Anda di halaman 1dari 13

PERAWATAN PALIATIF PADA

PASIEN DENGAN CHD


( Congenital Heart
Diseases )

Anggota Kelompok 4

Gita Dwi Astuti


Gustika Ulfa
Hendra Pria Utama
Hendrix Ardha Nugraha
Herlina Mei Sukowati
Ika Wahyu Ning Tiyas
Izzul Fikri Taufiki Akbar
Karina Anggi
Kuni Kurotalakyuni

S1 Keperawatan tingkat IV-B

DEFINISI
Congenital heart diseases (CHD) atau penyakit jantung bawaan
adalah sekumpulan malformasi struktur jantung atau pembuluh
darah besar yang telah ada sejak lahir. Penyakit jantung bawaan
yang kompleks terutama ditemukan pada bayi dan anak.
Apabila tidak dioperasi, kebanyakan akan meninggal waktu
bayi. Apabila penyakit jantung bawaan ditemukan pada orang
dewasa, hal ini menunjukkan bahwa pasien tersebut mampu
melalui seleksi alam, atau telah mengalami tindakan operasi
dini pada usia muda (IPD FKUI : 1996)
Congenital heart disease (CHD) atau penyakit jantung bawaan
adalah kelainan jantung yang sudah ada sejak bayi lahir, jadi
kelainan tersebut terjadi sebelum bayi lahir. Tetapi kelainan
jantung bawaan ini tidak selalu memberi gejala segera setelah
bayi lahir tidak jarang kelainan tersebut baru ditemukan setelah
pasien berumur beberapa bulan atau bahkan beberapa tahun
(Ngastiyah:1997).

ETIOLOGI
Faktor Prenatal :
Ibu menderita penyakit infeksi : rubella, influenza atau chicken
fox.
Ibu alkoholisme.
Umur ibu lebih dari 40 tahun.
Ibu menderita penyakit Diabetes Mellitus (DM) yang
memerlukan insulin.
Ibu meminum obat-obatan penenang atau jamu dan
sebelumnya ikut program KB oral atau suntik, minum obatobatan tanpa resep dokter,
Terpajan radiasi (sinar X).
Gizi ibu yang buruk.
Kecanduan obat-obatan yang mempengaruhi perkembangan
embrio.
Faktor Genetik
:
Anak yang lahir sebelumnya menderita penyakit jantung
bawaan.
Ayah / Ibu menderita penyakit jantung bawaan.
Kelainan kromosom seperti Sindrom Down.
Lahir dengan kelainan bawaan yang lain

PATOFISIOLOGI
Kelainan jantung congenital menyebabkan dua perubahan hemodinamik
utama. Shunting atau percampuran darah arteri dari vena serta perubahan
aliran darah pulmonal dan tekanan darah. Normalnya, tekanan pada jantung
kanan lebih besar daripada sirkulasi pulmonal. Shunting terjadi apabila darah
mengalir melalui lubang abnormal pada jantung sehat dari daerah yang
bertekanan lebih tinggi ke daerah yang bertekanan rendah, menyebabkan
darah yang teroksigenisasi mengalir kedalam sirkulasi sistemik.
Aliran darah pulmonal dan tekanan darah meningkat bila ada keterlambatan
penipisan normal serabut otot lunak pada arteriola pulmonal sewaktu lahir.
Penebalan vascular meningkatkan resistensi sirkulasi pulmonal, aliran darah
pulmonal dapat melampaui sirkulasi sistemik dan aliran darah bergerak dari
kanan ke kiri. Perubahan pada aliran darah, percampuran darah vena dan
arteri, serta kenaikan tekanan pulmonal akan meningkatkan kerja jantung.
Manifestasi dari penyakit jantung congenital yaitu adanya gagal jantung,
Perfusi tidak adekuat dan kongesti pulmonal.

KLASIFIKASI
Terdapat berbagai cara penggolongan
penyakit jantung congenital.
Penggolongan yang sangat sederhana
adalah penggolongan yang
didasarkan pada adanya sianosis
serta vaskularisasi paru, antara lain :

Congenital Heart Diseases (CHD) non


sianotik dengan vaskularisasi paru
bertambah

Congenital Heart Diseases (CHD) non


sianotik dengan vaskularisasi paru normal

Congenital Heart Diseases (CHD)


sianotik dengan vaskularisasi paru
berkurang

Congenital Heart Diseases (CHD) sianotik


dengan vaskularisasi paru bertambah

CHD / PJB Non sianotik dengan


vaskularisasi paru bertambah

MANIFESTASI KLINIS
Dyspnea
Difficulty breathing (Kesulitan
Bernafas)
Pulse rate over 200 beats/mnt (Nadi
lebih dari 200 kali/menit)
Recurrent respiratory infections
(infeksi saluran nafas yang berulang)

KOMPLIKASI
Pasien dengan penyakit jantung congenital terancam mengalami
berbagai
komplikasi antara lain:
-Gagal jantung kongestif / CHF.
-Renjatan kardiogenik/ Henti Jantung.
-Aritmia.
-Endokarditis bakterialistis.
-Hipertensi.
-Hipertensi pulmonal.
-Tromboemboli dan abses otak.
-Obstruksi pembuluh darah pulmonal.
-Hepatomegali (jarang terjadi pada bayi prematur).
-Enterokolitis nekrosis.
-Gangguan paru yang terjadi bersamaan (misalnya sindrom gawat
nafas atau displasia bronkkopulmoner).
-Perdarahan gastrointestinal (GI), penurunan jumlah trombosit.
-Hiperkalemia (penurunan keluaran urin).
-Gagal tumbuh.

PEMERIKSAAN
PENUNJANG
Foto thorak : Melihat atau evaluasi adanya atrium dan ventrikel kiri membesar secara signifikan
(kardiomegali), gambaran vaskuler paru meningkat.
Echokardiografi : Rasio atrium kiri tehadap pangkal aorta lebih dari 1,3:1 pada bayi cukup bulan
atau lebih dari 1,0 pada bayi praterm (disebabkan oleh peningkatan volume atrium kiri sebagai
akibat dari pirau kiri ke kanan).
Pemeriksaan laboratorium : Ditemukan adanya peningkatan hemoglobin dan hematokrit (Ht) akibat
saturasi oksigen yang rendah. Pada umumnya hemoglobin dipertahankan 16-18 gr/dl dan
hematokrit antara 50-65 %. Nilai BGA menunjukkan peningkatan tekanan partial karbondioksida
(PCO2), penurunan tekanan parsial oksigen (PO2) dan penurunan PH.
Pemeriksaan dengan Doppler berwarna : digunakan untuk mengevaluasi aliran darah dan arahnya.
Elektrokardiografi (EKG) : bervariasi sesuai tingkat keparahan, adanya hipertropi ventrikel kiri,
kateterisasi jantung yang menunjukan striktura.
Kateterisasi jantung : hanya dilakukan untuk mengevaluasi lebih jauh hasil ECHO atau Doppler
yang meragukan atau bila ada kecurigaan defek tambahan lainnya.
Diagnosa ditegakkan dengan cartography & Cardiac iso enzim (CK,CKMB) meningkat.

DIAGNOSA
1. Penurunan cardiac output
berhubungan dengan penurunan
KEPERAWATAN
kontraktilitas jantung, perubahan tekanan jantung.
2. Tidak efektif pola nafas berhubungan dengan peningkatan
resistensi vaskuler paru, kongesti pulmonal.
3. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan
iskemia miokard.
4. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
berhubungan dengan kelelahan pada saat makan dan
meningkatnya kebutuhan kalori.
5. Perubahan pertumbuhan dan perkembangan berhubungan
dengan tidak adekuatnya suplai oksigen dan nutrisi ke
jaringan.
6. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelelahan,
ketidakseimbangan antara pemakaian oksigen oleh tubuh
dan suplai oksigen ke jaringan.
7. Peningkatan volume cairan tubuh berhubungan dengan
kongestif vena, penurunan fungsi ginjal.
8. Kurang pengetahuan ibu tentang keadaan anaknya
berhubungan dengan kurangnya inforrnasi.
9. Koping keluarga tidak efektif berhubungan dengan kurang
pengetahuan keluarga tentang diagnosis/prognosis
penyakit anak.

PENATALAKSANAAN
PALIATIF
Penatalaksanaan nyeri
Nyeri merupakan masalah paliatif
Upaya penatalaksanaan nyeri :
Tentukan penyebab nyeri : penyakit infeksi : rubella, influenza atau
chicken fox.
Tentukan jenis nyeri : somatik, viseral,propioseptif, neurogenik
Tentukan beratnya nyeri : nyeri ditentukan dengan skla nyeri 0 10
Gunakan analgesik sesuai panduan penatalaksanaan nyeri dari
WHO : anak tangga analgesik
Step 1. : aspirin, parasetamol + adjuvan
Step 2.: kodein + adjuvan + NSAID
Step 3. : morfin, pethidin, fentanyl + non-opioid(NSAID)
Untuk mengurangi rasa nyeri menggunakan teknik distraksi
relaksasi

INTERVENSI