Anda di halaman 1dari 26

PENYAKIT AKIBAT KERJA

YANG DISEBABKAN OLEH


PAJANAN KIMIA SOLVENT

Stevia Artha Natalia P


102013453

Skenario 2
Seorang laki-laki berumur 30 th datang ke
Puskesmas dengan keluhan sering pusing sejak 1
bulan terakhir. Selain itu pasien sulit konsentrasi
saat bekerja dan sulit untuk tidur.

Rumusan masalah
Laki-laki 30 th mengeluh pusing,
sulit konsentrasi, dan sulit tidur
sejak 1 bulan terakhir

Mind Map
Faktor
diluar
pekerjaan

Diagnosis
PAK

Pencegahan

Faktor
individu
Jumlah
pajanan
cukup
Hubungan
pajanan
dengan
penyakit

RM

Diagnosis
klinis

Pajanan
Penatalaksanaan
Medikamentos
a

Non-Medikamentosa

1. DIAGNOSIS KLINIS
Anamnesis
Anamnesis
Identitas Pasien
Nama

: Tuan X
Alamat : X
Usia : 30 tahun
Tempat tanggal lahir : X
Pekerjaan : Karyawan di pabrik sepatu
Bagian

: Produksi
Tugas : Merekatkan bagian bawah sepatu
menggunakan lem
yang disediakan
Waktu bekerja : 8 jam per har
Lama bekerja : 10 tahun
Alat pelindung diri : Tidak pernah menggunakan APD

1. DIAGNOSIS KLINIS
Keluhan utama

: Sering pusing sejak 1 bulan

terakhir
Keluhan penyerta : Sulit konsentrasi saat bekerja
dan sulit tidur
Riwayat penyakit sekarang :Pasien tidak memiliki
masalah psikologis dengan atasan maupun
dengan rekan sekerja
Riwayat penyakit dahulu : tidak pernah mengalami
hal seperti ini, demam (-),merokok (-), alkohol (-)
Riwayat keluarga : tidak ada di keluarga yang
mengalami seperti pasien

WD
Vertigo et causa Intoksikasi metil etil keton toluene
Vertigo:
Tes Romberg
Tes Tandem Gait
Stepping test
Past pointing test
Finger to finger test
PP:
Otoacoustic Emission (OAE) menilai suara oleh telinga pasien

sendiri.
Cara ini cepat dan sederhana.
OAE berguna dalam mendeteksi malingering, gangguan
pendengaran sentral dan orang- orang dengan neuropati
auditorik.

Etiologi Vertigo
Keadaan lingkungan
Motion sickness (mabuk darat, mabuk laut)

Obat-obatan
Alkohol
Gentamisin

Kelainan sirkulasi
Transient ischemic attack (gangguan fungsi otak sementara

karena berkurangnya aliran darah ke salah satu bagian otak)


pada arteri vertebral dan arteri basiler
Kelainan di telinga
Endapan kalsium pada salah satu kanalis semisirkularis di dalam

telinga bagian dalam


Infeksi telinga bagian dalam karena bakteri
Herpes zoster
Tumor otak

Pemeriksaan Fisik
Keadaan Umum
: Tampak sakit
ringan
sedang
Kesadaran
: Compos mentis
TTV dalam batas normal
Head to toe
Pem khusus
Vertigo
Intoksikasi solvent: PF paru dan
neurologis (tidak spesifik)

Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan
darah

Pemeriksaan
Neuropsikologi

Urin 24 jam

2. Pajanan yang dialami


SOLVENT
MEK

TOLUENE

CIRI FISIK & KIMIA

Cairan xberwarna,
bau tajam spt
aseton, menguap
bila terpapar di
udara

Cairan xberwarna,
bau harum dan
tajam spt benzene,
xlarut air, menguap

KEGUNAAN

Pelarut, penghasilan
wax, pemprosesan
makanan

Pelarut, industry
otomotif

TOKSISITAS

Neurotoksik, iritasi
mata, saluran
pernapasan

Neurotoksik, iritasi
saluran pernapasan

NAB

200ppm/ 8j

200ppm/ 8j

3. Hubungan Pajanan dengan


Penyakit
Tanyakan
Gejala yang dialami terjadi setelah individu

menjalani pekerjaannya sebagai petugas


pengeleman sepatu
Gejala semakin terasa nyata setalah melakukan
kontak dengan zat kimia metil etil keton
Gejala tersebut semakin berat setelah terpapar zat
kimia tsb dalam jangka waktu lama.
Hal-hal tersebut perlu ditanyakan untuk
membuktikan ada atau tidaknya hubungan pajanan
dengan penyakit. Hubungan antara pajanan dan
penyakit ini haruslah didukung oleh bahan ilmiah
seperti literature atau penelitian

Akut

Kronik

Jangka waktu pendek dan kadar Jangka waktu panjang dan


tinggi
kadar rendah
kelelahan sakit kepala, vertigo,
disorientasi, kebingungan,
halusinasi, dan/atau kejang dan
akibat neurologis lain seperti
koma/kematian

Gejala mirip akut hilang timbul


Gangguan hematologi hingga
kanker

Dapat jadi akut apabila


melewati nab
Mempengaruhi sistem saraf pusat (sering) dan sistem saraf
perifer (jarang)

4. Jumlah Pajanan Cukup


Besar
Epidemiologi
167 (28%) dari 588 zat kimia
diindentifikasi oleh American Conference of
Government Industrial Hygienes ditemukan
memiliki efek terhadap saraf. Sedikitnya
25% dari zat kimia tersebut merupakan
solven.

4.Jumlah Pajanan Cukup


Besar
Bukti Kualitatif dan Kuantitatif
Lingkungan Kerja
Pasien bekerja di pabrik sepatu bagian produksi yang merekatkan bagian

bawah sole dengan menggunakan solvent yang mungkin mengandungi


MEK dan toluene.
Jam bekerja
Pasien ini terpapar terhadap pajanan tersebut selama 8 jam sehari dalam 10

tahun.
Pemakaian APD.
Berdasarkan kasus pasien tidak memakai APD. Ini meningkatkan lagi

kemungkinan pajanan solvent terhadap pasien ini.


Jumlah pajanan
Untuk jumlah pajanan diperlukan pengukuran langsung besarnya pajanan

di tempat kerja pasien.Nilai ambang batas bagi MEK adalah 200 bds

5. Faktor Individu
Faktor individu mencakup
Status kesehatan fisik pasien
Faktor kesehatan mental pasien
Hygene perorangan
Faktor higiene perorangan menunjukan kebiasaan

rerponden dalam hal menjaga kebersihan berkaitan


dengan proses pemajanan zat kimia dalam lem yang
digunakan dalam bekerja.
Riwayat penyakit dalam keluarga juga berpengaruh.
Faktor pendidikan juga berpengaruh faktor pendidikan
yang umumnya rendah sehingga tidak jarang pekerja
tidak membaca petunjuk pengunaan solvent

6. Faktor lain diluar pekerjaan


Pada kasus ini, bisa tanyakan kepada

pekerja apakah hobinya sehari-hari.


Tanyakan kepadanya apakah dia
mempunyai kerja sambilan yang lain.
Bila ada, apakah pekerjaan itu
mebuatnya terpapar bahan yang dapat
menimbulkan keluhan seperti yang dia
alami.

Diagnosis Okupasi
Dibagi menjadi empat.
Penyakit Akibat kerja (PAK) atau Penyakit
Akibat Hubungan Kerja (PAHK)
Penyakit yang diperberat pajanan di
tempat kerja
Belum dapat ditegakkan
Bukan Penyakit Akibat Kerja (PAK)

Penatalaksanaan
Medikamento
sa
Pemberian Flunarizin 10 mg
Menghindarkan pasien dari pajanan sampai gejalanya hilang, hal
ini dapat dilakukan dengan memindahkan tempat pasien bekerja.
Jika gejala telah hilang harus dipertimbangkan dengan baik
apakah pasien masih dapat bekerja dengan adanya paparan
solven untuk selanjutnya.
Keputusan itu dilakukan dengan pemeriksaan follow up terhadap
pasien.
Pengobatan lebih berfokus terhadap gejala yang dialami pasien
seperti sakit kepala atau pusing. Pada pasien yang mengalami
depresi dapat diberikan antidepresan.
Dukungan dari teman dan keluarga juga hal yang penti

Pencegahan
Pencegahan Pimer Health Promotion
Perilaku kesehatan - hygiene
Perilaku kerja yang baik
Gizi
APD (sarung tangan, baju pelindung, goggles, eyewash, air
untuk menyemprot kulit)
Pencegahan Skunder Specific Protection
Rotasi bagian tugas/pembatas jam kerja atau pengaturan
waktu pemaparan yaitu sesuai waktu pemaparan dengan
nilai ambang batas solvent.

Pengendalian teknis:
Penyelenggaraan latihan kesehatan dan keselamatan

kerja bagi semua tenaga kerja. Pada latihan ini perlu


dijelaskan tentang bahaya lingkungan kerja yang
mungkin timbul di tempat kerja. Manfaat pemakaian
alat pelindung diri serta cara-cara pemakaian
pemeliharaannya dan pengenalan material safety data
sheet ( MSDS ).
Substitusi bahan kimia yang berbahaya dengan yang
kurang berbahaya.
Eliminasi bahan kimia yang berbahaya jika
memungkinkan.
Rekayasa teknik seperti pemasangan exhaust fan agar
terjadi pertukaran udara yang baik.

Pencegahan Tersier
Pemeriksaan kesehatan pra-kerja
Pemeriksaan kesehatan berkala
Pemeriksaan lingkungan secara berkala
Pengobatan segera bila ditemukan gangguan

pada pekerja
Pengendalian segera ditempat kerja. Dalam
pengendalian penyakit akibat kerja, salah satu
upaya yang wajib dilakukan adalah deteksi dini,
sehingga pengobatan bisa dilakukan secepat
mungkin. Dengan demikian, penyakit bisa pulih
tanpa menimbulkan kecacatan

Pemeriksaan tempat kerja

Bagaimana prognosisnya?
Tergantung jumlah
pajanan dan
penatalaksanaan
yang telah dilakukan

Kesimpulan
Pada Pasien tersebut yang mengalami
pusing dan sulit konsentrasi setelah
dilakukan 7 langkah diagnosis okupasi
secara menyeluruh, pasien diduga
mengalami intoksikasi solven kronik
akibat pekerjaan. Pekerjaan pasien
merupakan seorang perekat sepatu
yang sudah lama bekerja sehingga
kemungkinan besar mendapatkan
paparan terhadap solven. Solven
merupakan zat pelarut yang bersifat
neurotoksik sehingga dapat
menimbulkan gejala gejala seperti
yang dialami oleh pasien.

Sekian &
terima
kasih