Anda di halaman 1dari 9

KERJA KERAS, CERDAS

DAN BERWIRAUSAHA
Memasuki tahun 2016, kita perlu mengingatkan diri
mengenai sangat pentingnya bekerja keras sekaligus cerdas.
Masyarakat Ekonomi Asean (MEA), ACFTA (ASEAN China
Free Trade Area) dan APEC (Asia Pasific Economic
Cooperatioan), meski namanya adalah masyarakat dan
kerjasama, sesungguhnya berbicara mengenai persaingan
di pasar dunia.
1

Pasar bebas dunia memungkinkan badan usaha dan pekerja dari luar
masuk ke Indonesia dan orang Indonesia - bila mau dan mampu bisa saja membuat usaha atau bekerja di Negara lain. Jadi, bahkan
di negera sendiri, kita juga harus berkompetisi dg pekerja asing yg
ingin mencari peruntungannya, atau dengan badan usaha yg
dibangun oleh fihak asing.
Walaupun mingkin kita tidak suka, ini hal niscaya dan sesuatu yg tak
terelakkan. Kita dapat memilih, untuk bersikap pasip saja, tidak mau
direpotkan oleh antisipasi yg rumit dan berharap semua akan baikbaik saja. Atau mulai merasa cemas tanpa tahu apa yg harus
dilakukan. Atau menyiapkan diri untuk menghadapinya. Untuk pilihan
terakhir, itu berarti berfikir mengenai kewirausahaan.
Menyadari sangat pentingnya mendorong kewirausahaan,
Penjaminan mutu Pendidikan Tinggi Inggris menyusun panduan
pendidikan kewirausahaan di Perguruan Tinggi (2012). Eksplisit
dituliskan bahwa wirausaha perlu dilihat sebagai suatu pilihan karier
agar usaha-usaha baru dapat dihadirkan oleh orang-orang muda.

ENTERPRISE AWARENESS.
Agar wirausaha efektif, pertama-tama kita perlu memiliki
kesadaran akan tempat kerja sebagai entitas yg harus terus
aktif bergerak untuk berproduksi dan mengembangkan diri.
Mungkin ada pekerja yg banyak mengeluh, menuntut
kenaikan gaji dan berbagai fasilitas, tetapi sesungguhnya
tidak memberi nilai tambah bagi tempat kerjanya.
Mereka menuntut hak tetapi tidak faham kewajibannya,
bersikap pasif, enggan berinisiatif, selalu menghitung
untung rugi, merasa tidak pantas untuk turun ke lapangan
mengerjakan tugas-tugas yg kurang bergengsi.
Orang -orang seperti itu jelas tidak memiliki enterprise
awarenesss, dan jadi beban biaya untuk perusahaan.
3

Barangkali semua orang dapat menjadi wirausaha yang


berhasil, tetapi setidaknya kita perlu menyadarkan
pekerja bahwa siapapun yg ada dalam tim harus
memberikan nilai tambah bagi tim dan tempat kerjanya.
Kesadaran tempat kerja sebagai entitas yg harus tetap
aktif berproduksi dan dapat ditumbuhkan, misalnya dg
mengembangkan minat dan belajar tentang skala usaha
yg berbeda-beda, peran dari usaha kecil dalam industri,
serta peran kehadiran kewirausahaan social dalam
masyarakat.
Orang muda disadarkan mengenai perbandingan antara
sikap menunggu dan pasif saja sebagai pegawai atau
pencari kerja, dg kreativitas dan keberanian untuk
membuka usaha, dan bagaimana kaitannya dg
pertumbuhan ekonomi.
4

Set befikir wirausaha ditumbuhkan dengan mengajak


orang muda meneliti diri sendiri sejauh mana telah
memiliki hal-hal yg dibutuhkan untuk berwirausaha,
Misalnya ; motivasi, disiplin diri, dapat berfikir kreatif, dan
memindahkan ide menjadi suatu hal yg dilaksanakan
secara konkret ?. Bagaimana pula toleransi thd
ketidakjelasan, resiko dan kegagalan ?.
Dalam membangun usaha diperlukan kontak dan jaringan.
Lembaga pendidikan perlu melibatkan alumni dan
pengusaha yg telah berhasil, sementara individu perlu
mengembangkan jaringan sosialnya.
Bagi yg ekstrover dan senang bergaul, hal ini mungkin
lebih mudah. Tetapi yg introver tetap dapat berlatih
mengembangkan dan mengekspresikan minat sosialnya.
5

Misalnya mengirim surat elektronik ucapan


terima kasih setelah berkenalan di tempat
pertemuan, menelepon untuk menyampaikan
ucapan selamat ulang tahun, atau audensi
menemui pejabat baru di tempat mitra kerja.
Di dalam lembaga pendidikan, mahasiswa yg
lebih senior dapat membuat kelompok
dukungan bagi yg yunior. Sementara itu,
alumni dapat banyak membantu memberikan
bimb ingan dalam ketrampilan komunikasi,
presentasi, hingga menyediakan tempat
praktik.
6

LITERASI KEUANGAN DAN BISNIS.


Tidak jarang minat untuk berwirausaha sudah ada bahkan tinggi,
dan kerja yang dilakukan juga sudah banyak, misalnya : dengan
membuat produk.
Tetapi usaha berhenti karena tidak ada yang memasarkan , tidak
tahu harus dipasarkan kemana, atau yang dibuat tidak sesuai
dengan selera masyarakat. Atau kita ditipu orang yang akhirnya
malah merugi.
Karena itu, dalam kurikulum pendidikan perlu ada kuliah pengantar
tentang bagaimana kewirausahaan dapat tumbuh, mengghunakan
teori teori kunci untuk menupayakan benang merah penjelasan.
Perlu ditekankan bahwa pembangunan usaha itu memerlukan
ketrampilan mempekerjakan orang-orang lain. Bila tidak, berarti
kita akan kelelahan bekerja keras sendiri, dan tidak meluaskan
lapangan kerja bagi sesama yang membutuhkan.
7

Kita perlu merencanakan lebih spesifik bidang yang


akan ditekuni serta berbagi tuntutan
pengembangan usaha dan estimasi keuangannya.
Estimasi keuangan menjelaskan bahwa wirausaha
yang dipilih akhirnya haruslah memiliki sasaran
yang jelas dan produk yang ditawarkan atau
dihasilkan memang sungguh dibeli atau
dimanfaatkan oleh masyarakat.
Harus ada yang merancang strategi pemasaran dan
yang di garda depan haruslah yang memang pandai
menjual. Bila tidak, kita malah merugi, produk
tertumpuk di gudang dan tidak laku lagi dijual
karena selera atau kebutuhan pasar telah berubah.
8

Bagaimanapun, kadang kala mengalami kerugian


menjadi salah satu pembelajaran penting yang tak
terhindarkan.
Akhirnya, semua pihak yang terlibat harus terikat pada
aturan manajemen yang jelas dan disepakati bersama.
Hal yang tidak boleh dilupakan adalah agar kita tidak
main terabas, melanggar hak orang lain, ataupun
merusak lingkungan.
Etika berbisnis, termasuk di dalamnya
mengembangkan usaha yang ramah lingkungan, tetap
perlu menjadi landasan kerja kita.