Anda di halaman 1dari 35

PENGANTAR

KEPERAWATAN
ETIKA KEPERAWATAN
OLEH : ABRAHAM B. R,
Ns., S.Kep

NILAI

Nilai
adalah
sifat-sifat
(hal)
yang
penting/berguna
bagi
kemanusiaan
misalnya nilai-nilai agama yang perlu
diindahkan
(Poerwadarminta
dalam
Sumijatun, 2011).
Menurut Iskandar (1992) nilai-nilai dan
orientasi nilai mengacu pada konsepsi
tentang hal-hal atau karakteristik manusia
yang dikehendaki dan terpuji.

Nilai dan orientasi nilai menampilkan


gambaran
tentang
dunia
yang
seharusnya dan dijadikan pedoman
(cara) orang-orang untuk melakukan
tindakan secara normal.
Nilai mengacu pada sikap yang
berkaitan
dengan
tujuan
yang
diinginkan dan keadaan akhir yang
ingin dicapai yaitu untuk memenuhi
kebutuhan-kebutuhan dasar manusia
secara ideal serta memberikan
keuntungan lainnya bagi orang

Beberapa Nilai yang dianggap


penting antara lain :
Kelangsungan hidup individu dan
kelompok
Pengalaman diri
Keamanan
Identitas (jati diri)
Kebersamaan

Penghargaan dan penghormatan diri


Kemampuan-kemampuan diri
Hal-hal yang bersifat pribadi
Prestasi
Perwujudan diri

Menurut Kozier. B, dkk (1997) nilai


adalah
kebebasan
pilihan
dan
kepercayaan atau perilaku yang
sangat berharga bagi seseorang,
objek, ide atau kegiatan.
Nilai didapat dari budaya seseorang,
adat istiadat, agama, tradisi dan juga
kelompok seumat serta keluarga.

Nilai akan mendasari perilaku, jika


seseorang telah mendasari nilai-nilai
yang dianut maka secara konsisten
akan
tercermin
dalam
pola
perilakunya karena orang tersebut
telah mempunyai control internal.

Perawat telah menetapkan nilai dan


harus
mengembangkan
kesadaran
tentang system nilai yang mereka anut
selanjutnya
diharapkan
dapat
memengaruhi asuhan keperawatan yang
akan diberikan kepada klien, sebagai
contoh : Perawat meyakini bahwa
melibatkan
keluarga
dalam
proses
perawatan akan mendapatkan hasil yang
lebih baik jika dibandingkan dengan
tidak adanya keterlibatan keluarga.

ETIKA KESEHATAN

Menurut
Leenan
G.S
(dalam
Sumijatun, 2011) Etika kesehatan
adalah
Etika
khusus
dengan
menerapkan nilai-nilai dalam bidang
pemeliharaan/pelayanan kesehatan
yang dilandasi oleh nilai-nilai individu
dan masyarakat yang berlaku.

Menurut Soeryono Soekamto (1980)


Etika kesehatan mencakup penilaian
terhadap gejala kesehatan baik yang
disetujui maupun yang tidak disetujui
serta
mencakup
rekomendasi
bagaimana
bersikap/bertindak
secara
pantas
dalam
bidang
kesehatan.

Etika Kesehatan mencakup ruang lingkup minimal seperti :

Treatment pada klien yang


menjelang ajal
Unsur yang diisinkan untuk
mengakhiri penderitaan dan hidup
klien (dengan sengaja atas
permintaan diri sendiri dan keluarga)
Pembatasan perilaku
Percobaan manusiawi dan informed
consent

Permasalahan genetika
Kesuburan dan kelahiran
Pemberian asuhan kesehatan dan
biayanya
Pembatasan kelahiran dan
kependudukan
Aborsi dan sterilisasi

Transplantasi organ
Hemodialisis
Pengungkapan kebenaran dan
kerahasiaan dalam bidang
kedokteran.

Secara singkat dapat disimpulkan


bahwa ada hubungan yang perlu
dilandasi oleh suatu pendirian dan
kepedulian antara klien beserta
keluarganya
(sebagai
kelompok
penerima jasa) dengan tenaga
professional
kesehatan
(sebagai
kelompok pemberi jasa).

ETIKA KEPERAWATAN

Dalam
literature
keperawatan
dikatakan bahwa etika dimunculkan
sebagai
moralitas,
pengakuan
kewenangan,
kepatuhan
pada
peraturan, etika sosial, loyal pada
rekan kerja serta bertanggungjawab
dan mempunyai sifat kemanusiaan.

Untuk menjadi seorang professional


yang mampu berpartisipasi secara
aktif dalam dimensi etik praktik
keperawatan, perawat harus secara
terus
menerus
mengembangkan
suatu perasaan yang kuat tentang
identitas moral mereka, mencari
dukungan dari sumber professional
yang ada, serta mengembangkan
kemampuan dalam bidang etik.

Menurut Cooper (1991) dalam Potter


dan Perry (1997), Etika keperawatan
dikaitkan dengan hubungan antar
masyarakat dengan karakter serta
sifat perawat terhadap orang lain.

Pengetahuan keperawatan diperoleh


melalui keterlibatan pribadi dan
emosional dengan orang lain serta
ikut terlibat dalam masalah moral
mereka.

Perawat yang professional akan memiliki


empati kepada orang lain/klien, dapat
memahami situasi yang dialami serta
sebanyak mungkin dapat memahami
kehidupan
dan
pengalaman
klien
sehingga mampu melakukan perubahan
posisi yang tadinya berfokus pada
perubahan sendiri menjadi berfokus pada
klien serta mampu mengambil tindakan
demi kepentingan klien tersebut.

Etika keperawatan sebagai tuntutan


bagi profei perawat bersumber dari
pernyataan
Florence
Nightingale
dalam ikrarnya (Nightingale Pledge),
yang berbunyi sebagai berikut :

Saya sungguh-sungguh berjanji


pada Tuhan dan demi keberadaan
majelis ini, untuk menjalani hidup
saya dalam kesucian dan
melaksanakan profesi saya dengan
setia.

Saya akan pantang melakukan


apapun yang merugikan atau
mencelakakan, dan tidak akan
mengambil atau dengan sengaja
memberikan obat yang berbahaya

Dengan segala upaya saya akan


mengangkat standar profesi saya
dan akan menjaga semua hal yang
bersifat pribadi, yang diberikan untuk
saya jaga, dan semua affair keluarga
yang saya ketahui dalam praktik
panggilan saya

Pernyataan tersebut dianggap sebagai


ikrar profesi keperawatan pada
masyarakat, kemudian banyak
diartikan sebagai janji bahwa profesi
keperawatan berkewajiban untuk :

1. Membantu yang sakit untuk


mencapai keadaan sehat.
2. Membantu yang sehat untuk
mempertahankan kesehatannya
3. Membantu mereka yang tidak dapat
disembuhkan untuk menyadari
potensinya.

4. Membantu seseorang yang


menghadapi kematian untuk hidup
seoptimal mungkin sampai menjelang
ajal.

Etika
keperawatan
mengarahkan
perawat untuk menjadi sensitif pada
setiap situasi
dan memberikan
respons berdasarkan pengetahuan
teknis
dan
moral,
kompetensi,
integritas pribadi dan rasa kasih.

Etika
keperawatan
adalah
suatu
ungkapan tentang bagaimana perawat
wajib bertingkah laku.
Menurut Fry (1994), Etika keperawatan
merujuk
pada
standar
etik
yang
menentukan dan menuntun perawat
dalam praktik sehari-hari seperti berlaku
jujur terhadap klien, menghargai hak-hak
klien serta beradvokasi atas nama klien.

Brown, Kitson, dan Mc.Knight (1992)


dalam Potter dan Perry (1997)
menyatakan bahwa perawat harus
dapat
memahami
bahwa
pada
dasarnya manusia akan mencoba
untuk dapat melakukan asuhan pada
dirinya sendiri agar dapat bertahan
hidup.

Oleh karena itu perawat hendaknya


dapat membaca situasi yang dialami
oleh orang lain dan mencoba sebanyak
mungkin untuk dapat memahami
kehidupan dan pengalaman orang lain.
Sebagai tenaga profesional perawat
akan mampu melakukan perubahan
posisi yang berfokus pada diri sendiri
menjadi yang berfokus pada orang lain.

Etika akan memandu perawat agar


lebih peka terhadap hubungan yang
tidak
seimbang,
yang
dapat
mengacu
pada
penyalahgunaan
kekuasaan seseorang kepada orang
lain baik secara sengaja maupun
tidak.

Dalam standar profesi dan kode Etik


perawat Indonesia yang disampakan
oleh PP-PPNI (2010), dinyatakan
bahwa dalam praktik profesional,
legal dan etis terkandung unsur
akuntabilitas, praktik etis dan praktik
legal yang rinciannya sebagai berikut
:

1. Akuntabilitas
Menerima tanggung gugat
terhadap
keputusan dan tindakan
profesonal sesuai dengan lingkup
praktik
dan
hukum/peraturan
perundangan.

2. Praktik Etis
A. Menerapkan prinsip etik dalam
keperawatan sesuai dengan kode
etik perawat Indonesia.
B. Menerapkan sikap menghormati
hak privasi dan martabat klien
C. Menerapkan sikap menghormati
hak klien untuk memilih dan
menentukan
sendiri
asuhan
keperawatan dan kesehatan yang
diberikan.

D.
Menjaga
kerahasiaan
dan
keamanan informasi tertulis, verbal
dan elektronik yang diperoleh dalam
kapasitas sebagai profesional.
3. Praktik legal.
Melakukan praktik keperawatan
profesional sesuai dengan peraturan
perundangan.