Anda di halaman 1dari 34

MANAJEMEN

STRATEJIK
STRATEGI ALIANSI
ALIMUKDIN SIMANJUNTAK (1510248160)
DHARMA WAHYUDI (1510248534)
DWIKY SYAHPUTERA (1510248287)
RECKY RIANDIKA SAYANDRA
(1510248228)
KHRISNA DELFITRI (1510248352)

Apa Itu Strategi Aliansi?


Strategi aliansi atau juga dikenal dengan istilah aliansi strategis terbentuk apabila ada
dua atau lebih perusahaan atau organisasi independen yang bekerjasama dalam
pengembangan, manufaktur, atau penjualan suatu produk atau jasa. Strategi aliansi
bisa dikelompokkan dalam tiga kategori yaitu,

nonequity alliances (aliansi non-ekuitas),


Pada nonequity alliances (aliansi non-ekuitas), perusahaan-perusahaan setuju untuk
bekerjasama dalam mengembangkan, manufaktur, atau menjual produk atau jasa, tetapi
masing-masing perusahaan tidak memiliki posisi yang sama atau mereka membentuk
sebuah unit independen untuk mengatur usaha kerjasamanya. Terlebih, hubungan
kerjasama ini diatur berdasarkan penerapan sejumlah kontrak perjanjian.
- Licencing Agreements (Perjanjian lisensi), dimana sebuah perusahaan mengijinkan
perusahaan lainnya untuk menggunakan merek mereka ketika menjual suatu produk,
- supply agreements (perjanjian supply), dimana sebuah perusahaan menyetujui untuk
menjadi penyedia/supplier bagi perusahaan lain,
- distribution agreements (perjanjian distribusi), dimana sebuah perusahaan setuju untuk
mendistribusikan produk perusahaan lain adalah contoh dari nonequity alliances (aliansi
non-ekuitas). Perjanjian non-ekuitas adalah bentuk yang paling banyak digunakan dalam
aliansi Tony Hawk dan partnernya.

equity alliances (aliansi ekuitas)


Pada equity alliances (aliansi ekuitas), perusahaan yang saling
bekerjasama memiliki kontrak tambahan untuk memegang hak
saham yang sama dengan partner aliansinya. Misalnya, saat
General Motor mulai mengimpor mobil mini pabrikan Isuzu,
mereka tidak hanya membuat kontrak supply, tetapi GM juga
membeli 34,2% saham Isuzu. Ford dan Mazda juga memiliki
hubungan yang serupa dengan GM dan Isuzu, begitu juga
dengan DaimlerChrysler dan Mitsubishi.

joint venture.
Pada joint venture, perusahaan-perusahaan yang bekerjasama akan membangun sebuah
perusahaan independen dan legal yang mana mereka berinvestasi didalamnya dan mereka
membagi rata setiap keuntungan yang diperoleh dari perusahaan yang mereka dirikan
tersebut. Misalnya, perusahaan bentukan joint venture Dow dan Cornings, yaitu Fortune yang
memiliki 500 perusahaan sendiri. AT&T BellSouth adalah perusahaan joint venture pemilik
Cingular, salah satu perusahaan wireless phone (telepon tanpa kabel) terbesar di Amerika
Serikat yang mana pada aliansi joint venture tersebut AT&T memiliki 60% saham dan BellSouth
memiliki 40% sisanya. CFM, sebuah perusahaan joint venture antara General Electric dan
SNECMA (perusahaan pesawat Perancis), adalah salah satu perusahaan terdepan yang
terkenal sebagai pemasok mesin jet untuk pesawat komersial. Jika kamu pernah terbang
dengan Boeing 737, berarti kamu pernah menyerahkah hidupmu pada perusahaan joint venture
ini karena hampir seluruh mesin pesawat ini dibuat oleh perusahaan CFM.

Bagaimana Cara Strategi Aliansi


Memperoleh Keuntungan?
strategi aliansi menciptakan keuntungan dengan cara memanfaatkan setiap
peluang yang ada dan menetralisir setiap ancaman yang dihadapi perusahaan.
Peluang-peluang Strategi Aliansi
Ada tiga kategori peluang-peluang yang tercipta seiring dengan penerapan Strategi
Aliansi.
Pertama, aliansi ini bisa menjadi sarana bagi perusahaan untuk meningkatkan
performa operasi mereka yang sedang berlangsung (current operations).
Kedua, aliansi bisa digunakan untuk menciptakan lingkungan bersaing yang baik
demi meningkatkan performa terbaik perusahaan.
Terakhir, bisa memudahkan suatu perusahaan untuk memasuki pasar atau industri
baru dan juga sebaliknya.

Cara

strategi

aliansi

menciptakan

keuntungan

ekonomi
Membantu perusahaan meningkatkan performa operasi mereka
saat ini
1. Mengeksploitasi skala ekonomis
2. Belajar dari kompetitor
3. Menanggulangi resiko dan membagi biaya produksi
Menciptakan lingkungan bersaing yang baik demi performa
terbaik
4. Menfasilitasi pengembangan standar teknologi
5. Memudahkan tacit collusion (kolusi diam-diam)
Menfasilitasi entry dan exit
6. Low cost

ketika masuk dalam industri dan segmen industri

baru
7. Low cost ketika keluar dari industri dan segmen industri
8. Memanajemen ketidakpastian

Meningkatkan Current Operations (Operasi yang


Sedang Berlangsung)
Salah satu cara perusahaan agar dapat menggunakan strategi aliansi dalam meningkatkan

operasi mereka adalah dengan mewujudkan skala ekonomi.


Konsep skala ekonomi, dimana skala ini terbentuk jika biaya produksi tiap unit produk
berbanding terbalik dengan volume produksi.
Misalnya, walaupun biaya produksi per unit untuk satu pena Bic sangat mahal, namun biaya
produksi per unit untuk 50 juta pena Bic sangat murah.
Untuk mewujudkan skala ekonomis, perusahaan harus memproduksi barang dalam jumlah
yang besar atau setidaknya cukup besar sehingga bisa mewujudkan skala tersebut dan juga
menarik keuntungan.
Saat perusahaan tidak dapat menutupi keseluruhan biaya produksinya sendiri, mereka bisa
melakukan strategi aliansi yaitu dengan bergabung dengan perusahaan lain. Secara
bersama-sama, perusahaan-perusahaan itu dapat membuat produk dalam jumlah yang cukup
dan meningkatkan keuntungan skala ekonomi.

Membentuk Favorable Competitive Environment


( sebuah lingkungan kompetitif yang baik)
Perusahaan bisa menggunakan strategi aliansi untuk menciptakan lingkungan kompetitif

yang baik dan ini lebih kondusif dalam meningkatkan performa terbaik. Setidaknya ada
dua cara dalam melakukan hal ini. Pertama, perusahaan bisa menggunakan aliansi untuk
membantu mengatur standar teknologi pada sebuah industri. Dengan adanya standar
itu, produk berbasis teknologi bisa dikembangkan dan konsumen juga bisa yakin bahwa
produk yang mereka beli dapat dipakai hingga beberapa tahun kedepan.
Dalam industri jaringan (network industries), standar teknologi adalah sesuatu yang
cukup penting. Industri jenis ini dikategorikan kedalam increasing returns to scale
(nilai produk meningkat tergantung pada jumlah)
Kita ambil contohnya mesin fax. Satu mesin fax saja tidak terlalu berharga. Dua mesin
fax yang bisa saling terhubung bisa dibilang cukup berharga, tiga mesin fax yang bisa
saling terhubung jauh lebih berharga, dan begitu seterusnya.

Standar itu sendiri bisa dibuat dengan dua cara.


Satu, perusahaan-perusahaan yang berbeda memperkenalkan standar yang berbeda dan
mempersilakan konsumen untuk memilih standar mana yang lebih mereka sukai. Ini adalah cara yang
digunakan dalam menentukan standar videotape. Sony menjual sebuah tipe mesin videotape bernama
Betamax dan Matshushita menjual tipe satu lagi bernama VHS.

Kedua teknologi videotape ini saling bertentangan. Beberapa konsumen lebih menyukai Beta dan
kemudian membeli produk Sony, sedangkan beberapa konsumen lainnya lebih menyukai HVS dan
membeli produk Matsushita. Namun, karena Matsushita mematenkan teknologi VHS pada sejumlah
perusahaan maka VHS menjadi acuan standar yang diakui sedangkan Sony menolak melakukannya.
Ini adalah suatu contoh kasus yang terjadi meskipun sebagian pengamat sepakat bahwa Beta lebih
unggul atas VHS pada beberapa dimensi.
Beberapa keuntungan yang dapat diperoleh dari kerjasama strategi aliansi adalah memudahkan atau
menfasilitasi beberapa pengembangan kegiatan tacit collusion (kolusi diam-diam). Seperti yang sudah
dijelaskan sebelumnya, kolusi (collusion) terbentuk ketika dua atau lebih perusahaan saling
menyelaraskan pilihan strategi mereka untuk mengurangi persaingan pada industri yang sama.
Biasanya penurunan jumlah pesaing ini dapat memudahkan perusahaan untuk menghasilkan
performa pada tingkat yang lebih tinggi. Contoh umum kolusi ini adalah saat perusahaan bekerjasama
untuk mengurangi jumlah produk yang diproduksi pada suatu industri untuk mendorong kenaikan
harga.
Explicit collusion (kolusi terang-terangan) terjadi ketika perusahaan berkomunikasi secara langsung
untuk menyelaraskan tingkat produksi, harga produk dan seterusnya. Perlu diketahui bahwa kolusi
tipe ini dilarang di beberapa negara.

Menfasilitasi Entry (jalan masuk)


dan Exit (jalan keluar)
Langkah terakhir yang bisa digunakan strategi aliansi untuk mendapatkan keuntungan adalah dengan

menfasilitasi atau memudahkan suatu perusahaan untuk memasuki (entry) pasar atau industri baru dan
sebaliknya juga bisa memudahkan untuk keluar dari sebuah pangsa pasar atau industri (exit).
Strategi aliansi menjadi sangat bermanfaat khususnya pada konteks jika keuntungan entry atau exit
pangsa pasar dan industri masih tidak menentu.
Jika ingin memasuki suatu pasar atau industri, perusahaan disyaratkan harus memiliki keterampilan,
kemampuan dan produk yang tidak dimiliki oleh pesaing potensial.
Strategi aliansi bisa menjadi jalan keluar yang tepat karena bisa membentuk perusahaan untuk terjun ke
industri baru tanpa harus mengeluarkan biaya yang mahal untuk pembentukan keterampilan,
kemampuan, dan juga produksi produk.
perusahaan bisa menggunakan strategi aliansi untuk memanajemen ketidakpastian. Dalam situasi yang
penuh ketidakpastian, perusahaan akan mengalami kesulitan dalam menentukan strategi yang akan
mereka pakai dari sekian banyak strategi yang berbeda. Dalam kondisi ini, perusahaan harus segera
bergerak dengan cepat dan fleksibel serta menguasai pasar atau industri tertentu tepat ketika sebuah
strategi yang paling menguntungkan telah ditetapkan. Dalam kasus ini, strategi aliansi memungkinkan
perusahaan untuk tetap memasuki suatu pasar atau industri tanpa membuat perusahaan mengeluarkan
biaya entry dalam skala besar.

Ancaman Aliansi : Kemungkinan untuk


Berlaku Curang dalam Strategi Aliansi
Strategi aliansi menyuguhkan keuntungan yang cukup banyak dalam
perjanjian kooperatif, namun bukan berarti strategi ini bebas dari ancaman.
Penelitian membuktikan bahwa sebanyak-banyaknya ada satu dari tiga
perusahaan yang mendapat hasil tidak sesuai harapan dari partner aliansinya
selama mereka menerapkan strategi aliansi.
Meskipun kebanyakan penyebab kegagalan ini adalah karena pembentukan
aliansi dengan perusahaan yang tidak memiliki potensi untuk berhasil, namun
beberapa penyebab lainnya adalah karena adanya pihak aliansi yang berbuat
kecurangan, yang mana pihak itu tidak bekerjasama untuk mendapatkan hasil
maksimal selama beraliansi. Setidaknya ada tiga tindak kecurangan yang bisa
terjadi yaitu adverse selection, moral hazard, dan holdup.

Tipe kecurangangan dalam stategi


aliansi
Adverse selection: partner potensial tidak menunjukkan atau
salah dalam menggambarkan kemampuan, kecakapan, atau
keterampilannya selama beraliansi.
Moral hazard: partner memberikan kemampuan, kecakapan,
atau keterampilan dengan kualitas yang lebih rendah dari apa
yang mereka janjikan.
Holdup: partner terlalu mengeksploitasi dana investasi
transaction-spesific yang dikeluarkan oleh pihak aliansi lainnya.

Strategi Aliansi dan Persaingan


Keuntungan Berkelanjutan
Kemampuan dari strategi aliansi sebagai sumber dari
persaingan keuntungan berkelanjutan, seperti strategi
lain yang dibahas di dalam buku ini, dapat dianalisa
menggunakan kerangka VRIO yang terdapat pada bab 3.
Aliansi secara ekonomi menguntungkan ketika ia
mengeksploitasi berbagai peluang dan mampu
menghindari ancaman yang telah dibahas sebelumnya.
Jadi, agar strategi aliansi menjadi sumber persaingan
keuntungan berkelanjutan aliansi tersebut harus langka
dan sulit (sangat mahal) untuk ditiru.

Hal yang Unik dari Strategi


Aliansi

Hal yang unik dari strategi aliansi tidak hanya berdasarkan pada jumlah perusahaan yang telah
mengimplementasikan aliansi. Akan tetapi juga berdasarkan kepada apakah keuntungan yang
di peroleh perusahaan dari aliansi yang mereka lakukan merupakan persaingan antar
perusahaan yang sudah umum di dalam industri.
Contohnya saja, dalam beberapa tahun terakhir ini, aliansi strategis menjadi sesuatu yang
sangat umum dalam industri automobile (mobil) Amerika Serikat, terutama aliansi dengan
perusahaan mobil dari Jepang. GM telah mengembangkan aliansi dengan Toyota, Ford
mengembangkan aliansi dengan Mazda sebelum ia membeli perusahaan Jepang tersebut, dan
DaimlerChrysler mengembangkan aliansi dengan Mitsubishi. Mengingat frekuensi aliansi yang
telah dikembangkan dalam industri ini, sangat memungkinkan untuk menyimpulkan bahwa
strategi aliansi bukanlah sesuatu yang asing dan dengan demikian ia tidak menjadi sumber
persaingan.
Salah satu alasan mengapa keuntungan yang berasal dari strategi aliansi tertentu mungkin
bisa menjadi unik dikarenakan beberapa perusahaan memiliki sumber daya dan kemampuan
yang saling melengkapi yang di butuhkan dalam membentuk sebuah aliansi. Kemungkinan
besar hal ini terjadi ketika sebuah aliansi di bentuk untuk menembus pasar baru, terutama
pasar baru asing (yang berasal dari luar)

Hal yang Layak Ditiru dari


Strategi Aliansi
Sumber daya dan kapabilitas yang memungkinkan perusahaaan untuk memahami dan
mengimplementasikan strategi yang bagus yang dapat ditiru dengan dua cara yaitu
duplikasi langsung dan subtitusi. Duplikasi dan subtitusi menjadi pertimbangan yang
sangat penting dalam menganalisa kemampuan untuk mencontoh strategi aliansi.

Going it alone
Perusahaan melakukan going it alone ketika mereka berusaha untuk mengembangkan
seluruh sumber daya dan kapabilitas yang mereka butuhkan untuk mengeksploitasi
peluang pasar dan menetralkan ancaman pasar secara pribadi
Aliansi akan lebih dipilih dibanding going it alone ketika:

Tingkat investasi transaction-spesific yang digunakan untuk melengkapi sebuah


pertukaran (transaksi) dengan jumlah sedang

Partner pertukaran harus menguntungkan, unik, dan sulit untuk meniru sumber daya
dan kapabilitas.

Terdapat ketidak pastian keuntungan dari pertukaran dimasa yang akan datang

Akuisisi
.Akuisisi perusahaan lain juga dapat menjadi subtitusi aliansi. Dalam hal ini, daripada
mengembangkan strategi aliansi atau berusaha mengembangkan dan mengeksploitasi
sumber daya yang relevan dengan going it alone, sebuah perusahaan lebih baik
berusaha mengeksplotasi peluang yang ada dan mungkin akan menemukan
perusahaan lain yang telah memiliki sumber dan kapabilitas yang relevan.
Aliansi akan lebih diminati di banding akuisisi ketika:
Adanya batasan legal dalam akuisisi
Akuisisi membatasi fleksibilitas sebuah perusahaan di bawah kondisi dengan
ketidakpastian yang tinggi
Terdapat baggage (celah atau ruang) yang tidak diinginkan secara substansial
dalam sistem organisasi pada perusahaan
Keuntungan sumber dan kapabilitas perusahaan tergantung kepada kebebasan
perusahaan tersebut.

Mengorganisir Penerapan Strategi Aliansi


Tujuan utama dari mengatur atau mengorganisir penerapan strategi aliansi adalah memungkinkan
partner aliansi untuk memperoleh semua manfaat yang berhubungan dengan kerjasama bersamaan
dengan memperkecil kemungkinan perusahaan yang melakukan kerjasama untuk berbuat curang
dalam kerjasama mereka.
Kemampuan mengatur atau mengorganisir yang dibutuhkan dalam pengelolaan aliansi, dalam
beberapa hal sangatlah unik. Terkadang membutuhkan waktu lebih bagi perusahaan untuk
mempelajari skill ini dan menyadari potensial dari aliansi mereka. Inilah yang menyebabkan mengapa
perusahaan mampu keuntungan yang kompetitif karena pengelolaan aliansi mereka lebih efektif
dibanding kompetitornya.
Memang terkadang, perusahaan akan memilih alternatif untuk beraliansi (termasuk going it
alonedan akuisisi) meskipun ketika alternatif ini kurang diminati, singkatnya, hal ini dikarenakan
karena mereka tidak memiliki kemampuan atau skill yang dibutuhkan untuk mengatur dan mengelola
aliansi.
Berbagai langkah dan mekanisme dapat digunakan untuk membantu mencapai keuntungan dari aliansi
dan memperkecil kemungkinan terjadinya kecurangan, termasuk melalui kontak atau perjanjian,
equity investment (investasi ekuitas), reputasi perusahaan, joint ventures, dan kepercayaan.

Kontrak yang Eksplisit dan


Persetujuan Legal
Salah satu cara untuk menghindari terjadinya kecurangan pada strategi aliansi
adalah dengan mengantisipasi tindakan yang dilakukan oleh beberapa bagian
terhadap aliansi tersebut dimana kecurangan mungkin terjadi (termasuk adverse
selection (pilihan yang bersifat merugikan), moral hazard (partner memberikan skill
dan kemampuan dengan kualitas yang lebih rendah daripada yang mereka
janjikan), dan holdup (penipuan)) dan membuat kontrak yang eksplisit yang dapat
menegaskan pertanggungjawaban yang sah jika nantinya terjadi kecurangan.
Sebelumnya dalam bab ini, strategi aliansi seperti ini disebut nonequity alliances
Kontrak terkadang bisa gagal dalam mengantisipasi segala bentuk kecurangan
yang mungkin terjadi di dalam suatu hubungan dan perusahaan bisa saja berbuat
curang terhadap kontrak dengan cara halus sehingga sulit untuk di evaluasi sesuai
dengan dengan persyaratan yang tercantum dalam kontak tersebut

Klausa umum dalam Kontrak yang digunakan untuk mengatur Strategi Aliansi yaitu sebagai
berikut:
1. Isu Pendirian (establishment issues)
Shareholding : jika equity alliances (aliansi ekuitas) dan joint ventures dibentuk, berapa
persentasi equitas yang harus dibayar oleh setiap perusahaan yang terlibat didalan aliansi.
Voting rights : jumlah voting yang diberikan kepada setiap partner di dalam aliansi. Sama rata
ataupun tidak sama rata dengan persentase shareholding.
Dividend percentage : bagaimana keuntungan yang diperoleh dari aliansi akan di alokasikan
diantara perusahaan yang melakukan kerjasama
Minority protection : deskripsi dari berbagai macam keputusan yang dapat di veto oleh
perusahaan yang memiliki kepentingan yang sedikit di aliansi.
Board of Directors : yang pertama dewan pengurus (Board of Directors), ditambah dengan
mekanisme untuk membubarkan dan menunjuk anggota dewan pengurus
Acticle of association : prosedur untuk melewati resolusi, pembagian pengeluaran, pembagian
hasil, dan lain sebagainya.
Place in incorporation : jika dalam bentuk joint venture, merupakan lokasi geografi dari
inkorporasi.
Advisors : para pengacara, akuntan, dan konsultan lainnya untuk aliansi
Identification of parties : intitas legal yang langsung terlibat didalam aliansi

Isu Pengoperasian (operating issues)

Performance clauses : tugas dan obligasi dari partner aliansi, termasuk jaminan akan level
performa minimum yang diperkirakan

Noncomplete clauses : partner dilarang memasuki bisnis primer dari aliansi


Nonsolitication clauses : partner dilarang merekrut pegawai dari satu sama lain.
Confidentiality clauses : informasi kepemilikan dari partner maupun dari aliansi tidak bisa
dibagikan di luar aliansi.

Licensing intellectual property rights : siapa yang memiliki properti intelektual oleh
aliansi dan bagaimana properti di lisensikan ke perusahaan lain.

Liability : pertanggung jawaban aliansi dan pertanggung jawaban partner yang


bekerjasama

Changes to the contract : diproses dimana kontrak di kembangkan


Dispute resolution : diproses dimana perselisihan antara partner akan di selesaikan.

Isu Penghentian Kontrak (termination issues)

Preemption rights : jika salah satu partner ingin menjual bagiannya (shares), ia harus
menawarkannya terdahulu kepada partner lainnya.

Variations on pre-emption rights : partner dilarang untuk mendiskusikan penjualan bagian (share)
mereka keluar (di luar dari aliansi) tanpa menginformasikannya terlebih dahulu kepada partner
mereka meskipun mereka berniat melakukannya

Call options : katika salah satu partner dapat memaksa partner lain untuk menjual bagiannya
kepadanya. Termasuk diskusi mengenai bagaimana bagian (shares) ini akan di hargai dan dalam
kondisi atau keadaan dimana call options dapat dilaksanakan.

Put options : partner memiliki hak untuk memaksa partner lainnya untuk membeli bagiannya dalam
aliansi.

Drag-along rights : seorang partner dapat melakukan penjualan bagiannya ke perusahaan di luar
aliansi dan memaksa partner lainnya untuk menjual bagiannya juga

Tag-along rights : seorang partner dapat mencegah penjualan bagian yang dimiliki oleh partner
kedua ke perusahaan di luar aliansi kecuali jika perusahaan di duar aliansi tersebut juga membeli
bagian partner pertama.

Initial Public Offering (IPO) : didalam kondisi atau keadaan dimana IPO dapat dijalankan atau

Investasi Ekuitas (Equity


Investment)
Efektivitas kontrak dapat di tingkatkan dengan memiliki partner (sekutu) dalam aliansi
dengan memberikan investasi sewajarnya (equity investment) antara satu sama lain.
Ketika perusahaan A membeli posisi penting dari partner aliansinya perusahaan B,
keuntungan pasar dari perusahaan A tergantung pada pada tingkat performa ekonomi
dari partnernya. Dorongan dari perusahaan A untuk melakukan kecurangan terhadap
perusahaan B akan menurun, karena jika ia melakukan kecurangan akan menurunkan
performa ekonomi dari perusahaan B dan itu merupakan keuntungan investasi yang
diperoleh oleh perusahaan A dari perusahaan partnernya tersebut. Strategi aliansi ini
disebut equity alliances

Kebanyakan perusahaan menggunakan investasi ekuitas untuk membantu mereka


mengelola strategi aliansi mereka. Susunan ini sangat lazim di temukan di Jepang,
dimana menjadi tempat perusahaan pemilik ekuitas terbesar sering mengikutsertaan
pemasok utama mereka, termasuk bank utama mereka. Investasi ekuitas ini, karena
dapat menurunkan terjadinya tindak kecurangan pada aliansi dan pemasok, dapat
menurunkan biaya untuk produksi persedian. Jadi, perusahaan tidak hanya memiliki
posisi ekuitas terhadap pemasok mereka, tetapi pemasok sering memiliki posisi ekuitas
di perusahaan dimana mereka menjual barang mereka.

Reputasi Perusahaan
Batasan ketiga yang dapat menekan terjadinya kecurangan pada strategi aliansi adalah
adanya efek dari reputasi akan perbuatan curang pada peluang yang dimiliki oleh
perusahaan dimasa mendatang. Meskipun sulit untuk mengantisipasi partner aliansi
untuk melakukan kecurangan dengan berbagai cara, efek reputasi ini lebih mudah untuk
menggambarkan bagaimana fakta yang sebenarnya jika partner aliansi telah melakukan
kecurangan. Informasi mengenai partner aliansi yang melakukan kecurangan dapat
diketahui secara luas. Perusahaan dengan reputasi sebagai penipu tidak akan bisa
mengembangkan strategi aliansi dengan partner lain dimasa yang akan datang, diluar
dari sumber khusus dan kapabilitasnya yang mungkin dapat digunakan untuk membentuk
aliansi. Dalam kondisi ini, kecurangan dalam aliansi dapat menutup peluang perusahaan
untuk mengembangkan aliansi lain. Karena alasan ini, perusahaan kemungkinan akan
memutuskan untuk tidak melakukan kecurangan di dalam aliansi yang sedang mereka
lakukan.

Joint Venture
Cara keempat yang dapat mengurangi terjadinya kecurangan terhadap partner
pada strategi aliansi dengan berinvestasi kedalam joint venture. Menciptakan
entitas legal yang terpisah, dimana partner aliansi berinvestasi dan kemudian
keuntungan yang mereka peroleh di investasikan kembali, dapat mengurangi
resiko terjadinya kecurangan dalam strategi aliansi. Ketika joint venture di buat,
kemampuan partner untuk mengembalikan modal mereka tergantung kepada
keberhasilan ekonomi dari joint venture tersebut. Partner joint venture membatasi
terjadinya tindakan yang dapat merusak performa joint venture, karena sikap
seperti ini dapat menyakiti kedua partner. Kemudian, tidak seperti konsekuensi
reputasi dari tindakan curang, kecurangan dalam joint venture tidak menutup
peluang aliansi dimasa depan, kecurangan tersebut dapat menyakiti perusahaan
yang melakukan tindak kecurangan saat itu juga.

Kepercayaan
Terkadang dalam beberapa kasus kepercayaan merupakan satu-satunya yang
diyakini oleh partner aliansi dalam legalistik dan pendekatan ekonomi untuk
mengelola alliansi mereka. Penelitian terkini menujukkan meskipun strategi
aliansi yang sukses peduli atau tidak melupakan dorongan legal dan ekonomi
untuk melakukan kecurangan, mereka menjunjung hubungan yang lebih
dasar dengan dipenuhi oleh hubungan dan kercayaan perseorangan.
Kepercayaan di kombinasikan dengan kontak, dapat menurunkan
kemungkinan terjadinya kecurangan. Lebih penting lagi, kepercayaan dapat
memungkinkan partner untuk mengeksplor pertukaran peluang yang tidak
bisa mereka eksplor jika hanya legal dan mekanisme ekonomi terorganisir.

Komitmen, koordinasi, dan kepercayaan merupakan faktor yang sangat


menentukan dari suksesnya sebuah aliansi. Dalam bentuk lain, strategi aliansi
merupakan hubungan yang berkembang dari waktu-kewaktu. Membiarkan
para pengacara dan pemikir ekonomi dengan terlalu kaku atau tidak fleksibel
mendefenisikan berdasar teori daripada kenyataan yang sebenarnya.

Strategi Aliansi Dalam Konteks


Internasional
Strategi aliansi sangatlah penting bagi sebuah perusahaan ketika ingin memasuki pasar
baru (pasar asing). Dalam konteks ini, salah satu partner membawa produk atau jasa
(seperti sumber) yang khas kedalam aliansi, dan partner lainnya membawa
pengetahuan lokal, jaringan distribusi lokal, pengaruh politik lokal terhadap
hubungannya. Perkembangan jaringan distribusi lokal bisa saja sangat mahal dan sulit
untuk di proses. Beberapa tindakan secara umum memerlukan pengetahuan yang
bagus mengenai kondisi lokal. Partner aliansi lokal biasanya sudah memiliki
pengetahuan ini. Bahkan mereka mungkin telah memiliki jaringan distribusi lokal.
Dengan bekerjasama dengan partner lokal, secara substansial perusahaan dapat
mengurangi biaya untuk memasuki pasar ini.

Beberapa pemerintahan meminta perusahaan baru (perusahaan yang baru masuk


kedalam suatu daerah) untuk memiliki partner aliansi lokal. Pemerintahan melihat,
hubungan seperi ini bukan hanya sebagai salah satu cara utuk memfasilitasi
perusahaan asing untuk memasuki pasar mereka, tetapi juga sebagai cara perusahaan
domestik untuk mempelajari perusahaan asing. Kasus ini terjadi kepada masuknya
General Electric di pasar produksi listrik Cina. Pemerintahan Cina mengharuskan GE
jika ia ingin menjual generatornya di Cina, maka GE harus melakukan joint venture

SIMPULAN
Strategi aliansi akan eksis jika dua atau lebih organisasi bekerjasama dalam pengembangan,
memproduksi, maupun menjual produk atau jasa. Strategi aiansi dapat di kelompokkan kedalam tiga
kategori yaitu nonequity alliances, equity alliances, dan joint ventures.
Perusahaan bergabung dengan aliansi dikarenakan oleh tiga alasan: meningkatkan performa dari
pergerakan atau operasi meraka, meningkatkan lingkungan kompetitif atau bersaing dimana mereka
beroperasi, dan menfasilitasi untuk masuk atau untuk keluar pasar dan industri. Seperti halnya
adanya dorongan untuk bekerjasama dalam strategi aliansi, juga terdapat dorongan untuk melakukan
kecurangan, curang secara umum terdiri atas satu atau kominasi dari tiga bentuk: adverse selection
(pilihan yang bersifat merugikan), moral hazard (partner memberikan skill dan kemampuan dengan
kualitas yang lebih rendah daripada yang mereka janjikan), dan holdup (penipuan)
Strategi aliansi dapat menjadi sumber dari persaingan keunggulan yang berkelanjutan. Jarang atau
langkanya strategi aliansi tidak hanya tergantung kepada jumlah perusahaan yang bersaing yang
mengembangkan aliansi, tetapi juga manfaat yang diperoleh oleh perusahaan dari aliansi mereka.

Imitasi atau peniruan melalui duplikasi langsung terhadap aliansi bisa sulit karena
kompleks sosial dari hubungan yang berada di bawah aliansi, akan tetapi imitasi
melalui subtitusi lebih memungkinkan dilakukan. Dua subtitusi dalam aliansi yaitu
going it alone, dimana perusahaan mengembangkan dan mengeksploitasi sejumlah
sumber dan kapabilitas yang relevan dengan mereka, dan acquisition (akuisisi).
Oportunisme, kapabilitas, dan ketidakpastian akan memberikan pengaruh ketika going
it alone menjadi subtitusi bagi strategi aliansi. Akuisisi menjadi subtitusi bagi strategi
aliansi ketika tidak ada paksaaan atau aturan atau aturan yang legal, fleksibilitas bukan
hal yang diperhitungkan, ketika perusahaan yang melakukan akuisisi tidak diharapkan
organizational baggage dan ketika keuntungan dari sumber dan kapabilitas
perusahaan tidak di dasarkan kepada kebebasan yang dimilinya. Namun, jika kondisi ini
tidak terjadi, akuisisi bukan merupakan subtitusi atau subtitusi dari aliansi.

Isu penting yang dihadapi oleh organisasi ketika melakukan aliansi adalah menfasilitasi
hubungan sementara itu perusahaan juga berusaha untuk menghindari kecurangan.
Kontrak, investasi ekuitas, reputasi perusahaan, joint ventures, dan kepercayaan dapat
digunsksn untuk mengurangi terjadinya kecurangan dalam konteks yang berbeda-beda.
Sarana ini juga dapat digunakan untuk mengurangi ancaman terhadap aliansi dalam

Contoh kasus : Nissan dan


Renault
Perusahaan otomotif Nissan pernah berada di ambang kebangkrutan di akhir
dekade 90. an. Tapi aliansinya dengan perusahaan otomotif Prancis, Renault
menyelamatkannya dari ancaman itu. Tokoh yang berhasil mengeluarkan Nissan
dari kehancuran itu adalah Carlos Ghosn. Meski mengambil langkah-langkah
yang radikal untuk menyelamatkan perusahaan itu, publik Jepang tak membenci
pria yang kini menjabat sebagai Chief Executive Officer Nissan Motor Co. Ltd.
Sebaliknya mereka justru mencintai Ghosn
Nissan, saat dibail-out oleh Schweitzer(Renault) tahun 1998, yang mengirim
Ghosn sebagai no.1 di Tokyo, adalah perusahaan raksasa yang morat-marit dan
manajemen yang kacau, borosnya bukan main dan tidak bisa memproduksi mobil
yang menghasilkan profit. Dengan cashflow problem yang parah dan hutang
sebesar US 11 billions

Visi : Nissan Memperkaya kehidupan setiap individu(Enriching


people's lives).
Misi : Nissan menyediakan produk dan jasa otomotif secara unik
dan inovatif yang menghasilkan nilai keberhasilan yang tinggi
bagi semua pengguna kendaraan dengan aliansinya bersama
Renaults
Yang Dilakukan Ghosn :
Melaunch Nissan Revival Plan' pada 1999 yang berhasil
mereduksi workforce 21,000 orang,
Menghabisi jumlah supplier lebih dari separuhnya,
Memotong biaya yang timbul akibat cross- holding sebesar U$
4 billions 4. Menurunkan biaya produksi sebesar 20% dalam
18 bulan.

Prinsip Nissan SUCCESS


S : Seeking Profitable Growth
U: Unique and Innovative: "Bold and Thoughtful
C: Customer-Focused and Environment Friendly
C: Cross Functional and Global
E: Earnings and Profit Driven s Speed
S: Stretch

Ghosn's Turnaround Strategy


Nissan Revival Plan(NRP)/Nissan bangkit kembali
Mengembangkan Mobil baru
Meningkatkan lmage terhadap merk Nissan
Pengurangan Biaya
Turnaround adalah proses pengubahan atau perbaikan
kinerja perusahaan kecenderungan menurun, nyaris
menanjak dan menguntungkan
NRP tahun pertama berhasil
Mengurangi 20% biaya pembelian
Pencapaian keuangan perusahan terbaik dalam sejarah

Keberhasilan Aliansi strategi oleh Ghosn


Strategy : memangkas biaya yang tidak diperlukan dan
regenerasi
Leadership : Memiliki sponsor orang-orang yang kuat dan
keterampilan budaya
Manajemen Perubahan : Merancang tujuan dengan
incentives baru Memimpin dari pertengahan(Cross
Function Teams)

TERIMA KASIH