Anda di halaman 1dari 24

PERSEMAIAN/PEMBIBITAN

PENGERTIAN

Persemaian adalah suatu areal pemeliharaan bibit yang


lokasinya tetap dan dibangun dengan peralatan yang rapi dan
teratur yang berkaitan dengan penghutanan kembali areal
tanah kosong yang rusak ataupun peruntukan lainnya.

FUNGSI PERSEMAIAN
Untuk memperoleh bibit yang bermutu tinggi dalam jumlah
yang memadai dan tepat waktu untuk ditanam di lapangan.

ASPEK-ASPEK PERSEMAIAN

1. Aspek Teknis
. Letak persemaian
. Luas persemaian
. Jalan angkutan

2. Aspek Fisik
Ketersediaan air
Media tumbuh
Topografi/kelerengan

3. Aspek Tenaga Kerja


4. Bahan / Material

PERENCANAAN PERSEMAIAN

1. Tipe/Jenis Persemaian
2. Lokasi Persemaian
3. Peralatan Dan Tenaga Kerja
4. Tata Waktu

TIPE PERSEMAIAN
1. PERSEMAIAN SEMENTARA
Pada umumnya berukuran tidak terlalu luas, hanya digunakan
untuk beberapa kali produksi bibit dan letaknya dekat dengan
lokasi penanaman
Keuntungan Persemaian Sementara
a) Kesuburan tanah tidak menjadi perhatian, karena persemaian
selalu berpindah mendekati lokasi penanaman.
b) Biaya pengangkutan bibit ke lokasi penanaman murah.
c) Kondisi ekosistem persmaian mirip dengan kondisi lapang,
sehingga bibit tidak mengalami perubahan lingkunan yang
mendadak setelah dipindah ke lapang.
d) Pengelolaan persemaian mudah, karena areal tidak terlalu luas
dengan tenaga kerja yang sedikit.
. Kerugian Persemaian Sementara
Kadang kurang berhasil dengan baik karena kurangnya tenaga
yang terlatih.

TIPE PERSEMAIAN
2. PERSEMAIAN PERMANEN
Pada umumnya berukuran luas, digunakan dalam jangka lama
dan bangunan yang dibuat bersifat permanen.
Keuntungan Persemaian Permanen
a) Bibit yang dihasilkan lebih baik atau berkualitas karena
ditangani oleh pekerja yang sudah terlatih.
b) Memungkinkan untuk melakukan kegiatan persemaian secara
mekanis
c) Pengawasan lebih efisien dengan tenaga tetap yang terpilih
d) Biaya produksi bibit lebih murah
. Kerugian Persemaian Permanen
Biaya investasi awal lebih mahal karena membangun persemaian
dengan skala luas dan permanen.

PEMILIHAN LOKASI PERSEMAIAN


1. AKSEBILITAS MUDAH
a. Letak persemaian sebaiknya ditengah tengah atau dekat dengan
lokasi penanaman.
b. Dipinggir jalan angkutan
c. Dipilih tempat yang mudah mendapatkan tenaga kerja dan bahan
bahan untuk kegiatan
d. Bebas dari banjir

2. Ketersediaan sumber air


Lokasi tersebut harus cukup tersedia air sepanjang tahun dan sedapat
mungkin airnya jernih, air tersebut sedikit mungkin mengandung alkali
bukan air asin atau berasa asam

3. Kondisi lapang
Tempat yang datar, dengan kemiringan tidak lebih dari 5%

4. Tanah
Dipilih lokasi tanah yang subur degan aerasi bagus tidak terlalu liat dan
bebas dari batu dan kerikil

5. Iklim Dan Ketinggian Tempat


Iklim dan ketinggian tempat diatas permukaan laut harus sesuai dengan
persyaratan yang diperlikan bagi jenis yang ditanam.

6. Perlindungan Terhadap Angin Kencang


Perlu dihindari pemilihan lokasi yang sering mendapat hembusan angin
kencang atau angin kering yang menghembus pada musim kemarau.

Penentuan Luas Persemaian (Alrasjid, 1988)


Le : 10
6

A (100 + S ) E
CxBxD

L : Le + Lc

Le
A
S
C
B
D
E
Lc
10/6
L

=
=
=
=
=
=
=
=
=
=

Luas Efektif Persemaian ( Ha )


Rencana Luas Areal Penanaman ( Ha )
Jumlah Bibit Sulaman ( % )
Jarak Tanam Di Areal Penanaman ( M2)
Persen Jadi Bibit Di Persemaian ( % )
Jumlah Bibit Tiap Bedeng
Luas Bedeng ( M2)
Luas Areal Cadangan ( Ha )
Konstanta
Luas Total Persemaian ( Ha )

TEKNIS KEGIATAN
I . CARA PENGADAAN BIBIT DARI BIJI
1. Pengadaan Benih
a. Biji dikumpulkan dari pohon induk yang fenotipnya bagus.
b. Melakukan seleksi biji dengan memilih biji yang baik.
c. Benih yang dipilih bermutu baik.
d. Pembelian benih yang bersertifikat

2. Persiapan Media Semai


e. Media yang dipakai memiliki sifat fisik dan kimia tanah yang baik
dan bebas penyakit.
f. Campuran media persemaian adalah top soil, gambut dan sekam
padi dengan perbandingan 3 ; 2 ; 1
g. Sterelisasi media persemaian dengan penyemprotan fungisida.

TEKNIS KEGIATAN

3. Penyemaian Benih
a. Penyiraman media semai

dengan air sebelum dilakukan

penaburan atau penyapihan.


b. Penyemaian benih pada bedeng tabur yang telah diisi media
semai.
c. Penyemaian langsung pada polibag yang telah diisi media semai.

TEKNIS KEGIATAN

4. Pemeliharaan bibit
a.

Pemberian naungan

b.

Penyiraman benih

c.

Pemupukan

d.

Pengendalian gulma.

e.

Pengendalian hama dan penyakit.

TEKNIS KEGIATAN

5. Pengangkutan bibit
a.

Penanaman dilakukan setelah bibit siap tanam yaitu dengan


tinggi 30 cm

b.

Pengangkutan bibit hendaknya menggunakan kontainer


yang terbuat dari kayu atau plastik

c.

Sebelum bibit diangkut perlu disiram

d.

Pengangkutan jarak jauh menggunakan kendaraan tertutup.

TEKNIS KEGIATAN
II. PENGADAAN BIBIT DARI STEK
1. Pengadaan Bibit Stek
Bahan berasal dari cabutan atau kebun pangkas
muda/ortothrop
a.

b.

dari tunas

Cara memotong stek


. Memilih tunas ortothrop (vertikal)
. Memotong pada tunas yang tersisa 2 3 helai daun.
. Memotong tunas pada saat istirahat.
. Memotong stek tepat atau sedikit dibawah nodum.
. Daun dipotong sehingga tersisa sepertiga atau setengahnya.
Perlakuan stek setelah digunting
. Stek hasil potongan diletakkan diair.
. Mencelupkan batng stek pada hormon.
. Menanam stek yang telah diberi hormon pada media.

TEKNIS KEGIATAN
2. Persiapan dan pengisian media
a.

Jenis media padat yang digunakan :


- Pasir
- Arang Sekam yang dibakar.
- Gambut

b.

Jenis media cair yang digunakan :


- Air

3. Pemberian hormon
Hormon yang digunakan adalah Rootone F diberikan dengan
cara :
a.
Cara oles
b.
Cara celup
c.
Cara langsung

TEKNIS KEGIATAN
4. Pemeliharaan Bibit
a.

Pemeliharaan selama proses perakaran


Menjaga lingkungan agar stek tetap lembab, bersih dan tidak
terdapat jamur.

b.

Penyapihan dan inokulasi mikoriza


Melakukan penyapihan pada stek yang telah berakar.
Memindahkan stek pada polibag.
Memindahkan stek yang teal disapih pada sungkup atau
ruang aklimatisasi.

TEKNIS KEGIATAN
III. PENGADAAN BIBIT DENGAN KULTUR JARINGAN
a. Memilih dan menyiapkan tanaman induk sebagai sumber
eksplan
b. Menyiapkan media kultur
c. Sterilisasi eksplan
d. Inisiasi kultur atau culture establishment
e. Multiplikasi atau perbanyakan porpagasi ( bahan tanaman )
yang diperbanyak seperti tunas atau embrio
f.

Pemanjangan tunas induksi dan perkembangan akar

g. Aklimatisasi ke lingkungan eksternal.

TATA WAKTU PROSES


PEMBUATAN BIBIT
Sistem Biji Non Dipterocarpaceae
Sistem Biji Dipterocarpaceae
Sistem Cabutan Dipterocarpaceae
Sistem Stek Pucuk Non Dipterocarpaceae
Sistem Stek Pucuk Dipterocarpaceae
Sistem Stek Pucuk Metode Koffco (Komatsu Forda Fog Cooling Systim)
Sistem Stump Non Dipterocarpaceae
Sistem Stek Batang Non Dipterocarpaceae

STANDARISASI KUALITAS SEMAI SIAP TANAM


Kesehatan Bibit
- Kurang Sehat
- Tidak Sehat

Sehat
:
Bibit sehat, bebas hama penyakit,
pertumbuhan optimal, dan tidak rusak secara mekanis.
:
Bibit sehat tetapi pertumbuhan tidak optimal, atau ada
tanda sebagian kecil tanaman terserang hama penyakit
ringan.
:
Bibit mengalami serangan hama penyakit cukup berat,
tetapi masih bisa tumbuh

Kekompakan Akar
- Kompak
: Media tidak buyar samapi 7-10 kali dijatuhkan
- Kurang Kompak : Media tidak buyar sampai 4 6 kali dijatuhkan
- Tidak kompak : Media tidak buyar sampai 1 - 3 kali dijatuhkan

Kelurusan
- Lurus
- Kurang Lurus
- Tidak Lurus

:
:
:

Bibit berbatang lurus ( 0 20%)


Bibit agak bengkok ( 21 40% )
Bibit bengkok ( 41 70%)

NURSERY KM. 2 KENANGAN


Luas
:
Kapasitas :
Jenis
:

2.5
Ha
10 Jt Btg/Ha
Fast Growing

NURSERY BIRAWA
Luas
:
Kapasitas :
Jenis
:

1.5
Ha
1.75 jt Btg/Ha
Dipterocarpaceae

Bibit Siap Tanam

Pencampuran
Media Media
Pencampuran

Green House
Shading net

NURSERY KOFFCO
Bak Stek

Bak Stek

Kebun Pangkas Kebun


Dalam Pangkas
Polibag

Shading Net

Bak Stek

Stek Siap Disapih

Pencampuran Media

Green house

Green House

PENGUNDUHAN BUAH

Pengunduhan

Buah Meranti

Bibit Siap Tanam

Bibit umur 2

Pohon Induk

KULTUR JARINGAN

Tempat Perbanyakan
Tempat Sterilisasi

Bangunan Kultur

empat Pemeliharaan
Hasil Perbanyakan