Anda di halaman 1dari 13

1

KOHORT PROSPEKTIF VS
KOHORT RETROSPEKTIF
OLEH: KELOMPOK 4
Asmalinda Sy (1511216009)
Tona Manang Deta Lubis (1511216020)
Suryani Annisa (1511216035)
Dianti Andita Celfiz (1511216037)
Rilya Despriyenti (1511216038)
Nurkhaira Manel (1511216041)
Yossy Dirga Aulia (1511216059)

Berdasarkan timing kronologis antara kejadian


fenomena sesungguhnya dan waktu penelitian
studi kohort dibagi menjadi 2 jenis (Murti, 2003):
Studi Kohort prospektif
Studi Kohort Retrospektif (kohort historis)

KOHORT PROSPEKTIF VS KOHORT


RETROSPEKTIF
3

KOHORT PROSPEKTIF
Studi kohort dimana faktor risiko,
atau faktor penelitian diukur
pada awal penelitian, kemudian
dilakukan
follow
up
untuk
melihat
kejadian
penyakit
dimasa yang akan datang.
Lamanya
follow
up
dapat
ditentukan berdasarkan lamanya
waktu terjadinya penyakit.
Bentuk kohort Prospektif :
Kohor prospektif dengan
pembanding internal
Kohor prospektif dengan
pembanding eksternal

Kohort
dimana
efek
diidentifikasi
lebih
KOHORT RETROSPEKTIF
dahulu, baru kemudian
faktor risiko dipelajari
secara
retrospektif.
Dengan kata lain, efek
baik
berupa
penyakit
atau status kesehatan
tertentu
diidentifikasi
pada
masa
kini
,sementara faktor risiko
(kausal)
diidentifikasi
adanya
masa
lalu.
Penelitian
ini
hanya
dapat dilakukan bila data
mengenai faktor risiko
dan
efek
tercatat

KOHORT PROSPEKTIF VS KOHORT


RETROSPEKTIF
4

KOHORT PROSPEKTIF

KOHORT RETROSPEKTIF

Kuat dalam hal menentukan Lebih lemah menentukan sebab


sebab akibat karena peneliti akibat dibanding prospektif
sendiri yg mengikuti kedepan
karena melihat kebelakang
Kadang bisa terjadi lost follow up

bukan melalui
atau historis

data

Susah mengontrol keadaan dan


kualitas pengambilan data
sekunder yang telah dilakukan
oleh orang lain pada masa lalu
Sulit dalam menetukan faktor
risiko pada subyek yang telah
terpajan

sekunder Harus menggunakan data


sekunder yang faktor resiko dan
efek tercatat lengkap.

Mahal dibandingkan Studi kohort Lebih ekonomis dibanding


Retrospektif
prospektif
waktu lama karena memfollow Waktu relatif lebih singkat karena

SKEMA KOHORT PROSPEKTIF VS


KOHORT RETROSPEKTIF

KELEBIHAN STUDI
KOHORT

desain terbaik dalam menentukan insidens dan perjalanan penyakit atau


efek yang diteliti
ada tidaknya asosiasi antara faktor risiko dan penyakit
Dapat dipakai langsung untuk mengukur insidence rate dari penyakit dan
risiko relatif dari faktor risiko yang sedang diteliti.
Studi kohort merupakan pilihan terbaik untuk kasus yang bersifat fatal dan
progresif
Studi kohort dapat dipakai untuk meneliti beberapa efek sekaligus dari
suatu faktor risiko tertentu
Memiliki kekuatan yang andal untuk meneliti berbagai masalah kesehatan
yang makin meningkat
Masalah etika lebih sedikit dibandingkan dengan studi eksperimental.
Jumlah sampel yang dibutuhkan banyak sehingga menghasilkan temuan
yang solid dan dapat dipercaya
Pengambilan sampel lebih mudah dilakukan pada populasi yang besar
sehingga lebih banyak sampel yang mewakili yang dapat diperoleh
Reduksi bias informasi

KELEMAHAN STUDI
KOHORT

Biasanya memerlukan populasi studi yang besar, yang tidak mudah ditemukan atau
dijangkau
biaya yang dikeluarkan untuk penelitian cukup tinggi
Individu yang mundur dari studi selalu menjadi masalah atau terancam terjadinya
drop out
Perolehan dan penahanan partisipan studi merupakan hal yang paling sulit berkaitan
dengan komitmen jangka panjang dan tindak lanjut
Populasi studi sering kali bukan merupakan populasi umum, dan hasil yang diperoleh
tidak mudah diterapkan secara luas pada populasi umum.
Analisis data harus di atur, dan sistim secara teknik pengumpulan data harus di susun
dalam cara yang dapat dikendalikan dan konsisten.
Hindari dengan memilih kasus yang sering terjadi, atau penyakit yang tidak komplek.
Memerlukan waktu follow up yang cukup lama. Untuk itu perlu dipilih penyakitpenyakit yang mempunyai masa inkubasi singkat.
Kurang efisien segi waktu maupun biaya untuk meneliti kasus yang jarang terjadi.
Perubahan intensitas paparan atau faktor risiko akan dapat mengganggu analisis.
Dapat menimbulkan masalah etika

LANGKAH-LANGKAH PENELITIAN
KOHORT
8

Merumuskan masalah penelitian


Menetapkan subyek penelitian
Memilih kelompok kontrol
Identifikasi variabel penelitian
Mengematai perkembangan dan menetapkan
timbulnya efek
Analisis hasil

CONTOH JURNAL KOHORT


PROSPEKTIF
9

RISIKO PENGGUNAAN ACEI TERHADAP KEJADIAN BATUK KERING


PADA PASIEN HIPERTENSI DI RSUD CENGKARENG DAN RSUD
TARAKAN DKI JAKARTA

HASIL PENELITIAN
10

CONTOH JURNAL KOHORT RETROSPEKTIF


HUBUNGAN STATUS GIZI IBU HAMIL DENGAN
BERAT BADAN BAYI BARU LAHIR DI PUSKESMAS
TILANGO KABUPATEN GORONTALO

11

HASIL PENELITIAN
12

13

TERIMAKASIH