Anda di halaman 1dari 39

BATU GINJAL

Defenisi
Batu ginjal merupakan keadaan tidak
normal di dalam ginjal, dan mengandung
komponen kristal serta matrik organik.
Lokasi batu ginjal dijumpai khas di khalis
atau pelvis dan bila akan keluar dapat
terhenti di ureter atau kandung kemih.
Batu ginjal sebagian besar mengandung
batu kalsium. Batu ginjal menyebabkan
obstruksi dan menimbulkan gejala jika
batu berukuran 3 mm.

Faktor yang Mempengaruhi Kejadian BSK


1. Usia
Lebih sering ditemukan pada usia 30-50
tahun.
2. Jenis Kelamin
Jumlah penderita laki-laki lebih banyak tiga
kali dibandingkan dengan perempuan. Hal
ini disebabkan oleh perbedaan struktur
anatomi saluran kemih antara laki-laki dan
perempuan serta faktor hormone estrogen
yang mencegah terjadinya agregasi garam
kalsium.

3. Pekerjaan
Pekerja-pekerja keras yang banyak bergerak,
misalnya buruh dan petani akan mengurangi
terjadinya BSK bila dibandingkan dengan
pekerja-pekerja yang lebih banyak duduk.
4. Air Minum
Memperbanyak diuresis dengan cara banyak
minum akan mengurangi terbentuknya batu,
sedangkan bila kurang minum menyebabkan
kadar semua substansi dalam urin akan
meningkat dan akan mempermudah
pembentukan batu. Kejenuhan air yang
diminum sesuai dengan kadar mineralnya
terutama kalsium diperkirakan mempengaruhi
terbentuknya BSK

5. Makanan
Konsumsi makanan tinggi protein yang
berlebihan dan garam akan meningkatkan
pembentukan BSK. Diet banyak purin
(kerang-kerangan, anggur), oksalat (teh,
kopi, cokelat, minuman soda, bayam),
kalsium (daging, kaldu, ikan asin dan
jeroan) mempermudah terjadinya penyakit
BSK.

Etiologi

Penyebab BSK masih belum diketahui dengan


pasti. Pembentukan BSK merupakan hasil
interaksi beberapa proses yang kompleks,
merupakan komplikasi atau salah satu
manifestasi dari berbagai penyakit atau
kelainan yang mendasarinya. Beberapa teori
terbentuknya BSK, yaitu :
1. Teori Supersaturasi/Kristalisasi
Urin mempunyai kemampuan melarutkan
lebih banyak zat yang terlarut bila
dibandingkan dengan air biasa. Dengan
adanya molekul-molekul zat organik seperti
urea, asam urat, sitrat dan mikoprotein, juga
akan mempengaruhi kelarutan zat-zat lain.

Bila konsntrasi zat-zat yang relatif tidak


larut dalam urin (kalsium, oksalat, fosfat
dan sebagainya) makin meningkat, maka
akan terbentuk kristalisasi zat-zat
tersebut. Batasan pH urin normal antara
4,5-8.
Bila air kemih menjadi asam (pH turun)
dalam jangka lama makan beberapa zat
seperti asam urat akan mengkristal.
Sebaliknya bila air kemih menjadi basa
(pH naik) maka beberapa zat seperti
kalsium fosfat akan mengkristal.

Dengan demikian, pembentukan batu


pada saluran kemih terjadi bila keadaan
urin kurang dari atau melebihi batas pH
normal sesuai dengan jenis zat
pembentuk batu dalam saluran kemih.

2. Teori Nukleasi/Adanya Nidus


Nidus atau nukleus yang terbentuk, akan
menjadi inti presipitasi yang kemudian
terjadi zat/keadaan yang dapat bersifat
sebagai nidus adalah ulserasi mkosa,
gumpalan darah, tumpukan sel epitel,
bahkan juga bakteri, jaringan nekrotik
iskemi yang berasal dari neoplasma atau
infeksi dan benda asing.

3. Teori Tidak Adanya Inhibitor


Supersaturasi kalsium, oksalat dan asam
urat dalam urin dipengaruhi oleh adanya
inhibitor kristalisasi. Hal inilah yang dapat
menjelaskan mengapa pada sebagian
individu terjadi pembentukan batu saluran
kemih, sedangkan pada individu lain tidak,
meskipun sama-sama terjadi supersaturasi.
Terbentuk atau tidaknya batu di dalam
saluran kemih ditentukan juga oleh adanya
keseimbangan antara zat-zat pembentuk
batu dan penghambat (inhibitor).

Ternyata pada penderita batu saluran


kemih, tidak didapatkan zat yang bersifat
sebagai inhibitor dalam pembentukan
nukleasi (inti batu) spontan kristal kalsium.
Zat lain yang mempunyai peranan inhibitor,
antara lain : asam ribonukleat, asam amino
terutama alanin, sulfat, fluorida, dan seng.

4. Teori Epitaksi
Epitaksi adalah peristiwa pengendapan
suatu kristal di atas permukaan kristal lain.
Bila pada penderita ini, oleh suatu sebab
terjadi peningkatan masukan kalsium dan
oksalat, maka akan terbentuk kristal
kalsium oksalat. Kristal ini kemudian akan
menempel dipermkaan kristal asam urat
yang telah terbentuk sebelumnya, sehingga
tidak jarang ditemukan batu saluran kemih
yang intinya terjadi atas asam urat yang
dilapisi oleh kalsium oksalat di bagian
luarnya.

5. Teori Kombinasi
Teori terakhir mengenai pembentukan BSK
adalah gabungan dari berbagai teori tersebut
yang disebut dengan teori kombinasi.
Terbentuknya BSK dalam teori kombinasi.
Terbentuknya BSK dalam teori kombinasi adalah
sebagai berikut: pertama, fungsi ginjal harus
cukup baik untuk mengeksresi zat yang dapat
membentuk kristal secara berlebihan. Kedua,
ginjal harus dapat menghasilkan urin dengan pH
yang sesuai untuk kristalisasi. Dari kedua hal
tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa ginjal
harus mempu melakukan eksresi suatu zat
secara berlebihan dengan pH urin yang sesuai
sehingga terjadi presipitasi zat-zat tersebut.

Ketiga, urin harus tidak mengandung


sebagian atau seluruh inhibitor kristalisasi.
Keeempat, kristal yang telah terbentuk
harus berada cukup lama dalam urin, untuk
dapat saling beragregasimembentuk
nukleus, yang selanjutnya akan
mengganggu aliran urin. Stasis urin yang
terjadi kemdian, memegang peranan
penting dalam pembentukan batu saluran
kemih, sehingga nukleus yang telah
terbentuk dapat tumbuh.

Klasifikasi

Umumnya dapat dibagi dalam 4 jenis yaitu :


1. Batu Kalsium
Batu jenis ini adalah jenis batu yang
paling banyak ditemukan, yaitu 70-80%
dari jumlah pasien. Ditemukan lebih
banyak pada laki-laki, rasio pasien lakilaki dibanding wanita adalah 3:1, dan
paling sering ditemui pada usia 20-50
tahun. Kandungan batu ini terdiri atas
kaslsium oksalat, kalsium fosfat atau
campuran dari keduanya. Kelebihan
kalsium dalam darah secara normal akan
dikeluarkan oleh ginjal melalui urin.

Penyebab tingginya kalsium didalam urin


antara lain peningkatan penyerapan
kalsium oleh usus, gangguan kemampuan
penyerapan kalsium oleh ginjal dan
penyerapan kalsium tulang.

2. Batu Infeksi/Survite
Batu survit disebut juga batu infeksi, karena
terbentuknya batu ini disebabkan oleh
adanya infeksi saluran kemih. Adanya infeksi
saluran kemih dapat menimbulkan gangguan
keseimbangan bahan kimia dalam urin.
Bekteri dlam saluran kemih mengeluarkan
bahan yang dapat menetralisir asam dalam
urin sehingga bakteri berkembang biak lebih
cepat dan mengubah urin menjadi
bersuasana basa. Suasana basa
memudahkan garam-garam magnesium,
amonium, fosfat dan karbonat membentuk
batu magnesium ammonuim fosfat (MAP) dan
karbonat apatit.

Terdapat pada seitar 10-15% dari jumlah


asien BSK. Lebih banyak pada wanita,
dengan rasiolaki-laki dibanding wanita yaitu
1:5. Batu survit biasanya menjadi batu yang
besar dengan bentuk seperti tanduk
(staghorn).

3. Batu Asam Urat


Ditemukan 5-10% pada penderita BSK. Rasio
laki-laki di bandingkan wanita adalah 3:1.
Sebagian dari pasien jenis batu ini menderita
Gout, yaitu suatu kumpulan penyakit yang
berhubungan dengan meningginya atau
menumpuknya asam urat. Pada penyakit jenis
batu ini gejala sudah dapat timbul dini karena
endapan/kristal asam urat (sludge) dapat
menyebabkan keluhan berupa nyeri hebat
(colic), karena endapan tersebut menyumbat
saluran kencing. Batu asam urat bentuknya
halus dan bulat sehingga sering kali keluar
spontan. Batu asam urat tidak tampak pada
foto polos.

4. Batu Sistin
Jarang ditemukan, terdapat pada sekitar 13% pasien BSK. Penyakit batu jenis ini
adalah suatu penyakit yang diturunkan.
Batu berwarna kuning jeruk dan berkilau.
Rasio laki-laki dibanding wanita adalah 1:1.
Batu lain yang juga jarang yaitu Batu Silica
dan Batu Xanthine.

Gejala Klinis

Batu dalam saluran kemih bagian atas (ginjal


dan ureter), biasanya akan menyebabkan
keluhan sakit. Keluhan yang timbul tergantung
dari lokasi batu, dan besar batu. Gejala
klinis/keluhan yang ditimbulkan antara lain:
1. Rasa nyeri
Biasanya penderita mengeluhkan rasa nyeri
yang berulang (kolik) tergantung dari letak
batu. Batu yang berdadi ginjal akan
menimbulkan dua macam nyeri, yaitu nyeri
kolik ginjal dan nyeri yang bukan kolik ginjal.
Koik ginjal biasanya disebabkan oleh
peregangan urinary collecting system
(system
pelviokalise),

Sedangkan nyeri ginjal bukan kolik


disebabkan distensi dari kapsul ginjal. Batu
ureter akan memberi gejala kolik ureter,
nyeri hebat di daerah punggung atau fosa
iliaka yang letaknya lebih rendah dari pada
kolik ginjal, dapat menyebar ke atas ke
daerah ginjal atau ke bawah sampai ke
testis atau labia mayor.

2. Demam
Timbulnya demam merupakan tanda-tanda
adanya kuman yang beredar di dalam
darah. Biasanya gejala yang timbul selain
demam adalah jantung berdebar-debar,
tekanan darah rendah dan pelebaran
pembuluh darah dikulit. Demam akibat
obstruksi saluran kemih memerlukan
dekompresi secepatnya.

3. Hematuria dan kristaluria


Hematuria adalah adanya darah yang
keluar bersama urin. Namun lebih kurang
10-15% pebderita BSK tidak menderita
hematuria. Kristaluria adalah urin yang
disertai dengan pasir atau batu.
4. Nausea dan vomitting
Obstruksi saluran kemih bagian atas sering
menimbulkan mual dan muntah.

5. Pembengkakan daerah punggung bawah


Penyumbatan saluran kemih bagian atas
yang akut ditandai dengan rasa sakit
punggung bagian bawah. Pada sumbatan
yang berlangsung lama, kadang-kadang
dapat diraba adana pembengkakan ginjal
yang membesar (Hidronefrosis).
6. Infeksi
Biasanya dengan gejala-gejala menggigil,
demam, nyeri pinggang, nausea serta
muntah dan disuria. Secara umum infeksi
pada batu survit (batu infeksi) berhubungan
dengan infeksi dari proteus sp,
Pseudomonas sp, Klesiella sp.

Pemeriksaan dan Diagnosa


1. Fisik
- Hasil pemeriksaan fisik antara lain :
- Kadang-kadang teraba ginjal yang
mengalami hidronefrosis/obstruktif.
- Nyeri tekan/ketok pada pinggang.
- Batu uretra anterior bisa diraba.
- Pada keadaan akut paling sering ditemukan
adalah kelembutan di daerah pinggul (flank
tenderness), ini disebabkan oleh
hidronefrosis akibat obstruksi sementara
yaitu saat batu melewati ureter menuju
kandung kemih.

2. Laboratorium
Pada urin biasanya dijumpai hematuria dan
kadang-kadang kristaluria. Hematuria
biasanya terlihat secara mikroskopis, dan
derajat hematuria bukan merupakan ukuran
untuk memperkirakan besar batu atau
kemungkinan lewatnya suatu batu. Tidak
adanya hematuria dapat menyokong adanya
suatu obstruksi komplit, dan ketiadaan ini
biasanya berhubungan dengan penyakit batu
yang tidak aktif.

Pada pemeriksaan sedimen urin, jenis


kristal yang ditemukan dapat memberi
petunjuk jenis batu. Pemeriksaan pH urin
<5 menyokong suatu batu asam urat,
sedangkan bila terjadi peningkatan pH (
7) menyokong adanya organisme
pemecah urea seperti Proteus sp,
Klebsiella sp, Pseudomonas sp dan batu
survit

Komplikasi

Komplikasi batu saluran kemih biasanya


obstruksi, infeksi sekunder, dan iritasi yang
berkepanjangan pada ureterium yang dapat
menyebabkan tumbuhnya keganasan yang
sering berupa karsinoma epidermoid.
Sebagai akibat obstruksi, khususnya di ginjal
atau di ureter dapat terjadi hidronefrosis dan
kemudian berlanjut dengan atau tanpa
pienefrosis yang berakhir dengan kegagalan
faal ginjal yang terkena.

Bila terjadi pada kedua ginjal, akan timbul


urenia karena gagal ginjal total. Hal yang sam
dapat terjadi juga akibat batu pada kandung
kemih dari kedua orifisium ureter.
Khusus pada batu uretra, dapat terjadi
diverticulum uretra. Bila obstruksi
berlangsung lama, dapat terjadi ekstravasasi
kemih dan terbentuklah fistula yang terletak
proksimal dibatu ureter.

Pengobatan dan Pencegahan

Tujuan pengobatan :
1. Mengatasi gejala
Batu saluran kemih dapat menimbulkan
keadaan darurat yang menyebabkan
kelainan sebagai kolik ginjal atau infeksi di
dalam sumbatan saluran kemih. Nyeri
akibat batu saluran kemih yang dapat
dijelaskan lewat dua mekanisme :

a. Dilatasi sistem sumbatan dengan peregangan


reseptor sakit
b. Iritasi lokal dinding ureter atau dinding pelvis
ginjal disertai edema dan penglepasan
mediator sakit.
Keluhan nyeri kolik batu saluran dapat
dilakukan diagnosis banding dengan keadaan
seperti :
a. Kolik ginjal akibat penyakit urologi yang lain,
seperti aliran bekuan darah, aliran jaringan
nekroti, struktur kompresi atau angulasi berat
ureter.

b. Nyeri abdomen oleh sebab lain seperti


gastrrointestinal (apendisitis, batu
empedu,pangkreatitis), vaskular (infark ginjal,
aneurisma aorta), ginekologi (kista ovarium,
kehamilan ektopik, endometriosis) dan lainnya.
2. Pengambilan batu
a. Batu dapat keluar spontan
Bila masalah akut diatasi, gambaran radiologis
yang dapat, gambaran radiologis yang dapat
ditemukan adalah merupakan basis penanganan
selanjutnya. Berdasarkan ukuran, bentuk dan
posisi batu akan keluar spontan atau harus
diambil. Sekitar 60-70% batu keluar spontan
sering disertai dengan serangan kolik ulangan

Diberikan terapi untuk pencegahan kolik,


dijaga pembuangan tinja tetap baik,
diberikan terapi antiedema dan diberikan
diuresis, serta aktivitas fisis. Batu tidak
diharapkan keluar spontan bila ukuran
sebesar atau melebihi 6mm, disertai
dilatasi pelvis, infeksi atau sumbatan
sistem kolektikus dan keluhan pasien
terhadap nyeri dan kerapan nyeri. Bila
diperkirakan tidak memungkinkan keluar
spontan dilakukan tindakan pengambilan
batu dan pencegahan batu kambuh.

b. Pengambilan batu : gelombang kejutan


liotrips ekstrakorperial, perkutaneus
nephrolithotomy/cara lain, pembedahan.

3. Pemberian obat :
- Mencegah kekambuhan :
Hiperkalsiuria idiopatik : diureti tiazid
seperti idroklorotiazid perhari 25-30mg.
Fosfat netral : mengurangi eksresi kalsium
dan meningkatkan eksresi inhibitor
kristalisasi.
Hiperurikosuria : alopurinol 100300mg/hari
Hipositraturia : kalium sitrat.

Kesimpulan
Batu ginjal adalah suatu kedaruratan
terjadinya penumpukan oksalat, calculi
(batu ginjal) pada ureter atau pada daerah
ginjal. Gejala rasa sakit yang berlebihan
pada pinggang, nausea, muntah, demam,
hermatueia. Lebih banyak terjadi pada
laki-laki dibanting wanita dengan
perbandingan 3:1 dalam usia 30-60 tahun.
Urine bewarna keruh sepertiteh atau
merah.

Hampir dari setengahnya kasus batu pada


perkemihan adalah idiopatik. Faktor-faktor
yang mempengaruhi terhadap
kalkuligenesis atau proses pembentukan
batu di dalam vesika urinaria, antara lain:
gangguan aliran air kemih/obstruksi dan
statis urin, gangguan metabolisme, benda
asing, jaringan mati(nekrosispapil), jenis
kelamin, air minum, pekerjaan, makanan.