Anda di halaman 1dari 23

ANALISA KASUS MALPRAKTEK DAN

KELALAIAN
DALAM KEPERAWATAN

Ida Ayu Kade Sri 16068594


Widiastuti
Ni Kadek Sriasih

56
16068596

Grace Yuliona

00
15067788

Sirtin Tumakaka
Kurniawati

55
16069474

Rifka Putri

33
16068597

Gambaran Kasus

Kronologis
Kasus

Perkemban
gan Kasus

Kronologis Kasus
awal Agustus 2015
Yenny
Hestiaty
berusia
37
tahun,
warga
Singkawang
mengalami kelilipan
bagian mata sebelah
kiri.
Poli mata Puskesmas
Pasar
Kota
Singkawang
dan
dilakukan
tindakan
oleh
perawat
Refractionist Optician
(RO-red) (perawat ST)

perawat
ST
membuat rujukan
dengan
tanda
tangan sendiri ke
RS Serukam di
Bengkayang
mata
istrinya
semakin bengkak
dan sempat 3 kali
melakukan
pemeriksaan
di
puskesmas
tersebut
tindakan
medis
dengan mengorekgorek
matanya
menggunakan
jarum yang lembut

RSU
Serukam
sempat rawat inap
selama
sembilan
hari,
dokter
spesialis
mata
menyampaikan
istrinya menderita
Ulkus Kornea yang
sulit disembuhkan,
hanya
dengan
cangkok kornea
RSUD
Soedarso,
Pontianak hasilnya
sama
Rumah Sakit Mata
Cicendo Bandung
hasilnya
cacat
permanen

Setelah ditelusuri ternyata perawat ST tidak


boleh mengambil tindakan karena ia adalah
ahli kacamata bukan dokter mata, ia
mestinya menyampaikan hal ini kepada
dokter jaga namun tidak dilakukan.

Atas kejadian itulah pihak Efdi


melaporkan prawat ST ke Polres
Singkawang pada 18 Desember 2015
nomor: TBL/380/B/XII/2015/Kalbar/Res
Skw, tentang dugaan tindak pidana
malpraktik.

Perkembangan Kasus

Terkait
dengan
kasus Yenny
sempat
menempuh jalur
mediasi,
guna
dibantu
keringanan
selama
menjalani
pengobatan
tidak
mendapat
respon positif
TBL/380/B/XII/20
15/Kalbar/Res
Skw,
tentang
dugaan
tindak
pidana

Pihaknya
tetap
berprinsip praduga tak
bersalah
Dari
pengkajian
keempat
komponen
tersebut maka dapat
disimpulkan apakah ada
unsur pidana atau tidak

Tribunnews, 13 Juni
2016
3
Juni,
dilakukan
pemanggilan
dan
sudah
memenuhi
unsur untuk dilakukan
pemeriksaan dari saksi
ahli, dan melakukan
dua kali gelar perkara

Peraturan
Kapolri
(Perkap)
Nomor
4
Tahun 2012 Tentang
Manajemen Penyidikan
Ikatan
Dokter Tindak Pidana, dan
Indonesia (IDI) Kota setelah
itu
Singkawang kita ambil diterbitkanlah
status
keterangan
sebagai terlapor
dari
saksi
Tanyakan
saksi ahli status SOP nya menjadi tersangka
Melibatkan saksi ahli
Persatuan Perawat
Nasional Indonesia
(PPNI)

Analisa Kasus
Analisa Kasus Berkaitan Dengan Adanya Malpraktek dari
keperawatan
Berdasarkan Prinsip Etik eperawatan
Berdasarkan Kode Etik
Analisa berdasarkan standar praktik keperawatan
Indonesia
(PPNI,2005)
Analisa Kasus
Berdasarkan Tinjauan Hukum
Tinjauan berdasarkan UU RI No. 36 tahun 2014
tentang Kesehatan,
Tinjauan Berdasarkan Undang-Undang No. 38 Tahun
2014 tentang Keperawatan
Permenkes no 75 tahun 2014 tentang pusat
kesehatan masyarakat
Tinjauan Berdasarkan KUHP
UU No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan
Tinjauan Berdasarkan Literatur dan evidence
Konsumen
(bukti)
Berdasarkan Konsep Malpraktik

Berdasarkan Prinsip Etik


Keperawatan
Berbuat baik (beneficience)
Pada kasus ini perawat mata sudah melakukan
tindakan penanganan, namun tidak melakukan
pencegahan kesalahan, seperti perawat ST tidak
melakukan konsultasi pada dokter di Puskesmas,
melainkan melakukan tindakan medis yang tidak
sesuai standar dengan cara mengorek-gorek mata
pasien menggunakan jarum yang lembut.
Justice (Keadilan)
Perawat ST dinas di poli mata seharusnya
mempertimbangkan
pelayanan
yang
sesuai
dengan
standar.
Kondisi
pasien
harusnya

Nonmaleficince (tidak merugikan)


Jelas tindakan yang dilakukan perawat ST
menimbulkan dampak negatif pada
kesehatan mata klien. Akibat tindakan
medis
yang
diluar
kompetensinya
sebagai seorang perawat RO akhirnya
klien mengalami Ulkus Kornea, cacat
permanen
pada
mata.
Seharusnya
perawat ST lebih bersikap hati-hati
memikirkan
terlebih
dahullu
efek
samping tindakan yang dilakukan.

Berdasarkan Kode Etik (PPNI,


2013)

Perawat dan Praktik


Butir ke (3) bahwa Perawat dalam membuat keputusan
didasarkan
pada
informasi
yang
akurat
dan
mempertimbangkan
kemampuan
serta
kualifikasi
seseorang bila melakukan konsultasi, menerima
delegasi dan memberikan delegasi kepada orang lain
KASUS
- Perawat tidak memberikan pelayanan kesehatan
yang sesuai dengan prosedur
- Seharusnya dikonsultasikan pada dokter yang
memeliki komptensi sebagai dokter mata
- Seharusnya sebelum bertindak perawat ST melihat
kualifikasi dirinya sebagai perawar RO.
- Seharusnya melakukan tugas berdasarkan delegasi
tindakan yang diberikan bukan melakukan tindakan

Analisa berdasarkan standar praktik


keperawatan Indonesia (PPNI,2005)
Standar Praktik Profesional , Standar IV
(Implementasi)
Perawat mengimplementasikan tindakan yang telah
diidentifikasi dalam rencana asuhan keperawatan dan
seorang perawat harus melakukan kolaborasi dengan
profesi kesehatan lain untuk meningkatkan status
kesehatan klien.
KASUS
Perawat ST mengambil keputusan sendiri dalam
memberikan tindakan medis yang bukan wewenangnya
tanpa kolaborasi

Standar Kinerja Profesional , Standar VI


( Kolaborasi)
Perawat berkolaborasi dengan klien, keluarga dan
semua pihak terkait serta tim multi disiplin
kesehatan dalam memberikan keperawatan klien.
KASUS
Perawat ST tidak memperhatikan satndar kinerja
professional sehingga kolaborasi multi disiplin tidak
dilakukan akibatnya terjadi cacat permanen pada
mata pasien Yenny.

Tinjauan berdasarkan UU RI No. 36


tahun 2014 tentang Kesehatan
BAB IX 58 ayat 1
Hak dan Kewajiban dalam pasal dijelaskan bahwa tenaga
kesehatan dalam menjalankan praktik wajib:
- Memberikan pelayanan kesehatan sesuai dengan Standar
Profesi,
Standar
Pelayanan
Profesi,
Standar
Prosedur
Operasional, dan etika profesi serta kebutuhan kesehatan
Penerima PelayananKesehatan
- Memperoleh persetujuan dari Penerima Pelayanan Kesehatan
atau keluarganya atas tindakan yang akan diberikan
- Menjaga
kerahasiaan
kesehatan
Penerima
Pelayanan
Kesehatan. Membuat dan menyimpan catatan dan/atau
dokumen tentang pemeriksaan, asuhan, dantindakan yang
dilakukan.
- Merujuk Penerima Pelayanan Kesehatan ke Tenaga Kesehatan
lain yang mempunyai Kompetensi dan kewenangan yang sesuai
KASUS
Perawat TS ini, klien nya yang bernama Henny tidak mendapatkan
pelayanan yang optimal

Tinjauan Berdasarkan Undang-Undang


No. 38 Tahun 2014 tentang Keperawatan
Bab 1 pasal 2
Kasus ini perawat telah melanggar UU no. 38 tahun
2014, Bab 1 pasal 2 tentang keperawatan, yang
mengatur bahwa praktek keperawatan yang berasaskan
perikemanusiaan; nilai ilmiah; etika dan profesionalitas;
manfaat; keadilan; pelindungan; dan kesehatan dan
keselamatan Klien.

KASUS
Perawat ST tidak memperhatikan etika, profesionalisme
dan keselamatan pasien berdasarkan keilmuan yang
dimiliki, dalam pemberian tindakan pada mata pasie
Yenny yang pada akhirnya malah menyebkan kondisi
kebutaan.

Bab V pasal 28 ayat 3, Bab VI


Pasal 38
ST telah melanggar UU keperawatan pasal 28 ayat
3 yang menjelaskan bahwa praktik keperawatan
didasarkan pada kode etik, standar pelayanan,
standar profesi, dan standar prosedur operasional
KASUS
Saksi ahli harus melihat standar operasional
prosedur penanganan penyakit mata di Poli Mata
Puskesmas Pasar Kota Singkawang.
Jika di Puskesmas tersebut sudah ada SOP yang
mengatur tentang pelimpahan tugas dari dokter
ke perawat maka ST dikatakan tidak menjalankan
SOP dalam penanganan penyakit mata klien
Yenny.
Perawat ST juga melanggar pasal 38, Pada kasus

Pasal 30 ayat 1 ponit (h)


Memberikan konsultasi Keperawatan dan berkolaborasi
dengan dokter.
KASUS
Tidak ada kolaborasi dan kosultasi yang dilakukan oleh
perawat ST kepada dokter mata terkait dengan hasil
pengkajian keperawatan yang didapatnya, dan perawat
ST juga langsung melakukan tindakan medis dengan
menggunakan
jarum
pada
mata
klien
hingga
mengakibatkan kecacatan.
Bab V pasal 32
Ditelusuri apakah sudah ada pelimpahan wewenang dari
dokter mata kepada perawat ST terkait tindakan medis
yang dilakuka perawat ST.

Bab V Pasal 35 ayat 2.


Pertolongan pertama sebagaimana dimaksud pada
bertujuan untuk menyelamatkan nyawa Klien dan
mencegah kecacatan lebih lanjut
KASUS
Perawat ST tidak profesional karena bekerja dibawah
standar
BAB VI Pasal 36 poin (a)
Perawat dalam melaksanakan Praktik keperawatan
berhak memperoleh perlindungan hukum sepanjang
melaksanakan tugas sesuai dengan standar pelayanan,
standar profesi, standar prosedur operasional, dan
ketentuan Perundang-undangan.
KASUS
Praktik tidak sesuai dengan standar operasioanl

Permenkes no 75 tahun 2014


tentang pusat kesehatan
masyarakat
Pasal 37 ayat 2 Upaya kesehatan tingkat
pertama dilaksanakan dengan standar
prosedur operasional dan standa pelayanan
KASUS
Perawat ST bekerja tidak dibawah standar
atau tidak sesuai SOP.

Tinjauan Berdasarkan KUHP


Pasal 360 KUHP Penjara
Pasal 361 KUHP Pencabutan hak melakukan
pekerjaan
Undang-Undang no. 36 tahun 2009 (Kesehatan)
pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan
denda paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu
miliar rupiah).

KASUS
Tindakan medis yang dilakukan oleh perawat ST pada
mata klien Yenny hingga mengakibatkan kecacatan
permanen maka bisa saja dikenai sanksi pidana.

UU No. 8 Tahun 1999 tentang


Perlindungan Konsumen
Pasal 19 ayat (1) UUPK Pelaku usaha
bertanggung jawab memberikan ganti rugi atas
kerusakan, pencemaran, dan/atau kerugian
konsumen
akibat
mengkonsumsi
barang
dan/atau
jasa
yang
dihasilkan
atau
diperdagangkan
KASUS
Klien Yenny sebagai konsumen jasa pelayanan
kesehatan berhak mendapatkan ganti rugi atas
kelalaian yang dilakukan oleh perawat ST karena
tindakannya yang tidak sesuai dengan SOP.

Berdasarkan Konsep
Malpraktik

Duty atau tugas


Melakukan tindakan penanganan diluar kewenangannya
tanpa adanya komunikasi, kolaborasi, dan atau
pelimpahan wewenang dari tim medis
Pelanggaran kewajiban atau Dereliction of the duty
Perawat ST
gagal melakukan tanggung jawabnya
sesuai standar profesi perawat di mana kewajiban
perawat melaksanakan asuhan keperawatan yang
holistik
Damage atau Cedera
Perawat ST membuat pasien cedera fisik dan
perdarahan
/kebutaan
Direct cause
relationship
Kasus tindakan operasi mandiri perawat ST
mendatangkan akibat yang buruk bagi pasien
yaitu pasien harus menjalani pengobatan dalam
jangka waktu yang lama karena mengalami

Berdasarkan pembuktian
empiris
Tindakan
Perawat ST
Rumah Sakit
Mata
Cicendo
Bandung

Kecacatan
mata klien
Yenny
RSUD
Soedarso,
Pontianak

MALPRAKTEK
RS Serukam di
Bengkayang
didiognosa
Ulkus Kornea

Tindakan
menggunakan
jarum
yang
lembut pada mata
klien Yenny
mata
semakin
bengkak
dan
harus menjalani
pemeriksann
kembali

Perawat ST bisa mencegh hal tersebut dengan tidak melakukan


tindakan medis diluar kewenangannya sebagai perawat RO dan
berkonsultasi dengan dokter sesuai dengan hasil pengkajiannya
kemudian melakukan tindakan sesuai dengan SOP.

Kesimpulan dan saran


SIMPULAN

SARAN

Kasus perawat ST merupakan


salah satu kasus yang masuk
dalam
malpraktik
dimana
tindakan medis yang dilakukan
pada pasien Yenny tidak sesuai
dengan standar operasional
dan standar prosedur serta
kelalaian perawat ST tidak
melakukan
konsultasi
dan
kolaborasi dengan dokter di
Puskesmas
Singkawang.
Tindakan
yang
diputuskan
sendiri
tersebut
akhirnya
berdampak pada kecacatan
permanen pada mata pasien

Memperhatikan peraturan dan


SOP yang berlaku
Perawat memiliki kewajiban
untuk menyusun pengkajian
dan melaksanakannya dengan
benar
Utamakan
kepentingankepentinga pasien dan jangan
melakukan
tindakan
yang
belum dikuasai oleh perawat
Lakukan konsultasi dengan
tim lainnya
Pelimpahan
tugas
secara
bijaksana dan mengetahui
lingkup tugas masing-masing