
16
4
16

Superficial
Dalam

Perlengketan
Ovarium
Kanan
Kiri :
Tuba
Kanan
Kiri :
Kavum Douglas

Nilai

Seluruhnya
40

Berdasarkan hasil laparoskopi diagnostik (LD) didapatkan jumlah skor :


(1). Stadium I (minimal)
: 1- 5
(2). Stadium II (mild) : 6 15
(3). Stadium III (moderate) : 16 20
(4). Stadium IV (severe)
: bila berkisar 40

Gejala klinis
Nyeri pelvis
nyeri pelvik kronik adalah nyeri pelvik hebat yang dialami lebih 6 bulan
Dismenorea
Adanya nyeri pada saat haid
Perdarahan abnormal
kelainan pada ovarium yang luas sehingga fungsi ovarium terganggu
Dispareunia
adanya endometriosis di kavum Douglas
Infertilitas
perlekatan dan gangguan motilitas tubo ovarial dan pengambilan ovum yang pada
akhirnya menyebabkan infertilitas

Diagnosis
Anamnesis
Adanya riwayat nyeri yang berhubungan dengan siklus haid
Nyeri pelvik kronik
Nyeri senggama
Infertilitas
Perdarahan yang tidak teratur
Pemeriksaan ginekologi
Nodul-nodul di daerah kavum douglas dan ligamentum sakrouterina yang sangat
nyeri.
Kadang uterus retrofleksi dan sulit digerakkan di parametrium
Teraba massa kistik yang nyeri pada penekanan.

Diagnosis
Ultrasonografi
Terlihat adanya massa kistik pada salah satu atau kedua ovarium yang
mengarah ke kista coklat.
Terlihat gambaran yang khas dari endometrioma berupa jaringan yang homogen
hipoechoic.
Laparoskopi
Gold standard
Tampak lesi endometriosis yang berwarna merah atau kebiruan dan berkapsul,
juga terlihat lesi endometriosis yang minimal.

Diagnosis
Pemeriksaan laboratorium
Belum ada uji laboratorium yang dapat menegakkan diagnosa pasti
endometriosis
Beberapa pasien mengalami leukositosis dan peningkatan LED
Pada penderita endometriosis yang berat akan ditemukan kadar CA-125 yang
tinggi
Namun peningkatan kadar CA-125 saja tidak dapat menegakkan diagnosa
endometriosis.
Uji fungsional GnRH-a
Dengan pemberian GnRH-a satu kali saja dan gejala menghilang, maka
dikatakan uji (+) dan dapat dianggap bahwa wanita tersebut 70-80%
kemungkinan menderita endometriosis.

Diagnosis
Pemeriksaan Patologi Anatomi
Pada pemeriksaan mikroskopik ditemukan ciri-ciri khas bagi endometriosis yakni kelenjarkelenjar dan stroma endometrium dan perdarahan bekas dan baru berupa eritrosit, pigmen
hemosiderin dan sel-sel makrofag berisi hemosiderin.
Disekitarnya tampak sel-sel radang dan jaringan ikat sebagai reaksi dari jaringan normal
disekelilingnya.

Penatalaksanaan
Tujuan :
Menghilangkan nyeri
Mengatasi Infertilitas
Menghindari kekambuhan

Penatalaksanaan
Beberapa faktor objektif dan subjektif harus dipertimbangkan terlebih dahulu, yaitu :

Usia penderita
Keinginan pasangan tersebut untuk punya anak
Lamanya infertilitas
Lokasi dan luas endometriosis
Berat ringannya gejala
Lesi-lesi pelvis yang berkaitan

Penatalaksanaan
Nyeri pada endometriosis
Obat-obatan (Medisianalis): Bersifat Sementara

NSAID
Pil KB kombinasi
Danazol
GnRH-a

Pembedahan : Untuk terapi jangka panjang


Sukses pada sebagian besar wanita
sebagian gagal memberi manfaat

Penatalaksanaan
Obat-obatan
Indikasi:
Suspek Endometriosis
Endometriosis yang sudah dikonfirmasi

Penatalaksanaan

Penatalaksanaan
Endometriosis yang sudah di konfirmasi dengan
laparaskopi
a)
b)
c)
d)
e)

Endometriosis minimal ringan, aktif


Endometriosis minimal ringan, Non aktif
Endometriosis sedang berat, aktif
Endometriosis sedang berat, non aktif
Endometriosis tersembunyi

Penatalaksanaan

Endometriosis minimal ringan, aktif


Eliminasi lesi dengan koagulasi dengan kauter bipolar, atau vaporisasi
dengan laser
Dapat dilanjutkan dengan terapi hormonal
MPA 1 x 30 mg perhari, atau Danazol 3 x 200 mg perhari, selama 6 bulan

Endometriosis minimal ringan, Non aktif


Kauterisasi lesi atau vaporisasi dengan laser, dan bila setelah tindakan
wanita mengeluh nyeri kembali, perlu diberikan analgetika/anti
prostaglandin.

Penatalaksanaan

Endometriosis sedang berat, aktif


Dilakukan tindakan laparaskopi
lanjutkan dengan terapi hormonal selama 6 bulan

Endometriosis sedang berat, non aktif


Tindakan operatif segera, kauterisasi atau vaporisasi, kistektomi,
dilanjutkan dengan pemberian analgetik atau progesteron.

Endometriosis tersembunyi
Lesi endometriosis yang tidak terlihat pada laparaskopi
sepretkan metilen blue kemudian lakukan kauter
terapi hormonal selama 6 bulan

Penatalaksanaan
Operatif

Konservatif
mempertahankan fungsi reproduksi dan fungsi hormonal ovarium
Untuk mengangkat semua sarang endometriosis dan melepaskan perlengketan dan memperbaiki kembali struktur
anatomi reproduksi
Sarang endometriosis dibersihkan dengan eksisi, ablasi kauter, ataupun laser
Kista endometriosis <3cm di drainase dan di kauter dinding kista
Kista endometriosis > 3cm dilakukan kistektomi dengan meninggalkan jaringan ovarium yang sehat
Dapat dilakukan secara laparatomi ataupun laparoskopi
Laparaskopi menawarkan keuntungan lama rawatan yang pendek, nyeri pasca operatif minimal, lebih sedikit
perlengketan, visualisasi operatif yang lebih baik terhadap bintik-bintiuk endometriosis.
Menjadi pilihan pada perempuan masih muda, menginginkan keturunan, memerlukan hormone reproduksi,
mengingat endometriosis ini merupakan suatu penyakit yang lambat progresif, tidak cenderung ganas dan akan
regresi bila menopause

Radikal
Total abdominal histerektomi, bilateral salpingo-ooferoktomi dan reseksi endometriosis
oDitujukan kepada perempuan yang mengalami penanganan medis atau bedah konservatif gagal dan tidak
membutuhkan fungsi reproduksi
Setelah pembedahan radikal diberikan terapi substitusi hormone.

Penatalaksanaan
Laparatomi
Penatalaksanaan kista endometriosis dilakukan dengan
tindakan pembedahan lebih dahulu kemudian dilanjutkan
dengan pengobatan hormonal selama 6 bulan. Pengobatan
hormonal dimaksudkan untuk mengobati endometriosis yang
tidak terlihat secara makroskopik

Kistektomi
1. Penderita ditidurkan telentang di meja operasi dengan
GA
2. Antisepsis lapangan operasi dengan dan betadine,
demarkasi lapangan operasi dengan doek steril
3. Dibuat insisi kulit pada linea mediana dari supra
simpisis sampai di bawah umbilikus 10 cm,insisi
diperdalam sampai cavum peritoneum terbuka
4. Lakukan identifikasi kista ovarii dan tuba didekatnya

5. Lig ovarii proprium dan suspensorium ovarii dijepit


dengan klem Bebcock sehingga ovarium terfiksasi
6. Lakukan incisi dengan scalpel pada kapsul ovarium
dekat basis kista
7. Gunakan forceps jaringan untuk menjepit kapsul
ovarium, lalu ditarik dengan klem Alis
8. Gunakan gunting Mezenbaum kecil untuk memisahkan
jaringan alveolar antara kista dan kapsul ovarium
sampai kista dapat diangkat

9. Lakukan penjahitan jelujur matras dengan kromik 3.0


pada kapsul ovarium
10. Eksplorasi perdarahan aktif tidak ada
11. Dinding abdomen ditutup lapis demi lapis.
Kulit dijahit subkutis
12. Operasi selesai

Kistektomi

Diseksi kista dan penutupan penutupan

Komplikasi

Obstruksi ginjal dan penurunan fungsi ginjal karena endometriosis dekat kolon atau
ureter.
Torsi ovarium atau ruptur ovarium sehingga terjadi peritonitis karena
endometrioma.
Infertilitas, ditemukan pada 30% 40% kasus. Endometriosis merupakan
penyebab infertilitas kedua terbanyak pada wanita.

Prognosis
Dapat mengalami rekurensi
Angka kejadian rekurensi setelah dilakukan terapi pembedahan adalah 20% dalam
waktu 5 tahun
Pada kasus infertilitas, keberhasilan tindakan bedah berhubungan dengan tingkat
berat ringannya penyakit
Pasien dengan endometriosis sedang memiliki peluang untuk hamil sebanyak 60%,
sedangkan pada kasus-kasus endometriosis yang berat keberhasilannya hanya
35%