Anda di halaman 1dari 39

KONDISI & TANTANGAN

PEMBINAAN SDM KONSTRUKSI INDONESIA


Rizal Z.Tamin
ITB

Management of Training
Pembinaan Kompetensi & Pelatihan Konstruksi
Balai Jasa Konstruksi Wilayah VI Makassar
Ditjen Bina Konstruksi Kementerian Pekerjaan Umum & Perumahan Rakyat
Makasar, 22-24 Agustus 2016
1

IKHTISAR
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Pengantar
Klasifikasi, kualifikasi, dan kondisi SDM konstruksi
Sistem jasa konstruksi
Tantangan peningkatan kompetensi SDM konstruksi
Pembinaan jasa konstruksi (pusat & daerah)
Perspektif sistem pembinaan jasa & SDM konstruksi ke depan

PENGANTAR (1/2)
1. UU 18, 1999 merupakan landasan
pengembangan jasa konstruksi indonesia:
-

Pemerintah (BPKonstruksi) berfungsi


sebagai Pembina;
Lembaga (LPJKN) berfungsi sebagai
Pengembang;
Tujuan: mewujudkan struktur usaha yang
kokoh, andal, berdaya saing tinggi, dan
konstruksi yang berkualitas;
Konsep: pembangunan berbasiskan
masyarakat (swasta); buka bertumpu
pada pemerintah saja); perusahaan
swasta dikembangkan; stakeholders
dilibatkan; perlu sistem.

2. Sejalan dengan otonomi daerah:


-

sebagian tugas pembinaan dilimpahkan


kepada Pem. Prop./Kab,/Kota;
pendirian lembaga pengembangan di
tingkat Provinsi (LPJK Prop.);
pembentukan Bagian Jasa Konstruksi di
Unit eselon 2, Dinas PU & Tata Ruang;
Balai Jasa konstruksi Wilayah VI
Makassar berfungsi sebagai pembina
wilayah.

PENGANTAR (2/2)
3. Kegiatan pembinaan & pengembangan
baik di tingkat nasional (Ditjen Bina
Konstruksi, LPJKN) maupun di tingkat
daerah (TPJK, Bidang Jasa konstruksi, &
LPJK Prop.) belum maksimal.
4. Upaya pembinaan jasa konstruksi ke
depan perlu ditingkatkan; perspektif,
koordinasi, dan lingkup pembinaan perlu
ditetapkan; termasuk SDM konstruksi.

KLASIFIKASI, KUALIFIKASI, & KONDISI


SDM KONSTRUKSI INDONESIA

SDM KONSTRUKSI INDONESIA (UU 18, 1999)


1. UU 18, 1999 tentang Jasa Konstruksi:
a. Perencana & pengawas konstruksi orang
perseorangan harus mempunyai
sertifikat keahlian.
b. Pelaksana konstruksi orang
perseorangan harus memiliki sertifikat
keterampilan kerja dan sertifikat keahlian
kerja.
c. Pekerja badan usaha perencana,
pengawas, & pelaksana konstruksi harus
memiliki sertifikat keahlian.

3. Secara umum mutu 6,2 juta (6%


angkatan kerja) pekerja konstruksi
rendah (BPS, 2014):
a. Terdapat 3,7 juta (60%) Tenaga tidak
terampil; 1,86 juta (30%) TK; 0,62 juta
(10%) TA.
b. Baru 6,1% (380.000) yang telah
disertifikasi: 251.000 TK; 129.000 TA.

2. Dengan demkian, SDM Konstruksi


mencakup:
- Tenaga terampil (TK);
Tenaga ahli (TA).

AMANAT PERATURAN PER-UU-AN SERTIFIKASI BADAN


USAHA, TK, & TA KONSTRUKSI
UU No. 18 Tahun 1999
Kewajiban memiliki sertifikat,
klasifikasi, & kualifikasi.
PP No. 28 Tahun 2000 beserta perubahannya PP No. 4 Tahun 2010 dan
PP No. 92 Tahun 2010
Ketentuan lebih lanjut mengenai penyelenggaraan perizinan usaha, klasifikasi
usaha, kualifikasi usaha, sertifikasi keterampilan, dan sertifikasi keahlian.

PerMen PU No. 51/ PRT/ 2015


Pemilihan pengurus, masa bakti,
tugas pokok dan fungsi, serta
mekanisme kerja LPJK

PerMen PU No. 08/ PRT/ M/ 2011


Ketentuan lebih lanjut mengenai pembagian subklasifikasi dan sub-kualifikasi usaha jasa
konstruksi

PerLem No. 10 & 11 Tahun 2013


beserta perubahannya PerLem
No. 6 Tahun 2014

SE Menteri PU No. IK.0201Kk/978, dan Surat Kep. BPKon.


No.IK.02-01/Kk/202

Ketentuan lebih lanjut mengenai


persyaratan registrasi usaha jasa
pelaksana, jasa perencana &
pengawas konstruksi

Pemberlakuan klasifikasi &


kualifikasi jasa konstruksi untuk
TA. 2014; pelaksanaan konversi

PerMen PU No. 08 & 09/ PRT/ M/2013


Ketentuan lebih lanjut mengenai
persyaratan kompetensi untuk subkualifikasi TA & TK

PerLem No. 5 Tahun 2011,


beserta perubahan pertama hingga
ke-3 Perlem No. 7 Tahun 2013

PerLem No. 4 Tahun 2011,


beserta perubahan pertama hingga
ke-4 Perlem No. 8 Tahun 2014

Ketentuan lebih lanjut mengenai


registrasi ulang, perpanjangan, &
permohonan baru sertifikat TK

Ketentuan lebih lanjut mengenai


registrasi ulang, perpanjangan, &
permohonan baru sertifikat TA

PerLem No. 2 Tahun 2014


Ketentuan lebih lanjut mengenai tatacara registrasi
konversi sertifikat badan usaha jasa konstruksi

KLASIFIKASI TENAGA TERAMPIL (TK)


(Peraturan LPJK No. 7, 2013)
1. Arsitektur
(Juru gambar,tukang pasang bata, tukang pasang batu, tukang plesteran, tukang keramik, dll.)

2. Sipil
(Teknisi laboratorium beton, tukang pekerjaan pondasi, pekerja aspal jalan, dll.)

3. Mekanikal
(Operator buldozer, mekanik alat-alat berat, tukang las, teknisi fire alarm, dll.)

4. Elektrikal
(Teknisi instalasi penerangan dan daya fasa satu, teknisi instalasi otomasi industri, dll.)

5. Tata Lingkungan
(Pelaksana plambing, tukang sanitary, juru pengeboran air tanah, pengawas perpipaan, dll.)

6. Lain-lain
(Estimator, quantity surveyor, mandor tanah, mandor besi, mandor tukang kayu, dll.)
8

KUALIFIKASI TENAGA TERAMPIL (TK)


(PerMen PU No. 09/PRT/M/2013)

KUALIFIKASI

PERSYARATAN
PENDIDIKAN
(MINIMAL)

PERSYARATAN
PENGALAMAN

Terampil Kelas 1

Lulusan D1

Min.3 tahun

Lulusan SMK

Min. 2 tahun

Terampil Kelas 2

Lulusan SLTA

Min. 3 tahun
SLTP: Min. 2 tahun

Terampil Kelas 3

Lulusan SD

PERSYARATAN
KEJURUAN

Lulus Uji
Kompetensi

SD: Min. 3 tahun

KLASIFIKASI TENAGA AHLI (TA)


(Peraturan LPJK No. 8, 2014)
No.

1
2
3
4

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15

Klasifikasi/ Sub-klasifikasi (SKA)


ARSITEKTUR
Arsitek
Ahli Desain Interior
Ahli Arsitektur Lansekap
Teknik Iluminasi

SIPIL
Ahli Teknik Bangunan Gedung
Ahli Teknik Jalan
Ahli Teknik Jembatan
Ahli Keselamatan Jalan
Ahli Teknik Terowongan
Ahli Teknik Landasan Terbang
Ahli Teknik Jalan Rel
Ahli Teknik Dermaga
Ahli Teknik Bangunan Lepas Pantai
Ahli Teknik Bendungan Besar
Ahli Teknik Sumber Daya Air
Ahli Teknik Pembongkaran Bangunan
Ahli Pemeliharaan dan Perawatan
Bangunan
Ahli Geoteknik
Ahli Geodesi

No.
Kode

101
102
103
104

201
202
203
204
205
206
207
208
209
210
211
214
215
216
217

No.

Klasifikasi/ Sub-klasifikasi (SKA)

No.
Kode

1
2
3
4
5

1
2
3

1
2
3
4

1
2
3
4

MEKANIKAL
Ahli Teknik Mekanikal
Ahli Teknik Sistem Tata Udara dan Refrigerasi
Ahli Teknik Plambing dan Pompa Mekanik
Ahli Teknik Proteksi Kebakaran
Ahli Teknik Transportasi Dalam Gedung

ELEKTRIKAL
Ahli Teknik Tenaga Listrik
Ahli Teknik Elektronika & Telekomunikasi Dalam Gedung
Ahli Teknik Sistem Sinyal Telekomunikasi Kereta Api

TATA LINGKUNGAN
Ahli Teknik Lingkungan
Ahli Perencanaan Wilayah dan Kota
Ahli Teknik Sanitasi dan Limbah
Ahli Teknik Air Minum

MANAJEMEN PELAKSANAAN
Ahli Manajemen Konstruksi
Ahli Manajemen Proyek
Ahli K3 Konstruksi
Ahli Sistem Manajemen Mutu

301
302
303
304
305

401
405
406

501
502
503
504

601
602
603
604

KUALIFIKASI TENAGA AHLI (TA)


(PerMen PU No.09/PRT/M/2013)

Kualifikasi

Ahli Utama

Persyaratan
Pendidikan
(minimal)
Lulusan S1
Lulusan D4

Ahli Madya

Lulusan D3

Ahli Muda

Lulusan D3

Persyaratan Pengalaman

Persyaratan
Kejuruan

S1: Minimal 5 tahun


S1 Terapan: Minimal 4 tahun
D4: Minimal 6 tahun
S1: Minimal 2 tahun
D4: Minimal 3 tahun
D3: Minimal 5 tahun
S1: Minimal 1 tahun
D4: Minimal 1 tahun
D3: Minimal 3 tahun

Lulus Uji
Kompetensi

11

KONDISI SDM KONSTRUKSI INDONESIA


LPJKnet, 2015: hanya 52.995
tenaga terampil (TK) yang tercatat telah
disertifikasi;
1.

a. 36.915 - Kualifikasi Kelas 1


b. 11.464 - Kualifikasi Kelas 2
c. 5.616 - Kualifikasi Kelas 3

2. Kompetensi TA & konsultan lebih

memprihatinkan:
a. Dari 84.525 Tenaga Ahli Jasa
Konstruksi
yang tersertifikasi (LPJKnet 2015);
3% Utama;
44%, Madya, 53% Muda.
b. Dari 686 konsultan nasional (LPJKnet,
2015):
93%

c.
tetap:

hanya 2% besar, 5% menengah, dan


konsultan kecil;
konsultan besar berada di Jakarta, P.
Jawa, dan pusat pertumbuhan regional
lainnya.

Sebagian besar tidak mempunyai TA


-

membina
-

margin keuntungan kecil untuk


TA yang bermutu;
billing rate kecil; SE Men.
12 PU 03, 2013,
Maret 2013 perbaikan remunerasi.

JUMLAH TK TERSERTIFIKASI
(Sumber: LPJK.net, diakses 3 Mei 2015)
No.

Provinsi
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33

Kualifikasi
Kelas 2

Kelas 1

Aceh
Sumatera Utara
Sumatera Barat
Riau
Jambi
Sumatera Selatan
Bengkulu
Lampung
DKI Jakarta
Jawa Barat
Jawa Tengah
DI Yogyakarta
Jawa Timur
Kalimantan Barat
Kalimantan Tengah
Kalimantan Selatan
Kalimantan Timur
Sulawesi Utara
Sulawesi Tengah
Sulawesi Selatan
Sulawesi Tenggara
Bali
Nusa Tenggara Barat
Nusa Tenggara Timur
Maluku
Papua
Maluku Utara
Banten
Gorontalo
Kepulauan Bangka Belitung
Kepulauan Riau
Papua Barat
Sulawesi Barat
TOTAL

2.098
776
1.719
5.907
1.124
499
452
213
1.495
2.461
2.844
360
967
1.882
1.578
403
1.805
284
226
1.644
274
767
930
1.452
367
826
9
524
168
125
1.363
372
1
35,915

Jumlah Sesuai Kualifikasi

Kelas 3

284
1.215
352
1.610
101
126
117
738
179
1.079
981
255
881
220
33
95
248
28
333
164
680
217
71
180
100
264
0
549
73
54
214
21
2
11,464

147
88
44
470
70
103
143
62
269
1.166
794
599
341
65
50
122
302
3
60
1
163
217
0
5
2
41
0
133
4
7
86
59
0
5,616

2.529
2.079
2.115
7.987
1.295
728
712
1.013
1.943
4.706
4.619
1.214
2.189
2.167
1.661
620
2.355
315
619
1.809
1.117
1.201
1.001
1.637
469
1.131
9
1.206
245
186
1.663
452
13 3
52,995

JUMLAH TA TERSERTIFIKASI
(Sumber: LPJK.net, diakses 3 Mei 2015)
No.

Provinsi
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32

Kualifikasi
Madya

Muda

Aceh
Sumatera Utara
Sumatera Barat
Riau
Jambi
Sumatera Selatan
Bengkulu
Lampung
DKI Jakarta
Jawa Barat
Jawa Tengah
DI Yogyakarta
Jawa Timur
Kalimantan Barat
Kalimantan Tengah
Kalimantan Selatan
Kalimantan Timur
Sulawesi Utara
Sulawesi Tengah
Sulawesi Selatan
Sulawesi Tenggara
Bali
Nusa Tenggara Barat
Nusa Tenggara Timur
Maluku
Papua
Maluku Utara
Banten
Gorontalo
Kepulauan Bangka Belitung
Kepulauan Riau
Papua Barat
TOTAL

3.509
1.742
2.144
5.720
493
577
221
673
6.628
2.174
2.707
816
2.686
865
1.247
651
1.473
538
441
1.894
590
1.126
659
896
404
488
106
609
526
171
1.191
289
44.254

Jumlah Sesuai Kualifikasi

Utama

2.505
1.447
1.614
5.060
462
743
112
703
7.273
2.194
1.615
612
1.897
892
1.114
393
1.163
347
269
1.547
223
1.000
345
468
361
496
106
271
559
132
912
191
37.026

0
0
1
0
0
0
0
0
3.244
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
3.245

6.014
3.189
3.759
10.780
955
1.320
333
1.376
17.145
4.368
4.322
1.428
4.583
1.757
2.361
1.044
2.636
885
710
3.441
813
2.126
1.004
1.364
765
984
212
880
1.085
303
2.103
14
480
84.525

JUMLAH KONSULTAN TEKNIK SIPIL INDONESIA

15

SISTEM JASA KONSTRUKSI

16

PERKEMBANGAN JASA KONSTRUKSI


Sebelum
Kemerdekaan

1945-1960
Swakelola
Legislatif

Kerajaan

> 1960
Penunjukkan Langsung
Yudikatf

Pemerintah

Legislatif

Yudikatf

Pemerintah

> 1970
Kontrak
Legislatif

Yudikatf

Pemerintah
Procurement

Pembangunan
Infrastruktur

Pembangunan
Infrastruktur

BUMN

BUMN & BUMS

Pembangunan
Infrastruktur

Pembangunan
Infrastruktur
17

SISTEM JASA KONSTRUKSI NASIONAL (UU 18, 1999)


PU
PENGGUNA JASA
DANA
SWASTA

PEMERINTAH/
KEMENTERIAN
(APBN)

HUB

ESDM

PEMERINTAH:
- BPKonstruksi

NAKER

Buffer
Buffer
Body
Body
(LPJKN)
(LPJKN)

Procurement
GOOD
GOVERNANCE

PENYEDIA
JASA

BUMN, BUMD,
PT - SWASTA

MASYARAKAT PROFESIONAL
Asosiasi
Perusahaan

Asosiasi
Profesi

PT

LSM

Catatan:
-

Pemerintah memimpin perubahan & menjadi penanggung jawab kemajuan sektor & perlindungan
masyarakat kecil;
UU Jasa Konstruksi hanya mengatur bisnis konstruksi; TA & Konsultan diatur dalam UU KeInsinyuran.

18

SISTEM JASA KONSTRUKSI PROVINSI (UU 18, 1999)


PENGGUNA JASA
DANA
SWASTA

PEMDA/
DINAS PROVINSI
(APBD)

PEMDA
PROVINSI
(TPJK)

Buffer
Buffer
Body
Body
(LPJKP)
(LPJKP)

Procurement
GOOD
GOVERNANCE

PENYEDIA
JASA

BUMN, BUMD,
PT - SWASTA

MASYARAKAT PROFESIONAL
Asosiasi
Perusahaan

Asosiasi
Profesi

PT

LSM

19

SISTEM JASA KONSTRUKSI KAB./KOTA (UU 18, 1999)


PENGGUNA JASA
DANA
SWASTA

PEMDA/
DINAS KAB./KOTA
(APBD)

PEMDA
KAB./KOTA
(TPJK)

Procurement
GOOD
GOVERNANCE

PENYEDIA
JASA

BUMN, BUMD,
PT - SWASTA

MASYARAKAT PROFESIONAL
Asosiasi
Perusahaan

Asosiasi
Profesi

PT

LSM

20

TAHAPAN PENINGKATAN PERAN MASYARAKAT


Peran
Masyarakat

Independent Regulatory Board


LPJK
(UU 18, 1999, PP 28, 2000)

PEM + Badan independen

PEM + Badan (dlm pemerintah)


CIDB - Malaysia;
BCA - Singapore

PEM + Forum Stakeholders

PEM

Waktu/
Step

21

TANTANGAN PENINGKATAN KOMPETENSI SDM KONSTRUKSI

22

TANTANGAN 1:
TENAGA TERAMPIL (TK) & INSINYUR (TA) 2 KELOMPOK YANG BERBEDA
1. Kontraktor & TK di satu sisi dan Insinyur &
Konsultan di sisi lain adalah domain yang
berbeda.

2. Kontraktor & Tenaga Terampil (TK):


Sistem nilai bisnis; mencari keuntungan;
mekanisme pasar;
Tenaga kerja manajemen & terampil di
bayar dengan keuntungan;
Dicari dengan sistem lelang.

3. Insinyur (TA) & Konsultan :


Sama seperti dokter, warga negara terhormat
yang memberikan pelayanan kepada
masyarakat, bangsa, dan Negara;
Jasanya dihargai dengan remunerasi yang
dikawal oleh pemerintah, Dewan Insinyur, &
Asosiasi Profesi;
Bertanggung-jawab atas hasil perencanaannya
selama umur rencana.
Dicari dengan sistem seleksi

23

PERBANDINGAN TK & INSINYUR (TA)


No

Parameter

TK

Insinyur (TA)

Output

Keterampilan

Kecendikiawanan

Proses Pembelajaran

Pelatihan

Pendidikan

Legal Liability

Tidak liable

Liable

Bakuan Kompetensi

Job related

Professional related

Uji Kompetensi

Uji Keterampilan

Peer to peer assessment

Organisasi

Serikat Kerja

Asosiasi profesi

Landasan Pengaturan

UU 13, 2003 Ketenaga-kerjaan

UU 11, 2014 Keinsinyuran

Sumber: Istianto Oerip


(2014)

Sistem Keinsinyuran (TA) Nasional (UU 11, 2014)


PENGGUNA JASA
DANA
SWASTA

LKPP

K/L/D/I
(APBN/D)

PUPR (SDA, BM,


CK/PERUMAHAN)

PEMERINTAH:
MENRISTEKDIKTI

HUB (DAR, LAU,


UDA)

ESDM (ENERGI)

DEWAN
DEWAN
INSINYUR
INSINYUR

PII

Procurement
(Seleksi)

GOOD
GOVERNANCE

PENYEDIA
JASA

- TA
- KONSULTAN

MASYARAKAT PROFESIONAL
ASOSIASI PROFESI

PT

LSM
25

TANTANGAN 2:
PERBEDAAN PERAN INSINYUR SIPIL (INDUSTRI KONSTRUKSI) DENGAN
INSINYUR MESIN, T. KIMIA, DLL. DI INDUSTRI MANUFAKTUR
INDUSTRI
KONSTRUKSI
Konsultan
Project
Management

OWNER
(PEMERINTAH)

- Project Delivery;
- Procurement;
- Contract

UMUM

INDUSTRI
MANUFAKTU
R

PENGGUNA JASA
(Pembeii)

PENGGUNA JASA
(Pembeli)

Purchasin
g

Purchasin
g

PE - Civil

PE - Manufacture

Public Goods
(Infrastruktur
)

Produk

Private Goods
(Mobil, dll.)

PENYEDIA JASA

PENYEDIA JASA

PENYEDIA JASA
(INDUSTRIALIS)

Konsultan
Engineeri
ng

Kontrakto
r
Pelaksana

Catatan: Ir. Sipil perlu lebih dilindungi pemerintah; melayani publik; billing rate perlu dikawal; bukan mekanisme pasar

TANTANGAN 3:
PEMAHAMAN YANG BELUM SAMA MENGENAI KLASIFIKASI TA KONSTRUKSI
NO

KONTRAKTOR
TK

1.

Kompetensi

Pendidikan

TA MANAJEMEN

KONSULTAN
TA SETARA INSINYUR

Tukang

Project Manager

Arsitek

Operator

Site Manager

Teknisi

Site Adm. Manager

Ir. Sipil (struktur; geotek; highway;


pekerasan; transportasi, lalu lintas,
hidrolika; hidrologi, SDA, pelabuhan,
bandara, dll.)
Ir. Mesin

Analis

Site Org. Manager

Ir. Elektrikal

Site Eng. Manager

Ir. Teknik Lingkungan

Contract Manager
Safety manager
Quality Manager
Quantity Surveyor
Manager

Project Management Specialist


Construction Management Specialist
Contract Engineer
Safety Engineer
Quality Assurance Specialist
Quantity Surveyor Specialist
Program S1 & Program Profesi Ir.

Program
D1, D2, D3, D4

Program
D1, D2, D3, D4, S1 dan
Pelatihan

CATATAN

PEMBINAAN JASA KONSTRUKSI (PUSAT & DAERAH)

28

FUNGSI & TUGAS PEMBINAAN PEMERINTAH - 1/2


(Menurut UU 18, 1999)
1. Pemerintah melakukan pembinaan jasa
konstruksi (pengaturan, pemberdayaan, &
pengawasan):
- pengaturan: penerbitan peraturan per-UU-an;
standard teknis;
- pemberdayaan: menumbuh-kembangkan
kesadaran akan hak, kewajiban, dan perannya
dalam pelaksanaan jasa konstruksi;
- pengawasan: menjamin terwujudnya ketertiban
jasa konstruksi.
2. Pihak yang dibina:
a. Penyedia jasa: perseorangan, badan usaha.
b. Pengguna jasa: instansi pemerintah, pusat dan
daerah; perseorangan, badan usaha.
c. Masyarakat.
(1)
(2)

Catatan:
Masyarakat tidak didefinisikan; seharusnya termasuk: Asosiasi;
LSM; Perguruan tinggi; masyarakat profesional & umum.
Demikian juga: LPJKN, LPJKD, TPJK Prop./Kab./Kota.

3. Pembinaan terhadap Penyedia Jasa:


a. Untuk meningkatkan pemahaman dan
kesadaran akan hak & kewajibannya.
b. Pengaturan:
- penetapan kebijakan nasional pengembangan &
pengaturan jasa konstruksi;
- menerbitkan & menyebar-luaskan peraturan perUU-an.

c. Pemberdayaan:
- pengembangan SDM;
- pengembangan usaha (kemiteraan);
- dukungan lembaga keuangan; lembaga
pertanggungan;
- peningkatan kemampuan teknologi; LitBang.

d. Pengawasan:
- persyaratan perizinan;
- ketentuan teknik; SMM, SMK3; ketenagakerjaan; Jamsostek; keselamatan umum;
lingkungan; tata ruang; tata bangunan.
29

FUNGSI & TUGAS PEMBINAAN PEMERINTAH - 2/2


(Menurut UU 18, 1999)
4. Pembinaan terhadap Pengguna Jasa:
-

Untuk menumbuhkan pemahaman &


kesadaran akan hak & kewajiban pengguna
jasa dalam pengikatan dan penyelenggaraan
pekerjaan konstruksi.
5. Pembinaan terhadap Masyarakat:
- Untuk menumbuhkan pemahaman &
kesadaran akan hak & kewajiban guna
mewujudkan tertib usaha, penyelenggaraan &
dan pemanfaatan konstruksi.

6. Pelaksanaan pembinaan dapat dilakukan


bersama dengan lembaga:
-

harus ada pembagian tugas &


koordinasi.

7. Sumber pendanaan pembinaan:


-. Pemerintah Pusat (Ditjen. BK): dari APBN;
-. Lembaga: diatur oleh Lembaga (?).

8. Keberadaaan & Tugas Lembaga (LPJKN):


a. Penyelenggaraan peran masyarakat jasa konstruksi
dalam melaksanakan pengembangan jasa konstruksi
dilakukan oleh suatu lembaga yang independen &
mandiri; pemahaman sering keliru:
b. Tugas LPJKN:
(1) Litbang.
(2). Diklat; apakah efektif ?.
(3). Registrasi tenaga kerja konstruksi (klasifikasi, kualifikasi,
& sertifikasi); hanya untuk tenaga terampil; TA akan
dikeluarkan.
(4). Registrasi badan usaha konstruksi:
- hanya untuk kontraktor; konsultan akan dikeluarkan;
- perlu pembahasan apakah kontraktor perlu
disertifikasi; dan apa perbedaan sertifikasi & IUJK.
(5). Arbitrase, mediasi, & penilai ahli.

c. Pendanaan: sekarang dari APBN; masih terbatas.


30

DEKONSENTRASI & DESENTRALISASI


PERAN PEMBINAAN PUSAT KEPADA TPJKP (1/2)
1. UU 18, 1999: sebagian tugas pembinaan
dapat dilimpahkan kepada pemerintah daerah
yang diatur dengan PP.
2. PP 30, 2000:
a. Pembinaan merupakan tugas & tanggung
jawab pemerintah pusat.
b. Pembinaan diselenggarakan oleh Pemerintah
Pusat dan Pemerintah Daerah.
c. Penyelenggaraan pembinaan dapat
didekonsentrasikan atau ditugaspembantuankan kepada pemerintah daerah.
d. Dalam rangka pelaksanaan pembinaan unit
kerja yang ditunjuk oleh Menteri; oleh
Gubernur; dan oleh Bupati/Walikota (TPJK)
bertugas:
-

menyusun rencana & program;


melaksanakan pembinaan,
melakukan mon-ev;
menyusun laporan.

3. Biaya yang diperlukan untuk pembinaaan


yang dilakukan Pemerintah dibebankan
pada APBN.
4. Biaya pembinaan Pemerintah Provinsi:
-

Pembinaaan sesuai tugas dekonsentrasi &


pembantuan (APBN);
Pembinaan sebagai pelaksanaan tugas
OTDA (APBD).

5. Biaya pembinaan Pemerintah Kab./Kota:


- Pembinaaan sesuai tugas pembantuan
(APBN);
- Pembinaan sebagai pelaksanaan tugas
OTDA (APBD).

31

DEKONSENTRASI & DESENTRALISASI


PERAN PEMBINAAN PUSAT KEPADA TPJKP (2/2)
6. SE Mendagri No. 601/476/SJ, Tahun 2006 tentang
Penyelenggaraan Jasa Konstruksi di Daerah:
a. Pemerintah Prop./Kab./Kota dapat menerbitkan
Keputusan Kepala Daerah untuk menetapkan unit
kerja Pembina Jasa konstruksi yang terdiri dari
pejabat dari instansi yang membidangi pembinaan
jasa konstruksi dengan rekomendasi sbb.:
-.

Ketua dijabat oleh Asisten Sekda;


Sekretaris dijabat oleh Kadin PU;
Sekretariat dari unsur Pemda;
Struktur keanggotaan: kebijakan daerah, sesuai kondisi
setempat.

b. Amanat pembinaan UU 18, 1999; diselaraskan


dengan tugas OTDA:
-

Peningkatan SDM di bidang jasa konstruksi;


Peningkatan kemampuan teknologi;
Pengembangan sistem informasi;
Litbang;
Pengawasan tata lingkungan lintas Kab./Kota.

c. Penyelenggaraan oleh Pemerintah Provinsi:


-

Melaksanakan kebijakan pembinaan;


Menyebarluaskan peraturan per-UU-an;

Melaksanakan pelatihan, bimbingan teknis,


penyuluhan;

Melaksanakan pengawasan.

d. Penyelenggaraan oleh Pemerintah


Kab./Kota:
-

Melaksanakan kebijakan pembinaan;

Melaksanakan pelatihan, bimbingan teknis,


penyuluhan;

Menerbitkan perijinan usaha jasa konstruksi;

Melaksanakan pengawasan.

32

PERSPEKTIF SISTEM PEMBINAAN JASA & SDM KONSTRUKSI KE DEPAN

33

PERKEMBANGAN TERAKHIR:
PEMBAGIAN URUSAN PEMERINTAHAN
(UU 23, 2014 Pemerintahan Daerah)
1. Pelayanan dasar: pelayanan publik
untuk memenuhi kebutuhan dasar.

ESELON 3:
Bidang/UPTD/Balai

2. SPM: ketentuan jenis dan mutu


pelayanan dasar.
ESELON 2
URUSAN PEMERINTAHAN:
a. Absolut (Pemerintah Pusat).
b. Konkuren (Pemerintah Kab./Kota).
- Berkaitan pelayanan dasar; SPM;
- Tidak berkaitan;
- Pilihan.
c. Umum (Kewenangan Presiden
Gubernur Bupati/Walikota
Camat)

a. Pendidikan;
b. Kesehatan:
c. PU:

a. Penataan Ruang;
b. Jalan
c. SDA/Drainase
d. Permukiman (infrastruktur)

d. Sosial;

e. Penataan bangunan & lingkungan/


bangunan gedung

e. Ketertiban
umum

f. Air minum/persampahan/air
limbah.

f. Perumahan

g. Jasa Konstruksi.

34

PERSPEKTIF PEMBINAAN JASA KONSTRUKSI KE


DEPAN (1/2)
1. Pemerintah melalui Ditjen BK dan Gubernur/
Bupati/Walikota merupakan pihak yang
bertanggung jawab atas kemajuan jasa
konstruksi.
2. Karena desentralisasi; fungsi TPJK dapat
menjadi koordinasi.
3. Objek pembinaan mencakup bisnis (jasa)
konstruksi:
-

kontraktor & tenaga terampil; dan rantai pasok;


TA - Insinyur dikeluarkan; diatur dalam UU
Keinsinyuran.

4. Lembaga merupakan unsur yang


dibentuk pemerintah untuk
mendapatkan masukan kebijakan
bukan unsur yang dibentuk masyarakat
untuk menyalurkan aspirasi
masyarakat.
5. Ditjen BK & Gubernur/ Bupati/Walikota
Prop./Kab./Kota bertugas melakukan
pembinaan (pengaturan,
pemberdayaan, pengawasan).

35

PERSPEKTIF PEMBINAAN JASA KONSTRUKSI KE


DEPAN (2/2)
6. Sebagian tugas pembinaan dapat
dilakukan oleh Lembaga; yang paling
efektif:
-

Perumusan masukan kebijakan;


Pengelolaan informasi;
Litbang;
Arbitrase, mediasi, penilai ahli; dan
Sertifikasi dan Registrasi TK
Registrasi Badan Usaha

7. Pendanaan LPJKN harus sepenuhnya didukung


Ditjen BK (APBN).

8. Ditjen BK selaku Pembina Jasa Konstruksi


tingkat pusat berfungsi menyusun arahan
pembinaan, koordinasi, dan pengawasan;
serta membina LPJKN dan
Gubernur/Bupati/Walikota melalui Bidang
Jasa Konstruksi Prop./Kab./Kota.
9. Anggaran Pembinaan jasa konstruksi
Prop./Kab./Kota disediakan APBD.
10. Ditjen BK perlu mengkondisikan pimpinan
pemerintahan daerah: eksekutif
(Gubernur/Bupati/Walikota) & legistatif
(DPRD:
-

Lemhanas, LAN, Sespim; dll.;


sosialisasi intensif ke daerah, dll.
36

PEMBINAAN TENAGA TERAMPIL (TK) DI PROPINSI,


KABUPATEN/KOTA (1/2)
1. Peran TK (tukang) dalam jasa
konstruksi besar; menentukan mutu
akhir pekerjaan.
2. Dalam sistem Indonesia: mandor,
tukang & laden outsourcing - tenaga
lepas; ownwership kontraktor rendah.
3. Jaminan pensiun, hari tua, kesehatan
tidak ada.

4. Overhead kontraktor besar;


keuntungan rendah; upah tukang
rendah; tidak berminat pelatihan &
sertifikasi.
5. Perlu sepenuhnya dipihaki:

Pelatihan & sertifikasi dibiayai; diberikan


honor;
tukang traditional berikan sertifikat;
Tukang luar negeri; lindungi
sertifikatnya.

37

PEMBINAAN TENAGA TERAMPIL (TK) DI PROPINSI,


KABUPATEN/KOTA (2/2)
6. Ditjen. BK (Dit. Kerma & Kelembagaan,
Dit. Bina Kompetensi & Produktifitas),
Bidang Jasa Konstruksi Propinsi (34),
serta Bidang Jasa Konstruksi Kab./Kota
(500) mengkoordinasikan potensi
pelatihan:

Balai Pelatihan Kerja Ditjen. BK (7 Aceh;


Pbang; Jkt; Sby; Bsin; Msar; Papua);
MTU (13 unit; Jambi; Jkt; Jateng; Msar;
Papua seluruh propinsi)
Balai Pelatihan Kemen. Ketenaga-kerjaan;
Balai Pelatihan Pemda;
LPJKN;
LPJKP (34).

7. Perlu dikaji pengembangkan Sub-

Kontraktor Penyedia Jasa TK.


8. Balai Jasa konstruksi Wilayah VI
Makassar berfungsi perwakilan pusat
di daerah dalam melaksanakan
pembina wilayah

38

TERIMAKASIH

39