Anda di halaman 1dari 48

Drop hand akibat kompresi saraf radialis

Yoce Kurniawan
Moderator
: dr. Melke
Tumboimbela,Sp.S
Narasumber : dr. Corry Mahama, Sp.S

PENDAHULUAN
Drop Hand : jenis dari neuropati radialis, suatu
kelainan fungsional & struktural saraf radialis,
kelainan yang
dihubungkan dengan adanya
bukti klinis, elektrografis & / morfologis yang
menunjukkan
terkenanya
saraf
tersebut/
jaringan penunjangnya.
Tanda-tanda klinisnya yaitu ketidakmampuan
untuk ekstensi jari di sendi metakarpofalangealis
(MCP), dan ketidakmampuan untuk ekstensi
abduksi radial ibu jari

PENDAHULUAN
N. radialis merupakan saraf perifer > sering
cedera karena rentan terhadap cedera
humerus (dangkal & membungkus di sekitar
alur spiral humerus)
kompresi n. medianus (Carpal Tunnel Sindrom)
& kompresi n. ulnaris (Cubital Tunnel Sindrom)
> banyak
Gangguan fungsi motoriknya > menimbulkan
kecacatan dari pada parese n.medianus /
n.ulnaris

ILUSTRASI KASUS
an SP, 7 tahun, pelajar SD, alamat
Tompaso Baru, Minahasa Selatan,
Sulawesi
Rawat jalan di poliklinik saraf
subspesialis EMNG tgl 29 Juni 2016
jam 09.30 WITA dengan keluhan
utama drop hand

2 bln lalu

1,5 bln lalu

jatuh ketika
mengendarai
sepeda & lengan
kirinya tertimpa
sepeda di tanah.
siku kirinya
bengkak & tidak
bisa menggerakan
siku kirinya karena
sakit, tapi masih
bisa menggerakan
pergelangan tangan
kirinya & jari
reposisi tertutup +
gips

Saat ini

dengan ORIF
(Open
Reduction with
Internal
Fixation)
Post op, px
tidak bisa
menggerakan
pergelangan
tangan & jarijari kirinya
Mati rasa di
daerah
punggung
pergelangan

tidak bisa
menggerakan
pergelangan
tangan & jari-jari
kirinya
Mati rasa di
daerah punggung
pergelangan
tangan kirinya

RPD

Tumbuh kembang
normal

RPK

Tidak ada yang pernah


sakit seperti ini

Riw
sosia

Bersifat terbuka, tinggal


bersama kakek dan

Pemeriksaan Fisik
KU : Sedang , Kesadaran ,compos mentis
Status antropometri, BB 261 kg, TB 116 cm.
Tanda vital : TD 110/70 mmHg, N 76x/menit
regular isi cukup, N 20x/menit, suhu 36,5 0C.
Kepala : jejas anemis (-) ikterik pada sclera
(-)
Leher : Pembesaran KGB (-),
trakea letak ditengah.

Pemeriksaan Fisik
Dada : ronkhi/whezzing (-), SI-II
reguler, bunyi jantung tambahan (-)
Abdomen datar, bising usus
normal,hepar dan lien tidak teraba
Ekstremitas edema (-), di siku
lengan kiri terrdapat bekas jahitan
dan teraba ORIF

Pemeriksaan Fisik
Status Neurologis
GCS : E4M6V5 , PERRL +/+, 3 mm/ 3 mm
TRM : kaku kuduk (-), kernig (-), Laseg(-)
Nervus kranialis : NII-XII intak
status motorik :
KO

TO
RP
5555
5555

Nyeri
31
5555

N N
N N

RF
++/++/+
+

nyeri

++/++

++/+
+

Pemeriksaan Fisik
Status sensorik: hipoestesi R.
Dorsum manus sin
Status autonom : hidrosis normal;
inkontinensia uri et alvi -/-

Pemeriksaan Fisik
Dextra

Sinistra

Fleksi lengan

: Bisep

Tde (nyeri)

Ekstensi lengan

: Trisep

Tde (nyeri)

Abduksi ibu jari ke arah radial : Abductor pollicis longus

Fleksi ibu jari

Fleksi pergelangan tangan

: - Flexor carpi radialis


- Flexor carpi ulnaris

Ekstensi pergelangan tangan : - Extensor carpi radialis longus et brevis


- Extensor carpi ulnaris
: Flexor pollicis brevis

Ekstensi ibu jari

: Extensor pollicisbrevis et longus

Fleksi digiti II-V


-

Flexor digitorum superficialis et profundus


Lumbricals
Interossei

Ekstensi digiti II-V


-

Extensor digitorum communis


Extensor indicis
Extensor digitiminimi

PEMERIKSAAN PENUNJANG
x-foto elbow sin AP/Lat, 1 Mei
2016 : tampak fraktur os
humerus kiri 1/3 distal
(suprakondiler)

x-foto elbow sin AP/Lat post ORIF, 24


Juni 2016 : tampak fraktur os humerus
kiri 1/3 distal (suprakondiler) dengan
fiksasi internal, aposisi baik, formasi
kallus (+), osteomilitis (-), udema
jaringan lunak (-)

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan KHS ke-2 lengan, 30 Juni 2016
Tidak didapatkan potensial aksi motoris & sensoris
(CMAP & SNAP) N. Radialis ki sedangkan N. Radialis ka
nilainya normal. Juga N.medianus ke2 sisi menunjukkan
distal latensi, amplitudo, KHS motorik & sensoris nilainya
normal. Klinis didptkan kelumpuhan m. EIP, m. EDC, m.
ECR & m.Brakioradialis ki sedangkan m.Trisep tidak
dievaluasi karena kontraktur. EMG jarum tidak dilakukan
karena px tidak kooperatif

Kesimpulan : Kesan sesuai dengan lesi N.Radialis


kiri di bawah batas fraktur

Follow Up, 19 hr post


EMG
Terdapat perbaikan
kekuatan otot
Fleksi lengan
Ekstensi lengan
Fleksi pergelangan tangan

Dextra

Sinistra

: Bisep

Tde (nyeri)

: Trisep

Tde (nyeri)

: - Flexor carpi radialis


- Flexor carpi ulnaris

Ekstensi pergelangan tangan : - Extensor carpi radialis longus et brevis


- Extensor carpi ulnaris
Abduksi ibu jari ke arah radial
Fleksi ibu jari

: Abductor pollicis longus


: Flexor pollicis brevis

Ekstensi ibu jari

: Extensor pollicisbrevis et longus

Fleksi digiti II-V


-

Flexor digitorum superficialis et profundus


Lumbricals
Interossei

Ekstensi digiti II-V


-

Extensor digitorum communis


Extensor indicis
Extensor digitiminimi

Follow Up, 9 Oktober 2016


10 hr post aff ORIF (30 Agustus
2016)
Terdapat perbaikan kekuatan otot dan
sensoris
Dextra

Sinistra

Fleksi lengan

: Bisep

Ekstensi lengan

: Trisep

: - Flexor carpi radialis

- Flexor carpi ulnaris

Fleksi pergelangan tangan

Ekstensi pergelangan tangan : - Extensor carpi radialis longus et brevis


- Extensor carpi ulnaris
Abduksi ibu jari ke arah radial
Fleksi ibu jari
Ekstensi ibu jari

: Abductor pollicis longus


: Flexor pollicis brevis
: Extensor pollicisbrevis et longus

Fleksi digiti II-V


-

Flexor digitorum superficialis et profundus


Lumbricals
Interossei

Ekstensi digiti II-V


-

Extensor digitorum communis


Extensor indicis
Extensor digitiminimi

Follow up
19 Juli 2016, 2 bulan
post ORIF

9 Oktober, 10 hari post aff


ORIF

Diagnosis
Klinis

: Drop hand sinistra, hipoestesi dorsum

manus
Topis

sinistra
: N. Radialis sinistra

Etiologis

: Kompresi ec ORIF

Patologis

: Lesi N.Radialis sinistra

Tambahan : Post ORIF ec fraktur humerus 1/3


distal

(suprakondiler) sinistra

Penatalaksanaan
konservatif dengan fisioterapi

Prognosis

Quo
Quo
Quo

ad
ad
ad

vitam
functionam
sanationam

: Bonam
: Bonam
: Bonam

PEMBAHASAN

Netters Neuroanatomy, 2002

Inervasi otot

Inervasi otot

Netters Neuroanatomy, 2002

Sensoris
Kepustakaan

Netters Neuroanatomy, 2002

Kasus

Derajat kerusakan pada lesi saraf perifer

Snell, RS., 2010

PEMBAHASAN

Sindrom yang melibatkan saraf radialis


terowongan

Elektrodiagnostik, Herjanto P., 2013

ORIF (Open Reduction with Internal Fixation)

tindakan untuk melihat fraktur langsung


dengan teknik pembedahan termasuk
pemasangan pen, skrup, logam/ protesa u/
memobilisasi fraktur selama penyembuhan
Untuk memperbaiki posisi fragmen tulang
pada faktur terbuka yg tidak bisa di reposisi
tapi sulit dipertahankan
Indikasi : fraktur yang tidak bisa sembuh,
fraktur yang tidak bisa direposisi tertutup,
fraktur yang dapat direposisi tetapi sulit
dipertahankan

Pada pasien terjadinya lesi saraf


radialis karena kompresi
pemasangan ORIF setelah fraktur
humerus sepertiga distal
(suprakondiler) kiri.
Sehingga lokasi lesi juga diperkirakan
lesi saraf radialis sewaktu melilit
humerus pada sulkus radialis

Radiografi dan MRI


Radiografi untuk mendeteksi atau
menyingkirkan fraktur, dislokasi atau
ketidakstabilan, penyembuhan kalus, arthrosis
pada siku, lengan bawah atau tumor
MRI untuk deteksi tumor seperti lipoma &
ganglion, serta aneurisma dan sinovitis
rematoid. Studi di Perancis menemukan
bahwa magnetic resonance neurography
mampu deteksi perubahan saraf selama
kompresi akut dari saraf radial di alur spiral

Ultrasonografi

pembengkakan aksonal
hypoechogenicity dari saraf
kehilangan kontinuitas bundel saraf
laserasi parsial saraf dengan
hilangnya pola fascikulus normal

Elektromiografi (EMG)
2-3 minggu setelah cedera - perluasan
denervasi
Pada regenerasi, aktifitas insersional mulai
pulih, fibrilasi serta potensial denervasi
terkadang diganti potensial aksi motor konservatif
membuktikan regenerasi bbrp minggu/ bulan
sebelum fungsi motor volunter tampak,
melacak adanya sisa unit motor yang berarti
lesi parsial segera setelah cedera

Elektromiografi (EMG)
reinervasi tidak menjamin pemulihan &
digabung dg temuan klinis, bernilai
mengenal anomali dari inervasi
menemukan lokasi cedera & obv
pemulihan
mungkin tidak (+) selama 3-6 minggu
setelah cedera. 4 bulan setelah cedera,
pemulihan saraf harus dibuktikan jika
saraf terputus, tidak ada perubahan akan
diamati selama 3-6 minggu

Elektrodiagnostik, Herjanto P., 2013

Elektrodiagnostik, Herjanto P., 2013

intra operative neurophsiology


monitoring (IOM)
suatu cara untuk memonitor fungsi
saraf selama pelaksanaan operasi
susunan saraf pusat maupun perifer.
Tujuan utama adalah untuk
mengurangi defisit neurologis paska
operasi

EMG Kasus
Pemeriksaan KHS ke-2 lengan, 6 mgg post ORIF
Tidak didapatkan potensial aksi motoris & sensoris
(CMAP & SNAP) N. Radialis ki sedangkan N. Radialis ka
nilainya yang normal. Juga N.medianus ke2 sisi
menunjukkan distal latensi, amplitudo, KHS motorik &
sensoris nilainya normal. Klinis didptkan kelumpuhan m.
EIP, m. EDC, m. ECR & m.Brakioradialis ki sedangkan
m.Trisep tidak dievaluasi karena kontraktur. EMG jarum
tidak dilakukan karena px tidak kooperatif

Kesimpulan : Kesan sesuai dengan lesi N.Radialis


kiri di bawah batas fraktur

Penatalaksanaan Trauma Akut Saraf Perifer

1. Trauma terbuka : eksplorasi &


identifikasi saraf
- bila luka steril segera disambung
- bila ujung-ujung sarafnya hancur & kotor,
ujung-ujung tsb didekatkan dg 1 jahitan,
stlh 2-3 mgg dilakukan penyambungan dg
memotong ujung2 yg hancur &
memobilisasinya agar dpt dipertemukan
dg bedah mikro stlh debridemen & irigasi.

Penatalaksanaan Trauma Akut Saraf Perifer

Trauma Tertutup, neuropraksia &


aksonotmesis, tunggu waktu pemulihan.
tanda-tanda pemulihan (-) maka segera
dilakukan eksplorasi untuk melakukan
penyambungan. Delayed repair > 4 bln
perlu pikirkan bahwa bagian distal lesi saraf
tersebut sudah mengalami fibrotik dan
atrofi otot-otot sehingga hasil akhir tidak
memuaskan, batasnya 4-6 minggu pasca
trauma

Prinsip umum penanganannya

Mencegah deformitas
Koreksi deformitas otot dan
Memperbaiki keseimbangan
Kosmetik
Rehabilitasi

tulang
otot

Tatalaksana konservatif
radial tunnel syndrome, hanya nyeri :
konservatif 12 mgg
sindrom interosea post, konservatif 6-12
mgg
Sindrom Wartenberg baik diobati
nonoperatif, aplikasi steroid lokal atau
iontophoresis digunakan sedangkan
dekompresi saraf ditunjukkan hanya
dalam kasus-kasus resisten

Tatalaksana konservatif
Segera setelah operasi, splint digunakan
untuk menempatkan lengan & pergelangan
tangan posisi istirahat dg siku ditekuk
sampai 90 & lengan bawah supinasi netral.
Latihan gerak bertahap dg splint fungsional
Rehabilitasi motorik & sensorik
&disesuaikan dg px. Lat. range of motion
(ROM) dimulai pd mgg 1, splint u/ gerakan
peregangan & penguatan

Tatalaksana konservatif pada kasus


Segera setelah operasi menggunakan
gibs
Latihan gerak bertahap setelah lepas
gibs

Komplikasi operasi
Komplikasi utama dari kompresi saraf
radial adalah cedera saraf selama
eksplorasi bedah. Komplikasi lain
termasuk infeksi, dehiscence luka,
pembentukan keloid, dan tidak
terjadinya pemulihan fungsi lengkap
tanpa alasan yang jelas
Pada kasus terjadi cedera saraf

Prognosis
Neurapraksia : 2 8 minggu
axonotmesis 18bln & ditentukan
seberapa jauh regenerasi akson harus
tumbuh, kecepatan regenerasi 1 mm/hr
neurotmesis, hasilnya tidak memuaskan
bahkan dengan terapi bedah

Pada kasus terjadi neuropraksia